Karena prolognya membuat saya gregetan, jadi chapter ini khusus bagian prolog.
.
.
.
WANNA ONE COMPILCATED DRAMA
.
.
.
WANNA ONE Members
Yoo Jisung X Ha Sungwoon X Hwang Minhyun X Ong Seongwoo X Kim Jaehwan X Kang Daniel X Park Jihoon X Park Woojin X Bae Jinyoung X Lee Daehwi X Lai Guanlin
.
.
.
WKWKWKWKWK
.
.
.
{Prolog Scene Part 1-5}
.
.
.
[1- Park Woojin x Ha Sungwoon]
"Gue... suka sama hyung..."
"Eh? Lo ngomong apa?"
"G-gue... GUE SUKA SAMA LO HYUNG!"
.
.
.
Woojin mengusap kedua lengannya yang terasa mulai membeku. Sebenarnya salahnya sendiri karena menentukan tempat pertemuan di taman kanak-kanak, sekolahnya dulu pada malam hari. Dia berlari-lari mengelilingi ayunan agar membuat dirinya terasa panas. Malam ini benar-benar sangat dingin.
"Woojinie~"
Woojin menghentikan kegiatan tak jelasnya ketika terdengar suara panggilan dari seseorang yang sejak tadi ditunggunya.
"Sungwoonie hyung!"
Woojin menarik Sungwoon agar duduk di ayunan sebelahnya. Dan Sungwoon hanya menunggu apa yang akan dilakukan anak kecil yang sebentar lagi lulus SMA itu.
Sebenarnya Sungwoon sedikit bingung, kenapa tiba-tiba Woojin mengajaknya bertemu secara mendadak di taman kanak-kanak yang tak jauh dari rumah mereka. Dari sejak kecil anak ini memang sulit untuk ditebak.
"Napa tiba-tiba lo ngajak hyung ketemuan kayak gini Jin?"
Woojin menunjukan cengiran gingsulnya dan Sungwoon akui sejak dulu dia sangat ingin mencabut gigi yang menggemaskan itu.
"Cuman mau kangen-kangenan sama hyung doang hehe," dan jawaban anehnya membuat Sungwoon menyerngitkan dahi.
"Hyung inget ga, dulu itu hyung suka banget ngajak gue jalan-jalan keliling taman ini, nemenin gue main disini, kadang bareng Daehwi juga. Yah, gue kangen aja gitu. Sekarang kan hyungnya udah sibuk, gue juga mulai sibuk gara-gara banyak ujian. Jadi mumpung ada waktu senggang... gue pengen kangen-kangenan sama lo hyung."
Mendengar penjelasan anak abg yang bentar lagi berumur 20 itu membuatnya tersenyum. "Bener juga lo Jin. Kapan lagi coba gue bisa main-main kayak dulu bareng lo."
Akhirnya keheningan menyelimuti mereka. Sebenarnya terasa sedikit aneh, karena mengingat mereka berdua adalah orang yang berisik dan tak bisa diam, melihat mereka hening benar-benar hal aneh.
Tiba-tiba yang lebih muda kembali memulai percakapan.
"Hyung... sebenarnya ada yang pengen gue omongin."
"Hm?" dan Sungwoon siap mendengarkan layaknya seorang kakak yang baik dan perhatian pada adiknya.
"Sebenernya... g-gue... su... eheum... gue suka sama... lo hyung," entah mengapa tiba-tiba suaranya terdengar memelan seperti cicitan tikus yang terjebak dalam gorong-gorong.
"Hmm apa Jin? Ngomongnya aga kerasin, mana bisa hyung denger kalo lo ngomongnya kayak bisik-bisik gitu."
"G-gue..."
Tiba-tiba Woojin bangkit dari duduknya diatas ayunan. Dia berdiri dihadapan Sungwoon yang masih menatap bingung pada perilaku anehnya.
"GUE SUKA SAMA LO HYUNG!" teriakannya tiba-tiba membuat Sungwoon terdiam.
