"Stella? Apa yang kau lakukan disini?"
"Bukankah seharusnya aku yang menanyakan itu kepada laki-laki ini?"
Gadis berambut coklat panjang bergelombang dihadapan Siwon dan Kyuhyun mengerutkan dahinya.
Siwon menatap tidak mengerti kepada Stella, "Dia kekasihku dan aku mengajaknya untuk menemaniku hari ini. Lagipula sejak kapan kau berada di Seoul?"
Stella melebarkan matanya tidak percaya, "Apa kau gila, Siwon? Menurutmu apa yang akan orang-orang pikirkan tentangmu setelah ini? Apa kau sudah membicarakan ini dengan kedua orang tuamu?"
Siwon mengusap wajahnya dan mendengus. Dia tidak akan suka kemana arah pembicaraan ini akan berlangsung. Memutuskan untuk melanjutkan pembicaraan mereka dengan sedikit privasi.
"Lebih baik kita membicarakan ini diruanganku."
"Aku tidak akan berada pada ruang yang sama bersama kekasihmu ini, Siwon."
Siwon menatap Stella tajam, "Apa maksud—"
"Aku bisa pergi jika kalian membutuhkan privasi."
Kini giliran Siwon menatap Kyuhyun tidak percaya, "Kau tetap disini. Aku tidak akan membiarkan siapapun menggunakan nada seperti itu kepadamu. Dan kau Stella, aku berharap kau tidak menggunakan nada seperti itu lagi. Tidak kepada Kyuhyun. Tunjukkan sedikit kesopanan disini."
Stella memiringkan kepalanya dan mengeraskan dagunya. Menaruh kedua tangannya dipinggangnya. "Perhatikan ucapanmu, Choi Siwon. Aku—"
"Maafkan aku memotong ucapanmu, Stella-ssi. Hyung, bicarakan ini ditempat lain. Lebih baik aku pulang. Kalian membutuhkan waktu berdua."
Siwon sudah akan mengeluarkan suaranya ketika Kyuhyun memotong ucapannya, "Aku akan baik-baik saja, Hyung. Dan sampai jumpa, Stella-ssi."
Kyuhyun membungkukkan badannya singkat kemudian meninggalkan kedua orang itu. Siwon mengikuti kepergian Kyuhyun sebelum ia bisa meraih lengan kekasihnya itu. "Maafkan aku…"
Kyuhyun tersenyum miris dan mengangguk, "Tak apa, Hyung. Kalian memang perlu membicarakan ini."
Siwon tidak bisa membaca apa yang ada dipikiran Kyuhyun saat ini. "Kau akan baik-baik saja? Aku yakin Stella tidak bermaksud menyinggungmu. Dia tidak pernah seperti ini sebelumnya."
Kali ini Kyuhyun terkekeh kecil, "Aku pernah mendengar yang jauh lebih buruk. Aku baik-baik saja."
Siwon sungguh ingin memeluk Kyuhyun saat ini. Namun ia tahu Kyuhyun masih terlalu kaku dihadapan publik. Jadi Siwon meremas pundak Kyuhyun menunjukkan perhatiannya.
"Aku akan pulang secepatnya. Kita juga perlu bicara."
Kyuhyun mengangguk singkat, "Semoga harimu menyenangkan, Hyung."
Siwon tertawa kecil, "Kau pasti bercanda."
Kyuhyun ikute tertawa, "Sampai jumpa di rumah, Hyung."
Siwon mengangguk, "Aku mencintaimu, Kyu."
Kali ini Kyuhyun hanya tersenyum membalas ucapan itu. Dia tahu dia tidak akan baik-baik saja setelah ini.
Tentu saja.
Memangnya apa yang Kyuhyun pikirkan hingga ia berharap semuanya akan baik-baik saja?
.
.
.
.
.
Siwon membalik badannya menghadap Stella setelah pintu ruangannya berdebam tertutup. Mengusap wajahnya kasar kemudian menghela nafasnya. Tampak Stella mengabaikan mood Siwon yang memburuk. Lagipula dia juga dalam mood yang sama.
