Kris Wu | Kim Jongin | Yoo Ara | Oh Sehun | Jung Yunho | Shim Changmin | Park Chanyeol | Byun Baekhyun | Rachel Wu

rappicasso

presents

an alternate universe fanfiction

MIANHAE

.: chapter 5B :.

Aku tahu, maaf memang tak bisa mengembalikan semuanya.

Namun, bisakah pintu maafmu terbuka untukku? Setidaknya, sebelum aku menghembuskan nafas terakhirku.

note:

italic means flasback

Kris terbebani dengan banyak hal. Ia baru saja bertengkar dengan Ayahnya yang semakin gencar menyuruhnya kembali ke Amerika Serikat. Kris yang sedang banyak pikiran itu pun kehabisan akal untuk mencari alasan agar bisa menghindar dari permintaan Ayahnya. Dan gawatnya, kali ini sang Ayah mengancam akan menjemput paksa Kris di Seoul. Kris harus bergerak cepatmencari alasan terbaik agar bisa terbebas dari Ayahnyadan ia hanya memiliki waktu dua bulan untuk memikirkannya.

Kris lelah bergelut dengan tugas-tugas kuliahnya, belum lagi beberapa masalah yang seolah dengan senang hati menjumpainyamulai dari Baekhyun, Jongin, hingga Sehun. Kenapa tidak sekalian saja Chanyeol menyatakan suka padanya? Kris benar-benar jengkel pada takdir yang menimpanya. Mungkinkah ini hukuman karena pernah selingkuh dari Baekhyun? Ah, mungkin saja.

"Pergilah cari udara segar!" Baekhyun sedikit membentak di ujung telepon, saat Kris merengek minta ditemani malam itu.

Kris hanya mendengus. Ia sadar bahwa Baekhyun seolah berusaha menghindarinya. Hubungan mereka memang tidak baik-baik saja pasca kejadi perselingkuhan itu, namun tidak ada satu pun dari keduanya yang mencoba meluruskan masalah ini.

"Jangan ke club, bar, atau diskotik!" Suara Baekhyun kembali terdengar. "Yang terpenting, jangan merokok dan minum alkohol lagi."

Kris sudah hafal dengan berbagai larangan Baekhyun. Meskipun hubungan mereka tidak cukup baik, setidaknya pemuda bertubuh mungil itu masih memperhatikan Kris. "Baiklah, kalau begitu." Kris memutuskan untuk mengalah dan berpikir positif. Mungkin saja, Baekhyun menolak ajakannya karena ia sedang sibuk dengan pendidikannya.

Tak lama kemudian, sambungan telepon di antara sepasang kekasih itu pun terputus. Kris pun memutuskan untuk pergi keluar apartemennya sambil berjalan kaki.

Mencari udara segar, kan?

Kris ingat dengan sebuah cafe yang terletak tak jauh dari apartemennya. Matanya sudah menangkap bangunan yang tidak terlalu tinggi itu dari kejauhan. Bangunan itu nampak dipenuhi banyak kawula muda dengan lampu yang berpendar terang.

Yah, semoga saja masih ada kursi yang tersisa untuknya agar ia bisa menikmati malam itu dengan nyaman.

Kris sama sekali tak mempercepat langkahnya. Ia berjalan santai sambil menikmati angin malam yang bertiup pelan. Hingga tak terasa, kedua kaki jenjangnya sudah tiba di depan pintu kaca cafe tujuannya. Didorongnya pintu kaca itu perlahan. Matanya memandangi seisi cafe yang lumayan ramai, meski tidak seramai saat ia mengunjunginya dulu. Pandangannya tertuju pada satu titik di sudut cafe ini.

Kim Jongin sedang duduk di sudut yang sama saat keduanya bertemu di cafe ini untuk pertama kalinya. Kepalanya tertunduk sambil memperhatikan ponselnya yang tergeletak di atas meja.

Tubuh Kris mendadak menegang. Jujur saja, ia sangat merindukan pemuda itu. Apalagi sejak insiden dimana Jongin membentaknya malam itu, Kris tak lagi mencoba untuk menemui Jongin. Ia khawatir jika emosi Jongin sedang tidak stabil seperti dulu. Dan apakah malam ini adalah malam yang tepat untuk menemuinya kembali?

Kris mengambil satu langkah. Berdiri di depan pintu cafe bukanlah hal yang baik. Ia bisa menghalangi siapapun yang hendak menggunakan pintunya. Kris kembali berhenti dan menimbang-nimbang. Ah, sepertinya, ia harus menyapa Jongin dulu. Jika responsnya buruk, mungkin Kris memilih untuk langsung pulang saja dan menghindari Jongin lagisampai jangka waktu yang tak dapat ditentukan.