Sungwoon rasa pengakuan tiba-tiba seperti ini benar-benar tak mudah untuk dicerna otaknya yang dia yakin tak begitu peka. Dia sama sekali tak pernah menyangka bahwa anak kecil yang tinggal di seberang rumahnya ini memiliki perasaan yang lebih dari sekedar adekaka padanya. Kenapa rasanya bahwa hal ini salah?
"Woojinie... lo tau kan hyung..."
"Gue tau hyung, hyung cuman nganggap gue sekedar adek doang. Lagi pula sekarang hyung udah punya Jaehwan hyung. Gue sadar soal itu."
Sungwoon rasa dirinya lebih baik diam untuk mendengarkan lebih banyak penjelasan dari anak abg dihadapannya ini.
"Tapi hyung... gue... g-gue hiks..." baiklah ini diluar kendalinya. Kenapa Woojin harus menangis?
Woojin mengusap matanya dengan kasar. "Gue ga bisa cuman nganggap lo hyung doang. Gue ga pengen lo anggap adek doang. Gue sayang lo hyung, gue suka sama lo. Gue malah sampai mikir buat ngelamar hyung kalau gue udah sukses nanti. Gue bakalan berusaha yang terbaik biar gue bisa ngejagain hyung nanti. Tapi... gue seharusnya sadar kalo gue terlalu kecil buat mikirin hal yang begituan. Gue ga pernah kepikiran kalau diluar sana pasti ada juga orang yang pengen milikin Sungwoon hyung selain gue kayak Jaehwan hyung."
Sungwoon berdiri, dirinya sedikit tersentak bahwa pemuda dihadapannya tidaklah kecil lagi. Bahkan sekarang dirinya lebih pendek dari anak ini. Dia tersenyum, kemudian mengusap kepala Woojin sayang. Meskipun anak itu lebih tinggi, tetapi anak kecil tetaplah anak yang belum dewasa.
CUP
Sungwoon memberi kecupan kecil pada dahi anak abg yang tiba-tiba berubah menjadi patung itu. Dan Sungwoon sedikit menggerutu ketika mengingat bahwa dirinya harus menjinjit untuk melakukan hal itu.
"Lo tau Woojinie, hyung emang sayang banget sama lo sekedar rasa kakak ke adek doang. Hyung bahkan ga pernah ngira kalo lo bakal nyatain perasaan cinta kayak gini. Makasih karena lo udah suka sama hyung."
Sungwoon memeluk Woojin dengan erat. "Aigoo, adek gingsul bopung sudah besar sekarang. Udah tinggi, ganteng lagi, gingsulnya makin gemesin lagi. Hyung ketinggalan apa aja sih, sampai ga sadar kalo lo udah gede Jin."
Sungwoon melepaskan pelukan mereka, kemudian merangkul Woojin agar ikut berjalan pulang. "Sekarang waktunya adek kecil buat tidur, jangan begadang mulu!"
Mendengar Sungwoon memanggilnya adek kecil, Woojin merengutkan wajahnya tak suka. "Hyung~ gue udah gede."
"Pokonya lo tetep adek kecil gue."
.
.
.
[2- Lai Guanlin x Park Jihoon]
"Gue mau ngomong jujur sama lo."
"Ya ay...hehe."
"Gue lebih suka kalo lo sama dia, jadi plis berhenti buat ngejar gue."
.
.
.
Guanlin mengetuk-ngetuk meja menggunakan telunjuknya dengan malas. Sebenarnya yang mengajak untuk bertemu itu Jihoon, karena itu dirinya datang 20 menit lebih cepat. Jadi sekarang Jihoon baru terlambat 5 menit dari waktu yang mereka janjikan.
Dan akhirnya seseorang yang ditunggunya terlihat berlari masuk menuju meja yang sedang ditempatinya. "Sori, bikin lo nunggu lama," medengar nada bicaranya yang khawatir membuat Guanlin tersenyum lebar.
"Gue juga baru dateng ko hyung," melihat respon biasa-biasa saja dari Guanlin membuat Jihoon semakin merasa kesal. Kenapa mesti berbohong demi dirinya? Hal ini membuatnya semakin merasa bersalah.
