NaruXSasu—(NaruXGaara)
Naruto Desclaimer By Masashi Kishimoto
HAMIL, EH?
AnnieSakkie
Sebelumnya saya sangat berterima kasih pada kalian semua yang sudah sudi membaca dan meluangkan keluh resah kalian pada review.
Saya tidak akan mampu menyelesaikan fic ini bila kalian tidak mendukung saya
Oke, ini adalah 2 chap terakhir.
Arigatou semua
Enjoy Reading
.
.
.
_Naruto's Apartemen pukul 8 pagi_
Sinar matahari pagi mengetuk di jendela kaca apartemen milik pria berkulit cokelat. Udara berhembus segar menggerakan gorden yang berwarna biru pucat. Ruangan luas dengan kondisi temaram itu seketika cerah. Namun sang empunya kamar masih asyik tertidur diatas ranjang. Tidak bergerak sedikit pun walupun sudah terjaga semenjak tadi. Tangan kekar berbalut piyama oranye itu mengusap wajah rupawan dengan tiga tanda lahir di pipinya. Mengusapnya seolah itu bisa sedikit mengangkat beban permasalahan. Hari masilah pagi, namun hati ini sudah ketar-ketir tidak enak untuk bangun serta ber-rutinitas sehari-hari. Jadwal padat yang di mulai dengan rapat oleh pemilik label, wawancara untuk majalah musik mingguan serta jumpa fans telah menanti untuk di penuhi. Tapi entah lah, khusus hari ini saja dia ingin malas-malasan di kamar.
Bunyi dering ponsel yang ada di atas meja membuyarkan lamunan pria berkulit cokelat. Mengangkat tangan bermaksud untuk mengambil, ia bangkit dari posisi semula. Iris biru jernih itu berputar malas, oh yeah—panggilan rutin di pagi hari. Siapa lagi kalau bukan sang kekasih. Dengan sedikit tidak bersemangat ia letakkan kembali ponsel itu ke atas meja. Tidak peduli akan bunyi ponsel yang semakin keras berdering membuat ribut pagi indahnya, ia tetap mengacuhkannya,
"Aku tidak ingin bicara dengan Gaara." Ucapnya lalu menyalakan televisi.
Layar lebar dengan desain flat itu berkedip berulang kali lalu menyala. Menampilkan seorang wanita cantik berjas yang membawakan berita serta ramalan cuaca. Dia bukan lah seorang kolot yang suka berita berat untuk memulai hari. Ia ambil remote yang tergeletak di lantai bawah. Memencet angka, mencari saluran yang pas untuk membuat perasaannya senang. Humor atau sekedar musik yang menghentak, cukup menyenangkan.
Setelah sekian menit berkutat dengan layar persegi, Naruto –pria berkulit cokelat- melangkah masuk ke kamar mandi. Membasuh tubuh dengan air dingin serta sabun aroma terapi mungkin akan membuat rasa pusing ini pergi. Bunyi guyuran shower memenuhi ruangan, aroma segar dari sabun cair membuat rileks hidung yang mengendusnya. Naruto, mengusap rambut basah pirangnya dirasa cukup untuk membersihkan diri di dalam. Benar dugaan nya, mandi serta berkeramas adalah solusi utama untuk menghilangkan penat dalam waktu singkat.
Bunyi musik aliran RnB mengalun keras dari kotak televisi. Bibir agak tebal tersebut tersenyum riang. Kepala nya ia gerak kan ke kanan-ke kiri mengikuti alunan musik. Selera yang cukup bagus, membuat tubuh bergoyang tanpa sadar. Ia buka lemari pakaian yang ada di sudut kamar, mencari sekiranya busana mana yang pantas untuk ia kenakan hari ini. Walaupun dia sudah memutuskan untuk tidak keluar kemana pun tapi style berpakaian tidak harus menjadi buruk, kan.
Celana jeans pendek berwarna biru tua serta kaos hitam polos adalah pilihan Naruto untuk berpakaian. Tidak buruk juga, ia tetap terlihat keren walau hanya setelan sederhana yang ia kenakan. Ia berlalu dari kamar menuju dapur mini yang ada di bawah. Apartemen ini memiliki 2 lantai yang cukup besar serta merepotkan. Ia ambil mie ramen dari lemari makanan di buffet atas. Ia kembali mencandu makanan tidak sehat setelah sekian lama hidup dengan, well—seseorang yang ia enggan sebutkan namanya-. Bunyi kompor terdengar lalu tak berapa lama panci serta air ia rebus diatasnya.
"Kemana hari ini aku akan pergi. Jalan-jalan ke luar kota atau hanya tiduran di kamar?" gumamnya sembari menyobek bumbu instan.
Setelah sekian lama berada di balik konter dapur mini tersebut, ia kembali ke kamar dengan tangan mengepul ramen cup panas. Menikmati acara pagi nya dengan saluran musik dan tidak lupa menghubungi sahabat karibnya di band untuk meminta izin. Bagaimana dengan manajer, oh no— itu pilihan yang buruk man, tentu saja dia akan di seret menuju basement bila meminta izin pada pria yang satu itu. Sahabat karib kedengarannya cukup baik.
