Title: Flüstern des Teufels (The Devil's Whisper)

Summary: Temani aku menikmati permainan interlude-ku.

Pairing: Shizaya udah mulai muncul, dan…

Rate: T

Disclaimer: Nope~! Novel hebat bernama durarara! adalah milik seorang author hebat bernama Narita Ryohgo~!

Bacotan: Dikit lagi, dikit lagi~! XD


"Gawat, mereka kehilangan banyak darah…"

"Dan semuanya akan bertambah gawat kalau kau hanya berdiri disana! Cepat bekerja!"

"B-baik!"

Roppi memandang orang-orang berbaju putih yang mondar-mandir mencoba untuk menyelamatkan nyawa dua 'keberadaan yang bukan manusia' Ikebukuro; Orihara Izaya dan Heiwajima Shizuo.

Gedung tinggi ini cocok sekali untuk mengamati karena dia bisa melihat semua dengan jelas disini.

Dia bisa saja sih, menembus masuk ke dalam ruangan tempat kedua 'bukan manusia' itu dirawat tanpa disadari, tapi itu berarti dia harus berada di tengah-tengah manusia yang dia benci. Maka, dia memilih untuk diam di atap gedung di samping rumah sakit itu untuk memperhatikan keadaan Izaya dan Shizuo.

Sebuah kepakan sayap terdengar dari belakangnya, dan dia berbalik.

"Kau…"


[Shinra… mereka pasti selamat, kan?]

"Maaf, Celty. Jujur saja aku tidak tahu. Shizuo mungkin bisa selamat, tapi yang satu lagi… aku tidak terlalu yakin."

[Kenapa bukan kau saja yang merawat mereka berdua?]

"Kalau bisa juga, aku sangat bersedia melakukannya."

[…]

"Ayo pulang, Celty. Kita tidak bisa apa-apa sekarang. Lagipula, rasanya aku mengantuk sekali."

[Baiklah. Aku juga mengantuk sekali, Shinra.]


Izaya?

Kenapa aku baru ingat sekarang?

Dia Izaya. Si kutu menyebalkan yang selalu saja mengganggu kehidupanku dengan kehadirannya. Kutu menyebalkan yang selalu membuatku menderita dengan permainan-permainan anehnya. Si kutu menyebalkan yang kubenci sejak pertama kali aku bertemu dengannya.

Si kutu menyebalkan yang mengganggu kehidupanku dengan membuatku terus memikirkannya, yang membuatku menderita dengan permainan anehnya yang membuatku tidak bisa menolak untuk mengakui bahwa aku mungkin menyukainya, yang kubenci karena aku tahu bahwa aku tak mungkin mendapatkannya.

Izaya itu… kutu menyebalkan yang itu, kan?

Kenapa aku bisa lupa?


"Kau… Tsukishima…"

"R-Roppi-san! Kau melepaskan sihirnya, kan?"

"Iya."

Tsukishima tertunduk lemas. "Hah… sekarang aku akan dapat hukuman lagi…"

"Gampang. Cabut saja nyawanya kapanpun kau mau. Selesai, kan?"

Tsukishima menggeleng keras-keras. "Tidak segampang itu. Roppi-san, kan, tahu sendiri peraturannya."

"Hm…" gumam Roppi pelan. Tsukishima di depannya sekarang mengenakan sebuah kemeja putih ditimpa dengan sebuah rompi hitam dengan gesper di bagian punggungnya, dan celana panjang sebagai bawahan. "Jadi… kau sudah tidak tertarik lagi menjadi wanita, Tsukishima?" godanya sambil menyeringai.

"A-aku bukan tertarik menjadi wanita!" balas Tsukishima dengan wajah yang merah.

"Lalu?"

"Roppi-san harus bertanya lagi?"

"Baiklah, baiklah. Kau 'gagal' menjemput Shizuo karena aku memintamu, lalu Delic menghukummu dan kau harus mengambil nyawa Shizuo dengan menyamar menjadi manusia. Tetapi, semuanya berantakan karena aku terus-terusan meminta pertolonganmu. Kan?"

