Kata orang seharusnya gue nggak punya hati.
Hati untuk merasa bersalah.
Hati untuk memaafkan kesalahan orang.
Hati untuk mengaku kalo gue salah.
Hati untuk merasa iba.
Hati untuk tegaan sama orang lain.
Hati untuk membuat orang lain seneng.
Hati untuk mencintai seseorang.
Tapi dia ngubah semua kata orang itu.
Dia ngasih tahu gue kalo gue juga punya hati.
Dia bikin gue sadar kalo gue bisa mencintai seseorang.
Sialnya seperti siapa gue sebenernya, cinta gue juga terlarang.
Gue harus milih keputusan yang terbaik buat gue dan dia.
Dan elo mau tahu kenapa cinta gue terlarang?
Karena gue bisa mencintai dia dan membunuhnya dalam waktu bersamaan.
A/N: Gimana chapter 6 yang kemarin? Bagus atau malah jelek?
Sampai sekarang, gue masih membuka tantangan untuk menebak jalan cerita dan memberi ide untuk pembukaan cerbung ini. Bagaimana? Masih ada yang punya ide mengenai profil target? Lokasi pembunuhan? Atau justru taktik pembunuhannya? Monggo..
Udah dapet idenya? Baca, review, kasih saran, jangan nge-flame, dan sekali lagi gue AngelaBlue mengucapkan selamat membaca!
Burned Wings
Warning and Disclaimer:
Penguins of Madagascar © DreamWorks, Nickelodeon, Tom McGrath, and Eric Darnell
All the words flow – all the OCs – and nearly the whole idea © AngelaBlue
OOC, rated T for safety, angst failed, humanized chara, AU kebangetan, gaje, unmatch chara, too much dialogue, typos, too much OCs, chara death, mild-gore – maybe, third-person POV, Romance/Suspense/Friendship/Family/Hurt/Comfort/Tragedy/Crime/Adventure/Angst (?), RnR please, and the last but not the least, DON'T LIKE DON'T READ!
First fic from AngelaBlue for PoMI
Chapter 7
Swiss.
Apa yang kau pikirkan saat mendengar nama itu? Eropa? Salju? Ski? Keju cair? Palang Merah Internasional? Atau mungkin bank?
Swiss memang memiliki pemandangan yang indah, terutama di musim salju. Setelah capek habis main ski, bisa mencicipi keju cair yang hangat di salah satu kedainya. Apalagi Swiss juga cinta damai. Negara tempat lahirnya organisasi Palang Merah Internasional ini bisa membuatmu jatuh cinta. Yang penting, siapkan mantel dan baju hangat untuk menjaga tubuh agar nggak kedinginan.
Itu kalau menurut orang awam.
Kalau menurut para penjahat kelas kakap yang suka korup, Swiss adalah negara dengan bank-bank terbaik untuk menyimpan uangmu. Negara Swiss selain memiliki orang-orang yang cinta damai dan anti-perang dan penuh rasa kemanusiaan, mereka juga memiliki keterampilan bermain dengan akutansi di atas rata-rata, penjagaan brankas terbaik, dan nasabah dari seluruh dunia.
Jadi kalau kau nggak percaya dengan bank-bank di negaramu, pergilah ke Swiss. Bawa hartamu yang banyak itu, lalu simpanlah di salah satu bank yang kau percaya. Lalu habiskan sisanya dan kujamin kau akan hidup tenang tanpa takut uangmu dirampok ataupun terjadi kebangkrutan yang membuat simpananmu ludes lalu kau jatuh miskin.
Itulah prinsip para koruptor dan berbagai penjahat di seluruh dunia.
Termasuk Hell Angel juga sih.
To: unknowngen
Hell Angel, bisa menangani kasus ini? Kutawarkan 9.000 US$. Jika kau terima, balas e-mail ini
Cowok itu melirik isi e-mailnya dari ponsel. Dia menyedot lemon tea yang tadi dipesannya di aslah satu kafe yang menyediakan Wi-Fi.
"Lo ini mikir nggak sih?" tanya orang di sebelahnya.
"Mikir? 9 ribu dolar bukan jumlah yang sedikit."
"Bukan tawarannya! Maksud gue lemon tea."
"Lemon tea? Emang kenapa? Gue emang suka kok."
"Lo nyadar nggak sih kita di mana? Ini Swiss woy! Dingin! Brrr..."