"Apa yang kau lakukan, Stella? Kau tidak bisa begitu saja menggunakan nada bicara seperti itu kepada orang lain. Terutama Kyuhyun. Kau tidak pernah seperti itu sebelumnya. Ada apa denganmu?"
Stella menatap tidak percaya kepada Siwon dan kembali berkacak pinggang. "Seharusnya aku menanyakan hal yang sama, Siwon. Ada apa denganmu? Apa kau sudah kehilangan akal sehatmu?"
Siwon membalas tatapan Stella dengan pandangan tidak mengertinya, "Apa yang salah dengan aku memiliki kekasih?"
Stella mengeraskan dagunya dan menghela nafasnya kasar, "Tidak ada yang salah jika kekasihmu itu seorang wanita. Dia seorang pria, Siwon. Kau benar-benar sudah gila. Bagaimana dengan pandangan orang lain kepadamu? Kepada perusahaanmu? Apa kau pernah memikirkannya?"
"Apa aku terlihat peduli?"
Stella mengangkat kedua tangannya tidak mengerti alasan Siwon, "Kau seharusnya peduli. Bukan hanya dirimu yang kita bicarakan disini. Ini mengenai nasib perusahaan. Bagaimana jika karyawanmu tidak bisa menerima keputusanmu? Bagaimana jika orang luar, pesaing bisnismu, menggunakan keputusanmu sebagai senjata untuk menjatuhkanmu? Apa kau pernah berpikir sejauh itu sebelum mengambil keputusan ini?"
Siwon mengeraskan dagunya kuat ketika melihat poin Stella.
Stella memejamkan matanya dan memijat dahinya, "Sekarang kau melihat maksudku. Apa kau sudah membicarakan ini dengan ayahmu?"
Siwon menggigit bibir bawahnya, "Keluargaku mengetahui hubunganku dengan Kyuhyun dan mereka baik-baik saja. Tapi aku belum membicarakan keputusanku untuk membawa Kyuhyun dihadapan publik."
Stella berdecak dan menatap Siwon, "Kau harus membicarakan ini, Siwon. Aku benar-benar tidak mengerti dengan keputusanmu kali ini. Kau bertindak tidak rasional dan gegabah."
Siwon menghela nafasnya, "Itu yang terjadi ketika kau jatuh cinta, Stella."
Ada sesuatu dimata Stella yang tidak bisa Siwon baca.
"Mungkin itu bukan cinta. Bagaimana dengan afeksi sesaat? Atau cinta platonik?"
"Apa maksudmu?"
Stella mendekati Siwon dan berdiri dihadapan Siwon, "Berapa lama kau bertemu dengannya? Apa kau mengenalnya dengan baik? Apa dia mengenalmu dengan baik? Atau apa kau yakin jika itu cinta, Siwon?"
Siwon memandang Stella tidak mengerti, "Dia membuatku merasa bahagia, Stella. Dia membuatku merasakan banyak hal diwaktu yang singkat. Aku tidak pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya. Bukankah itu cinta?"
Lagi-lagi Siwon menemukan hal lain ditatapan Stella dan Siwon bersumpah dia bisa melihat kilatan luka disana. Dia mulai bisa membaca orang lain dengan baik. Bagaimana mata mereka menunjukkan kesungguhan dan kejujuran. Kehadiran Kyuhyun dalam hidupnya membuatnya belajar banyak hal.
Stella menghela nafasnya kemudian tersenyum miris, "Apa kau jatuh cinta pada setiap orang yang membuatmu bahagia?"
"Aku tidak mengerti, Stella. Sebenarnya apa maksud perkataanmu? Apa ini benar-benar mengenai nasib perusahaanku? Atau ada hal lain yang ingin kau katakan padaku?"
Stella tertawa hampa, "Tentu saja aku memikirkan perusahaanmu, Siwon. Selain itu aku peduli padamu."
Siwon menatap Stella tidak mengerti, "Jika kau peduli padaku, kenapa kau begitu menentang keputusanku? Keputusan ini membuatku bahagia, Stella."
Stella menggelengkan kepalanya tidak percaya. Menatap Siwon ketika setetes air mata menuruni pipinya. "Kau benar-benar menyebalkan, kau tahu itu, Siwon. Kenapa begitu sulit membuatmu mengerti. Apa aku begitu sulit ditebak?"
