Byun Baekhyun tidak tahu apa yang telah terjadi pada Luhan. Sejak Luhan menelponnya untuk menemui gadis itu di gerbang kampus, sejak saat itulah Baekhyun di buat mengernyit heran melihat kondisi gadis kelahiran China itu.

Selama di mobil Luhan tidak berbicara apa pun, hanya terdengar isakan kecil yang sudah susah payah Luhan tahan dengan cara menggit bibirnya yang berdarah. Tangan gadis itu pun bergetar saat memegang stir sehingga Baekhyun benar-benar heran melihatnya.

Baru beberapa menit yang lalu saat di taman dia melihat wajah bahagia Luhan yang sedang bermesraan dengan suaminya, namun beberapa menit kemudian gadis itu sudah menangis terisak tanpa sebab sehingga Baekhyun tidak bisa untuk tidak khawatir. Apa lagi ketika sampai di apartemen Luhan yang lama gadis bermata rusa itu bukannya langsung pulang ke apartemen barunya dengan Sehun melainkan langsung membanting pintu kamar dan menyembunyikan tangisnya di bawah bantal.

Ingin sekali rasanya Baekhyun menarik bantal yang di jadikan Luhan untuk meredam tangisnya dan bertanya gerangan apa yang terjadi sehingga gadis itu terlihat sangat menyedihkan.

Selama dia mengenal Luhan, sepupunya itu bisa di bilang tidak pernah menangis. Saat memutuskan untuk hidup mandiri dan jauh dari orang tuanya tiga tahun yang lalu Luhan tidak menangis. Saat putus dengan Kris pun Luhan tidak menangis meskipun Kris sudah berkali-kali menduakan cintanya. Dan saat di paksa menikah dengan Sehun pun gadis itu tidak menangis sama sekali.

Tapi lihatlah sekarang, isakan gadis itu semakin kuat saja sehingga menyayat hati siapa saja yang mendengarnya.

Luhan adalah gadis yang tegar, dia termasuk wanita yang sangat sulit mengeluarkan air matanya. Jika air matanya sudah jatuh itu pasti ada yang telah terjadi pada gadis itu. Dan itu bukan sesuatu yang baik pastinya.

Sekali lagi Baekhyun menarik kembali tangannya yang hendak menarik bantal Luhan, dia ingin bertanya, ingin menenangkan sang sepupu namun dia tidak berani. Bukan tanpa alasan kenapa ia berakhir memanggil Luhan dengan panggilan wanita tua berwajah jelek dan menyeramkan itu. Bukan tanpa alasan kenapa ia berakhir memanggil Luhan dengan panggilan nenek sihir seperti yang biasa dia lakukan. Percayalah, Luhan yang sedang dalam mood yang buruk benar-benar sangat menyeramkan. Dan Baekhyun tidak mau terkena imbas kemarahan istri dari mantan kekasihnya itu.

Gadis bermata sipit dan memiliki suara yang merdu namun akan terdengar cempreng saat sedang berteriak itu menghembuskan nafasnya. Mengumpulkan keberanian untuk menyentuh pundak Luhan dan mengusapnya pelan.

"Luhan-ie...", panggilnya tercekat, takut Luhan akan membentaknya dan mengusirnya.

"..."

Tidak ada respon dari Luhan, sepupunya itu masih terisak memilukan.

"Luhan-ie ada apa dengan mu? Apa yang terjadi?", tanyanya lagi. Dia sudah lebih berani mengusap punggung bergetar Luhan yang sedang tengkurap menyembunyikan tangisnya, "Aku selalu menceritakan apa pun masalah ku padamu karena kau adalah satu-satunya teman yang ku punya. Jadi maukah kau melakukan hal yang sama? Beritahu aku apa yang terjadi padamu agar aku tidak terlihat bodoh seperti ini!", katanya lagi. Dan Baekhyun langsung saja mengacak rambutnya yang memang sudah berantakan berkat karya seni tangan tidak terpelajar Hayeong di cafetaria kampus tadi saat Luhan masih tidak mau bercerita dengannya.

