Halo semua! Maaf ngaret! Sekolah udah mulai lagi soalnya, dan tumpukkan tugas kembali menerjang saya, damn -_- Anyway, selamat menikmati dan maaf mengecewakan.

WARNINGS: Female!Harry, Durmstrang!Draco, OOC, alur ngebut

DISCLAIMER: J.K Rowling


Goblet of Fire Princess

Cara Camellia


Harriet bengong di depan perapian dengan buku Mantra yang ada di pangkuannya, dan terbuka sia-sia. Sedari tadi dia menatap keluar jendela, berharap ada sesuatu yang bisa mengejutkannya.

"Harriet! Harriet! Ada yang mencarimu!"

Ingin rasanya Harriet melempar buku Mantranya ke kepala orang yang memanggilnya, dan niatnya semakin menjadi ketika melihat orang yang memanggilnya, yaitu Collin Creevy. Dia adalah murid kelas 3 yang sangat terpesona oleh Harriet.

"Ada apa?" tanya Harriet sedingin mungkin, dan langsung mendapatkan tatapan aneh dari Ron dan Hermione.

"Cedric Diggory mencarimu." Jawab Collin, dan tampaknya dia belum merasakan aura mematikan Harriet. "Kurasa dia mau membicarakan sesuatu tentang Tugas Ketiga." Lanjutnya, dan dia hanya mendapat 'hn' dari Harriet. Tanpa mengacuhkan Collin, Harriet langsung merangkak keluar dari lubang lukisan. Diluar, sudah ada Cedric menunggunya.

"Hai, Cedric." Sapa Harriet. Dia berusaha senormal mungkin, tapi yang ada malah salah tingkah sendiri.

"Uh, hai." Cedric menggaruk belakang kepalnya yang tidak gatal, dan dia melirik Harriet. "Keempat juara disuruh berkumpul."

Harriet mengangguk, lalu dia berjalan di samping Cedric. "Err—Cedric."

Cedric menghentikan langkahnya, lalu menatap Harriet "A-Ada apa?"

"Aku…soal itu…aku…" pipi Harriet bersemu merah, dan Cedric langsung mengerti.

"Jangan pikirkan sekarang." Kata Cedric, dan dia mengusap pelan puncak kepala Harriet. "Jangan bebani pikiranmu dengan masalah seperti ini, 'kay?"

Harriet tersenyum tipis, lalu tanpa sadar, dia memeluk Cedric untuk sejenak. "Thanks, Cedric." Bisiknya, lalu dia masuk kedalam ruangan yang disediakan untuk para juara, meninggalkan Cedric bengong didepan pintu. Tak mau dikira aneh, dia pun langsung ikut masuk kedalam ruangan.

"Selamat datang." Ujar Dumbledore ketika melihat keempat juara sudah memasuki ruangan. Dia mempersilahkan mereka semua untuk duduk di kursi yang disediakan "Hari ini, saya mengumpulkan kalian semua untuk memberi tahu kalian soal Tugas Ketiga."

Harriet melirik ketiga juara lainnya. Wajah Krum tidak berubah tegang, tapi dia mengernyit saja. Fleur sudah memucat, wajar saja meingat di Tugas Kedua dia diserang Gryndlow, dan Cedric mulai meremas-remas jubahnya.

Dumbledore tersenyum, dan matanya berkilat-kilat aneh "Di Tugas Ketiga, kalian harus mencari piala Triwizard…" dia terdiam, dan melihat reaksi para juara "…Di sebuah maze."

XXX

Tiga hari lagi, Tugas Ketiga akan dilaksanakan. Harriet kekhawatirannya semakin menjadi, belum lagi sekarang Draco menjauhinya. Harriet berusaha mencarinya, tetapi lelaki tersebut kini tak pernah terlihat sendirian. Setiap kali dia sendirian, dia pasti langsung menghindar dari Harriet.

Seseorang duduk di hadapannya, dan ternyata orang tersebut adalah Viktor Krum. "Hai." Sapanya, lalu dia duduk di samping Hermione. Ron yang duduk persis di depannya sampai melongo dan berhenti makan. "Ada apa? Salah ya aku makan disini?" tanyanya ketika melihat Ron.

