You are a my girl
Pairing : Eren Jaeger X Annie Leonhartd
Rated : T
Disclaimer : Hajime Isayama
Alur : Gaje , Typo , Maju dan Mundur
Genre : Romance
Happy read ^^
Chapter 7
Hembusan angin menerpa wajah manisku dengan lembut. Aku memejamkan mata membiarkan kelopak sakura jatuh kewajahku. Karna aku sangat menikmati hawa sejuk yang merasuk pagi itu. Aku merasakan ketenangan.
"eren.." seseorang membelai pipiku dengan lembut. Aku hanya tersenyum mendapati wajah kakak ku. Dia juga tersenyum lembut. Kemudian dia berbalik dan ikut membelai wajah Armin yang terpapang manis disampingnya.
Aku, mikasa, dan armin sengaja datang sangat pagi untuk bisa sarapan bersama dihalaman sekolah. Saat matahari mulai merangkak naik, dan sarapan kami sudah habis. Aku dan armin memutuskan untuk menyegarkan pikiran sejenak. Mikasa setuju. Didalam keheningan itu, samar2 aku mendengar seseorang memanggil namaku. Aku membuka mataku dan menoleh kearah sumber suara. Gadis pirang itu berlari mendekatiku dan langsung memelukku.
"kak eren.. nanti keatap ya" dia berseru dengan senyum terkembang dan akhirnya melambai meninggalkanku dengan tatapan tidak percaya.
Perasaanku saja atau memang dia semakin cantik saja?
"eren.." armin memanggilku lirih, aku menoleh kearahnya dan mendapati dia tengah menatapku dengan tatapan tak biasa. "apa?" tanyaku sambil berbalik menghadapnya.
"aku dan armin berpikir dia bukan gadis yang kau cari" potong mikasa menyela armin yang hendak mengeluarkan suara.
"menurutku lambaian tangan saat dimimpimu, itu adalah salam perpisahan" armin berkata sambil menunjuk telapak tangannya.
Benar jugaa..
"tapi kalau kau mencintainya, aku tak mempermasalahkannya. Asalkan kau cepat nyatakan perasaanmu padanya." Mikasa berseru sambil bangkit dari duduk. Mengajak ku dan armin untuk pergi menuju kelas.
Aku berdiri, dalam perjalanan aku masih terdiam dan berpikir. Kenapa aku lupa ya? Benar kata armin, lambaian tangan adalah salam perpisahan.
.
.
.
Sudahlah aku tidak tau lagi..
.
.
~O~
"hai eren… kau nanti jadi kerumahku kan?" sambutan yang datang dari Reiner membuatku tersadar dari lamunan. Aku menoleh kearahnya dan mendapati dia tengah tersenyum dihadapanku.
"iya.. iya. Emangnya kau mau menunujukkan ku apa?" tanyaku malas sambil berjalan kearah pintu kelasku yang terbuka lebar.
"itu rahasia" Reiner mengedipkan matanya ke arahku. Aku bergidik pelan.
"yoshh.. aku dan Reiner akan menunjukkan hal yang palingg menggemparkan. Tapi, Reiner kau harus menyediakan kripik kentang limited edition dirumahmu" seseorang menubrukku dan Reiner sambil berseru nyaring. Membuat gempa hebat ditelingaku.
"Sasha? Dia ikut juga Reiner?" kataku heran sambil menunjukk Sasha yang dengan indahnya duduk diatas mejaku.
"Tentu." Reiner mengangguk girang.
'Tidakkkk…..' aku menjerit dalam hati. Kenapa harus dengan Sasha.
Sasha adalah salah satu dari jenis makhluk paling aneh didunia ini. Aku hanya bisa menemukan 2 spieses langka seperti Sasha. Yaitu sasha itu sendiri dan juga salah satu teman tak berambut (botak, itu bahasa yang terlalu kasar. Author tidak mau itu terjadi *nyengir*) bernama Connie spinger. Dan entah dewi fortuna tidak berkunjung atau giman mereka berdua berada sekelas denganku.
