Tap Tap Tap

Suara langkah kaki berlapiskan sepatu ber-hak terdengar di penjuru café yang sepi itu. Si pemilik langkah berjalan ringan dengan tas tangan dan sebuah cup berisi latte ditangannya. Pandangannya beredar ke sekeliling café, ia sedang mencari spot tempat duduk yang nyaman. Sebenarnya café itu cukup sepi, hanya ada tiga pelanggan yang datang. Jadi ia bisa memilih tempat mana saja untuk duduk. Pada akhirnya, gadis itu memilih untuk duduk di sudut ruangan tepat bersebelahan dengan jendela kaca yang menghadap ke arah jalanan kompleks pertokoan.

"Baekhyun-a, apa kau sudah sampai di Natura?"

"Ya Soo, aku sudah sampai." Sebuah panggilan dari Kyungsoo muncul ke ponselnya.

"Maafkan aku, sepertinya aku akan terlambat. Tolong sampaikan pada Luhan dan Minseok."

"Apa terjadi sesuatu?"

"Ya, tiba-tiba saja mesin mobilku mati. Aku sedang menunggu mobil derek dan Jongin untuk menjemputku."

"Ah, sayang sekali aku tidak membawa mobil."

"Tidak masalah. Jongin akan segera sampai. Sampai jumpa di Natura Baek."

"Ya, hati-hati di jalan Soo."

"Tentu."

Lalu sambungan terputus. Baekhyun memilih untuk menyesap lattenya perlahan sambil mengamati pejalan kaki yang ada di luar café tempatnya duduk. Dari tempat duduknya ia bisa melihat Luhan yang baru saja datang. Wanita bermata rusa itu nampak cantik dan berkelas seperti biasanya. Ketika ia berjalan mendekati café, beberapa pejalan kaki khususnya pria menyempatkan diri untuk melirik ke arahnya. Luhan mungkin bukan idol terkenal, tapi bagaimanapun ia adalah seorang supermodel, yang saat ini sedang vakum dari dunia modelling karena ingin fokus membuka boutiquenya, alasan kenapa ia pindah dari London ke Korea Selatan. Tidak mengherankan jika Luhan selalu berhasil mempesona siapa saja.

"Kau sedang memikirkan apa huh?"

Luhan meletakkan cup minumannya di atas meja. Ia menarik keluar kursi yang berada tepat di hadapan Baekhyun.

"Ah, hanya sesuatu."

"Kyungsoo dan Minseok belum datang?"

"Kyungsoo sedang menunggu Jongin, mobilnya mogok. Ia akan terlambat. Lalu Minseok eonni, mungkin masih menunggu suaminya mengantarnya?" Jawab Baekhyun ragu.

Luhan mengangguk mengerti.

.

.

Miss Right

EXO's Fanfiction

ANNOTATION

Ide cerita sepenuhnya milik ©Curloey Smurf.

Apabila tokoh, alur, tipe cerita, dll kurang berkenan. Cukup klik icon silang di halaman. Be a wise readers!

Hanya sebatas manusia biasa, typos, sedih dapat bash, kemampuan berhayal terbatas, fiktif keterlaluan dll. Jadi mohon pengertiannya. Thank You~

This is an EXO's fanfiction, Genderswitch, Byun Baekhyun and Park Chanyeol as main cast, other EXO member, guest star (?), etc as support cast. Pairing Chanbaek. Genre Romance, Friendship. Chapter:7 of ?. Rate: M for safe.

I'm not a writer but I love to write.

e)(o

She might a good woman, but still not a right woman for you

.

.

.

Setengah jam kemudian Kyungsoo datang, tepatnya dua puluh menit setelah Minseok datang bergabung bersama Jongdae -karena pria itu yang hari ini akan menjadi driver bagi keempat wanita cantik di mejanya-.

"Sepertinya aku membutuhkan tambahan gula." Gumam Kyungsoo. Kyungsoo sebenarnya sudah menduga akan terjadi hal seperti ini. Americano yang dipesannya tertukar dengan milik Jongin.

"Biar aku saja. Aku akan pergi ke toilet untuk mencuci tangan sebentar." Cegah Baekhyun saat Kyungsoo baru akan berdiri dari duduknya.

"Terima kasih Baek."

.

.

Brak

Pantat Baekhyun terbanting keras ke lantai beberapa saat setelah bahunya tak sengaja menabrak bahu seseorang yang berjalan cepat berlawanan arah darinya. Ia baru saja keluar dari toilet dan akan berjalan menuju tempat pemesanan untuk meminta tambahan gula.

"Maafkan saya!" Seru si penabrak. Baekhyun mendongakkan kepalanya.

"Ah, ya. Ini juga salahku." Ucap Baekhyun. Si penabrak mengulurkan tangannya kepada Baekhyun. "Terima kasih." Ucap Baekhyun saat menerima uluran tangan itu. Tangannya yang lain bergerak memegangi pinggangnya yang berdenyut nyeri.

