Aku dilahirkan dengan nama *** ***.

Terlahir sebagai anak kedua dari keluarga pesulap, bukan, penyihir yang bisa dibilang, merupakan salah satu yang terbaik di negeri ini. Anak dari pasangan suami-istri yang mengelilingi bangsa hanya demi menyebar kebahagiaan.

Memamerkan sihir ajaib mereka, membuat para penonton memutar otak hanya untuk mencoba menjelaskan apa yang mereka saksikan dengan logika manusia.

Sayangnya, itu tidak mungkin.

Karena apa yang mereka saksikan, apa yang kedua orangtuaku lakukan, tak perlu diragukan lagi, adalah sihir yang sesungguhnya. Sesuatu yang hanya dapat dilakukan oleh mereka yang percaya dan mengetahui kebenaran dari dunia.

Tidak seperti para penonton, aku selalu percaya pada mereka. Aku selalu percaya bahwa apa yang mereka berdua lakukan adalah sihir yang sejati.

Di mataku, cara orang-orang memandang sihir saat ini, sama dengan cara orang-orang zaman dulu yang menghina Copernicus gila karena mengatakan bahwa Bumi ini bulat.

Tak ada yang percaya, tapi itulah kenyataan.

Karena itu, aku tetap percaya, bahwa sihir itu benar-benar ada. Karena itu, aku tetap menanti, hingga masa di mana semua orang percaya akan sihir datang.

"Siapa yang membuat ini?"

Ibu jari dari Bu Luka, wali kelasku di SD Vokazuri ini, menunjuk lingkaran sihir yang digambar dengan begitu indah dan apik di papan tulis kapur. Walau ia bertanya, jelas-jelas matanya mengarah padaku.

Aku bisa mendengar suara anak laki-laki dari belakang,

"Biasa, Bu. *** si penyihir. Siapa lagi yang bisa membuat sesuatu seperti itu selain penyihir asli? Ahahahaha."

Namanya Shion Kaito. Sepertinya kami selalu berada dalam satu kelas sejak pertama kali masuk sekolah, tapi baru di tahun keempat ini kami saling mengenal.

"***, jadi lagi-lagi ini perbuatanmu, ya? Tolong segera hapus. Kita tidak bisa memulai pelajaran. Ayo hapus, ***. Tunjukkan rasa tanggungjawabmu."

Ya, walau aku bilang kami saling mengenal, itu bukan berarti kami adalah teman.

Ah, setelah aku pikir-pikir... berapa jumlah teman yang kumiliki sekarang? Entah... tak ada satu pun wajah seseorang yang terlintas saat aku memikirkan kata itu.

Kebanyakan murid tertawa mendengar kalimat Kaito. Aku hanya diam tanpa merubah ekspresi. Melihat wajahku yang seperti ini, murid yang duduk di sebelahku mengangkat tangan,

"Tapi, Bu. Aku yang pertama kali datang pagi ini, dan tanda itu sudah ada di sana."

"Eh...?"

"Paling si *** masuk duluan dan bersembunyi sampai kau datang, Rin," Kaito jelas-jelas tak ingin menyerah untuk mempermalukan aku.

Lagi, suara tawa terdengar—

"Itu mustahil! Soalnya aku sendiri yang membuka kunci pintu kelas ini! Tanya saja ke penjaga sekolah. Dia juga pasti bilang kalau aku adalah orang pertama yang meminjam kunci itu pagi ini."

lalu, suara tawa terhenti.

Anak berambut biru itu berkeringat dingin, "... k-kalau begitu, *** menggambar gambar ini kemarin!"

"Itu... juga mustahil, Kaito. Ibu sendiri yang mengunci kelas ini setelah semuanya pulang. Ibu juga bahkan memastikan semua jendela terkunci," Bu Luka, dengan tatapan yang tak mampu kumengerti, melihat ke arahku, "... ***, kapan dan bagaimana caramu masuk ke kelas untuk menggambar ini...?"

Aku tersenyum.

Saat semua orang menatapku dengan bermacam-macam mata, aku berdiri dari bangku. Memutar, membalas tatapan setiap murid kelas empat sekolah dasar ini dengan sebuah senyuman simpul.

Dengan suara yang manis, aku berkata,

"—dengan sihir."


Vocaloid © Yamaha, Crypton.

Ini adalah ujung dari permainan.
Aku sudah bosan menunggu kalian sampai pada jawaban.
Sudah saatnya bagi sang serigala untuk menampakkan diri.

Saatnya menjawab pertanyaan yang selalu kalian pertanyakan sejak awal,

"Siapa... aku?"

