Akarin : dari dulu, saya ingin bertanya. Apa enaknya soup terong di campuri ikan teri?

Rika : saya juga nggak tahu apa enaknya. Mungkin, asin-asin maniskah?

Akarin : ukh... kau itu. Lebih baik kita lanjutkan chapter berikutnya =_=

DISCLAMER

Fic ini punyanya milik Rika. Tapi, kalau Vocaloid belongs to Yamaha

WARNING!

AU, EYD, TYPO (kalau ada, sih), OOC, alur super cepat, habis itu... ng... bagaimana ya... ya pokoknya sekian!


Author POV

Akhirnya, pesta pun berakhir. Seluruh penghuni di ruang makan kerajaan kembali aktivitas masing-masing. Pelayan dan pembantu yang ada di istana tersebut membereskan ruang makan, pengawal kerajaan tersebut kembali ke kamar masing-masing untuk tidur dan melanjutkan aktivitas yang akan mendatang. Sedangkan yang lainnya? Akaito masih berada di kamar untuk bernostalgia kembali, Luka sedang menunggu seseorang di taman belakang istana, sedangkan Kaito dan Gakupo menikmati keliling istana tersebut.

"Wah, makanan tadi itu benar-benar enak ya," kata Gakupo pada temannya, Kaito.

"Tapi, ada yang aneh,"

"Apanya?"

"Kenapa Luka lari saat aku bertanya ya? Lalu, akhir-akhir ini aku jarang melihat Akaito." Kata Kaito dengan gayanya yang tangan kanannya memegang dagunya sambil melipat tangannya. "Apa... jangan-jangan... Akaito dan Luka..."

"ITU TIDAK MUNGKIN!" teriakan Gakupo membuat Kaito berhenti berjalan dan menatap heran pada temannya. "Gakupo..."

"Saat kamu tidur, Luka menculikmu dan membawa kamu ke sini, tapi berterima kasihlah pada aku yang telah menyelamatkanmu." Kata Gakupo sambil melipat tangannya dengan gaya angkuhnya.

"Oi, jangan bicara seperti itu, Gakupo! Aku tidak senang kau berbicara seperti itu!" bentak Kaito yang tak enak melihat tingkahnya Gakupo.

"Tapi, itu memang kenyataan. Selain itu, dari dulu kamu tidak berubah selama 8 tahun. Selalu menganggapku seperti anak kecil," karena kesal, Kaito langsung menarik bajunya Gakupo dan menatap dengan amarah. "Kau... beraninya kamu..."

"Selain itu, tidak hanya kamu saja yang melihatnya, aku juga melihatnya..." Kaito begitu sedikit terkejut mendengar kalimat Gakupo yang membuat pemuda berambut biru tersebut, mempunyai perasaan khusus.

"Jangan-jangan..."

"Apakah anda bernama Kaito Shion?" tiba-tiba perempuan yang mengenakan baju maid dan juga ras dari Gwageeth Anoon mengganggu pembicaraan antar Gakupo dan Kaito. "Ya, memangnya ada apa?" tanya Kaito sambil melepaskan menarik bajunya Gakupo.

"Ada orang yang menunggumu di belakang taman kerajaan. Katanya, ini pembicaraan yang sangat penting." Kata perempuan tersebut.

Mau tidak mau, Kaito harus pergi ke taman yang tepatnya ada di belakang istana. Ia menatap Gakupo sesaat dan mengatakan, "Nanti kita bicarakan lagi." Katanya. Gakupo mengangguk dengan senyuman yang menghiasi wajahnya. Begitu pula dengan Kaito, ia membalas dengan senyuman dan meninggalkan sahabatnya dan menuju ke taman kerajaan. "Apa jangan-jangan Luka?" batin Kaito.

Disisi lain, Akaito yang masih berbaring di kasur membuat ia betah di kamar tersebut. Ia selalu memikirkan keadaan sahabat yang sudah lama menghilang yang tak pastinya adalah Meiko Sakine. Ia selalu bergumam dan menanyakan keadaannya dan ia juga sekali-kali ingin bertemu dengannya, walau sesaat "Meiko, apa kau baik-baik saja? Aku ingin cepat-cepat bertemu denganmu." Gumam Akaito.

