Tittle : Putri Tidur-Ku

By : Saita Hyuuga Sabaku

.

.

.

Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto

Pairing:

Kakashi x Saita

Sasuke x Sakura

Itachi x Aki

Hidan x Hana

Pein x Hezlin

Gaara x Kirei

Rate : T+ s/d M

Genre : Hurt/Comfort, Romance, Comedy (?)

Warning : CRAICK PAIR, AU, OC, OOC, gaje, maksa, alur berantakan, dll

.

.

.

D.L.D.R

.

.

.

Happy Reading for me :v

.

.

.

Chapter 7

.

.

.

Tik tik tik ... Zraaasshhhh

Bunyi rintik hujan yang seketika menjelma menjadi hujan deras membangunkan seorang gadis yang tengah berada dalam dekapan pemuda berhelai silver. Kepalanya terasa berdenyut akibat pengaruh alkohol. Tapi kesadarannya mulai dapat terkontrol.

Kelopak mata gadis itu perlahan terbuka. Matanya terbelalak tak percaya saat menyadari ia tengah berada dalam pelukan hangat Kakashi. Hembusan nafas hangat Kakashi sangat jelas terasa menerpa wajah Saita. Memejamkan mata, ia mencoba mengingat apa yang sebenarnya terjadi. Namun, saat tak ia temui jawabannya, ia kembali membuka matanya.

Mencoba bangkit, ia justru membuat Kakashi terbangun. Saita memegang kepalanya yang masih berdenyut hebat. Kakashi memposisikan dirinya duduk.

"Apa kau sudah merasa sedikit tenang?" tanyanya pada Saita.

"Apa yang sebenarnya terjadi Kakashi-nii?" tanya Saita. Ia bingung kenapa Kakashi bisa tidur di ranjangnya.

Kakashi akhirnya menceritakan semua dari awal dia tak sadarkan diri karena terlalu banyak minum dan racauan tak jelasnya sejam yang lalu. Yah, ini memang masih terlalu pagi untuk bangun tidur dari jam normal.

"Kalau kau sudah merasa agak tenang, aku akan kembali ke kamarku," ucap Kakashi datar.

"Iya, aku sudah merasa baikan. Hanya sedikit pusing. Maafkan aku telah membuatmu repot Kakashi-nii." Saita menundukkan pandangannya untuk menyembunyikan semburat merah yang menghiasi wajahnya. Dia benar-benar malu dan merasa sangat menyesal karena telah merepotkan Kakashi.

"Aku sama sekali tidak merasa direpotkan olehmu. Kalau kau yakin sudah merasa baikan, aku akan keluar." Kakashi turun dari ranjang dan menyentuh pucuk kepala Saita.

"Gantilah bajumu dan kembali tidur," ucapnya sambil tersenyum. Saita hanya mengangguk. Kakashi pun melangkahkan kaki jenjangnya keluar kamar Saita.

Begitu Kakashi keluar Saita langsung ke kamar mandi untuk mengganti pakaiannya dengan pakaian tidur. Baju tidur lengan pendek dan celana panjang.

Kakashi langsung menuju kamarnya yang berada di sebelah kamar Saita untuk berganti pakaian. Ia mengganti pakaiannya dengan baju kaos lengan pendek dan celana training berbahan kaos.

JEDAAAARRR

Bunyi petir yang sangat keras cukup membuatnya kaget. Ia membelalakkan matanya saat menyadarai sesuatu. Tepatnya ucapan Itachi ... 'Saat hujan turun disertai dengan kilat dan petir dia sering berteriak ketakutan dan memanggil nama Shisui'.

Dengan cepat ia langkahkan kakinya menuju kamar Saita.

"SHISUI-NII ..." Teriakan terdengar dari dalam kamar Saita tepat di balik pintu itu.

Kakashi membuka perlahan pintu kamar Saita dan mendapatinya tengah meringkuk di sudut kamar, di balik pintu. Wajahnya sangat kacau. Raut wajah ketakutan jelas terlukis di wajahnya. Keringat mengaliri pelipisnya. Air mata jatuh menghujam dari sudut-sudut matanya. Badannya bergetar sangat hebat. Bahkan suhu badannya langsung naik drastis.