Harriet tertawa, lalu dia menginjak kaki Ron "Oh enggak kok! Kita baik-baik saja, ya kan Ron?" kata Harriet, sementara tangannya dibawah meja sudah sibuk mencubit lengan Ron.

"Err…oh, y-yeah." Jawab Ron, lalu dia kembali makan, tapi kali ini sambil menggerutu. Harriet memutuskan untuk tidak mengobrol dengan Ron, karena dia tahu Ron berusaha keras untuk menguping pembicaraan Hermione dan Krum.

Harriet awalnya mau menunggu Ron, tapi tidak jadi karena Ron berkali-kali mengusirnya. Harriet tidak menyentuh makanannya sedikitpun, entah kenapa melihat keakraban Hermione dan Krum membuatnya sedikit sakit hati.

Gadis berambut hitam itu berjalan gontai menuju kelas Ramuan yang masih lama, dan betapa terkejutnya ketika dia melihat sosok Draco sedang menunggunya di koridor sepi.

"D-Draco…kau—"

Belum sempat dia menyelesaikan kata-katanya, Draco sudah memeluknya begitu erat, dan meraup bibirnya dalam satu ciuman yang panjang dan begitu intim. Harriet tidak memberontak, jujur saja dia merindukan segala sesuatu tentang Draco. Keduanya baru melepaskan ciuman mereka ketika sudah kehabisan napas. Harriet memeluk Draco dengan erat, lalu membenamkan wajahnya di tengkuk Draco. Draco hanya mengecup keningnya, lalu dia melepaskan pelukannya dan pergi meninggalkan Harriet.

"Draco? Kau kenapa sih?" tanya Harriet tak sabar, lalu dia menarik lengan Draco. "Kenapa kau menjauhiku?"

Draco tidak menoleh, dan dia tapi dia tersenyum sinis "Kau lebih menyukai Cedric daripada aku kan? Tentu saja, dia Seeker yang hebat, dan dia jauh lebih hebat dariku. Dia seorang juara Turnamen Triwizard, beda denganku yang bukan apa-apa." Dia berjalan menjauh, tapi kemudian berhenti lagi. "Asal kau tahu saja…aku masih mencintaimu." Bisiknya, lalu dia pergi menghilang.

"Draco!" teriakan Harriet menggema di koridor kosong tersebut, kemudian dia terdiam sejenak. Dia sadar kalau ada bulir halus yang mengalir di pipinya, tapi dia menghiraukannya. "Aku…mencintaimu. Lebih dari apapun…bodoh." Bisiknya entah pada siapa. "…Dan nama Malfoy yang kau sandang itu membuatmu jadi gengsi untuk meminta maaf padaku! Sial!"

XXX

Tugas Ketiga akan dilaksanakan pada sore hari, dan Harriet terlihat semakin mengkhawatirkan. Ron dan Hermione juga tampak mengkhawatirkan, karena dalam jangka waktu 20 menit mereka berdua akan ada ujian dalam kelas Sejarah Sihir. Karena Harriet adalah Juara Turnamen Triwizard, maka dia dibebaskan dalam segala ujian. Biasanya ketika sedang ada ujian, Harriet akan duduk sendirian di kursi paling belakang, dan dia akan mencari-cari mantra yang setidaknya bisa dia pakai untuk Tugas Ketiga nanti.

Harriet menghela napas, lalu melayangkan pandangannya ke meja Ravenclaw, dimana ada Draco disana. Semburat merah muncul di pipi Harriet, dan gadis berambut hitam itu mengusap bibrinya yang tipis perlahan-lahan. Dia masih ingat ketika Draco mengecup bibirnya dengan begitu posessive beberapa hari yang lalu. Harriet masih ingat ketika lidah Draco mulai menyapu bibirnya, lalu ketika dia memeluk Draco dengan begitu erat, dia ingat dengan wangi mint yang langsung menyeruak ke hidungnya. Tapi yang paling dia ingat adalah, rasa sakit yang amat sangat terasa ketika Draco melepaskannya, juga tatapan Draco yang tampak begitu tersiksa. Gadis berambut hitam itu mengusap-usap matanya, menahan air matanya yang mulai keluar. Ketika dia menangkat kepalanya lagi, dia menatap Draco, dan alangkah terkejutnya dia ketika melihat sepasang mata abu-abu sedang menatapnya balik. Entah mengapa, ada bagian dalam dirinya yang merasa senang ketika Draco menatapny, tapi perasaan itu langsung hilang ketika Draco menoleh.

