[ 260914 | 1516 ]
Kaisoo Gender switch
Sexy Rose
Chapt 7
"Fluttering Rose"
Music: Beethoven, Fur Elise.
By. Lien
:::::
Hi, miss Alice...
In your glass eye, what short of dream,
Have you been entranced?
Once again the heart has split in two, and is pouring out.
The repaired memories are trapped in the space left behind.
Are you seeing?
Still, you do not answer.
—Still Doll
:::::
Mata yang memiliki cahaya yang begitu indah dan bersinar cerah terbuka dengan perlahan. Setelah sesaat melihat setiap sudut kamar dalam ekspresi bingung, ia pun menghentikan pandangannya pada pria yang berdiri di depan meja kerja dekat jendela, ia menemukan apa yang ia cari, dan dengan posisi berbaring miring ia menatap pria yang juga menatap dirinya dengan lekat.
Setelah lama terpaku dalam kesunyian dengan mata saling menatap, Kyungsoo melihat mata tajam Jongin seolah berkecamuk, sehingga ia memutuskan untuk bangkit dari posisinya sembari melilitkan selimut untuk menutupi tubuh telanjangnya, lalu ia turun dari ranjang dan berjalan mendekati Jongin. Tatapan yang kemudian berubah tanpa ekspresi dari mata tajam itu tak mengusik Kyungsoo untuk terus melangkah semakin dekat, sebab ia sudah mulai terbiasa dengan jati diri Kim Jongin yang sesungguhnya, sikapnya yang dingin, raut wajahnya yang sering kali tanpa ekspresi, justru kini Kyungsoo rasakan sebagai persamaan dengan sifat dirinya sendiri, meskipun sesungguhnya Jongin tetap berada dalam aura kegelapannya.
Ia mengulurkan tangan melingkari pinggang Jongin sembari menyandarkan kepala di dada pria itu. "Apa terjadi sesuatu?" tanya Kyungsoo pelan.
Jongin tak bergerak, kedua tangannya tetap berada di dalam saku. "Kenapa kau bertanya seperti itu?"
"Karena sepertinya kau sedang menyimpan sesuatu di matamu."
Hening.
Jongin tak menanggapi lebih lanjut, keduanya kembali berdiam diri dengan posisi yang masih sama setelahnya. Kyungsoo memejamkan mata dengan perlahan, mendengarkan detak jangtung Jongin yang menenangkan hanya untuk sesaat kemudian kembali membuka mata ketika ia sadari bahwa sudah waktunya ia terjaga untuk menatap pada kenyataan di hadapannya.
"Jongin." Panggil Kyungsoo lirih.
Jongin menjawab dengan gumaman, kemudian Kyungsoo mengangkat kepala untuk menatap matanya.
"Bawa aku pergi dari sini." Pinta Kyungsoo dengan raut wajah memohon.
Jongin tak langsung menjawab, bibirnya tertutup rapat dengan mata menatap lekat pada Kyungsoo, kemudian ia mengangkat tangannya dan meraih dagu Kyungsoo dengan jarinya sembari sedikit mendorong ke atas hingga wajah wanita itu semakin terangkat. "Katakan yang sejujurnya Kyungsoo, mengapa kau ingin aku membawamu pergi dari sini?"
Kyungsoo terdiam dan Jongin meneruskan kalimatnya, "Kuharap kau tidak mengatakan itu karena perasaanmu padaku, sebab bukan hanya itu alasannya."
Kyungsoo tercekat, jantungnya berdetak gugup, lalu ia menarik wajahnya hingga terlepas dari jari Jongin sebelum kemudian menghindari tatapan pria itu dengan menoleh ke arah samping. Bagaimanapun ia menyembunyikannya, ternyata Jongin tetap bisa melihatnya, karena itu ia tak berkata sepatah pun untuk memberi jawaban, tetapi setelahnya ia harus kembali pada mata Jongin saat dagunya kembali ditarik.
"Tatap aku dengan benar." Perintah Jongin.
Mata bulat itu berubah sendu, memohon pada Jongin untuk tak membaca lebih jauh, karena itu juga menyakiti dirinya. Tetapi hal itu percuma, Jongin terlihat benar-benar tak ingin melepaskan semua itu sebelum membuat Kyungsoo membawa seluruh perasaan yang sebenarnya ke permukaan.
"Itu bukan hanya karena kau mencintaiku, tetapi karena disaat kau menyadari perasaanmu padaku," kalimat Jongin terhenti saat jari telunjuknya mengetuk dua kali di dada Kyungsoo. "...kau juga menyadari bahwa kau mencintai Chanyeol."
Jongin mengatakannya, dan entah mengapa dada Kyungsoo terasa sakit mendengar pria itu yang mengatakannya langsung. Mungkin itu benar, Kyungsoo tak bisa memastikannya, tetapi hidup bersama Chanyeol selama tiga tahun, dilimpahi kasih sayang dan perlindungan, pada akhirnya ia sadari bahwa ia membutuhkan Chanyeol, meskipun seandainya jika harus dibandingkan dengan perasaannya pada Jongin, maka apa yang dirasakannya untuk Chanyeol hanya ibarat setitik cayaha di dalam hatinya. Kyungsoo juga menyadari pasti, jika Chanyeol berubah, tak lain penyebabnya adalah dirinya sendiri, sehingga membuat Kyungsoo tak sanggup untuk bertemu dan menghadapi Chanyeol saat semua sudah terlanjur terjadi, karena seperti halnya Jongin, Chanyeol pun akan menemukan apa yang sesungguhnya ada di dalam hatinya.
"Kau takut perasaanmu akan goyah saat kau melihat Chanyeol." Sebuah penyataan yang Jongin ucapkan untuk melihat semuanya semakin jelas.
Kyungsoo menghela napas dan menatap Jongin tajam. "Aku sudah bertekad untuk membuang semuanya, dan aku menyerah padamu karena aku mencintaimu, tak bisakah kau tak mengungkit semua itu dan membawaku pergi saja?!" intonasi Kyungsoo mengeras, ia melepaskan tangannya dari pinggang Jongin dan membuat jarak dari pria itu.
"Aku mengikatmu bukan untuk membawamu lari dari rumah ini."
Untuk semacam tanggapan tajam yang diucapkan dengan begitu datar dan terlalu biasa menyebabkan munculnya genangan air mata dalam kelopak jernih seiring nyeri yang menghujam dada dengan tiba-tiba. Pria ini, benar-benar menakutkan.
"Kau..." Kyungsoo tercekat saat suaranya tak mampu mengalirkan sebuah kata. Tanpa bisa ia kendalikan, air mata bergulir membasahi pipinya. "Kau tetap ingin menghancurkanku." Kyungsoo menelan ludah saat keringat dingin perlahan menyelimuti kulitnya. "Kau... tetap melihatku sebagai pionmu."
"Kupikir kau yang paling tahu diriku."
Tidak. Kyungsoo tak tahu lagi. Kenyataan itu seakan menghantam kepalanya yang memnyebabkan rasa nyeri luar biasa. Wajah itu masih tanpa ekspresi, dingin dan hampa, memperlihatkan betapa kejamnya mata itu. Air mata semakin deras membasahi pipinya, mungkinkah kelembutan Jongin yang dirasakan sebelumnya hanya ilusi hampa?
Kyungsoo tertawa, tawa yang mencemooh dirinya sendiri. "Aku bodoh sekali menaruh harapan padamu." Ia melangkah mundur semakin menjauh, "Saat kau tersenyum lembut, kukira ujung jariku sudah menyentuh hatimu. Kau benar-benar tidak akan melepaskanku, bukan?"
Tak ada jawaban, tak ada perubahan dari raut wajah Jongin. Kyungsoo menghentikan langkahnya, air mata menetes tanpa henti. Hati kecilnya masih meragukan jika yang ada di dalam otak pria itu, hanyalah tentang kebencian, tetapi raut wajah Jongin seakan meyakinkan dirinya bahwa tak ada harapan untuk dirinya.
"Aku tidak akan bisa kembali pada Chanyeol setelah semua yang terjadi, karena itu aku akan keluar dari rumah ini dengan atau tanpamu." Ucap Kyungsoo tegas. Setelahnya ia melangkah keluar dengan masih hanya menggunakan selimut yang melilit di tubuhnya.