"Saita, tenanglah," ucap Kakashi sambil memegang bahu gadis itu.

"Shisui-nii, hiks, Shisui-nii, hiks hiks hiks," hanya itu yang selalu ia gumamkan dengan nada lirih dan isakan yang menyelingi.

'Aku harus cepat bertindak,' batin Kakashi.

"Saita, tenang. Dengarkan aku! Kau bisa mendengarku kan?" Kakashi terus berusaha membuat gadis itu tenang.

Saita mengangguk lemah. Tapi ia masih terus menggumamkan nama Shisui disela isak tangisnya.

"Bagus. Kalau kau bisa mendengarku. Sekarang kau lihat aku. Tatap mataku," ucap Kakashi. Dia mulai memberikan terapi hipnotis pada Saita.

Saita mengikuti apa yang Kakashi ucapkan. Dia menatap mata obsidian Kakashi yang terlihat tajam.

"Sekarang tidurlah!" Perintah Kakashi.

Saita langsung memejamkan matanya dan jatuh ke pelukan Kakashi yang memang sudah siap menahannya.

Bagaimana bisa? Hey, Kakashi ahlinya. Bukankah sudah kubilang dia lulusan terbaik Universitas jurusan psikologi di Suna. Lagipula dia telah banyak menyembuhkan pasien yang seperti Saita. Itu sangat mudah baginya.

Kakashi langsung mengangkat Saita ala bridal style dan membaringkannya di atas ranjang. Dia mengambil air es untuk mengompres Saita. Dia usap perlahan sisa-sisa bulir keringat yang masih setia berada di wajah Saita.

"Maafkan aku Saita. Aku langsung menggunakan hypno terapy untuk menenangkanmu," gumamnya pelan.

"Aku pasti akan menyembuhkanmu dan mengembalikan kehidupan yang normal untukmu 'PutriTidur'," ucapnya mantap.

Sekilas ia mengecup kening Saita sebelum menempelkan handuk basah pada keningnya. Itu di luar kendalinya. Entah mengapa ia melakukan hal itu.

.

.

.

Hari ini akhirnya tiba. Hari dimana Gaara dan Kirei akan pergi bulan madu dan juga liburan bagi ketiga sahabatnya yang lain.

"Kakashi-nii, memangnya kita akan kemana?" tanya Saita bingung. Tiba-tiba saja Kakashi menyuruhnya berkemas semalam, dan hari ini, pagi-pagi sekali Kakashi sudah membangunkannya dan menyuruhnya bersiap.

"Sudah ku bilang kan? Kita akan berlibur," ucap Kakashi seraya tersenyum di balik maskernya.

"Iya ... aku tahu. Tapi memangnya kita mau kemana? Kau tidak menyebutkan tujuan kita. Lagi pula, hanya aku dan kau?" cerocos Saita panjang lebar.

"Rahasia," ucap Kakashi singkat.

"Huh, kau itu. Terserah Nii-chan sajalah!" Ketus Saita.

"Ayo berangkat!" Ujar Kakashi dan berjalan menuju halaman rumah sambil membawa koper Saita dan meletakkannya di bagasi mobil.

Saita berjalan di belakangnya dan langsung masuk ke dalam mobil. Ia membuang muka ke sisi jendela, saat Kakashi masuk dan duduk di depan kemudi mobil.

"Kau pasti akan senang. Percayalah!" Ucap Kakashi yakin. Mobilpun melaju meninggalkan kediaman Uchiha.

.

.

.

Di bandara.

Gaara dan Kirei telah tiba 10 menit yang lalu. Disusul oleh Pein dan Hezlin 5 menit kemudian, dan Hidan serta Hana setelahnya.

"Ne, Hana ... apa kau yakin Saita akan datang?" tanya Hezlin sambil melihat jam tangannya. Tiga puluh menit lagi pesawat mereka akan berangkat, dan mereka harus segera check-in.

"Tenang saja, sebentar lagi pasti datang," jawab Hana.

"Demi dewa Jashin, lebih baik kalian duluan check in. Kita berkumpul di pesawat nanti," lanjut Hidan.