"Aku minta tolong padamu Neji, aku tidak bisa pergi untuk hari ini." Ucap Naruto lewat ponsel pada orang yang bernama Neji itu.
.
"Kemana kau blondie. Kau tahu kan, hari ini ada jumpa fans. Kau bisa di cekik Kakuzu bila tidak datang."
.
Naruto meneguk ludah paksa. Tuh kan benar, semua orang tahu kalau manajer cinta uang itu sangat mengerikan.
"Untuk kali ini saja aku meminta tolong padamu. Akan ku berikan kau kondisioner yang kau minta minggu lalu."
.
"Aku sudah membelinya dasar bodoh. Memangnya apa yang terjadi padamu. Apakah kau masih patah hati setelah di tinggal Sasuke ke luar Negeri."
.
Nada bicara yang sangat menyebalkan. Cukup membuat kesal.
"Bisa tidak kau tidak membahas yang itu lagi. Aku ada urusan penting dan tidak mungkin aku mengatakan nya pada mu Barbie."
.
"Apakah kau akan ke bandara lalu memesan tiket dan menyusul Sasuke."
.
Alis pirang terangkat naik. Ide yang cukup berlian. Eh—tidak ide yang buruk. Tentu saja tidak mungkin Naruto melakukan itu.
"Kalau kau tetap mengatakan itu, aku akan menutup telepon ku."
.
"Bagaimana kalau aku yang melakukan nya. Aku akan memesan tiket dan akan menemui Sasuke di—"
.
"Tut-tut-tut."
Sambungan terputus dari pihak Naruto. Tetap saja si rambut panjang brengsek itu menyebalkan. Bukankah dia sudah berjanji tidak akan mendekati Sasuke setelah kejadian yang lalu. Karena ulahnya juga dia harus bertengkar hebat dengan pria rambut ayam. Sialan.
"Mau si bodoh itu di luar negeri atau tidak, aku tidak akan peduli." Ucap Naruto kesal lalu menyendokkan ramen di mulutnya.
Dingin dan hambar. Ramen ini sangat tidak enak rasanya. Apa karena dia terlalu lama mengobrol dengan Neji di telepon sehingga mie ini menjadi berubah rasa. Ia lempar cup itu ke tempat sampah terdekat. Memilih membuang ketimbang tetap memakan karena rasanya tidak enak. Mengayunkan kaki keluar jendela. Dia memandang pemandangan yang tersaji di matanya.
Puluhan kendaraan tampak berlalu lalang di jalanan. Hari semakin siang dan sudah di putuskan dia akan bermalas-malasan saja di kamar. Ia hempaskan tubuh nya di sofa bludru yang ada di dekat jendela. Candaan Neji yang sepintas itu membuatnya kembali berfikir. Sasuke memang sudah pergi jauh dan menetap di Amerika atau apa dia berusaha melupakan tempatnya. Mengetahui di negara mana pria kulit pucat itu tinggal, akan membuat Naruto berusaha kesana lalu menemuinya. Lebih baik berusaha untuk tidak tahu agar ia bisa menahan rasa ini untuk pergi menyusul.
Ini sudah lebih dari sebulan waktunya untuk berfikir. Namun tetap saja hanya jalan keluar yang kosong ia temui hasilnya. Tanpa adanya kata perpisahan atau kecupan sayang, Sasuke meninggalkan dirinya. Naruto memang pria paling brengsek yang ada di muka bumi, tapi apa yang bisa ia lakukan untuk menghentikan semuanya. Dia tetap tidak bisa berbuat banyak, walau hati sudah berontak ingin pergi bersama pria kulit pucat.
Keadaan semakin buruk semenjak kepergian Sasuke dari Konoha. Gaara yang menjadi tunangan namun hati ini tetap terasa hambar. Hanya kepura-puraan yang bisa ia lakukan. Bersikap manis serta gentle untuk membunuh rasa rindu yang meletup tidak sabar di dalam otak. Sasuke dan hanya Sasuke yang ingin ia lihat setiap harinya. Ini masih 1 bulan, pria Uchia itu benar-benar hilang dari hidupnya. Sudah banyak cara yang di lakukan pria Uzumaki ini untuk menghapus bayangan Sasuke dalam benaknya. Kencan dengan Gaara hingga tengah malam, meminum minuman keras, atau cara yang lebih ekstrim yaitu berhubungan badan dengan tunangan berambut merah tersebut. Namun tetap saja tidak dapat berubah banyak.
"Apa yang harus aku lakukan, aku tidak ingin menyakiti Gaara. Dia adalah pria yang baik." Gumam Naruto pasrah lalu mencoba mengotak-atik ponsel canggihnya.