Tapi, bergumam dan selalu mengkhayal tak ada gunanya. Ia melihat sebelah kanannya, dan disana terdapat balkon yang pintu jendelanya terbuka. Ia bangkit dari tidurnya dan berjalan menuju ke arah balkon, hanya untuk bersantai saja. Saat ia berada di balkon, ia melihat ke atas dan terdapat cahaya bundar yang membias di atas. Ia mengangkat tangannya layaknya seperti mengambil sesuatu yang ada di atas. Ia berpikir, apakah ia benar-benar ada di kolam atau apa ini hanya khayalan dia saja?

"Pemandangan yang bagus, bukan?" seseorang yang ada di belakang Akaito, membuat pemuda berambut merah ini menoleh ke belakang karena terkejut. Dan yang ia dapati adalah, raja Poseidon.

"Y-yang mulia..."

"Tidak perlu memanggilku seperti itu, cukup Poseidon saja tidak apa-apa, kok," kata Poseidon sambil mengangkat tangan kanannya layaknya ia seperti tidak mau memanggil sebutan dengan Yang mulia.

"Apa yang Poseidon lakukan?" tanya Akaito.

"Hanya ingin bertemu denganmu saja. Entah mengapa, saat saya melihatmu, kau seperti Titania." Kata Poseidon sambil menatap Akaito dengan wajah senyumannya. Akaito yang sedikit malu menggaruk-garuk kepalanya yang tidak begitu gatal, karena tersipu. Tapi, raja Poseidon hanya tersenyum saja melihat tingkah lakunya Akaito yang tersipu malu.

"Ng... Poseidon, Saya ingin tahu. Seperti apa sosok Titania?" tanya Akaito yang menatap langsung tertuju pada Poseidon. Si raja perairan tersebut terkejut mendengar pertanyaan dari pemuda berambut merah. Tapi, ia membalas dengan senyuman saja, dan menatap ke atas.

"Titania..." akhirnya, Poseidon menceritakan tentang sosok seperti apa Titania yang ia ketahui.

Disisi lain, perempuan berambut pink dan panjang, serta telinganya yang panjang dan berselaput menunggu seseorang di taman kerajaan yang tepat di belakang istana. Entah mengapa, perempuan yang bernama lengkap Luka Megurine ini, jantungnya berdegup kencang. Karena mungkin, ia sedang jatuh cinta pada pandangan pertama. "Kali ini, saya tak akan kalah darimu, Meiko." Batin Luka.

Setelah sekian lama menunggu, Luka melihat pemuda berambut biru yang hampir selaras dengan yang mereka tempati. Pemuda tersebut seperti sedang mencar-cari seseorang. Luka melambaikan tangannya dan memanggil-manggil nama pemuda tersebut, "Kaito, aku ada di sini!" begitulah.

"Oh, Luka. Kebetulan saya mencarimu." Kata Kaito yang terkejut melihat Luka yang ada di depan dia. "Jadi, kau mau bicara apa denganku?" tanya Kaito dengan melihat Luka yang sedang menundukan kepalanya.

"Ng... begini, Kaito..." perempuan tersebut karena malunya, ia tak berani melihat wajahnya hingga ia memalingkan wajahnya ke arah lain. Namun, ia ingin bilang sesuatu pada Kaito bahwa ia menyukainya. Namun, bagian yang paling terpenting adalah, ia sulit untuk mengatakannya. "Ada apa? Kalau mau ngomong, lihatlah ke mataku!"

Pemuda berambut biru tersebut memegang kedua pipinya Luka dengan satu tangan dan mengarahkannya ke arah pemuda berambut biru. Perempuan berambut pink tersebut wajahnya makin memerah karena ia bertatapan langsung ke Kaito dengan jarak yang sangat dekat. "Sekarang, kau mau bilang apa denganku?" tanya Kaito dengan tatapan serius. Jantung perempuan tersebut berdegup sangat kencang. "Ini sekarang saatnya, Luka!" batin Luka untuk menyemangati dirinya.

"Kaito, sebenarnya... aku... AKU MENYUKAIMU!" teriak Luka dengan wajah merah merona.

"Eh?" hanya itu saja respon dari Kaito setelah apa yang diomongkan oleh Luka.

