Umie solihati balik lagi nih, maaf jika saya membosankan, huhuhu bingung nih mau pake kalimat pembuka apa, jadi langsung aja yuk balas review dari yang ga login :)

guest: Ini udah lanjut, makasih yah :)

hana: Yosh, ini sudah lanjut, arigatou :)

eri: Terimakasih sudah mau nunggu, ini lanjutannya :)

Rini Andriani Uchiga: Justru cewe itu lebih berbahaya dari Gaara, khukhukhu#ketawanista xD

ok, sekian dulu sesi balas reviewnya. Selamat membaca :)

.

Hinata benar-benar menyesali apa yang sudah ditanyakannya tadi pagi pada Shikamaru. Ia benar-benar tak menyangka dampak pada otaknya akan seluas ini sampai di jam yang seharusnya sudah terlelap tapi ia masih terjaga karena percakapan tadi pagi. Awalnya Hinata hanya heran, kenapa Sasuke tidak bersama Naruto dan Shikamaru. Karena masih canggung pada Naruto, ia pun berinisiatif bertanya tentang Sasuke pada Shikamaru. Lagipula tak ada salahnyakan menayakan hal itu. Tapi entah kenapa jawaban yang diberikan Shikamaru cukup mengganggunya.

Dia sedang pergi menemani seorang gadis. Kenapa? Merindukannya, eh?

Kalimat itu terus terngiang dikepalanya. Padahal sebelumnya ia biasa-biasa saja, tapi kali ini kenapa dia begitu penasaran dengan semua yang Sasuke lakukan.

Berulang kali ia menatap ponselnya. Ingin sekali menghubungi lelaki itu tapi rasanya sangat aneh atau mungkin dia gengsi? Padahal ia kan calon tunangannya. Ah ngomong-ngomong soal itu, Gadis bermata lavender itu jadi teringat dengan taruhan mereka. Hinata sudah tidak punya alasan lagi untuk tetap melanjutkan taruhan itu karena yah dia sudah patah hati mengetahui Naruto menyukai Sakura.

Haah, Hinata menghela nafas. Dia belum bisa memutuskan apa yang akan dilakukannya sekarang. Jika memang taruhan itu dilanjutkan maka ia hanya akan melewati sehari lagi, yaitu besok, Sabtu. Jika dia berhasil maka dia menang, dan pertunangannya akan dibatalkan. Sedikit rasa tidak rela muncul di hati Hinata akan hal itu, entah apa alasannya. Ia mengacak-acak surai indigonya, semuanya semakin rumit dan membingungkan.

"Taruhan, seorang gadis, dan..."

Apa benar aku merindukannya?

.

.

My Secret Girl

by

Umie Solihati

Disclaimer: Masashi Kishimoto

Warning: Au, typo, OOC, dll (jika ada waktu, mohon baca author notenya, ada yang ingin saya sampaikan :) )

happy reading n.n

.

.

Tiga orang yang paling terkenal di KHS sedang berjalan santai menuju kelasnya. Mereka bertiga terlihat tampan, keren, dan sempurna seperti biasanya. Dan tentu saja fans mereka selalu ada dan setia meneriaki nama dari pemuda-pemuda itu. Tapi kali ini sedikit berbeda karena ada seorang perempuan diantara mereka. Gadis pirang yang sangat cantik.

"Kyaaaa Princes angel..."

"Huwaaa cantik sekali..."

"Aku sangat iri..."

Masih banyak lagi teriakan-teriakan seperti itu. Gadis pirang yang sedari tadi menghapit tangan Sasuke membalas mereka dengan senyumannya.

"Uh, mereka merepotkan. Sekarang jumlahnya bertambah lebih banyak karena ada kau," ucap Shikamaru sambil menoleh pada gadis itu.

"Itu benar, ternyata Shion-chan masih punya fans yah, hahaha."

"Tentu saja aku kan Princes angel satu-satunya wanita paling cantik diantara kalian," balas gadis yang di panggil Shion itu diiringi kikikan kecil.

"Manusia berambut pirang memang merepotkan yah."