"Hai, Jongin." Suara Kris tidak terlalu keras dan tidak terlalu pelan. Ia begitu gugup saat sudah berhadapan dengan Jongin.

Jongin mengangkat wajahnya. Terdapat kilat keterkejutan saat matanya menangkap sosok Kris yang berdiri di hadapannya dan memanggil namanya. Namun, bibir tebal pemuda itu justru membentuk kurvaia tersenyum. "Hai, Hyung," balasnya lirih.

Kris mengusap tengkuknya. "Eung, kau sendirian? Bolehkah aku bergabung denganmu?"

De javu.

Rasanya seperti memutar ulang kenangan di masa lalu.

Jongin tersenyum tipis. "Tentu saja. Silakan duduk, Hyung," balas Jongin akhirnya. Ia mengambil ponselnya dan menyimpannya dalam saku celana. Diambilnya cangkir minuman pesanannya dan diseruputnya pelan. "Kau mau pesan sesuatu?"

Kris menatap Jongin. "O-oh, nanti saja," jawabnya gugup.

"Baiklah."

Kemudian hening. Hiruk pikuk di dalam cafe seolah tak tertangkap oleh indra pendengaran Kris. Yang ia tangkap hanyalah kesunyian yang tercipta di antara dirinya dan Jongin. Kris bingung bagaimana cara mencairkan suasanaia bukan orang yang pandai dalam hal ini. Yang ia lakukan hanyalah terdiam dan memandang ke luar jendelaberharap Tuhan memberikan pencerahan untuk membuka pembicaraan dengan Jongin.

"Tumben kau sendiri, Hyung." Suara Jongin memecah keheningan.

Kris menolehkan kepalanya cepat. "Y-ya?"

Jongin meringis. "Kau tidak bersama Baekhyun Hyung, eh?"

Kris terdiam sejenak mencoba mencari jawaban yang tepat. Biasanya, ia menceritakan keluh kesahnya pada Jongin secara gamblang. Tapi dengan kecanggungan mereka sekarang, sepertinya ia tidak perlu menjawab pertanyaan dengan jujur. "Baekhyunsibuk," jawabnya dengan nada yang terdengar ragu.

Jongin mengernyit heran saat mendengar intonasi keraguan dalam kalimat yang diucapkan Kris, namun ia berusaha untuk bersikap tak peduli.

"Kaukenapa sendirian? Tidak bersama Chanyeol atau Sehun?" Kris mencoba balik bertanya.

Jongin terkekeh. "Kau sudah dengar berita bahwa Chanyeol dan Sehun sudah berpacaran?"

Tentu saja Kris mengetahuinya. Bahkan Kris tahu tentang perasaan Sehun yang terbagi antara dirinya dan Chanyeol. "Y-ya, tentu saja." Sial, kenapa suaranya bergetar?

"Aku heran bagaimana mereka bisa berpacaran begitu." Jongin kembali menyesap minumannya. "Padahal, setahuku, Sehun sedang menyukai seseorangyang pasti bukan Chanyeol." Jongin melirik Kris.

DEG!

Mungkinkah Jongin tahu sesuatu tentang perasaan Sehun? Mati kau, Kris Wu!

"E-eh? Mana bisa begitu?" Kris berpura-pura terlihat santai dan mengikuti perbincangan ini.

Jongin hanya mengangkat bahu, lalu meletakkan cangkir ke atas meja.

"Mungkin, Sehun berusaha mencari pengganti orang yang disukainya itu. Y-ya, mungkin begitu." Lagi-lagi, suara Kris terdengar bergetar. Kenapa Kris terdengar begitu sok tau, eh? Yah, meskipun memang itulah yang dikatakan Sehun padanya, tapi tidak seharusnya ia membongkarnya di depan Jongin.

Jongin hanya mengangguk samar sambil menatap ke jalanan. "Mungkin begitu," gumamnya pelan.

Hening kembali.

"Oh ya, Hyung."

"Y-ya?" Oh God, apa yang terjadi dengan pita suaramu, Kris Wu?!

Jongin kembali menatap Kris. "Maafkan aku atas kejadian malam itu." Kepalanya tertunduk.

Kris terdiammencoba memahami malam yang dimaksud oleh Jongin. "Malam"

"Saat aku membentakmu," cicit Jongin dengan kepala yang masih tertunduk.