"Sebenarnya, saat itu... aku... aku jatuh cinta pada pandangan pertama. Sewaktu itu, aku... menculikmu karena aku... menyukaimu disaat kamu tidur. Jantungku... berdegup kencang sekali, pada saat itu. Maka dari itu, aku menculikmu dan... maukah kamu menjadi suamiku?" tanya Luka dengan wajah memerah dan malu. Kaito begitu terkejut mendengar apa yang diomongkan oleh Luka. Tapi, ia meresponkan dengan tertawa kecil. Ia menepuk kepala Luka, dan menunjukan giginya yang putih sambil tersenyum.

"Maaf Luka, aku tak bisa menerima tawaranmu. Saat ini, aku sedang menyelamatkan paduka Titania," kata Kaito. Luka begitu terkejut apa yang diomongkan oleh Kaito sambil menunjukan ekspresinya pada Kaito. "Selain itu, ada juga orang yang aku sukai. Dia adalah sahabatku saat aku masih kecil. Tapi, ia menghilang saat aku dan teman-temanku bermain. Dan kemungkinan menghilangnya, ia berada di dunia ini." Lanjut Kaito sambil mengarahkan pandangannya ke arah lain.

"Jadi, begitu..." kata Luka dengan nada rendah. "Artinya, kau tak bisa menerimaku sebagai suamiku ya..." gumam Luka yang hampir tak bisa didengar oleh Kaito. "Memang benar apa yang dikatakan Meiko..."

"Luka, sebenarnya kamu itu cantik. Tapi, aku tak yakin kamu bisa mendapatkan suami secepatnya..."

"Tidak bisa ya..."

"Eh? Kenapa kamu bilang tidak yakin? Jahat sekali kamu bilang pada sahabatmu sendiri!"

"Aku bukannya bermaksud untuk menyindirmu, tapi itu memang kenyataan,"

"Kenyataan ya..."

"Karena kamu selalu menculik Mage, wajar saja para Mage yang laki-laki tidak mau jadi suamimu..."

"Jadi, hanya karena menculik Mage, aku..."

"Aku tak mengerti apa yang kau bicarakan. Tapi, suatu saat aku bisa mendapatkan suamiku yang dua kali lipat lebih tampan dibanding kau!"

"Eh? Maksudmu Hiyama? A-aku belum memutuskan untuk menjadi suaminya, Luka!"

"Tapi, kalian kan selalu akrab dengan dekat. Kau harusnya bilang dong, untuk jadi suaminya. Lagipula, pikirkanlah masa depan yang akan datang!"

"Masa depanku..."

"Masa depan ya... jadi teringat, aku mulai ingin mempunyai anak..."

"Kalau begitu, katakanlah! Atau kau masih pendam terus hingga mati apa?"

"T-tentu saja nggak, tau! Lagipula, kau juga, rubalah sikapmu yang selalu menculik Mage! Atau nggak, kau tidak akan mendapatkan suamimu secepatnya!"

"Luka... apa kamu tidak apa-apa?" tiba-tiba, suara pemuda berambut biru tersebut membangunkan lamunan perempuan berambut pink. "Eh, ada apa?" tanya Luka yang sehabis melamun.

"Apa kau tak apa-apa? Dari tadi kamu bergumam terus, apa ada masalah?" tanya Kaito. Luka yang mulai meneteskan kedua air matanya membuat Kaito tambah bingung dengan perilaku perempuan ini. "Eh? Kok tambah nangis? Apa ada yang salah dengan ucapanku? Atau ucapanku sebelumnya? Aku benar-benar minta maaf sekali kalau ada ucapan yang membuatmu tersing- ah, Luka!"

tiba-tiba Luka meninggalkan Kaito dengan cepat dengan air mata yang berlinang. Kaito yang tak tahu apa-apa hanya menggaruk kepala saja yang tak begitu gatal dengan ekspresi bingung. "Memang benar, aku tak bisa mendapatkan suami..." batin Luka dengan air mata yang masih membasahi wajahnya.

Disisi lain, Gakupo yang masih jalan-jalan di lorong istana, ia berbincang-bincang dengan Aoki.

