NORMAL?
.
.
GENRE : ROMANCE
LENGTH : HANYA TUHAN YANG TAHU
FANFICT BY TIANLIAN
DESCLAIMER : CERITA INI MILIK SAYA, SEHUN HANYA MILIK JONGIN DAN JONGIN ADALAH MILIK KITA BERSAMA.
RATE: TAK TERDEFINISI [T_T]
WARN : YAOI, BXB, TYPO'S
.
-OH SEHUN- KIM JONGIN-PARK CHANYEOL-
And other cast
.
SUMMARY
Kami berdua adalah laki-laki normal. Kami suka payudara besar, pantat kenyal dan vagina sempit. Kami juga punya wanita yang kami sukai.
Namun,
Kenapa kami saling tertarik satu sama lain?
.
.
.
"kau beruntung karena sayatannya tidak begitu dalam." dokter Seo menasehati Sehun yang masih terpaku menatap keadaan Yeri. Ia sama sekali tak mengacuhkan apa yang dikatakan dokter Seo namun ia tahu dokter Seo pun mengerti apa yang tengah berkecambuk dalam hatinya.
.
Tangan hangat itu menepuk bahu Sehun. "kau harus berhati-hati, Sehun. Yeri, kau tahu benar bagaimana kondisi anak itu. Jadi, paman mohon padamu tolong kau jaga baik-baik tindakanmu."
.
Dokter Seo, ia bukan hanya seorang dokter. Dia adalah keluarga dari Kim Yerim. Satu-satunya keluarga yang tersisa setelah kecelakaan yang mengikut sertakan Yeri dua tahun silam. Kecelakaan yang mengubah segalanya, bahkan hidup seorang Oh Sehun.
.
"ya, aku mengerti paman."
.
Setelah itu dokter Seo beranjak pergi, dan kini hanya tertinggal Sehun disana. Menatap pergelangan tangan Yeri yang telah terbebat perban dengan perasaan menyesal lalu tertunduk.
.
'maafkan aku hyung, maafkan aku…'
.
.
.
.
[Chapter 7]
-it's Okay-
.
.
.
Pagi yang cerah tampaknya tidaklah mengubah fakta jika hati seorang Kim Jongin kini tengah dalam keadaan mood yang paling buruk. Sungguh buruk. Setiap kali ini melihat langit-langit kamar Chanyeol yang menjijikkan dia selalu mengingat kebodohannya yaitu pingsan ditempat dan waktu yang sangat tidak dibutuhkan. Setiap dia melihat jam, ia akan selalu mengingat sudah berapa lama dia tidak memberi kabar pada Yeoja kesayangannya Jung Krystal. Dan lagi-lagi itu juga karena kebodohannya. Lalu, setiap kali ia melihat handphone Chanyeol yang berkedap-kedip setiap beberapa menit ia akan mengingat lagi betapa malang nasib handphonenya yang hilang diantah barantah. Singkat kata. Dia, Kim Jongin sungguh ingin merukyah dirinya sendiri karena kemalangan bertubi-tubi yang seakan jatuh cinta padanya hingga setiap kali ia mencoba melakukan suatu hal pasti akan berujung dengan kesialan yang bahkan terkesan sengaja dibuat-buat.
.
"PARK CHANYEOL!" berteriak dengan sengaja adalah satu-satunya penghiburan bagi Kim Jongin dan Chanyeol adalah satu-satunya sasaran empuk yang selalu dia jadikan target bullying.
.
Pemuda tampan yang tengah sibuk mengancingkan seragamnya itu bergerak malas menuju Jongin yang juga tengah sibuk memakan roti bakarnya.
.
"ya, yang mulia. Ada apa gerangan hingga bersusah payah meneriaki hamba.." kalimat serta raut wajah yang sangat bertolak belakang itu terlihat aneh dan menyebalkan diwaktu yang bersamaan namun hal itu tak lantas membuat Kim Jongin menoleh, dengan pongah pemuda Kim itu menyodorkan gelas kosong disampingnya melalui senggolan disengaja hingga gelas itu berputar diujung meja, tergilincir, jatuh dan ditangkap dengan sigap oleh tangan atletis Park Chanyeol.