"Lin... lo udah mesen?"
Guanlin menggeleng dengan semangat, "Ga, biar sekalian bareng hyung."
"Yaudah, lo tunggu disini. Biar gue yang mesen, sekalian permintaan maaf karena gue udah telat!" tak ingin mendengar penolakan, Jihoon segera melesat pergi.
Jihoon berjalan gusar meninggalkan Guanlin yang kembali sibuk pada ponselnya. Sebenarnya Jihoon bingung dengan apa yang harus dia lakukan sekarang. Padahal sejak dijalan tadi dia sudah membulatkan niatnya. Hanya saja melihat senyum dan perhatian dari Guanlin membuat niatnya goyah. Dia tak ingin menyakiti Guanlin yang sudah berbuat banyak hal padanya.
Jihoon menyayangi Guanlin, sangat sayang. Namun bukan rasa sayang dalam hal romantis, mungkin sekedar teman? Atau sahabat? Tapi sungguh, kenapa Gualin begitu terang-terangan menunjukan kesukaannya padanya.
Dan jika boleh jujur, Jihoon lelah. Terkadang dirinya merasa tertekan dengan sikap Guanlin yang begitu baik padanya. Bukankah dirinya benar-benar orang yang jahat? Kenapa dirinya tak bisa untuk membalas menyukai Guanlin?!
Apalagi dirinya baru saja mengetahui fakta bahwa salah satu sahabatnya mengakui menyukai Guanlin. Dirinya tak ingin menyakiti siapapun!
Di balik kegalauan seorang Jihoon, saat ini Guanlin sedang sibuk berbalas chat dengan seseorang yang sedang patah hati. Yang baru saja sudah dipastikan berada dalam adekakazone!
'Kan udah gue bilang kalo lo itu udah gagal dari jaman orok hyung' –send
'Bangsat lo Lin sama temen sendiri, lo ditolak jihun tau rasa lo!'
'Eiy, mana mungkin cogan ditolak' –send
'Serah lo dah, gue lelah'
'Wkwkwk, sori hyung. Jihun hyung dah balik, selamat bergalau ria hyung' –send
Guanlin menunjukan senyum manisnya ketika pemuda dihadapannya membawa dua nampan makanan dan menyimpannya di atas meja.
"Lagi chattingan sama siapa Lin?" tanya Jihoon setelah selesai menata makanannya.
"Woojin hyung."
"Lagi galau dia?"
"Kemarin malam ditolak Sungwoon hyung, jadi seharian ini dia ngegalau dikamar."
Membicarakan mengenai hal 'tolak' Jihun kembali melamun. Haruskah dia benar-benar melakukannya?
"Lin... ada yang mau gue omongin sama lo."
Entah mungkin Guanlin tipe cowo yang ga peka, dia malah menunjukan cengiran gorilanya. "Apaan ay? Hehe."
Jihoon menarik napasnya dalam. Jujur, dia takut, dia benci dengan perasaan tak ingin dibenci ini. Tapi Jihoon lelah, ketika Guanlin semakin menunjukan kesukaannya, semakin tertekan juga dirinya. Dia harus bagaimana?
"Hyung? Lo gapapa?" mendengar Jihoon menghela napas kasar, membuatnya khawatir.
"Lin, gue pingin lo berhenti."
Pernyataan ambigu itu membuat Guanlin menyerngitkan dahinya.
"Gue pikir, kayaknya lo lebih baik sama orang lain. Gue pikir kalo lo bakal lebih bahagia kalo ga sama gue. Jadi, gue pikir... lebih baik lo berhenti buat ngejar gue."
Katakan saja Jihoon adalah orang jahat. Tetapi setelah dirinya mengungkapkan apa yang selama ini dia pikirkan, membuatnya merasa lega. Rasa tertekan yang sejak tadi dia rasakan mulai mereda. Jihoon suka.
"Ga."
"Eh?"
"Ga hyung! Gue ga mau! Gue ga mau buat berhenti ngejar lo!"
Namun hal yang tak diinginkannya terjadi. Guanlin menolak. Jihoon benci rasa bingung yang melanda pikirannya sekarang.