"Iya sih. Lagian niat gue ke sini kan cuma narik duit doang. Dan ini seharusnya musim panas, baru mau peralihan ke musim gugur. Nggak terlalu dingin banget."
From: unknowngen
Kuterima. Ikan apa yang harus kusantap?
Dia menatap orang di hadapannya. Cowok itu sedang memegangi mantelnya rapat-rapat sambil menggigil kedinginan. Melihat itu, dia langsung geleng-geleng kepala.
"Kalo dingin, ngapain maksa ikut?"
"Kan elo juga yang bilang, jangan berenang sendiri!"
"Selama ini gue juga masih contact kalian kan, pas bertugas? Gue masih berenang bareng kalian semua."
Hening. Suara berisik yang ada di kafe itu menjadi latar mereka.
"Siapa yang maksa ikut ke sini? Udah dingin, terancam jet lag, gue sih nggak tanggung ya kalo sampe Senin besok lo nggak masuk sekolah."
"Kalau kakak lo?"
"Dia kan udah kuliah. Gampang. Tinggal cuti atau nitip absen sama temennya. Terus kalo mau denger dia ngomong apa, tanyain ke kakak lo."
"Iya juga sih..." cowok itu manggut-manggut.
To: unknowngen
Attachment: 2 files
Sudah kumasukkan datanya ke attachment, liat aja. Namanya Hadi Salahuddin. Mungkin kau mengenalnya di acara TV sebagai koruptor yang sedang dikejar sampai ke luar negeri.
Melihat data yang diberikan, dia geleng-geleng kepala sambil menyesap lemon tea lagi.
"Ada apa?"
"Nggak papa. Lagi bingung aja, yang ngasih tugas ini polisi atau orang yang dendam sih? Ngasih data ternyata orang yang ada dalam DPO polisi kita juga."
"Koruptor ya?"
Yang ditanya mengangguk. Yang dijawab memaklumi.
Seseorang masuk ke dalam kafe. Cowok itu menatap foto dalam attachment dan wajah orang yang masuk tadi. Persis.
"Hei, kayaknya ikan yang kita pancing lagi beruntung. Coba liat foto ini sama yang baru masuk tadi."
Dia mengambil ponsel itu, lalu melirik orang yang baru datang tadi, sambil membaca datanya. "Memang Hadi Salahuddin. Kemaren gue juga sempet nonton berita. Langsung tarik aja, bisa kan?"
"Tunggu aja dulu. Palingan dia ke sini pasti mau ngambil duit juga kayak kita."
"Yah, mungkin aja sih."
Sekarang Pak Hadi lagi celingukan mencari tempat duduk di kafe yang ramai itu. Cowok berambut hitam itu langsung melancarkan aksinya.
"Bapak orang Indonesia?" tanyanya sopan.
"Iya. Kamu juga?"
"Iya Pak. Kayaknya Bapak kesulitan mencari tempat ya? Duduk di tempat kita aja, kita ngobrol bareng, Pak."
"Oh, iya iya. Makasih banyak ya."
From: unknowngen
Attachment: 1 file
Kau lihat foto itu? Aku sudah melakukannya. Transfer sekarang, kebetulan aku mau mengambil rekeningku.
Mata rubi itu menatap sebuah bank yang ada di depannya. Dia masih menggunakan topi rajutan dan syalnya yang cukup besar untuk menutupi wajahnya.
"Lo aneh. Masa mayat Hadi elo foto sih? Eh, abis ini kita pulang, kan?"
"Ya. Abis ini kita pulang. Elo jet leg ya?"
Hening. Hell Angel tahu, temannya itu memang lagi pusing-pusing karena jet lag.
Marlene termenung, memandang jendela yang tepat ada di sebelahnya. Posisinya memang ada di pojok paling belakang, sebarisan dengan meja guru, jadi jendelanya langsung menghadap ke belakang sekolah. Semua orang lagi sibuk sama urusan masing-masing sementara teman sebangkunya lagi melakukan kebiasaannya di sekolah. Tidur.
Tadi Private masuk ke kelas untuk urusan yang dia nggak tahu apaan itu. Lalu gurunya pergi mengikuti cowok kelas IPS yang ditaksir beberapa orang di kelas ini termasuk Marlene. Cewek berambut coklat itu juga nggak ngerti kenapa yang memanggil Pak Parno mesti anak IPS yang dia suka.