.
"ups, aku sengaja.." ucap Jongin kalem, dengan wajah yang tak kalah petang sepetang mood Jongin Chanyeol mencoba tersenyum. "tidak apa-apa yang mulia, itu kelalaian saya. Mohon ampuni hamba."
.
Ini bukanlah penggalan drama saeguk atau apapun itu, potongan-potongan kalimat absurd itu memang benar dan nyata adanya terucap dari mulut sexy nan menggoda seorang Park Chanyeol. Kenapa demikian? Kim Jongin itu absurd asal kalian tahu, pemuda itu agak aneh selain rahasia umum jika dia itu agak tidak pintar. Dan Park Chanyeol, dia adalah orang yang lemah. Lemah terhadap kekonyolan seorang Kim Jongin yang tak pernah jauh dari kata freak dalam hidupnya.
.
Lalu kalimat-kalimat khas drama saeguk itu apa?
.
Itu adalah cara permohonan maaf dari Park Chanyeol atas kesalahannya menghilangkan handphone tuan Kim Jongin yang katanya berisi ribuan video jav yang baru saja dia download dan belum dia pindah kedalam harddisknya.
Ini bukan lagi soal Krystal, Kim Jongin memaafkan Chanyeol soal insiden nomor handphone Krystal. Dia tidak mempermasalahkan hal itu lagi karena toh hari ini juga dia kan menemui kekasihnya itu untuk meminta maaf sekaligus bermesraan. Kkkk jadi…. Ini hanya tindak kekanakan yang kelewat absurd dari Jongin karena kurang kerjaan. Dia masih dendam karena handphone yang berisi harta karunnya itu musnah tak berjejak dan itu karena orang bernama Park Chanyeol yang katanya lebih pintar, lebih macho dan lebih menggairahkan dari seorang Kim Jongin. Katanya..
.
"Serius Kim, kita sudahi saja ya. Aku kan sudah melakukan hal konyol ini sejak semalam.." Chanyeol memohon, namun dengan raut wajah yang minta dibogem dengan kapak.
.
"perjanjiannya selesai saat kau memberiku handphone baru dengan isi yang sama." Tuan keras kepala Kim masih berulah.
.
"yayaya… kau akan mendapatkan sepulang sekolah! Puas," Chanyeol kalah dan Kim Jongin menyeringai.
.
"o…ke, deal." Jongin berdiri, menenteng tas punggungnya lalu menyodorkannya pada Chanyeol.
.
"apa?" tanya Chanyeol tak mengerti.
.
"pesuruh yang baik selalu membawakan tas majikannya, asal kau tahu. Jadi mari kita berangkat sekolah." Berjalan mendahului Chanyeol, lalu berbalik. "ahh, jangan gunakan motor rongsokanmu itu lagi, tuanmu ini tidak suka bercengkrama dengan polusi udara Seoul dipagi hari."
.
Jangan tanyakan seberapa kesal dia pada makhluk bernama Kim Jongin yang hidup disamping rumahnya itu. Dia sangat kesal, namun anehnya dia tak pernah bisa menolaknnya. Dia tak bisa karena akan selalu ada sentakan aneh diulu hatinya saat melihat wajah itu menyeringai, tersenyum bahkan cemberut karenanya. Dada bidangnya ini akan berdentum layaknya marching band dan dia akan sesak nafas seperti orang yang menderita penyakit asma kronis saat ia terlalu lama menatap wajah sialan Kim Jongin itu.
Ada yang salah dengannya?
Tapi…
.
"apa aku terkena penyakit jantung? Kenapa selalu seperti ini?" Chanyeol bergumam sembari menyentuh dadanya yang masih berdetak tak karuan. "aku harus ke dokter, ya dokter… aku tidak mau mati muda."
.
Park Chanyeol itu tidaklah lebih pintar daripada Kim Jongin. Mereka berdua itu memang kompak dalam segala hal. Termasuk cara pikir mereka yang sangat amat berbeda dengan otak manusia normal kebanyakan, dan berita baiknya hal tersebut telah terkonfirmasi secara legal.