Walpaper bergambar sosok pria berkulit pucat yang menyeret koper besar terpampang di sana. Yah—itu adalah foto yang ia ambil secara diam-diam di bandara saat hari keberangkatan Sasuke ke Amerika. Hanya mampu melihat dari jauh, tanpa ucapan selamat tinggal. Apakah pria tampan itu akan bahagia disana. Apa yang di lakukan Sasuke di Amerika. Berkencan dengan pria bule atau hanya berlibur biasa dan akan kembali setelah beberapa bulan. Bagaimana kalau pria berambut hitam itu tidak kembali selama bertahun-tahun atau selamanya akan tinggal disana.
"Tidak. Sasuke harus pulang. Dia tidak boleh disana." Gelengan kepala cepat di lakukan Naruto. Hatinya berdebar kencang seakan melompat keluar. Keringat dingin menetes deras tanpa perintah dari si empunya. Pertama kali dalam hidupnya, Naruto ketakutan akan fantasi liar.
Ia berdiri dalam satu hentakan. Wajahnya terlihat pucat dan ketakutan.
"Sasuke harus ku seret pulang ke Konoha kalau dia melakukan itu." Geramnya lagi tanpa sadar mengepal erat. Hatinya bergemuruh cepat tidak terkendali.
Lupa sudah janji yang terucap untuk tidak mengejar atau mengingat Sasuke untuk ke dua kalinya. Tidak teringat pula, cincin biru dengan nama Gaara yang tersemat manis di jemari kanan. Hanya ada Sasuke yang membutakan mata birunya. Apa yang harus ia lakukan selanjutnya, mengikuti saran Neji untuk datang ke bandara, memesan tiket ke Amerika saat ini juga. Oh Man, kenapa dia terlihat seperti orang gila.
Naruto menggeleng lagi. Tidak. Dia masih dapat berfikir logis. Mendatangi pria menyebalkan dengan marga Uchiha itu.
Heh, apa dia sudah tidak waras.
"Ada apa dengan ku ini. Mudah sekali terpengaruh omongan Neji." Bisik Naruto kecil lalu menggebrak lantai dengan kakinya.
Ia mengganti pakaian dengan celana jeans panjang lalu menyambar jaket di lemari, dalam beberapa menit saja. Naruto mengambil kunci mobil di atas meja lalu melangkah keluar dari tempat tinggalnya. Rupanya apartemen ini berusuhu panas, maka ia akan sedikit mencari angin dengan berkeliling.
Ke pantai atau gunung. Terserah saja yang penting jauh dari sini hingga bayangan pria berkulit pucat hilang dari pikiran.
.
AnnieSakkie
.
Mobil berwarna oranye dengan corak jilatan api merah itu melaju dengan kecepatan sedang membelah ketenangan jalan. Hari memang sudah sedikit siang, tak heran jalan menjadi lengang. Baguslah dia bisa tunjuk kebolehan dengan menaikkan kecepetan hingga menukik kan speedometer. Apa dia takut dengan polisi yang sedang berpatroli?
Kalian melucu.
Tinggal memberinya tanda tangan atau berfoto bersama cukup untuk menyelesaikan masalah.
Inilah kehidupan seorang artis, penuh akan egosentris.
"Baiklah aku akan ke pantai saja. Lumayan sekalian aku memancing ikan hiu di sana. Hahaha." Gumamnya dengan guyonan. Kacamata hitam bertengger manis di wajah pria berambut pirang. Terlihat keren di balik kemudi mobil mewah. Udara memang sedikit terik, hitung-hitung untuk mengahalau cahaya matahari yang meyilaukan pandangan.
Ban mobil berputar kencang menunjukan kecepatan yang di lakukan sang pengendara tidak dapat di katakana pelan. Barisan rumah di pinggir jalan membuat perjalanan ini tidak lah membosankan. Musik keras yang menghentak dari radio tanpa sadar menggoyangkan kepala. Cukup menyenangkan. Jauh dari yang namanya popularitas dan hidup menjadi orang biasa. Tidak pernah terpikir namun kapan-kapan Naruto akan melakukannya lagi.
Tulisan di atas mengatakan kalau dia sudah sampai di pantai. Perjalanan yang lumayan melelahkan. 3 jam lamanya berkemudi membuat tubuh artis tampan itu lelah dan penat. Udara berhembus kencang, menggerakkan dahan pohon kelapa yang tumbuh subur di sisi jalan. Naruto membuka kaca mobil di sampingnya. Seketika aroma khas pantai menyeruak masuk ke dalam.
"Aku benar-benar sudah sampai di sini." Kata Naruto lalu menatap debur ombak yang tampak tenang di balik kaca depan.
Ia menerawang tidak tentu arah. Kenapa sosok Sasuke yang menyebalkan itu kembali menghantui pikirannya. Wajah tampan yang menangis saat Naruto tidak sengaja mengintip di balik pintu kamar. Sasuke yang begitu sedih dengan memegangi perut sangat menganggu hari-harinya setelah itu. Akhirnya ia tahu yang menyebabkan Sasuke menangis adalah kehamilannya yang tanpa suami.
"Brak!" ia pukul keras setir mobil hingga telapaknya nyeri.