"Baiklah, aku akan marah jika kau tetap tidak mau bercerita padaku", Ujarnya putus asa, menatap sedih sang sepupu yang tidak mau berbagi duka dengannya.

Sret

Tidak tahan, Baekhyun yang sudah hampir menangis lagi itu langsung menarik kasar bantal yang menutupi wajah Luhan dan membuangnya asal ke lantai, "Astagaaa..", gadis bermarga Byun itu membekap mulut; kaget. Bukan kaget karena melihat mata bengkak Luhan khas orang habis menangis namun karena netranya yang melihat pipi dan bibir gadis itu yang tidak seperti biasanya, "Ada apa dengan pipi dan bibir mu?", tanyanya marah bercampur khawatir, "XI LUHAN JAWAB AKU..!", habis sudah kesabaran Baekhyun, dia membentak bukan berarti dia marah pada Luhan namun dia marah pada penyebab berdarahnya sudut bibir sang sepupu.

"Baek, hiks.."

"Makanya cerita padaku. Aku benar-benar akan marah jika kau terus diam..!", bentaknya lagi tanpa sadar.

Luhan mendudukkan dirinya menghadap Baekhyun, menghapus wajah basahnya dengan lengan kemejanya secara kasar, "Gadis gila itu menampar ku hiks...", adunya, masih terisak pilu di depan sang sepupu.

Adakah yang bisa menjabarkan ekspresi seorang Byun Baekhyun saat ini; Byun Baekhyun yang terkenal dengan mulut pedasnya dan sedikit sok yang menjadi gadis incaran seorang Park Chanyeol.

Mata sipit gadis itu terbuka lebar ke bukaan paling maksimal, nyaris melompat dari tempatnya. Mulut gadis itu menganga lebar dengan otot wajahnya yang mengeras karena marah, "Ba-bagaimana bisa?", tanyanya tidak menyangka jika gadis gila itu akan bertindak sejauh ini. Ini sudah di luar batas.

Sejujurnya Luhan tidak mau menceritakan kejadian menyakitkan di parkiran kampus tadi yang sangat memalukan -tentu saja memalukan untuk gadis yang menjunjung harga diri seperti seorang Xi Luhan-, Di tampar oleh kekasih dari suaminya di depan kedua mata suaminya sendiri membuatnya merasa sangat di rendahkan, Luhan terhina, hati dan harga dirinya benar-benar merasa di sakiti, "Semua berkat mulut manis mu Baek, kau yang membocorkan rahasia ku pada gadis itu sehingga dia marah padaku", Luhan tidak bermaksud menyalahkan Baekhyun, namun dia rasa dia perlu memberi Baekhyun peringatan agar gadis itu tidak perlu meladeni Hayeong lagi.

Baekhyun yang tahu maksud Luhan langsung menunduk, takut melihat Luhan yang sedang menatap kecewa padanya, "Maafkan aku, aku keceplosan", katanya menyesal, mengutuk mulutnya yang tidak pernah bisa menjaga rahasia saat sedang emosi.

"Aku tahu, hanya saja jangan ulangi lagi. Aku harap si brengsek itu bisa meyakinkan Hayeong kalau semua ucapan mu adalah bohong"

"Tenang saja, gadis gila itu sangat mempercayai Sehun. Tidak akan sulit bagi Sehun untuk meyakinkannya", Meskipun hanya sebentar berkencan dengannya, tapi Baekhyun tahu jika Sehun mempunyai mulut yang lihai dalam membujuk rayu wanita. Sehun memang ahlinya dalam hal itu. Dan si bodoh Hayeong sudah pasti akan mempercayai segala ucapan Sehun termasuk kebohongannya, "Ya sudah tunggu di sini, aku akan mengambil obat dan kompres untuk wajah jelek mu", ujar Baekhyun yang sejujurnya bukan itu alasan yang sebenarnya. Dia hanya ingin membiarkan Luhan sendiri, memberikan Luhan waktu untuk menyudahi tangisnya karena kelakuan kekasih dari suaminya.