Saat Bel Berbunyi

EPISODE 06
— 11-11-2011, Menuju 23:11 —


"Tidak... mustahil. Len... jangan katakan... kau adalah... salah satu... pelakunya?"

Len berdiri di hadapanku.

Mengapa sosok pemuda dengan tinggi tubuh di bawah rata-rata itu terlihat sangat menakutkan? Aku bertanya-tanya pada diri sendiri, dan tetap tak menemukan jawaban.

Beberapa saat yang lalu, tidak, bahkan mungkin sekejap yang lalu, aku mendengar sebuah pertanyaan mengejutkan yang keluar dari mulut sang pemuda pecinta misteri ini,

"Tersangkanya hanya ada dua; kau dan aku. Kau bebas dari tuduhan karena tidak sadarkan diri selama lima belas menit kemungkinan waktu kejadian. Di sisi lain, itu justru membuat alibiku, 'selalu bersama denganmu', menjadi tidak berlaku karena ketiadaan saksi."

"..."

"Nah, Miku," ia menatap langsung dari mata ke mata, "Siapakah pelakunya? Ini bukan pertanyaan yang sulit. Kau hanya perlu memilih antara A dan B, dan A sudah dipastikan adalah jawaban yang salah."

"Pelakunya... adalah orang kedelapan."

Aku menjawab.

Aku membuang wajah, memutus garis yang terhubung di antara iris kami sejak beberapa saat yang lalu. Dengan nada ragu, aku mencoba mengucapkan kebenaran yang aku yakini.

"Meski kau tahu bahwa mustahil memotong tubuh manusia menjadi lima bagian dalam waktu lima belas menit seorang diri?"

"Kalau begitu," aku menelan ludah sebelum lanjut menjawab, "Bisa saja bukan hanya orang kedelapan, tapi orang kesembilan dan kesepuluh juga ada di sekolah ini."

"..."

Len... tertawa.

"Kukuku... ahahahaha! Kalau kau adalah detektif dari sebuah novel misteri, pasti aku akan langsung menyebut namamu saat ditanya siapa detektif fiktif yang paling inkompeten menurutku."

"Ah...?"

"Detektif tidak boleh menghindari menuduh tersangka tertentu hanya karena memiliki hubungan khusus dengannya," tanpa aku sangka, senyum sinis Len berubah menjadi senyum biasa, "Detektif juga tidak boleh menjadi pelaku—karena itu adalah salah satu aib terbesar di dunia misteri."

"Itu... artinya...?"

"Aku bukan pelaku," Len mengelus puncak kepalaku ringan, "Tidak, akan kukatakan dengan tegas. Kagamine Len bukanlah serigala, dan tidak pernah membantu atau melakukan pembunuhan itu sendiri."

"..."

"Kenapa kau diam?"

"—b-bukan apa-apa."

Aku yakin wajahku sedang tersipu merah saat ini—terbukti dari rasa panas yang terasa di wajah, seolah-olah darah di seluruh tubuh berlomba-lomba naik ke sana.

"Aku cuma... baru tahu... kalau kau bisa tersenyum seperti... itu..."

"... barusan kau bilang apa?"

"Lupakan," aku menggelengkan kepala dengan cepat.

... Apa-apaan aku ini? Bisa-bisanya kalimat memalukan semacam tadi keluar dari mulutku begitu saja. Entah apa yang akan terjadi kalau pemuda culun itu benar-benar mendengar apa yang kukatakan barusan.

Bisa-bisa mulai besok aku tidak bisa hidup dengan tenang di sekolah.

... besok.

Kata yang terdiri dari lima huruf tersebut membuatku berpikir, bahwa kata tersebut mungkin tak akan pernah ada untuk kami berdua.

Bahkan bila aku selamat sesuai yang Len inginkan, dan berniat mulai bersikap baik padanya di sekolah, kesempatan untuk melaksanakannya tidak akan pernah datang.

Karena Len, atau bahkan kami berdua, akan mati malam ini.

"Selamat pada dua domba terakhir yang masih bertahan hidup!"

—tiba-tiba, tanpa diduga, sebuah suara raksasa menggema dari speaker yang terletak di pojok atas ruangan. Suara yang sama dengan yang terdengar di awal permainan dua setengah jam yang lalu.

Aku dan Len saling menatap satu sama lain, sebelum akhirnya memusatkan perhatian pada speaker hitam itu dan mendengarkan baik-baik apa yang ingin 'serigala' katakan.

