Lhyn cam BEK setelah hiatus dua minggu lebih karna sakit yang berlanjut ama lebaran.
Gomen Ne..
`Lhyn hatake`
Arigatou Gozaimazu For :
vamPs 9irL : Whehehe… Lhyn juga sempet ngiler ngebayangin punya 3 orang guanteng gag ketulungan itu… *nosebleed* Iyah apdet.. arigatou dah rifyu….
Arian Schiffer : Iyah gag papa Arian-san… Hehe… Lhyn emang suka menistakan… asal jangan dianggap ngebashing ya? Sumpah satu2nya chara yg pengen Lhyn bashing cuman Danzo *dibantai Dando FC* cuman belon dapet idenya ajah… Arigatou dah rifyu…
Hatake Lerina : tukang sayur keliling? Wah~~ nanti lhyn bikin warungnya kebakaran atou gimana ya? *deathglare Oro+Manda* Iyah apdet Lerina chan… Arigatou dah rifyu… jangan lupa rifyu lagi ya?
Zie-rainC0ol: Hweh… mau nyoba masakannya Kakashi? *nyodorin semangkuk sup miso* Lhyn niat mau ngejelasin kalo itu emang bukan mimpi, tapi gag teu di chaps berapa…
Arigatou dah rifyu… Rifyu lagi yah?
ali : Haha.. gag bakal lhyn gigit kok, tapi mungkin Pakkun yang ngegigit *pakkun:Cih!*
Iyah apdet… Arigatou dah rifyu lagi… arigatou juga untuk Go-Gonya.. bikin lahyn semangat! Gomen apdet lama…
noname: Arigatou udah nunggu lanjutannya… Gomen lama… arigatou udah rifyu meski gag pake nama…
Chocopie : Hy, Cho-chan… dichaps ini Kakashi mengakui perasaannya ama Papihnya lho.. Ochh.. so sweet BGT! jadi inget masa2 Kakashi ngelamar Lhyn didepan Ortu Lhyn..*diledakin Kakashi FC*
Iyah Lanjut… Arigatou dah rifyu…. Rifyu lagi ya?
Fun-Ny Chan : Fun-Ny chan… Your Rifyu is My drug too.. Arigatou atas pujiannya… Iyah Lhyn udah baca Rifyuan Funny chan di 2nd Sakura… Arigatou yah…
Luph you Too…
Mokochange : Arigatou Mokochange, karna doa Mokochange juga Lhyn sembuh sebelum lebaran… Gomen ne Apdet lama karna hiatus… Tapi ini apdet kok… Tebakannya emang tepat! Ini lhyn kasih hadiah *lemparin Icha-icha* Baca yah… Ficnya maksud Lhyn…Arigatou Gozaimazu udah rifyu….
staacha:Gomen ne Gag bisa apdet kilat berhubung sempet hiatus bentar…
Arigatou dah rifyu…
Diamond Hatake : hy Dilla… Iyah Iyah… Arigatou dah rifyu… beneran deh KK terharu mati karna dilla… luph You Emuchhh… *peyuk2 Dilla*
Hohoho… IyaH Kang Oro *?* lhyn jadiin tukang syur.. abis cumin dya yang kepikiran wat dinistain hexhexhex *di telen Manda* iyah KK hiatus abis KK sempet sakit sebelum lebaran truz muter2 kekeluarga setelah lebaran…
Arigatou dah rifyu ya Dilla…
Buat Kimichi-kunyang log ini tapi gag lhyn gag bisa ngirim PM ke akunnya : Salam kenal Kimichi-kun… Arigatou dah rifyu.. niatnya emang mau dijadiin penjual daging, tapi udah di deathglare ama Manda duluan… *Manda : Smirk* *lhyn: huh dasar Ular*
Well, Chaps 7 udah apdet… dibaca kalo sempet ya? N' Lhyn masih menunggu rifyunya…
Termasuk juga buat mereka yang akunnya Lhyn kotorin dengan surat cinta dari Lhyn :
Cielheart Ie'chan, Rizu Hatake-hime, Ayano Hatake, It'sMeRyuki, D-kiro YoiD, dei hatake, JustLita, gieyoungkyu, Putri D'TechnoLife, aya-na rifa'i, Merai Alixya Kudo, Kimichi-kun, Heiress Hinata Cute, Awan Hitam, Namikaze 'cherry' Hatake, kuraishi cha22dhen.
ARIGATOU GOZAIMAZU
~Lhyn Hatake~
~Sensei to Live ® Lhyn Hatake~
Naruo©Masashi Kishimoto
Warning: gaje, aneh, OOC, typo, dll yang pasti membuat fic ini jadi jauh dari kata sempurna. Segala saran, kritik dukungan, flame, dll. Lhyn Terima dengan senang hati.