Siwon perlahan mendapatkan maksud Stella. Menatap Stella tidak percaya. "Apa… Apa kau menyukaiku?"
Stella mengusap air matanya dan tersenyum miris, "Kau pikir apalagi? Selama ini aku menunggumu untuk mengatakan hal yang aku tunggu-tunggu. Setidaknya mengajakku pergi berkencan atau sekedar membawaku ke rumahmu."
"Kau sudah mengenal keluargaku dan kau sering berkunjung. Kita juga sering makan malam bersama. Lagipula kenapa kau tidak mengatakan ini semua dari awal?"
Stella kembali meneteskan air matanya, "Apa itu akan membuat suatu perbedaan? Jika aku mengatakannya, apa itu akan membuatmu berubah pikiran?"
Siwon memiringkan kepalanya tidak mengerti, "Apa maksudmu?"
Stella tersenyum miris, "Kau tidak pernah mencintaiku, Siwon. Kau hanya menganggapku sebagai bagian putih dari hidupmu. Aku tidak lebih dari sekedar dari teman dan itu tidak akan pernah berubah. Sial. Ini sungguh menyakitkan."
Siwon perlahan memeluk Stella. Sebuah pelukan yang menenangkan. Tidak lebih.
Perasaannya terlalu kacau. Memangnya apa yang akan kau rasakan ketika seorang wanita yang telah kau kenal cukup lama tiba-tiba mengatakan bahwa dia mencintaimu?
Stella menangis dipelukan Siwon.
"Maafkan aku, Stella… Aku harap ini tidak terjadi padamu. Aku benar-benar minta maaf. Seharusnya aku bisa menduga hal ini akan terjadi."
Stella menggeleng kemudian melepaskan diri dari pelukan Siwon. Mengusap air matanya kemudian tersenyum miris.
"Aku juga berharap ini tidak terjadi padaku. Lagipula aku seharusnya juga tahu bagaimana ini akan berakhir. Dan jangan pernah meminta maaf karena bahagia, Siwon."
Stella mengusap wajah Siwon, "Maukah kau melakukan sesuatu untukku, Siwon?"
Siwon menatap Stella, "Tentu saja."
Kali ini Stella tersenyum tulus, "Jangan hubungi aku untuk beberapa saat hingga aku memberitahumu, okay? Aku akan baik-baik saja. Aku hanya membutuhkan waktu beberapa saat. Aku harap kau mengerti, Siwon."
Siwon akan mengeluarkan suaranya ketika sesuatu dalam hatinya membuatnya terdiam dan berpikir ulang tentang apa yang akan ia katakan selanjutnya. Pada akhirnya Siwon mengangguk.
"Aku menyesal ini terjadi padamu, Stella."
Stella tertawa kecil, "Ini bukan sepenuhnya salahmu, kau tahu. Inilah hidup. Kita tidak selalu mendapatkan apa yang kita inginkan."
Siwon tersenyum miris menatap Stella. Ia tahu ia mungkin akan kehilangan seseorang yang begitu berarti baginya. Stella bukanlah wanita yang membosankan.
"Apa kita akan baik-baik saja setelah ini?"
Stella menghembuskan nafasnya panjang, "Sejujurnya aku tidak tahu, Siwon. Kita lihat setelah semua ini berakhir. Dan aku tidak main-main ketika aku mengatakan bahwa kau perlu membicarakan ini dengan kedua orang tuamu. Terutama ayahmu. Aku tidak ingin perusahaan ini terancam."
Siwon tertawa kosong, "Aku tahu. Apa kau akan memberitahu ayahmu mengenai ini?"
"Tentang kita? Atau tentang keputusanmu?"
"Keduanya aku rasa."
Stella tersenyum tipis dan menepuk pundak Siwon. "Ayahku selalu berpikir aku memiliki kekasih di Amerika, jadi aku rasa dia tidak perlu tahu mengenai hubungan kita. Dan mengenai keputusanmu, aku tidak akan mengatakan apapun. Itu adalah hakmu, Siwon."