"Byun Baekhyun-ssi?" Tiba-tiba saja penabrak itu menyebut namanya.

"Ya? Ah, apa kau mengenalku?"

Si penabrak, seorang wanita dengan style casual tapi terlihat berkelas itu tersenyum cantik. "Senang bertemu denganmu lagi."

"Huh?"

"Ah, kau tidak mengingatku?"

"Apa kita pernah bertemu sebelumnya?"

"Ya." Gadis itu tersenyum kembali. "Kita berada di satu angkatan saat SHS. Tidak terlalu dekat memang tapi aku sedikit banyak masih mengingatmu."

Baekhyun mengerjapkan matanya. Setelah menatap wanita cantik dihadapannya ia memang merasa sedikit familiar, terlebih wanita itu mengatakan jika mereka pernah berada di sekolah yang sama. "Maafkan aku tidak mengingat apapun tentangmu." Ucap Baekhyun merasa bersalah karena tidak mampu mengingat apapun.

"Tidak masalah."

"Apa mungkin kau salah satu dari mantan kekasih Chanyeol?" Tanya Baekhyun ragu.

"Huh? Tentu saja bukan. Oh soal itu, selamat untukmu!"

"Ya?"

"Bukankah kau akhirnya bertunangan dengan Park Chanyeol? Aku mendengar banyak rumor tentang rencana pernikahan kalian."

Baekhyun tertawa canggung. "Ah soal itu, sepertinya belakangan banyak sekali rumor yang beredar di antara teman-teman sekolah kita." Wanita itu terkikik.

"Maafkan aku, aku harus segera pergi sekarang. Kuharap kita bisa bertemu lagi lain kali. Senang bertemu denganmu Baekhyun-ssi."

Wanita itu berjalan menjauh setelah melambaikan tangan ringan.

.

.

"Siapa wanita itu?" Tanya Luhan begitu Baekhyun mendudukan diri dikursinya. Baekhyun menggeleng.

"Apa kau mengenalinya? Aku tidak tahu karena ia tidak memperkenalkan dirinya tadi, tapi ia bilang ia teman seangkatan kita di Hyundae."

Kyungsoo mengernyit. "Benarkah? Tapi, wajahnya memang sedikit familiar."

"Aku juga merasa begitu." Baekhyun mengangguk.

Luhan tiba-tiba tertawa membuat penghuni meja lain menatap bingung ke arahnya. "Ya! Aku pasti sudah gila." Gumamnya.

"Ya. Kau memang seperti orang gila sekarang." Celetuk Jongdae.

"Yaish! Maksudku, wanita yang tadi itu. Apa mungkin ia Moon Gayoung?" Luhan menatap satu per satu temannya. "Aku pasti gila bukan jika itu benar Gayoung."

"Moon Gayoung?" Beo Baekhyun.

"Ya. Gayoung. Kau ingat gadis yang tidak memiliki teman karena penampilan anehnya." Tiba-tiba Luhan menundukkan kepalanya meminta teman-temannya merapat. "Ah! Aku mendengar ini beberapa tahun lalu setelah kita lulus. Kau tahu bukan kalau Gayoung akhirnya dikeluarkan?"

"Gayoung dikeluarkan? Benarkah? Aku bahkan tidak tahu siapa itu Gayoung." Kyungsoo berkomentar.

Luhan mengangguk. "Ya. Itu terjadi beberapa bulan setelah Baekhyun pindah sekolah. Katanya ia menabrakkan mobilnya pada seorang siswi sekolah kita yang pernah memakinya."

"Eiyy, aku rasa itu tidak mungkin." Sangkal Baekhyun. "Karena kau mengatakannya aku jadi teringat suatu hal. Aku pernah bicara beberapa kali dengan Gayoung dan ia seseorang yang baik meskipun sekilas terlihat dingin. Tidak mungkin melakukan hal senekat itu."

"Eiyy, itu lebih tidak mungkin. Teman-teman kita bahkan mengira ia tunawicara karena tidak pernah bicara apapun selama di kelas atau ketika bertemu dengan siapapun di sekolah." Luhan kembali bersuara. "Tapi kurasa itu bukan Gayoung." Luhan menggedikkan bahu.

"Kenapa begitu?" Tanya Minseok. Minseok memang berasal dari sekolah yang berbeda.

"Setelah dikeluarkan ia bersekolah di luar negeri dan menetap di sana. Oh! Ia juga menikahi pria berkewarganegaraan New Zealand."

"Ladies, sebelum pembicaraan seperti ini terlalu jauh. Mari kita berangkat sekarang!" Sela Jongdae lalu buru-buru menggiring teman-temannya keluar dari kafe.

.

e)(o

.