Harriet menghela napas, lalu mendorong makanannya yang belum habis dan membenamkan wajahnya di lengannya. Ginny dan Hermione langsung menoleh dan menatap Harriet, sementara Ron terus saja menelan makannya sambil sesekali melirik buku Sejarah Sihirnya, meskipun harus dikatakan kalau lebih banyak makanannya yang masuk daripada pelajarannya yang masuk.

Ginny menepuk pundak Harriet, lalu menahan rasa kagetnya ketika dia melihat mata hijau Harriet berkaca-kaca, seolah-olah menahan air matanya, "…Kau kenapa?" tanyanya dengan lembut.

Harriet tertawa pelan—meskipun terdengar dipaksakan—lalu mengusap matanya lagi. "Ma-mataku kemasukkan debu." Jawabnya dengan suara serak.

"Ada sesuatu yang salah denganmu, Harriet." Kata Hermione "Bukan dirimu yang sakit, tapi hatimu. Benar kan?"

Harriet menggeleng "Percayalah, 'Mione. Aku hanya takut dengan Tugas Ketiga."

Gadis berambut coklat ikla tersebut menggelengkan kepalanya tak percaya, lalu dia mendorong piring Harriet "Habiskan makananmu. Aku harap setelah Tugas Ketiga ini kau akan menceritakan semuanya."

Harriet hanya tersenyum tipis, lalu mulai menghabiskan makanannya. Belum ada dua suap masuk kedalam mulutnya, Proffessor McGonnagal mendatanginya, dan Harriet, serta Hermione, Ron dan Ginny hanya bisa menatap Kepala Asrama mereka dengan bingung.

McGonnagal menatap tiga muridnya yang lain, "Kalian pergilah duluan." Katanya. Setelah yakin hermione, Ron dan Ginny pergi meninggalkan Harriet sendirian, dia menatap gadis berambut hitam itu kembali "Ms. Potter, keluargamu datang untuk menontonmu melaksanakan Tugas Ketiga."

Harriet yang sedang minum jus labu langsung tersedak, setelah reda dari batuk-batuk ringannya dia kembali menatap McGonnagal "A-Anda tidak serius kan, Proffesor? Aku rasa Tugas Ketiga dilaksanakan jam 6 sore."

McGonnagal tersenyum tipis "Kau hanya perlu menyapa mereka. Mereka semua sudah berada di ruangan biasa. Oh, kau juga dibebaskan dari semua pelajaran hari ini." Katanya, lalu dia pergi meninggalkan Harriet yang tampaknya masih beerusaha keras untuk mencerna informasi ini.

Harriet mengangguk-angguk "T-Tunggu! Proffesor!" panggilnya, tapi Proffessore McGonnagal sudah pergi. "Keluarga apaan. Emangnya Keluarga Dursley mau datang kesini?" batinnya setengah bete. Dia menatap sosok keempat juara lainnya yang sudah menuju ke ruangan yang disediakan untuk para juara, mau tak mau dia mengikuti mereka karena sedari tadi Cedric menatapnya dengan aneh. Ketika dia melihat Cedric membalikkan badannya dan berjalan ke arahnya, Harriet langsung buru-buru menarik tasnya dan pergi menyusul Cedric, dan rupanya, Hufflepuff itu bersedia untuk menunggunya.

"Kau kenapa? Tampaknya tidak senang." Kata Cedric "…Lebih tepatnya, bingung."

Harriet mengangkat bahunya "Well—aku dibesarkan di keluarga muggle yang membenci sihir. Aku rasa mereka tidak akan datang kemari."

Cedric hanya nyengir "Kurasa bukan mereka, tapi keluarga yang sudah menganggapmu sebagai anak mereka sendiri." Jawabnya, lalu dia mengusap pelan puncak kepala gadis itu dan membuat Harriet terkekeh pelan "Aku masuk duluan ya."

Senyum kecil merekah di bibir Harret, tapi tampaknya ada orang yang tidak setuju dengan kebahagiannya, dan orang tersebut, tak lain tak bukan adalah Draco Malfoy, yang barusan meletakkan pialanya yang berisi jus labu dengan sangat kasar.