"Tapi kau menyukainya, Shika." Kini Sasuke yang ikut dalam perbincangan mereka. Shikamaru mengerling malas.

"Jangan bahas hal itu lagi."

"Maksudnya Ino-san? ku dengar dia akan bertunangan dengan si pucat itu. Shikamaru pasti sangat patah hati," celetuk Naruto.

BLETAK

Satu jitakan langsung mendarat di kepala Naruto setelah selesai mengatakan itu. Shion terkikik, sedang Sasuke hanya menatap maklum pada kelakuan kedua sahabatnya itu.

"Hey kau bisa membuat otakku rusak."

"Otakmu sudah rusak sejak lama dobe."

"Sudahlah, kalian ini. Kita sudah sampai dikelas kalian," lerai Shion. Mereka memang sudah sampai didepan kelas. Shion membuka pintu, dan dalam sekejap semua penghuni kelas memusatkan perhatian pada mereka. Detik berikutnya, teriakan histeris kembali muncul menyapa telinga mereka. Uh, sepertinya mereka harus memeriksa kenormalan indra pendengaran mereka.

Pandangan dari ketiga laki-laki itu kini terarah pada bangku yang diduduki Hinata dan teman-temannya. Mereka sempat bertatapan mata, tapi dengan cepat ketiga gadis itu langsung mengalihkan lagi pandangannya pada pemuda berambut merah yang duduk disebelah Hinata. Dihampirinya bangku ketiga gadis itu oleh mereka. Sasuke pribadi terus menatap tajam pada Gaara yang terus memegang tangan Hinata. Naruto sendiri menatap Sakura dengan pandangan sendu, Sakura terlihat tidak peduli. Sedangkan Shikamaru dan Temari, keduanya memang tak mempedulikan, atau mungkin berpura-pura tidak peduli?

"Kalian tau, aku lebih membenci orang berambut merah," ucap Sasuke frontal.

"Itu benar, mereka sangat menyebalkan." Hinata dan Sakura tau arah pembicaraan Sasuke dan Naruto, keduanya pun menatap dua laki-laki yang barusan berbincang. Gaara sendiri tidak peduli dengan semua yang dikatakan Sasuke. Toh, dia juga tidak menyukai Sasuke.

Sebuah suara menginterupsi mereka dan merubah sedikit keadaan.

"Apa kalian teman-teman The three angel? Kenalkan Aku Shion,Yoroshiku!" ucapnya dengan senyuman lebar dan tangan yang mengulur ke mereka. Sedikit canggung memang, tapi mereka semua tetap menyambut uluran tangan itu, dan memperkenalkan diri masing-masing.

"Sebenarnya kami bukan teman," ucap Sakura sambil mendelik kearah Naruto.

"Maksud Sakura-san?" Sakura tidak langsung menjawab. Ia berdiri dari kursi duduknya, dan bergegas pergi.

"Ah tidak apa-apa. Maaf sepertinya aku harus mengembalikan sesuatu pada Sasori-senpai." Setelah mengatakan itu, Sakura berpamitan pada teman-temannya dan Shion. The three angel sendiri, terutama Naruto hanya dianggurkan begitu saja.

"Sepertinya kalian tidak akur," ucap Shikamaru sambil menoleh pada Naruto.

"Ya, begitulah."

KRINNNNNGGGGGG

Bunyi bel masuk bergema diseluruh ruang kelas.

"Ga-gaara-kun, sudah bel, sebaiknya masuk kelas," ucap Hinata sambil melepaskan pegangan tangan Gaara di tangannya. Sasuke terus memperhatikan tingkah laku Hinata dan Gaara. Entah kenapa ia ingin sekali melenyapkan monster merah itu.

"Itu benar, dan kita satu kelas Gaara-san. Ayo kita ke kelas bersama?" ajak Shion. Gaara hanya bergumam kecil untuk menjawabnya.

"Kak Sasuke aku ke kelas dulu, Chuu..."