"Baiklah, kalau begitu kami duluan," ucap Gaara datar.

"Ayo Kirei." Gaara memeluk pinggang ramping Kirei dan mulai melangkahkan kaki meninggalkan mereka.

"Kalau begitu kami juga," sahut Pein.

"Iya itu lebih baik, tidak membuang waktu menunggu Saita. Jadi lebih efisien," lanjut Hezlin.

Pein pun menggenggam tangan Hezlin dan berjalan meninggalkan mereka.

Sepeninggalnya ke empat orang itu, Kakashi melambaikan tangan ketika jaraknya sudah dekat dengan Hana dan Hidan.

"Yooo, maaf kami terlambat. Kami tersesat di jalan yang bernama kehidupan," ucap Kakashi ringan.

"Hana? Tidak kusangka ternyata akan berlibur bersamamu. Kenapa hal seperti ini harus di rahasiakan?" gerutu Saita.

"Demi dewa Jashin, ayo segera check-in. Kirei dan Hezlin mungkin sudah duduk manis di pesawat," sahut Hidan.

"Yah, gomen Saita, aku takut kau menolak. Jadi aku minta pada Kakashi-san untuk merahasiakannya. Kau sudah lebih baik Saita?" Cerocos Hana panjang lebar.

"Dia sudah sangat baik. Tenang saja," ucap Kakashi seraya menepuk pelan pundak Saita.

"Iya. Aku sudah merasa sangat baik," ucap Saita riang.

"Kalau begitu kita segera check-in. Sebentar lagi pesawat akan berangkat." Hidan merangkul pundak Hana dan menuju tempat check-in.

"Ayo, kita juga," ucap Kakashi pada Saita.

Kakashi berjalan di belakang Hidan dan Hana. Dia menggenggam tangan Saita, dan hal itu membuat Saita berdecih.

"Tch, Nii-chan, lepaskan tanganku," ucap Saita kesal.

"Kalau aku melepaskan tanganmu. Aku khawatir kau akan hilang di tengah lautan manusia ini. Aku tidak ingin mati konyol di tangan Itachi ataupun Sasuke, karena telah lalai menjagamu." Kakashi memberikan alibi sempurna. Yah itu karena memang tubuh Saita tidak terlalu tinggi.

"Dan lagi, sepertinya kau harus membiasakan diri memanggilku dengan suffix kun," ucapnya tegas.

Ayolah, itu perjanjiannya bukan? Saat mereka menghadiri pernikahan Kirei dan Gaara.

"Baiklah Nii-chan. Aku akan memanggilmu Kakashi-kun," ucap Saita mantap.

"Kau puas?" ucapnya sinis.

"Bagus." Kakashi tersenyum dan mengacak pelan rambut Saita.

"Berhentilah memperlakukanku seperti bocah Nii-chan!" Saita menyingkirkan tangan Kakashi yang berada di kepalanya.

Kakashi terkekeh pelan dan berkata, "Kau kan memang masih bocah."

Dan hal itu sukses membuat Saita mendeath glare Kakashi. Tapi ada perasaan lain yang menyelimuti Saita. Rasa senang dan perasaan dilindungi. Sama seperti halnya Itachi dan Sasuke yang selalu memperlakukannya dengan baik.

Mereka kini sudah berada di dalam pesawat. Berkumpul bersama sahabatnya.

"Hezlin, Kirei, maaf membuat kalian menunggu. Kalau aku tau akan pergi bersama kalian, aku pasti akan bersemangat." Saita memberi alasan yang cukup masuk akal.

"Tidak masalah," ucap Kirei sambil tersenyum.

"Bagaimana kabar Sasuke?" Tiba-tiba Gaara bertanya. Pasalnya Sasuke datang ke pernikahannya waktu itu, hanya sebentar tanpa sempat mengobrol.

"Dia baik-baik saja, kurasa. Nii-chan jarang pulang ke rumah karena akhir-akhir ini sibuk dengan urusan kantor dan persiapan pesta pertunangannya." Saita tersenyum, tapi Kakashi tau itu senyum yang terlalu di paksakan. Bahkan tangan Saita mempererat genggaman tangannya pada Kakashi. Dia gugup kalau harus bicara dengan Gaara.

