"Chanyeol?" Baekhyun menatap lelaki yang baru keluar dari mobil. "Tapi aku tidak membawa baju ganti."

Chanyeol tesenyum dan berjalan kearah belakang mobil. Membuka bagasi dan mengeluarkan sebuah tas darisana. "Tenang, aku sudah membawanya."

"Hei! Kau sudah merencanakan ini?"

Chanyeol mengangguk kemudian membawa Baekhyun memasuki sebuah hotel. Setelah memesan satu kamar untuk mereka, keduanya menaiki lift mengikuti room boy untuk menuju kamar yang telah dipesan. Kamar tersebut berada dilantai tiga. Jadi, tidak perlu membutuhkan waktu lama agar sampai disana.

Chanyeol melangkah masuk kedalam kamar dan duduk disofa yang berada disana. Dia menyenderkan tubuhnya disenderan sofa dan memejamkan matanya. Dia sangat lelah. Menyetir sejauh 63Km dan harus menyebrangi laut.

"Saya permisi," Chanyeol malas menjawab ucapan room boy tersebut, sekedar membuka matanya saja dia malas. Tapi dia tersenyum saat Baekhyun membalas ucapan room boy tersebut dengan kalimat ramahnya.

"Chan?" dia bergumam pelan. Tanda kalau dia merespon panggilan Baekhyun. Chanyeol dapat merasakan kalau sofa disampingnya bergoyang, Baekhyun duduk disampingnya. "Jika kau ingin tidur, jangan disini. Kau tidurlah dikasur."

Chanyeol mengangguk dan berjalan kearah kasur. Dia merebahkan dirinya disana dan mencari posisi yang menurutnya nyaman. Dengan mata sayunya, dia menatap Baekhyun yang sedang merapikan tas bawaan mereka.

"Baek? Kemarilah. Temani aku tidur." Dan Chanyeol dapat melihat Baekhyun tersenyum dan berjalan kearahnya. Perempuan itu merebahkan tubuhnya disamping Chanyeol, dan menghadap kearahnya. Chanyeol dengan sigap memeluk pinggang Baekhyun dan menenggelamkan wajahnya didada Baekhyun. Tidak butuh waktu yang lama, Chanyeol sudah terlelap kealam mimpinya dengan Baekhyun yang masih mengusap rambutnya.

.

Kang Seulla Present

ACTION! –sekuel-

Byun Baekhyun

Park Chanyeol

Genderswitch, PWP, No Child

Happy Reading

.

Pulau nami dipagi hari memang sangat indah. Udara yang sejuk dengan embun-embun yang menetes dari daun daun pepohonan yang rimbun.

Baekhyun menghirup udara sebanyak-banyaknya dan tersenyum. Udara sejuk seperti ini sangat jarang dia rasakan di Seoul. Dan dia tidak akan menyia-nyiakan waktunya, dia akan berjalan-jalan disini. Berterima kasihlah pada Chanyeol yang telah membuat izin untuknya kepada direktur dan membawanya kesini. Dia bingung, kenapa Chanyeol itu bisa dekat dengan direkturnya. Dia hanya mengedikkan bahunya tidak peduli.

CKLEK

Baekhyun tersenyum saat melihat Chanyeol sudah keluar dari kamar mandi. Dia hanya sekedar cuci muka dan gosok gigi. Mereka berniat untuk lari pagi disekitar penginapan, jadi mereka tidak butuh mandi.

"Ayo cepat Chanyeol~ udara didepan sangat sejuk!"

Chanyeol hanya terkekeh melihat tingkah menggemaskan Baekhyun. Kakinya mengikuti kemana tangan Baekhyun menariknya. Dia tidak akan protes. Karena dia akan dengan jelas melihat bongkahan pantat Baekhyun yang bergoyang dari belakang. Dan dia sangat menyukai itu.

Beruntung disekitar penginapan mereka ada sebuah taman. Jadi mereka berencana untuk berkeliling taman yang lumayan luas itu. taman itu sangat sejuk dengan pepohonan yang tumbuh dikanan-kirinya. Selain itu juga banyak yang berlari pagi disana.