Betapa bodoh saat itu karena dia hanya diam tidak melakukan apapun. Harusnya Naruto peka lalu mengajak Sasuke bicara dengan halus. Tidak membentak atau malah hendak memperkosanya. Ukkh—betapa idiot otak ini.
"Astaga ternyata aku begitu jahat pada Sasuke." Sesal Naruto lalu menenggelamkan wajahnya pada setir. Manik biru jernih itu setia terpejam mencoba untuk mengingat kesalahan apalagi yang ia perbuat pada pria berkulit pucat.
Berpacaran dengan Gaara tanpa merasa bersalah, mengumbar kemesraan di depan media serta memberitahukan rencana pertunangan setelah mengetahui bahwa Neji datang ke apartemen. Oke, yang terakhir itu sangat alami dan terjadi begitu saja. Rasa cemburu yang membakar kewarasan lalu tanpa sadar mengucapkan nya walaupun sudah ia pendam dengan sepenuh hati.
Cemburu.
Cemburu pada Neji yang datang di pagi itu.
Marah saat Sasuke tidak mengakui bahwa anak yang ia kandung adalah hasil spermanya.
Lalu mengatakan akan bertunangan dengan Gaara tanpa beban.
Kenapa dia begitu bodoh dan tidak sadar.
"Brak!" Lagi-lagi benturan keras terjadi disana. Penyesalan memang selalu datang belakangan. Dan ini lah menyebabkan Naruto berubah drastis di depan Gaara. Sifat yang dingin serta memilih menghindar adalah hal yang Naruto lakukan di depan pria berambut merah. Ini bukan lah salah Gaara, tapi kenapa pria manis itu yang terkena imbasnya. Ini murni kesalahan Naruto yang begitu bodoh serta plin-plan. Mencintai tanpa sadar lalu berkencan karena rasa kasihan.
"Apakah semua sudah terlambat. Apa semua sudah terlambat." Ulangnya berkali-kali tanpa sadar air mata berlinang. Tiba-tiba saja dia di hinggapi rasa bersalah yang amat besar.
Dia paham dan tahu benar bahwa selama ini hanya ada Sasuke di matanya. Wajah tampan angkuh yang dingin serta sifat tsundere yang amat menggemaskan. Terlihat begitu mirip dengan Gaara. Yah, Naruto baru sadar bahwa selama ini dia melihat Gaara sebagai Sasuke. Wajah yang sama-sama tampan, kulit putih pucat, pendiam serta mudah untuk bersemu merah.
Gaara hanya pelampiasan karena rasa cinta yang tidak tersampaikan pada sosok pria kulit pucat.
Oh Good—kenapa dia begitu jahat.
"Maafkan aku Gaara. Maafkan aku." Sesalnya dengan serak. Tiada henti air mata itu menetes deras.
Begitu menyesal karena dia hanya memandang pria berambut merah itu sebagai Sasuke. Merasa jahat karena dia hanya menganggapnya sahabat. Pertunangan serta apapun yang sudah ia perbuat hanya murni karena rasa tidak enak.
Manik biru itu berkabut memandang cincin yang ada di jemarinya. Apa benar itu alasannya, itulah sebabnya mengapa ia kurang begitu antusias saat menyinggung masalah pertunangan.
Ia lepas cincin yang ia kenakan. Warna biru yang indah tanpa permata. Di dalam lingkaran itu terdapat nama Gaara yang terukir indah. Tidak ada rasa berdebar atau senang, malah hanya ada penyesalan yang amat dalam.
"Kenapa rasanya aneh sekali." Gumam Naruto pelan. Ia usap pipi yang basah akibat air mata.
Apa yang harus ia lakukan selanjutnya. Apakah ia akan tetap berpura-pura mencintai Gaara atau mengejar Sasuke ke Amerika.
Ia terdiam dengan kepala menunduk menatap perhiasan bulat itu. Ia tidak ingin berlama-lama dalam dosa ini. Apakah jujur lebih baik, bagaimana kalau Gaara sakit hati lalu bunuh diri.
Mengingat betapa besar cinta Gaara padanya kemungkinan itu bisa saja terjadi.
Naruto menggeleng cepat. Menghapus bayangan pria berambut merah yang meregang nyawa dengan urat nadi yang tergores pisau tajam. Ia yakin Gaara adalah pria yang baik serta kuat. Dia pasti paham bila di jelaskan.
Lalu Sasuke. Apa yang harus Naruto lakukan untuk bersama dengan Sasuke. Apa ia akan melakukan perjalan sekarang ke Amerika menggunakan pesawat atau menunggu hingga 2 bulan kedepan. Hanya menghubungi lewat ponsel bahwa dia sudah tidak memiliki kekasih dan melamar Sasuke dengan kata-kata yang indah seperti puisi. Ia terlihat tidak manly.