Seorang murid Ravenclaw cewek berambut pirang dan bermata biru menoleh, "Kenapa kau?"

Draco menggeleng "Tidak apa-apa." Jawabnya, tapi pandangannya tetap terkunci pada Harriet.

Gadis pirang itu menatap ke arah pandangan Draco, dan dia hanya mersepon dengan kata 'oh', kemudian dia melanjutkan makan siangnya.

Draco bertopang dagu, 'Berani menyentuh sesuatu yang merupakan milikku bayarannya mahal' batinnya, kemudian dia meneguk jus labunya lagi. 'Tapi kurasa yang satu ini akan kubiarkan...untuk sementara.'

XXX

Gadis berambut hitam tersebut mengintip masuk, lalu mata emeraldnya yang disembunyikan dibalik kacamata bundar miliknya mulai mlihat-lihat isi ruangan tersebut.

Tidak ada yang berubah, hanya saja sekarang ada beberapa orang disana. Harriet langsung berjingkat-jingkat pergi ketika melihat Mr. Diggory sedang berdiri di dekat pintu, dan untunglah lelaki itu sedang membelakanginya, jadi yang melihatnya hanyalah Cedric. Dia dapat melihat lelaki berambut coklat itu terkekeh pelan ketika melihat kelakuannya. Di sisi lain, dia dapat melihat Krum sedang mengobrol dengan kedua orang tuanya. Krum benar-benar mirip dengan ayahnya, dan ibunya terlihat lumayan cantik. Harriet bergidik ngeri ketika teringat Krum, lelaki yang dia lihat di Hutan Terlarang saat itu terlihat sangat mengerikan, seperti…orang itu bukanlah Krum sendiri. Dia berjanji pada Draco untuk tidak memberi tahukan siapapun tentang ini, karena bagi Draco, Krum sudah seperti kakaknya sendiri.

Draco…Entah kenapa, namanya seperti ada di setiap ingatannya. Harriet terdiam sejenak, lalu menunduk sebentar, dan lagi-lagi, dia berusaha keras utuk menahan air matanya. Harriet mengusap-usap kedua kelopak matanya dengan kesal,lalu memaksakan sebuah senyum, dan dia melambai balik pada Gabrielle yang melambai padanya.

Harriet melirik ke orang yang ada di samping Gabrielle. Wajah wanita itu mirip Fleur, dan di hadapannya ada Fleur sendiri, sedang mengobrol dengan ibunya menggunakan bahasa Prancis.

Harriet tak sempat menginditifikasi keadaan di sekitarnya lagi, karena seseorang sudah memeluknya dengan erat, dan orang tersebut adalah Mrs. Weasley, yang sedang tersenyum padanya. Kemudian lelaki berambut panjang di samping Mrs. Weasley ikut memeluknya, dan orang tersebut adalah Bill Weasley.

"Hello, Mrs. Weasley." Sapa Harriet dengan sopan. "Kukira keluarga Dursley yang akan kesini…"

Mrs. Weasley mengagguk-angguk, tapi wajahnya menyiratkan rasa tidak senang. Pada tahun ketiganya, Harriet melarikan diri dari rumah keluarga Dursley, tapi dia menggelembungkan Aunt Marge-nya tercinta yagn telah menghina ayah dan ibunya terlebih dahulu, kemudian dia pergi. Ketika Mrs. Weasley mendengar cerita ini, dia langsung mengamuk habis-habisan dan tidak mengijinkan Harriet untuk menghabiskan musim panasnya disana lagi, dan Harriet sekarang menghabiskan musim panasnya di rumah keluarga Weasley, yaitu di The Burrow.

Harriet menoleh, lalu tersenyum pada Bill "Hai, Bill." Sapanya "Charlie kemana?"

"Charlie tidak bisa cuti, padahal dia ingin sekali menontonmu. Katanya kau hebat sekali ketika melawan Naga Ekor Berduri Hungaria." jawab Bill.