"Lin! Plis! Tolong! Tolong berhenti ngeja-"
"Lo ga ngerti perasaan gue hyung! Gue ga peduli lo ga ngebalas! Tapi gue ga mau buat berenti ngejar lo hyung!" Guanlin meninggikan suaranya, bahkan dia berdiri dari duduknya.
"Lin... hiks... plis berenti!" kenapa Jihoon harus menangis? Sekarang Guanlin dilanda rasa kebingungan.
"Lin... g-gue hiks... lo tau ga, semakin lo ngejar gue... gue semakin ngerasa bersalah! Dan hiks g-gue lelah Lin... gue lelah!"
Dengan segera, Guanlin memeluk pemuda yang lebih kecil darinya itu. Dia sadar, perilakunya selama ini membuat pemuda yang disayanginya kesakitan, dan Guanlin benci dengan kenyataan itu.
"Maafin gue hyung... maafin gue. Gue ga bermaksud buat bikin lo tertekan kayak gini. Gue cuman... gue cuman pengen lo tau, kalo gue sayang banget sama lo. Maafin gue hyung..."
Seandainya mereka sadar bahwa saat ini mereka sedang berada ditempat yang dikelilingi banyak orang.
.
.
.
[3- Bae Jinyoung x Lee Daehwi]
"Kalo lo suka dia napa lo harus nerima gue sih hyung?"
"K-karena...gue...eum..."
"Gue tau ko, kalo gitu kita putus aja."
.
.
.
Daehwi terlihat berguling-gulingan diatas kasurnya. Dia sedang dilanda kegalauan, haruskah dirinya menerima fakta atau tidak?!
Padahal hubungannya dengan Jinyoung belum genap sebulan. Kenapa rasanya begitu banyak cobaan?
Dirinya ingat kejadian kemarin sore. Saat dirinya hendak ke minimarket, dia melihat Jinyoung sedang mengobrol dengan Jihoon sembari memakan ramen didepan minimarket. Awalnya dirinya berniat untuk mengangetkan mereka berdua namun pertanyaan Jihoon membuatnya mengurungkan niat.
"Young, lo suka Guan?"
"Hm? Napa hyung tiba-tiba nanya begitu?
"Ga tau, tiba-tiba kepikiran aja."
Dan saat itu Daehwi berpikir bahwa Jihoon adalah orang jahat. Padahal Jinyoungkan pacarnya, kenapa nanya soal Guanlin?
"Apa begitu kelihatan hyung?"
"Ga jug- Young? Lo serius? P-padahal gue cuman asal nebak."
"Gue gila ya hyung, haha."
Tidak tahu kah kau Jinyoung, saat ini pacarmu sedang menahan rasa sakit.
"Terus, napa lo nerima waktu Daehwi nembak lo?"
"Lo tau hyung, gue ga suka orang gue sayang sakit gara-gara gue. Jadi gue pikir, lebih baik gue sakit sendiri."
Dan sekarang Daehwi merasa bahwa dirinyalah yang orang jahat disini. Kenapa Jinyoung begitu kejam?
Mengingat kejadian itu membuat Daehwi kembali uring-uringan. Apa yang harus dia lakukan?
Dan entah mengapa seseorang yang kemarin patah hati akibat adekakazone muncul dipikirannya. Dan tanpa pikir panjang Daehwi segera menelponnya.
"Hyung, lo masih galau?"
"Njir, baru juga gue sembuh dibikin sakit lagi."
"Sori hyung, tapi gue butuh saran orang patah hati." "Paan?"
"Menurut lo, kalo orang yang kita sayang sayangnya ke orang lain, kita kudu ngapain hyung?"
"Yaelah Hwi, pertanyaan kaga perlu dijawab itu. Kalo lo nanya saran gue, jelas. Gue bakal relain dia sama orang yang dia sayang kayak gue ke Sungwoon hyung. Lo ga liat di sosmed si Guan juga dah relain Jihun. Daripada orang yang lo sayang ngerasa tertekan."
"Makasih hyung sarannya."
