Jam istirahat sudah berbunyi sejak lima menit yang lalu. Shikamaru dan Sasuke sudah duduk manis di salah satu meja kantin.
Sasuke mengutak-atik ponsel pintarnya, mencoba menghubungi teman pirangnya. Karena tidak biasanya Naruto sampai bolos hingga jam istirahat.
"Apa dia sakit?"
Remaja Uchiha itu mendengus pelan, "Orang bodoh bisa sakit?"
Shikamaru tertawa pelan, "Kayaknya enggak, deh."
"Naruto di mana?" suara baru itu menarik atensi kedua remaja laki-laki itu.
Sakura menatap Shikamaru dan Sasuke bergantian. Di belakangnya ada Hinata yang juga menunggu jawaban.
Sasuke kembali fokus pada layar ponsel hitamnya. Sementara Shikamaru menggeleng pelan.
"Entahlah, dia gak ada kabar."
"Apa Naruto-kun, sakit?" Tanya Hinata dengan raut khawatir.
"Tidak mungkin." Sasuke dan Shikamaru menyahut bersamaan.
Membuat Sakura dan Hinata sweat drop mendengarnya. Hinata segera menaruh nampan makan siangnya. Lalu ia mengambil ponselnya dan mencari kontak Naruto.
Kemarin sebelum mereka pulang, Naruto sempat meminta bertukar nomer kontak. Dan untunglah berkat hal itu Hinata bisa mengirim pesan pada remaja pirang itu.
Tepat ia selesai mengirim pesan, seseorang muncul di depan mereka dengan cengiran lebar di wajahnya.
"Heyo!"
Sasuke, Shikamaru, Sakura dan Hinata menatap remaja asing itu. Seorang remaja laki-laki dengan rambut merah berantakan serta bermata hitam. Mereka berempat sama sekali tidak mengenal laki-laki yang sok akrab itu.
"Ah, sudah jam istirahat aja-dattebayo!"
Hinata membulatkan matanya, ia mengenali suara dan trand mark itu. Saat ia menyadari adanya tiga garis halus di pipi remaja itu, Hinata spontak berseru.
"NARUTO-KUN?!"
"Iya, kenapa Hinata?" Naruto balik bertanya, sama sekali tidak sadar kalau teman-temannya terkejut dengan penampilan barunya.
"Rambut kuningmu mana? matamu kok jadi hitam? Oi!" Sakura seketika histeris dan segera menghampiri Naruto.
Naruto tertawa lebar ia menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Lagi mau ganti penampilan aja, gimana?"
Sakura menatapnya lekat-lekat,memerhatikan dari ujung kaki hingga ujung kepala.
"Lumayan lah, cocok juga kamu dengan rambut merah."
Senyum Naruto kian melebar, "Benarkah? ha ha ha!"
"Apa kantung matamu yang hitam itu juga style baru?"
Naruto menjawab gugup, "Bi-biar mirip Gaara, ketua osis kita. Gimana Hinata?"
Gadis itu sedikit tersentak, ia hanya mampu mengangguk kikuk. Perasaan khawatir tiba-tiba saja datang, saat ia menatap Naruto.
"Jadi kamu telat, gara-gara ngerubah penampilan?" Shikamaru bertanya dengan nada malas.
"Bingo!" dan tertawa begitu mendengar jawaban Naruto.
Naruto segera duduk dan mulai mengoceh seperti biasa. "Aku malas dengan rambutku yang kuning. Kontras banget gitu, berasa anak ilang juga jadinya kalau keluar rumah."
Sasuke mendengus geli, "Salahkan kakekmu yang berasal dari luar negeri."
"Ayahku juga rambutnya kuning, karena dia blasteran." Naruto memajukan bibirnya kesal. "Eh, tunggu! bukannya itu berarti aku juga blasteran? bukannya itu bikin aku keren-dattebayo?!"
Sasuke tertawa terbahak, "Ya enggaklah dobe!"
Naruto langsung berdecak sebal, "Kenapa? punya darah campuran kan keren!"
"Iya, tapi tidak untukmu!" Sakura ikut menimpali lalu tertawa.
"Kalian kompak sekali, udah jadian aja sekalian!" Ujar Naruto sebelum mengaduh saat Sakura memukul kepalanya.