~Lhyn Hatake~
HAPPY READING
`Lhyn hatake`
"Ada apa Otousan membawaku kemari?"
Akhirnya Kakashi angkat bicara setelah keduanya terdiam cukup lama. Ini agak diluar kebiasaan Otousannya, membawanya bicara disebuah tempat seperti ini adalah hal yang pertama Otousannya lakukan padanya. Biasanya pria itu hanya akan datang tiba-tiba dan bicara langsung ditempat, bukan membawanya ke restoran bintang lima seperti ini, apalagi disaat dia harus belajar hidup tanpa uang.
"Otousan hanya ingin berbincang denganmu." Jawab pria tua didepan Kakashi sambil menyeruput kopi miliknya.
"Bukan hal biasa tousan ingin 'berbincang' denganku." Kakashi menyandarkan pundaknya sedikit tak nyaman. "Ada apa?"
Pria itu tersenyum, menampilkan kerutan-kerutan lain yang tersembunyi diwajahnya. "Well, Kau sedikit telah berubah." Kata pria itu santai, kedua pasang onyx saling bertemu.
"Bukankah itu yang tousan inginkan? Agar gadis itu merubahku?" Kakashi sedikit menyunggingkan senyumnya.
"Yah, Sakura memang bisa diandalkan, tidak seperti kau. Aku pikir butuh waktu lama, tapi sepertinya gadis itu berhasil mangatasimu lebih baik dari pada yang bisa kuharapkan."
Kakashi mendengus tak suka pada kata 'mengatasimu', meskipun pada kenyataannya gadis itu memang berhasil 'mengatasiku'. "Yah, terserah tousan mau bilang apa, lagi pula banyak yang ingin kudengar dari tousan. sekarang jelaskan kenapa kau merubah namaku? Dan dari sekian banyak pekerjaan kenapa kau memilihkan mengajar untukku?"
Sakumo menghela nafas kemudian kembali tersenyum namun lebih lembut kali ini, sepertinya dia telah mengantisipasi hal ini sebelumnya. "Aku merubah namamu agar tidak menyulitkan Sakura nantinya, aku tidak mau ada orang yang menganggap dia rendah karna membawa pria lain tinggal dalam rumahnya, jadi kau harus mengubah namamu." Pria itu memandang refleksi mudanya sekilas. "Kalau soal mengajar itu juga agar kau tidak lepas dari pengawasan Sakura, lagi pula rasanya bagus agar kau belajar memimpin. Memimpin sekelas remaja jauh lebih mudah dari pada memimpin perusahaan besar."
"Tch, kenapa semuanya demi Sakura?" keluh Kakashi kecil meskipun dia sebenarnya sangat tidak keberatan dengan segala sesuatu yang tampak menspesialkan Sakura."Baiklah Otousan, aku juga ingin bicara dan ini… sangat penting untukku." Kakashi mulai memasang wajah serius, duduk lebih tegap dan sepertinya itu berpengaruh bagi orang didepannya, kedua pasang onyx kembali saling menilai.
"Kau boleh bicara." Kata pria itu, meski santai tapi tetap tegas dan tampak tertarik.
"Apakah tousan pernah memikirkan ini sebelumnya, bahwa mungkin Sakura cukup mampu menarikku dan… membuatku…" jantung Kakashi berdebar. "Jatuh cinta… Well, Aku mencintainya tousan dan aku tidak bisa menerima lagi perjodohan tousan."
"Apa maksudmu?" Alis pria itu mengernyit, kerutan muncul di sebagian besar sisi keningnya.
Kakashi menggeser posisi duduknya sedikit dengan gugup. Yah, sekarang dia harus bisa menerima apapun segala kemarahan Otousannya. "Aku tidak pernah mengatakan bahwa aku menerima hal itu, dan sekarang aku menolaknya, maaf tapi itu sepenuhnya bukan salahku, Otousan yang mengenalkanku pada Sakura dan aku jatuh cinta padanya." Kata Kakashi sedikit keras namun masih menjaga kesopanan dalam suaranya.
"Kalau kau mencintainya kenapa kau malah menolaknya? Apa yang ada difikiranmu Kakashi?" Sergah Otousannya keras.
"Aku tidak… aku…" Kakashi bingung. "Menolaknya? 'Nya' itu… 'nya'.. untuk Sakura?"
"Kau ini sedang membicarakan siapa Kakashi? Tentu saja Sakura." Kata Sakumo dari raut wajahnya dia juga terlihat kebingungan.
Deg…
Sebuah pemahaman muncul dikepala Kakashi, dia memandang mata onyx lain yang juga tengah memandangnya kembali berusaha menilai tentang apa-apa yang ada didalamnya. "Siapa gadis itu? Siapa gadis yang dipilih Otousan untukku?"