Kris tertawa pelan. "Tak apa. Aku sudah memaafkanmu," jawabnya tulus. "Seharusnya, akulah yang meminta maaftentang hubungan kita dan"

"T-tidak!" Jongin memekik tertahan. Ia berusaha mengangkat wajahnya. "Aku menyadari sesuatu, Hyung. Mungkin memang sebaiknya bahwa kita tetap berteman seperti biasanya dan kau tetap melanjutkan hubunganmu dengan Baekhyun Hyung." Jongin tersenyum.

Kedua alis Kris bertaut. "Kauserius?"

Jongin mengangguk.

Kris tersenyum lega.

Ternyata, keputusannya untuk menghampiri Jongin malam itu membuahkan hasil yang baik.

Semoga saja.

"Yoboseyo?" Kris mengangkat panggilan telepon dengan malas. Ia sedang berada di perpustakaan untuk memenuhi tugas dari salah satu dosennya. Dan ketika ia sedang asyik mengerjakan tugasnya, panggilan 'laknat' itu merusak konsentrasinya.

"Kris Hyung!"

Kris menjauhkan ponselnya sejenak dan melihat nama yang tertera di layar ponselnya.

Oh Sehun.

Ah, sial. Seharusnya, Kris menghindari panggilan bocah itu saja. Well, Sehun memang menyenangkan dan lucu, namun lama-kelamaan, ia bersikap terlalu manja padanya dan Kris membenci hal itu. Tapi, apa boleh buat? Lagipula, pemuda itu menyukai Kris kan? Jadi, Kris berusaha sebisa mungkin untuk memperlakukan Sehun dengan baik, karena ia tak bisa membalas perasaan Sehun padanya.

"Ada apa, hm?" tanya Kris sambil menutup buku tebal yang sedang dibacanya.

"Chanyeol~"

Kris mendengus. Selalu saja tentang Chanyeol. Chanyeol beginilah, Chanyeol begitulah. Kris merasa bahwa ia hanya menjadi pelampiasan bagi Sehun. Mungkinkah ini karma karena pernah menjadikan Jongin sebagai pelampiasan hubungannya dengan Baekhyun? Ah, sial.

"Ada apa dengan Chanyeol?" Kris terpaksa mengemasi alat tulisnya. Ia tak mungkin mengganggu pengunjung perpustakaan dengan suaranya saat menelepon Sehun.

"Dia menghilang tanpa kabar, Hyung. Selalu saja begitu," keluh Sehun di ujung telepon.

Kris mendesah kecil. "Seharusnya, kau berusaha mengerti Chanyeol. Mungkin dia sedang sibuk dengan sekolahnyasama seperti Baekhyun." Kris menyandang tas ranselnya dan bersiap berjalan keluar perpustakaan.

"Tapi, setidaknya berikan kabar untukku. Aku mengkhawatirkannya."

Kris memijat keningnya. Chanyeol dan Sehun yang berpacaran, tapi kenapa ia yang harus pusing? "Kau kenal salah satu teman Chanyeol?"

"Hanya kau dan Jongin."

Kris mendesah lagi. "Begini saja, aku akan mencoba mencari keberadaan Chanyeol dari Baekhyun atau temannya yang lain, okay? Jangan khawatir dan berpikir negatif dulu."

"Baiklah, Hyung."

Kris menghela nafas panjang. Lagi-lagi, ia harus terjebak dalam masalah yang pelik.

"Hei, Bocah. Sehun mencarimu, kau tahu?" Kris menggerutu kesal pada Chanyeol.

Chanyeol bersikap cuek sambil memandang ke arah keramaian mall sore itu. Ia diajak bertemu oleh Kris untuk membicarakan sesuatu. "Tentu saja, aku tahu," balas Chanyeol acuh.

"Lalu, kenapa kau tak mencoba menenangkannya, Bodoh? Hampir setiap hari dia meneleponku dan mengkhawatirkan keadaanmu." Jika bisa, Kris mungkin sudah berteriak keras sambil melempar gelas kaca ke wajah Chanyeol.

Chanyeol menghela nafas. "Dengar Hyung, sebenarnya, aku sedang berusaha menghindari Sehun," jawab Chanyeol lesu.

Kris mengernyit. "Kenapa?"

Chanyeol melirik Kris sekilas, kemudian menyesap minumannya. "Dia terlalu overprotektif. Dan kau tahu kan, kalau aku tidak suka jika dikekang seperti itu?"

Kris hanya terdiam dan tidak berniat menjawab.

Chanyeol menyandarkan punggungnya pada kursi dan mendesah cukup keras. "Aku bosan dengannya, Hyung. Aku ingin putus darinya."