Baekhyun menatap kalender meja ditangannya. Sudah terhitung 10 hari sejak kepergian Chanyeol ke London. Pria itu tidak pernah absen menelfonnya atau mengirim pesan meskipun selalu mengeluh jika ia sedang kelelahan karena jadwal yang padat. Tapi Baekhyun senang, setidaknya itu bisa mengurangi rasa rindunya. Chanyeol mungkin mesum atau menyebalkan pada waktu tertentu, tapi belakangan dengan ketidakhadiran pria itu disekitarnya membuat Baekhyun merasa sedikit kesepian.

Jika saja gadis itu mau melakukan kilas balik selama beberapa bulan sebelumnya. Ia akan dengan lantang berkata bahwa dirinya adalah sosok wanita dewasa yang mandiri dan berkarir cemerlang. Ia hampir tidak membutuhkan pria manapun untuk berada disekitarnya kecuali dukungan jarak jauh oleh kakak dan ayahnya yang berada di Kanada. Tapi semenjak Chanyeol muncul, ia merasa begitu mudah bergantung pada pria tinggi itu. Baekhyun tidak memungkiri Chanyeol berhasil mengusik kestabilan hidupnya.

Dengan helaan nafas panjang, gadis itu menatap lekat-lekat kalender duduk yang kini ia letakkan di atas ranjangnya. Ia mengubah posisinya dari duduk menjadi berbaring menelungkup.

"Empat hari lagi." Gumamnya berat.

Sebuah getaran disusul dengan bunyi nyaring mengejutkannya. Panggilan masuk dari sosok yang dirindukannya.

"Ada apa dengan ekspresi itu huh?" Baekhyun secara refleks menyentuh wajahnya.

Chanyeol menghubunginya via sambungan video call. Ini pertama kalinya sejak kepergian pria itu ke London.

"Apa ada sesuatu yang aneh diwajahku?" Gumam Baekhyun.

Chanyeol tertawa kecil. "Hum, ada sesuatu di mata sipitmu itu."

"Huh?" Gadis itu melarikan jarinya menyentuh ujung matanya, memastikan tidak ada kotoran di sana. "Aku sudah mencuci wajahku dan bersiap untuk tidur sekarang. Tidak mungkin ada kotoran apapun di sana."

"Aku tidak mengatakan apapun soal kotoran."

"Lalu apa maksudmu?"

"Aku melihat kerinduan yang besar di sana." Kemudian tawa Chanyeol memecah keheningan malam itu.

"Ya! Itu sama sekali tidak lucu." Meski begitu Baekhyun tertawa. "Oh, apa kau tidak pergi ke kantor hari ini? Kau berada di atas ranjang?"

Chanyeol mengangguk. Keduanya sedang berbaring miring saat ini. "Aku berbohong pada asistenku kalau aku sedang sakit. Bukankah aku jadi memiliki banyak waktu untuk bicara dengan kekasihku?" Baekhyun mendecakkan lidahnya.

Sudah jelas kekasih tingginya itu sedang berbohong sekarang. Ia bisa melihat wajah Chanyeol yang sedikit pucat, hidung pria itu memerah dan sesekali kekasihnya akan mengusapnya, juga selimut tebal yang menutupi setengah tubuhnya. Meski begitu, Baekhyun yakin Chanyeol masih harus mengerjakan banyak hal karena ia bisa melihat tumpukan map di belakang kekasihnya.

"Kau tidak makan dengan baik di sana huh?" Tanya Baekhyun. "Kau juga kurang tidur, lihat kantung matamu yang lebih besar dari kantung sinterklas." Baekhyun mengutip kata-kata Yixing yang pernah didengarnya.

"Kau juga terlihat lebih kurus. Apa makanan dari restaurant itu tidak enak? Kau ingin menggantinya?"

Baekhyun menggeleng. "Mereka membuat makanan dengan sangat baik tapi aku lebih suka jika kau yang membuatnya." Baekhyun menggedikkan bahu.

"Eiyy, apa itu pernyataan 'Chanyeola! Cepatlah pulang dan buatkan aku makanan!' benar begitu Byun Baekhyun-ssi?"

"Aku tidak mengatakan apapun. Kau sebaiknya memikirkan kesehatanmu dari pada membuat kesimpulan tak berdasar seperti itu."

"Aku sangat sehat sekarang. Karena melihat wajahmu."

Baekhyun mendengus. "Oh! Apa aku sudah mengatakan ini?"

"Hum?"

"Minggu depan, oppaku akan berkunjung. Kau tidak boleh menginap."

Sebelah alis Chanyeol tertarik ke atas. "Kenapa?"

"Oppa bisa membunuh kita berdua jika tahu kalau aku mengijinkan pria masuk ke apartemenku."

"Bukankah ini kesempatan bagus. Aku akan memperkenalkan diri secara resmi pada anggota keluarga kekasihku."

"Berhenti membual." Chanyeol terkekeh.

"Aku tidak. Tapi, dua hari lagi kurasa aku bisa kembali."

"Benarkah?"

"Ya. Direktur keuangan yang baru untuk cabang di London akan segera datang. Jadi aku hanya perlu memberikan sedikit pengarahan padanya dan ia yang akan membereskan sisanya. Jadi, bersiaplah karena aku akan mengambil hadiah darimu."