"Kau fikir siapa? Apa menurutmu tousan memilih dengan asal gadis itu? Otousan mengenal Sakura lebih dari mengenalmu, dan tousan meminta dia yang merubahmu karna Otousan tidak mempercayai gadis lain selain Sakura."
"Maksud Otousan Sakura itu gadis yang dipilihkan Otousan?"
"Tch! Kau pasti tidak mendengarkanku saat aku mengatakannya padamu dulu. Nasihat lama tapi bagus 'Dengarkan orangtuamu bicara' Kakashi"
'Sial, gadis itu membodohiku.' Batin Kakashi, namun seulas senyum penuh kemenangan terukir dibibirnya. 'Gadis itu milikku.'
`Lhyn hatake`
"Gaara, berhenti." Seru Sakura tiba-tiba sesaat setelah Gaara membelokkan mobilnya dibelokan terakhir menuju rumah Sakura.
Gaara memandang gadis itu, kemudian menghentikan laju mobilnya pelan-pelan. "Ada apa?" tanyanya tak mengerti.
"Itu mobil Sakumo jiisan kan?" seru Sakura tak percaya menunjuk sebuah mobil yang baru saja berhenti didepan rumahnya, lalu sesuatu terasa menghantam dadanya. 'Gawat'.
"Sakumo jiisan?" Tanya Gaara memandang Sakura dan sebuah limosin yang baru saja berhenti tepat didepan rumah Sakura bergantian.
"Gaara, aku turun disini." Sakura mulai merasa panik, 'gawat'. Kalau Sakumo jiisan bertemu dengan Kakashi itu artinya…
Sakura melepas self belt dengan gugup, lalu dipandangnya pria berambut merah yang memandangnya tak mengerti. "Gaara maaf, nanti kutelfon lagi." Sakura mengusap pipinya lembut saat menyadari ada ketidaksukaan dalam raut wajahnya.
Gaara tersenyum kecil, lalu mengangguk pelan.
Sakura mengecup pipi Gaara singkat, lalu turun dari mercedez hitam itu, melambai singkat dan berlari kecil kearah rumahnya. Saat itu dua orang pria berambut perak keluar dari pintu belakang mobil itu, Kakashi dari pintu kanan yang dekat dengannya dan Sakumo dari pintu kiri yang agak jauh dari tempat Sakura berdiri.
"Sakura, kau sudah pulang? Maaf membawa Kakashi tanpa ijin darimu." Sapa pria berambut perak yang lebih tua begitu dia dekat dan mengusap rambut pinknya lembut.
Sakura tersenyum, lalu memandang Kakashi yang memandangnya ganjil, membuat sedikit gugup. "Tidak apa Jiisan, Aku juga baru saja pulang. Jiisan mau masuk?" tawarnya pada pria itu.
"Tidak, aku harus segera keairport. Ada pertemuan yang harus segera kuhadiri, kutitipkan Kakashi saja ya?"
"Ha'i jiisan." Sakura membungkuk.
Pria itu tersenyum "Kulihat kau bisa menjinakkannya dengan mudah, itu membuatku tak perlu khawatir lagi." Katanya dengan senyum lebih lebar, kemudian kembali masuk kekursi belakang limosinnya tanpa melewatkan semburat merah dipipi Sakura.
Sakura memandang kaku mobil itu pergi, dan seketika perasaannya berubah tidak mengenakan. 'apakah Kakashi sudah tahu?' Sakura berbalik, namun pria itu sudah tidak ada. Sudah masuk lebih dulu kedalam rumahnya, dia kembali berlari kecil dan masuk kedalam rumahnya.
Disana, disofa miliknya dengan remot tivi dalam genggamannya, Kakashi tampak fokus pada acara tivinya. Sakura duduk disamping pria itu dengan kaku lalu memandang pria itu, sekilas tidak ada yang berbeda. Tapi Sakura tahu ada yang berbeda. Pandangan pria itu padanya tadi berbeda, pandangan itu ganjil, seakan menyiratkan kekecawaan dan kemarahan dan Sakura tahu apa penyebabnya.
"Kakashi, apa—"
"Kalau kau mau minta maaf karna telah membodohiku selama ini, sebaiknya nanti saja." Kata Kakashi, matanya beralih dari layar tivi memandang emerald Sakura tajam.
Sakura bergidig, pandangan itu membuatnya… takut… "Aku.. aku hanya belum siap…"
"Kalau begitu kau egois." Katanya tajam. Dia bangkit mendadak dan mendorong gadis itu hingga Sakura kini setengah berbaring di sofa dan membuat jantung gadis itu seakan melompat keluar dari dadanya.
"Ka.. Kakashi… Apa yang kau .. lakukan?" Sakura berkata gugup, mengabaikan rasa panas yang menjalari tubuhnya.
"Jadi kau calon istriku?" lirih Kakashi tajam, penuh intimidasi.