"A-APA?!"

"Dan kau harus membantuku."

Oh, jika bisa, Kris lebih memilih untuk tidak pernah dilahirkan ke dunia ini.

"Kami sepakat bahwa sidangmu akan diadakan bulan depan."

Kris merasa kepalanya berputar pelan. Ia tak menduga bahwa sidang sebagai penentuan kelulusannya akan segera berlangsung dan itu berarti bahwa waktunya di Seoul akan semakin sedikit. Ia merutuki otak jeniusnya yang berhasil menyelesaikan skripsinya tanpa kesulitan berarti dan sialnya hasilnya terlalu memuaskan di hadapan para dosen.

Kris baru saja keluar dari ruangan dosen pembimbingnya, saat ponselnya berdering lumayan keras. Kepalanya berdenyut lebih keras karena bunyi itu. Ia segera mengangkat panggilan tersebut. "Yoboseyo?"

"K-kris Hyung." Terdengar suara yang bergetar dan isakan di ujung telepon.

Kris mematung di tempatnya dan mencoba mengenali suara di ponselnya tersebut. Mungkinkah itu Sehun. "S-sehun?"

"H-hyung, Chanyeolhiks."

Astaga, ada apa lagi di antara mereka? Kris ingin sekali memekik keras sambil membanting ponselnya ke lantai. Namun, ia terlalu menyayangkan ponselnya dan memutuskan untuk mendengarkan Sehun. "Apa yang terjadi di antara kalian, Sehun?"

"C-chanyeol memutuskankuhiks."

Shit! Kris mengumpat dalam diam saat mendengar pernyataan Sehun. Rasa pening di kepalanya itu justru menghilang dan tergantikan oleh tusukan yang tepat bersarang di jantungnya. Tidak bisakah Tuhan menghentikan segala ujian ini dari hidupnya?

Kris benar-benar tak habis pikir jika Chanyeol serius dengan ucapannya tentang memutuskan hubungan dengan Sehun. Padahal, ia sudah menarik diri dari permainan Chanyeol dan menasihati pemuda itu bahwa putus bukanlah jalan keluar dari segalanya.

"A-aku harus apa, Hyung?"

Sehun adalah pemuda yang lemahlebih lemah dari kelihatannya. Ia benar-benar merupakan sosok yang rapuh seperti kacaseolah ada seseorang yang harus senantiasa memberikannya pegangan dan bersedia menangkapnya jika ia terjatuh kapan saja. Dan sayangnya, Kris tak ingin merelakan hidupnya menjadi orang itu. Masalah hidupnya sudah cukup pelik dan ia tak ingin menambah Sehun sebagai daftar beban dalam hidupnya.

Kris memijat pelipisnya yang kembali berdenyut. "Katakan, dimana kau sekarang, Sehun-ah?"

"Aku mencintainya, Hyung." Sehun masih senantiasa terisak di dalam pelukan Kris.

Kris merasa ulu hatinya tertohok benda tumpul berukuran besar. Ia merasa sakit hati saat mendengar kata cinta yang tulus dari bibir Sehun untuk Chanyeol. Ia teringat bagaimana Sehun pernah menyatakan padanya bahwa pemuda itu sempat menyukainya, namun menyerah karena Kris sudah memiliki Baekhyun dan memutuskan untuk menjalin hubungan dengan Chanyeol agar ia bisa melupakan rasa sukanya pada Kris.

Dan Chanyeol berhasil.

Namun ia memutuskan untuk pergi.

"Apakah ini karma untukku, Hyung?" Sehun mendongakkan kepalanya dan menatap wajah Kris yang memandang ke sembarang arah.

"Hm?" Kris tidak balas menatap Sehun. Tangannya hanya tergerak untuk mengelus rambut Sehun.

"Awalnya, aku berpacaran dengan Chanyeol karena aku ingin melupakanmu," jelas Sehun. Pemuda itu menenggelamkan wajahnya pada dada bidang Kris. "Namun saat aku sudah benar-benar jatuh cinta padanya, dia justru pergi meninggalkanku." Sehun kembali terisak.

Kris mendesah pelan. Selalu ada hukum sebab-akibat dalam hidup ini. Karena ia pun pernah merasakannya saat ia menjalin hubungan yang rumit dengan Baekhyun dan Jongin. Kris hanya bisa mempererat pelukannya pada tubuh ringkih Sehun dan memberikan elusan di punggungnya. "Tenanglah dulu. Aku selalu ada disini untukmu, Sehun."

Benarkah?