"Huh?"

"Kau mengatakannya sewaktu menginap di kamarku."

"Ah itu! Tentu saja. Kau akan terkejut. Sangat terkejut!"

Chanyeol tidak bisa tidak tersenyum mendapati bagaimana cara Baekhyun bicara. "Bagaimana dengan kencan akhir pekan ini?"

"Hum? Ah, aku belum mencari mantan kekasih mana lagi yang harus ku temui." Baekhyun mengerucutkan bibirnya.

"Baekhyunee."

"Ya?"

"Akhir pekan ini, bisakah kita berkencan tanpa harus menemui siapapun?"

"Huh?"

"Hanya berdua saja. Kita."

Gadis itu merona tanpa alasan yang dapat ia mengerti. "Call!" Serunya.

.

e)(o

.

Seorang pria bertubuh jangkung nampak sibuk menekan bell pintu apartemen dihadapannya. Sudah lebih dari lima belas menit ia berdiri di sana. Wajahnya nampak lelah tapi sama sekali tidak mengurangi kadar ketampannya sedikitpun. Ditelinga kirinya menempel i-phone miliknya. Hanya terdengar bunyi bahwa telfon tersambung tapi tak juga mendapat jawaban. Lalu, seolah teringat suatu hal. Pria itu berjongkok. Membukan kopernya lalu mengacak-acak isi koper yang memang sudah berantakan itu untuk menemukan sesuatu.

Butuh waktu lima belas menit bagi pria itu untuk membereskan isi kopernya yang kacau dan membuka pintu apartemen dihadapannya. Pria itu berjalan mengendap saat berhasil memasuki apartemen mewah itu. Ia berniat memberikan kejutan pada seseorang yang kini tengah menonton layar kaca di ruang tengah. Tapi niatnya seketika luntur saat mendapati dua orang wanita berbeda usia kini tengah tidur dengan posisi duduk di depan layar kaca itu. Ibunya dan kekasihnya. Keduanya sepertinya tertidur saat menonton drama.

Chanyeol menghela nafas ketika mendapati betapa kacaunya ruang tengah yang biasanya bersih itu. Dengan gerakan perlahan, ia mengangkat tubuh mungil kekasihnya. Membawa si mungil menuju kamarnya. Lalu setelah membaringkan tubuh si mungil, Chanyeol segera membenahi selimut untuk menutupi tubuh kurus itu sebelum mengatur suhu kamar agar kekasihnya tidak kedinginan. Beberapa saat setelahnya ia melangkah menuju dapur untuk mengambil bantal dan selimut cadangan yang biasanya ia gunakan saat menginap.

Dibenahinya posisi tidur ibunya, pria itu melakukan hal yang sama seperti apa yang dilakukannya beberapa saat lalu kepada kekasihnya. Sebenarnya ia bisa saja memindahkan ibunya ke kamar Baekhyun, tapi sudah pasti ketika ibunya terbangun wanita itu akan merasa tidak enak. Jadi ia memutuskan untuk membenahi posisi tidur ibunya saja dengan pertimbangan bahwa sofa tempat ibunya berbaring sebenarnya cukup luas dan nyaman untuk berbaring bahkan untuk dua orang sekalipun. Lalu setelah mengatur suhu ruangan tempat ibunya tertidur, Chanyeol mulai bergerak membersihkan kekacauan di ruangan itu.

Bohong jika pria itu tidak lelah. Ia baru saja sembuh dari demam kemarin -belum sembuh benar- lalu segera mengambil penerbangan paling awal menuju kota kelahirannya ketika hari esok tiba. Tapi ia merasa harus membereskan kekacauan itu karena akan sangat tidak nyaman jika melihat ibunya tertidur bersebelahan dengan sampah kaleng dan bungkus makanan yang tergeletak di meja. Pada akhirnya setengah jam kemudian pria itu menyelesaikan pekerjaannya.

Chanyeol berjalan perlahan menuju walk in closet di kamar Baekhyun. Melepas mantel lalu berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelahnya pria itu berjalan menuju ke ranjang kekasihnya saat mendengar wanita mungilnya nampak bergumam dalam tidurnya. Diam-diam pria itu mengungkapkan kekagumannya pada sang kekasih. Bagaimana wanita yang hampir berusia 28 tahun itu terlihat begitu menggemaskan. Tidurnya meringkuk seperti kucing kedinginan membuat Chanyeol terkikik geli. Diraihnya tubuh mungil Baekhyun ke dalam pelukannya sebelum pria itu ikut memejamkan mata karena kantuk dan rasa lelah yang tak bisa ditahan lagi.

.

.

"Ungh." Baekhyun mengerjapkan matanya.

Si mungil berusaha untuk menggerakkan tubuhnya tapi terhalang oleh sebuah tangan yang memeluk erat tubuhnya. Ia kembali mengerjapkan matanya. Mencoba mencari tahu siapa pemilik tangan itu karena ruangan memiliki pencahayaan yang minim. Hanya lampu yang berasal dari walk in closet-nya yang menyala.