"Aaah, sungguh permainan yang membosankan. Padahal aku sudah katakan kalian bisa mengundur kematian jika bisa memecahkan satu misteri. Tapi apa-apaan ini? Jangankan pembunuhan, kalian bahkan tidak bisa memecahkan teka-teki bonus yang kubuat! Aku sungguh kecewa, kecewa."

Apa-apaan... nada bicara yang ceria itu?

Kenapa dia bisa membunuh lima orang dengan cara yang tak manusiawi, dan masih bersikap tenang seolah-olah yang ia lakukan hanyalah bermain-main dengan semut?

Pemilik suara ini... tanpa diragukan lagi... adalah seseorang yang sudah terbiasa dalam membunuh. Atau sesuai dengan apa yang aku duga selama ini—seorang psikopat.

"Padahal aku sudah berbaik hati memberimu kesempatan untuk menjadi detektif dalam satu malam. Tapi apa-apaan ini? Kau benar-benar mengecewakanku—Kagamine Len!"

"—!"

Kenapa ia tiba-tiba menyebutkan nama Len...? Tidak, daripada itu, apa maksud dari kata-katanya barusan?

"Hei, hei. Apa kau belum menceritakannya tentang kesepakatan di antara kita, Tuan Detektif? Jangankan detektif, kau bahkan gagal sebagai seorang pria."

"... kesepakatan? Apa yang sedang ia bicarakan, Len?! Bukankah kau bilang kalau kau tidak punya hubungan dan tidak tahu apa-apa tentang kejadian malam ini?!"

"..."

Ia tak mau menjawab.

Len, dengan kedua tangan yang mengepal dan bergetar saking kuatnya, tak mau mengucapkan sepatah kata pun pada diriku yang berdiri di balik punggungnya.

"Kalau begitu kuberi waktu kalian hingga permainan terakhir dimulai. Tak perlu menunggu waktu yang tidak ada tiba. Begitu waktu dipenuhi oleh angka satu, aku akan menghubungi kalian lagi. Sampai saat itu, sampai jumpa."

Krrzt.

Suara yang keluar dari speaker itu terputus.

'Waktu yang tidak ada'.

... sudah terlambat memikirkannya.

Tidak ada artinya lagi aku mengetahui bahwa yang dimaksud oleh kata itu adalah jam 24.00 dan 00.00 yang saling tumpang tindih. Jika pukul 24.00 ada, maka pukul 00.00 tidak ada. Begitu juga sebaliknya.

Oleh sebab itu, masa satu detik, tidak, persekian detik, masa paling ujung dari hari ini dan paling awal dari hari esok, adalah waktu yang tidak pernah ada.

Mengetahuinya sekarang benar-benar tak memiliki arti apa pun. Bila ada yang harus aku tahu, itu adalah maksud dari kata-kata yang dikeluarkan oleh sang pelaku kepada Len.

Aku tetap diam, menunggu Len untuk membicarakannya sendiri.

Lalu, secara perlahan, tangannya yang mengepal mulai terbuka, seolah berhasil mendapatkan kembali ketenangannya. Dengan suaranya yang masih serak seperti biasa, ia mulai bersuara

Len, tanpa menghadap ke arahku, mulai mengatakan apa yang seharusnya ia katakan sejak pertama kali kami berjumpa.

"Aku... adalah detektif."

Ia terlihat merenung.

Walau kini ia memutar secara perlahan dan menghadap ke arahku, poni pirang yang panjang itu menutup wajah tertunduknya, membuat aku tak mampu membaca ekspresi yang ia ciptakan.

"Benar. Aku adalah detektif. Aku adalah domba yang dipilih oleh Sang Serigala untuk menjadi karakter utama dari permainan ini—untuk menjadi lawan bermainnya, dan menjelaskan semua misteri yang ia ciptakan."

Tapi itu aneh, 'kan? Benar, sikap Len sepanjang 'permainan' memang menunjukkan tendensi bahwa ia adalah detektif satu malam yang kebetulan ikut terdampar di mimpi buruk ini. Walau begitu—

"Kau pasti akan bertanya, lalu kenapa aku tidak sekalipun mencoba menyelesaikan permainan ini? Jawabannya sudah jelas, 'kan? Aku menyerah."

"... eh? Menyerah...? Kenapa?"

"Hei, Miku," ia mengangkat wajah. Wajah sendu dengan tatapan kosong, "Kau tahu apa salah satu syarat utama cerita misteri? Pelaku adalah orang yang sudah muncul dari awal. Cerita yang menuduh karakter x yang tak pernah muncul... bukanlah misteri."

"..."