Selepas kepergian Baekhyun, Luhan yang paling anti di bilang jelek langsung berlari ke kamar mandi untuk mengguyur kepalanya dengan air shower. Mendesah saat bibir berdarahnya terkena air. Luhan tidak pernah menduga jika gadis gila itu mempunyai tenaga yang cukup kuat untuk merobek bibirnya. Mungkin karena sudah sering adu pukul dengan Baekhyun sehingga tenaga gadis itu lebih kuat dari yang Luhan bayangkan.

Sejujurnya sakit bekas tamparannya sudah hilang sejak ia pulang kuliah tadi. Namun entah mengapa Luhan masih merasakan nyeri, matanya masih terasa panas ingin menangis lagi. Mungkin inilah yang dinamakan sakit di hati akan lebih sulit sembuh dari pada sakit fisik. Sudah Luhan katakan jika hatinya yang sakit. Dia bukanlah wonder women yang memiliki hati sekuat baja yang masih baik-baik saja saat fisik dan hatinya tersakiti.

Luhan mendongakkan kepalanya, menatap tetesan air shower yang sudah membuat tubuhnya basah. Berfikir apa yang harus dia lakukan setelah ini agar semuanya baik-baik saja tanpa harus terlibat lagi dengan pasangan kekasih itu. Demi Tuhan Luhan muak. Dia tidak ingin terlibat lagi dengan manusia-manusia gila itu.

'Huuuft.. Rasanya hatiku tidak pernah sesakit ini', menolognya sendiri, kasihan pada hatinya yang terluka untuk pertama kalinya. Seingatnya, saat putus dengan Kris dulu hatinya tidak senyeri ini. Namun entah bagaimana caranya saat ini hatinya berdenyut sakit, kecewa, marah tentu saja.

Merasa tidak ada gunanya ia menangisi suaminya yang luar biasa jahat itu Luhan langsung mengambil handuk. Mengeringkan tubuhnya dan mengambil pakaian lamanya yang masih tersimpan rapi di kamarnya.

"Baek, apa Kyungsoo ada di apartemennya?", Setelah selesai merapikan dirinya Luhan langsung keluar kamar. Mendengus saat apartmennya di penuhi banyak sampah dari bungkus camilan yang Baekhyun buang sembarang.

"Ada apa memangnya?", tanya Baekhyun tanpa mengalihkan matanya dari layar televisi dengan mulut penuh makanan.

"Ada atau tidak?"

"Jika dia sudah pulang kuliah dan pulang dari menjajakan kuenya dia pasti sudah pulang"

Merasa percuma bertanya pada Baekhyun yang sedang sibuk dengan dunianya sendiri, Luhan langsung keluar dari apartemen setelah ia mengintip lorong apartment mereka yang sepi. Tanpa pikir panjang Luhan membuka pintu apartemen Kyungsoo yang jarang gadis itu kunci saat ia sedang ada di sana.

Pip

Luhan yang tadi terisak kini tersenyum senang melihat pintu di depannya terbuka, langsung saja ia menerobos masuk tanpa harus mengendap-endap seperti pencuri, "Kyungsoo-ya...", panggilnya pada sang pemilik apartemen.

"Siapa?"

"Luhan"

Kyungsoo langsung menyembulkan kepalanya dari pintu kamar saat tamu tak di undang itu menerobos masuk ke apartmentnya, "Aku rasa bel ku tidak rusak", sindirnya pada sang tetangga sambil melambai meminta Luhan untuk masuk ke kamarnya yang bersih dan rapi, tidak seperti kamar Baekhyun.

"Aku ingin menumpang", ujar Luhan to the point, dia memang tidak suka berbasa-basi.

Kening Kyungsoo berkerut, bingung pada tetangganya yang jarang berkunjung ke apartemennya namun sekarang justru ingin menumpang, "Memangnya kenapa dengan apartemen mu? Bosan tinggal dengan gadis malas itu?", Kyungsoo tidak tahu jika Luhan sudah menikah dan sudah tidak lagi tinggal di samping apartmennya. Jadi wajar jika ia bertanya seperti itu.