Jongin menundukkan kepala setelah mendengar suara pintu dibanting, menyusuri rambutnya dengan jari-jari sebelum meremasnya, kemudian ia menghela napas frustrasi, menyesali kenapa begitu sulit mengatakan apa yang sebenarnya ada dipikirannya. Ia sadari bahwa ia sudah mendapatkan Kyungsoo seutuhnya, tetapi wanita itu ingin pergi bersamanya karena tak ingin bertemu dengan Chanyeol, karena setitik perasaannya pada Chanyeol, hanya karena Chanyeol, bukan karena dirinya. Ada rasa sedikit kesal mendapati Kyungsoo tak menyanggah saat ia mengatakan hal itu, yang kemudian menyebabkan semua yang keluar dari mulutnya hanya seperti lampiasan emosi yang mengalir dengan halus lalu menggoreskan luka pada wanita itu. Kalimat-kalimat menyakitkan itu... haruskah ia menyebutnya sebagai refleksi dari rasa cemburu? Ia mendapati dirinya ingin mengeksploitasi.
Dengan tangan terkepal Jongin memukul meja. "Sialan!" Geramnya dengan kesal.
Ia menuju lemari, membukanya dan mengambil tali sandang terbuat dari kulit yang lengkap dengan sarung senjata api kemudian menyampirkannya di bahu kiri, lalu dengan langkah cepat ia kembali ke meja kerja, membuka sebuah laci berukuran besar lalu mengeluarkan kotak besi berwarna hitam dari sana sebelum ia membukanya dengan cekatan, beberapa jenis senjata api dan peluru berwarna emas berjejer di dalamnya. Jongin mengambil satu pistol berwarna perak dan mengisi selongsongnya dengan peluru, setelahnya ia meletakkan pistol itu ke dalam sarung senjata yang menempel pada tali sandang, kemudian ia kembali mengambil satu pistol berwarna hitam dan kembali mengisinya dengan peluru, lalu menggenggam senjata hitam itu dalam lingkaran jari-jarinya. Setelah semua yang ia butuhnya selesai, Jongin mengabil jas hitam dari lemari yang lain dan memakainya, menutupi senjata perak yang menggantung pada tali sandang.
Dengan tergesa Jongin berlari, melewati jalan setapak di taman yang dengan pasti ia yakini baru saja Kyungsoo lewati. Wanita itu baru saja keluar dari kamarnya dan tentu saja ia menemukannya, ia melihat Kyungsoo bersembunyi di balik pilar di pintu belakang dekat taman saat beberapa pelayan terlihat berlalu-lalang. Entah apa yang ada di pikiran wanita cantik itu dengan berjalan keluar dari kamarnya tanpa mengenakan kembali pakaiannya dan hanya mengenakan selimut. Mungkin Kyungsoo tak pintar mengatasi hal-hal kecil, Jongin pikir. Beruntungnya hari sudah mulai gelap dan semakin gelap ketika gugusan awan hitam menutupi langit sehingga sepertinya belum ada yang menyadari keberadaan Kyungsoo di balik pilar.
Jongin menghampiri dengan langkah cepat, tak mempedulikan Kyungsoo ketika keterkejutan tampak di wajahnya, terutama saat wanita itu menyadari tangan kirinya menggenggap sebuah senjata api. Tanpa mengucapkan sepatah kata, Jongin berlutut dengan satu kaki kemudian melingkari paha Kyungsoo dengan tangan kanan lalu mengangkatnya ke udara selagi ia kembali berdiri, sehingga membuat tubuh Kyungsoo melengkung ke depan dengan tidak stabil sebelum akhirnya dadanya terjatuh di bahu kanan Jongin.
"Diamlah." Perintah Jongin saat ia berjalan ke arah halaman depan rumah utama.
Wajah Kyungsoo memucat karena terkejut dan kebingungan. "Apa yang kau lakukan Jongin?! Dan apa yang akan kau lakukan dengan senjata itu?! oh Tuhan lepaskan aku Jongin!" Pertanyaan bertubi Kyungsoo lontarkan sembari meronta dengan panik.
Jongin tak merespon. Ia berhenti di depan sebuah mobil hitam yang terparkir di taman bersama mobil-mobil yang lain saat melihat dua orang berpakaian serba hitam berlari ke arahnya.
"Apa yang anda lakukan tuan Kim?!" Seorang dari mereka berteriak dengan gugup ketika menyadari apa yang di genggam Jongin selagi melihat istri tuannya tampak seperti dalam bahaya. Seketika kedua pengawal itu juga mengeluarkan senjata api dari balik jas hitamnya sebelum mengarahkannya pada Jongin.
Kyungsoo tercekat, pikirannya kacau dan ia tak bisa berkata apa-apa melihat situasi yang tiba-tiba menegangkan. Hanya ada satu pertanyaan di dalam kesadarannya yang tipis, ia sedang terjebak dalam peristiwa apa?
"Jika kalian menyingkir aku tidak akan melukai kalian." Jongin berkata dengan santai, terlihat pada wajah datarnya dan tindakannya yang tak mengangkat pistolnya pada ke dua pengawal keluarga Park.
Kedua orang itu saling melirik, sebelum satu pria yang di sebelah kanan berkata; "Kami akan menyingkir jika anda melepaskan Nyonya muda Park."
Jongin terdiam, entah mengapa kini ia mudah jengkel. Lalu hanya dalam sekejap mata Jongin mengangkat pistolnya dan menekan pelatuk empat kali saat membidik paha dan kaki ke dua pengawal itu, begitu cepat sehingga membuat ke dua orang itu tak sempat bereaksi dan menemukan tubuhnya sudah terjatuh ke tanah. Kyungsoo menjerit bersama suara dentuman, matanya refleks terpejam erat dengan jari-jari meremas punggung Jongin dan dari jauh terlihat beberapa pengawal pribadi keluarga Park menuju ke arah sumber keributan. Menyadari apa yang akan terjadi selanjutnya, Jongin menurunkan Kyungsoo di samping pintu mobil, tubuhnya yang lemas hampir saja terjatuh namun Jongin segera menahan lengannya. Dan saat menoleh ke belakang, Kyungsoo menyaksikan seorang pengawal yang sudah terkapar, mengangkat senjatanya ke arah Jongin sebelum kemudian ia melihat pria itu menerima timah panas di dadanya dan kembali terkapar kaku.
"Angkat senjatamu dan aku akan menembak kepalamu." Ancam Jongin saat melihat pria yang lain hendak mengangkat pistolnya sebelum mengurungkannya ketika mendengar kalimat perjanjian kematian itu.
Jongin melihat beberapa pengawal yang berlari ke arahnya meneriaki dengan ancaman, kemudian ia menoleh ke arah Kyungsoo dan menemukan wajah wanita itu sangat pucat dengan mata membelalak dan bibir terbuka.
"Kau membunuhnya." Gumam Kyungsoo dalam bisikan dengan mata terpaku pada mayat pria yang baru saja Jongin bunuh.
Tanpa mengucapkan apapun Jongin membuka pintu mobil di samping kursi kemudi dan mendorong Kyungsoo dengan paksa, setelah memastikan wanita itu duduk dengan posisi yang benar ia berlari ke arah pintu kemudi. Saat ia hendak masuk ke dalam mobil, sebuah peluruh yang dilepaskan oleh para pengawal keluarga Park, menghantam bagian belakang mobil. Jongin segera masuk ke dalam dan dengan cekatan menyalakan mesin mobil sebelum menjalankannya dengan kecepatan tinggi.
Seakan tersadar dari koma, Kyungsoo mengerjapkan mata dengan cepat, keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya, nafasnya tersenggal seolah ia telah berlari puluhan kilometer sebelumnya, lalu ia terkesiap saat mendengar suara kaca pecah, ia menoleh ke belakang dan melihat beberapa pengawal sedang berlari mengejar sembari melayangkan tembakan bertubi-tubi, kemudian Kyungsoo kembali menoleh pada Jongin.
"Ap... apa yang kau lakukan?! turunkan aku Kim Jongin!" Kyungsoo menghardik dengan sisa tenaganya yang telah terkuras.
"Sesaat lalu kau memintaku membawamu pergi, kau tidak lihat aku sedang sibuk melakukannya?" Jongin berkata dengan datar, yang terlalu biasa untuk ukuran situasi menegangkan.