"Chan-yeol?" Gumamnya ragu.

Mata sipit itu membesar. Ia menahan pekikannya saat menyadari bahwa pria yang tidur disampingnya itu adalah kekasih yang dirindukannya sejak dua minggu yang lalu. Pria pembohong yang membuatnya kesal setengah mati. Beberapa hari yang lalu, pria itu berkata akan pulang lebih awal dan menghabiskan akhir pekan bersama. Nyatanya, akhir pekan sudah berlalu tapi pria itu masih berada di negara dengan ikon Big Ben nya itu.

Dilarikannya jemari lentiknya itu ke wajah sang kekasih. Ia bisa merasakan bagaimana tegasnya rahang pria itu. Tapi lebih dari itu, ia menyadari bahwa suhu pria itu cukup tinggi untuk manusia normal. Pria ini sedang demam. Lalu, binar mata bahagia si mungil secara refleks meredup. Ia merasa bersalah karena kembali mengabaikan kekasihnya beberapa terakhir karena rasa kesalnya. Kekasihnya pasti sedang sakit saat itu sehingga kepulangannya ditunda.

"Chanyeola." Ditepuknya pelan pipi si pria.

"Yeol? Chanyeola. Bangunlah sebentar." Panggil Baekhyun. Tak kunjung mendapat respon, gadis itu memilih untuk melepas pelukan kekasihnya perlahan. Ia baru ingat jika beberapa jam yang lalu ia masih berada bersama ibu dari pria ini di ruang tengah.

Dengan berjalan berjingkat, gadis itu keluar dari kamarnya. Ruangan tengah dan ruangan lainnya nampak lengang. Ia menepukkan tangannya untuk menyalakan lampu ruang tengah. Lalu saat itu, ia menemukan sebuah sticky note yang biasanya menempel di kulkas kini juga menempel di meja ruang tengah.

Maaf eomma pulang tanpa memberitahu kalian.

Kalian tidur terlalu lelap dan berpelukan erat sekali, eomma tidak tega membangunkan kalian. Chanyeol sepertinya sedang demam jadi eomma memesankan bubur tim untuknya. Baekhyuna, bisa bantu eomma memanaskannya? Eomma juga sudah menyiapkan obat demam di meja pantry. Tolong jaga putra kesayangan eomma dan jangan lupakan makan malammu Baekhyuna.

Eomma pulang. XOXO

p.s. Putra eomma akan sangat manja jika sedang sakit.

Baekhyun merasa wajahnya memerah malu saat membaca note itu. Diliriknya meja pantry. Ia harus segera memanaskan bubur untuk Chanyeol dan memastikan pria itu meminum obatnya.

.

.

"Baekhyuna."

"Huh?"

"Bisakah aku mendapatkan sedikit makananmu? Oh! Bisakah kita bertukar makanan saja?" Baekhyun menatap Chanyeol sebal. Sudah sejak beberapa menit yang lalu pria itu terus mengungkit hal yang sama.

Chanyeol tidak menyukai menu makan malamnya, bubur tim. Dan berniat merebut makan malam yang dipesankan ibunya untuk Baekhyun. Baekhyun benar-benar merasa tak habis pikir. Ia tidak menyangka bahwa pria itu bisa bersikap kekanakan.

"Kau sedang sakit jadi habiskan bubur itu dan minum obatmu."

"Tapi makanan ini benar-benar tidak enak."

"Park Chanyeol."

"Ya! Tidakkah kau kasihan padaku?" Chanyeol mencembikkan bibirnya dengan mata berair membuat sudut hati Baekhyun berdenyut.

Lalu gadis itu merebut sendok Chanyeol. Memberikan suapan pada sang kekasih dan memutuskan untuk berbagi makanan dengan pria itu.

.

e)(o

.

"Katakan padaku Lu, siapa pria yang kau maksud."

Yang ditanya menoleh. Menghentikan kegiatannya menyesap grape frappe miliknya. Jemari lentiknya bergerak random di bibir gelas.

"Kau mungkin tidak mengenalnya Soo." Menatap si penanya. "Ah tidak. Kau tidak akan mengenalnya."

"Apa maksudmu? Siapa pria itu?"

"Ku bilang kau tidak akan mengenalnya."

"Lalu bisa kau katakan padaku seperti apa pria itu?"

Mendesah frustasi, Luhan menjauhkan gelasnya dari jangkauannya. "Ia bekerja di perusahaan konstruksi. Pria itu bertubuh tinggi. Tawanya mungkin terlihat menyebalkan, tapi itu menyenangkan. Ia pria baik hati yang memiliki jiwa sedingin es. Sulit sekali menjangkau hatinya."

"Lu, kau terdengar begitu putus asa."