"MhhKrissh." Baekhyun melenguh pelan di tengah ciuman lembutnya dengan Kris malam itu. Pemuda manis itu meremas rambut milik kekasihnya itu untuk menyalurkan rasa nikmatnya atas ciuman yang diberikan kekasihnya.

Kris menggigit pelan bibir bawah Baekhyun, agar pemuda itu membuka mulutnya. Kris yang menemukan kesempatan itu pun langsung memasukkan lidahnya ke dalam mulut Baekhyun dan mengeksplor isi mulut Baekhyunmengabsen giginya dan menjilatnya pelan. Ia menyapa lidah Baekhyunmenghisapnya dan mengajak bermain.

Namun Kris seolah tersadar akan sesuatu. Semuanya terasa salah. Dirinya, Baekhyun, Jongin, Sehun, dan Chanyeolsemuanya kembali berputar dalam ingatannya dan menghantam kepalanya.

Kris mendorong pelan dada Baekhyunmembuat tautan antara keduanya terlepas. "Baekhyun"

"Kriskenapa?" Baekhyun menatap tak percaya ke arah Kris. Ia sudah sangat merindukan sentuhan Kris dan tiba-tiba saja Kris melepas tautan diantara keduanya.

Kris menggeleng pelan. "Ini salah, Byun Baekhyun." Matanya terpejam.

"Salah? Kenapa?" Baekhyun mengernyit bingung.

Kris membuka kedua matanya perlahan. "Kurasa, hubungan kitaaku tidak bisa melanjutkannya lagi, Baekhyun. Maaf." Suara Kris terdengar lirih, namun tersirat ketegasan di dalamnya.

Bibir Baekhyun terbuka. "Kenapa, Kris? Apakah ini karena selingkuhanmu itu?"

"Bukan, Baekhyun!" Suara Kris terpaksa meninggi. "Aku sudah berhenti berhubungan dengannya." Suara kembali melemah. Kepalanya tertunduk. Ia juga tak mengerti dengan dirinya sendiri.

"Lalu, kenapa?" Baekhyun menyentuh pipi Kris dengan lembut.

"Hubungan kita tidak seharusnya berlanjut lagi. Ini semua bukan tentang cinta dan perasaan kita, Byun." Kris menarik nafas dalam-dalam. "Sekarang, semuanya hanya tentang obsesi dan nafsu. Itusama sekali tidak sehat."

Baekhyun menurunkan tangannya yang menyentuh pipi Kris. Ia terdiam selama beberapa detik ke depan. Kakinya melangkah mundur.

"Baekhyun"

Baekhyun mengisyaratkan bagi Kris untuk tidak mendekat.

"Aku minta maaf," cicit Kris.

"Mungkin, kau benar, Kris," balas Baekhyun pelan dengan kepala tertunduk.

"Baekhyun"

"Mungkin berpisah adalah keputusan terbaik atas hubungan kita." Baekhyun mengangkat wajahnya dan sebuah senyuman sudah terlukis di wajah manisnya. "Terima kasih untuk semuanya, Kris. Selamat tinggal."

"Kau putus dengan Baekhyun Hyung?" Jongin nyaris saja menyemburkan air minumnya, jika saja kerongkongannya tidak segera meneman cairan yang masuk ke dalam mulutnya itu.

Kris memejamkan matanya sambil mengangguk samar.

"Kenapa? Bagaimana bisa?" Jongin benar-benar tak menduga atas pernyataan Kris yang disampaikan padanya. "Padahal, kalian adalah pasangan yang serasi," timpalnya.

Kris membuka matanya. Bibirnya tersenyum miris. "Faktanya, tidak semua pasangan yang terlihat serasi hanya didasarkan pada cinta."

Jongin berniat bertanya lagi tentang maksud kalimat yang dilontarkan Kris, namun ia sadar bahwa ia bukanlah siapa-siapa dan ia tak berhak untuk mengorek hal privasi milik Kris. Jadi ia memutuskan untuk mengalihkan pembicaraan. "Dan apa kau tahu tentang Chanyeol dan Sehun?" tanya Jongin takut-takut.

Kris mendesah kecil. "Ya, aku tahu. Mereka berakhir, kan?"

Bahu Jongin melorot. Kepalanya mengangguk kecil. "Hubungan mereka rumit sekali." Jongin menggumam. Tangannya menyangga dagunya. Pandangannya menerawang.

"Hm ya." Kris hanya membalasnya dengan gumaman pelan. Tangannya meraih gelas piala di hadapannya dan menenggak minumannya. Ia tidak berniat untuk membahas hubungan siapapun malam ini, karena ia hanya ingin melepas penatnya.