"kita akan bermain game sampai malam"Sasha menjerit sambil merangkulku. Aku hanya bisa mendesah dengan tampang pasrah.
~O~
Ting…Tong…Ting…Tong…
Bel istirahat berdendang, membuat semua siswa berteriak riuh. Tak terkecuali kelasku yang saat itu memang sedang pelajaran sejarah.
"baiklah anak2, silahkan beristirahat". Kata Henji-sensei sambil tersenyum.
Aku mendengus pelan, entah kenapa ucapan armin tadi pagi membuatku pening. Karna aku mulai merasa Hana bukan gadis bertudung yang aku cari itu.
Jujur saja, dari awal aku tidak tahu warna rambut, kepribadian, dan juga sifat gadis bertudung yang hanya kutemui satu kali itu. Tapi, jika dipikir2 mungkin dia bukan HANA.
"Eren.." aku terkejut saat seseorang menepuk bahuku pelan. Aku melihat wajah tenang kakakku terpampang jelas dipupil mataku. "neechan.." aku bergumam lirih. Tidak seperti biasanya kali ini aku akan benar2 memanggilnya neechan.
"ayo ke atap, aku dan armin akan menuntaskan masalahmu" seperti biasa dia selalu menolongku disaat seperti ini. Aku hanya mengangguk pelan dan bangkit berdiri.
Kami bertiga berjalan berdampingan, diiringi dengan sapaan2 norak para adik kelas kearah neechan. Dan hanya dibalas lirikan tak berperikemanusiaan dari kakak perempuanku itu. Entah kenapa akhir2 ini aku jarang melihatnya bersama jean. Mereka seperti merenggang.
"neechan.. kulihat kau sekarang jarang sekali bersama jean?" tanyaku sambil memiringkan kepala menghadap kearah wajahnya.
Dia melirik sekilas."kenapa tiba2 tanya seperti itu? Dan.. sekarang tidak ada ibu eren, panggil aku seperti biasa" ujarnya sambil tetap menghadap kedepan seolah tak tertarik dengan pertanyaan yang kuajukan tadi.
Aku mendengus.
"heii ayolah. Setidaknya jawab pertanyaanku." Kataku sambil memutar malas kedua bola mataku.
"tidak ada yang khusus. Aku hanya tidak mau bersenang2 dengan pacarku, dan meninggalkanmu dalam keadaan begini" jlebb… itu tadi perkataan atau pedang tak kasat mata.
"ck. Aku bukan anak kecil lagi,MIKASA" seruku disertai dengan penekanan pada kata 'mikasa'.
Armin hanya tertawa kecil.
"bukan begitu.. aku hanya mau memastikan kau mendapat pacar yang sesuai Eren. Aku tidak mau adik iparku tidak sesuai dengan kriteriaku."
Jleb..
"nanti keponakanku tidak sesuai apa yang kuinginkan lagi"
Jleb
"kalo kau mendapat pacar yang tidak sesuai. Aku tidak mau jadi apa2 saat pernikahanmu nanti"
Jleb
"aku ingin ayah dan ibu bahagia. Jean menurutku sudah baik, tapi kau kan belum dapat apa2 yang bisa membuat ibu dan ayah bahagia"
Jleb.
"dan juga-"
"CUKUPP AKU TIDAK TAHAN" aku berteriak kencang sekali, dan disusul oleh kikikan geli dari Armin.
~O~
"kak eren.." kulihat hana duduk diatas permadani kecil yang dia bawa. Aku masih berada di ujung tangga dan menatapnya dalam, sampai akhirnya dia tersenyum dan memanggilku untuk mendekat.
"kak eren.. silahkan kema-Eh.." dia terkejut saat melihat 2 orang yang mengikutiku.
"kenapa kau kaget seperti itu?" Tanya neechan sambil memasang muka tidak suka.
"kok kak eren ajak mereka sih. Aku kan hanya menyuruh kak eren saja" hana cemberut. Alisku berkedut.