"Sip dah... eh? Wait! Jinyoung suka orang lain?"
"Bye hyung~ entar gue cerita lagi!"
Dan tanpa memikirkan hal lain lagi Daehwi segera berlari menuju rumah Jinyoung. Dia tak peduli pada apapun sekarang. Yang dia pikirkan hanyalah, bagaimana caranya agar Jinyoung tak kesusah gara-gara rasa sayangnya.
TOK TOK TOK
Daehwi memukul pintu kayu itu dengan tak sabaran.
Dan segera setelah pintu tadi dibuka oleh pemuda tampan tinggi yang sedang memegang gagang sapu, Daehwi segera berlari masuk.
"Anak kecil ga tau sopan santun," gerutu Minhyun yang melihat Daehwi berlari menuju kamar Jinyoung.
Dan tanpa aba-aba, Daehwi segera membuka pintu kamar Jinyoung. Menampakkan Jinyoung yang sedang melamun menatap keluar jendela.
"Eh Hwi? Napa lo kaga bi-"
PLUK
Daehwi tiba-tiba naik keatas ranjangnya dan memeluknya dengan erat. Dan jangan lupakan isakan tangis yang terdengar oleh telinganya.
"Hwi, lo gapapa?" Daehwi menggeleng dalam pelukannya. Dirinya malah semakin memeluk Jinyoung dengan erat.
Jinyoung sungguh tak mengerti dengan pacar imutnya ini. Jadi dirinya hanya mengusap rambutnya halus, berharap Daehwi segera tenang.
Segera setelah dirinya tenang, Daehwi melepas pelukannya dan menatap Jinyoung serius dengan mata sembabnya.
"Hyung, gue mau nanya sesuatu sama lo."
"Hm?" sebenarnya Jinyoung benci ketika lawan bicaranya tak mudah ditebak seperti saat ini, karena dirinya selalu bingung apa yang harus dia katakan.
"Napa hyung nerima gue?"
"Apa maks-"
"Maksud gue, napa hyung mau jadi pacar gue?"
Jinyoung terdiam, dia sedang mencerna. Bukan mencerna pertanyaan yang sudah jelas itu, melainkan, mencerna apa yang terjadi sampai Daehwi menanyakan hal itu.
"Kalo lo suka sama Guanlin, kenapa harus nerima gue hyung?"
"Eh?"
Daehwi kembali menangis, apa rasanya ditolak begitu menyakitkan?
"Kalo maksud hyung cuman biar gue ga sakit hati, gue lebih sakit ngeliat lo sakit hati hyung! Dan jujur, gue lebih sakit karena udah tau kenyataan kalo lo ga suka sama gue."
"Hwi, gue emang su-"
"Iya! Tapi hyung lebih suka sama Guanlin... "
Jinyoung kembali terdiam. Apa menjadi orang baik itu salah? Apa mengorbankan diri sendiri itu salah? Mengapa rasanya malah dirinya yang menjadi orang jahat disini?
"Gue minta maaf karena bikin lo terpaksa buat nerima gue hyung. Makasih udah berusaha buat jaga perasaan gue."
"Hwi... g-gue..."
"Gapapa hyung, gue tau maksud lo baik ko. Makanya buat ngebalas kebaikan hyung... gue pengen kita putus."
Jinyoung bingung, kenapa rasanya semua kata-kata penenang yang sejak tadi dipikirkannya tak bisa dia lontarkan.
"Dan mulai sekarang, gue pengen lo berhenti buat nyakitin perasaan lo sendiri. Karna gue juga bakal sakit hati kalo lo sakit hyung."
Kenapa rasanya patah hati ada dimana-mana?
.
.
.
[4- Ong Seongwoo x Hwang Minhyun]
"Sebenernya gue suka sama lo hehe."
"T-tapi kan?"
"Iya gue emang anjing, suka sama lo tapi pacaran sama orang lain. Kan goblo hehe."
.
.
.
Seongwoo menatap miris pada bongkahan kayu putih yang menutupi penglihatannya dengan adegan drama didalam kamar itu. Sepertinya kejadian patah hati sedang menjadi tren hari ini.