"A-aku mengandung anak Chanyeol."

Ucapan Sehun tadi siang masih terus terngiang di kepala Kris. Kris benar-benar tak habis pikir jika Sehun adalah pria yang spesialmemiliki rahim layaknya kebanyakan wanita. Pemuda itu juga baru menyadarinya saat dokter menyatakan bahwa ia sedang mengandung selama 3 minggu. Kenyataannya itu benar-benar memukul Sehunmembuat pemuda itu tak bisa berhenti menangis di hadapan Kris. Untung saja, saat ini ia sudah tertidurmungkin karena terlalu lelah.

Kris tak tahu harus bagaimana lagi sekarang. Sementara, ia sudah berjanji pada Sehun untuk selalu berada di sampingnya. Apakah ia harus mengatakan yang sesungguhnya pada Chanyeol? Tapi, apakah pemuda ingusan itu akan mendengar ucapannya? Mungkinkah Chanyeol bersedia mempertanggung jawabkan kelakuannya?

Kris melirik ke arah Sehun yang terbaring di atas ranjangnya. Walaupun Sehun bersikap manja dan kadang membuatnya jengah, namun Sehun hanyalah pemuda polos. Tidak seharusnya Sehun jatuh cinta apalagi menjalin hubungan dengan pria bejat seperti dirinya dan Chanyeol. Namun, ini semua memang sudah digariskan oleh Tuhan.

Masalahnya, Kris tidak tahu dan tidak akan pernah tahu dengan apa yang sedang menunggunya di masa depan.

"Chanyeol!" Kris berjalan cepat menghampiri Chanyeol yang sedang terduduk di depan meja bar bersama dengan teman-temannya.

Chanyeol memutar kursinya, sehingga ia bisa melihat wajah Kris yang dipenuhi oleh amarah. "Yo Hyu"

BUAGH!

Kris melayangkan pukulannya ke wajah Chanyeol.

"Apapa-apaan kau ini?" Chanyeol benar-benar terkejut karena pukulan telak Kris. Kepalanya tersungkur ke meja bar. Pipinya terlihat lebam dan bibirnya mengeluarkan sedikit darah.

"Apa yang sudah kau lakukan pada Sehun, hah?!" Kris bersuara cukup kerasmengundang perhatian dari orang-orang asing yang mengunjungi klub malam tersebut.

"Apa maksudmu?" Chanyeol tak bisa menangkap maksud dari pertanyaan Kris.

"Kau sudah menyakitinya, Bodoh!" Kris bersiap melayangkan pukulannya kembali saat suara lengkingan terdengar dari kejauhan.

"Kris!"

Kris mengenali suara tersebut. Ia segera menahan tangannya sendiri dan menoleh ke belakang.

Jongin berjalan cepat ke arah meja bar. "Apa yang kau lakukan pada Chanyeol Hyung?" Jongin membantu Chanyeol yang masih tersungkur.

"Pria ini brengsek, Jongin!" Kris berteriak pada Jongin.

"Kau yang brengsek!" Jongin balas berteriak pada Kris. "Aku sudah tahu semuanya. Kau menjalin hubungan dengannya, kan?"

"A-PA?" Kris dan Chanyeol memekik bersamaan.

"Kris, kau" Chanyeol melemparkan tatapan tak percaya pada Kris. "Kau selingkuh dengan Sehun?"

"Kau salah paham!" Kris mengelak. Ia tak tahu darimana Jongin bisa mendapat info semacam itu, sehingga membuat Chanyeol berpikir seperti itu.

"Salah paham apanya, huh? Bagaimana jika pria yang selama ini diam-diam Sehun cintai adalah kau?" Jongin membongkar rahasia Sehun.

"Tapi"

"Sehun menyukai Kris?" Suara Chanyeol melemah. Ia menatap tak percaya ke arah Jongin.

"Kau hanya dijadikan objek pelampiasan, Hyung!" tegas Jongin.

Kris tercekat.

"Brengsek kau, Wu!" Chanyeol langsung bangkit dan menerjang tubuh Kris. Ditindihnya tubuh pria yang beberapa tahun lebih tua darinya itu. Sementara kedua tangannya yang terkepal sibuk melayangkan pukulan ke wajah tampan Kris. "Aku tak menduga ada pengkhianat seperti kau, Kris! Aku membencimu selama sisa hidupku!"

Kris tak bisa melawan selain hanya pasrah menerima setiap pukulan dan rasa sakit itu. Ia hanya berharap Tuhan segera mencabut nyawanya saat itu juga.

