CHAPTER 7
THAT'S…, SUCH A SAD THINGS..
Sesampainya di pondok, Aomine diberi perawatan oleh Keiji. Luka di kakinya memang sangat parah sehingga harus diberi perban agak tebal. Aomine masih melamun dan membayangkan bagaimana dengan Kise. 'Bagaimana dia? Apa jangan-jangan, Kise sudah dibunuh oleh anjing itu dan dimakan?'. Tiba-tiba, terlihat sesosok makhluk datang. Mereka adalah Momoi dan Kagami. "Dai-chan!" lamunan Aomine terhenti saat Momoi dan Kagami datang. "Kau sudah kembali! Eh, dimana Ki-chan?" Momoi bertanya sambil berjalan ke arah Aomine. "Eh, apa?" , "Ki-chan. Tadi dia bersamamu kan?" tanya Momoi lagi sambil mengikat rambut pink-nya. "Dia.. Kise.. Dibunuh.." jawab Aomine menyesal. "Hah? Apa?" Momoi serentak kaget. "Kise.. Dia dibunuh..oleh seekor anjing buas.." jawabnya lagi. Seketika itu, Momoi tercekat "A-apa? D-Dai-chan! J-jangan bercanda! Apa kau sedang menakutiku?". "Tidak Momoi! A-aku serius! Kise dibunuh oleh seekor anjing buas! Aku ti-tidak bercanda! Sungguh.." kata Aomine panik. "Hei, ada apa ini? Apa yang kalian ributkan?" tanya Kagami sambil menaiki tangga pondok. "Kise..dia..dia.." , "Dia kenapa? Menangis?" canda Kagami. "Dia..di..dibunuh.." sahut Aomine dan Momoi bersamaan. Kagami sontak kaget, "Hah?! Bagaimana..? Hei! Kau serius?". "Iya.." jawab mereka berdua lagi. Keiji yang di dalam pondok hanya memandang ketiga orang itu sedih.
Malam harinya, semua berkumpul untuk berdoa bersama. Mereka mendoakan Kise agar dapat tenang di alamnya. Pukul 9.00 PM, semuanya masih berbincang-bincang. Sedangkan, Aomine hanya duduk di teras pondok. "Hai," sapa Keiji yang tiba-tiba datang. "Hai. Ngomong-ngomong..terima kasih. Telah menolongku tadi. Aku minta maaf soal kemarin," balas Aomine sambil menundukan kepalanya. "Ya, tidak apa-apa. Itu bukan menjadi masalah lagi," Keiji melanjutkan sambil minum kopi. "Kau mau?" tawarnya, "Oh ya. Terimakasih." ujar Aomine menerimanya. "Malam ini terasa dingin," , "Ya. Apakah Kise sekarang bersama kami?" tanya Aomine memandang langit yang penuh dengan bintang dan cahaya rembulan. "Kurasa," lanjut Keiji. Mereka terus duduk di teras sampai agak larut. "Ehm.., Maeda, Daiki hari sudah larut. Sebaiknya kita tidur." Akashi datang menghampiri mereka. "Baiklah." ujar mereka bersamaan dan masuk ke dalam pondok.