Siwon mengangguk, "Terima kasih, Stella. Aku harap kita tetap bisa menjadi teman. Kau adalah wanita yang menyenangkan dan baik hati. Aku percaya masih banyak laki-laki yang jauh lebih baik dariku ingin menjadi orang yang kau cintai."
Stella tertawa kecil dan kembali mengusap ujung matanya yang basah, "Aku harap juga begitu. Aku harus pergi sebelum aku mengacaukan dandananku."
Siwon tertawa kecil. "Baiklah. Sampai jumpa, Stella. Aku harap bisa bertemu denganmu lagi."
Stella mengangguk dan memeluk Siwon singkat, "Sampai jumpa, Siwon. Jaga dirimu baik-baik."
"Kau juga, Stella."
Untuk sesaat Siwon ingin sekali mencegah Stella pergi meninggalkannya.
.
.
.
.
.
"Halo…"
Jeda.
"Jiwon-ah, apa aboji dan umma ada di rumah sekarang?"
Jeda.
"Baiklah. Katakan pada mereka aku sedang menuju kesana saat ini."
Jeda.
"Ada yang ingin aku sampaikan."
.
.
.
.
.
Siwon memasuki rumah kedua orang tuanya dengan langkah lebar. Seakan dia sedang diburu. Tidak memerhatikan bagaimana keadaan rumahnya setelah sekian lama dia tidak berkunjung. Siwon hanya ingin menceritakan semuanya kepada kedua orang tuanya. Entah kenapa Siwon sedikit takut membayangkan bagaimana reaksi kedua orang tuanya mengenai keputusannya. Terutama sang ayah.
Hati Siwon berdebar.
Siwon menghembuskan nafasnya panjang ketika menemukan kedua orang tuanya sedang duduk di ruang keluarga mereka. Tengah menikmati secangkir teh hangat yang masih mengepulkan asap tipis.
"Ayah… Ibu…"
Kedua orang tua Siwon mengangguk singkat kemudian menyilahkan Siwon untuk duduk dihadapan mereka.
"Apa yang ingin kau sampaikan, Siwon," Sang ibu mengeluarkan suaranya.
Siwon kembali menghembuskan nafasnya panjang. Inilah saatnya.
"Hari ini aku memberi pengumuman kepada karyawan kantor."
Ayah Siwon meletakkan gelasnya kemudian menatap Siwon. "Mengenai?"
Siwon menggigit bibir bawah bagian dalamnya, "Mengenai hubunganku dengan Kyuhyun."
Suasana menjadi hening. Tidak ada yang mengeluarkan suaranya. Itu adalah waktu yang Siwon harap tidak pernah ada dalam hidupnya. Dia selalu membenci bagaimana heningnya keadaan dalam suasana seperti itu. Dia benar-benar ingin tahu apa yang kedua orang tuanya pikirkan. Tapi dia selalu takut itu akan menyakitkan.
Beberapa saat hingga sang ayah memutuskan untuk menghentikan keheningan yang ada.
"Lalu bagaimana reaksi mereka?"
Siwon menatap sang ayah tepat dimata, "Aku rasa mereka baik-baik saja. Sebagian besar telah mengetahui aku memiliki kekasih seorang pria. Jadi mereka tidak begitu terkejut ketika aku mengenalkan Kyuhyun."
Keadaan kembali menjadi hening. Kali ini lebih lama. Kedua orang tua Siwon saling bertukar pandang namun hanyut dalam pikiran masing-masing. Siwon tidak bisa membaca raut wajah mereka.
"Katakan sesuatu, Ibu, Ayah…"
Sang ayah menghela nafas kemudian mengambil kembali gelas tehnya. "Apa yang kau ingin aku katakan, Siwon?"
Siwon menatap sang ayah lagi, "Entahlah. Bahwa itu adalah hal yang salah? Atau hal yang benar? Apa saja, Ayah. Jangan mendiamkanku seperti ini… Kalian menakutiku."
"Apa yang kau takutkan dari kami, Nak," Kini giliran sang ibu mengeluarkan suara.
Siwon menatap kedua orang tuanya tidak percaya, "Tentu saja jika aku mengambil keputusan yang salah dan itu akan membuat kalian kecewa."
