You are My Doll
Disclaimer : Vocaloid bukan milik saia, tapi fic ini saia yang punya.
Rate : T
Genre : Romance, Fantasy, Comedy/Humor
Caution : AU, typo, OOC, de el el
DONT LIKE DONT READ
Chapter 7 : Where is Rin?
Normal POV
"Len-sama! Kami selesai!" ucap Miki dan Ring dengan riangnya. Yang merasa namanya dipanggil pun menoleh. Dan dilihatnya seorang gadis yang sudah berganti bajunya.
Dengan baju ala Victorian berwarna ungu dengan topi kecil di kepalanya. Dengan berbagai renda yang manis dan sepasang sepatu tinggi.
"Hee~ Kau jadi manis Rinrin" ucap Len dengan nada agak menggoda. Rin pun merona mendengarnya.
"Ba-Baguslah kalau begitu" ucap Rin dengan sok angkuhnya, padahal di dalam hati dia sangat malu.
"Ayo kita pergi, aku sudah membayar bajunya" Len pun mengulurkan tangannya pada Rin yang tengah merona.
"Eh? Masih mau pergi lagi?" tanyanya. Len pun mengangguk pelan.
"Kita akan ke Akihabara" ucapnya lalu digenggamnya tangan Rin dan dibawanya dia keluar dari butik. Tidak lupa dia berterimakasih pada Miki, Ring dan Lui yang telah membantu mereka.
.
.
.
"Um… apa tidak apa-apa? Di sini ramai sekali" ucap Rin ketika melihat Akihabara yang begitu ramai.
"Tidak apa, asalkan peganganmu tidak dilepas, kita tidak akan terpisah" ucap Len untuk menenangkan Rin.
Dan mereka pun berusaha untuk melewati kerumunan orang yang ada. Namun sayang, karena ada sekelompok pria yang tiba-tiba datang dari arah berlawanan. Rin dan Len pun terpisah. Len terseret oleh kelompok itu dan begitu juga dengan Rin, ia terseret sekelompok orang yang berjalan berlawanan arah dengan Len.
Sehingga saat mereka tidak terseret lagi karena keramaian sudah mereda, lokasi mereka berdua benar-benar sudah jauh. Dan parahnya lagi, Rin tidak tahu menahu tentang jalan-jalan di Akihabara. Dia pun hanya bisa panik dan mencoba untuk mencari Len, begitu juga dengan Len. Dia begitu khawatir dan mencoba untuk mencari Rin.
.
.
Rin POV
Uuuhhh… Len ada di mana sih? Aku ada dimana? Rengekku dalam hati. Aku pun mulai berjalan menyusuri Akihabara, sendirian.
Aku pun hanya terus berjalan dan terus berjalan.
.
.
Aduhh… Rin dimana sih? Gerutuku sambil terus mencari Rin yang terpisah dariku.
Aku harap dia tidak kenapa-napa.
.
.
Aku pun terus berjalan, ketika aku melewati sebuah gang, aku melihat dari kegelapan ada seorang laki-laki yang mempunyai rambut yang diikat ponytail. Karena didalam gang itu gelap, aku jadi tidak bisa melihat warna rambut laki-laki itu.
Karena merasa yakin kalau itu adalah Len, aku pun menghampiri laki-laki itu.
"L-Len?" ucapku pelan. Laki-laki itu pun menoleh ke arahku. Aku bahkan tidak bisa melihat wajahnya karena disini gelap sekali. Sekilas aku melihat senyum dari orang itu, tapi senyum itu… mengerikan.
"Hee~ Gadis cantik sedang apa disini sendiri? Kau mencari Len? Pacarmu ya? Apa kau terpisah darinya? Kasihan~" dia pun berkata dengan senyum mengerikan dan nada yang aneh. Aku pun menjadi takut.
Lalu saat aku hendak keluar dari gang itu, aku dicegat oleh dua orang laki-laki. Mereka menutup jalanku. "Maaf nona~ Tapi temani aku yaa~" ucap sorang laki-laki dengan rambut oranye.
"Lui, kau ini... Dia juga buatku!" bentak orang disampingnya.
"Heh! Lui, Meito, kalian jangan seenaknya sendiri dong! Yang penting gadis ini buat kita bertiga!" ucap laki-laki yang tadinya kukira Len. Dan ternyata rambut laki-laki ini berambut hitam pekat.
"Baik, baik, Rei… Nah, kita mulai dari mana yaaa~?" ucap laki-laki yang bernama Lui sambil menggenggam pergelangan tanganku dengan paksa. Aku ingin mengelak, tapi kekuatan Lui ini lebih besar dariku.
"Ja-Jangan!" ucapku dengan pelan. Karena saat ini aku sangat ketakutan. Namun mereka hanya tersenyum aneh padaku.
"Tenang tenang nona, kami hanya ingin bermain-main sebentar denganmu kok" ucap laki-laki yang bernama Rei sambil ikut menggenggam pergelangan tangan kiriku. Lalu di cengkramnya wajahku dengan tangannya yang satunya.