Sakura mengangguk gugup, kemudian menggeleng cepat. "Maksudku… aku belum menyetujui itu.." katanya berusaha setengah mati menahan diri agar tidak pingsan karna reaksi tubuhnya.
Jarak antara keduanya begitu dekat, kedua telapak tangan Sakura tepat didada Kakashi, berusaha mendorong tubuh itu agar tidak semakin mendekat.
"Dan kau membohongiku?" desis Kakashi, terdengar begitu mengancam.
"A.. aku tidak bermaksud… maksudku… a..aku…" Sakura tak bisa berkata-kata lagi. Jantungnya begitu memburu, dan tubuhnya terasa mendidih, hingga dia yakin telur akan matang bila diletakkan di pipinya sekarang.
"Kau puas membuatku jadi seperti orang bodoh?"
"Bukan seperti itu.. aku… maaf…"
"Lupakan pria sabaku itu." Kakashi masih mendesis.
"Ha? Kakashi kau… kau bicara… apa?" dipandangnya mata onyx yang begitu dekat dengannya, ada kekecewaan, tapi mata itu terasa begitu lembut, begitu hangat, membuatnya ingin masuk lebih jauh kedalam mata itu, membuatnya ingin memilikinya.
Kakashi mundur dengan cepat dari posisinya. "Hn. Bukan apa-apa"
`Lhyn hatake`
Sakura menatap punggung berkemeja putih itu lekat-lekat lalu menghela nafas dengan berat. Ini hari kelima sejak dia ketahuan berbohong, hari kelima Kakashi tidak berbicara dengannya, hari kelima Kakashi menatapnya dengan aneh, dan hari kelima Kakashi bersikap mengintimidasi hubungannya dengan Gaara, juga hari kelima Sakura merasa dalam neraka.
Kakashi seakan menolak berinteraksi dengan Sakura, tidak menjauh namun terkesan menghindar. meski begitu dia tetap menjalankan tugasnya dengan baik, bahkan terlalu baik hingga Sakura curiga Kakashi melakukan semua itu untuk mencegah dia mengomel panjang lebar padanya.
'Agh'.
Sakura benar-benar tak tahan dengan sikap Kakashi, dia bahkan tidak pernah meminta untuk mengendarai sepeda Sakura lagi, padahal sebelumnya pria itu selalu tampak tertarik dan ingin sekali mengendarainya. Sikap pria perak itu membuat Sakura merasa kesalahannya begitu besar.
Setelah memarkirkan sepedanya dihalaman samping rumahnya, kemudian Sakura masuk dan langsung menuju kamarnya, lalu melempar dirinya ketempat tidur. Hari ini terasa jauh lebih buruk dari kemarin, Kakashi bahkan sama sekali tidak memandangnya saat mengajar membuatnya beberapa kali mendesah frustasi dan memancing pandangan curiga dari Ino.
Ggrrrrdd….ggrrrdd….
Ponsel Sakura bergetar, dia segera merogoh tasnya dan meraih benda kecil itu lalu meletakkannya didekat telinga setelah melihat dalam sekejap nama yang tertera dilayarnya.
"Hai, Sakura. Kau sudah sampai dirumah?" Tanya suara dari sebrang langsung.
Sakura menghela nafas, dia hapal betul dengan kebiasaan kekasihnya ini. "Yah, baru saja tiba. Kau juga?" jawab Sakura.
"Hem. Sakura, bisakah kita bicara malam ini?" Nada suara Gaara terdengar lebih serius.
Sakura bangkit dan duduk ditepi tempat tidurnya. "Ada apa? Apa ada yang penting?"
Hening, untuk beberapa saat. Tampaknya Gaara tengah berfikir tentang apa yang akan diucapkannya selanjutnya, hingga terdengar suara hembusan nafas berat dan suaranya kembali terdengar. "Aku mengkhawatirkanmu Sakura."
Sakura tertegun. Apakah buruknya hubungannya dengan Kakashi berpengaruh begitu besar hingga membuat Gaara mengkhawatirkannya? "Tentu saja kita bisa bicara Gaara, tapi kau tak perlu mengkhawatirkanku. Aku baik-baik saja." Katanya dengan nada yang jauh lebih lembut.
"Kau tidak terlihat baik-baik saja beberapa hari ini." Katanya pendek.
Sakura kembali tertegun. Benarkah seperti itu? 'Akh.' Beberapa hari ini fikirannya memang terlalu dipenuhi Kakashi. Matanya terlalu ingin menatap mata onyx yang terasa menghangatkannya itu. Hatinya merindukan mata yang menyipit saat tersenyum lembut. Dan dia terlalu kalut karna sikap Kakashi padanya.
"Sakura… Sakura… kau masih disana?" terdengar suara menuntut Gaara.