"Oi, Aoki. Menurutmu, kita akan berapa lama lagi kita menginap di sini?" tanya Gakupo.

"Kalau saya sih, menurutku kita harus cepat-cepat untuk menolong Titania, memangnya ada apa?"

"Yah, soalnya aku merasakan sesuatu yang buruk. Entah mengapa."

"Eh?"

Disisi lain, di kerajaan Oberon, wanita berambut coklat dan pendek dianiaya oleh penjaga istana. Karena apa? Tawanan lelaki berambut teal sudah menghilang disaat penjaga istana tersebut mengecek kembali sel penjaranya.

"Cepat katakan, dimana pemuda itu!?" ancam penjaga tersebut dengan menarik bajunya.

"S... saya... tak akan memberitahumu, cuh!" perempuan tersebut meludahi si penjaga tersebut tepat mengenai pipinya. Karena kesal, ia melempari perempuan tersebut hingga jatuh ke tanah.

"Lebih baik, saya akan memberi tahu pada paduka secepatnya." Si penjaga tersebut bergegas menuju ke ruang tahta dimana ia bertemu dengan raja Oberon. Tak lupa juga ia mengunci sel dari luar.

Siapakah perempuan yang di aniaya oleh penjaga tadi itu? Tentu saja, paduka Titania. Ia sudah cukup menderita di tempat itu. Ia memegang mata kanannya dengan perasaan ketakutan. "Apakah, mata ini tak bisa mengeluarkan air mata?" tanya pada dirinya sendiri sambil menahan tangisannya.

"Ngomong-ngomong, mengapa kamu beserta teman-temanmu ke dunia ini? Apa kamu menemukan dengan tidak sengaja atau ada yang lain?" tanya Poseidon pada Akaito.

"Sebenarnya, saya dan teman-temanku mencari kedua sahabatku yang menghilang delapan tahun. Mereka menghilang, diasaat kami bermain di dekat hutan. Dan disaat itu, kakakku... ah, tidak maksudku Kaito, bermimpi aneh yang katanya ia memimpikan salah satu sahabat kami yang menghilang. Maka dari itu, kami mencarinya di hutan tempat sahabat kami menghilang. Tapi, disaat waktu yang tidak enak, kami menemukan dunia ini." Jelas Akaito dengan kedua tangannya yang mengepal.

"Siapa nama sahabatmu?" tanya Poseidon.

"Meiko dan Hiyama." Singkat Akaito. Saat Akaito bilang pada Poseidon, ekspresi sang raja ini berubah. Ia begitu terkejut apa yang didengar dari sang pemuda berambut merah ini.

"Ng, Apa anda pernah bertemu dengan Meiko dan Hiyama?" tanya Akaito yang bingung melihat ekspresi sang raja perairan ini menjadi ketakutan. Tiba-tba, Poseidon memegang pundak Akaito dengan tatapan yang serius. "Seperti apa sahabatmu!?" Akaito begitu terkejut dengan kata-kata Poseidon yang menanyakan sahabatnya.

"Meiko... rambutnya berwarna coklat, pendek, serta warna matanya selaras dengan rambutnya. Hiyama... rambutnya coklat kehitaman, lalu pakai kacamata dan matanya juga selaras dengan rambutnya..." kata Akaito yang sambil mengingat-ngingat. Memang benar dugaan dia, tidak salah lagi. Kedua sahabat Akaito adalah raja dan ratu peri yang bernama Titania dan Oberon.

"Apa anda pernah bertemu dengan mereka?" tanya lagi Akaito. Poseidon yang masih tidak percaya pada omongan sang pemuda berambut merah ini. Tapi, ia membalas dengan senyuman saja.

"Iya, aku pernah bertemu dengan mereka." Akaito begitu terkejut apa yang di dengar oleh raja perairan ini. "D... dimana?" tanya lagi Akaito.

"Sebenarnya, sahabatmu adalah... peri yang memerintahkan dunia ini..." kata Poseidon dengan nada rendah. Akaito begitu terkejut nggak main-main, mata ia terbelak setelah Poseidon mengatakan sebenarnya. "Jelaskan lebih rinci lagi." Kata Akaito pada Poseidon untuk menjelaskannya dari awal hingga akhir.