'Mungkin bukan ide yang bagus mengajaknya berlibur bersama mereka. Tapi ini demi menghilangkan keterpurukanmu Saita. Kau harus belajar menerima kenyataan,' batin Kakashi.

"Ayo kita duduk Hime," ucap Kakashi sambil merangkul pundak Saita.

Saita hanya mengangguk dan pasrah menerima perlakuan Kakashi yang sukses membuat rona merah menghiasi wajahnya.

Tak lama kemudian pesawat berangkat. Pesawat berangkat dari Konoha menuju bandara besar di Jepang tepatnya kota Kyoto. Dari sana mereka akan berganti pesawat menuju Pulau Ishigaki. Setelah itu, perjalanan akan dilanjutkan dengan ferry langsung menuju Hateruma.

.

.

.

.

.

Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 4 jam, akhirnya mereka tiba di Kepulauan Yaeyama, tepatnya Pulau Hateruma. Semua tepat seperti yang telah diceritakan oleh Hezlin. Dan mereka sangat setuju, kalau tempat ini memang sangat indah dan terpencil.

Lihat saja, rumah penduduk yang mungkin hanya bisa dihitung jari. Kemudian laut yang jernih tanpa sampah satupun. Bunga-bunga yang tumbuh di sekitar penginapan. Sungguh pesona alam, yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.

Mereka pun masuk ke penginapan sederhana dengan model Jepang kuno. Di dalam penginapan itu memang hanya ada empat kamar. Hezlin dan Kirei telah mengetahuinya karena merekalah yang telah mengobservasi tempat itu. Tentu saja Kirei akan sekamar dengan Gaara. Dan yang lain pun mungkin dengan pasangannya. Hanya Saita yang merasa tak terima.

"NANI?" teriak Saita.

"Saita-chan, kecilkan suaramu," sentak Pein, karena ia tepat berada di sebelah Saita.

Pasalnya dia tidak terima dengan keputusan yang di ambil oleh teman-temannya. Yang benar saja, dia harus sekamar dengan Kakashi yang bahkan bukan kekasihnya. Dan kenapa Hezlin dan Hana sama sekali tidak keberatan jika mereka sekamar dengan kekasihnya. Uchiha yang satu ini memang masih polos kakak... :-p #plaaak

"Ne, Hidan-kun tolong masukkan barang kita ke kamar ya, kami ingin bicara dengan Saita."

"Ayo Saita," ucap Hezlin dan membawa Saita keluar.

Gaara dan Kirei memasuki kamarnya. Begitupun dengan Hidan, Pein dan Kakashi yang memasuki kamarnya dan membawa barang-barang gadisnya, kecuali Kakashi tentunya. Karena ia dan Saita tak memiliki hubungan.

Di masing-masing kamar hanya terdapat satu futon dan selimut. Kemudian lemari untuk meletakkan pakaian dan juga meja kecil. Semua kamar sama keadaannya.

Kakashi hanya mendesah pelan dengan kelakuan ketiga sahabat Saita. Pasalnya dia bukan kekasih Saita. Dan dia juga lelaki normal yang mungkin bisa lepas kontrol saat harus sekamar dengan seorang gadis. Apalagi dia kini merasakan debaran-debaran aneh saat bersama Saita. Rasa ingin melindungi dan menjaganya, mungkin itu yang dia pikirkan. Karena dia belum berani menyimpulkan, kalau dia menyukai Saita atau tidak.

Sementara itu Hezlin dan Hana sedang berbicara di luar.

"Ne, Saita ... tidak ada salahnya kan kita sekamar dengan pasangan masing-masing," ucap Hezlin.

"Tapi kan ...," ucapan Saita terpotong karena Hana langsung mencubit pipinya.

"Awwww, ittai Hana," ringis Saita.

"Tapi apa?" tanya Hezlin penasaran. Itu karena Hezlin tidak tau kalau Kakashi bukanlah kekasih dari Saita. Begitupun dengan Kirei, Gaara dan Pein. Hanya Hana dan Hidan yang mengetahui rahasia tersebut.