"Baek?" Baekhyun menoleh kearah Chanyeol yang memanggilnya. "Kenapa kau memakai celana sependek itu?"

"Eh? Ini celana running yang kau bawa Chan. Aku 'kan tidak mempersiapkan apapun."

Chanyeol berdecak sendiri. "Kukira tidak akan sependek itu jika dipakai. Jadi aku asal mengambilnya."

Chanyeol merutuki pakaian yang dipilihnya. Celana itu sangat pendek. Hanya dapat menutupi pangkal selangkangan Baekhyun. Belum lagi celana itu memperlihatkan pantat semok Baekhyun. Dia memang menyukainya, Baekhyun sangat terlihat seksi. Apalagi dengan keringat yang membasahi kakinya. Tapi dia sangat tidak suka saat Baekhyun dipandang lapar oleh setiap lelaki yang melewati mereka ataupun sekedar sedang duduk dikursi pinggir. Hoel! Apa paea lelaki itu tidak melihat Chanyeol yang sedang berada disamping Baekhyun?

"Lainkali belilah celana running yang panjang. Agar kau tidak masuk angin."

Setelah itu Chanyeol berlari lebih cepat meninggalkan Baekhyun yang terdiam. Dia bingung dengan ucapan Chanyeol. Dia tidak masalah dengan pakaiannya. Dan dia tidak akan masuk angin. so, dia sudah sangat sering berpakaian seperti ini. Bahkan tidak berbusana saja dia sudah biasa.

"Hei Chanyeol! Tunggu aku!"

Dan kemudian Baekhyun berlari cepat menyusul Chanyeol. Dia hanya bisa terengah saat dirinya sudah berada disamping lelaki ini. Apa Chanyeol tidak bisa berpikir? Sudah jelas tinggi mereka jauh berbeda, seharusnya Chanyeol yang menyamai langkahnya.

"Kau… hhh… jangan cepat… cepat."

Baekhyun berhenti dan menopangkan tubuhnya dengan tangannya dilututnya. Dia masih mengatur nafasnya.

Chanyeol menatap horror kearah Baekhyun saat perempuan itu membungkukkan badannya. Sial. Bongkahan pantat Baekhyun terjiplak dengan jelas.

"Baekhyun! Tegakkan badanmu!" Chanyeol sudah seperti kekasih yang posesif saat ini. Dia menarik tangan Baekhyun membuat perempuan itu menegakkan badannya. Dia juga menarik tubuh Baekhyun dan duduk disalah satu kursi taman.

"Istirahatlah jika kau lelah."

Baekhyun hanya mengangguk dan membasuh wajahnya yang berkeringat dengan handuk kecil yang dibawanya. Dia menatap Chanyeol kaget saat lelaki itu menutupi bagian paha hingga lututnya dengan handuk yang dibawa olehnya.

"Itu… celanamu sangat pendek, jadi aku menutupinya."

Baekhyun mengerjapkan matanya bingung. Hey, bukankah Chanyeol ini sangat mesum? Tapi… kenapa dia malah tidak mau melihat paha Baekhyun yang terekspos. Baekhyun hanya mengangguk meskipun dia masih bingung. Chanyeol terlihat gugup dan marah diwaktu bersamaan.

"Kau mau minum?" Chanyeol tersenyum saat Baekhyun mengangguk. "Baiklah, kau tunggu disini. Jangan berbicara dengan orang asing."

Baekhyun kembali mengangguk. Tidak berbicara dengan orang asing? Dia juga tau. Dia sudah dewasa dan tau mana yang baik dan mana yang buruk. Baekhyun sangat bingung dengan sikap aneh Chanyeol pagi ini.

.

.

Chanyeol menatap tidak suka saat Baekhyun sedang berbincang dengan orang asing disana. Tapi setidaknya dia bernafas lega saat orang asing itu ternyata seorang perempuan dengan seorang anak laki-laki dipangkuannya. Dia berjalan mendekati mereka dan memberikan sebotol air minum ion untuk Baekhyun.

"Ah… apa ini suamimu?"

Baik Chanyeol maupun Baekhyun saling bertatapan. Bingung harus jawab apa. Hubungan keduanya bukankah hanya sekedar… teman sex?