Tsukishima memandang Roppi dengan sepasang matanya yang merah. "Bisa dibilang begitu."

"Temani aku, Tsukishima. Interlude akan dimainkan sebentar lagi."

Tsukishima menghela napasnya. Dia tidak mungkin marah pada setan bermata merah ini. "Lain kali, Roppi-san, tolong jangan memintaku untuk membiarkan manusia yang harusnya kujemput," pinta Tsukishima sambil mendudukkan dirinya di samping Roppi.

"Hmm… tanpa kau minta juga, ini mungkin adalah terakhir kalinya aku meminta tolong padamu."

Malaikat pencabut nyawa berambut pirang itu tertunduk. "Maksudmu…"

"Iya, Tsukishima. 'Itu' maksudku."

Tsukihsima terlalu tahu apa maksud Roppi. "Maaf, Tsukishima, untuk selalu membuatmu dihukum."

"Itu saja?"

"Ha?"

"Itu saja? Roppi-san tidak akan mengatakan apa-apa lagi selain 'maaf' padaku?" tanya Tsukishima pada setan yang memandangnya heran karena tidak biasanya dia berkelakuan seperti ini.

Roppi tertawa. "Aku membencimu, Tsukishima."

"Aku juga sayang pada Roppi-san."

Mereka berdua diam. "Oh, ya, Roppi-san. Kenapa kau lepaskan sihirnya? Padahal biarkan saja dulu sampai Izaya benar-benar sadar dia benar-benar mencintai Shizuo," tanyanya polos. "Atau setidaknya, biarkan saja sampai aku menyelesaikan tugasku."

"Karena aku, Tsukishima, sangat cemburu karena kau berdekatan dengan manusia itu. Aku tidak mau bersabar lebih lama lagi," jawab Roppi sambil menahan wajah Tsukishima dengan kedua tangannya dan mencium malaikat itu tepat di bibir.


"Hei, Tsukishima. Kau bisa menolongku lagi?"

"Membiarkan manusia itu lolos?"

"Iya."

"Roppi-san… nanti aku bisa dihukum lagi," jawabnya. Tetapi pada akhirnya, dia tetap tidak mengambil jiwa Shizuo dan membawanya. Dia sengaja membiarkan Shizuo hidup karena Roppi memintanya untuk melakukan itu.

Dan Delic menghukumnya untuk menyamar menjadi manusia, mendekati Shizuo, lalu mengambil nyawanya begitu ada kesempatan.

Untuk kembali melakukan proses pencabutan nyawa manusia, Tsukishima harus menyegel hal terpenting dari hidup manusia itu yang memungkinkannya untuk menjadi terikat di bumi. Karena itu, Roppi menyegel ingatan Shizuo, karena Tsukishima tidak pernah tega untuk melakukannya.

Keberadaan Izaya, yang akhir-akhir menjadi orang yang begitu penting bagi Shizuo, disegel dari kehidupan si pemuda pirang itu. Orang-orang yang bisa membangkitkan ingatan Shizuo mengenai Izaya juga tentu saja kena imbasnya juga.

Dan mulailah skenario buatan Roppi.

"Aku hanya ingin tahu, Tsukishima. Apa setan sepertiku bisa memainkan peran Cupid?"


Izaya membuka matanya yang berat.

Hal pertama yang dia lihat adalah wajah khawatir Shinra. "Izaya! Kau akhirnya bangun juga!"

"Hah?" agak susah baginya untuk berbicara.

"Astaga… kau tidak tahu bagaimana rasanya aku menunggumu tertidur selama seminggu!" Shinra begitu lega kedengarannya.

"Apa yang terjadi?" tanya Izaya lagi dengan suaranya yang serak.

"Kau dan Shizuo tertimpa beton yang jatuh…"

Mungkin kalau tubuhnya tidak sakit, Izaya akan langsung bangkit dan melompat pada Shinra sambil berteriak; "APA KATAMU?"