"Kau masih belum mengerti? Tugas utamaku adalah menemukan identitas Sang Serigala, orang yang menciptakan permainan gila ini. Tapi di sisi lain, serigala adalah karakter kedelapan yang tak pernah muncul. Bagaimana bisa... aku menjawab pertanyaan semacam itu?"

—bagaikan disuruh menjawab pertanyaan tentang suatu wacana, tanpa diberikan wacana yang dimaksud. Bagaikan disuruh menjawab pertanyaan tentang pelajaran yang tak pernah kau pelajari.

Sebuah pertanyaan yang tak dapat ia jawab. Permainan yang tak beralasan, permainan busuk yang tak mungkin pernah bisa diselesaikan.

"... tapi... Si Serigala seharusnya menghubungimu, 'kan? Kau harusnya tahu siapa identitasnya!"

"Benar, aku tahu," wajah Len makin dilaruti oleh kekecewaan, "Aku baru mengetahuinya setelah ia menampakkan dirinya dua puluh menit yang lalu. Ia adalah orang yang membuatmu pingsan. Permainan sudah berakhir. Aku sudah mengetahui kebenaran—dan menjadi domba keenam."

"Siapa...?! Katakan, Len! Siapa pelakunya?! Katakan! Dia ada di antara kita bertujuh?! Atau benar-benar orang kedelapan yang belum pernah muncul sebelumnya?! KATAKAN, LEEEN!"

Cengkraman tanganku pada bahu kurus Len sama sekali tak membuatnya menggerakkan mulutnya. Aku langsung mengerti apa maksudnya—ia tak mampu berbicara.

Dengan tangannya, ia menarik sedikit kantong kemeja yang ada di balik blazer. Sembari memberi isyarat untuk tetap diam dan tak mengatakan apapun, ia menunjukkan penyebabnya—

sebuah ponsel yang berada dalam keadaan menelepon.

"Aku tidak bisa mengatakannya. Yang pasti, bila aku memberitahumu identitas dari Sang Serigala, ia tidak akan memberikanmu kesempatan dan langsung membunuh kita berdua."

Ia berbicara dengan lihai, membuat seolah-olah kami belum mengetahui keberadaan ponsel yang mendengar semua pembicaraan kami itu. Len kembali berbicara,

"—peranku sudah usai. Mulai sekarang ia ingin kau yang menjadi detektifnya, Miku. Bila kau bisa mengetahui kebenaran, ia akan membiarkanmu hidup. Itu adalah kesepakatan yang kami buat setelah kau kehilangan kesadaran."

"Tunggu... apa maksudnya itu...? Aku? Detektif? Kebenaran...? Aku tidak mengerti apa yang sedang kau bicarakan!"

"Tepat pukul sepuluh malam, aku harus meninggalkanmu dan menjadi domba keenam. Lalu kau, sebagai 'detektif' yang baru, akan menunggu di sini hingga 'waktu yang dipenuhi angka satu' tiba."

"J-jangan bercanda! Kenapa kau harus pergi hanya untuk menerima kematianmu?! Kau tidak perlu mendengarkannya... benar, Len. Kau tidak perlu mendengarkan perkataan orang gila itu. Kau cukup berada di sini... bersamaku."

"—dan menerima kematian bersama-sama?" seolah tak peduli dengan situasi, Len malah pamer cengiran, "Maaf, Miku. Aku tidak cukup romantis untuk melakukan hal semacam itu."

"Kalau begitu, kalau begitu... sekarang kita melarikan diri bersama! Kita bisa kabur lewat jendela di lantai satu dan berlari sekuat tenaga! Atau membuat tali dari tirai dan menggunakannya untuk turun dari jendela di kelas 3-A! Atau, atau—"

memutuskan telepon dan menggunakan ponsel di kantongmu itu untuk menghubungi polisi.

Kenapa aku tidak bisa mengatakannya?! Kenapa?! Kenapa di kepalaku terus bermunculan bayangan-bayangan aneh, gambaran-gambaran yang mengatakan bahwa itu adalah hal yang paling tak boleh dilakukan?!

"Percuma. Kau mau kita bernasib sama dengan Kaito?"

"... aku..."

Dengan satu tarikan nafas, aku berkata.
Dengan airmata yang menetes, aku berujar.
Dengan jantung yang panas, aku berucap.

Kata-kata yang tak pernah aku bayangkan akan kuucapkan pada seorang Kagamine Len. Kata-kata yang selalu aku tolak dengan alasan konsentrasi belajar. Kata-kata yang kupikir hanyalah kristalisasi dari kebohongan belaka.