Apa? Suka?
Marlene baru menyadari sesuatu. Biasanya kalau rambut pirang Private tertangkap oleh ekor matanya, dia langsung merasa deg-degan. Tapi kali ini, nggak ada lagi hal-hal aneh yang menjadi tanda-tanda orang yang lagi jatuh cinta.
No more butterflies in her stomach.
Marlene udah beberapa kali jatuh cinta. Dia tahu jelas apa rasanya jatuh cinta, galau, melihat cowok yang ditaksir, dan move on ke cowok lain atau berhasil menghapus rasa itu ke cowok lain. Kali ini, sepertinya dia berhasil melakukan hal yang terakhir disebutkan tadi. Tapi masalahnya, status cintanya deleted atau move on? Dan kalau move on, ke siapa?
Dia menatap pasangan meja yang lagi tertidur lelap itu. Kali ini sinar matahari siang membuat rambut hitamnya terlihat berkilau, dihiasi spektrum-spektrum hasil pembiasan cahaya mentari di lensa kacamatanya. Kepalanya menghadap wajah Marlene, terlihat sangat manis. Baru kali ini dia memperhatikan cowok itu sampai seperti ini.
She knows where the butterflies in her stomach go.
Dia terus menatap Skipper yang sedang tertidur lelap sementara jantungnya memompa darah lebih keras. Apa yang dulu dia rasakan pada Private, sekarang berpindah ke Skipper. Dia berhasil move on ke Skipper. Pertanyaannya terjawab sudah.
Wajah tenang Skipper mulai terlihat gelisah. Sebentar lagi, cowok itu akan bangun sambil berteriak keras-keras karena mimpi buruk. Dia sudah hafal dan mengalihkan perhatiannya ke tugas fisika yang masih dia nggak ngerti.
"HUAAAAA!"
Marlene menenangkan jantungnya yang masih bekerja keras itu, lalu memasang suara setenang mungkin dan menyodorkan buku latihannya. Kalau nggak cepat, Skipper keburu kabur ke toilet untuk cuci muka. "Bagus lo udah bangun, Skip. Boleh tanya soal yang ini?"
Skipper menatap cermin di hadapannya. Mata, rambut, mukanya benar-benar menunjukkan kalau tadi dia tertidur di kelas. Emang sih Pak Parno nggak ada, tapi dia nggak mau ambil resiko ada orang yang melihat wajahnya lalu sadar dia habis bangun tidur – dengan mimpi buruk – lagi.
Tadi sebenarnya dia mau langsung kabur ke sini, tapi ditahan oleh soal fisika dari Marlene. Jadinya baru sekarang dia bisa melepas kacamata, cuci muka, memiliki privasi untuk beberapa menit di dalam toilet berbau busuk ini.
Sejak Rico dan Kowalski memberitahu dia kalau dia jatuh cinta dengan Marlene, dia nggak bisa mengenyahkan cewek itu dari dalam benaknya. Dia akui dia memang memenuhi beberapa syarat jatuh cinta yang Kowalski berikan kemarin. Dia sedang memikirkan Marlene, sudah hafal beberapa hal tentang dia, nggak pernah bosan kalau sedang mengajari dia fisika, dan yang pasti deg-degan saat Marlene menyerahkan buku latihannya pada Skipper.
Gosh, am I really in love with her? Pikirannya mulai kacau. Isinya Marlene semua. Skipper nggak tahan, dia meremas rambut hitamnya sekuat mungkin. Stres.
Melihat sikapnya tadi, Skipper ragu cewek itu dapat dengan mudah dia raih. Sepertinya dia nggak punya perasaan apa-apa pada Skipper. Sementara dia terjebak oleh mata coklat cerahnya. Dan lagipula,
dia tahu kalau Marlene menyukai Private.
Skipper meremas rambutnya lebih kuat lagi. Ini menyebalkan. Jatuh cinta untuk pertama kalinya, dan saingannya adalah.. sepupunya sendiri? Yang bener aja. Private memiliki kemampuan luar biasa untuk meraih setiap wanita yang dia suka, mulai dari anak kecil sampai nenek-nenek berusia 80 tahun. Sementara dia? Hanya seorang laki-laki culun berkacamata pintar fisika yang motor racing-nya dilengserkan dari kakaknya.