Sang ibu tersenyum miris, "Apa kami selalu menjadi alasan dari semua keputusanmu selama ini, Siwon?"
Siwon menatap sang ibu tidak mengerti, "Tentu saja."
Sang ibu menitikkan air matanya, "Maafkan kami, Anakku…"
Siwon semakin tidak mengerti dengan kedua orang tuanya, "Ada apa, Ibu? Apa aku melakukan hal yang salah? Kenapa ibu meminta maaf? Apa aku mengecewakan kalian?"
Sang ibu semakin meneteskan air matanya kemudian menggeleng. "Tidak, Siwon. Kau tidak pernah mengecewakan kami. Tidak pernah sekalipun."
"Lalu kenapa ibu menangis? Ayah, apa maksud ibu?"
Sang ayah enggan menatap Siwon. Siwon bisa melihat tatapan ayahnya melembut. Ekspresi yang tidak pernah ditunjukkan sang ayah kepada siapapun. Terutama dirinya. Siwon sulit membaca raut wajah yang terasa begitu asing dimatanya.
Siwon mengeluarkan suaranya ragu-ragu, "Apa… Apa aku membuat keputusan yang benar kali ini?"
"Siwon…"
Siwon kembali menatap sang ibu yang berjalan mendekatinya. Sang ibu duduk disampingnya dan menggenggam tangan sang putra.
"Selama ini… Kami selalu mengatur hidupmu. Mendikte seluruh keputusan yang kau ambil. Kau melakukan segala hal yang kami inginkan. Lalu sekarang, ketika kau mengambil keputusanmu sendiri, apa kau berpikir kami akan menyalahkanmu, Anakku?"
Siwon terdiam seakan tertohok sesuatu. Ada sesuatu dalam dirinya yang membuatnya ingin menangis. Ini sungguh rasa sakit yang sungguh indah baginya.
"Tidak?"
Sang ibu tersenyum ketika air matanya kembali turun. Mengusap kepala sang putra lembut. "Sudah saatnya kau membuat keputusanmu sendiri, Anakku. Sudah saatnya kau melakukan apa yang kau inginkan. Bukan apa yang kami inginkan. Kau juga berhak bahagia."
Siwon tidak pernah menduga dirinya akan menangis dihadapan kedua orang tuanya. Tidak sekalipun dalam hidupnya. Namun dugaan Siwon salah ketika setitik air mata turun dari mata kirinya.
Siwon memeluk sang ibu erat. Menumpahkan seluruh emosi yang ia pendam. Emosi yang tidak pernah hadir sebelumnya. Siwon menatap sang ayah yang masih enggan menatapnya. Tapi Siwon bersumpah dia bisa melihat laki-laki yang telah membesarkannya selama dua puluh Sembilan tahun itu juga meneteskan air matanya.
Siwon pikir dia tidak akan memiliki kenangan tentang ayahnya. Bahwa Siwon tidak akan merindukan sang ayah ketika sang ayah pergi nanti. Tapi Siwon salah.
Kini Siwon mengerti. Laki-laki itu hanya ingin yang terbaik untuk dirinya. Laki-laki itu hanya tidak tahu bagaimana cara mengucapkan perasaannya. Sekarang Siwon mengerti darimana seluruh sifatnya berasal.
Dia bahagia.
Dia akhirnya bahagia setelah sekian lama.
Siwon mengusap air matanya dan menghentikan pelukannya dengan sang ibu.
"Apa ini berarti ayah dan ibu baik-baik saja dengan keputusanku?"
Sang ibu tersenyum setelah mengusap air matanya, "Tentu saja, Nak."
Siwon menatap sang ayah, "Lalu bagaimana dengan perusahaan? Bagaimana jika keputusanku ini memengaruhi nasib perusahaan?"
Siwon masih bisa melihat jejak air mata dipipi sang ayah ketika laki-laki itu berdehem, "Nasib perusahaan bergantung dari keputusanmu untuk perusahaan dan kualitas kerja pegawainya, bukan karena keputusan yang kau ambil untuk urusan pribadimu, Siwon. Rekan bisnismu tidak akan menghakimimu karena kehidupan pribadimu selama kualitas kerjamu memuaskan."