Kyungsoo termangu dengan bibir terbuka, otaknya seketika tak dapat memproduksi kosa kata. Ia tak mengerti apa yang terjadi, mengapa Jongin menciptakan kekacaun itu, dan apa yang harus ia lakukan saat ini. Tiba-tiba mobil berhenti, dengan pikiran yang masih kosong Kyungsoo mengikuti langkah Jongin yang keluar dari mobil lalu menembak gembok yang mengunci pagar besi yang menjulang tinggi di ujung halaman rumah yang begitu luas. Kyungsoo masih menatap Jongin saat pria itu kembali masuk ke dalam mobil setelah berhasil menghancurkan kunci pagar besi dan kembali menjalankan mobil.
Jongin menoleh pada Kyungsoo yang tengah terpaku menatap dirinya. "Kau terkejut?" tanyanya datar. "Kau sedang menyaksikan diriku, Kyungsoo." bisik Jongin lirih.
Kalimat penuh makna yang berarti inilah Kim Jongin yang sebenarnya, kegelapan hatinya, pria mengerikan, atau mungkin Kyungsoo akan menyebutnya pria gila, memberi kesan bahwa Kyungsoo sedang memasuki dunia yang baru. Ia seperti melihat sosok Jongin kecil yang menyodorkan pisau pada Ibunya, dan sekarang ia seolah dihadapkan pada Jongin dewasa yang menyodorkan kematian pada dirinya. Mengapa semua berubah menjadi seperti ini?
Hari telah gelap, langit meneteskan gerimis yang dengan cepat berubah menjadi hujan deras. Jalan kota begitu ramai, beberapa mobil menambahkan kecepatan untuk terlepas dari hujan dan beberapa pejalan kaki berlindung di tempat teduh. Kyungsoo menatap lurus ke depan, terdiam setelah lelah berkutat dengan pikirannya, dan sepertinya Jongin pun tak berniat untuk memecah keheningan di dalam mobil, Kyungsoo tak peduli, ia bahkan tak peduli kemana Jongin akan membawanya. Selimut yang melilit dengan batas di dada, membuat Kyungsoo merasakan dinginnya udara yang menembus dari kaca belakang mobil yang telah pecah, namun ia tak bisa mengatakan jika hal itu hanya disebabkan karena cuaca maupun udara di luar, namun juga karena rasa takut terhadap pria di sampingnya. Kyungsoo melirik dari sudut matanya ketika Jongin menyalakan penghangat mobil kemudian melirik pergerakan Jongin yang melepaskan kemudi mobil untuk sesaat ketika membuka jas yang digunakannya, dan Kyungsoo mengerutkan kening selama Jongin kemudian meletakkan jas itu di pangkuannya, lalu ia menoleh pada pria itu.
"Kenapa kau membunuhnya? Kenapa kau membawaku dengan cara seperti ini?" Kyungsoo melontarkan pertanyaan beruntun bernada menuntut.
"Lalu kau berharap aku akan membawamu pergi dengan cara diam-diam? Mengendap-endap di balik semak dan menunggu para pengawal itu tertidur lalu kita keluar dari rumah itu?" Jongin mendecih, tatapannya tetap lurus ke arah jalan. "Tidak kah kau melihat ini adalah cara yang sempurna untuk bermain dengan mereka? walaupun sebenarnya rencanaku tidak seperti ini."
Jadi karena rencananya bukan seperti ini, awalnya Jongin menolak permintaan untuk membawanya pergi? Menggelikan, Kyungsoo tak tahu lagi harus berkata apa, Jongin benar-benar membuat dirinya terdengar seperti boneka. Ia mengalihkan tatapannya ke arah jendela dan kembali terdiam sembari menatap tetesan hujan menimpa kaca jendela mobil.
"Apa kau berharap bisa menyelesaikan semua ini tanpa masalah? Mengucapkan selamat tinggal dengan cara yang manis pada Chanyeol?" Tutur Jongin dengan aksen yang terdengar jengkel.
Kyungsoo benci ketika Jongin membaca sesuatu yang ingin ia simpan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi Kyungsoo berusaha agar tak terpancing hanya untuk membuat pembenaran secara tak langsung, karenanya ia membatasi diri agar tak menoleh, menatap Jongin maupun menanggapinya.
"Seharusnya kau sudah tahu bahwa hal itu tidak akan pernah terjadi." Tegas Jongin melanjutkan.
"Kau sangat sulit untuk dipahami, aku seolah tak mengenalmu." Gumam Kyungsoo dengan mata termenung dengan pikiran yang melayang jauh.
"Tapi kau tahu bahwa aku tidak akan pernah melepaskanmu." Ujar Jongin dengan nada dalam. Kemudian ia menoleh di saat yang bersamaan Kyungsoo pun menoleh pada dirinya, sembari menatap mata Kyungsoo ia berkata, "Harus kau ketahui, bahwa apa yang kulakukan saat ini bukan untuk dirimu, tetapi untuk kepentingan diriku sendiri."
Kyungsoo melempar tatapannya lurus ke depan selagi menyandarkan kepala pada kaca jendela mobil. "Kau sudah mengatakan itu sebelumnya." Ujarnya lirih.
Ia memejamkan mata, keterkejutan karena peristiwa yang menakutkan sebelumnya belum membuat detak jantungnya normal seperti biasa. Ia tak pernah mendengar suara dentuman senjata atau bahkan melihat seseorang terbunuh di depan matanya, tentu saja ia tak akan bisa langsung bersikap seperti biasa. Seperti kata mereka, semakin jauh kau turun ke dalam lubang kelinci maka kau akan menemukan sesuatu yang lebih berbahaya, itulah yang terjadi ketika ia menyerahkan diri dan mengikuti jejak Jongin. Kyungsoo sangat lelah, entah apa yang akan terjadi selanjutnya, entah apa yang akan dilakukan Chanyeol, dan entah bagaimana semua ini akan berakhir. Ia larut dalam pikirannya dan tanpa sadar terlelap dalam kelelahan.
Jari-jari menggenggam erat pada kemudi, lagi-lagi menyesali ketika ia mengingkari kata hatinya. Sesungguhnya apa yang ia lakukan hanya ingin melindungi wanita itu.
...
Ia membuka mata, melihat sekeliling dengan kerut di kening, tempat di mana ia berdiri saat ini tak terasa asing lagi. Kabut tebal menyelimuti dalam kegelapan, suara burung gagak yang beterbangan di hadapannya terdengar memekakkan telinga, seakan sedang mengarahkan jiwa-jiwa yang telah mati pada perjalanan terakhir menuju tanah kematian. Tiba-tiba terdengar suara petir bergemuruh nyaring bersama rintik hujan yang jatuh bak tangga nada, membuat Kyungsoo terkesiap dengan detak jantungnya yang berdegup cepat. Gaun putih yang digunakannya perlahan mulai basah, udara dingin meresapi pori-porinya, dan seiring kabut tebal yang terhapus oleh tetesan hujan, di atas kelembapan tanah, ia melihat dua orang pria berpakaian serba gelap, berdiri berhadapan sembari mengarahkan pistol pada kepala lawan masing-masing, kali ini ia melihat dengan jelas, kedua pria itu adalah Kim Jongin dan Park Chanyeol. Mata melebar bulat, kepanikan melandanya, dan bertanya-tanya dengan apa yang telah terjadi, ketika ia bermaksud untuk memanggil keduanya, entah siapa yang memulai, tetapi tiba-tiba terdengar suara nyaring dari salah satu di antara ke dua pistol mereka.
Kyungsoo terlonjak dengan napas tersenggal, matanya berwarna merah mengerjap dengan cepat, lalu ia melihat ke sekeliling dengan panik dan menemukan Kim Jongin yang sedang mengemudi di sampingnya. Ia meremas dadanya untuk menenangkan diri dan mendapatkan tubuhnya tertutupi oleh jas hitam milik Jongin yang sesaat lalu ia abaikan. Pria itu melakukannya? Kyungsoo menatap Jongin dengan pertanyaan itu.
"Sepertinya kau bermimpi buruk lagi." Jongin berkata tanpa menoleh pada Kyungsoo.