"Bukan… bukan Yixing-eonni. Dia… dia kekasihku," Baekhyun melirik Chanyeol, menyuruh lelaki itu diam lewat tatapannya.

"Aku kira dia suamimu Baek. Soalnya dari pengeliatanku tubuhmu seperti wanita hamil," perempuan bernama Yixing itu tersenyum manis memperlihatkan dimple dipipinya. Tangannya mengusap lembut kepala anak dipangkuannya.

"A…apa?" Baekhyun terkejut dan langsung memeriksa tubuhnya, termasuk perutnya. Tidak. Mana mungkin dia hamil.

"Hahaha kau berlebihan menanggapi candaanku Baekhyun. Mungkin saja memang tubuhmu yang seperti itu," perempuan itu berdiri dengan menggendong anaknya. "Baiklah, aku pergi dulu. Selamat bersenang senang. Anson, ucapkan salam untuk tante Baekhyun."

Baekhyun hanya tersenyum senang saat anak kecil digendongan Yixing melambaikan tangannya dengan suaranya yang lucu. Setelah itu mereka pergi menyisakan Chanyeol yang masih meminum minumannya dan Baekhyun yang baru memulai minumnya.

"Jadi… kau hamil?"

Baekhyun menoleh dan menatap Chanyeol malas. "Tidak Chan."

Chanyeol menatap perempuan disampingnya, kemudian tangannya dia bawa keatas perut Baekhyun dan mengelusnya. Membuat wajah Baekhyun memerah.

"Baguslah," dia menjauhkan tangannya membuat Baekhyun mendesah kecewa. "Ngomong-ngomong siapa perempuan tadi?"

Dia Yixing. Aku baru berkenalan dengannya tadi," Baekhyun menatap Chanyeol tajam sambil memegang jidatnya yang disentil oleh Chanyeol. "Apa-apaan kau!"

"Sudah kubilang jangan berbicara dengan orang asing."

"Aku sudah dewasa Park. Aku bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Dan Yixing adalah orang yang baik. Aku berkenalan dengannya juga karena tadi anaknya yang berjalan mendekatiku."

Chanyeol hanya mengangguk kemudian membuang sampah botolnya. "Baiklah, ayo kita kembali ke penginapan. Aku lapar."

Baekhyun mengangguk kemudian berjalan disamping Chanyeol. Dengan berani, dia memeluk lengan Chanyeol dan bergelayut manja disana. Entah karena apa, dia tiba-tiba ingin bermanja-manja dengan Chanyeol. Toh lelaki itu tidak keberatan. Malah tangan Chanyeol yang lain dengan lembut mengelus rambutnya.

.

.

"Jadi aku boleh berbelanja?"

Mata Baekhyun berbinar saat Chanyeol menganggukkan kepalanya dengan senyuman hangatnya. Dia langsung menarik tangan Chanyeol agar memasuki kawasan pembelanjaan lebih dalam.

Baekhyun sibuk belanja, Chanyeol hanya memperhatikannya. Sesekali lelaki itu memberikan masukan saat Baekhyun bingung dengan barang yang akan dia beli.

"Aku akan membelikannya untuk Tae dan Tiff!"

Chanyeol terkekeh. Wanitanya ini masih memikirkan temannya itu. Chanyeol tau, siapa itu Taeyeon dan Tiffany. Seperti apa wujud mereka. Dimana tempat tinggal mereka. Kalian menganggap Chanyeol penguntit? Ya, kalian benar. Dia adalah penguntit. Penguntit seorang Byun Baekhyun dan orang-orang terdekat Baekhyun.

Mata bulat Chanyeol tersenyum saat melihat cincin-cincin yang terjejer rapi disalah satu stand kios. Dia mendekati kios tersebut tanpa disadari Baekhyun. Setelah membeli apa yang dia inginkan, dia kembali berjalan kearah kios yang tadi dihampiri Baekhyun. Tapi seketika matanya menatap Baekhyun marah saat perempuan itu sedang berpelukan dengan seorang lelaki yang tidak dia ketahui.