Karena merasa adegan drama dadakan telah selesai, dirinya memilih pergi menuju ruang tengah, dimana teman serumahnya sedang asik dengan hobi bermain dengan alat pembersih.
"Ong, lo mau ke minimarket?"
"Ho oh, lo mau nitip sesuatu?"
Minhyun tiba-tiba menghentikan kegiatan bermainnya dan segera berlari kekamarnya. "Gue ikut! Ada yang harus gue beli!"
Seongwoo bingung, haruskah dirinya senang? Atau sedih? Senang karena Minhyun akan menemaninya ke minimarket, namun sedih karena mengingat kejadian penuh emosinya yang membuat dirinya sekarang berpacaran dengan kasir minimarket. Dia harus bagaimana?
"Apa yang mau lo beli Hyun?"
"Bahan-bahan dapur. Sebenernya ahjumma udah nyuruh dari jauh-jauh hari, tapi gue nya lupa mulu. Kasian Jinyoung makannya kaga sehat mulu."
Salah satu hal yang disukainya dari Minhyun, Minhyun itu pengertian pada semua orang. Selain itu, Minhyun juga orangnya baik, bahkan hobinya bersih-bersih. Bukankah cocok menjadi ibu rumah tangga, eh? Sayangnya Minhyun sudah menyukai orang lain, haha.
"Hyun."
"Hm?"
"Lo tau kaga, kayaknya insiden tolak-menolak lagi tren."
Minhyun menatapnya bingung, "Maksud lo?"
"Katanya Woojin udah fix di adekakazone sama Sungwoon hyung, Guanlin udah jelas ditolak Jihoon jadi kaga bakalan ngejar lagi. Dan tadi Jinyoung diputusin Daehwi..."
"Serius lo Ong? Mereka putus?"
Seongwoo nganggukin kepalanya. "Tadi gue sengaja nguping omongan mereka di kamar."
"Kalo Daehwi ta lo nguping, ditebas lo Ong, hahaha," bahkan tawanya begitu anggun, menenangkan telinganya dari kebisingan kendaraan yang macet.
Seongwoo tiba-tiba menghentikan langkah kakinya, membuat Minhyun ikut berhenti, dan menatapnya bingung. Apa dia mengatakan hal yang salah? Padahalkan dirinya hanya tertawa.
"Hyun... kalo gue sama Daniel putus... gimana?"
Minhyun membulatkan matanya kaget. "Gila lo Ong? Kalian beneran putus?"
"Haha, kaga. Gue cuman pengen tau respon lo kayak gimana aja."
Melihat Seongwoo yang kembali jalan sembari tertawa membuat Minhyun menatapnya kesal. "Njir lo Ong, gue pikir beneran. Kirain hubungan pait beneran lagi tren."
Namun tiba-tiba, Seongwoo kembali berhenti melangkahkan kakinya. Dia memegang pundak Minhyun agar ikut berhenti dan menatap matanya.
"Tapi Hyun, kalo gue serius putus... gimana?"
"Eiy, lo kaga bisa jailin gue lagi," Minhyun menampakan wajah berseri karena merasa dirinya berhasil tak tertipu oleh tipuannya.
"Tapi gue sukanya sama lo Hyun."
"Eh?"
Seongwoo menatap serius pada Minhyun yang kembali menunjukan ekspresi kagetnya.
"Sebenernya yang gue suka itu lo Hyun. Gue suka sama lo!"
"T-tapi kan Ong, lo udah pacaran..."
Seongwoo tertawa paksa, kemudian melepaskan tangannya dari pundak Minhyun. Tiba-tiba dia berjongkok dengan memukul-mukul kepalanya sembari tertawa.
"Hahaha, gue emang anjing! Gue bangsat kan Hyun! Gue sukanya sama lo, jadiannya sama Daniel! Gila gue emang, hahaha."
Minhyun ikut berjongkok dihadapannya. Memegang lengan Seongwoo agar pemuda gila dihadapannya berhenti memukul diri sendiri.
"Ong, sejak kapan lo suka gue?"