Kecupan singkat yang mendadak itu mendarat tepat di pipi bungsu Uchiha. Membuat semua yang ada disana-minus Shikamaru dan Naruto, tercengang, termasuk Hinata. Entah perasaan aneh apa yang menjalar di dadanya. Rasanya sangat tidak enak melihat hal itu. Apalagi dengan ekspresi Sasuke yang biasa-biasa saja.

Ini tidak masuk akal, kenapa hatinya jadi panas.

Gaara bangkit dari bangku yang didudukinya disebelah Hinata, lalu bergegas pergi menyusul Shion yang sudah menunggu didepan pintu. Tapi ada sebuah tangan yang menghentikan gerakannya. Saat ia menoleh pemilik tangan itu sudah berdiri disampingnya, berjinjit dan...

Chuu...

Satu kecupan ringan mendarat di pipi Gaara.

"Ber-bersemangatlah, Gaara-kun." ucapnya malu-malu.

Demi apapun, kejadian itu membawa dampak lebih besar daripada kejadian saat Sasuke yang tadi di cium Shion. Karena kali ini semua orang termasuk Sasuke dan Gaara sendiri kaget dengan apa yang dilakukan Hinata. Oh ayolah, ini Hyuuga Hinata, gadis polos yang sangat lugu dan pemalu. Hinata sendiri tidak tau kenapa tiba-tiba ia terdorong melakukan itu saat melihat aksi Shion tadi. Ia sendiri kini hanya bisa menunduk malu atas perbuatan spontannya. Wajahnya sudah sangat merah. Gaara mendekatinya sebelum pergi, lalu berbisik.

"Itu mengagetkan, tapi sepertinya aku akan bersemangat hari ini." Setelah itu, Gaara benar- benar pergi dari ruang kelasnya. Dengan senyuman lebar tentunya.

"Hyuuga Hinata!" Suara itu terdengar mencekam ditelinga Hinata, dan ia tau pemiliknya. Perlahan kepala Hinata mendongak untuk melihat orang yang memanggilnya. Setelah itu yang ia rasakan adalah sebuah tarikan tangan yang membawanya keluar dari kelas secara paksa. Melawan tak akan ada hasilnya, jadi ia pasrah saja mengikuti tarikan laki-laki itu. Entah hukuman apa yang akan didapatkannya nanti karena membolos.

"Hoaammhh, sepertinya kau juga harus menyelesaikan urusanmu, Naruto," ucap Shikamaru sambil menguap. Naruto mengangguk, lalu ikut pergi 'membolos' seperti Sasuke. Kini, Shikamaru menatap perempuan yang sedang menatap tajam kearahnya.

"Kau tau, baru saja temanmu menculik Hinata."

"Dia akan baik-baik saja, jangan membuat semuanya semakin merepotkan," ucap Shikamaru malas. Pemuda berambut hitam itu menarik kursi disebelah Temari lalu duduk disana.

"Dan siapa yang mengijinkanmu duduk disini?"

"Bangkunya kosong, dan aku sudah mengantuk, jadi jangan ganggu aku, nona Sabaku."

Dan Temari sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi saat Shikamaru sudah tidur dengan cepat disampingnya.

Sebenarnya siapa yang lebih menganggu, huuh.

.

BRUUUGGGHHH

.

Sentakan di dinding itu membuahkan rasa sakit di punggungnya. Sebenarnya, ada apa dengan Uchiha bungsu ini. Tiba-tiba dia menariknya, lalu membawanya ke ruangan kosong di sekolahnya. Lalu menyentakan tubuhnya di dinding. Uh, rasanya tidak menyenangkan.

"Aaw,,," Hinata meringis pelan. Tapi detik kemudian, yang dapat Hinata rasakan adalah sebuah dorongan mendesak di bibirnya. Matanya langsung membulat kala menyadari apa yang terjadi.

Sasuke menciumnya.

Hinata masih tidak bergerak. Sasuke sendiri masih setia dengan aktivitasnya mencium bibir Hinata sedikit kasar. Raut wajahnya menampakkan kekesalan yang mendalam. Beberapa saat kemudian Sasuke melepaskan ciumannya. Ditatapnya gadis yang masih terdiam bingung itu.