"Ah, kau belum pernah melakukannya dengan Kakashi-san ya?" bisik Hezlin dengan senyuman jahilnya.

Saita mengernyit alis heran dengan penuturan Hezlin barusan.

"Melakukan apa?" tanya Saita polos.

"Ya ampun. Anak ini ...," Hezlin menepuk jidatnya pelan.

"Aku jadi meragukan status Uchiha yang kau sandang," lanjutnya dengan senyum menggoda. Dan hal itu sukses membuat Saita mengeluarkan death glare andalannya.

"Ya sudahlah. Biar Hana saja yang menjelaskan. Aku merasa gerah dan ingin mandi. Kalian juga cepatlah bersiap. Kita akan jalan-jalan mengelilingi tempat indah ini." Hezlin pun pergi meninggalkan Saita yang masih di liputi tanda tanya. Dan Hana yang sedang tersenyum mesum. #plaaak

"Ne, Saita. Karena ini acara bulan madu Kirei dan Gaara, tidak mungkin kan mereka terpisah. Dan ini juga kebetulan Hezlin yang telah merencanakan liburan dengan Pein. Karena tujuannya sama, maka kami memutuskan berlibur bersama. Sekalian kita reuni. Jarang-jarang kan kita bisa berkumpul ber4 seperti ini." Hana menjelaskan panjang lebar.

"Iya Hana. Aku mengerti posisi Kirei dan Gaara. Tapi kenapa kalian juga sekamar? Kau dan Hidan-nii. Hezlin dan Pein-nii. Lalu, aku harus sekamar dengan Kakashi-nii. Yang benar saja." Saita masih tak terima.

"Ayolah Saita. Kami juga ingin menikmati saat-saat seperti ini. Dimana kami bisa berduaan dengan kekasih kami," ucap Hana memelas.

"Kalian tidak takut Hidan-nii atau Pein-nii berbuat macam-macam?" tanya Saita polos.

Hana hanya tersenyum nakal dan berkata, "Sesekali kau juga harus mencobanya Saita." Hana berlalu sambil mengedipkan matanya. Sedangkan Saita masih meloading apa yang Hana ucapkan barusan.

Tak ingin pusing, akhirnya Saita pasrah dan mengikuti Hana dari belakang dan melangkah menuju kamarnya dengan Kakashi tentunya.

Saat memasuki kamar, Saita terkejut bukan main. Hampir saja ia berteriak, kalau tak mengingat darah Uchiha yang mengalir dalam tubuhnya. Ia hanya membungkam mulutnya dengan telapak tangan dengan mata yang terbelalak. Pasalnya ia melihat Kakashi yang baru saja keluar kamar mandi dengan tubuh polosnya yang hanya ditutupi selembar handuk di bagian bawah tubuhnya. Dan itu sangat ... errr ... seksi.

Kakashi pun sedikit terkejut ketika melihat Saita yang tiba-tiba masuk tanpa mengetuk pintu.

"Gomenne Saita. Aku lupa membawa pakaianku tadi. Untung saja kau tidak berteriak ya?" ucap Kakashi sambil terkekeh pelan. Ia pun mengambil baju yang tadi ia letakkan di atas meja kecil dan kembali masuk ke kamar mandi.

'Beruntung sekali yang sekamar denganku adalah keturunan Uchiha. Kalau tidak mereka bisa menuduhku melakukan sesuatu pada Saita,' batinnya sebelum menutup pintu kamar mandi.

Begitu Kakashi masuk ke kamar mandi, Saita mendesah panjang.

"Haaahh." Dia memegang dada kirinya. Merasakan detak jantung yang bergemuruh dan ingin memaksa untuk keluar dari tubuhnya.

Tak lama Kakashi kembali keluar dengan pakaian lengkap. Dia memposisikan diri duduk di samping Saita yang duduk di atas futon.

"Apa yang kau pikirkan?" sembur Kakashi begitu ia telah duduk di samping Saita.

"Tidak ada," ucap Saita pelan.

"Sudah kubilang kan, kau tidak bisa membohongiku," ujar Kakashi.