Dua orang itu abnormal.
.
"YYYAAAKKK, KIMMM JONGIN.. BAWA TAS MU SENDIRI ATAU KU PATAHKAN TANGANMU ITU AGAR KAU TAK BISA BERONANI LAGI!"
.
"BERISIK! AKU BISA MEMAKAI TANGANMU JIKA KAU MEMOTONG TANGANKU!"
.
See, mereka berdua memang abnormal bukan?
.
.
.
.
.
Sehun termangu, ia masih tetap termangu bahkan saat kelas riuh membicarakan Chanyeol dan Jongin yang masih bermain peran sebagai raja dan pesuruhnya. Dia diam, menatap langit yang tampak mendung disampingnya dengan tatapan kosong, menghela nafasnya resah lalu melihat handhonenya yang masih menunjuk angka delapan, tidak kurang tidak lebih.
.
"yo Park! Sekarang kau jadi babu Jongin eh?" seorang anak bername tag Jung bersuara lantang hingga membuat sebagian siswa disana terkikik geli sembari menggoda Chanyeol yang tampak menatap mereka sinis.
.
"sudahlah wahai rakyat jelata, biarkanlah Chanyeol-rella ini melakukan tugasnya. Jika kalian iri bilang saja pada tuan muda Kim Jongin yang baik hati nan pemurah ini. Kalian pasti akan kupekerjakan juga."
.
Suara huuuu serentak menggema dengan diiringi lemparan buku yang tepat mengenai Jongin. Ia tertawa puas disela kabur dari gebukan teman-teman sekelasnya yang terkadang agak tidak bisa membedakan mana bercanda dan baku hantam sesungguhnya yang artinya gebukan mereka itu setara dengan saat mereka diarena tempur dan terjerembab.
.
"ssshh, bangku sialan!" Jongin mengumpat sembari mengelus dahinya yang mencium lantai, ia terduduk kesal lalu, "woah, kau yang waktu itu memberiku roti bukan!" berteriak tanpa tahu tempat sembari menatap Sehun yang masih tetap dalam fokusnya. Chanyeol yang ada dibarisan bangku paling depan mengernyit, mendapati Jongin berteriak ia lalu melihat siapa orangnya. "bedebah itu." Lirih Chanyeol pelan, ia kemudian berjalan menuju Jongin dan mengulurkan tangannya. Jongin menerima uluran tangan itu lantas duduk disamping Sehun.
.
"kau harus meminta maaf padaku." Jongin bertitah, Sehun terusik dan Chanyeol hanya diam melihat kelakuan absurd Jongin.
.
"berlututlah dan aku akan memaaf―"
.
"hallo, ya aku segera sampai."
.
Lantunan kalimat Jongin terputus oleh panggillan telpon milik Sehun, pemuda pucat itu bergegas, mengemasi tas lalu pergi mengacuhkan Jongin yang memandang kepergian Sehun dengan mata tak percaya!
.
"Park Chanyeol." Orang yang dipanggil oleh Jongin itu berdeham. "kau taukan kau itu menyebalkan." Chanyeol mulai melirik Jongin dengan mata malas. "kali ini, baru kali ini aku rasa aku ingin membunuh seseorang selain dirimu." Lanjut Jongin kesal.
.
Dan hal itupula yang kini tengah dirasakan oleh seorang Park Chanyeol, ia ingin membunuh Sehun saat Jongin menaruh perhatian padanya, ia ingin membuat Sehun menghilang dari jarak pandang mereka, ia ingin semua kembali normal. Kembali disaat dimana hanya ada dia dan Jongin disana. Hanya mereka berdua.
Namun, kenapa begitu? Kenapa Chanyeol begitu benci melihat Jongin bersikap seperti itu pada Sehun? Kenapa?
.
.
.
.
.
Bibi Ram adalah orang kepercayaan Sehun saat ia tak bisa bersama dengan Yeri, dia adalah pengasuh Yeri sejak kedua orang tua Yeri belum meninggal. Orang yang begitu menyayangi Yeri setelah kedua orang tuanya. Dan sekarang disinilah Sehun, apartemen Yeri dengan keadaan kacau balau.