Kyungsoo tak menjawab, tetapi tatapannya tetap terpaku pada Jongin. Hujan hanya tinggal gerimis, malam semakin larut, dan melihat jam di mobil, Kyungsoo menduga bahwa ia telah tertidur cukup lama karena jarum waktu menunjuk pada angka sebelas. Meskipun penasaran kemana tujuan akhir mereka sebenarnya, Kyungsoo tetap enggan untuk bertanya.
"Sebentar lagi kita akan sampai." Ucap Jongin kemudian, seakan menjawab pertanyaan tak terucap Kyungsoo.
Mengingat ia tidak tahu kemana Jongin membawanya, Kyungsoo segera menoleh ke luar jendela, dan bola mata hitam pekat itu bersinar cerah, ia melihat hamparan taman yang ditumbuhi berbagai macam bunga mawar dengan warna yang berbeda selama mobil melintas di tengah-tengah taman bunga mawar yang juga berada disisi yang berlawanan. Bibir Kyungsoo terbuka tanpa bisa berkata apa-apa, perasaannya seketika menjadi damai, sedangkan ekspresinya terpaku dengan takjub. Taman itu lebih luas dari pada miliknya di rumah keluarga Park.
Jongin tersenyum tipis, tak menyangka jika begitu mudah untuk membuat perasaan Kyungsoo senang. "Taman itu milik temanku, dan kita sedang menuju ke rumahnya." Ujarnya.
Kyungsoo menatap ke depan, ia melihat sebuah rumah putih di ujung taman dengan arsitektur Eropa. Kyungsoo berspekulasi tentang orang seperti apa teman-teman dari seorang pria mengerikan bernama Kim Jongin, dan berbagai macam bayangan kriteria seorang teman yang eksentrik muncul dalam benaknya, yang ia pikir sesuai dengan pribadi Jongin. Hal itu membuat Kyungsooo semakin khawatir dengan apa yang akan dilihatnya di dalam kehidupan Jongin yang tak pernah ia ketahui sebelumnya.
Mobil berhenti tepat di depan rumah, penerangan yang reduh di teras membuat suasana klasik rumah itu semakin terasa. Saat Jongin keluar dari mobil, Kyungsoo mengikutinya dan berjalan di belakangnya sembari menggenakan jas hitam pria itu untuk menutupi bahunya yang terbuka. Ketika Jongin menekan bel rumah, Kyungsoo berdiri dengan jarak cukup jauh darinya, dan saat pria itu menyadarinya, ia berjalan mendekati Kyungsoo lalu menarik tangannya tanpa mengucapkan apapun. Banyak hal yang masih mengganjal di pikiran Kyungsoo, dan sekarang muncul pertanyaan lain mengapa Jongin membawa dirinya ke rumah sahabatnya. Ia berdiri tepat di belakang Jongin selagi tangannya masih di genggam olehnya, hal itu membuat Kyungsoo sedikit merasa tenang meskipun pikirannya terus berkecamuk.
Pintu terbuka. Seorang pria berkulit pucat berdiri di ambang pintu dengan raut wajah terkejut. "Apa ini inspeksi mendadak?" Tanyanya dengan nada bergurau.
"Aku akan menggunakan dua kamar untuk beberapa hari." Ujar Jongin datar tanpa basa-basi dan tak terpancing dengan gurauan itu.
Kening pria pucat itu bertaut bingung mendengar kalimat Jongin yang menurutnya tidak biasa. "Kurasa rumahku belum menjadi sebuah hotel."
"Sehun, aku tidak dalam suasana ingin bergurau."
Jongin menarik tangan Kyungsoo ke samping sehingga dia yang semula tersembunyi di balik tubuh Jongin kini muncul di hadapan Sehun dan membuat pria pucat itu terkejut untuk kesekian kali, ia melihat penampilan Kyungsoo dari bawah ke atas dan tak bisa menyembunyikan ekspresi kebingungan dengan penampilan serta apa yang dikenakan wanita itu. Di sisi lain Kyungsoo termangu, bayangan tentang sahabat eksentrik kini di patahkan oleh pribadi Sehun yang terlihat bersahabat.
"Apa yang kau lakukan?" Tuntut Sehun.
"Akan kukatakan setelah kau membawa kami masuk."
"Oh, tentu, tapi... hai Kyungsoo, namaku Oh Sehun, sahabat Jongin." Sehun tampak bingung pada awalnya, tetapi kemudian menyapa Kyungsoo tanpa canggung.
Ekspresi Kyungsoo menunjukkan bahwa kini ialah yang terkejut. "Ha-hai Sehun... kau, kau tahu namaku?"
"Jongin tidak pernah menyembunyikan apapun dari kami." Ucapnya sembari melirik Jongin yang masih dalam ekspresi datar. "Masuklah, Luhan akan senang melihatmu."
Sehun memberi jalan dan Jongin yang melangkah pertama kali sembari menyeret tangan Kyungsoo dalam genggamannya, kemudian Sehun mengiringi.
"Luhan?" Tanya Kyungsoo saat ia mendengar nama yang tak ia kenali namun sebaliknya Sehun berkata seakan seseorang yang bernama Luhan memang menantikan dirinya.
"Istriku." Jawab Sehun dengan wajah dihiasi senyum lembut.
Wanita yang membuat hamparan taman mawar yang begitu cantik di luar sana—Kyungsoo mengingat apa yang sebelumnya diberitahukan Jongin.
"Siapa yang datang, Sehun?" Suara seruan terdengar dari atas lantai dua.
"Kemarilah, sayang." Jawab Sehun selagi mempersilahkan Kyungsoo duduk saat mereka berada di ruang tamu.
Jongin melepaskan tangan Kyungsoo ketika ia duduk di atas sofa. "Apa dia sedang membaca cerita dongeng?" Tanya-nya kemudian.
Sehun terkekeh. "Kau tahu dia tidak akan melewatkan satu malampun." Jawabnya, lalu ia menoleh pada Kyungsoo yang duduk di sisi yang berlawanan dengan Jongin. "Istriku menyukai cerita dongeng, dan dia membacanya setiap malam." Terang Sehun pada Kyungsoo.
Kyungsoo tersenyum, dan di saat bersamaan terdengar langkah kaki menuruni tangga. Seorang wanita cantik berambut ikal panjang dan mengenakan gaun tidur berwarna emas berdiri di atas anak tangga terakhir dengan termangu sembari menatap satu persatu ketiga orang di ruang tamu sebelum ia berhenti pada Kyungsoo, dan saat tersadar dengan apa yang ada di hadapannya, raut wajahnya berubah cerah. Istri Sehun, Luhan, berjalan mendekati Kyungsoo.
"Benarkah dia Kyungsoo? Akhirnya kau membawanya kemari, Jongin?" Tanya Luhan antusias sembari duduk di samping Kyungsoo.
"Sudah kukatakan dia akan senang melihatmu." Ujar Sehun pada Kyungsoo yang tampak terkejut dengan reaksi Luhan.
Kyungsoo tersenyum, hatinya menghangat melihat wajah ceria Luhan dan sikapnya yang lincah dengan kepribadian yang bersahabat, ia tak pernah merasakan diterima sebelumnya. Dan untuk pertama kalinya Kyungsoo tersenyum begitu tulus pada seseorang.
"Senang bertemu denganmu, Luhan." ucap Kyungsoo lembut, meskipun ia masih heran mengapa Luhan begitu menyambutnya ketika ia bahkan tak mengenalnya.
"Dia menyukaimu karena kau juga sangat menyukai bunga mawar, seperti dirinya." Sela Jongin.
"Dan dia menyukaimu karena kau wanita yang kuat seperti dirinya." Sehun menimpali sembari menatap Luhan penuh kasih sayang.
"Dan aku mengetahui segalanya tentangmu dari seseorang yang telah terpesona padamu." Sahut Luhan dengan mata melirik Jongin.
Dari sudut matanya Kyungsoo juga melirik pada Jongin, ia sulit percaya dengan kata terpesona itu, tetapi mengetahui bahwa Jongin bercerita tentang dirinya, membuat ia merasa istimewa, walaupun besar kemungkinan pria itu menyebut dirinya di saat ia menguraikan rencananya, sebab Kyungsoo bisa melihat dengan jelas, jika Sehun dan Luhan adalah sahabat yang mengetahui segalanya mengenai Kim Jongin.