Seongwoo menatap Minhyun sekilas, kemudian kembali menundukan kepalanya sembari tertawa gila.
"Hahaha, gue udah gila Hyun~ bahkan sebelum lo kenal sama Jisung hyung, gue udah suka sama lo... udah lama banget kan? Gue kayak orang jahat tau ga bikin Daniel jadi pelampiasan doang gara-gara lo suka sama Jisung hyung. Hahaha, bahkan gue ngajak Daniel jadian waktu gue sakit hati gara-gara lo nangis akibat ngeliat Jisung hyung yang malah ketawa ngakak bareng orang lain... haha."
Apa disini Minhyun orang jahatnya? Kenapa Seongwoo terlihat begitu tersiksa?
"Sekarang lo udah punya Daniel Ong. Lo ga boleh kayak gini terus."
Seongwoo tiba-tiba menidurkan dirinya diatas tanah, di depan minimarket. Sungguh, mereka sama sekali tak sadar bahwa sang kasir sejak tadi mendengar dan memperhatikan mereka dari dalam mini market.
"Apakah gue harus minta putus juga kayak Daehwi daripada bikin Daniel sakit hati Hyun?"
"Lo beneran suka sama gue Ong?"
Seongwoo menunjukan senyuman patah hatinya, "Hahaha, kan udah gue bilang kalo gue itu gila Hyun, hahaha."
Sikap Seongwoo yang tidak jelas seperti ini membuat Minhyun bingung. Apa yang harus dia lakukan sekarang? Bukankah jika dia menerima Seongwoo, akan membuatnya tetap menjadi orang jahat?
.
.
.
[5- Park Woojin x Park Jihoon]
"NAPA LO HARUS SUKA SAMA GUE SIH?"
"MANA GUE TAU KADAL! KAN SUKA TUH KAGA BISA DIPREDIKSI"
.
.
.
Woojin menatap gusar pada layar ponselnya. Daehwi tak kembali menghubunginya setelah 1 jam berlalu. Apa yang dilakukan anak itu? Tak mungkin bunuh diri kan? Membuat orang khawatir saja.
"Jin, lo udah kaga galau?"
Woojin menatap tajam pada orang yang dengan sangat tidak sopannya begitu saja masuk ke kamarnya. Untungnya Jihoon membawa makanan, kalau tidak Woojin tak akan segan untuk mengusirnya.
"Pertanyaan lo nyebelin amat Hun. Seharusnya lo nanya sama Guanlin, dia baik-baik aja kaga? Gue takut tiba-tiba bunuh diri gara-gara kaga siap buat ditolak."
Jihoon menunjukan wajah tak sukanya. Ini belum genap 6 jam sejak kejadian memalukan di cafe tadi, kenapa Woojin harus mengungkitnya?
"Udah ah, kaga usah dibahas. Gue ikutan galau entar."
Woojin mengangkat bahunya tak peduli.
"Eh Hun! Lo tau kaga Jinyoung suka sama siapa?"
Jihoon tiba-tiba tersedak ludahnya sendiri. Woojin dengan refleks menepuk pelan pundaknya.
"Emangnya ada apaan?" tanya Jihoon.
"Tadi Daehwi nanya, kalo orang yang kita sayangi sayang sama orang lain. Apa yang harus dia lakuin," entah mengapa perasaan Jihoon sedikit tak enak untuk hal ini.
"Terus lo bilang apa?"
"Yah gue bilang, gue udah jelas ngerelain Sungwoon hyung buat Jaehwan hyung. Terus Guan yang relain lo biar lo kaga tertekan gara-gara dia. Nah, pas gue nanya Jinyoung suka siapa, di matiin dah hapenya. Sialan amat itu anak, kaga tau apa gue khawatir."
Jihoon ingat kejadian kemarin, kejadian dimana dirinya bertanya 'Lo suka Guan?' pada Jinyoung. Jihoon hanya kepikiran, reaksi Jinyoung ketika melihat Guanlin perhatian padanya itu selalu sama, membuang wajah sebentar kemudian tersenyum. Namun Jihoon tak pernah mengira bahwa Jinyoung memang suka Guanlin.