Benarkah dirinya ini mencintai Sasuke. Menyayangi sangat berbeda dengan mencintai. Perasaan yang tumbuh secara alami tanpa paksaan atau pun rasa bersalah. Rasa hangat serta senang saat berjumpa dan sedih bila berjauhan. Memang itulah yang Naruto rasakan. Jauh dari sosok pria berkulit pucat membuatnya uring-uringan. Beruntung hingga detik ini dia tidak membunuh orang. Oh tidak yang terakhir itu terdengar sangat…kejam.
Dengan terburu-buru Naruto menyalakan kembali mesin mobil yang mati. Sudah ada satu langkah yang ada dalam otak kecilnya.
"Tuhan. Bantu aku untuk mengulang kembali semuanya." Ucap Naruto lalu menginjak gas.
_Naruto's Apartemen pukul 10 malam_
Naruto membuka pintu apartemen dengan tidak sabaran. Ruangan yang gelap dan temaram adalah hal pertama yang menyapa retina biru nya. Ia nyalakan lampu setelah menemukan saklar. Dia berkedip, berusaha menyesuaikan dengan cahaya terang yang menyilaukan retinanya.
"Aku harus cepat berkemas." Ucap Naruto lalu menyambar koper yang ada di sebelah lemari pakaian. Kemeja, kaos polos, celana panjang, cardigan, jaket, celana dalam, kaos kaki serta lain-lain nya ia taruh dengan terburu-buru. Waktunya sangat sempit jadi dia tidak bisa bersantai. Ia sambar apapun yang ada di depan mata. Meskipun itu tidak di perlukan namun biarlah.
Ia berhenti di buffet yang terdapat pigura dengan foto Gaara. Apakah perlu ia membawa itu. Bukan kah ia sudah benar-benar berakhir dengan pria manis berambut merah tersebut. Terdiam cukup lama, Naruto menutup pigura itu hingga alas kayunya terlihat. Gaara adalah kenangan, dan Sasuke adalah masa depan. Tidak ada waktu untuk bersedih atau mengenang pria baik itu.
"Uhmm—majalah sudah, komik sudah, charger handphone sudah, apa ya yang belum?" gumam Naruto sembari meneliti benda-benda yang ia taruh di dalam koper. Ia menggaruk kepalanya yang terasa sangat gatal.
"Oke, aku belum mandi." Ucapnya dengan senyum kecil. Tanpa sadar pandangannya jatuh pada jemari yang masih terlingkari cincin. Akh, dia lupa mengembalikan cincin ini pada Gaara. Kalau ia memakai ini dan bertemu dengan Sasuke, dia yakin 100 persen, Sasuke akan mendiamkan nya.
Hembusan nafas berat terdengar. Perlahan Naruto lepas cincin itu lalu mengecupnya.
"Kau adalah pria yang baik dan manis. Maafkan aku karena sudah menyakiti mu. Terima kasih selama ini kau sudah menemaniku—" Pria berkulit cokelat itu meletakkan cincin indah tersebut di atas pigura yang sudah ia balik.
"Gaara." Lanjut Naruto dengan mata sendu.
Ia melangkah masuk ke dalam kamar mandi. Membasuh tubuhnya dengan air dingin agar kembali bersemangat dalam misi pengejaran.
_Bandara Internasional Konoha pukul 11 malam_
Pria berambut pirang cerah terlihat santai duduk dengan majalah di ruang tunggu. Jam keberangkatan masih 2 jam lagi, cukup baginya untuk bersantai sambil membaca. Kacamata hitam besar masihlah setia terlindung di kedua matanya. Ia butuh itu untuk tidak menarik perhatian. Ia sedang lelah jadi tidak ingin meladeni fans yang meminta foto atau tanda tangan. Menjadi seorang artis ada hal tidak mengenakan juga.
Majalah yang ia baca rupanya adalah sesuatu yang buruk. Uh yeah—isinya hanya tentang kasus suap atau korupsi yang merajela. Sedikit kesal kenapa ia mengambil majalah yang identik dengan orang tua. Hanya ada dua pilihan yang tersisa, tabloid wanita yang berisi gosip serta ini. Yang ada di tangannya.
Kesal karena tidak suka, ia mengembalikan majalah itu ke tempat semula. Ia terpejam sembari bersandar di sofa. Rasa kantuk menyergap namun ia berusaha sekuat tenaga untuk tidak terlelap. Dia ingat pernah tertinggal pesawat dan ia tidak ingin mengulanginya.
Ia berfikir kenapa ia bisa sampai se-nekat ini. Memutuskan hubungan dengan Gaara, meminta izin cuti beberapa saat pada manager mengerikan lalu berakhir disini. Semua terjadi begitu saja, alami karena desakan dalam dada. Rasa rindu serta cinta yang membingungkan membuat Naruto nekat.
Ia mengusap wajah nya dengan telapak tangan. Ingatan tentang wajah Gaara yang begitu terpukul melintasi otaknya. Apakah dia sudah menjadi penjahat. Membuat pria yang begitu baik itu menangis dan terluka.