"Sa-sasuke-sanh..." ucapnya terbata. Suaranya masih sedikit tercekat.

"Itu hukuman karena berani mencium laki-laki lain di depan calon tunanganmu," ucap Sasuke santai. Hinata mengernyitkan alisnya mendengar ucapan Sasuke.

"Sa-sasuke-san sendiri di cium oleh Shion-san," balas Hinata tak mau kalah. Lelaki bermata onyx itu terdiam sebentar, lalu setelahnya ia menyeringai. Digerakkannya tubuh kekar itu lebih dekat dengan tubuh Hinata, mendesaknya. Hinata sendiri jadi gugup dan sedikit takut dengan apa yang akan dilakukan Sasuke. Ia sudah tidak bisa kabur kemana-mana karena kedua tangan Sasuke menghimpitnya. Uh, apalagi sekarang Sasuke kembali mendekatkan wajahnya ke wajah Hinata lagi. Apa Sasuke akan mengulangi kegiatannya tadi? Entahlah, tapi sepertinya Hinata berpikir begitu. Sekarang Hinata lebih memilih memejamkan matanya, ia merasa sangat malu untuk melihat kejadian itu lagi. Mungkin setelah ini ia akan pingsan dengan wajah memerah.

Sasuke semakin dekat dan dekat. Bahkan gadis Hyuuga itu bisa merasakan hembusan nafasnya menyentuh kulit di wajahnya.

Ini aneh, kenapa tidak bisa menolak?

Itu benar, jika saja Hinata mau, dia bisa saja menendang area sensitive Sasuke lalu kabur. Tapi ia malah memejamkan mata dan dia, seolah-olah dia mengingikannya.

Ini memalukan.

Matanya semakin terpejam, tangannya pun sudah beralih mencengkram seragam Prince ice itu.

"Apa kau cemburu pada Shion?" bisiknya ditelinga Hinata. Hinata langsung membuka matanya, dan yang terjadi selanjutnya, kedua bola mata yang sangat kontras itu saling bertatapan.

"Ke-kenapa bisa berpikir seperti itu?"

"Tentu saja karena kau menyukaiku." jawab Sasuke enteng.

Aku cemburu karena menyukai Sasuke?

Hinata belum menjawab, ia masih menatap mata kelam itu.

"Tidak jawab berarti iya kan?"

Hinata masih terdiam, namun kini ia menundukan kepalanya.

Benarkah?

"Ki-kita masih ada dalam taruhan, Sasuke-san," ucap Hinata pelan. Pegangan tangannya sudah terlepas dari baju Sasuke. Pemuda Uchiha itu sendiri kini terdiam. Ia mengalihkan pandangannya kesamping. Tangannya sudah tidak lagi mengurung pergerakan gadis itu.

"Itu,,, lupakan saja!"

"Kenapa?"

"Turuti saja!" Suara Sasuke sedikit lebih tinggi dari tadi. Matanya pun kini kembali menatap Hinata.

"Satu lagi, jaga jarak dengan bocah merah itu. Kau harus sadar kau itu siapa, dan kenapa waktu itu kau bilang aku temanmu? Seharusnya kau mengucapkan aku ini calon tunanganmu agar dia tidak dekat-dekat denganmu," ucap Sasuke panjang lebar. Hinata cukup terkejut Sasuke mengatakan semua itu.

"I-itu, Sa-sasuke-san kan bilang jika tentang semua pertunangan itu dirahasiakan, aku kan tidak salah." Hinata sedikit protes memberikan alasan, dia juga tak terima jika Sasuke

menyalahkannya. Hinata merasakan pergelangan tangannya dicengkram erat pemuda itu. Dan dengan cepat, Sasuke 'menyerang' Hinata lagi.

Ciuman kedua pun terjadi.

Namun kali ini ciuman yang lebih lembut dan tidak mendesak seperti tadi. Ciuman hangat yang membuat Hinata lebih nyaman. Bahkan kini, gadis itu, memejamkan matanya. Berusaha merasakan tiap kelembutan dan kehangatan dalam ciuman itu. Dia tidak membalasnya, hanya terdiam merasakan. Lagi pula, sepertinya dia juga tidak pandai dalam hal ini.