"Aku memang sudah putus asa sejak lama. Pria ini kenapa tidak menyadari perasaanku meskipu aku terang-terangan menunjukkannya. Bukankah itu keterlaluan Soo?"

"Apa ia menolakmu?"

Luhan menggeleng. "Bagaimana mungkin ia menolakku jika ia saja tidak menyadari perasaanku?"

"Apa ini alasan kau vakum dari dunia model dan kembali ke Korea?"

"Hum. Kau benar. Aku merasa tidak akan sanggup jika harus tetap tinggal."

Kyungsoo menghela nafas. "Tidakkah kau juga sama saja sepertinya?"

"Huh?"

"Apa kau tidak pernah berpikir mungkin saja ada pria lain yang mengalami hal yang sama sepertimu saat ini?"

"Apa maksudmu?"

"Ah sudahlah, lupakan saja. Tapi, sejauh mana hubunganmu dengan pria itu?"

Luhan mengerjapkan matanya. "Kami berteman dekat."

"Hanya itu?" Kyungsoo memincingkan matanya. "Wajahmu memerah Lu. Kau sudah melakukannya dengan pria itu?" Luhan mengusap kasar wajah mulusnya.

"Hampir, kami hampir saja melakukannya."

"Ya! Bukankah itu keterlaluan?"

Luhan mengangguk lalu tertawa kering. "Aku berharap kami benar melakukannya malam itu. Tapi kami tidak."

"Kau pasti sudah gila."

"Ya. Kau tidak tahu seberapa gilanya aku mendengar penolakannya malam itu." Luhan mendengus.

Kyungsoo menatap serius pada teman dekatnya itu. "Lu, kau harus membuka hatimu untuk orang lain. Lupakan saja pria itu."

"Itu sulit Soo." Tiba-tiba saja Luhan berdiri dari duduknya. "Oh! Bukankah itu Chanyeol?" Mata Luhan memincing. "Ia bersama seseorang. Apa itu Baekhyun atau wanita lain?"

Kyungsoo mengikuti arah pandang Luhan. "Itu sudah pasti Baekhyun, mereka seolah tidak terpisahkan bukan?"

"Tapi Soo. Wanita itu." Jari Luhan menunjuk ke arah luar café, tak jauh dari sepasang manusia yang tengah tertawa. "Bukankah itu dia?"

"Huh?"

"Mantan kekasih tersayang Park Chanyeol."

"Apa katamu?"

"Sepertinya wanita itu sudah kembali."

Kyungsoo membolakan matanya saat menyadari maksud ucapan Luhan. "Kurasa, cepat atau lambat kita harus memberitahu Baekhyun soal wanita itu." Luhan mengangguk setuju.

"Wanita seperti dia tidak pantas untuk Chanyeol. Kalau saja Chanyeol berani menyakiti Baekhyun, akan ku pastikan akan mengubur pria itu." Gumam Luhan.

"Tapi sepertinya Chanyeol juga tidak tahu kalau wanita licik itu sudah kembali." Ucap Kyungsoo.

.

e)(o

.

Luhan mengernyit jijik saat mendapati sepasang kekasih tidak tahu diri -terlihat- sedang bermesraan di salah satu meja sebuah restaurant sebuah hotel berbintang, tepatnya di sebuah ruangan VIP yang memang sengaja dipesan khusus untuk hari ini. Dua kursi kosong dari pasangan itu, seorang pria berwajah datar tengah sibuk menatap i-pad ditangannya, sepertinya pria itu lebih memilih menyibukkan diri di dunianya sendiri dari pada harus mengalami iritasi mata melihat kelakuan sepasang kekasih di dekatnya.

"Auh! Dokter Oh! Apakah melihat seseorang bisa menyebabkan radang pada selaput mata?" Tanya Luhan sengaja mengeraskan suaranya.

Yang dipanggil mendongakkan kepalanya. "Bodoh!" Cibir Sehun pada Luhan. Luhan yang tidak terima segera melayangkan tatapan tajam kepada pria itu. "Tentu saja bisa nona supermodel jika orang yang kau lihat membawa bubuk lada lalu melemparkannya kepadamu!" Seru Sehun sebal.

"Apanya yang dokter bedah hebat! Aku heran bagaimana kau bisa menangani pasien dengan sifatmu yang buruk itu."

Sehun menyeringai mendengar nada sinis yang ditujukan padanya. "Asal kau tahu nona supermodel, pasienku tidak berada dalam keadaan sadar aku berhadapan dengannya."

Chanyeol dan Baekhyun tergelak mendengar perdebatan temannya. Ya, sepasang kekasih yang dimaksud adalah Chanyeol dan Baekhyun. Dua manusia dengan perbedaan tinggi badan 11 cm itu memang bersikap seolah dunia milik berdua. Chanyeol yang menyandarkan tubuhnya ke punggung kursi dan Baekhyun yang menumpukan tubuhnya ke dada bidang kekasihnya.