Flashback Story
"Maafkan aku Gaara. Aku tidak bisa melanjutkan hubungan ini. Aku—"
Gaara memeluk Naruto dalam dekapan. Ia tahu pria berambut pirang, pasti akan mengucapkan ini biar cepat atau lambat. Semua sudah ia siapkan, hati, pikiran serta rasa kecewa ia sudah siap menerimanya.
"Apakah semua karena Sasuke. Kau mencintainya." Ucap Gaara pelan. Berusaha menahan air mata dengan sekuat tenaga. Rasa cinta ini begitu menyakitkan.
"Maaf kan aku. Aku tidak tahu harus berkata apa lagi. Maafkan aku." Ulang Naruto berat. Ia usap punggung ramping itu berulang kali. Tubuh yang bergetar, menandakan pria dalam dekapan ini menangis.
Iris indah sewarna rumput itu terpejam erat. Akh—sial. Air ini akhirnya meluncur juga.
"Aku tahu selama ini kau hanya mencintai Sasuke. Aku bukan siapa-siapa bagi mu. Tapi aku bahagia akhirnya kau bisa jujur pada perasaan mu." Pria berambut merah itu memeluk erat. Enggan menjauhi kehangatan yang sudah ia rasakan 4 bulan belakangan. Rasa cinta ini begitu berbekas, walau dia hanya pelampiasan.
"Gaara. Kau adalah pria yang baik. Aku menyayangi mu." Naruto mengusap rambut merah yang ia kenal dengan baik tersebut dengan lembut. Ia merasa sangat jahat membuat pria ini kecewa. Tapi apa kuasanya, rasa cinta pada Sasuke membuatnya harus bersikap tegas.
"Naruto. Hiks..Naruto. Aku mencintai mu." Liquid panas meluncur deras. Suaranya bergetar tanpa perintah. Dia memang sangat mencintai pria berambut pirang ini. Senyum hangat, tubuh tegap, sikap gentle serta kenyamanan yang selalu ia rasakan membuat Naruto adalah sosok yang Gaara puja. Namun setelah pesta pertunangan yang meriah 1 bulan lalu, semua kehangatan yang Naruto berikan berubah. Bahkan cenderung dingin yang pria itu tampilkan. Tidak ada senyum, suara manja di telepon atau ucapan sayang yang setiap hari Naruto berikan lewat pesan.
"Sstt—jangan menangis lagi. Kau membuat ku sedih."
Gaara menggeleng lemah. Ia memang tidak ingin menangis tapi air mata ini menetes sendiri.
"Naruto. Kau membenci ku?"
"Tidak aku menyanyangi mu tapi sebagai sahabat. Maafkan aku selama ini aku tidak sadar akan perasaan ku padamu. Kau berhak membenci ku."
"Terima kasih tapi aku akan tetap mencintai mu."
.
.
Naruto tersadar dari lamunan saat ia rasa ada getar ponsel di saku celana. Ia mendecih kecil lalu mengambil ponsel tersebut. Manik biru itu mengerling senang. Akhirnya ia mendapatkan berita yang menyenangkan. Senyum lebar masih terpeta jelas di bibir Naruto walau sudah lebih dari 10 menit ia menerima pesan. Biarlah ketimbang ia terlihat seperti orang yang putus cinta.
"Aku akan menemui mu Uchiha Sasuke." Gumam pria berkulit cokelat ini pada diri sendiri dengan pelan. Merasa malu bila ia bersorak kegirangan di depan semua orang.
Udara berhembus dingin. Ia menggosok tubuhnya yang sedikit menggigil akibat air conditioner. Jaket tebal yang ia kenakan kurang dapat menghangatkan badan. Ia menolehkan kepala. Bermaksud mencari mesin penjual minuman yang biasa ia temui saat di bandara. Akh—itu dia.
Langkah kaki Naruto sedikit terburu karena ia tidak betah dengan dinginnya. Ia kesulitan mengambil uang kertas dalam jumlah sama yang tertera di sana. Setelah menukar uang dengan jumlah pecahan, ia memasukkan mata uang kertas itu dengan segera.
"Uhmm—aku ingin coffee latte panas." Gumam Naruto lalu memencet tulisan yang ia maksudkan.
Tak berapa lama, kopi itu telah siap tersaji di dalam box kecil. Uap panas mengepul membuat Naruto meneteskan liur. Ia segera berlalu dari sana untuk duduk tenang sembari menunggu jam keberangkatan.
Kaki yang berbalut celana panjang itu bergerak tidak sabar. Kenapa bila menunggu sesuatu waktu terasa berjalan lambat. Ayolah bisakah pesawat yang akan ia naiki datang saat ini juga. Ia ingin sampai di Amerika lalu bertemu dengan pria kulit pucat.
Naruto tanpa sadar gelisah dalam pikirannya. Apakah pilihannya tepat. Bagaimana kalau Sasuke tetap menolaknya. Tetap berkata dusta lalu tidak menghargai kerja kerasnya sampai disana. Tangan itu mengepal erat, ia harus optimis. Dia sudah sampai sejauh ini, tidak mungkin untuk kembali. Hubungan dengan Gaara telah kandas dan ini semua karena pria kulit pucat.