Tanpa mempedulikan wajah pemuda yang kebingungan, aku mengungkapkannya dengan keras—

"—aku menyukaimu."

"..."

"Aku ingin pergi dari sini bersamamu, menyombongkan betapa pintarnya pria yang kusukai pada dunia. Aku ingin pergi dari sini bersamamu, dan sekali lagi menunggu saat bel berbunyi di kelas yang sama. Aku... ingin bersamamu."

"Miku..."

"Maaf aku memanggilmu menjijikan. Maaf aku menganggapmu pemuda yang menyedihkan. Maaf aku tidak pernah menyadari keberadaanmu selama ini. Aku minta maaf atas segalanya, karena itu, ayo—"

Sensasi yang menenangkan.

Perasaan yang dingin, namun hangat. Lengan dari pemuda tersebut bergetar akan dinginnya malam, melingkari leherku, di dalam ruang kelas yang disinari cahaya lampu, seolah mencoba untuk menciptakan kehangatan.

Pelukan sejenak tersebut meninggalkan aku dalam sejuta perasaan yang tak mampu aku gambarkan dengan kata-kata atau suara—dan bahkan ekspresi wajah.

"Kebetulan sekali. Aku... juga."

Bersama dengan lengannya yang melepas pelukan, kakinya melangkah mundur secara perlahan. Walau tanganku mengejar untuk mencapainya, ia hanya menjauh sambil berkata,

"Maaf aku hanya bisa menjadi pacarmu selama beberapa menit... tidak, bahkan satu menit pun tidak sampai, ya."

"Len... Len...!"

Jangan pergi.

Aku mohon... jangan pergi. Jangan tinggalkan aku sendirian. Bawa aku bersamamu. Aku tidak peduli walaupun kita mati bersama, aku sudah tidak peduli lagi. Aku sudah tidak peduli lagi—

"Sampai jumpa... bukan, selamat... tinggal."

Langkah kaki mundurnya dengan cepat berubah menjadi langkah maju dalam satu kali putaran. Laki-laki menjijikkan yang baru saja memberikan pelukan hangatnya padaku itu terus berlari.

Tak mempedulikan perempuan yang ia baru jadikan kekasih selama waktu yang sangat singkat, Kagamine Len pergi meninggalkan ruang kelas.

"—Aku percaya kau bisa mencapai kebenaran, Miku."

"..."

Aku menangis sendirian.

Tak sanggup mengejar pria yang membuang nyawa demi perempuan sepertiku, aku menangis sendirian.

Di dalam ruang kelas, di tengah dinginnya malam, di depan kejamnya kenyataan, aku, sembari memeluk erat kedua lutut, terus-menerus, menangis dalam kesendirian.

Detik demi detik.

Menit demi menit.

Waktu terus berlalu, dan tanpa kuketahui sudah berada di mana dewa kematian berdiri.

Aku tak ingin melihat jam.

Aku tak ingin mengetahui waktu.

Namun begitu suara ledakan senjata api terdengar di kejauhan,
Aku tahu. Walau aku tak ingin mengetahuinya, aku tahu.

Pukul sepuluh malam telah tiba.
Domba keenam—mati setelah mengetahui kebenaran.

(vi) —

"Kerja bagus, ***. Itu sihir yang menakjubkan. Bagaimana wajah teman-temanmu saat melihatnya? Sangat menyenangkan dilihat dengan tatapan tak percaya, bukan?"

"Iya, ***. Mereka tidak tahu kalau aku meminjam kunci dari penjaga sekolah kemarin sore dengan alasan ada barang yang ketinggalan."

Aku tersenyum lembut.

"Benar. Selama tak ada yang tahu, ini akan tetap menjadi sihir. Selama tak ada yang mengetahui rahasianya, semua kejadian tak terjelaskan di dunia ini adalah sihir."

Ia memujiku.

*** memuji sihir yang berhasil aku ciptakan dengan kerja kerasku sendiri. Dengan tangan besarnya, ia mengelus rambutku dengan lembut, memuji sihir menakjubkan yang sukses kulakukan.

Ini saja sudah cukup.

Hal kecil seperti ini sudah cukup untuk memberikan aku sesuap perasaan bernama kebahagiaan.

"..."

Keesokan harinya, sepulang sekolah, aku bertemu dengan anak itu. Anak laki-laki yang berusia satu tahun lebih muda daripada aku—adik laki-laki Rin yang sudah lama terpisah.

Mereka tak terlalu akrab. Bahkan di mataku, mereka bersikap seolah-olah seperti orang asing yang tidak saling mengenal. Namun sore itu, mereka mendatangiku bersama-sama.