Harriet melirik Fleur yang sedari tadi berusaha untuk melihat Bill. Tampaknya gadis Veela itu sama sekali tidak keberatan dengan anting taring Bill dan rambut panjangnya. Harriet tersenyum lebar pada Fleur ketika gadis itu mengisyaratkannya untuk diam dengan wajah yang merona merah seperti tomat.

"Senang juga bisa kembali kesini." Kata Bill "Aku ingin melihat-lihat Lapangan Quidditch…oh, apa kabar si Sir Nick?"

"Nick-Kepala-Nyaris-Putus?" tanya Harriet, dan Bill langsung mengangguk-angguk. "Well, tampaknya dia baik-baik saja. Terakhir aku lihat dia masih menggerutu karena masih tidak diijinkan mengikuti Perburuan Kepala Putus."

Bill tertawa perlahan, dan Mrs. Weasley—yang tampaknya sudah selesai mengobrol dengan Nyonya Gemuk—mendekat ke Harriet dan Bill "Ayo Harriet, kau harus menemani kami berkeliling. Kau lebih tahu tempat ini daripada kami sekarang."

Gadis berkacamata itu tersenyum tipis, lalu mengangguk setuju. Ketiganya berjalan keluar menuju ke Aula Besar, tapi sayangnya, keberadaan Harriet disadari oleh Mr. Diggory, dan lelaki itu langsung mengerucutkan bibirnya ketika melihat gadis berambut hitam tersebut. "Well, well. Ini dia." Katanya, lalu dia menatap Harriet dari atas ke bawah, "Kurasa kau tidak akan jadi sombong kan karena Cedric menjadi juara 1 di Tugas Kedua?"

Harriet mengernyitkan dahinya bingung "…What?"

"Dad—hentikan." Ujar Cedric tiba-tiba.

"Kau tak perlu membelanya! Buat apa kau membela seorang anak cewek yang memanfaatkan anak lain untuk memenangkan Turnamen Triwizard?" sindir Mr. Diggory.

"Amos!" Mrs. Weasley ikut berang "Artikel yang ditulis oleh Rita Skeeter itu palsu! Mana mungkin Harriet akan melakukan hal selicik itu? Dia seorang Gryffindor sejati! Bukan Slytherin yang licik!"

"Tapi dulu dia sempat hampir dimasukkan ke Slytherin kan?" Mr. Diggory memicingkan matanya kepada Harriet "Berarti, dia pasti mempunyai sikap—"

"Dad, please stop!" teriak Cedric, dan beberapa orang lain yang ada di ruangan tersebut langsung menoleh ke mereka.

tampaknya ingin mengatakan sesuatu lagi, tapi karena seisi ruangan itu mengawasinya, dia jadi diam saja. Mrs. Weasley mendengus puas, lalu melenggang pergi dari ruangan tersebut dan diikuti oleh Harriet dan Bill menuju ke Aula Besar.

Di Aula Besar, kebanyakan orang sudah pergi, tetapi tidak dengan beberapa murid Beuxbatons dan Durmstrang, berarti Draco masih ada di…meja Ravenclaw, dan tebakannya benar. Lelaki bermata abu-abu itu sedang mengobrol dengan murid Durmstrang lainnya, dan sebuah senyum tipis terbentuk di bibirnya. Harriet merasa napasnya seperti tertahan di kerongkongannya, dan dadanya terasa begitu sakit. Dulu dia sering melihat senyum itu muncul di bibir Draco, dan senyum itu ditujukan padanya. Lagi-lagi, air matanya mulai menyeruak keluar.

'Tidak!' batin Harriet 'Aku tidak boleh menangis gara-gara hal begini…aku bukan anak cengeng…aku bukan anak cengeng…'batinnya, lalu dia mengikuti Bill dan Mrs. Weasley yang sudah meninggalkannya. Untunglah keduanya tampak terkesima dengan beberapa lukisan baru yang ditambahkan di Hogwarts, sehingga tidak sadar kalau Harriet sedikit tertinggal. Seharian itu, Harriet berusaha untuk menikmati pagi yang sebenarnya sangat menyenangkan, berjalan di Lapangan Quiddicth bersama Mrs. Weasley dan Bill, menunjukkan kereta Beuxbatons dan Kapal Durmstrang kepada mereka, dan menunjukkan Dedalu Perkasa yang ditanam setelah Mrs. Weasley meninggalkan sekolah. Setelah kelelahan berkeliling seharian, mereka bertiga kembali ke Aula besar untuk makan siang.