Jika terjadi sesuatu pada hubungan Jinyoung dan Daehwi sepertinya harus menyalahkan sifatnya yang suka kepo itu.
"Jadi lo tau siapa yang Jinyoung suka?"
Jihoon mengangkat kedua tangannya kemudian ikut berbaring di kasur milik Woojin.
"Gue jadi penasaran Hun."
"Hm?"
Woojin yang sejak awal sudah menyandarkan tubuhnya pada atas kasur, menyuruh Jihoon agar ikut duduk.
"Napa lo nolak Guan?"
Jihoon terdiam, wajahnya tiba-tiba memanas. Masalahnya seseorang yang bertanya adalah salah satu alasan kenapa dirinya tak bisa menerima Guanlin.
"Napa lo penasaran segala?"
"Soalnya kan Guanlin tuh ganteng, udah ganteng tinggi, terus dia beneran suka sama lo. Lo ga ngerasa rugi gitu udah nolak yang macam gitu?"
Entah mengapa penjelasan Woojin terdengar menyebalkan. Apa Woojin merasa dirinya lebih baik dengan orang lain? Itu terdengar menyakitkan.
Jihoon lebih memilih untuk kembali menidurkan dirinya dan menutup wajahnya dengan selimut. "Lagian gue sukanya macam lo," bisiknya yang benar-benar tak terdengar jelas oleh Woojin.
"Yaelah Hun, ko lo malah tidur sih? Lo ga mau jawab alasan lo? Ah! Atau sebenernya lo suka sama seseorang?"
"Iya, itu elo," bisiknya, namun kali ini sedikit lebih keras. Membuat Woojin mengerutkan dahinya.
"Lo ngomong apa?"
"Kaga!"
"Yaelah Hun, lo suka siapa sih?"
"Kaga ada."
"Atau jangan-jangan lo suka gue?"
"Ka- uhuk," mengapa dirinya harus tersedak ludah segala.
Jihoon kembali mendudukan dirinya, dan Woojin kembali menepuk pundaknya dengan ekspresi kaget kaga percaya.
"H-hun..."
"Hm?"
"Lo beneran suka sama gue?"
Dan Jihoon kembali tersedak ludahnya. Kenapa Woojin hobi sekali bertanya tiba-tiba.
"Iya-iya gue sukanya sama lo. Puas lo!"
"Eh? Lo beneran?"
"BENERAN BULUQ! NAPA DIULANG-ULANG MULU SIH!" lama-lama Jihoon jadi kesal juga.
"KAGA USAH PAKE NADA TINGGI ELAH. KAN GUE KAGA PERCAYA!"
"LO JUGA PAKE NADA TINGGI BOPUNG!"
"YA KAN LU NYA PAKE TERIAK DULUAN. LAGIAN NAPA HARUS GUE?"
"MANA GUE TAU! PAKE NANYA SEGALA LAGI!"
"YAH KAN KAGA JELAS!"
"Udah ah cape gue teriak mulu," akhirnya Jihoon kembali menidurkan dirinya setelah mengusap tenggorokannya yang terasa kering.
Woojin masih terdiam, masih mencerna teriakan-teriakan gaje barusan. Kenapa sekarang dirinya hobi sekali menggalau? Menggalau tentang pernyataan cinta Jihoon yang tiba-tiba. Apa yang harus dilakukannya?
"Hun."
"Hm?"
"Lo beneran suka gue?"
"BENERAN KADAL! GUE HARUS BILANG BERAPA KALI SIH!"
"K-kan gue kaga nyangka aja Hun," Woojin benar-benar terkejut dengan teriakan Jihoon didalam selimutnya.
Woojin hanya tidak mengerti saja, teriakan yang Jihoon lakukan hanya sebagai alibi agar detak jantungnya yang berdebar tak didengar olehnya. Karena sesungguhnya Jihoon takut, takut kalau ternyata Woojin menolaknya.
Jadi, harus bagaimana ini?
.
.
.
Part 6-10 akan saya buat nanti sore...