.
"apa apa dengan Yeri?" Sehun sudah ada disamping Yeri yang terlelap dengan peluh yang menghiasi wajahnya. Bibi Ram membawa bekas perban yang telah berlumuran darah ke nakas disamping tempat tidur Yeri lalu berkata.
.
"nona mengamuk saat bangun, dia mencari tuan dan selang infusnya tercabut."
.
Penjelasan singkat dari bibi Ram menjawab pertanyaan dalam benak Sehun mengenai bekas perban dan kapas yang berlumuran darah. Menghela nafasnya singkat Sehun lalu tersenyum lemah pada bibi Ram dan menyuruhnya pulang.
.
"sebaiknya bibi pulang, hari ini aku yang akan menjaganya."
.
Setelah itu bibi Ram pun mengangguk, ia pergi meninggalkan Yeri bersama Sehun sembari membawa serta nampan berisi perban penuh darah keluar.
Tak banyak yang Sehun lakukan setelahnya, ia hanya duduk disamping ranjang Yeri. Mengusap peluh yang menyambangi wajah gadis itu lalu menghela nafasnya pasrah.
.
Jika dulu ia tidak menuruti apa yang diminta hyungnya mungkin sekarang ia tidak ada dalam posisi membingungkan macam ini. jika ia tidak ceroboh maka Yeri tidak akan seperti ini. jika, waktu yang lampau bisa ditukar dengan materi yang ada..
Sehun ingin sekali menggadaikan semua yang sekarang ia miliki untuk kembali ke masa itu.
Masa dimana semua berada dalam tempat yang seharusnya, dimana tawa masih ada dalam kamus hidupnya..
Dimana semua kebohongan ini seharusnya tak tercipta.
.
.
.
Beijing, 2013
"apa? Kenapa begitu?! Perjanjiannya aku yang menjemput paman dan bibi kenapa jadi hyung sendiri yang menjemput mereka?"
Sehun yang ada di taman tak jauh dari sekolah hanya mendengus mendengarkan penjelasan hyungnya yang terkadang sangat kekanakan. Hanya karena ingin memberi kejutan untuk Yeri gadis yang mereka sayangi, hyungnya yang agak awet muda di umurnya yang sudah kepala dua itu dengan konyol malah pergi menjemput kedua orang tua Yeri yang baru saja sampai di bandara.
Sehun menghela nafasnya pasrah, dia bahkan sudah izin pada guru piket untuk menjemput keduanya tapi gara-gara hyungnya itu semua perjuangannya malah jadi sia-sia. Bukan apa-apa sih, tapi dia lebih malas jika di suruh menjemput Yeri ―mantan pacarnya- ketimbang kedua orang tuanya. Ya, mereka berdua―Sehun dan Yeri- adalah mantan pacar, yang mungkin sebentar lagi akan berubah status menjadi kakak dan adik ipar.
Humb, hyungnya.. hyung satu-satunya Oh Sehun itu agaknya memang kurang waras saat mengatakan bahwa dia jatuh cinta pada Yeri saat keduanya masih dalam status pacar kontrak. Dan beruntungnya, karena hal yang agak kurang normal itulah perasaan Yeri pada Sehun pun semakin jelas. Karena kegigihan hyungnya pada akhirnya mereka bersama dan meninggalkan sehun yang tak melakukan apa-apa, ya.. memangnya kenapa? Toh Sehun tak memiliki perasaan apapun pada Yeri selain sayang. Dan hal itu tidak mungkin berubah Sehun yakin itu.
"Luhan hyung!" dengan kesal Sehun berteriak.
"tch, kau benar-benar tidak berguna. Setidaknya jeputlah calon kakak iparmu saja daripada menggerutu tak penting macam itu. Sudahlah sekarang jemput Yeri di sekolah dan antarkan dia ke restoran yang kemaren."
"aish.. kalau begitu untuk apa aku repot-repot izin jika pada akhirnya kembali lagi menjemput gadis menyebalkan itu!"