"Mawarmu benar-benar cantik." Ucap Kyungsoo pada Luhan.
"Aku tahu kau juga akan menyukainya." Sambut Luhan senang. "Biarkan aku memelukmu, Kyungsoo." Lanjutnya sembari membawa dirinya pada Kyungsoo.
Ia memejamkan mata dalam pelukan Luhan, seperti senyumannya, pelukannya begitu hangat dan menyenangkan, seolah wanita cantik itu memiliki kasih sayang dan kebaikan yang besar di dalam hatinya. Kyungsoo bersyukur, bahwa ia diberi kesempatan untuk bertemu dengan wanita seperti Luhan sementara dalam kehidupannya ia hanya tahu bahwa semua wanita itu sama seperti dirinya.
"Terimakasih." Gumam Kyungsoo, dan Luhan tersenyum.
"Baiklah. Kuserahkan dia padamu," Jongin berkata pada Luhan selagi ia berdiri, "Aku akan menggunakan kamar yang biasa." Lanjutnya sembari berlalu.
Luhan melepaskan pelukannya dari Kyungsoo, keningnya bertaut. "Dasar! Jangan perlakukan dia seperti seorang sandera. Perbaiki sifatmu Jongin!" Makinya dengan kesal.
Kyungsoo memperhatikan kepergian Jongin yang menghilang di balik koridor dari ruang tamu, lalu pandangannya teralih saat melihat Sehun berdiri dari duduknya.
"Aku akan bicara dengannya." Ujar Sehun yang kemudian mengikuti kemana Jongin pergi.
"Lupakan para pria, saatnya mengganti gaya anehmu ini, Kyungsoo." Luhan berkata sembari mengamati penampilan Kyungsoo, dan berusaha mengalihkan perhatian wanita berambut merah itu dengan bergurau.
Kyungsoo tertawa lemah, lalu mengikuti langkah Luhan.
...
Sehun masuk ke dalam kamar Jongin saat pria itu sedang melepaskan tali sandang senjatanya di samping ranjang, ia berdiri tak jauh di mana Jongin berdiri. "Aku akan mendengarkan ceritamu." Ucapnya langsung.
"Dari mana aku harus memulainya?" Jongin duduk di atas ranjang sembari meletakkan senjata api genggamnya di sampingnya kemudian melepaskan salah satu sepatu.
"Mulailah dari penampilan Kyungsoo yang tidak karuan."
"Kau tidak akan mau mendengarnya."
Kerutan bingung muncul di kening Sehun. "Kau melakukan sesuatu yang kasar padanya? Kau memukulnya?!" tanpa sadar Sehun menaikkan suaranya lebih tinggi.
Gerakan Jongin terhenti ketika hendak melepaskan sepatunya yang lain, ia tercengang. "Satu-satunya yang menutupi tubuhnya adalah selimut, memangnya apa yang kau pikirkan?"
Bibir Sehun membentuk bulatan kecil saat seketika menangkap arti kalimat Jongin, kemudian ia berdeham merasa tak nyaman. "Lupakan bagian itu kalau begitu. Katakan saja apa yang terjadi setelahnya." Pinta Sehun kemudian.
Jongin kembali bergerak melepas sepatunya dan menjatuhkannya di atas lantai. "Aku membuat keributan di rumah itu dan membuat kesan bahwa aku sedang menculik Kyungsoo."
Untuk sesaat Sehun terdiam dan termangu selama mengurai apa yang dimaksud Jongin, lalu perlahan ia memperlihatkan ekspresi takjub sebelum kemudian tertawa. "Oh, Tuhan. Kau benar-benar jatuh cinta padanya. Katakan saja jika kau sangat mencintainya, Jongin."
"Jangan berlebihan, Sehun." Sergah Jongin cepat.
"Ayolah, kau kira kita sudah berteman berapa lama sehingga kau pikir aku tidak bisa membaca jalan pikiranmu." Sehun berjalan mendekat dan berdiri di depan Jongin. "Kau mencintainya, dan kau melakukan kekacauan itu hanya untuk menjaga nama baik Kyungsoo, menjadikan dirimu sendiri sebagai seorang penjahat sehingga semua orang akan berpikir bahwa Kyungsoo pergi denganmu bukan atas kehendaknya sendiri, tetapi karena kau menculiknya. Jika itu bukan untuk Kyungsoo, katakan sejak kapan kau merubah rencanamu. Sejak kapan kau peduli dengan apa yang akan dipikirkan orang-orang tentang Kyungsoo."
Jongin terdiam. Ia akui Sehun membaca semuanya dengan sangat baik, dan ia sangat memahami bahwa semua yang terencana kini menjadi kacau, karena demi Kyungsoo—Sehun menyebutnya seperti itu. Jongin berdiri sembari melepaskan kancing teratas kemejanya selagi berjalan ke arah kamar mandi di pojok kanan ruangan.
"Apa itu berarti anak laki-laki itu akhirnya terselamatkan dari kegelapan dalam dirinya, Jongin?"
Langkah Jongin terhenti, ia berdiri dengan diam mendengar apa yang dikatakan Sehun.
"Mungkin kau tidak ingin mengakuinya, tapi aku melihat seberkas cahaya yang muncul dari dasar kegelapan yang pekat, apakah aku salah?" Sehun kembali berkata, mencecar Jongin yang ia pikir sangat keras kepala.
"Sepertinya kau mengucapkan serangkaian kalimat dari dalam cerita dongeng yang selalu Luhan bacakan." Jongin menoleh dan tersenyum. "Jangan khawatir, tak ada rencana yang berubah, aku tetap akan menghancurkan mereka seperti mereka menghancurkan Ibuku." Ucapnya dingin dengan kesungguhan yang Sehun bisa artikan bahwa hal itu akan benar-benar dilakukan.
Sehun menghela napas, menatap Jongin yang kembali melangkah dan masuk ke dalam kamar mandi. "Kyungsoo yang malang." Gumamnya.
:::::
Dalam hidupnya, kini ia tak hanya mengenal dunia pelacur, dunia Park, dan dunia Kim Jongin, tetapi sekarang ia juga mengenal dunia Sehun dan Luhan. Kyungsoo akan menggambarkan hubungan sepasang suami istri itu dalam kalimat Kasih sayang dalam harmoni, karena bahasa tubuh, tatapan mata dan ucapan, apapun yang mereka lakukan terlihat berjalan selaras dan memancarkan cinta yang dalam. Selama tiga hari berada di dalam kehidupan mereka, Kyungsoo seperti melihat dunia yang mengagumkan, ia berdoa semoga Tuhan juga akan menganugerahkan kehidupan bahagia seperti Sehun dan Luhan, dan menjadikan Jongin sebagai bagian dari kebahagiaan itu. Meskipun hanya setitik kemungkinan, tetapi ia akan mempercayakan harapan barunya itu pada Jongin.
Ketika Jongin dan Sehun pergi untuk urusan yang tidak Kyungsoo ketahui, Luhan akan selalu menceritakan semua tentang Jongin layaknya sedang mempromosikan sahabatnya pada wanita yang ingin dia jodohkan, tetapi tak menghilangkan sedikitpun bagian masa lalu kelam Jongin, Luhan tak menyembunyikan apapun, dan Kyungsoo sangat menyukai sifat Luhan yang jujur dan berterus terang. Kyungsoo juga menemukan kenyataan bahwa Luhan berasal dari biara yang sama dengan Jongin, dan mereka bersama sebagai saudara sejak kecil, Luhan berkata bahwa dia sangat menyesal tak bisa berbuat apa-apa saat menyaksikan bagaimana Jongin tenggelam dalam kegelapan ketika menemukan Ibunya, namun dia sangat senang saat kemudian melihat Jongin sedikit demi sedikit berubah sejak masuk ke dalam keluarga Park dan mulai bercerita tentang seorang wanita bertato mawar. Walaupun sesungguhnya Kyungsoo tak mengerti perubahan seperti apa yang terjadi pada pria itu selagi ia hanya melihat tujuan balas dendamnya pada keluarga Park di dalam mata tajamnya yang dingin.