"Aku hanya bingung. Aku tak mengerti dengan pemikiran sahabatku sendiri. Kenapa ...," ucapannya terpotong oleh Kakashi.

"Tenang saja. Kita tidak akan tidur di atas futon yang sama. Tak usah khawatir," ucapnya dengan senyum yang menghiasi wajah tampan Kakashi.

"Eh?" Saita makin tidak mengerti.

"Mandilah. Kita pasti akan menjelajahi pulau ini nanti," ucapnya sambil berdiri dari posisi duduknya.

"Aku tunggu di luar." Kakashi pun melangkahkan kaki dan keluar dari kamar.

Saita pun bergegas mandi seperti apa yang di perintah oleh Kakashi.

Hei, sejak kapan Uchiha kita yang satu ini jadi penurut ya? :v

.

.

.

Setelah mereka semua selesai, mereka pun mulai menjelajah pulau Hateruma yang terkenal akan keindahannya itu. Mereka bertelanjang kaki di pantai landai berpasir putih itu, untuk menikmati sensasi pasir yang halus seperti bedak. Mereka terus berjalan beriringan dengan pasangan masing-masing. Kirei dan Gaara di depan. Hezlin dan Pein di belakangnya diikuti oleh Hidan, Hana. Dan terakhir Saita dan Kakashi di posisi paling belakang.

Mata mereka berbinar melihat vegetasi alam seperti pohon beringin, bambu, bunga anggrek dan kembang sepatu. Menyesap wanginya aroma bunga yang menggelitik indera penciuman mereka dan merasakan sensasi relax yang tercipta.

Mereka berdecak kagum melihat indahnya gradasi biru muda dan biru muda yang sangat kontras. Satu gradasi biru muda yang diciptakan oleh laut biru yang jernih dengan gradasi biru muda langit yang membentang di atasnya, seakan menyatu. Sungguh keindahan alam yang sangat memukau.

Puas menikmati pemandangan alam, kini mereka ingin menikmati segarnya air pantai yang membentang di lautan luas. Begitu menenggelamkan diri di pantai indah itu, mereka langsung disambut dengan terumbu karang warna-warni yang sangat indah. Tak ketinggalan, ikan-ikan tropis warna pelangi yang hilir mudik di sekitarnya.

Rasa puas dan bahagia terpancar di wajah mereka. Mereka menikmati berenang di pantai Nishi itu. Mereka terus bermain air hingga matahari akan tenggelam. Tepatnya hanya para gadislah yang masih bermain air. Dan para pria duduk di pinggir pantai.

Kakashi tersenyum lembut ketika melihat wajah Saita yang seolah tanpa beban. Tersenyum dan tertawa riang seperti itu, sungguh membuat Kakashi senang. Baru kali ini dia melihat tawa lepas Saita dan senyum tanpa beban itu, menjadi pemandangan tambahan tersendiri bagi Kakashi.

"Aku senang melihatmu seperti itu," gumam Kakashi pelan, tapi cukup terdengar oleh Hidan yang berada di sampingnya.

Hidan menepuk pundak Kakashi dan berkata, "Berusahalah ...!"

Kakashi mengernyit alis heran dengan penuturan Hidan barusan.

"Kau beruntung Kakashi, bisa mendapatkan Saita. Dia gadis yang sulit dipahami, tapi dia sangat baik dan penyayang. Jagalah terus senyumnya itu," Pein ikut berbicara.

Sebenarnya Pein juga cukup tau tentang Saita. Meski bukan masalah cinta sepihaknya dengan Gaara, tapi dia orang yang cukup pintar untuk mengetahui yang mana senyum tulus dan yang mana senyum palsu. Dia cukup senang melihat sahabat kekasihnya itu kini bisa tersenyum dan tertawa dengan lepas seperti itu.

'Ah, tentu saja Kakashi, dia gadismu sekarang,' batinnya. Mengingat status sementaranya kini di hadapan para sahabat Saita.

Kakashi hanya tersenyum dengan penuturan Hidan dan Pein lalu menjawab, "Pasti."

"Kalian ...," Gaara berteriak pada para gadis.