Aku pun tidak bisa berteriak dan hanya bisa menangis. Air mata keluar dari mataku karena aku begitu ketakutan.
"Hee~ Kenapa malah menangis? Padahal kami baru mulai" ucap Rei dengan seringai anehnya. Dia pun mulai menggerakkan tangannya turun ke pinggangku. Aku pun menjadi kaget dan air mataku mengalir semakin deras.
Seseorang tolong aku! Len, tolong aku! Aku pun berteriak dalam hati sambil terus berharap dengan menutup mataku. Rei pun semakin menjadi-jadi dalam menelusuri lekuk-lekuk tubuhku.
"Rei! Kapan giliranku~" rengek Lui. "Iya nih, lu seneng sendiri" ujar Meito. "Iya iya nih" Rei pun menyerahkanku layaknya maneuqin yang tidak berdaya. Aku pun tidak dapat melakukan apa-apa selain menangis karena mereka telah mengunci kedua tanganku di tembok, dan mulutku juga ditutup Rei dengan tangannya.
Dan mereka pun terus mempermainkan tubuhku sampai orang itu datang.
"Rin! Apa yang kalian lakukan pada Rin!" teriak seseorang dengan lantangnya. Suara ini… suara Len! Aku pun mencoba melirikkan mataku ke arah suara itu. Benar, itu Len! Air mata pun semakin deras mengalir.
"Hee~ Jadi nama nona ini Rin ya? Apa kau yang namanya Len? Dia tadi mencarimu lho~" ejek Rei. Tangannya pun berpindah dari mulutku ke leherku. Aku pun jadi sulit bernapas.
"KAU! Jangan berani-beraninya kau!" bentak Len lagi. Aku pun semakin kehabisan napas.
"L-Len… kh…" lirihku. Aku pun semakin kehabisan napas karena Rei semakin mempererat cengkramannya. Aku pun kehabisan napas dan semuanya menjadi gelap. Aku pingsan, lebih tepatnya.
"Riiinn!" Itulah suara Len yang masih bisa kudengar. Setelah itu aku merasa bahwa tubuhku terhempas ketanah dengan kasar.
.
.
.
Len POV
"Kau! Beraninya kau!" bentakku pada lelaki berambut hitam yang telah mencekik Rin hingga pingsan. Dan dengan kasarnya di lemparnya Rin ketanah.
Kini aku sudah naik pitam. Dengan emosi aku pun menghajar ketiga orang tersebut. Hah, mereka belum tahu kalau aku ini sudah level Master dalam Kung Fu. Dan dalam waktu kurang dari 5 menit, aku sudah menghajar habis ketiga preman itu.
Dengan panik kuhampiri Rin yang tengah pingsan tidak berdaya, lalu ku sandarkan kepalanya ke lenganku. Dan ketiga orang itu tersadar dan segera melarikan diri. Cih, beraninya cuman sama cewek doang!
"Rin! Rin! Sadarlah! Rin!" ku guncang-guncangkan tubuhnya, tidak berhasil. Dia masih pingsan. Ku tampar-tampar pipinya, tidak mempan, walau pipinya sudah merah ia masih pingsan. Ja-Jangan-jangan aku harus… mencium dia? Lagi?
Ya sudah, dari pada dia pingsan terus, aku pun mencium bibirnya yang basah oleh airmata dengan lembut. Beberapa saat kemudian dia pun tersadar.
"Rin! Kau sadar juga!" ucapku dengan senang. Rin pun menatapku.
PLAK! PLAK! PLAK! PLAK! PLAK!
Dan aku pun ditampar kanan-kiri oleh Rin secara bertubi-tubi. "E-Eh? Kenapa?" tanyaku.
PLAAAKKKK!
Baiklah, kali ini tamparannya sangat, ralat super keras!
"Ke-Kenapa… Rin? KENAPA KAU TAMPAR AKU?" seruku dengan histeris pada Rin yang masih bersandar di lenganku.
"Pertama, karena kau melepas peganganmu! Kedua, karena kau lama sekali mencariku! Ketiga, karena kau membiarkanku tercekik dan pingsan! Keempat, karena kau menampar-namparku! Kelima, karena kau telat menyadari bahwa kau harus menciumku! Dan yang terakhir, aku hanya ingin menamparmu karena aku sebal!" bentak Rin panjang lebar.
"Ta-Tapi tidak usah keras-keras juga kaliii! Pipiku udah babak belur nih!" seruku sambil mengelus-elus kedua pipiku yang sudah bngkak dan menatap Rin dengan sebal. Namun tiba-tiba air muka Rin langsung berubah.
"H-Huweee~~ Len…. Aku takut! Aku tidak mau lagi…. Jangan tinggalkan aku lagi…. Hweee~~~" Rin pun langsung mewek dan memelukku dengan erat, ralat sangat erat. Dan dia menangis dengan sangat keras, air matanya terus mengalir sehingga bajuku menjadi basah.
Apa dia segitu takutnya ya?
Karena tidak tau harus mengatakan apa aku pun mengeluskan tanganku kekepalanya dengan lembut. "Maaf Rin… aku tidak akan meninggalkanmu lagi kok" ucapku pelan. Dan tangis Rin terhenti sejenak. Dan dia menatapku.