Mengingat keinginan untuk menghancurkan keluarga Park, Luhan juga memberitahu bahwa itu sudah menjadi tujuan hidup Jongin, tujuan yang dijadikan satu-satunya alasan untuk bernapas di dunia. Sedikit demi sedikit dengan semua kepahitan yang dilalui, selangkah demi selangkah menanjakkan kaki di atas tangga yang akan membawanya pada posisi dimana ia menjadi seseorang yang memiliki kekuatan dan menggenggam klasifikasi untuk berdiri di atas kepala keluarga Park. Kyungsoo pun menyadari bahwa tidak akan ada satu alasan pun yang akan membuat Jongin melupakan tujuan itu, tidak bahkan dirinya yang hanya bernila sebagai sebuah pion bagi pria itu, tetapi Kyungsoo juga tak berniat melepaskan harapan untuk mendapatkan keinginan yang telah ia minta pada Tuhan.
"Rumah ini adalah hadiah pernikahan yang diberikan Jongin, karena itu dia bersikap seenaknya di sini, tetapi jika dia tidak menginap satu hari saja dalam satu minggu, kami akan merasa kehilangan adik kami."
Ujar Luhan sembari terkekeh saat ia sedang mengupas buah apel di dapur bersama Kyungsoo di sore hari selagi Jongin dan Sehun berada di ruang tengah dan sibuk dengan kertas-kertas yang tak Kyungsoo mengerti.
"Dia pasti memikirkan keselamatanmu, karena itu dia membawamu kemari." Luhan melanjutkan selagi meletakkan apel yang selesai ia kupas ke atas piring, lalu mengambil apel lainnya untuk kemudian ia kupas. "Walaupun tidak bisa menunjukkannya dalam kata-kata maupun perbuatan yang tampak sangat jelas, tapi coba lihatlah ke dalam dirinya, kau akan tahu bahwa dia selalu memikirkan bagaimana cara untuk melindungimu. Saat ini, Jongin sedang bertarung dengan ambisinya sendiri untuk tak menggunakanmu, setelah sebelumnya memasukkanmu dalam daftar rencananya sebagai jalan untuk mengacau di dalam rumah itu."
Kyungsoo tertawa kecil, ini hari ketiga Luhan terlihat berusaha meyakinkan dirinya, meskipun sebenarnya itu sudah tidak perlu.
"Aku berharap aku akan bahagia seperti kau dan Sehun, tertawa, bercanda, dan saling melengkapi. Aku tidak pernah bertemu pasangan seperti kalian." Kyungsoo mengambil apel yang selesai Luhan kupas kemudian mulai memotongnya menjadi beberapa bagian.
Suasana yang tiba-tiba hening membuat Kyungsoo menghentikan gerakan tangannya, ia menoleh pada Luhan yang detik kemudian juga menoleh dengan senyum lembut di bibirnya.
"Tidak ada kebahagian yang di dapatkan tanpa perjuangan, sayang. Dan kami juga mendapatkannya dengan melalui masa-masa sulit." Ucap Luhan, ia menampakkan mimik sedang berpikir jauh. "Setelah satu tahun menikah, kami mendapatkan kenyataan bahwa aku tidak bisa mempunyai anak, saat itulah semua masalah dimulai. Aku hanya seorang gadis dari biara, menjadi menantu dari sebuah keluarga yang bisa dikatakan tidak jauh beda dari keluarga suamimu. Mulanya aku adalah menantu kesayangan mereka, tetapi setelah mengetahui bahwa aku tidak bisa melahirkan keturunan dari keluarga mereka, semua berubah menjadi seperti neraka, mereka meminta Sehun menceraikan aku dan menikahi gadis dari keluarga bangsawan. Tetapi karena kami tidak bisa hidup tanpa satu sama lain, kami memperjuangkan cinta kami dengan melalui semua hal yang menyakitkan. Sehun kemudian meninggalkan keluarganya demi aku dan membangun kehidupan kami yang baru."
Kyungsoo terpaku, ia menangkap pesan dalam yang di sampaikan Luhan.
"Semua melalui proses untuk sampai pada titik dimana kita bisa tersenyum pada masa lalu dan masa depan. Kau dan Jongin sekarang sedang menjalani proses itu, dan semua tergantung seberapa kuat hati kalian terhubung." Luhan kembali mengupas apel yang sempat ia hentikan. "Ah, mengingat hal itu sebenarnya aku membenci satu hal tentangmu."
Ungkapan Luhan membuat Kyungsoo terkejut, raut wajahnya memberitahu Luhan jika ia ingin mengetahui apa hal yang dibencinya.
Garis tipis terukir di bibir Luhan, ia mengetahui bahwa perasaan Kyungsoo kini berubah tegang. "Kau bisa memiliki seorang anak, atau bahkan banyak, tapi keputusanmu dengan menerima syarat konyol seperti yang diajukan keluarga Park, itu menjadi penghinaan pada wanita-wanita sepertiku."
Kyungsoo termangu sesaat sebelum akhirnya bernapas lega dan tertawa. "Oh, aku memang konyol."
"Dan bodoh." Luhan menimpali sembari ikut tertawa.
"Kurasa aku setuju."
"Katakan, bagaimana mereka membuatmu tidak hamil."
"Hanya meminum beberapa obat dengan diawasi dokter tepat di depan matamu."
"Ugh, aku benci dokter, mereka berkata aku tidak bisa hamil."
"Aku juga membenci mereka."
.
Suara tawa lepas yang terdengar dari dapur menarik perhatiannya. Dengan diam ia berdiri di ambang pintu dan memperhatikan dua orang wanita yang sedang membicarakan sesuatu sambil tertawa. Ia memaku tatapannya pada sosok wanita bertato, mengamati bagaimana mata bulat itu menjadi bulan sabit ketika bibir ranumnya menjadi lingkaran matahari, begitu indah dan cantik. Untuk pertama kalinya ia melihat ekspresi itu, dan ia yakin jika wanita itu juga tertawa untuk pertama kalinya. Ia ingin wanita bertato tetap seperti itu walaupun bukan dirinya yang membuat dia tertawa, karena ia akan berdosa jika menghancurkannya.
...
Dalam helaan napas ketiga dengan jeda enam detik, Kyungsoo merasa sedikit pusing karena gugup. Ia berdiri di depan pintu kamarnya sendiri setelah Sehun memberitahu bahwa Jongin mencarinya selagi ia berjalan-jalan di taman bersama Luhan, dan sekarang pria itu sedang menunggu di dalam kamarnya. Bagaimana ia harus mengendalikan degup jantungnya saat tiba-tiba Jongin mendatanginya setelah dua hari sebelumnya seolah mengabaikan dirinya, selain itu Jongin selalu pergi bersama Sehun, dan sekalipun sempat bertatap muka, dia tak pernah bicara padanya.
Tetapi bukan saatnya ia bersikap seperti gadis belasan tahun yang sedang jatuh cinta, karena jika ia ingin mencapai apa yang dikatakan Luhan, ia harus melaluinya terlebih dahulu. Sekali lagi Kyungsoo menarik napas dan membuangnya dengan perlahan lalu membuka pintu kamarnya, ia melihat Jongin duduk di sofa dengan tangan kanan memegang pena dan tangan kiri memegang satu dari tumpukan dokumen di atas meja, Jongin membawa pekerjaannya ke dalam kamarnya? Itu terlihat seperti dia sedang pindah kamar. Kyungsoo terpaku ketika kemudian Jongin menoleh, meletakkan pena dan dokumen di atas meja sebelum berdiri dan berjalan mendekat ke arahnya.
Tangannya terulur saat dia berhenti di depan Kyungsoo, membuat wanita itu termangu sesaat sebelum akhirnya mengulurkan tangan ke dalam genggaman Jongin yang menunggu. Pria itu menariknya dengan perlahan lalu meletakkan tangan kecil dengan jari-jari lentik itu di bahu kokohnya sebelum melingkari pinggangnya. Kyungsoo terlihat canggung atas apa yang dilakukan Jongin, tetapi perasaan itu segera menghilang setelah bibir Jongin melumat bibirnya dengan sangat lembut dan penuh perasaan. Apakah Jongin merindukan dirinya seperti ia merindukannya? Kyungsoo masih belum bisa melihat ke dalam diri Jongin seperti yang Luhan sarankan, tetapi sebaliknya ia akan menunjukkan hatinya agar pria itu semakin menangkap perasaannya yang semakin dalam untuknya. Perlahan tangan Kyungsoo bergerak dari bahu Jongin, melingkari lehernya dan menguncinya dengan tangan yang lain, kemudian ia memiringkan kepala dan membalas lumatan Jongin.