Sehun tak mendapatkan balasan, dia bisa mendengar samar-samar Luhan berkata selamat datang pada seseorang yang Sehun yakin adalah orang tua Yeri. Hhh, oke, dia diacuhkan sekarang. Selamat.
Lalu, suara Luhan kembali terdengar. "ahh, kita bertemu satu jam lagi. Oke, pastikan Yeri sampai dengan selamat! Aku menyayangimu adik kecil!"
"menjijikkan." Sehun mendengus, ia menatap jam tangannya malas lalu kembali mengotak-atik handphonenya dan terkekeh saat melihat foto ketiganya yang tak sengaja dia buka. Foto yang diambil lima bulan lalu saat Luhan secara terang-terangan meminta Yeri untuk putus dengan Sehun dan memilihnya. Difoto itu terlihat Luhan merangkul Sehun yang memasang wajah malas dan Yeri yang tersenyum bahagia merangkul keduanya.
Sehun bahagia, bahagia saat orang-orang yang dia sayangi juga bahagia. Semudah itu, dan hari ini kebahagiaan hyungnya akan bertambah besar karena hyungnya yang idiot itu akan melamar Yeri. Tepatnya satu jam lagi, dan Sehun bertugas menjadi supir pribadi. Hhh, dia memang sial jika berhadapan dengan dua orang ajaib itu.
.
.
"kenapa kau pakai motor?" Sehun tampak memutar bola matanya malas lalu meyerahkan helm putih pada Yeri yang menatap motor Sehun sebal. Sehun tak menjawab apapun dan Yeri dengan menggerutu tetap naik dan duduk dengan manis di belakang Sehun. "kenapa bukan Luhan Oppa yang menjemput seperti biasa?"
Sehun menghela nafasnya, melihat wajah yeri yang mengerucut sebal lantas berujar. "aku hanya bertugas mengantarmu hari ini saja, jadi berhentilah menggerutu dan duduk dengan tenang."
Keduanya pun pergi membelah puluhan siswa berseragam sama dengan mereka menuju tempat yang Luhan katakan. Yeri diam seperti perintah Sehun, selama perjalanan Sehun tak sengaja menatap etalase toko yang menampilkan gaun biru pastel yang setidaknya pantas dikenakan Yeri untuk menemui Luhan. Yah, setidaknya gadis menjengkelkan itu pantas berpakaian layak saat menerima lamaran dari hyungnya. Pikir Sehun. Lalu, dengan spotan sehun berbalik menuju toko.
Yeri menatap Sehun curiga saat keduanya memasuki toko baju. "untuk apa kau membawaku kemari?"
"diamlah, aku akan memberimu hadiah." Dan setelahnya Sehun meminta pada salah satu pramuniaga untuk membawa baju yang dipasang di etalase, menyuruh Yeri memakainya dan membayarnya.
"dengan begini kau tampak sedikit bagus."
"yak! Apa maksudmu!"
"sshhhh, sudahlah. Cepat naik, kita sudah hampir terlambat."
Yeri lagi-lagi menuruti ucapan Sehun sambil menngerutu, saat Sehun akan menstarter motor Handphonenya berdering. Nama Luhan terpampang disana, buru-buru Sehun mengangkat dan mengernyit saat suara orang asing menyapa lempeng telinganya. "maaf, pemilik Handphone ini mengalami kecelakaan di kilometer tujuh dan sekarang tengah dibawa menuju rumah sakit."
"apa itu Luhan oppa?"
Sehun mendadak bisu, ia merasakan buku jari nya menggigil, jantungnya berpacu cepat dan ia menoleh kaku menatap yeri yang menatapnya dengan senyuman cerah biasa. "kita harus cepat!" ujar Sehun panic, Yeri kebingungan. Dia kaget melihat betapa pucatnya Sehun namun tak bisa bertanya apa-apa saat Sehun sudah memacu motornya gila-gilaan membelah jalan raya yang terbilang cukup padat.