Yang dimaksud Luhan dengan perilaku yang dapat menyebabkan iritasi mata adalah bagaimana dua sejoli itu menatap satu sama lain. Sesekali tangan besar Chanyeol akan bergerak menepuk pelan puncak kepala kekasihnya dan Baekhyun akan tertawa karenanya. Lalu keduanya akan membicarakan beberapa hal dan saling membisikkan entah apa ke telinga satu sama lain. Luhan dan Sehun hanya tidak tahu jika yang dibicarakan kedua sejoli itu adalah seekor anak anjing yang kemarin mereka lihat di sebuah petshop sepulang kerja.

"Yaish! Sebenarnya dimana yang lain? Kenapa hanya ada kalian di sini?" Tanya Luhan mengalihkan topik pembicaraan.

"Minseok noona dan Jongdae hyung sedang dalam perjalanan. Jongin masih harus menunggu Kyungsoo karena tiba-tiba ia ada kelas pengganti hari ini dan Yixing noona, dua putranya dan Joonmyeon hyung akan tiba dalam lima menit. Mereka sebenarnya sudah sampai tapi tiba-tiba bertemu dengan kolega Joonmyeon hyung." Jelas Sehun tanpa mengalihkan tatapannya dari ipadnya.

"Uh, aku lapar sekali dan masih harus menunggu mereka." Keluh Luhan. "Haruskah aku makan duluan?" Luhan menatap penghuni ruangan itu satu per satu tapi justru diabaikan.

Pada akhirnya si nona supermodel itu memutuskan untuk memesan salad sebagai makanan pembukanya hari ini sebelum teman-temannya datang.

"Ya! Apa yang kau lakukan!" Seru Luhan tidak terima saat pria yang duduk tepat diseberangnya kini sudah berpindah tempat duduk menjadi disampingnya. Pria itu tiba-tiba mengalih salad miliknya dan menggantinya dengan satu porsi steak yang sudah dipotong-potong. Dan sebagai gantinya, pria itu memasukkan salad ke mulutnya.

"Kau lapar dan aku salah memesan menu." Pria itu menggedikkan bahu.

"Ada apa dengan mereka?" Baekhyun menatap Chanyeolnya.

Chanyeol melirik ke arah Luhan yang masih mengomeli tindakan Sehun yang menurutnya semena-mena. "Sudah jelas sekali jika dokter Oh sedang berusaha mengambil hati nona supermodel Lu. Dokter Oh menyukai nona Lu. Sejak lama." Jelas Chanyeol pada Baekhyun.

"Ya! Aku bisa mendengarmu dari sini!" Seru Luhan tapi diabaikan.

"Oh! Benarkah?" Baekhyun mengerjap lucu. "Apakah Luhan tahu itu?"

Chanyeol mengusukkan hidungnya ke hidung Baekhyun. "Kenapa kau menggemaskan sekali sih?" Ucap pria itu dan Luhan meresponnya dengan memutar bola mata malas. "Aku tidak tahu apakah nona supermodel itu akan sadar atau tidak."

"Ya! Aku mendengarmu Park!" Luhan kembali berseru sengit.

Sehun terkekeh menyebalkan. Diletakkannya garpu salad yang dipegangnya -milik Luhan-. Ia menumpukan sikunya ke meja dihadapannya lalu membuat tangannya sebagai penyangga dagunya, menatap intens ke arah Luhan. "Jadi, apa kau juga mengetahuinya supermodel Lu?" Tanya Sehun.

"Aku tidak buta." Cibir Luhan.

"Apa itu artinya kau sudah memutuskan untuk membalas perasaanku?" Tanya Sehun. Luhan mendengus sebal.

"Aku tidak tertarik padamu." Luhan melemparkan sebuah senyum lebar -seringaian- kepada Sehun.

"Baiklah, hentikan drama murahan kalian." Jongdae yang sebenarnya sudah sejak beberapa menit yang lalu datang memutar bola mata malas. Dibelakangnya berdiri Minseok dan keluarga Kim.

"Kalian sudah datang?" Chanyeol bersuara. "Cepatlah duduk, nona supermodel kita sudah kelaparan."

Tak berapa lama setelahnya Kyungsoo dan Jongin ikut bergabung. Pertemuan hari itu mereka hanya membahas beberapa hal ringan seperti kegiatan Yixing selama di Afrika sampai dengan dana donasi yang mereka janjikan lewat lembaga yang diampu Yixing.

.

e)(o

.

Chanyeol sedang sibuk dengan peralatan masaknya di dapur apartemen Baekhyun siang itu. Baekhyun sendiri berdiri di sebelah pria itu. Keduanya nampak memakai apron yang baru dibeli kemarin sewaktu berkencan di supermarket -bagi keduanya asal pergi berdua maka bisa disebut dengan kencan- Hari ini Baekhyun berinisiatif mempraktekkan hasil kerja kerasnya selama dua minggu kepada Chanyeol, tidak bisa disebut sebagai inisiatif sebenarnya karena Chanyeol menagih janji kekasihnya. Akan tetapi pada akhirnya Chanyeolah yang bertugas sebagai koki utama di apartemen itu karena hasil masakan Baekhyun tidak bisa lagi dikategorikan sebagai masakan karena wanita itu salah membeli jenis sayuran yang akan dimasak.