"Hufft... dari tadi luka ini nggak sembuh-sembuh." Pemuda berambut ungu tersebut memegang terus pipinya yang terkenan goresan dari kukunya Luka saat ia bertempur. "Oi Aoki, kamu bisa nggak nyembuhin lukaku ini?" tanya Gakupo pada Aoki yang ada di dalam kantong bajunya.

"Kalau aku sih, tidak bisa. Yang bisa menyembuhkan hanyalah peri tipe air seperti Luka," keluh Aoki.

"Kalau begitu, kita minta tolong pada Luka." Akhirnya, pemuda berambut ungu nan panjang ini, kemudian berlari dan mencari perempuan berambut pink nan panjang yang bernama lengkap Megurine Luka.

"APA!? Mikuo melarikan diri?" disisi lain, di kerajaan Oberon, pemuda berambut coklat yang bernama Hiyama atau akrab dipanggil dengan Yang Mulia Oberon ini, terkejut setelah penjaga yang menjaga Mikuo serta Meiko menceritakan apa yang telah terjadi. "Hamba benar-benar minta maaf sebesar-besarnya, Yang Mulia Oberon. Hamba benar-benar teledor saat menjaga mereka berdua." Kata penjaga sambil menundukan tubuhnya.

"Kau tidak perlu terkejut begitu kan, Yang Mulia Oberon?" suara yang tidak asing di telinga Hiyama membuat ia juga ikut pembicaraan oleh perempuan tersebut yang juga sekaligus pelayannya Oberon. "Apa yang kau maksud, Miki?" tanya Hiyama pada perempuan yang bernama Miki tersebut.

"Lagipula, kita harus cepat-cepat untuk membangkitkan Atra, bukan? Kau sudah tahu bukan, kalau mau membangkitkan Atra dari tidurnya..."

"...Kau harus membutuhkan peri yang berjenis ras ex-fairies serta memiliki tato di matanya..." lanjut Hiyama sambil memotong pembicaraan Miki. "Miki, itu pun saya sudah tahu pada saat saya datang ke dunia ini. Dan satu-satunya yang memiliki tato di matanya..."

"...Hanyalah Meiko..." lanjut perempuan berambut merah muda yang bernama Miki, yang juga memotong pembicaraan Hiyama.

"Oi, Luka... dimana kau? Jawab aku!" pemuda berambut ungu nan panjang yang pastinya Gakupo Kamui, memanggil terus nama Luka di seluruh ruangan istana, mulai dari kamar, lobi, ruang tahta, dapur, ruang makan, dan sebagainya. Tapi, tidak ada respon dari perempuan yang bernama Luka Megurine. "Tidak ada..."

"Mungkin di taman kerajaan." Pinta Aoki.

"Kalau begitu, kita cari di sana, yuk." Akhirnya Gakupo memutuskan untuk mencari Luka di taman kerajaan.

"Sebenarnya, saya salah apa sih?" pemuda berambut biru tersebut menggaruk-garuk kepalanya yang tak begitu gatal. Ia terus bertanya pada diri sendiri, apa ada yang salah dengan ucapan yang membuat Luka tersinggung dan menangis? "Mungkin, jalan-jalan bisa menenangkanku." Kata dirinya sendiri.

Saat ia jalan-jalan di lobi istana, ia menemukan pintu yang begitu besar dengan di cat warna putih, serta ganggangan yang dilapisi warna emas. "Apa tak apa, saya buka pintu ini?" batin Kaito pada saat ia menggenggam ganggangan pintunya. Maka, ia langsung mendorong pintu itu dengan tangan kanannya dengan mata tertutup untuk jaga-jaga kalau ada masalah.

Setelah ia mendorong pintu tersebut, ia membuka matanya perlahan-lahan dan setelah membuka matanya, ia menemukan ribuan atau jutaan buku dan kertas gulung yang ditata rapi. Kaito begitu terkejut saat ia membuka matanya karena ia tak pernah menemukan buku dan kertas gulung sebanyak ini. Ia memasuki ruangan tersebut, dan tiba-tiba...

BLAM!