"Mum…" Fred tampak tercengang ketika melihat ibunya ada di meja panjang Gryffindor.

"Dan Bill…" lanjut George tak kalah kaget "Kenapa kalian ada disini?"

"Untuk menonton Harriet melaksanakan Tugas Ketiganya!" jawab Mrs. Weasley dengan senang "Bagaimana ujian kalian?"

Fred dan George mengangguk-angguk, lalu tersenyum aneh "It's fine, mum." Jawab mereka berbarengan, dan langsung dihadiahi tatapan galak Mrs. Weasley.

Tak lama kemudian, Ginny, Ron dan Hermione duduk bersama mereka juga. Harriet senang sekali, rasanya seperti sudah kembali ke The Burrow, bahkan dia dapat melupakan masalahnya dengan Draco, dan juga tugasnya nanti malam.

Ada lebih banyak makanan daripada biasanya, tetepi Harriet mulai merasa nafsu makannya berkurang seiringan dengan kurangnya cahaya matahari diluar. Langit-langit sihir di atas mulai berubah warna dari biru ke violet, dan Dumbledore bangkit dari meja guru. Aula Besar langsung sunyi.

"Para ibu-bapak, dan anak-anak, lima menit lagi Tugas Ketiga dan Terakhir akan dilaksanakan di Lapangan Quidditch. Para juara dipersilahkan mengikuti Proffessor Moody untuk ke stadion sekarang."

Harriet berdiri. Anak-anak Gryffindor bertepuk tangan untuknya, dan seluruh Keluarga Weasley, dan Hermione mengucapkan semoga sukses kepadanya. Ketika Harriet sudah hampir meninggalkan Aula Besar, dia merasa bahwa seseorang menyelipkan sepucuk surat ke tangannya. Harriet mengambil kertas tersebut, dan membukanya, lalu tersenyum dengan manis pada Draco yang duduk di meja Ravenclaw. Yang diperhatikan hanya membuang muka, dan berusaha keras untuk menahan rona merah di pipinya untuk muncul.

'Good luck, my dear. I still love you.'


GANTUNG.

Oke saya cacad. Padahal saya harusnya belajar fisika dan mengetik tugas geografi, tapi malah ngetik beginian. Saya murid teladan yang pantas dicontoh! #JDER oke oke please Review~

Sebenernya mau buat Draco cemburu sampe akhir, tapi hatiku berkata lain! Oh sulitnya…goddan untuk menulis Drarriet selalu menerpaku! Oh aku tak sanggup lagi *geleng-geleng kepala* slow motion* nangis tragis di hujan* soundtrack galau* #ngelirikangchan XD

Special thanks for:

Kirika Hunting, yang sudah menyemangati saya dengan gambar" Drarry XD

Rida, KEPONAKANKU SAYAAAANG XD makasih ya masih mau ajakkin aunty kamu yang gila ini ngobrol XD #dikejarsekampung

Adylla, Maaf ye bro, kaga jadi perang disini sang dua cowok ganteng itu. Jangan khawaitr, chapter 9 pasti adaaa~ Sabar dulu yek! Gue mentingin Adventure-nya #JDEEEER sumpah demi kucrut deh chapter 9 adaa! Gantinya kan disini Harriet ama Draco ciumaaaan, ya ga? *alis naik turun najis* #pukulpukulpukul

Ang-chan, YANG SELALU SETIA MENYEMANGATI SAYA DI TWITTER DAN DI SEKOLAH XD ma'aciiih :* Terima kasih... *bgm terharu* zoom in* slow motion* CUT! XD

Sasha, yang selalu menggambarkan Harriet! MAKASIH MAMEN! You are my inspiration...oke najis. HIDUP KAKAK FELTON!

Kak Shanty, yang selalu sabar dengan segala alasan ngaretku...ayo kak jangan telat reviewnya nanti aku korek aspal loh *kaga nyambung*

And my other review-ers :D THANK YOU SOO MUUCHH! *lebay*

Untuk seseorang...well, frontal aja ya, kalo ga suka mendingan nge-flame aja sekalian.

REVIEW YA! :D Flames with anonymous account are never accepted