Siwon perlahan mengembangkan senyumnya, "Terima kasih, Ayah, Ibu. Terima kasih kalian telah mendukung keputusanmu."
Sang Ibu meremas tangan Siwon, "Kau tidak perlu berterima kasih atas dukungan kami, Nak. Itulah keluarga. Selama kau memegang prinsipmu ketika kau mengambil keputusanmu, selama itu membuatmu bahagia, kami akan selalu mendukungmu, Siwon. Kami benar-benar bangga padamu."
Sang ibu mengusap kepala Siwon lembut. Membuat Siwon memejamkan matanya menikmati sentuhan ibunya yang terasa begitu hangat. Dia menyukainya.
Siwon membuka matanya dan menemukan sang ibu masih tersenyum, "Apa yang membuat kalian berubah"
"Mengenai cara kami mendidikmu?"
Siwon mengangguk.
Sang ibu tersenyum tulus, "Kami membutuhkan seseorang yang bisa menyadarkan kami betapa besarnya nilai kebahagiaan itu. Bahwa kebahagiaan itu tidak bisa diraih begitu saja walaupun kalian telah memiliki segalanya. Bahwa kebahagiaan itu sesederhana ketika kau bisa melihat anakmu bahagia dengan keputusannya."
Siwon tersenyum untuk kesekian kali, "Siapa orang itu? Bukankah aku harus berterima kasih kepadanya?"
Kali ini sang ayah mengeluarkan suaranya. Siwon tidak melewatkan senyum tipis dibibir sang ayah.
"Kyuhyun."
Ternyata bukan hanya dirinya yang jatuh cinta pada sosok itu.
.
.
.
.
.
Siwon memasuki rumahnya dengan tidak sabar. Senyum terpatri dibibir penuhnya pertanda bahwa dirinya begitu bahagia. Siwon tidak bisa menghentikan debaran di jantungnya ketika pandangannya menemukan sang kekasih sedang menata makanan untuk keduanya.
Kyuhyun menatap Siwon yang menghampirinya, "Bagaiman—"
Ucapan Kyuhyun terpotong ketika Siwon memegang wajahnya dengan kedua tangannya dan mencium Kyuhyun tepat dibibir. Kyuhyun menjatuhkan sendok sayur yang ia pegang ketika Siwon mendorong tubuhnya hingga punggungnya menyentuh pinggiran meja makan. Kyuhyun membuka belahan bibirnya ketika Siwon menyentuh bibir bawahnya dengan lidahnya. Kyuhyun perlahan memejamkan matanya dan melingkarkan kedua lengannya dileher Siwon.
Siwon memindahkan kedua tangannya menuju pinggang Kyuhyun. Menyentuh langit-langit mulut Kyuhyun membuat Kyuhyun mengerang. Siwon melilit lidah Kyuhyun dan merasakan lelehan saliva mereka diujung bibir Kyuhyun. Siwon mengakhiri ciuman basah mereka dengan sebuah jilatan diujung bibir kekasihnya.
Siwon menatap Kyuhyun yang merona dengan senyuman yang kembali tercipta dibibirnya.
"Aku bahkan tidak tahu bagaimana cara memulai ungkapan terima kasihku padamu, Kyu."
Kyuhyun memandang Siwon tidak mengerti, "Terima kasih?"
Siwon mencium dahi Kyuhyun kemudian menghirup aroma tubuh Kyuhyun melalui rambutnya. "Atas segalanya. Terima kasih."
"Aku tidak mengerti apa maksudmu, Hyung. Kau membuatku gugup. Apa ini ada hubungannya dengan Stella?"
Siwon kembali menatap Kyuhyun. Mengusap sisi wajah Kyuhyun dengan ibu jarinya. Kulit Kyuhyun terasa begitu lembut dibawah sentuhannya.
Siwon menggeleng.
"Aku telah berbicara kepada Stella dan aku sudah menjelaskan semuanya. Aku berterima kasih atas orang tuaku."
Kyuhyun melebarkan matanya, "Ap-apa yang terjadi pada kedua orang tuamu, Hyung? Apa mereka baik-baik saja?"