"Iyah, aku disini. Gaara, maaf membuatmu khawatir, tapi aku baik-baik saja. Hanya ada sedikit masalah."
Tok… tok… tok…
Seseorang mengetuk pintu kamar Sakura, Sakura bangkit dan membuka pintunya. Matanya segera menemukan wajah bosan berambut perak berdiri didepan pintunya.
"Sensei ingin aku yang memasak lagi siang ini?" tanyanya bosan.
Sakura menurunkan ponsel dari telinganya, matanya memandang mata onyx yang masih sama dinginnya dengan beberapa hari ini. "Tidak, biar aku saja." Jawab Sakura sedikit bergetar, hari ini memang gilirannya memasak, tapi satu hal yang membuat hatinya ciut…
Terjadi lagi.
Ini untuk kesekian kalinya pria itu datang dan mengingatkan tentang tugas-tugasnya saat dia tengah berbicara dengan Gaara. Baik melalui telepon atau pun saat dia tengah bersama Gaara, Kakashi seolah tidak mengijinkan Sakura berlama-lama bersama pria itu.
Mau tak mau jantung Sakura kembali berdetak lebih cepat memikirkan ini. Apakah Kakashi cemburu?, dan pipinya memerah memikirkan kemungkinan ini.
Pria itu berbalik dan duduk disofa dengan nyaman, lalu meraih remot dan mulai mencari-cari acara yang menarik. Sakura kembali pada ponselnya.
"Halo Gaara." Sapa Sakura gugup. Matanya masih memandang Kakashi yang baru saja memilih acara memancing disalah satu stasiun tivi.
"Ada apa?" tanyanya terdengar cemas.
"Tidak ada apa-apa. Gaara maaf, aku harus memasak makan siang untuk kami." Kata Sakura, sedikit tidak bersemangat.
"Oh, baiklah. Kujemput kau dua jam lagi." Suaranya terdengar kecewa.
"Um, Gaara maaf, tapi aku ingin berangkat kerja dengan sepedaku. Um… kau datang saja kerumah sepulang aku kerja."
"Oh." Helanya penuh kekecewaan sekarang, membuat Sakura mengernyit. Dia tahu dia telah melukai pria merah ini. "Baiklah sampai jumpa."
Tut…
Sambungan terputus. Sakura menghela nafas dan melempar ponselnya ketempat tidur, dan bergegas kedapur untuk membuatkan makan siang untuk mereka berdua.
`Lhyn hatake`
Gaara melempar dirinya ketempat tidur, hatinya semakin gelisah sekarang. Gadis itu berubah, dia merasakannya, Sakura tak lagi mencintainya, atau setidaknya tidak seperti dulu. Dia tahu secara perlahan-lahan dia mulai kehilangan Sakura.
"BAKA!" Gaara melempar ponsel yang menampilkan foto Sakura sebagai wallpapernya asal.
Jantungnya berdenyut sakit.
'Mempertahankannya kah?'
Pertanyaan itu selalu terngiang sejak kehadiran seorang pria dikehidupan gadisnya, semakin hari pertanyaan itu terdengar semakin keras dan semakin keras seakan kini dipaksa dijejalkan kedalam otaknya.
Pria itu. Sayang sekali pria itu berkedudukan lebih unggul darinya yang hanya berstatus 'Kekasih' gadis itu. Gaara mencintainya. Mencintai gadis itu, gadis yang pertama kali berhasil masuk kedalam dunianya yang tak pernah tersentuh dan Gaara takut kehilangannya. Memangnya siapa yang tidak takut kehilangan seseorang yang kau cintai? Apalagi bila kau mencintainya dengan sepenuh hati. Tapi dari semua itu dia lebih takut gadis itu tidak bahagia.
Yah. Dia tak ingin gadis itu tidak bahagia. Apapun pilihan gadis itu, Gaara akan menerimanya bahkan bila itu menghacurkan hatinya. Asalkan dia bahagia. Sakura. Gadis yang menguasai hatinya.
"Gaara… Gaara…" terdengar panggilan lembut untuknya.
Gaara membuka matanya, dan secara perlahan pandangannya menangkap sosok seorang gadis berambut pirang didepannya.
"Bangun, kau tidur terlalu lama." kata gadis itu mengusap lembut bahu Gaara.
Gaara menyibak rambut yang menghalangi pandangannya, kemudian melihat kesekelilingnya. Diluar hari telah gelap. "Jam berapa sekarang Nee?"
"Tujuh, kau tampak kacau? Sedang ada masalah dengan Sakura?"
Ah. Ya… Sakura, dia tertidur dengan fikiran kalut tentang Sakura. Dan dia ada janji dengan gadis itu jam Sembilan nanti. Gaara tersenyum pada Temari, kemudian menggeleng pelan. "Bukan masalah besar."