"Aku melakukan semua ini untuk mu Sasuke. Kau senang?" Batin Naruto sedikit tersenyum ikhlas. Kalau bukan karena cinta yang amat besar, buat apa dia susah-susah.
_Uchiha's Apartemen Pukul 2 Malam / California-Amerika_
Uchiha Sasuke terlihat bergelung tenang dalam selimut tebal. Manik hitam itu setia membuka seakan menunjukan pesona nya. Ia memang sudah mengantuk tapi apa boleh buat insomnia membuat dia tetap terjaga. Ini sudah 1 bulan dia tinggal menetap dengan para Uchiha di Amerika. Memang sangat menyebalkan bertemu dengan manusia yang memiliki sifat yang sama setiap harinya. Mau bagaimana lagi, ini adalah keinginan Sasuke sendiri. Daripada di Konoha dia akan sakit hati mendengar atau pun melihat tanyangan gosip tentang pesta pertunangan MANTAN teman se apartemen.
Ini lah alasan awal yang melandasi dia terbang jauh dari Konoha. Dan alasan-alasan lain untuk melengkapi semuanya. Membesarkan anak serta sengaja menjauhkan sang buah hati dari ayah kandungnya. Sedikit jahat, namun apa yang bisa Sasuke perbuat. Setelah perlakuan jahat Naruto pada dirinya setelah sekian lama, apa diri ini akan tetap menerimanya dengan penuh cinta.
BIG NO
Walau mau mengemis minta maaf pun, Sasuke akan tetap pada pendirian awal.
Enak saja, kemana saja dirinya pergi selama ini. Sibuk berkencan dengan -seseorang yang malas ia sebutkan namanya- atau sibuk menanam benih pada pria-pria lain.
Sasuke paham benar bagaimana peringai Naruto dalam menggaet lelaki. Toh diri ini juga sudah pernah jatuh dalam pesona si pirang itu.
Pria berkulit pucat itu meringis sakit saat tendangan keras ia rasakan. Semakin hari bayi ini semakin keterlaluan hiperaktifnya. Perutnya sudah membuncit dan tidak mungkin lagi ia tutupi keberadaannya. Kakak kandung bernama Itachi itu sudah tahu ketika mencoba bertanya pada suatu waktu. Beruntung juga memiliki kakak yang pengertian macam si gondrong itu. Tidak memandang aneh malah membantu menyembunyikan keanehannya.
"Ukh—sakit." Ringis Sasuke sembari mengelus pelan. Ini 3 kali lipat ketimbang biasanya. Apakah dia telat minum obat. Atau obatnya salah. Sasuke tidak tahan akan nyerinya.
Pria tampan itu mencoba bangkit dari tidurnya. Perut yang besar menyulitkan gerak tubuhnya. Ia hanya ingin mengambil air putih tapi kenapa sangat sulit.
"Ssshh—tahan sebentar baby." Harap Sasuke lalu berjalan tersaruk menuju dapur.
.
.
Bunyi berisik terdengar dari dapur membuat Itachi yang ada di kamar menolehkan kepala. Ini memang sudah tengah malam namun karena pekerjaan yang belum selesai ia memilih begadang. Ini salahnya sih, tidak mengerjakan malah asyik bermain dengan wanita.
"Sasuke?" Panggil Itachi sedikit tahu siapa pria yang berdiri di balik konter dapur.
Rambut mencuat dengan tatanan aneh serta kaos kedodoran. Itu pasti adiknya yang tengah mengandung.
"Apa yang kau lakukan malam-malam begini?" tanya pria tampan ini tidak mengerti.
"Aku hanya ingin minum dan lapar." Jawab Sasuke ketus lalu meminum air putih dari gelas.
Alis Itachi berpaut bingung. "Bukan kah kau sudah makan malam bersama ku tadi?"
Mendengus kasar, adik tampan ini mengalihkan wajah. "Salah kalau aku lapar lagi. Aku hanya ingin makan ramen."
"Ramen?" tanya pria sulung Uchia ini masihlah bingung. "Kau bercanda, di sini tidak ada ramen. Kau ngidam."
Wajah Sasuke memerah. "Aku tidak ngidam bodoh. Aku ingin ramen. Belikan sekarang!" Perintah nya mutlak.
Itachi gelagapan. Hei, apa-apaan ini, kenapa adiknya berteriak. "Tidak ada ramen disini Sasuke. Aku akan membuatkan mu spageti saja oke."
Rambut pantat ayam Sasuke berkibar mengikuti gerakan si empunya yang menggeleng. "Kau tuli. Aku mau ramen. Atau aku akan pulang ke Konoha saat ini juga."