Layaknya berlomba denga angin, motor Sehun melesat dengan kecepatan cahanya dan hal itu membuat Yeri bertambah takut. Yeri takut jika Sehun tiba-tiba kehilangan kendali dan menabrak―
"SEHUN!"
BRRRRAAAAKKKKKK!
.
.
Hari ini adalah pertengahan bulan Maret, saat kuncup musim semi mulai bermekaran, saat matahari bersinar dengan begitu hangat. Saat puluhan orang sibuk dengan aktifitas mereka… disana, tepat dipersimpangan tergeletak dua orang murid SMA dengan darah menyelimuti tubuh keduanya. Jeritan ngeri melantunkan melodi awal yang begitu pilu, langkah kaki yang terburu, teriakan dan panic menyelimuti udara yang begitu segar.
Sehun mengernyit merasakan nyeri disekujur tubuhnya, saat orang-orang panic mengerubungi Sehun, ia menyapukan padangannya yang buram dan tersentak saat melihat tubuh Yeri tergeletak tak jauh darinya, ia berjalan tertatih menuju Yeri yang tak sadarkan diri. Merengkuh tubuh itu dalam ketakutan dan berteriak meminta siapapun untuk segera membawa Yeri ke rumah sakit.
.
.
Dan saat neraka itu dimulai, yang Sehun ingat hanyalah senyum hyungnya. Luhan hyung yang memintanya untuk menjaga Yeri disaat terakhirnya.
Hari itu Sehun benar-benar tak bisa berkata apapun ketika kedua orangtuanya menangis setelah keluar dari kamar rawat hyungnya yang telah terbaring selama satu bulan penuh setelah kecelakaan yang menewaskan kedua orang tua Yeri. Yeri mengalami gegar otak cukup parah, ingatannya hilang dan parahnya Yeri sama sekali tidak ingat betapa ia mencintai Luhan.
Sehun masuk dan menatap Luhan yang terbaring dengan senyum lemah terpasang diwajah pucatnya. "apa kau sudah menjenguk Yeri?"
Sehun mengangguk mengiyakan dan duduk disamping Luhan. "dia masih belum bisa mengingat―"
"sudahlah.." suara Luhan tampak lemah, "aku sudah cukup senang bisa melihatnya baik-baik saja."
Sehun menatap Luhan dengan iba. Mata indah kakaknya itu tampak begitu lelah namun Luhan selalu tampak begitu senang jika berbicara mengenai Yeri yang sekarang bahkan tak bisa mengingatnya. "aku mencintai Yeri. Sehun… sangat mencintainya." Mata lelah itu menaerawang, menatap pantulan cahaya yang terbias dan memejamkan mata. "Sehun.."
"bisakah kau menggantikanku?"
Sehun terkekeh datar, "apa yang kau bicarakan hyung? Kau aneh sekali. Kau tahu!"
Lagi-lagi Luhan tersenyum, ia membawa tangannya pada punggung tangan Sehun dan kembali berkata. "tolong jaga Yeri untukku, aku tahu kau tidak bisa mencintainya selayaknya laki-laki dan perempuan tapi… aku tahu kau menyayanginya, lindungi Yeri untukku."
"apa yang sebenarnya kau katakan?! apa kepalamu sakit? berhentilah mengigau!" nafas Sehun tak beraturan setelah berteriak pada Luhan. Ia tidak mau Luhan seperti ini, Luhan akan sembuh dan semua akan kembali seperti semula. Semua akan baik-baik saja. "sudahlah, aku kan kebawah membeli minum. Kau ingin apa?"
Luhan menggeleng dengan seulas senyum diwajahnya, "pergilah.."
Dan setelahnya Sehun keluar, ia berjalan perlahan sambil memikirkan semua ucapan Luhan yang terasa begitu aneh dengan kalut. Tak sampai limabelas meter beberapa dokter dan perawat berlari tergopoh melewati Sehun. Sehun sendiri berhenti sejenak sebelum berbalik dan melihat betapa panic gerombolan dokter itu menerjang pintu kamar rawat Luhan yang kini menampilkan bagaimana tubuh Luhan yang sudah tergeletak lemah dilantai dikerubungi dokter yang juga tak kalah panic dari Sehun.