Jelas bukan lawan yang seimbang.
Skipper depresi. Dia membiarkan air keran mengalir, sementara dia terus memandangi cermin. Di hadapannya ada bayangan seorang siswa SMA yang lagi galau karena merasa cintanya nggak mungkin dibalas oleh orang yang dia suka. Menyedihkan.
Jadi ini rasanya galau.
Perlahan dia mencuci muka lagi, mematikan keran air, memejamkan mata, mengubah raut wajahnya, dan memasang senyuman palsu terbaik yang dia bisa.
Skipper, Rico, dan Kowalski hanya bisa bengong melihat Private membawa sebuah buket bunga yang sangat besar. Massive. Apa yang cowok pirang ini mau lakukan dengan sebuah buket bunga mawar merah raksasa seperti ini? Seisi rumah bertanya-tanya.
"Emm.. gue mau nembak cewek besok.." Private mengakuinya malu-malu.
Semua menatap Private yang lagi asyik memotong wortel di dapur. Laki-laki berambut pirang itu melempar pisaunya ke udara, lalu menangkap pegangannya dan memotong wortel selanjutnya dengan kecepatan yang mengagumkan, seperti yang biasa dia lakukan setiap kali dia berkutat dengan talenan kayu kesayangannya.
Kowalski (yang tadi bertanya pada Private) menatap Rico. Mereka saling berpandangan. Cowok berambut jabrik itu balas menatap Kowalski dan bicara ke Private. Masih menatap Kowalski, hanya untuk mengumpulkan keberanian. "Kalo boleh tau, siapa sih?"
PRAK!
Private nyengir (baca: tersenyum psikopat) sambil menarik pisau yang tertancap di talenan kayu – inilah alasan mengapa talenan kayuitu dipenuhi sayatan pisau – dan membentuk goresan baru. "Ada aja!"
"Ayolah," Skipper mengalihkan perhatiannya dari laptop yang sedari tadi menyala di meja makan. "Kasih tau aja sih. Kita kan udah lama tinggal bareng."
Wajah orang yang dipaksa mulai memerah. Dia tersenyum malu.
"Ehm.. Kakak kelas gue sih, Marlene, anak 3IPA2."
Kowalski dan Rico terbelalak dan segera menatap Skipper, sementara Private masih bicara. "Elo sama Kowalski sekelas sama dia kan? Kenal dong."
"Ya iyalah!" Si calon ilmuwan menanggapi kata-kata adiknya. "Dia kan temen sebangkunya Skipper, masa nggak tau sih?"
Mata Kowalski dan Rico masih tertuju pada sepupu mereka yang menghembuskan napas berat di depan laptop. Rico bisa mengenali kegalauan di mata kelam Skipper. Yang ditatap menutup matanya sejenak, lalu memasang senyuman (palsu) terbaiknya.
"Positif, Kowalski. Dia emang temen sebangku gue."
Keempat pejantan di rumah itu saling menatap di meja makan – Private menghentikan acara memasaknya sebentar dan menghampiri keluarganya. "Jadi, menurut lo.. gimana?"
Skipper tersenyum lembut (tapi palsu). "Ya udah sih, tembak aja. Gue doain semoga sukses ya."
Mata biru laut itu berbinar. "Makasih ya semuanya! Doain aja dia langsung terima!"
Semuanya mengangguk, sementara Private kembali dengan aktivitas yang sedang ditunggu semua orang di rumah kecil itu. Dia meletakkan penggorengan di atas sebuah kompor datar dengan santai, menuangkan minyak dan menyalakan kompor datar itu.
DUAARRR!
"KAK RICOO! KAK KOWALSKI! UDAH DIGANTI KOMPORNYA JADI YANG DATAR NEMPEL DI MEJA BEGINI MASIH AJA ADA PETASAN! ELO TEMPELIN DI MANA SEEEHHH?"
Rico dan Kowalski hanya bisa nyengir sambil membentuk tanda peace dengan tangan kanan di depan lab mini mereka, menertawakan kondisi Private yang acak-acakan dan agak gosong sehabis menghindar dari ledakan dinamit seukuran uang logam 1000 rupiah yang mereka pasang di bawah penggorengan. Percobaan mereka berhasil.
A/N: gimana? gajekah? baguskah? haha. semoga kalian suka ya! RnR, right now!