Dengan langkah yang cepat dia menarik lelaki itu menjauh hingga pelukkannya dengan Baekhyun terlepas.

"Apa-apaan kau! Kenapa memeluk Baekhyun?"

Chanyeol semakin menatap marah saat lelaki itu tertawa.

"Chan? Tenanglah, dia hanya seniorku disekolah dulu," Baekhyun menatap Chanyeol takut. Chanyeol tidak boleh marah disini.

"Hey hey sabar bung. Aku tidak ada perasaan apapun terhadap Baekhyun. Kau tidak perlu cemburu," lelaki yang lebih pendek dari Chanyeol menepuk pundak Chanyeol. "Lagipula aku sudah mempunyai istri dan anak. Yang kebetulan juga mengenal Baekhyun."

Oh…rasanya Chanyeol inging menguburkan dirinya. Sialan. Dia menjadi pusat perhatian saat dia marah kepada lelaki ini. Sebenarnya apa yang terjadi padanya.

"Chan? Eum… bukankah ini kebetulan? Ternyata Yixing-eonni adalah istri Suho-oppa."

Jadi, nama lelaki ini Suho. Chanyeol akan mengingat itu.

"Ayo, kita kembali kepenginapan."

Baekhyun hanya pasrah saat dirinya ditarik paksa oleh Chanyeol. Tapi kemudia dia tersenyum saat Suho menyelipkan kartu namanya ditas Baekhyun dan lelaki itu membuat gestur tubuh seperti menelpon. Dia kemudian mengangguk dan mengacungkan jempolnya.

.

.

Suasana didalam kamar yang ditempati Baekhyun dan Chanyeol sangat sunyi. Dua jam lagi mereka akan kembali ke Seoul. Dan sejak kepulangan mereka dari pusat pembelanjaan tadi, Chanyeol hanya diam dn enggan untuk menatap Baekhyun.

"Ini," Baekhyun menatap tangan Chanyeol yang terjulur kearahnya. "Tadi aku membelinya. Pakailah. Dan ingat jangan sampai hilang."

Baekhyun tersenyum. Lelaki ini malu rupanya. Dia mengambil kotak yang diberikan Chanyeol dan membukanya. Dia tidak dapat menyembunyikan senyuman senangnya saat melihat sebuah cincin disana. Memang bukan sebuah berlian, hanya cincin biasa. Cincin polos. Tapi ini adalah pemberian Chanyeol yang pertama. Dia sangat senang.

Baekhyun mengambil cincin tersebut kemudian memakainya. Sangat pas dan cocok untuk jari lentiknya. Dia menatap Chanyeol yang sedang memunggunginya. Dia berjalan pelan kearah Chanyeol dan berdiri dibelakang lelaki itu.

"Chan? Terima kasih."

Setelah itu Baekhyun memeluk tubuh Chanyeol dari belakang dan menyesap dalam aroma tubuh lelaki itu. senyuman tidak pernah luntur diwajahnya. Hari ini adalah hari terbaiknya. Dia tidak akan pernah melupakannya.

Tanpa diketahui Baekhyun, lelaki yang dipeluknya juga tersenyum dengan mata yang menatap cincin yang persis seperti miliknya. Diapun juga merasa sangat bahagia hari ini.

.

Bersambung

.

Yawlah… suka banget sama chapter ini. Chan, duh so sweet hahaha. Please Chan peka, Baek suka elu. Kapan pekanya? Yang buat cerita bikin Chan peka dong /plak/

Gimana dengan Chapter ini? Kalian puas? Dan ini juga udah lebih panjang 'kan? Dan aku juga mohon maaf kalau ada kesalahan tentang pulau nami ini. Aku hanya baca di internet, belom pernah kesana hahaha. Aku masih gatau itu bener nyebrangin laut atau sungai. Gatau lah, beda-beda diinternetnya. Anggap ajalah ya itu bener /ditabok/

Dan aku mau ngucapin terima kasih banyak buat kalian yang udah nyempetin baca apalagi ngereview. Lopyupullah :* jangan pernah bosen ya sama ff buatan Seulla. Aku akan memberikan yang terbaik buat kalian semua :*

Last, review?