Jujur hatinya merasakan perasaan aneh.

Lusa, ia merasakan patah hati yang mendalam karena Naruto, tapi sekarang hatinya dengan cepat merasakan kehangatan yang sangat aneh, dan itu berasal dari orang yang tak terduga. Tak beda jauh dengan perasaan aneh si pemuda, bahkan kini jantung Sasuke berdetak dengan cepat karena hal itu. Ia harap Hinata tak mendengar detak jantungnya.

Ciuman itu dilepas saat pasokan oksigen keduanya menipis. Sebenarnya hanya Hinata saja yang terengah, Sasuke sendiri masih bernafas dengan normal.

"Hh...Shasuuh...hhh" ucapnya terengah dengan wajah memerah, entah itu karena malu atau kehabisan nafas. Sasuke membalikan badan lalu berjalan kearah pintu.

"Itu hukuman yang kedua karena kau

membantah..." ucapnya memberi jeda. Kembali Sasuke melanjutkan, kali ini ia sambil menoleh dan tersenyum tipis pada Hinata,

"... Jadi, sebagai calon tunangan yang baik, berhentilah membantah dan turuti aku." Setelah mengucapkan itu, Sasuke menghilang dibalik pintu, meninggalkan Hinata yang masih mencerna perkataan Sasuke. Ia mengerjapkan matanya tak percaya. Apa artinya Sasuke menerima pertunangan ini dan membatalkan taruhannya?

Hinata memegang dadanya, merasakan detak jantung yang sedikit tidak normal dari biasanya.

Kemarin rindu, sekarang cemburu. Perasaan ini juga...

.

Semilir angin berhembus lembut di sore yang tenang. Menerbangkan beberapa daun-daun kering yang sudah lepas dari dahannya. Cuaca yang ada pun tidak terlalu panas atau mendung, sangat pas untuk berjalan-jalan melepaskan penat. Hinata yang kini sedang berdiri didepan gerbang sekolahnya pun merasakan hal yang sama. Menikmati kesepian yang sangat menenangkan. Ia memang sendirian karena semua teman-temannya sudah pulang lebih dulu, sedangkan ia sedang menunggu Gaara mengambil motornya di tempat parkir sekolah. Gaara memaksanya untuk pulang bersama, walau Hinata sudah menolaknya secara halus.

Ia teringat akan apa yang di ucapkan tadi pagi oleh Sasuke untuk tidak dekat-dekat dengan pemuda berambut merah itu. Oh, apakah Hinata sudah menjadi calon tunangan yang baik? Memikirkannya saja sudah membuat pipinya merona apalagi terlintas kembali kejadian 'hukuman' yang dilakukan Sasuke. Bahkan tanpa disadarinya, kini gadis Hyuuga itu tengah senyum-senyum sendiri. Apa benar dia menyukai Sasuke? Lalu, apa Sasuke juga merasakan hal yang sama? Itulah yang kini sedang dipikirkannya. Lamunannya sedikit buyat saat ada seorang pria yang tiba- tiba saja menyapanya.

"Selamat sore, nona." Pria itu berucap ramah sembari memberikan senyuman. Tanpa ada rasa curiga, Hinata pun membalasnya.

"Se-selamat sore juga. A-ano, ada yang bisa saya bantu?" tanyanya. Pria itu sedikit mengangguk.

"Bisakah anda menunjukan alamat ini? Saya datang dari Kirigakure, jadi tidak terlalu mengenal daerah sini," ujarnya sembari menyodorkan kertas kecil berisi alamat sebuah tempat. Hinata melihatnya sedikit bingung. Masalahnya ia juga belum hafal betul daerah ini. Dia kan juga pindahan.

"I-itu maaf, saya juga kurang hafal daerah ini," cicitnya sedikit menyesal. Terlintas raut kecewa di wajah si pria.