"Maaf aja, hatiku udah milik orang lain!" Sakura menyahut dengan rona merah di pipi.
"Kakakku maksudmu?" Sasuke mendengus kesal sebelum kembali berujar. "Demennya kok sama om-om."
Mata hijau Sakura melebar, ia menyikut Sasuke dan menatapnya tajam. "Dia dewasa, bukan om-om!"
"Umur diatas 25 itu om-om."
"Itu namanya laki-laki matang!"
"Setengah bau tanah, maksudmu?"
Hinata menatap kedua orang itu khawatir. Kenapa mendadak mereka jadi bertengkar dan ia bingung bagaimana merelai mereka.
Shikamaru tertawa pelan, ia mengibaskan tangannya agar Hinata menoleh ke arahnya. "Jangan diambil pusing, mereka sering begitu, kok."
"Be-benarkah?"
Shikamaru mengangguk, "Yang harus kamu khawatiran saat ini, dia."
Hinata mengikuti kemana arah telunjuk Shikamaru. Dan ia terdiam begitu mendapati tatapan kosong dari Naruto.
Remaja itu tertawa melihat pertengkaran Sakura dan Sasuke. Namun sinar matanya hampa dan terasa jauh. Membuat Hinata tanpa sadar segera menepuk pundak Naruto.
Naruto menoleh, memandang Hinata heran. Membuat gadis itu berubah salah tingkah. Dengan wajah yang sudah merona, ia berujar pelan.
"A-apa kamu udah makan?"
Hinata serasa ingin mengubur dirinya. Pertanyaan payah itu, bagaimana bisa ia lontarkan.
Naruto menyengir lebar, "Belum, kan aku baru sampai."
Hinata ingin menangis rasanya, tidak seharusnya ia bertanya seperti itu.
"Hinata," saat gadis itu menoleh, Naruto tersenyum kecil. "Itu... Apa kau mau menemaniku memesan makanan?"
Gadis itu tak lekas menjawab, ia memandang Naruto sesaat sebelum mengangguk.
"Tentu."
...
Naruto menoleh ke kanan ke kiri, melihat-lihat deretan jajanan sebelum memutuskan apa yang ingin ia makan.
Di sampingnya, Hinata berdiri dengan tenang. Dengan sabar ia menunggu Naruto memilih makanan.
Manik lavendernya melirik, merasa lega saat tidak ada lagi tatapan kosong disana. Kini hanya ada tatapan serius di mata Naruto yang membuat Hinata terkekeh pelan.
"Kenapa?"
Hinata menggeleng pelan, "Enggak... aneh aja liat matamu hitam."
"Ah... Apa tidak cocok?"
"Cocok sih, cuma aku lebih suka mata birumu." Hinata kembali terdiam, ia merasa terlalu jujur.
Disampingnya wajah Naruto telah memerah. Ia berdehem pelan dan menujuk ke sudut kantin.
"Semua ramai, jadi aku pesan ramen aja."
Hinata mengangguk dan mengekori Naruto. Sialnya, mereka terpisah akibat rombongan siswi yang hendak keluar kantin. Hinata menatap punggung Naruto yang samar terlihat.
Membuatnya menghela nafas pelan, apa boleh buat. Toh ia sudah tahu kemana perginya remaja itu. Yang tidak ia tahu adalah Naruto mencarinya, dan dari balik rombongan, lelaki itu tahu-tahu menarik tangannya.
"Kirain kamu hilang," ujar Naruto dengan cengiran lebar.
Hinata mengerjap, rasanya jantungnya mendadak berdetak cepat. Padahal Naruto hanya menggenggam tangannya, tidak lebih.
"Kamu kecil sih, jadi gak keliatan."
Hinata mendengus pelan, "Kamunya aja yang ketinggian."
"Minum susu makanya, biar tinggi."
"Dan jadi tiang kayak kamu?"
Naruto menatap Hinata tak percaya sementara Sang gadis hanya terkekeh pelan. Puas rasanya meledek Naruto dan melihat raut lelaki itu.
"Bisa juga kamu bales ngeledek," Tawa Naruto sebelum ia memesan ramen. "Biasanya diem, terus gugup sampai ngomong aja berubah gagap."
Pukulan kecil Naruto rasakan dilengannya. Ia menoleh dan mendapati wajah Hinata merona dengan pipi mengembung lucu.