Pria berambut panjang itu tersenyum kering. Begitu mengerikan melihat aura hitam yang menguar kuat dari tubuh adiknya. "Baiklah-baiklah aku akan mencarinya di supermarket yang masih buka. Kau tidur saja dulu." Ujar kakak pengertian itu lalu menggiring Sasuke untuk duduk di sofa ruang tamu. Sedikit banyak ia paham bagaimana rasanya menjadi suami yang menghadapi istri hamil tua. Ngidam. Oh Man, terdengar sangat menggelikan.
"Maafkan aku karena merepotkan mu." Ucap Sasuke pelan. Ia memang merasa sangat tidak enak karena selalu melibatkan Itachi dalam seleranya menyantap makanan. Padahal seharusnya si idiot berambut pirang itu yang mengalami nya.
Itachi memandang sayang adik nya ini. Ia sama sekali tidak merasa repot atau susah. Sebaliknya ia merasa sangat senang.
"Kau jangan seperti itu Sasuke. Kau adalah adik ku. Istirahat saja. Aku akan pulang dengan ramen yang banyak." Jawab Itachi sembari mengusap rambut hitam Sasuke.
"Arigatou Niisan."
.
.
Sasuke tersenyum tipis saat dua mangkuk ramen cup tandas di perut buncitnya. Nafsu makannya memang meningkat hingga 2 kali lipat ketimbang biasanya. Dulu ia sering muntah dan cenderung mual, kini malah sebaliknya. Ia bingung apakah ini normal.
"Ne, apakah enak?" tanya Itachi senang. Tidak ada hal lain yang membahagiakan selain melihat adiknya ini bisa tersenyum puas setelah pengorbanan nya mencari cup ramen di supermarket 24 jam. Kalian bercanda, makanan khas Jepang tersebut tidak di jual bebas di sini.
Sasuke mengangguk. Ia mengusap bibir yang basah akibat kuah ramen. "Terima kasih banyak."
"Nah sekarang istirahat lah. Ini sudah sangat malam. Aku takut ada apa-apa dengan calon anak ku. Hehehe." Canda Itachi dengan gelak tawa.
Sasuke merengut tidak suka. Dia tidak ingin memilki bayi yang keriput macam kakaknya. Tidak dan terima kasih. "Dia bukan anak mu baka."
Gelak tawa Itachi semakin keras. Tidak menyangka dia bisa tertawa selepas ini selama sekian tahun. Uchiha tidak ada yang bisa berkespresi layaknya manusia biasa, tahu. Senyum tipis saja sudah bagus.
"Hahaha—oke, dia bukan anak ku tapi keponak kan ku. Sekarang tidurlah. Apa mau ku gendong sampai ke kamar mu. Istri ku?"
Mata onix indah itu berputar malas. Kenapa kakanya ini sangat menyebalkan. "Bodoh."
Sasuke berjalan tersaruk menuju kamarnya yang tidak jauh dari dapur. Meninggalkan kakak gila nya yang masih tertawa keras. Biar saja. Semoga mulutnya kaku hingga tidak dapat tertutup rapat.
"Brugh!" Ia menghempaskan pantatnya di ranjang besar setelah sampai di dalam kamar. Tubuhnya terasa sangat berat dan ia kesal. Kemana perginya Uchiha Sasuke sang artis terkenal. Kini yang ada hanya Sasuke si pria gendut yang hamil tua.
"Geez—kalau sudah melahirkan aku akan menurunkan berat badan ku kembali. Kalau bisa tidak makan selama seminggu." Kesalnya lagi kini menaikkan kaki nya di ranjang.
Mood Sasuke berubah buruk. Mulut itu terus merancau tidak jelas layaknya orang mabuk.
Ayolah Sasuke aku sedang hamil, bisa kah kau tahan umpatan mu agar si kecil tidak berdosa itu istirahat.
"Mungkin aku bisa bermain game sebentar." Ide nya lalu mengambil handphone yang ada di atas meja kecil.
Senyum samar yang ada di bibir Sasuke lenyap setelah memandang layar lebar ponsel canggih nya. Satu pesan yang membuatnya ternganga.
Tidak
Tak berapa lama bunyi benda jatuh terdengar ke seluruh sudut ruangan.
Manik hitam milik pria berkulit pucat melebar sempurna. Seakan apa yang ia lihat adalah sebuah bencana.
Tidak mungkin.
Sasuke –pria berkulit pucat- mengusap perut yang tiba-tiba saja terasa melilit. Ingin muntah, apa karena ketakutan. Dahi putih itu mengucurkan keringat dingin. Jantung nya meletup tidak sabaran di dalam rongga dada.
Tidak mungkin. Tuhan ini tidak mungkin.
Sasuke menggeleng keras seakan menolak melihat kenyataan lewat layar lebar dari ponselnya.
"Naruto akan kemari?" Suara Sasuke mengecil karena terkejut.
.
.
TBC
Saya Update sangat cepat. Karena mumpung saya sempat.
Chap depan adalah chap terakhir tapi saya tidak janji akan cepat menyelesaikannya.
Jadi status saya untuk fic ini adalah SEMI HIATUS
Gomen ne
Seperti yang sudah-sudah saya mohon review untuk masukan chap depan.