PLAAKK!
Dan dia… menamparku lagi.
"Kau harus berjanji Len! Kalau tidak, aku akan menamparmu hingga kau tak bernyawa!" serunya dengan mata sembab dan air mata yang masih mengalir. Dan diacungkannya kelingkingnya, seperti membuat janji layaknya anak kecil.
"Aku berjanji Rin, tapi jangan tampar aku lagi" dan aku pun menyambut kelingking Rin lalu menautkannya dengan kelingkingku. Dan dengan itu kami membuat janji, tidak akan meninggalkan satu sama lain.
.
.
"Ayo pulang!" seruku Rin pun mengikuti dari belakang dengan berlari, dan dia pun menyandung sebuah batu.
"Adaw!" dan… dia terjatuh. Langsung saja kuhampiri dia yang tengah meringis kesakitan.
"Ga apa-apa?" tanyaku. Dan ternyata lututnya berdarah.
"Ga apa-apa gimana? Udah jelas-jelas aku berdarah!" bentaknya dengan pipi yang gembung.
"Geez…" dengan cekatan aku mengikat kakinya yang luka dengan sapu tanganku dan aku pun langsung menggendong Rin ala bridal style.
"Hwaa~ Apa yang kau lakukan!"
"Menggendongmu lah, kakimu sakitkan?" jawabku cuek.
"U-Uhh…" dan akhirnya dia menurut juga untuk mau digendong. Aku pun langsung menggendongnya kerumah, berhubung hari sudah sore.
.
.
.
"I-Itai~~" ringis Rin ketika aku menempelkan hansaplast ke lututnya
"Kau ini seperti anak kecil saja sih, begini saja sakit" ucapku mengejek. "Nah, selesai"
"Arigatou" Rin pun tersenyum manis padaku.
"Hei, senyummu yang ini akting atau apa?" tanyaku penasaran. Spontan saja wajahnya langsung berubah.
"Kau ini, aku senyum manis gini kok salah! Aku gak akting tau!" bentaknya sambil menggembungkan kedua pipinya. Aku pun terkekeh.
"Hehe~ Kukira cuman akting" ucapku sambil tersenyum jahil. "Aku ga tau kalau boneka bisa berdarah juga"
"Aku ini manusia juga baka! Aku cuman perlu menyelesaikan tugasku, yaitu mendapatkan rasa cinta yang tulus…" ucap Rin sambil memegang cincinnya.
"Jadi?"
"Aku tidak tahu, Otou-sama bilang aku harus mencarinya sendiri. Dan karena kau telah terikat kontrak denganku, artinya kau telah terikat denganku. Kau dan aku harus sama-sama memiliki rasa cinta" tambahnya lagi sambil memasang wajah berharap padaku.
"Aku tidak tahu Rin, tapi kalau memang iya, aku akan selalu bersamamu" balasku. "Kita kan sudah berjanji"
"Iya" balasnya singkat. "Terima kasih sudah mau menjagaku, Len" ucapnya lembut. Dia pun menyandarkan kepalanya ke pundakku.
"E-Eh? Ri-Rin?" ucapku kaget. Setelah kulihat rupanya dia sudah tidur. "Kalau ada waktu aku akan mengajakmu jalan-jalan lagi, dan aku tidak akan meninggakanmu lagi" ucapku pelan.
"Janji ya?" tiba-tiba Rin membuka kedua matanya dan menatapku. Aku pun kaget karena dia rupanya cuman pura-pura. "Akan kutunggu" dan dia pun menutup kedua matanya lagi.
Sigh, dasar gadis yang memusingkan. Tapi sepertinya kali ini dia benar-benar tertidur.
~~To be Continued~~
Ichigo: Segitu dulu, saia lagi insomnia habisnya….
Rin: Eh? Kok bisa?
Ichigo: Semalem dari Jakarta ke Bandung macet, perlu waktu 7,5 jam… Jadi tadi malam aku nyampe jam 3 subuh. Hoaamm~~ *ngantuk*
Rin: Author! Author! Ya elah, malah tidur, ya udah deh, aku yang bakal ngebales riview buat reviewer yang ga login*ngambil kertas*
Kyouko-chan:
Welah… cuman nanya doang toh… Hehe~
Egh, nunggu kissu ya? Gomennasai~ Di chap ini ada, tapi mungkin kurang… ehem… gitu…
Eh? Typo ya? Gomen, saia lagi galau jadi kurang konsen~~
Ok, update soon~ Arigatou for review~~
Rani-chan:
Iya mirip, tapi alurnya beda. Tujuan ama endingnya juga beda kok… Saia kan ga nge copas habis…
Umm… Suigintou yang benar, ga apa-apa deh…
Hehe, semua udah kejawab kan?
Ok, update soon~ Arigatou for review~~
Rin: Segitu aja, si Author juga tidur… Tadi dia pesen review buat para readers tercinta, review yea~~
.
.
Review Please…
.
Hoam~~ *ngantuk*
.
.