"dia kakaku, dan dia juga sahabatku. Apa aku salah mengajak mereka?"
"tapi kan kak," dia merengek sambil menatapku dengan tatapan memohon.
"aku benci orang sepertimu, tidak akan kubiarkan Eren ada dalam kendalimu" neechan menarikku kesampingnya.
Alis hana berkedut. "oke.. ambil saja. Aku tidak butuh" hana melempar kotak bekalnya kearahku dan berlari keluar menuju pintu atap.
"han-eh" kulihat ada sosok berambut biru tepat didepan pintu. Tanpa dikomando hana menerobos sosok biru itu yang tengah memasang wajah kebingungan.
"eren senpai kenap- ehh…" sosok itu mendekat dan terkejut saatt melihatku bersama 2 orang lainnya serta terdapat sebuah kota bekal beserta isinya jatuh tak berbentuk.
"kenapa kau juga kaget ha?" sepertinya neechanku mulai posesif sekarang. Dia menatap Aoi dengan tatapan ingin membunuh.
"ehh tidak kok senpai. Aku hanya kaget hana berlari sambil menangis" kata Aoi yang aku yakin dia pasti ketakutan setengan mati.
"apa dia menangis?" aku mencelos. Ya ampun segitu kesalkah dia padaku.
"anoo… senpai, sebaiknya senpai cepat kejar hana. Aku takut penyakitnya kumat." Kata Aoi sambil garuk2 belakang kepalanya yang mungkin tidak gatal sama sekali.
"Penyakit?" aku, neechan, dan armin berseru serentak.
"iya.. ettoo.. dia menderita penyakit epilepsi. Err.. aku tidak tau lengkapnya. Tapi ayahnya bilang padaku untuk tidak membiarkannya menangis sendirian."
"aku pernah dengar itu. Penyakit yang-"
Aku melesat pergi, meninggalkan mereka. Aku menuruni tangga dengan terburu2. Kepalaku pening, memikirkan jika hana kejang2 saat aku tak ada, lebih buruknya aku lah penyebab dia menjadi seperti ini.
Kupercepat langkahku saat memasuki taman belakang sekolah, aku menemukannya, menemukan sosok pirang yang yang menangis tersedu-sedu dibawah pohon. Aku menghampirinya dan menubruk tubuhnya dan segera memeluknya erat. Seolah tak ada hari lain untuk bisa memeluknya lagi. Dia mendongak. Aku bisa menatap ujung bibirnya yang mengeluarkan busa.
Busa?
Tidakk…
"Tidakk… jangan sekarang. Aku janji, aku akan selalu menemanimu. Tidak dengan neechanku tidak juga dengan armin." Aku memeluknya erat. Erat sekali.
"aku gak mau.. aku maunya kakak hanya ada untukku. Aku tidak suka diduakan. Kalo kakak lebih memilih teman kakak. Lebih baik, aku tidak butuh kakak." Hana berontak, suara sedikit tersendat karena tangisnya yang tak kunjung reda. Dia memukul mukul dadaku sambil menangis.
Lambat laun pukulannya melemah, dia ambruk dan membentur dadaku.
Hana pingsan… dan mengeluarkan busa dimulutnya.
~O~
Deg…. Deg…. Deg…
Author deg-deg an . gimana ceritanya? Makin gaje kah? Atau makin rumit gajelas?
Maaf kan author ini.. maafkan saya *sembah sujud*
Kelihatannya udah hampir klimaks. *Readers : Klimaks pala lu botak. Annie nya kagak keluar sama sekali tuh* / lempar author pake batu.
Kita tunggu selengkapnya, saya akan membuat disini semakin rumit seperti sinetron hahahaahaha *author gaje*
Ehh.. maaf maaff…ohh iya ikutin terus ya. Tenang saja yang diatas itu hanya bercanda. *tersenyum*
Jangan lupa Review, Fav, dan Follow ya ^^ Pm juga boleh ^^
Ditunggu lohh ^^
Te hee.. *salam shizuka*