Hingga akhirnya, semuanya berubah menjadi gelap.

Kris merasa kepalanya berputar dan seolah ada sebuah palu yang memukuli kepalanya. Rasanya sakit sekali. Sepertinya, penyakitnya kembali kambuh, apalagi setelah seluruh kenangan masa lalunya itu berputar seperti film dokumenter dalam otaknya.

"Tuan Wu? Apakah Anda baik-baik saja?" Seorang suster yang hendak mengantarkan makanan untuk Kris mendadak panik saat melihat Kris.

Kris masih memejamkan matanya sambil senantiasa memegang kepalanya yang semakin terasa sakit.

"Tuan Wu?"

Kris masih tidak merespons. Rasanya terlalu sakit bahkan untuk bersuara. Ia sudah tak kuasa untuk menahan rasa sakitnya lagi dan berharap Tuhan mengambil nyawanya. Rasa sakit ini bahkan lebih sakit dibanding saat Chanyeol menghajarnya habis-habisan malam itu. Namun ia teringat pada Sehun. Ia teringat pada Rachel. Dan tentu saja, ia teringat pada Jongin. Mereka adalah sosok-sosok yang mungkin masih sangat membutuhkannya. Kris meyakinkan pada dirinya sendiri bahwa ia harus bertahan. Ia berdoa kepada Tuhan semoga ia masih diberi kesempatan sedikit lagi.

Namun apa yang terjadi justru sebaliknya. Rasa sakit itu semakin menjadi-jadi, hingga membuat kesadaran Kris menghilang sepenuhnya.

PRANG!

"Astaga!" Jongin berjingkat kaget saat melihat cangkir yang disenggol oleh tangannya itu terjatuh dari atas meja dan pecah menjadi beberapa keping di atas lantai. Tiba-tiba saja, firasat buruk menjalari hatinya.

"Aish, apa yang kau lakukan, Kai?" Chanyeol menggeram pelan sambil ikut menatap ke arah cangkir tersebut. Pria itu segera mengisyaratkan pada pelayan cafe untuk membersihkan cangkir tersebut.

"M-maafkan aku, Hyung." Jongin menundukkan kepalanya. Jantungnya berdegup kencang. Sepertinya, sesuatu yang buruk sedang terjadi. Mungkinkah itu Kris? Tapi bukankah dokter sempat mengatakan bahwa keadaan Kris semakin membaik sejak semalam?

"Kau melamun. Kau masih memikirkan Kris, eh?" tuduh Chanyeol dengan nada tak suka.

Jongin terdiam.

"Aku benar-benar tak menyangka bahwa kau bisa menyerahkan dirimu sendiri dengan semudah ini padanya."

"Hyung―"

"Bukankah kau bersumpah untuk membencinya atas rasa sakit yang pernah dia berikan pada kita dulu?"

"Kris sudah tidak seperti dulu lagi!" Suara Jongin meninggi dan tangannya terkepal di atas pahanya.

"Oh? Jadi sekarang kau membelanya? Memangnya, apa saja yang telah dia lakukan padamu, huh? Apakah dia menjajikanmu hidup mewah? Atau kau telah tidur dengannya, hm?"

PLAK!

Jongin menampar pipi kiri Chanyeol dengan keras. "Jaga ucapanmu, Hyung! Aku tidak seperti apa yang kau pikirkan!" Matanya berair menahan lelehan air mata yang siap meluncur keluar. "Aku pergi dulu. Sampai jumpa." Jongin langsung bangkit dari duduknya dan berjalan meninggalkan tempat tersebut.

Pikirannya saat ini hanya tertuju pada Kris Wu.

Jongin berjalan cepat menuju ruang perawatan Kris. Namun kaki-kakinya terhenti saat melihat Changmin yang sedang terduduk di salah satu kursi tunggu dengan kepala tertunduk. Ia pun mengubah arah langkahnya dan menghampiri Changmin. "Changmin Hyung?"

Changmin mendongakkan kepalanya. Dan mata rusanya itu beradu pandang dengan mata coklat milik Jongin. Ia tidak bersuara.

"A-apa yang terjadi?" Jongin meremas ujung jaket yang dikenakannya dengan gugup. Demi Tuhan. Wajah Changmin terlihat jauh lebih mengerikan dibanding wajah Kris maupun Chanyeol.

"Mana janjimu untuk menjaga Kris, eh?" Suaranya terdengar rendah dan menakutkan.

Jongin mengernyit bingung. "Aku hanya―"

"Kau meninggalkannya dan lihatlah! Sekarang Kris sedang meregang nyawa di ruang operasi!" Changmin menunjuk ke arah pintu di sampingnya.