"LUHAN HYUNG!"
.
.
.
.
Puluhan siswa SMA itu tengah bergerombol menatap seorang pemuda dekil yang tampak begis dengan sebuah tongkat pemukul disalah satu tangannya. Tampak rasa takut di wajah mereka, memar diwajah adalah hal yang tampak biasa. Salah satu diantara gerombolan murid SMA yang tampaknya adalah pemimpinnya dari kawanan itu berdecih menatap sengit pemuda dekil yang berseragam tak sama dengan mereka dengan tatapan kesal lalu berseru.
"SERANG DIA!"
Pemuda dekil itu―Kim Jongin- ia bukannya jadi sok pahlawan atau sok preman dengan ikut serta dalam baku hantam yang sebenarnya bukan urusannya ini. Tapi, secara ajaib kenapa pemuda Kim yang memiliki otak kurang waras itu malah terlibat?
Jawabannya adalah Chanyeol.
Chanyeol yang katanya sahabat sejati itu ternyata mengencani pacar dari si pemimpin geng ini dengan menggunakan nama Jongin. Lalu, karena si brengsek itu mematahkan hati wanitanya pada akhirnya mereka membalas dendam dan Jongin lah yang terkena sial. Hhh, lantas kemana si sialan Park itu sekarang? Jawabannya sudah pasti berkencan! Yeah, seperti biasa manusia brengsek itu kabur saat jam terakhir meninggalkan Jongin dengan serentetan ulahnya! Aarrrggghh kenapa dia selalu sial hah!
"BRENGSEK! MATI KALIAN!" balas Jongin tak kalas sengit.
.
.
.
.
Ada hal-hal yang sebenarnya selalu tak bisa ditahan oleh Jongin. Contohnya Marah, lapar, sakit dan yang terakhir barulah nafsu.
Setelah baku hantam tak berguna yang gagal akibat satpam komplek yang memergoki dan menggiring mereka menuju kantor polisi setempat, berakhirlah Jongin disini. Berjalan sendirian menatap langit yang sudah menggelap dengan tubuh pegal serta nyeri. Ia mendesis saat luka robek akibat pukulan salah satu anggota geng itu berdenyut nyeri dan mengumpat.
"aku akan membunuh bajingan Park itu setelah sampai dirumah."
Tes… tes… tes…
Hujan turun dengan tidak senonoh, menghirau Jongin yang kembali mengumpat sembari berlari menuju salah satu gedung tinggi yang tampaknya sebuah apartemen untuk berteduh. Ia menatap beberapa orang juga turut serta berteduh bersamanya lalu menghela nafas menatap rintik hujan yang berubah deras dalam hitungan detik.
Dari kejauhan Jongin melihat seseorang yang sepertinya dia kenal sebagai murid baru yang tadi pagi mengacuhkannya berjalan pelan menuju tempatnya berteduh. Payung hitam yang menutupi wajahnyapun kini terangkat. Ya, memang benar. Dia adalah anak baru yang tak sengaja ia bunuh dan hampir membunuhnya beberapa hari silam. Apa dia tinggal disini?
"hei, kau murid baru itu kan?" dengan tidak tahu malu Jongin sudah berdiri dihadapan Sehun yang tampak kaget dengan kehadiran Jongin. "apa kau tinggal disini?"
Seperti halnya gambaran sebuah takdir, dua manusia itu seperti saling terhubung dengan sebuah benang tak kasat mata. Mungkin keduanya memang ditakdirkan…
Entah ditakdirkan untuk apa? Bertemu? Atau malah saling membunuh? Entahlah.
Karena pertemuan keduanya selalu berakhir dengan nyaris, nyaris mati lebih tepatnya…
.
.
.
[Chapter 7]
-Finish-
.
.
a/n :
terima kasih atas apresiasi kalian, untuk selanjutnya saya berharap kalian tetap memberi saya kritik serta saran yang membangun guna melanjutkan ff ini
Dan terakhir,
Terimah kasih sudah membaca!
.
.
[TianLian]
122511252016