Pintunya pun tertutup otomatis. Kaito hanya menoleh sesaat, saat pintu yang berwarna putih tersebut tertutup otomatis. Setelah itu, ia menoleh kembali ke buku-buku dan kertas gulung yang ditata di rak. Didepannya, sudah terlihat jendela yang begitu besar yang membuat pemandangan semuanya serba biru diluar serta cahaya yang membias di jendela. Ia membuka buku-buku di rak satu-persatu, tapi yang ia temukan hanyalah kosong, tanpa satu huruf pun. "Semuanya hanyalah kertas kosong..." kata dirinya sendiri saat ia membuka salah satu buku yang ada di rak tersebut.

Akhirnya, ia melihat ke arah lain, yaitu kertas gulung yang masih tergeletak di meja kayu yang begitu besar. Saat ia melihat isi kertas gulung tersebut, ternyata isinya hanyalah kata-kata yang masih belum ia mengerti. "A... apa ini Latin?"

"rosto...? cronis...? apa ini semuanya mantra?" tanya dirinya sendiri saat ia membaca kertas gulungan tersebut. "ehm... crono... estella... aera... protto...aruen..." tiba-tiba, batu sihir yang ia kenakan di pergelangan kanannya bersinar lalu redup, dan terus diulangi lagi. Tapi, ia tidak menyadarinya kalau batu sihir yang berwarna biru safir tersebut bersinar, sehingga ia terus membaca tulisan-tulisan yang ada di kertas gulungan yang berisi mantra.

"Luka! Dimana kau? Jawab aku!" di taman kerajaan, tepatnya di belakang istana, Gakupo terus memanggil nama Luka tanpa henti-hentinya. Namun, tetap saja tak ada respon.

"Mungkin ia sudah kembali ke kamar atau pulang ke rumah." Kata Aoki pada Gakupo. "Mungkin..." gumam Gakupo.

"Baiklah, mungkin lain kali. Toh, hanya goresan saja. Ayo, kita balik." Saat Gakupo mau kembali ke istana, tiba-tiba ia mendengar suara isak tangisan perempuan, sehingga ia berhenti untuk melangkah. "Ng? Ada apa, Gakupo?" tanya Aoki pada Gakupo.

"Apa tadi kau dengar suara tangisan?" tanya Gakupo.

"Eh? Tidak. Memangnya kenapa?" balas Aoki yang terkejut pada temannya. Tiba-tiba, Aoki menangkap suara isak tangisan wanita yang juga di dengar oleh Gakupo. "Tunggu! Aku juga mendengarnya!" teriak Aoki.

"Benar, kan? Kalau tak salah, suara itu... berasal dari sini..." Gakupo pun berlari ke arah suara yang ia dengar.

Di suatu taman, yang ada juga kolam dan dihiasi bunga teratai, serta pohon beringin, perempuan berambut pink tersebut menangis dan ia tak bisa menahan tangisannya. Ia menangis sambil menyembunyikan tangisan di batu yang besar. Mendengar ia ditolak oleh lelaki, hati dia begitu hancur. Benar apa yang dikatakan oleh Meiko, sahabatnya Luka, orang yang suka menculik dan menawar sebagai suaminya, pasti akan di tolak. Sama seperti yang di alami oleh Luka.

"L... Luka..." tiba-tiba suara laki-laki yang tidak begitu asing di telinga Luka, membuat ia berhenti menangis. Ia menoleh ke belakang, yaitu arah suara tersebut.

Saat ia menoleh kebelakang, ia mendapati lelaki berambut ungu dan panjang serta iris yang juga selaras dengan rambutnya. "Gakupo..."

"Apa yang kau lakukan di tempat seperti ini? Dan mengapa kau menangis?" tanya Gakupo yang berusaha mendekati Luka untuk memastikan kalau Luka benar-benar menangis. "Jangan mendekat!"

"Eh?"

"Kau tak tahu, bagaimana perasaan peri yang telah di tolak oleh manusia..." kata Luka sambil mengeluarkan kedua air matanya.

"Kalau kau tak menceritakan padaku, mana mungkin aku bisa mengerti perasaanmu..." kata Gakupo. Luka hanya mengendus dan tersenyum. "Seperti yang kubilang..."

"Aku ini patah hati..." kata Luka sambil menjeda pembicaraan dia.

"Eh?"