Sialnya, hal itu tidak mungkin terjadi karena berbicara saja sudah membuatnya ingin menangis karena sakit. Maka, dengan menahan rasa sakit sebisanya, Izaya bertanya pada Shinra; "Shizu-chan…?"

"Shizuo… dia…"

Wajah Shinra tidak terbaca. Apa ini maksudnya Shizuo mati?

Mata Izaya terasa panas dan dia siap menangis ketika sebuah suara dari luar ruangannya terdengar, "Cih! Lepaskan aku! Hoi, kutu!"

"Shizu…"

"Iya! Bisa kau percaya? Dia berteriak-teriak seperti itu selama tiga hari terakhir! Argh! Harusnya kau mencoba menjadi diriku!" keluh Shinra sedikit depresi karena dialah yang menjadi sasaran ceramah panjang lebar dari para perawat tentang pentingnya ketenangan di rumah sakit.

"Aku mau bertemu dengannya…" pinta Izaya pada Shinra yang masih juga depresi mengingat bagaimana tiga hari terakhir dia jalani seperti menjalani neraka.

"Ah? Baiklah," jawab Shinra sambil berjalan dan membukakan pintu bagi Shizuo yang masih juga mengamuk tetapi berusaha untuk tidak menggunakan kekuatan mosternya. "Silakan masuk, Shizuo."

"Akhirnya. Kau tahu barapa lama aku menuunggu di depan sini?"

"Yup. Kau tidak kembali ke kamarmu semalaman, kan?" balas Shinra. "Sana, masuk. Izaya ingin bertemu denganmu," perintahnya sambil berjalan keluar dan mendorong Shizuo masuk.

"Kishitani-san, mereka bisa berkelahi…"

"Tidak. Kali ini tidak akan ada acara kejar-kejaran kucing dan tikus kok," ujar Shinra meyakinkan. Dia menutup pintu di belakangnya, dan meninggalkan Shizuo berdua bersama Izaya.


"Hei, Izaya… uhm…"

"Shizu-chan…"

Entah bagaimana Izaya bisa menggambarkan perasaan leganya melihat Shizuo tidak apa-apa. Kalau saja dibalut perban di kepala itu termasuk kategori tidak apa-apa.

Kedua matanya terasa panas lagi.

"Ah, kau kesakitan, Izaya?" tanya Shizuo sambil mengusap pipinya yang basah.

"Tidak."

"Berhenti menangis, kalau begitu."

Izaya menaikkan kedua sudut bibirnya. "Habis… aku lega sekali melihatmu tidak apa-apa."


"Roppi-san, kau puas begini?"

"Iya, Tsukishima. Aku puas, sangat puas." Satu ciuman lagi Roppi daratkan pada bibir Tsukishima. "Danke gleichfalls, meine engel. Meine lieblich todesengel…" bisiknya pelan.

"Thank you, my angel. My lovely angel of death…"


End of Chapter 7


Dikit lagi~! Dikit lagi dan fic ini selesai~! *tebar bunga tujuh taman*

Bahasa Jerman(jermanan) di atas ini bener ato ga? Kalo ada yang berbaik hati, tolong beritahu saia kalo itu salah, karena saia belajar Jerman secara otodidak dan sepotong-sepotong banget. Huehehe…

Sebenernya, ini agak beda sama yang dulunya saia bayangkan ketika saia membuat storylline 15 menit itu. Saia bikin Tsuki ama Roppi 'berkomplot' untuk membuat skenario sempurna ini. Tapi, menyesuaikan dengan situasi kondisi, akhir-akhirnya malah jadi seperti ini. ==a Duh, saia harus belajar untuk tetap diam pada satu storyline, deh…

Mungkin chap ini agak bikin bingung. Kalo bingung, silakan tumpahkan uneg-uneg kebingungan anda di ripiu, ato PM saia, maka saia akan menjawabnya (asal bukan flame, loh ya. Saia masih bisa terima kritik yang kasar. Tapi flame, ga makasih).

Mohon ripiunya~! :D

(P.S: Sekali, lagi. Bukan flame loh ya…)