"Sebentar lagi matahari terbenam. Lanjutkan besok jika ingin bermain," lanjutnya. Gaara sudah seperti seorang bapak yang menasihati anak-anaknya. :-p

Para gadis langsung keluar dari air dan ikut duduk di atas pasir pantai di sebelah pasangan masing-masing. Mereka menikmati sunset yang benar-benar menakjubkan dari tempat itu. Sungguh indah dan berbeda dari sunset yang dilihat di Konoha.

Setelah matahari benar-benar tenggelam, mereka kembali ke penginapan untuk membersihkan diri dan makan malam.

.

.

.

"Hari ini cukup melelahkan ya," ucap Kirei setelah selesai makan malam.

"Tentu saja lelah. Kau bermain air berjam-jam seperti itu," ledek Gaara dengan seringai menggodanya.

"Itu kan karena kita jarang-jarang ke tempat indah seperti ini, Gaara-kun ...," ucap Kirei sambil mengerucutkan bibirnya. Membuat Gaara gemas, dan mengacak helaian wanitanya.

Mereka semua tersenyum melihat tingkah Kirei dan Gaara. Dan satu orang yang berusaha menampilkan senyum palsu terbaiknya, Saita. Kakashi hanya melihat dari sudut matanya.

"Apa kita akan melihat bintang malam ini?" tanya Pein.

"Sepertinya malam ini aku tidak berminat. Aku lelah Pein-kun," ucap Hezlin manja.

"Aku akan memijitmu nanti," ucap Pein dengan seringai menggoda yang dapat ditangkap arah pembicaraannya oleh semua yang hadir disana, kecuali Saita tentunya.

Kakashi menahan tawa melihat tampang polos Saita, sedangkan yang lain sedang terkikik geli.

'Anak ini benar-benar tidak mengerti,' batinnya.

"Apa Hime-ku ini juga ingin ku pijit?" tanya Hidan sensual, sambil mengecup punggung tangan Hana. Hana tersipu malu dengan penuturan Hidan yang sangat vulgar, membuat rona merah memenuhi wajahnya.

"Bagaimana denganmu Saita?" tanya Hana mengalihkan pembicaraan yang mulai intim itu.

"Aku ingin menghirup udara segar," ucap Saita sambil berdiri dari posisi duduknya dan melangkahkan kaki keluar.

Kakashi ikut berdiri dan menyusul Saita setelah sebelumnya ijin undur diri dari kerumunan itu.

"Tidak baik keluar sendirian Hime," ucapnya dengan suara yang cukup keras hingga terdengar oleh mereka yang ada di sana. Ia pun merangkul pundak Saita setelah menyamai langkahnya dengan Saita.

"Mereka sangat cocok ya," ucap Kirei setelah Kakashi pergi.

"Ya," ucap Gaara singkat.

"Selera Saita-chan bagus juga," ucap Hezlin dengan senyumannya.

"Memangnya sudah berapa lama mereka menjalin hubungan?" tanya Pein tiba-tiba.

Hana menggaruk pipinya yang tidak gatal dan berkata gugup, "E-etto, aku juga kurang tau."

"Dia belum menceritakannya." Hidan membantu Hana memberi jawaban.

"Tapi setidaknya sekarang kita semua lengkap," ucap Kirei.

"Yah, setidaknya dia sudah bisa membuka hati untuk pria," lanjut Hezlin.

"Ayo kita menikmati bulan madu, Hime," ajak Gaara pada Kirei.

"Kalian vulgar sekali di hadapan kami," tukas Pein.

"Heh, bukankah kau juga ingin melakukannya Pein," goda Hidan.

"Kau sendiri juga kan. Memang aku tidak tau yang ada di pikiranmu," ledek Pein.

"Sebaiknya kalian berhenti berdebat dan masuk ke kamar masing-masing," ucap Gaara datar.

"Dan jangan berisik," lanjutnya.

Mereka pun masuk ke kamar masing-masing dengan pasangannya.

.

.

.

Tbc


Arigatou sami_chan udah mau baca fic craickpair ini dan juga ninggalin jejak. Makasih juga untuk para silent reader...

Sekian bacotannya,,,diriku udah ngantuk #plaak

Terima kasih untuk semua pihak pokoknya...

With Love,

Saita