"Ini Len, adikku."

"Salam kenal."

Aku membalas ucapan kecil yang keluar dari mulut anak laki-laki itu dengan anggukan ringan. Lalu, tanpa menunggu apapun lagi, Rin, dengan wajah sombong yang tak aku mengerti, berkata,

"Adikku ini sangat pintar. Ia sudah tahu rahasia dari 'sihir' yang kau lakukan kemarin."

Itu adalah bagaimana aku bertemu dengan Kagamine Len.

"Kau meminjam kunci dari penjaga sekolah kemarin sore, saat semua guru dan murid sudah pulang. Kau lalu meminta si penjaga sekolah untuk merahasiakan hal ini... benar, 'kan?"

"..."

Sejak saat itu, kami selalu berdebat akan keberadaan sihir.

Hampir setiap hari, aku akan menunjukkan padanya trik-trik baru yang diajarkan oleh orangtuaku—yang entah sejak kapan berubah menjadi 'misteri' dan 'teka-teki', dan dia akan menjadi orang yang memecahkannya.

Mungkin fakta bahwa kami berdua sama-sama anak yang kurang mampu bersosialisasi adalah salah satu faktor pendukung. Karena perbedaan kelas, kami juga biasanya hanya bertemu saat jam istirahat.

Seperti hari ini, misalnya.

"Kau tewas di dalam sebuah ruangan. Kuncinya hanya ada satu, tergantung di lubang dalam, dengan kunci geser dan rantai yang terpasang. Semua jendela terkunci rapat, dan tidak ada jalan keluar melalui lantai atau pun atap. Bagaimana aku melakukannya?"

Saat aku berada di kelas enam, ia masih kelas lima. Ini adalah pertemuan terakhir yang kami lakukan sebelum aku pindah ke Vokajima. Sebagai hadiah perpisahan, aku memberikannya misteri tersulit yang aku ciptakan.

"Kau membunuhku dari luar. Aku masuk ke dalam ruangan dan mengurung diri," Len tersenyum sinis, "Hei, ***. Kau yakin mau memberikan pertanyaan semudah ini sebagai hadiah perpisahan?"

"Salah. Aku tidak melakukan pembunuhan di luar ruangan."

"Kalau begitu, setelah kau membunuhku, kau bersembunyi di dalam ruangan, menunggu seorang saksi datang dan ruang tertutup dihancurkan. Setelah saksi pergi dari ruangan, kau secara sembunyi-sembunyi ikut keluar dari ruangan ini."

"Salah. Saat saksi pertama masuk ke dalam ruangan, tak ada orang selain dirimu."

"Hmm... bagaimana dengan... kau mengancam akan membunuhku bila aku keluar, sehingga aku mengunci diriku sendiri, dan lalu mati kelaparan?"

"Apa-apaan itu? Kau sudah putus asa?" aku tertawa kecil, "Baiklah kalau begitu. Kau boleh menyimpan misteri ini sebagai kenang-kenangan. Sebagai gantinya, kau harus mengetahui jawabannya saat kita bertemu lagi."

"Tunggu dulu!" ia berteriak, melihatku yang mulai berdiri meninggalkan taman yang menjadi tempat pertemuan terakhir ini, "Misteri ini bisa dipecahkan, 'kan? Kau tidak sengaja memberikan aku kasus yang tak bisa dijawab, 'kan, ***?!"

"Tentu saja, Len. Jika kau benar-benar seorang detektif, kau pasti bisa menjawabnya."

(vi) —

Aku mengenal gadis itu saat naik ke kelas dua di SMP Vokajima.

Tidak, daripada mengenal, mungkin lebih tepat bila disebut mengetahui—aku ragu siswi idola sepertinya bisa mengenalku yang... seperti ini.

Ia adalah anak kelas satu yang paling terkenal di sekolah. Aktif dalam berbagai kegiatan ekstrakurikuler sekolah, pandai, cantik, dan bahkan disukai oleh para murid dan guru.

Sungguh—sebuah keberadaan yang mewakili kesempurnaan.

Meski ia adik kelasku, aku mengaguminya dari lubuk hatiku yang terdalam. Mungkin aneh mengatakan ini, tapi bisa dibilang, aku mungkin menyukainya.

Kami hanya pernah berbicara satu kali.

Benar. Satu kali. Kali pertama dan terakhir. Pada acara perpisahan saat aku kelas tiga, aku berbicara padanya yang selaku anggota OSIS, bertugas sebagai panitia acara.

Tidak, pembicaraan kami bukanlah sesuatu yang formal.