"Kau tahu, ini sedikit melukai harga diriku." Ucap Baekhyun saat melihat betapa cekatannya gerakan tangan Chanyeol mencuci sayuran hijau dihadapannya. Mereka akan memanggang daging di balkon apartemen Baekhyun.

Chanyeol melirik Baekhyun sekilas. "Huh? Apa maksudmu?"

"Aku selalu iri dengan seorang wanita yang memiliki luka karena pisau di jarinya." Dahi Chanyeol berkerut.

"Kata-katamu terdengar menyeramkan Baek."

Baekhyun mencembikkan bibirnya. "Maksudku, bukankah itu artinya mereka rela melukai jari mereka saat membuat makanan untuk orang terdekatnya?" Chanyeol tidak bisa menahan senyumnya.

Pria itu meletakkan selada yang sudah dicucinya. Meraih pinggang berlekuk kekasihnya lalu mengangkat tubuh mungil itu ke atas pantry. "Bagaimana ini, aku tidak setuju dengan pendapat itu."

"Huh?"

Chanyeol meraih jemari lentik Baekhyun. "Aku lebih suka jari ini tidak terluka sekalipun kau berusaha membuat makanan untukku." Baekhyun mendengus sebal. Chanyeolnya mulai lagi. "Eiyy, ada apa dengan wajah itu hum?"

"Kenapa kau suka sekali mengucapkan cheesy line seperti itu huh?"

"Cheesy line?" Pria itu menggaruk pipinya. "Kurasa itu lebih tepat disebut dengan Chanyeol's line?"

"Park Chanyeol!"

Chanyeol terkekeh. "Pemarah sekali kekasihku ini." Pria itu mengusak surai Baekhyun sebelum menempatkan bibirnya di bibir si mungil sekilas. "Duduklah tenang di sini dan biarkan aku menyelesaikan sisanya."

Baekhyun mengerjapkan matanya. Ia masih belum terbiasa dengan kebiasaan baru Chanyeol yang suka memberikan kecupan di bibir secara tiba-tiba. Lalu suara bell pintu apartemen mengejutkannya. Chanyeol melirik jam tangannya.

"Apa kau mengundang seseorang untuk bergabung bersama kita Baek?"

Baekhyun menggeleng. "Sepertinya tidak."

"Kalau begitu biarkan aku saja yang membuka pintunya."

"Biar aku saja."

"Kita tidak tahu siapa yang berkunjung pada jam seperti ini Baek."

"Tapi ini kan apartemenku."

"Baiklah, mari kita buka pintunya bersama."

Keduanya berjalan menuju pintu apartemen dengan Chanyeol berada di depan. Keduanya tidak bisa melihat apapun lewat layar intercom.

Pintu dibuka.

"Oppa?" Seru Baekhyun terkejut.

Pria berwajah campuran itu menatap terkejut ke arah pria lain yang tengah mengenakan apron berwarna cream dihadapannya. Mengabaikan seruan adik perempuannya yang nyaring. "Park Chanyeol?" Gumam pria itu.

"Hyung?" Chanyeol sendiri nampaknya berada dalam state yang sama. Terkejut.

.

.

To Be Continue.

e)(o

[Interaction Corner]

Deng! Tebakan kalian soal konflik antara Chanyeol-Kris sepertinya salah. Sejauh ini belum ada yang menebak dengan benar wkwkwk

Tenyata aku salah perhitungan, Kris sama Chanyeol baru benar-benar bertemu di chapter depan. So sorry.

Spoiler: Chanyeol-Kris saling mengenal baik satu sama lain. Chapter depan Chanyeol bakalan minta restu sama abangnya Baek. Dan pria yang ditaksir Luhan bakalan terungkap di chapter depan pula.

Selamat datang untuk new readers! Always welcome! Thank you sudah mampir 3

Terima kasih sudah bersabar! Ingat, ini fiktif belaka. Jangan berharap banyak karena saya takut tidak bisa memenuhi ekspektasi kalian. Hehe Love ya guys~ 3

Special Thanks to chapter 6: pcyB.I, KimDoYoon, danactebh, Oh Jemma, yousee, Asti272, FreexingUnicorn180, Pcy61, Bee Paol, VFlicka6104, Piggy614, rianurfi, hyuniee86, ssuhonet, MeAsCBHS, joruri, veraparkhyun, reallovepcy, chogiwagirl, agnesnes, hokage614, sindijulia, Pcyrealwife, kepala jamur, googirl, rizkaa, Cherry EXO-L, Indahbyunee614, almaepark, neomuchanbaek1, Guest, Baekhill.

Keberatan untuk meninggalkan jejak (lagi)?

Enjoy!

Sincerely,

Curloey Smurf