Jongin baru menyadari bahwa ia berdiri di depan sebuah ruang operasi. "T-tapi apa yang―"

"Jongin?" Suara wanita terdengar.

Changmin dan Jongin menoleh serempak ke sumber suara. Ara datang ke arah mereka sambil menggandeng tangan mungil Rachel.

"Ada apa dengan kalian?" Ara tidak mengerti kenapa kedua pria itu terlihat seperti baru saja bertengkar.

"Noona, apa yang sebenarnya terjadi pada Kris?" Jongin bertanya pada Ara dan berharap mendapat kejelasan dari wanita itu.

"Tidak tahukah kau bahwa ia sedang berada dioperasi sekarang? Dia sekarat, Kim Jongin!" Changmin kembali bersuara dengan nada tinggi.

"Lalu, jelaskanlah padaku apa yang menyebabkannya harus berada di ruang operasi sekarang?!" Jongin balas membentak pada Changmin.

Kedua pria itu seolah mengabaikan fakta bahwa ada seorang anak kecil yang menyaksikan pertengkaran mereka.

"P-paman―" Rachel bercicit pelan.

Ara mendesis. "Kalian membuat Rachel ketakutan." Wanita itu dengan sigap menenangkan Rachel dengan membisikkan kalimat-kalimat ke telinga gadis mungil itu.

Jongin terkejut saat menyadari Rachel yang menatapnya seolah sedang menatap seekor monster.

"Jongin, bisakah kau mengajak Rachel berjalan-jalan dulu?" tanya Ara―setengah memaksa.

Jongin mendesah kecil. "Tentu saja." Mau tidak mau, ia harus mengiyakan permintaan Ara. Ia tak ingin terlibat pertengkaran dengan Changmin dan membuat gaduh. Ia pun menggandeng Rachel untuk melangkah pergi. "Ayo, Rachel."

Rachel asyik bermain dengan boneka rilakkumanya yang berwarna merah muda, sementara Jongin menikmati waktunya dengan melamun. Pikirannya masih menerka-nerka dengan apa yang terjadi pada Kris. Firasatnya memang terbukti benar, namun ia masih belum mengetahui fakta yang sesungguhnya. Jongin yakin bahwa selama ini, Kris memang sedang menyembunyikan sesuatu darinya―begitu pula dengan apa yang dilakukan oleh Changmin dan Ara.

Mungkinkah Kris mengidap suatu penyakit yang parah?

Tidak, tidak. Jangan berpikiran begatif seperti itu.

Jongin menarik nafas dalam-dalam dan berusaha mengenyahkan pikiran buruknya tentang Kris. Ia mencoba fokus pada Rachel.

Gadis itu masih asyik dengan dunianya sendiri.

Jongin memperhatikan Rachel dalam diam. Gadis itu benar-benar bagaikan kopian Kris dan Sehun―kulit yang pucat, garis wajah yang tegas, hidung yang mancung, dan bibir merah yang tipis. Hanya saja, mata bulatnya yang membedakan gadis itu dari kedua orang tuanya. Jongin menerka-nerka, darimana Rachel bisa mendapatkan mata bulat dan sebesar itu?

Neneknya?

Kakeknya?

Jongin memperhatikan mata Rachel lekat-lekat.

Dan tiba-tiba saja, ia teringat pada seseorang.

Park Chanyeol.

to be continued...

maaf jika updatenya sangat ngaret T^T

aku udah mulai sibuk sekolah dan juga ketambahan libur lebaran. jadi yah, begitulah hehe ._.

tapi ini sudah update ya? doakan di sisa libur lebaran, aku bisa rajin update ff ini, karena ff ini akan segera selesai. entah itu kabar baik atau kabar buruk ._.

aku ngerasa ini bener-bener failed. aku ngetik ini sendiri, tanpa bantuan dhi T^T dia lagi banyak acara selama lebaran, jadi aku nggak enak mau gangguin dia. dia cuma nitip salam buat seluruh readers. dia ngucapin makasih banyak yang udah ngikuti ff ini (karena basically, ini adalah pengalaman hidup dia). semoga ada pelajaran yang bisa dipetik dari sini. amin

oh ya, aku mau ngucapin "Selamat Idul Fitri" bagi siapapun yang merayakannya. aku mohon maaf jika selama ini belum bisa menjadi author yang baik dan sering mengecewakan kalian /sungkem/

okay, last but not least, please give me your review about this (failed) chapie

love,

rappicasso