"Bawel, ah!"
Naruto kembali tertawa, ia senang melihat reaksi Hinata. Manis.
Saat gadis itu menelusupkan sebagian rambutnya ke belakang telinga. Memperlihatkan sedikit leher jenjangnya, Naruto kembali teringat dengan apa yang telah ia lakukan kemarin.
"Hinata," panggil Naruto yang dijawab gumaman Hinata. "A-Aku minta maaf, untuk yang kemarin."
"Eh, soal apa?"
"Itu..." Wajah Naruto kian memerah, "Soal aku... Memelukmu."
Hinata terdiam dan perlahan wajahnya ikut memerah. keduanya kini saling menunduk, saling menatap kearah lain.
"Aku senang," Naruto kembali berujar, "Karena kamu seperti bisa melihat isi hatiku."
Hinata diam mendengarkan, manik lavendernya lurus menatap Naruto. Perlahan mata hitam Naruto menatap ke arahnya, dengan sinar tulus dan penuh harap.
"Kau tahu, senang rasanya ada orang yang memahamiku."
Senyuman lebar itu terasa hangat, bagi Hinata. Seakan ia mengerti, dibalik makna perkataan Naruto. Gadis itu tersenyum lembut dan mengulurkan jari kelingkingnya.
"Aku ada untukmu, jika kamu butuh bantuan, jadi jangan sungkan." Hinata berujar sambil mengacungkan jari kelingkingnya.
Sekali lagi Naruto dibuat kagum oleh kata-kata Hinata. Ia merasa mampu mempercayai perkataannya. Hingga meluapkan rasa terharu dalam benaknya.
Naruto terkekeh pelan, lalu menautkan kelingking mereka berdua. Membuat simbol perjanjian dengan senyum merekah.
"Janji, yah!"
"Janji!"
Naruto dapat merasakan hatinya menghangat. Dalam hati ia berdoa jika kedepannya dunia seakan runtuh dan ia merasa tak berdaya. Hinata akan ada di sisinya.
'Tolong aku, saat semua menjadi terlalu berat bagiku, Hinata.'
...
Naruto meletakan ranselnya sebelum duduk dan merentangkan kedua tangannya. Sasuke menoleh, menatap Shikamaru sebelum menendang pelan kursi Naruto.
"Apa terjadi sesuatu?"
"Kenapa tiba-tiba ngecat rambutmu seperti Menma?" Shikamaru melanjutkan kata-kata Sasuke.
"Cuma ganti penampilan aja," Naruto tersenyum lebar dan menaik-turunkan alisnya. "Kalau gini aku sama Menma kayak anak kembar, kan?"
"Yakin cuma mau ganti penampilan?"
"Iya, Teme..."
Sasuke tidak puas dengan jawaban Naruto. Ia dan Shikamaru yakin, bahwa telah terjadi sesuatu pada teman pirang mereka. Saat Shikamaru akan membuka mulut, suara pintu menghentikannya.
Dari balik pintu, Iruka-sensei masuk dengan wajah datar. Manik hitamnya menelurusi isi kelas. Sampai ia mendapati sosok yang ia cari.
"Uzumaki Naruto," panggilnya dengan nada dingin. "Ke ruang guru, sekarang!"
Naruto tersenyum kecil saat kedua temannya memandangnya. Ia sudah tahu akan begini jadinya, bagaimanapun dia sudah melanggar peraturan sekolah.
"Ma... Aku pergi dulu-datebayo!" Naruto tersenyum lebar lalu melangkah keluar kelas, mengikuti Iruka.
Sasuke menghela nafas pelan, "Harusnya dia berfikir panjang."
Di sebelahnya, Shikamaru mengangguk setuju. "Mencoba menjadi orang lain, hanya menyusahkan diri sendiri. Berharap semua akan mudah jika menjadi orang lain, itu sama saja dengan melarikan diri."
"Apa dia masih belum paham, walaupun Kurama ada karena itu."
...
Di ruang guru, Naruto sibuk memerhatikan sekeliling. Tidak memedulikan Iruka yang tengah membuka beberapa lembar buku kecil. Mungkin buku catatan anak-anak yang melanggar peraturan, entahlah.
"Naruto,"
Remaja itu menoleh dan tersenyum lebar, "Ya, Sensei?"