"Jangan kira kau ini pura-pura tidak tahu! Teman-temanku... semuanya... meninggalkan aku..." kata Luka yang masih tetap mengeluarkan kedua air matanya sambil memeluk dirinya sendiri.

"Teman-temanmu... meninggalkanmu?" tanya Gakupo yang masih belum mengerti apa yang di bicarakan oleh Luka.

"Semuanya... telah punya suami... sedangkan aku... aku masih belum punya suami, bahkan pacar pun tidak punya!" teriak Luka dengan perasaan sedih.

"Aku selalu sendiri! tidak punya teman, ataupun keluarga! Semuanya telah meninggalkanku! Bahkan... sahabatku yang selalu kupercayai selama ini... TELAH MENINGGALKANKU!" teriakan Luka yang begitu keras hingga gelombang permukaan air menyebar ke segala arah.

"La-lalu, selama ini kau hidup sendirian?" tanya Gakupo dengan sedikit terbata-bata.

"Aku sebenarnya hanyalah pelayan kerajaan ini. Aku lebih suka menyendiri dibandingkan berkumpul dengan pelayan atau pembantu ataupun pengawal di kerajaan ini. Karena, kebanyakan seluruh yang ada di kerajaan ini, rasnya Merpeople atau mungkin di dunia manusia disebut putri duyung." Jelas Luka sambil mengelus lengan kirinya sambil menoleh ke arah kiri juga.

Tiba-tiba, Gakupo teringat masa lalunya yang juga sama-sama seperti Luka. Hanya saja, ia ditinggalkan oleh keluarganya karena ikut berperang, sehingga ia selalu sendiri. ia sebenarnya, dulu seorang petani jagung yang selalu tak punya teman dan keluarga, dan terjebak dalam kesepian yang begitu mendalam, sampai ia bertemu dengan sahabat-sahabat Gakupo, seperti Meiko, Hiyama, Kaito serta Akaito. "Perempuan ini... sama halnya seperti saya. Terjebak di masa lalunya..." batin Gakupo.

Tiba-tiba, Gakupo memeluk Luka dengan erat dan hangat, hingga Luka tak mengeluarkan air matanya lagi. "Aku mengerti perasaanmu..."

"Eh?"

"Aku juga pernah merasakannya. Saya selalu sendiri... tidak punya teman, ataupun keluarga... semuanya telah meninggalkanku..." saat Gakupo menjeda pembicaraan dia, pelukannya lama-kelamaan menjadi erat hingga Luka merasa sesak.

"Tapi... jika aku selalu sendiri dan selalu mengurung terus... itu jauh lebih sakit. Maka dari itu, aku ingin berteman denganmu, Luka." Kata Gakupo sambil menatap wajah Luka. "Bukannya kita sudah menjadi teman? Atau kamu itu lupa?" tanya Gakupo sambil tertawa kecil pada Luka. Akhirnya, Luka tidak sedih lagi, dan ia merasa senang akibat ucapan yang di katakan oleh Gakupo. Ia menghapus air matanya dan memberi senyuman pada Gakupo. "Benar, kau sudah menjadi temanku." Semangat Luka yang tidak bersedih lagi.

Disisi lain, di kamar yang berisi Akaito serta Poseidon, Akaito begitu tak percaya apa yang dikatakan oleh Poseidon. Walau ia menyuruh untuk mengulanginya lagi, itu pun tak ada gunanya, karena itu memang kenyataan. Akaito begitu marah hingga ia menggigit giginya dan ia berjalan menuju ke pintu untuk keluar dari kamarnya. "Akaito! Kau mau kemana?" tanya Poseidon.

"Saya ingin mencari Kaito." Kata Akaito saat ia menggenggam ganggangan pintu kamarnya.

"Tunggu! Jangan-jangan, kau mau bertarung dengan dia?" tanya Poseidon.

"Tentu saja! Dia... dari dulu... ia begitu menyebalkan!" kata Akaito dengan nada tinggi.

"Tunggu! Aku mengerti perasaanmu, tapi dengarlah baik-baik. Bertarung tak akan membuahkan hasil apapun!" kata Poseidon sambil memegang pundaknya Akaito. "Selain itu, kau baru menjadi Mage. Kau bahkan tak tahu apa saja mantra yang kau gunakan!" lanjut Poseidon.