Bukan masalah besar, tapi bisa membuatnya kehilangan gadis itu. Yah, bukan masalah besar selama gadis itu tetap bisa tersenyum bahagia.
"Begitu ya?" dari nada Temari, Gaara tahu ucapannya tidak begitu meyakinkan. "Kalau begitu cepat bangun, kau tertinggal makan malam dan ada seseorang yang ingin bertemu denganmu." Dia menyingkap selimut yang menutupi tubuh Gaara.
"Siapa?"
"Hemm… kau harus lihat sendiri. Cepat bangun dan mandi, baumu kecut sekali."
Gaara turun dari tempat tidurnya, mengambil salah satu handuk dari lemarinya dan memasuki kamar mandi dengan fikiran galau yang menghantuinya akhir-akhir ini.
`Lhyn hatake`
"Hei anak manis, jangan suka memasak sambil melamun." Tegur Teuchi jii-san sambil menepuk bahu Sakura pelan.
Sakura mengerjapkan matanya, lalu memandang pria paruh baya itu dan tersenyum bersalah. "hehe, Gomen ne Jiisan."
"Kau sedang ada masalah Sakura?" Pria itu memandang Sakura lembut.
Sakura kembali tersenyum, lalu mengangguk pelan. Dari sekian banyak orang yang Sakura kenal hanya beberapa yang dia percayai untuk menceritakan masalahnya. Dan Teuchi jiisan adalah salah satu dari sedikit orang itu. "Seseorang sedang marah padaku, dan itu membuatku merasa… kacau…" dia kembali tersenyum bersalah.
"Hem… lalu kau membiarkan masalah ini berlarut-larut tak terselesaikan dan membuatmu semakin kacau setiap hari?" Tanya pria itu, mengambil pisau dari tangan Sakura. "Lihat kentang malang ini, jadi tidak terlihat cantik karna kau tidak konsen saat memotongnya."
"Aku tahu aku harus menyelesaikan masalah ini, hanya saja aku takut. Entah apa yang membuatku takut, tapi tubuhku selalu bergetar saat menatap matanya, dan aku sangat gugup, dan jantungku jadi berdetak tak terkontrol. Aku takut dia jadi membenciku." Ungkap Sakura. Mengambil beberapa tomat dan mulai mencucinya.
"Kita sedang membicarakan Gaara?" katanya mulai menuangkan saus-saus kedalam wajan.
"Bukan, jiisan pernah lihat pria berambut perak yang bersamaku? Namanya Kakashi." Sakura membelah tomatnya dan mulai membuang bijinya.
"Oh, aku pikir Gaara. Kau bicara seakan kau benar-benar mencintainya." Kata Teuchi jiisan sambil memasukkan kentang kedalam saus yang bergolak didalam wajan dan melewatkan semburat merah di wajah Sakura. "Kau Sakura kan?" kali ini pria itu meninggakan wajannya dan menupuk kedua pundak Sakura pelan.
Sakura mengangguk. "Tentu saja jiisan."
"Kalau begitu kalahkan ketakutanmu, bersikaplah dewasa, karna Sakura tidak akan pernah membiarkan masalahnya menjadi berlarut-larut dan tak terselesaikan. Minta maaflah atas kesalahanmu, bersungguh-sungguhlah agar dia bisa tahu bahwa kau benar-benar menyesal atas kesalahanmu." Katanya sambil menatap mata Sakura dalam, kemudian kembali beralih kewajan dan memasukkan sedikit susu cair kedalamnya.
`Lhyn hatake`
Baru sedetik Gaara membuka pintu kamarnya dan seseorang memeluknya dengan erat.
"Gaara-kun!" teriak seorang gadis yang memeluknya.
"Matsuri?" Gaara membelalak terkejut.
Jadi dia yang dimaksud 'seseorang' oleh Nee-sannya? Gaara melepaskan pelukan gadis itu dan memandang mata onyx yang berbinar memandangnya. Matsuri. Sahabat masa kecil Gaara saat di Suna. Sahabat yang selalu terang-terangan menyatakan kekagumannya pada Gaara.
"Gaara-kun! Aku merindukanmu, kenapa kau tidak pernah mengunjungiku di Suna? tapi tak apa, karna mulai sekarang kita akan bertetangga lagi." Kata gadis itu merangkul lengan Gaara.
"Apa maksudmu?" Gaara memandang gadis berambut kecoklatan itu.
"Mulai hari ini aku dan orang tuaku juga akan tinggal di Konoha. Gaara-kun aku merindukanmu." Seru gadis itu sambil kembali memeluk Gaara erat. Namun kali ini Gaara membalas memeluknya, mengusap punggung gadis itu lembut dan sebuah senyum tipis tersungging dibibirnya.