Sebuah pukulan ia dapatkan di kepala. Naruto mengiris pelan dan memajukan bibirnya.
"Kenapa memukulku, Iruka-sensei?!"
"Berhentilah berbuat konyol Naruto, kenapa kamu mengecat rambut seperti ini?"
"Aku hanya bosan dengan rambutku, lagian apa salahnya? rambut Gaara juga merah, banyak anak lain berambut merah."
"Tentu aja salah, mereka rambut asli dan kau rambut palsu!"
Naruto berdecak sebal, ia memasukan kedua tangannya ke dalam saku dan membuang muka. Iruka merasa kepalanya berdenyut pelan dengan tingkah Naruto.
"Aku tahu kau ingin mencoba berbagai hal, tapi kau harus tahu batasannya Naruto." Iruka mencoba menasehati muridnya pelan. "Kau bebas melakukan yang kau suka, tapi juga pikirkan dampaknya."
"Aku memikirkannya, kok!" Naruto menyahut gemas sebelum ia menunduk pelan. "Aku merasa mungkin ini lebih baik, untukku dan..."
'Untuk Ibu.'
Naruto tertawa pelan, mana mungkin ia bisa mengatakannya. Yang dia inginkan adalah Kushina melihatnya kembali. Menatap mata birunya dengan manik hitamnya yang bening.
Salahkah? sulitkah? hanya itu yang dia pinta. Yang dia inginkan.
'Rasanya semakin sulit, menatap Naruto.'
Kata-kata Ibunya, malam itu terus terngiang. Mendadak pandangannya buyar, dengan rasa pening di kepala. Naruto memejamkan matanya dan menggeleng pelan.
Iruka memandang Naruto khawatir saat tiba-tiba wajah muridnya memucat.
"Hei, kau baik-baik saja?"
Naruto mengangguk, ia tersenyum lebar, mencoba menepis rasa pusingnya. "Aku baik-baik saja, jadi boleh saya kembali ke kelas, Sensei?"
Iruka menghela nafas pelan, "Tidak bisa. Aku sudah memanggil Ibumu kemari."
Naruto seketika membulatkan matanya, "Tu-Tunggu dulu, Sensei! kenapa harus memanggil Ibuku? cuma masalah rambut, kan? pulang nanti aku langsung cat kembali rambutku, jadi jangan panggil Ibuku!"
"Kau fikir cuma masalah rambut?" Iruka membuka buku yang sejak tadi ia pegang dan menjadi senjata memukul kepala Naruto.
Ia menunjuk isi di bukunya dengan pandangan gemas. "Bolos pelajaran, lari-lari di koridor, tidur saat pelajaran, baju tidak dimasukan dan sekarang," Iruka menunjuk penampilan Naruto dari atas sampai bawah. "Harus saya sebutkan lagi satu-satu?"
Naruto menyengir lebar sembari menggaruk tengkuknya. Lalu wajahnya berubah memelas dan ia segera menarik-narik lengan Iruka seperti anak kecil.
"Oh, ayolah sensei! batalkan pemanggilannya, aku mohon-datebayo!"
"Kau kira kesalahanmu cuma satu, dua, tiga? mana bisa!"
"Sensei, mah. Gak asyik!"
"Hei!-"
Suara pintu yang digeser dan suara seorang perempuan menghentikan perdebatan mereka. Naruto menolehkan kepalanya dan menelan ludah gugup. Di ambang pintu berdiri seorang wanita berambut merah dengan setelan hitam.
"Kaa-san..."
Kushina melangkahkan kakinya menuju Naruto dan Iruka. Saat ia sampai di samping Naruto, manik hitamnya melirik penampilan Putra Sulungnya. Lalu ia tersenyum tipis sembari membungkuk pelan.
"Saya Uzumaki Kushina, mohon maaf atas sikap anak saya."
Iruka membalas senyum Kushina dan mempersilahkannya untuk duduk. Naruto berdiri di samping Kushina, diam dan hanya menunduk. Mendengarkan kedua orang dewasa itu, membicarakan dirinya.
Setelah selesai, Kushina dan Naruto keluar dari ruang guru. Lorong koridor sepi dikarenakan sedang jam pelajaran. Kushina melangkah dalam diam sementara Naruto mengikuti di belakang.