Memang benar, bertarung tak akan membuahkan hasil, hanya kesakitan dan penderitaan saja yang di terima. Selain itu, Akaito hanya bisa menghafal satu kata mantra saja. Ia tak mungkin cukup kuat untuk bertarung dengan Kaito. "Tapi, akan saya ijinkan pada kalian berdua. Akan saya kirimkan mantra-mantra yang biasa digunakan Mage ke kamu serta Kaito." Kata Poseidon.

Akhirnya, Poseidon mengangkat tongkatnya atau bisa dibilang trisulanya dan ia bergumam terus, mungkin ia mengucapkan mantra kelas atas. Setelah ia bergumam, tiba-tiba ada petir yang ada didalam tubuh Akaito, hingga ia tersambar. Dan tentu saja, ia merasakan kesakitan yang luar biasa. Begitu pula dengan Kaito yang berada di ruangan misterius. Mereka kesakitan karena petir yang menyambar di dalam tubuhnya.

"Ukh... tubuhku..." Akaito dan Kaito memegang dadanya masing-masing, yang tubuhnya masih merasakan kesakitan.

"Sekarang, kau boleh bertarung dengan Kaito." Kata Poseidon sambil menurunkan trisulanya.

"Eh? Dalam kondisi seperti ini?" tanya Akaito.

"Ya. Lagipula, aku sudah mengirimkan mantra-mantra pada kamu dan Kaito. Dan aku tak akan menghentikan kalian jika kalian berbuat nekat atau membahayakan." Kata Poseidon dengan tatapan mata yang tajam hingga bulu kuduk Akaito merinding.

"I... iya. Akan saya kugunakan dengan bijaksana." Kata Akaito yang masih tetap merinding. Tapi, ia merasa senang bisa di berikan kekuatan dari sang raja perairan. Ia langsung membuka pintu dan berlari untuk mencari kakaknya untuk bertanding.

"KAITO! KALI INI, AKU TAK AKAN KALAH DARIMU!" teriak Akaito.


Meiko : tunggu dulu! Apa bedanya di chapter pertama dengan chapter tujuh?

Rika : tentu saja beda! Apalagi ini beda jauh!

Meiko : bukan! Apa bedanya dengan 'air matanya' dengan 'kedua air matanya' ?

Rika : ooh... kalau 'air matanya' artinya, air matanya hanya keluar dari satu mata saja. Tapi, kalau 'kedua air matanya' artinya, air matanya keluar dua-duanya!

Meiko : ooh... begitu...

Akarin : baiklah, sekarang cepat balas reviewnya!

Rika : OK!

To Yami Nova :

Yang Mulia Poseidon! anda mendapat titip salam dari Yami Nova :D

Poseidon : terima kasih, Rika. titip salam si dek Yami Nova :)

Rika : oh, sama-sama. hamba senang kalau yang mulia senang :D

Mizuki : tuh, dikomentar! seharusnya, ikan itu nakama! bukan buat di makan!

Rika : ah, urusai!

ya, bagaimana ya saya jelasinnya. karena idenya lagi buntu-buntu, terus otaknya lagi nggak connect, akhirnya terpaksa makanannya ikan. habis, mau gimana lagi. ide di kepala Rika hanya itu =_=;

hmm... dipikir-pikir, memang benar ya? mirip Yui. awalnya, saya ngerasa Aoki mirip Lyfa (SAO). tapi, jika dipikir-pikir kembali lagi, memang benar. tapi, tak apa-apalah :D

-oO0Oo-

To Yuzumi Suzuo :

Betul sekali! 100 buat semuanya! gara-gara ide lagi buntu, akhirnya saya ngambil dari dewa laut yang berasal dari Yunani, yaitu Raja Poseidon *padus gereja : ON*. tapi, sebenarnya masih banyak dewa-dewi Yunani yang memerintahkan laut, tapi karena paling terkenal adalah Dewa Poseidon, maka saya ambil #disambar sama Poseidon. maksud saya, saya diizinkan oleh para dewa-dewi yang berada di gunung Olympus, Yunani untuk meminjam dewa Poseidon.