Kala itu, aku, sebagai seseorang yang hampir tak memiliki teman, menghabiskan waktu dengan menulis ulang misteri terakhir yang dulu kuberikan pada Len di atas secarik kertas.

Bagai kebetulan dramatis yang hanya ada di film-film roman picisan, kertas itu terjatuh ke lantai. Lalu, adegan selanjutnya, hampir seperti yang kau kira—tanganku dan tangannya bersentuhan ketika hendak mengambil kertas itu.

Pada akhirnya, aku membiarkannya untuk mengambil. Ia sudah repot-repot menunduk. Aku juga tak ingin dipanggil aneh karena heboh hanya karena sebuah kertas.

Ia melihat kertas itu sejenak, lalu berkata dengan nada riang yang manis,

"—jawabannya—"

Dengan bibir lentiknya, ia menjelaskan hipotesa yang ia dapatkan hanya dengan membaca tanpa perlu mendengar penjelasan yang lebih lanjut.

"Benar, tidak? Aku cuma asal tebak, sih... Aku kurang paham dengan teka-teki yang seperti ini."

"... benar... itu benar, kok! Mengagumkan. Kau pandai sekali, ***-san."

"Ah, tidak," ia tersenyum lembut, matanya memandang ke arah nama yang terjahit di bagian dada blazerku,"Kak *** yang membuat ini jauh lebih pintar."

(vi)

Jam di tanganku menunjukkan pukul sebelas malam lewat lima menit. Sudah satu jam lebih berlalu sejak aku mendengar suara tembakan yang mungkin mengakhiri nyawa kekasih sesaatku.

Selama itu, aku hanya menghabiskan waktu dengan duduk melamun, menangisi tragedi mengerikan yang si pelaku anggap sebagai permainan ini. Aku hanya merenung, mengenang kembali memori serta kenangan yang sudah berlalu.

"..."

Ini... adalah kenyataan.

Tujuh orang diculik dan dikurung di sekolah ini oleh seorang psikopat yang tak dikenal. Enam orang sudah mati, menyisakan diriku seorang, menunggu waktu yang dipenuhi angka satu datang.

11 November 2011, pukul 11:11 malam.

Ah, membicarakan tanggal, aku jadi teringat betapa kesalnya aku karena tidak bisa membuat status di sosial media tepat pada jam sebelas lewat sebelas menit tadi siang.

Tapi jelas, tak mungkin aku bisa membuat status pada situasi seperti ini. Aku hanya terus duduk tertegun, menunggu datangnya dewa kematian yang segera menjemput—

"Hatsune Miku, datanglah ke kantor kepala sekolah."

Aku berdiri.

"Jangan khawatirkan pacar satu menitmu. Ia sekarang sudah beristirahat dengan tenang di akhirat sana. Tenang saja, aku sudah bilang padanya kalau kau akan segera menyusul."

Membuka pintu yang Len tutup untuk menjaga diriku, aku berjalan, melangkahkan kaki keluar dari ruang kelas 3-H.

"Kau sudah dengar darinya, bukan? Aku telah memilihmu sebagai detektif yang baru. Ah, tidak. Karena aku adalah 'serigala', berarti kau adalah 'pemburu'... 'pemburu kebenaran'. Ahahaha."

Derap langkah ringan yang aku gerakkan tanpa pikiran. Aku secara perlahan namun pasti, menuruni tangga yang berada di tengah-tengah koridor gedung tiga lantai ini, dan sampai pada lantai paling bawah.

"..."

Tanpa menunggu suara selanjutnya, tanpa mengetuk pintu kayunya yang mengkilap, aku segera meraih kenop panjang tersebut dan membuka pintu—

"Selamat datang di ruang kebenaran, Hatsune Miku."

"... ini..."

Ruangan yang terang.

Kantor kepala sekolah berukuran tak lebih dari sepertiga ruang kelas ini, yang kuketahui dipenuhi oleh furnitur, kini hanya terdiri dari dua meja dan satu kursi.

Tidak... saat aku menoleh, aku masih bisa melihat benda-benda lain—sofa, lemari, dan televisi, semuanya disingkirkan, ditaruh secara sembarangan di pinggir ruangan, membentuk suatu garis raksasa di antara aku dan 'dia'.

Dua meja yang ada di tengah ruangan seolah membatasi kami. Satu berada tepat di depan kursi, sedangkan yang satu ada di depanku.

Ia—bukan,' itu' berada di atas kursi putar. Di belakang punggungnya, dari jendela kaca yang terhalangi teralis besi, bulan purnama yang seolah sudah menunggu dapat terlihat dengan jelas.