Saat langkah Kushina berhenti, Naruto ikut berhenti. Ia tidak berani mengangkat wajahnya, ia takut melihat raut kecewa Ibunya.
"Kenapa kamu mengecat rambutmu?" suara datar dan dingin itu, membuat Naruto tak lekas berujar.
Di lain tempat, Hinata menghela nafas lelah. Lagi-lagi ia dimintai untuk menaruh buku-buku di ruang guru. Jam belajarnya kembali terpotong, dan itu artinya dia harus belajar ekstra di rumah.
Hinata kembali menghela nafas sebelum menyemangati dirinya sendiri. Ia melangkahkan kembali kakinya menaiki anak tangga. Namun suara samar membuatnya menghentikan kembali langkahnya.
Hinata mencoba mengintip dan mengerjap saat mendapati Naruto bersama seorang wanita.
"Ibu tanya, kenapa kamu mengecat rambutmu?!" suara Kushina naik satu oktaf. Saat ini suasana hatinya sedang tidak baik, terlebih ia mendapatkan panggilan ke sekolah.
Kushina melangkah mendekati Putranya lalu menampar keras wajah Naruto. Hinata berusaha meredam suaranya sendiri. Raut kaget terlihat jelas di wajah putri Hiashi.
"Apa kamu mau bertingkah seperti berandalan?" Naruto tetap diam, tak menyahut. "Sudah Ibu bilang, beri contoh yang baik untuk adikmu! bukan seperti ini dengan rambut merahmu itu!"
"KENAPA?!" Naruto seketika menyentak, wajahnya merah akan emosi. "Kenapa aku tidak lahir dengan rambut merahmu?!"
"Kenapa aku harus punya rambut dan mata yang sama dengan ayah?! Siapa yang mau jadi berandalan?! bukannya rambut kuning justru khas anak berandal?! Aku hanya mencoba menjadi seperti Ibu dan Menma!"
Naruto segera menyeka air mata yang jatuh di ujung matanya. "Bukannya Ibu benci wajahku? Ibu benci padaku karena mirip dengan Ayah! dan Ibu juga benci karena aku penyebab Ayah mati!"
PLAK!
Kushina sudah tidak kuat menahan tangis dan emosinya. Suaranya bergetar saat ia berujar pelan.
"Ini tidak ada hubungannya dengan Ayah, kau salah Naruto."
Remaja itu mengepalkan kedua tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Rahangnya mengeras sebelum semua emosinya lenyap dalam sekali helaan nafas lelah.
Naruto tersenyum getir, "Naru selalu salah. Mungkin memang sebaiknya aku tidak ada."
Tanpa mendengar panggilan Kushina, ia melangkah meninggalkannya. Ia menuruni tangga dengan wajah menunduk, sama sekali tidak menyadari Hinata yang memanggil dan mengikutinya.
Selalu, seperti ini. Apapun yang Naruto lakukan selalu dipandang salah oleh Kushina. Ia sudah mencoba berfikir dewasa, menurut dan bersikap sebagai seorang kakak. Namun semua itu seakan belum cukup untuk mencapai apa yang Kushina bayangkan.
Naruto merasa tubuhnya berat dan lelah. Pikirannya kosong dan rasa sakit dikepalanya semakin menjadi. Ia merasa kakinya tidak menapak atau memang gravitasi sedang tidak bekerja untuknya.
Yang Naruto tahu hanya sebuah suara memanggilnya terus berulang kali. Sebelum gelap menyelimutinya.
.
.
.
To Be Continue...
Terima kasih untuk para reader terkasih yang sudah mau repot2 baca, follow, favorite dan review.
Buat yang nanya kenapa word dikit. Selain aku emang rencananya cuma 2k tiap chapter, aku sekarang ngetik pake hape. Kendala laptop lagi dipake sodara.
Terus aku ngakak loh baca review rengoku onimaru. Atuh kalau dibikin KushiNaru, jadi remake malin kundang dong. Untuk saat ini, semoga kamu puas yah dengan couple NaruHina dan KuraShion.
Akhirnya masuk konflik pertama. Gak sabar buat moment Kurama sama Shion. Muehehe... Semoga kalian juga gak sabar baca kayak saya yah.
Sampai jumpa Selasa depan.