Saat pria itu menarik pinggangnya, Kyungsoo seperti dituntun pada apa yang dirasakan Jongin, bagaimana tubuh pria itu bereaksi pada dirinya, dia memberitahukannya dan Kyungsoo bisa merasakan ereksi Jongin di perutnya. Dia menginginkannya seperti ia pun membutuhkannya, dan ketika itu terjadi tak ada batasan sekacil apapun diantara mereka untuk mengungkapkan perasaan. Kyungsoo mengeratkan tangannya di leher Jongin saat tubuhnya diangkat ke dalam lengannya dan membaringkan dirinya di atas ranjang. Tautan bibir semakin erat, mengecapi setiap kenikmatan, membawa diri mereka semakin tenggelam dalam rasa panas. Lenguhan terlepas dari bibir Kyungsoo selagi lidah Jongin membelai setiap titik saraf sensitif di dalam mulutnya, melilit lidahnya sebelum menghisapnya dengan lembut dan menggelitik lidahnya sebelum pria itu kembali melumat bibirnya. Napas semakin memburu seiring dengan bibir mereka yang menari dengan liar, tangan bergerak cekatan saat melepaskan blous dan kemeja, menanggalkan setiap helaian kain yang menghalangi hausnya sentuhan kulit keduanya.
Tak ada yang Kyungsoo tahan, ia sudah melepaskan orgasmenya untuk ke dua kali ketika Jongin masih kokoh dan perkasa, pria itu seolah sengaja melakukan semua itu untukknya, memberi kenikmatan dan kepuasan dari rasa dahaga setelah dua hari memperlakukan dirinya seperti orang asing. Penisnya yang masih keras di dalam vagina Kyungsoo, menghentak keras dalam setiap dorongan, memastikan bahwa dia mengenai titik sensitif yang membuat Kyungsoo dengan mudah meneteskan air mata karena kenikmatan, sedangkan di saat bersamaan bibirnya menghisap puting merah pekat yang menegang kaku, menjilatnya dengan lidah sebelum mengulumnya dengan gigitan kecil yang terasa seperti sengatan dan memberi rangsangan pada otak dalam bentuk reaksi seperti lenguhan dan geliat tubuh yang provokatif.
Kaki melingkari pinggang Jongin ketika hujaman semakin cepat, suara benturan terdengat tegas, Kyungsoo bahkan merasakan bagaimana testis Jongin yang besar dan juga keras menampar permukaan pantatnya dan itu memberikan sensasi yang menegangkan untuk dirinya. Ia melafalkan nama Jongin setiap kali pria itu mendorong penisnya hingga dasar, mengucapkan sumpah serapah ketika kepala penis Jongin menghujam kenikmatannya. Geraman dalam terdengar, Jongin memperlambat gerakannya saat tiba-tiba dinding vagina Kyungsoo menjadi tegang dan berkontraksi, sehingga ia merasa sulit bergerak karena remasan yang begitu nikmat pada batang penisnya. Liang vagina yang sudah terasa sangat pas untuk menerima penisnya dalam kondisi yang sangat keras, kini semakin sesak, menyiksa dalam kenikmatan selagi ia merasa diperas. Jongin menggigit leher Kyungsoo ketika melampiaskan apa yang dirasakannya, menghisapnya hingga timbul warna memerah, kemudian kembali menggerakkan pinggulnya dengan cepat selagi Kyungsoo terus mengerutkan dinding vaginanya.
Jongin selalu tahu bagaimana cara membuat dirinya membengkak, dan sekarang ia akan melepaskan orgasmenya yang ketiga, tetapi ia senang saat merasakan kali ini ia tak akan meraihnya sendiri. Jongin menarik tubuhnya dari atas Kyungsoo, bertumpu pada lutut sembari memegangi pinggang Kyungsoo dengan kedua tangannya, lalu mengangkat pantat wanita itu lebih tinggi dari atas permukaan kasur dan kembali menghujam dengan keras dan cepat. Tubuh Kyungsoo terhentak, serentak dengan payudaranya yang memantul sensual, kemudian untuk membuat tubuhnya stabil, dengan kedua tangan ia berpegangan pada bantal di bawah kepalanya lalu meremas kuat kedua sisi di samping kepalanya. Jongin menarik penisnya lalu menghantam keras, berdiam hanya untuk dua detik lalu kembali menarik penisnya dan menghujam vagiana Kyungsoo dengan kuat, dan ia mengulangi dengan menarik penisnya kemudian menghujam dua kali dengan cepat sebelum akhirnya berhenti bersama lenguhan panjang Kyungsoo.
Bibir Kyungsoo terbuka selagi desahan terdengar seperti lantunan musik merdu, matanya tertutup sementara kepalanya tertarik kebelakang dengan leher yang meregang, samar ia mendengar geraman yang bergemuruh keluar dari bibir Jongin yang terkatup rapat ketika penis pria itu mengeras saat menyemburkan cairan kentalnya di dalam vaginanya. Sperma hangat yang membanjiri liang vagina Kyungsoo seolah menggodanya untuk bergabung, dan hanya sebab itu perutnya menegang sebelum akhirnya jari-jari kaki yang sedang melingkar di pinggang Jongin, menggulung kaku saat dinding vaginanya berkontraksi dengan kuat setelah ia juga melepas orgasmenya. Vagina Kyungsoo terus berkedut dalam puncak kenikmatan yang panjang, memerah penis Jongin seakan meminta seluruh cairan yang tersimpan di dalam testis pria itu, dan menyebabkan Jongin enggan untuk mengeluarkan penisnya dan memutus birahinya. Yang terjadi detik kemudian adalah hujaman dan hentakan yang kembali berlanjut, tubuh Kyungsoo tersentak dengan payudara yang memantul konstan, lenguhan, pekikan dan geraman nikmat kembali terulang, Jongin membuktikan kegagahannya dengan memberi kepuasan dalam malam yang panjang.
...
Tarikan napas kini tersenggal, keringat membanjiri seluruh tubuh, aroma seks yang panas memenuhi ruangan. Kyungsoo baru saja mengakhiri pekikan nikmatnya bersama Jongin yang juga melepaskan tetes terakhir spermanya entah untuk ke berapa kali, ia sudah tak mengingat berapa kali mereka bercinta tanpa ada keinginan ingin berhenti, dan mereka harus mengakhirinya ketika tenaga telah terkuras habis. Kyungsoo yang dalam posisi menungging dengan Jongin di belakangnya, menjatuhkan kepalanya di atas kasur saat ia mulai merasa pusing karena kelelahan yang bercampur dengan kepuasan, tetapi ia membiarkan pantatnya tetap terangkat selagi Jongin memegangi pinggannya selama penis pria itu masih di dalam vaginanya. Detik kemudian Jongin menarik penisnya dari vagina Kyungsoo yang di sambut lenguhan parau oleh wanita itu, sperma membentuk seperti benang yang terhubung ke dalam vagina Kyungsoo saat bagian terakhir dari kepala penis Jongin ditarik keluar, cairan kental meleleh dari liang vagina Kyungsoo dan mengalir lambat ke pahanya, dan Jongin pikir itu seksi saat vagina wanita itu tak bisa menampung spermanya setelah percintaan yang panjang.
Kyungsoo jatuh bertelungkup saat Jongin melepaskan genggaman di pinggangnya, lalu ia memejamkan mata dan berusaha menemukan irama napasnya. Ia bahagia berada dalam dekapan hangat Jongin tanpa batasan, dan entah apa alasannya, selama mereka bercinta, Kyungsoo mendapat keyakinan yang pasti atas perasaan Jongin, bahwa pria itu mencintainya, dan menyetubuhinya dengan penuh perasaan seakan menjadi cara untuk mengungkapkan apa yang ada di dalam hati pria itu. Kyungsoo membuka mata saat merasakan bibir Jongin mencium punggung kirinya, dan ia tahu bahwa pria itu sedang mencium satu persatu tato bercorak mawar merah di sana.
"Sekarang harapan apa yang kau simpan dalam mawar merah ini?" Tanya Jongin selagi ia terus mencium punggung Kyungsoo.