`Lhyn hatake`
Kakashi memandang gadis yang tengah berjalan kearahnya dengan wajah tertarik, gadis itu tidak lagi membungkuk saat mendekatinya seperti beberapa hari ini sejak dia mengetahui kebohongan gadis itu.
"Kakashi aku ingin bicara." Kata Sakura, memandang mata onyxnya.
Kakashi merasakan jantungnya mulai menambah kecepatan saat mata emerald itu seakan menembus hatinya, dan dia tersenyum tipis. "Hem. Bicara saja." Ucap Kakashi cuek. Dia bangkit dari duduknya dan mulai berjalan mendahului gadis itu.
"Dan aku ingin kau mendengarkannya." Gadis itu meraih pergelangan tangan Kakashi, menahannya pergi. Kakashi berbalik dan mau tak mau dia harus kembali merasa kagum atas keberanian gadis ini.
"Baiklah, aku dengarkan." Kata Kakashi, masih dengan nada cueknya.
"Tolong berhenti bersikap seperti ini padaku, aku minta maaf telah membohongimu, tapi sampai kapan kau mau bersikap seperti ini? Dewasalah sedikit Kakashi." Keluh Sakura, mata emeraldnya terpancang kuat pada mata onyx Kakashi.
"Apakah membohongiku merupakan contoh bersikap dewasa sensei? Bukankah kau sendiri yang bilang padaku bahwa aku akan belajar kedewasaan darimu? Kau bersikap egois dengan membohongiku dan sekarang jangan salahkan aku kalau aku bersikap egois dan mengacuhkanmu." Kata Kakashi tenang, dan sepelan mungkin dia melepaskan genggaman gadis itu di pergelangannya, sebisa mungkin tidak menyakiti perasaannya.
"Aku minta maaf. Please forgive me." Ratap Sakura, terlihat sungguh-sungguh.
"Hn. Aku maafkan." Kata Kakashi, namun nadanya masih tetap acuh.
Kakashi kembali berbalik dan melangkah, namun sekali lagi gadis itu meraih pergelangan tangannya. "Berhenti bersikap seperti ini padaku. Katakan apa yang bisa kulakukan untuk menembus kesalahanku?"
Kakashi memandang emerald itu tertarik. "Kau serius?"
Gadis itu mengangguk kaku. Kakashi tersenyum tipis, berbagai fikiran tentang keinginannya pada gadis itu muncul. Dia ingin gadis itu menjadi miliknya, dia ingin gadis itu mencintainya, dia ingin gadis itu melepaskan kekasihnya, dia ingin gadis itu selalu disisinya, dia ingin-menginginkan Sakura. Kakashi memandang emerald yang selalu memancarkan cahaya kehangatan itu, kehangatan yang selalu merasuk perlahan kedalam hatinya, mencairkan kebekuan didalam sana dan menyelimutinya dengan kehangatan itu.
Kakashi meraih tangan gadis itu, meraih keduanya dan menggenggamnya erat. sesuatu yang menyenangkan perlahan menguasai dirinya. Seakan emerald itu menariknya, membawanya masuk kedalam dunia penuh cahaya, dunia yang jauh berbeda dengan dunianya selama ini.
"Ka… Kakashi a… apa yang mau kau lakukan?" kata gadis itu gugup, tangan dalam genggamannya mengejang kaku.
Kakashi mengerjapkan matanya dan menyadari posisi wajahnya yang hanya tinggal beberapa centi dari wajah Sakura. Jantungnya berdebar, tidak… bukan lagi berdebar, tapi berdentam-dentam kuat diseluruh tubuhnya. Mendesirkan darah panas keseluruh tubuhnya.
Kakashi memundurkan tubuhnya dengan gugup. Dia membuang pandangannya ketempat lain, apapun asal bukan mata itu. Tapi entah apa yang membuatnya merasa begitu gelisah tidak menatap emerald itu, mata itu benar-benar telah menariknya. Menguncinya dalam pesonanya.
"Kita kencan." Kata Kakashi berusaha terdengar setenang mungkin.
"Hah?" gadis itu mengernyitkan alisnya.
"Yah, minggu nanti kita kencan, sensei." Ulang Kakashi.
`Lhyn hatake`
Gaara kembali mengangkat lengan kiri dimana jam tangan yang menunjukkan pukul Sembilan lewat tiga puluh menit itu berada. Hatinya semakin galau seiring dengan detik yang bergema dari jam kecil itu.
Mata hijau pucatnya menatap was-was belokan di ujung gang, kearah tempat kerja Sakura berada. Gaara mendesah pelan, hingga kemudian sebuah bayangan muncul dari belokan. Gaara duduk tegak, mengamati dengan kaku bayangan itu hingga cahaya lampu menimpa rambut keperakan yang berkilau sesaat.