"Tapi, sepertinya saya sedikit tau tentang jalannya." Kembali Hinata berbicara dan itu membuat si pria langsung menggantikan raut wajahnya yang kecewa tadi menjadi senang.

"Benarkah? Bisakah anda mengantar saya?" pintanya penuh harapan. Hinata tidak langsung menjawab, ia terlihat berpikir sejenak karena disaat yang sama ia juga sedang menunggu Gaara. Tapi melihat orang yang didepannya sedang memerlukan bantuan...

Sepertinya sebentar.

"Baiklah, mari saya antar."

Hinata dan pria itu pun berjalan menuju arah yang ditunjukan Hinata. Tak ada percakapan yang berarti dari keduanya. Pria itu terdiam sedangkan Hinata tidak tau harus berbicara apa. Ia merasa tidak nyaman. Berkali-kali ekor matanya melirik kearah pria itu. Entah kenapa ia mempunyai firasat buruk. Tiba-tiba langkah dari si pria terhenti di sebuah gang yang cukup sepi, membuat Hinata sedikit heran.

"Tuan, ada apa?" Pertanyaan itu tidak di jawab, namun malah seringai lebar yang Hinata dapat.

PROK...PROK...PROK...

Pria itu menepukan tangannya, membuat Hinata semakin kebingungan. Tak lama setelah itu, muncullah beberapa pria lain. Mereka berjalan menuju gadis itu. Hinata yakin, setelah ini akan ada sesuatu yang lebih buruk. Para pria yang jumlahnya lima orang itu kini mengelilinginya. Tidak hanya seringai'an. Kali ini bahkan sudah ada yang berani memegang tangan atau pun bagian tubuh Hinata. Tapi segera ia tepis.

Hinata sangat takut, sungguh! Ia tak tau harus bagaimana. Tubuhnya bergetar hebat, air matanya hampir keluar tapi masih ia coba tahan.

"Ja-jangan mendekat, kenapa kalian melakukan ini padaku?!" ujarnya penuh ketakutan.

"Bos kami bilang, jika kami melakukan ini, maka dia akan menang."

"Jadi tersenyumlah manis, karena kita akan bersenang-senang."

"Ti-tidak!"

"Aku tidak sabar untuk menikmatinya."

"Yah, sepertinya sixsome tidak terlalu buruk."

Mereka semakin dekat. Sekarang pria yang tadi berpura-pura meminta pertolongan pada Hinata mencengkram bagian bahu seragamnya, lalu menariknya kasar hingga sobek.

Sreekkk...

"Kyaaaaa..."

"Ayo kita mulai."

.

.

TBC

.

.

a/n: Seperti yang ditulis di warning, saya ingin memberikan sebuah pernyataan #lebihtepatnya curcol :)

Saat saya Hiatus, saya iseng baca ulang fic ini dan hasilnya saya benar-benar kaget karena begitu banyak TYPO. Saya sempet mikir, 'Apa benar saya nulis fic ini?' 'Saya benar-benar malu pada reader karena TYPO!', 'Mungkin saya harus menghapusnya'. Pokoknya banyak banget deh pikiran negative di otak saya. Apalagi saat membandingkan fic saya dengan author lain, rasanya itu sangat ngejleb banget, langsung drop saya. Tapi saya kembali berpikir, untuk membuat fic dengan tulisan yang baik itu harus melalui proses yang panjang dan saya sedang menjalaninya. Fic ini adalah fic pertama yang saya publish di FFN, jadi saya mohon maaf jika banyak TYPO yang menganggu kalian semua. Saya sadar di fic ini banyak sekali hal yang membuat mata kalian sakit, baik itu Typo, plot, alur, atau karakter yang OOC sekali. Tapi saya bangga dengan fic ini karena fic ini saya bisa mendapatkan saran yang sangat bermanfaat dan semangat yang hebat dari kalian. Sekali lagi terimakasih semuanya. Mungkin suatu hari nanti saya akan mereplace semuanya atau mungkin tidak sama sekali. Selalu ada alasan di balik apa yang kita lakukan :).

Yosshh segitu aja. Akhir kata, masih berminat RnR?