Sebuah kepala. Kepala yang berbeda, namun dengan tubuh yang aku kenal dengan baik. Seragam SMA Vokajima, bahu yang kecil, lengan yang kurus, tubuh yang pendek—kepala yang tertutup topeng.

"Apa kau sudah siap untuk permainan terakhir?"

Suaranya tak lagi merupakan suara aneh yang jelas-jelas dirubah. Aku mendengar suaranya dengan jelas.

Walau wajahnya tertutup oleh kepala serigala yang biasa kau temui pada kostum maskot taman hiburan, suaranya terdengar jelas karena terhubung dengan speaker yang ada di ruangan ini.

"..."

Gigiku saling beradu, menimbulkan bunyi yang mencapai telinga.

Sosok yang terduduk di kursi kepala sekolah... dari nama yang ada di atas blazernya, tanpa diragukan lagi, adalah tubuh milik Kagamine Len.

"Jangan bercanda... ini kedua kalinya... apa membunuhnya saja tidak cukup untuk membuatmu puas?!"

"Tenang, tenang. Jangan marah seperti itu. Tidak akan menarik kalau aku langsung menunjukkan diri, bukan? Mencari tahu identitas pelaku itu tugas utama detektif."

Di depanku, di atas meja yang menghalangi untuk bergerak mendekat ke tubuh pria yang aku cintai—ah, akhirnya aku membuang malu dan mengakuinya dengan jelas—terletak benda hitam yang tak pernah kusangka akan kulihat sebelumnya.

Sebuah pistol.

Suara yang menggema itu kembali terdengar,

"Kalau begitu, ayo kita mulai permainan terakhir ini. Aturannya sangat mudah. Aku akan memberikanmu pertanyaan-pertanyaan mengenai misteri yang terjadi sepanjang permainan ini."

"Tergantung tingkat kepuasanku terhadap jawabanmu, kau harus menambah atau membuang satu peluru."

"Aku akan menampakkan diri setelah pertanyaan terakhir selesai, dan kau boleh menggunakan seluruh peluru yang kau miliki untuk menembakku."

"..."

"Inilah permainan terakhir! Apakah kau akan menembakku, membalaskan dendam semuanya, dan bertahan hidup?! Ataukah justru kau yang menyusul domba-domba lainnya ke dunia sana?!"

"Inilah saatnya kebenaran terungkap! Inilah saatnya permainan sesungguhnya dimulai! Inilah permainan misteri yang pertama dan terakhir!"

"Dengar, berpikir, dan jawablah. Nyawamu bergantung pada otakmu. Tunjukkan padaku semua potensi yang dimiliki oleh seorang manusia, HATSUNE MIKUUU—!"


BERSAMBUNG


Catatan Penulis:

This is the moment of truth. Semua petunjuk sudah terkumpul. No more hints. Episode depan adalah pertarungan hipotesa, debat kebenaran antara serigala dan pemburu.

Ending seperti apa yang akan diraih oleh Miku?!
Apakah ia akan mencapai kebenaran, atau mati tanpa mengerti apapun?!
Saksikan di episode puncak Saat Bel Berbunyi, Episode 07: 11-11-2011, 23:11!

(GUE NYESEL MAMPUS KARENA JAMNYA PAKE FORMAT 24 JAM DAN BUKAN PAKE AM/PM SIALAN)

SBB, vs. Pembaca #06

Ini adalah permainan terakhir antara kau dan aku.

Sudah saatnya bagi kalian, para manusia beruntung yang hanya menyaksikan dari jauh, untuk memberikan jawaban terakhir.

Pertanyaan,

"Siapakah aku?"

"Siapakah anak yang mempercayai sihir itu?"

"Bagaimana cara kalian menjelaskan trik ruang tertutup yang diciptakan olehnya?"

Petunjuk,

Trik yang kugunakan dalam permainan ini adalah trik ciptaan anak itu.
Mengetahui identitasku sama saja dengan membongkar semua misteri.

Aku bukan Hatsune Miku.
Aku bukan Kagamine Len.

Kalimat favoritku yang pertama, "Manusia tidak bisa kembali dari 'mengetahui' ke 'tidak mengetahui'," merujuk pada para manusia yang tahu bahwa sihir itu tidak ada.

Kalimat favoritku yang kedua, "Melupakan bukan merupakan dosa. Dosa sesungguhnya adalah tidak mengingat apa yang kau lupakan," merujuk pada Hatsune Miku yang seharusnya tahu rahasia dari trik ini.

Saat Bel Berbunyi, kebenaran masih akan terselimuti kegelapan.