Kakashi, mengayuh sepeda Sakura. Sosok itu semakin mendekat dan saat lampu berikutnya menimpakan cahayanya, Gaara dapat melihat sedikit kilauan pink dibalik punggung pria itu. Seketika itu tangannya mengepal. Hatinya berdenyut sakit, dan sebuah bisikan mengatakan dia telah kehilangan gadis itu.
Kedua sosok itu berhenti tepat didepan mobil Gaara, Gaara menatap pria berambut perak itu dengan segala perasaan geram yang membuncah dihatinya, dan dia yakin dia juga merasakan tatapan yang mengintimidasi itu –lagi– dari mata onyxnya.
Sakura tampak mengatakan sesuatu pada pria itu, tak lama kemudian gadis itu telah duduk disampingnya, tersenyum lembut padanya.
"Ohayou Gaara." Sapa gadis itu, alis Gaara mengernyit saat merasakan nada keceriaan yang beberapa hari ini hilang kini ada dalam suara itu. "Kau sudah lama menunggu?"
"Hn." Jawab Gaara singkat, pandangan matanya masih tertuju pada sosok yang tengah memasuki halaman rumah Sakura.
"Gaara, Kau baik-baik saja?" Sakura mengusap pundaknya lembut.
"Hem?Ah, iyah." Gaara mengalihkan perhatiannya pada gadis yang tengah memandangnya lekat-lekat, Gaara membalas memandang gadis itu, lalu bergumam pelan. "Kau kembali."
Sakura mengernyitkan alisnya sesaat, kemudian tersenyum "Apa maksudmu Gaara? Aku tidak pergi kemanapun."
"Maksudku, kau kembali jadi dirimu. Beberapa hari ini kau berubah, dan itu membuatku cemas."
Sakura menatap mata hijau pucat itu lekat-lekat, kemudian meraih tangan kiri Gaara dan mengaitkan jemari keduanya. "Tak ada yang perlu dicemaskan, maafkan aku."
"Ada apa?"
"Hn?"
"Ditelfon kau bilang ada sedikit masalah, Masalah apa?"
"Um.. itu…" Sakura sedikit gugup, hah… bodohnya… kenapa dia mengatakan itu tadi? "Bukan apa-apa, sudah beres kok… sudah kubilangkan agar kau tak perlu khawatir Gaara-koi…"
Gaara tersenyum simpul. "Beberapa hari ini kau sangat berbeda, apa kau menyadarinya? Semua orang menyadarinya dan mereka juga mengkhawatirkanmu, mereka mengira itu karna ada masalah diantara kita, apa masalah itu memang berkaitan denganku? Meski—" Gaara menatap Sakura lekat-lekat. "—secara tak langsung."
Sakura memalingkan wajah dari pria itu tiba-tiba, Jantungnya berdetak tak nyaman, penekanan pada kalimat 'secara tak langsung' membuat Sakura yakin Gaara tengah membicarakan Kakashi saat ini. Sakura menghela nafas, dan kembali menatap mata itu. Mata yang tak pernah benar-benar lepas dari keterlukaan sejak kejadian diruangan Kakashi saat itu, Sakura tahu meski dia berusaha menutup mata, tapi dia tahu Gaara terluka olehnya.
Gaara masih menunggu sesuatu terucap dari bibir gadis itu. Dia bisa merasakan sesuatu yang berat tengah bergolak dihati gadisnya, bahkan dia bisa merasakan getaran kecil dari tangan Sakura yang mengenggam tangannya.
Sementara sebuah ketakutan lain muncul dihati Sakura, ajakan kencan pria perak itu. Yah, Sakura tidak buta, dia bisa melihat dan merasakannya, pria itu memberi tatapan berbeda, dan dia tahu bahwa ajakan kencan itu tak semata-mata untuk membuat dia bisa memaafkan Sakura. Dan itu membuatnya takut, dia takut bila pria itu benar-benar jatuh cinta padanya dan cinta itu bisa membuat perasaan Sakura berpaling… dia takut dia juga benar-benar jatuh cinta pada pria perak itu. Sakura tidak ingin melukai Gaara, tapi dia sendiri tidak yakin dengan perasaannya.
"Apa kau akan mempertahankanku Gaara?"
`Lhyn hatake meng ~TBC~ kan chaps inI`
OMG! Rasanya Gag ngeh banget deh ama chaps ini… setelah dua minggu lebih Lhyn gag nulis Fic, Rasanya lhyn jadi gag bisa mendalami *halah* fic sendiri…
GOMEN-GOMEN…
Um.. mumpung masih dalam suasana lebaran lhyn mau ngucapin
"Taqobalallahu Minna Waminkum Shiyamana Washiyamakum...
Minnal Aidzin Wal Faidzin, Mohon Maaf Lahir dan Batin buat seluruh Saudara Muslimku Di seluruh FFN"
N' Plish mampir sebentar buat Rifyu yah….