Siwon melebarkan senyumannya, "Mereka lebih dari baik-baik saja, Sayang. Aku menceritakan semuanya. Mengenai keputusanku. Mereka mendukungku. Mengatakan bahwa sudah saatnya bahagia."
Kyuhyun memiringkan wajahnya, "Lalu apa hubungannya denganku? Maksudku, kenapa kau berterima kasih padaku, Hyung?"
Siwon menatap Kyuhyun. Merasakan jantungnya ingin meledak sewaktu-waktu. Terjerat dalam indahnya tatapan Kyuhyun. Siwon tidak yakin dia bisa berhenti memandang iris indah itu.
"Karena dirimu membuat mereka akhirnya mengerti bahwa kebahagiaanku adalah bersamamu."
Siwon bisa melihat pupil Kyuhyun membesar seiring dengan tetesan air mata yang mulai turun perlahan membasahi pipi Kyuhyun. Dan Siwon mengerti.
Dia benar-benar jatuh terlalu dalam pada orang dihadapannya.
Kyuhyun perlahan mengembangkan senyumannya.
"Benarkah?"
Siwon menemukan refleksi dirinya dalam iris gelap kekasihnya. Seakan mengatakan bahwa memang hanya dirinya yang dilihat oleh sosok dihadapannya. Memangnya siapa yang tidak akan bahagia memiliki seseorang seperti Kyuhyun dalam hidupnya?
Siwon mempertemukan dahi keduanya dan memeluk tubuh kekasihnya.
"Sekali lagi kau mengisi bagian dari diriku yang aku tidak tahu pernah ada dan hilang. Kau memenuhi setiap bagian hidupku yang hilang dengan jutaan keping kebahagiaan. Kau mengisi hatiku dengan berbagai perasaan yang tidak bisa aku gambarkan. Katakan padaku bagaimana bisa kau melakukan itu? Agar aku bisa melakukan hal yang sama untukmu…"
Kyuhyun menemukan dirinya menangis dalam pelukan Siwon. Perasaan yang ia rasakan begitu memenuhi dadanya. Menyesakkan dadanya dengan cara yang begitu menyenangkan. Kyuhyun ingin bersembunyi selamanya dalam perasaan itu. Ia tidak pernah sebahagia ini. Bahkan tidak sekalipun dia berani memimpikannya.
Kyuhyun meremas ujung kemeja Siwon dan mengeratkan pelukannya pada Siwon. Seakan ia tidak ingin terbangun dari mimpinya yang begitu indah.
Untuk pertama kalinya Kyuhyun begitu menginginkan sesuatu dalam hidupnya.
"Jangan pernah tinggalkan aku, Hyung… Karena jika kau pergi, aku tidak yakin aku bisa bertahan. Aku benar-benar mencintaimu hingga rasanya aku bisa mati. Bisakah aku memilikimu selamanya?"
Siwon mengangkat wajah Kyuhyun dan menatapnya. Ia bisa melihat sebuah harapan yang tersirat seiring goresan iris yang menghiasi manik sosok dihadapannya.
"Selamanya adalah waktu yang lama, Sayang. Mari kita mulai semuanya dengan saling memahami? Aku ingin mengenalmu lebih dalam, memahamimu lebih baik. Aku tidak ingin menjadi suatu kekecewaanmu suatu hari nanti…"
Kyuhyun mencium bibir Siwon lembut dan memejamkan matanya. Keduanya memejamkan mata atas ciuman singkat itu. Kemudian kembali menatap satu sama lain.
"Bagaimana jika kita mulai denganku? Bagaimana jika akhir pekan ini kita habiskan di kampung halamanku?"
Siwon tersenyum dan kembali mempertemukan dahi mereka, "Sempurna."
.
.
.
.
.
To be continued
Note:
Sorry for typos as usual ((:
By the way, sudah baca oneshot special WonKyu Day-ku kah?
Oh dan cek ceritaku yg lain yaaaa guys teheheheee~
*shamelessly promoting her own story lmao
Doakan ujianku ya, readers tersayang xoxo
*Spoiler: Next chapter will be M rated lol