Kyungsoo terdiam sesaat sebelum ia merubah posisinya menjadi terlentang lalu menatap Jongin dan menjawab, "Menjadi satu-satunya bagian hidupmu."
Jongin tersenyum, lalu mencium kening Kyungsoo cukup lama sebelum ia berbaring miring sembari menyelipkan tangan kanannya di bawah kepala Kyungsoo dengan tangan kanan memeluk perut wanita itu. Kyungsoo meraih tangan Jongin yang melingkupi perutnya kemudian menautkan jari-jarinya menjadi satu dengan jari-jari Jongin, dan tangan besar itu menyambutnya, meremas erat dalam tautan jari mereka, lalu Kyungsoo berdoa pada Tuhan, semoga mereka di maafkan atas pengkhianatan yang dilakukan.
:::::
Di pagi yang cerah, tiga orang pria menggunakan mantel hitam menyelubungi tubuhnya menatap jauh ke arah taman mawar dimana dua orang wanita sedang tertawa di sana. Salah satu dari pria-pria itu menekan beberapa angka pada telpon genggamnya lalu meletakkannya di telinga selama menunggu panggilannya diterima.
"Kami menemukannya." Ucapnya saat kemudian mendengar suara di seberang. "Tuan ingin kami langsung membawanya pulang?"
Tak ada jawaban.
Jauh dari sana—pria tinggi semampai yang sedang duduk di kursi kerjanya dengan telpon di telinga, menatap selembar kertas yang menampilkan daftar nama-nama pengkhianat Ayahnya. Ia melirik wanita yang berdiri di depan meja kerjanya dengan tangan terlipat di dada dalam ekspresi datar. "Biarkan saja, dia akan mengembalikan Kyungsoo dengan keinginannya sendiri." Ucapnya, kemudian ia menutup sambungan telponnya.
"Kenapa kau sangat yakin bahwa tanpa kita melakukan apapun Jongin akan membawa Kyungsoo kembali, Chanyeol?" tuntut wanita cantik itu dengan kesal.
Chanyeol tersenyum kecut sembari melempar kertas di tangannya ke atas meja. "Karena Jongin akan menyadari bahwa membawa Kyungsoo tidak akan berarti apa-apa, dia tidak akan bisa menghancurkan kami dengan cara itu, dan kebencian di dalam hatinya akan terus menyiksanya ketika dia tidak bisa melampiaskannya pada kami." Ia menatap wanita di depannya. "Apa yang kau harapkan dari laki-laki seperti dia, Baekhyun?" Tanyanya sarkastis.
Baekhyun tak menjawab, sesungguhnya ia pun tak mengerti apa yang diharapakannya, yang ia ketahui adalah ia hanya mengikuti naluri dari ambisinya untuk memiliki Jongin sejak ia merasa tertarik pada pria itu.
Chanyeol berdiri dari kursi yang kemudian menarik perhatian Baekhyun dari lamunannya. Dia berdiri di depan wanita itu, meraih dagunya dan mendorongnya untuk mendongak. "Tetapi jika dia tidak juga menyadari bahwa Kyungsoo bukanlah miliknya, terpaksa aku harus bertindak, dan itu akan menjadi semakin mengerikan."
Baekhyun berdecih sembari menepis tangan Chanyeol dari dagunya. "Ternyata bocah kecil yang dulu mengurungku di kamarnya, sekarang menjadi pria dewasa yang memiliki daya pikat yang menarik."
Chanyeol merendahkan tubuhnya dengan wajah yang semakin dekat dengan wajah Baekhyun. "Berhati-hatilah, kau bisa saja jatuh hati." Bisiknya lirih.
"Usaha yang bagus." Baekhyun menepuk dada Chanyeol dua kali dengan punggung tangannya sebelum pergi meninggalkan ruangan itu.
:::::
To be continued...
[ 310515 | 0140 ]
:::::
Hallow~^^
Maaf updatenya telat sehari dari waktu yang saya janjikan.
Untuk chapt ini sama sekali tidak saya cek, karena saya sibuuuk banget dan kalo nyempetin di cek lagi nanti makan waktu lama, bisa 4/5 hari, apalagi ini 76k+, terpanjang dari semua chapter. Semoga gak ada kesalahan fatal, kalau typo sepertinya akan menghiasi di setiap paragraf, tapi jangan ragu untuk ngasih tau kesalahan2 saya. Thank you everyone, hope you enjoy^^
See ya... ;)
Lien.
:::::
Thanks to & the answer^^ :
Pororo Kim: Happy end pasti, sayang ^^ kalo sequel masih belum kepikiran, karena ff ini juga buatnya dari tahun lalu, nanti tergantung permintaan temen-temen yang ngikutin FF ini. Sepertinya gak cuma sampek Chapt 10, belum pasti karena ff ini dari Chap awal sampek ending itu dalam bentuk 2 file, kemaren Cuma ngira2, pas diliat lagi ternyata masih lumayan panjang, tapi emang udah hampir end. Makasi, sayang ;)
9394loves: Tunggu aja nanti Chan sama Jong barantem,. Makasih^^
oviesheva: Hahaha g kebayang Kyungsoo jadi putri solo^^. Thank you, Chingu ;)
Holeepink: Pasti bahagia, sayang... :) Fighting juga dek, makasi ya ^^
soojaetyas: Aduh thank you makasih,,^^
Desta Soo: Auw jangan tereak pakek Tao, sayang...kekekeee. Nasib punya otak mesum kek gini dek, aduh tapi sebenernya malu deh XD. Masalah review santai sayang, gak masalah...apalagi buat kamu, Hihihii. Hwaiting juga buat Desta /kiss-hug/ MMUUACHH-MMUACH! :*
Lovesoo: Author Sexy Rose emang udah gak aktif di FFN, tapi dia tetep nulis dan Ffnya di share di blognya, wpnya 'Kaisoo Real Fanfiction'. Main-main ya... disana juga banyak FF author2 kece hihihii...
Hmmm...mau kenal lebih dekat sama Sexy Rose atau aku? :D
Salam Kaisoo shipper...^^
Aku ada Line, tapi jarang buka. Gak aktif di sosmed juga sih, soalnya sibuk dengan kehidupan rumah tangga kekekeee XD | Line-ku Lien Kaisar :) Thank you~
DyOnly One: Udah show up next chaptnya,,^^ Makasih, Fighting :)
kim ryeosa wardhani: Walaupun bukan Chanbaek Shipper, tenang aja...saya suka semua couple :) dan meskipun mungkin gak banyak moment Chanbaek, tapi cerita tetep happy end untuk semuanya. Dan jangan khawatir, gak ada pembunuhan karakter di sini, jadi Chanyeol bukan suami yang teraniaya^^ kekeke cemungut~ Thank you... ;)
ludeerhan: Makasih, sayang^^ this is the next chapt, hope you like it :3
RedSherr88: Kekekee Thank you, Makasih... sebenernya aku malu banget kalo yang bilang adegan maturenya panas, xixixiii. Luvyah juga, sayang^^
joonwu : *Kecup basaaah~ :* Makasih juga, sayang... thank you~ hidup Kaisoo!^^
Kpooplovers : Uwaaahh...dijabarkan dengan cantik, kata-katanya indah kak, bisa jadi inspirasi nih, berhubung kosa kataku semakin menipis^^ Thank yuo~ makasih kak ;)
meosshi : Kekekee~ Makasih... :D
Fiana14 : Makasih Fiana, sayang ;)
eshajei : Bisa dibilang mengenal akrab Sexy Rose, kekekee,,, makasih ya...^^
ZeeKai : Thank you~ terimakasi sudah mampir...:)
NopwillineKaiSoo : Bukan gencatan senjata, tapi pada angkat senjata,,, :D Amin~ semoga gregetnya gak hilang dan semoga gak membosankan...makasih ya~ :*
sopiyuliawati15 : Gak papa, sama saya mah santai aja kalo masalah review :), semoga enjoy... Terimakasih~^^
[ zoldyk ] [ AmeChan95 ] [ soojaetyas ] [ Sofia Magdalena ] [ yixingcom ] [ overdyosoo ] [ IndahOliedLee ] [ mongkalee ] [ kysmpppprt ] [ Raskaid.o ] [ Read yaoi ] [ yyaswda ] [ Kim Gyuna ] [ Linsoo ] [ Ms. Do12 ]
:::::