"Em, aku bosan melihat apartment kotorku, mau ya menampung ku?", tanyanya lagi, berharap Kyungsoo yang baik hati akan mengizinkannya, "Aku akan membantu mu menyapu, memasak dan membayar listrik. Izinkan aku yaa?", bujuknya dengan suara lembutnya, mata rusanya mengerjap lucu untuk merayu sang tetangga.

"Silahkan saja, tapi kamar sebelah belum ku rapikan", ujar Kyungsoo yang membuat Luhan tersenyum lebar dan memeluknya erat sehingga lagi-lagi gadis yang pandai memasak itu di buat heran, pasalnya Luhan tidak pernah memeluknya, bahkan terkesan menolak saat ia ingin memeluk sepupu dari Byun Baekhyun itu.

"Aku akan merapikannya sendiri", kata Luhan sambil melepaskan pelukan singkatnya, langsung berlari ke kamar sebelah untuk ia jadikan tempat tinggal selama beberapa hari kedepan, 'Jika orang tua ku ada di Seoul aku tidak mungkin mengemis tempat tinggal seperti ini demi bersembunyi dari pria jahat itu', Luhan membatin sedih, tidak ingin bertindak kekanakan dengan cara kabur saat sedang bertengkar, namun Luhan tidak punya pilihan lain. Dia rasa dia tidak akan tahan jika harus melihat wajah Sehun setiap harinya sama seperti hari-hari sebelumnya, "Maafkan aku ma, ba..", katanya menyesal karena harus mengingkari janjinya pada kedua orang tuanya untuk menjadi istri yang baik dan berbakti pada sang suami.

Setelah merapikan kamar 'baru' nya gadis berumur delapan belas tahun itu menatap sedih pada ranjang di hadapannya. Membayangkan jika mulai malam ini dia harus kembali tidur sendiri tanpa ada Sehun yang di sampingnya dan tanpa ada Sehun yang memeluknya, "Semoga pilihan ku benar", monolognya lagi, masih tidak mempercayai dengan apa yang telah terjadi padanya hari ini. Namun saat ia menghadap cermin dan melihat matanya yang masih bengkak serta sudut bibirnya yang berdarah Luhan yakin jika dia sedang tidak bermimpi, dia pun yakin jika pilihannya untuk kabur adalah benar adanya.

.

.

.

.

.

Pagi harinya Luhan bangun di jam lima pagi, bukan karena dia ada kelas pagi tapi karena dia ingin mengambil beberapa pakaian dan heels nya di apartemen lamanya, apartmennya yang tepat terletak di samping apartemen Kyungsoo.

Dengan berjalan mengendap-endap Luhan memasuki apartemennya, tidak kesulitan sama sekali saat harus menebak password nya yang sudah di ganti Baekhyun menjadi password baru dan sangat mudah di tebak pastinya. For your information Baekhyun mempunyai kesulitan dalam menghafal digit dan mengingat hal-hal penting seperti itu, password yang selalu di gunakan Baekhyun tidak akan jauh dari tanggal lahirnya sendiri.

Setelah mengambil pakaiannya Luhan kembali ke apartment Kyungsoo. Tersenyum saat mukosanya sudah mencium aroma masakan Kyungsoo yang terkenal dengan kelezatannya, 'Aku rasa selama tinggal di sini aku akan meminta ilmu dari Kyungsoo', ia membatin senang, ingin belajar dari Kyungsoo bagaimana caranya memasak yang baik dan benar dan juga lezat pastinya.

"Dari mana Lu?"

Luhan menghentikan langkahnya, dia yang semula ingin ke kamar kini berbelok menuju dapur untuk mendekati Kyungsoo, "Dari mengambil baju", jawabnya sambil menunjukkan tumpukan pakaian di tangannya.

"Baekhyun sudah bangun?"

Luhan mengendikkan bahunya, meneguk jus jeruk yang baru saja di buatkan Kyungsoo, "Kau tahu jawabannya Kyung", katanya yang di balas gadis bermata bulat itu dengan kekehan ringan.

"Wajahmu sudah terlihat lebih baik, mata cantik mu tidak lagi bengkak namun bibir mu masih berdarah. Sejujurnya aku ingin bertanya apa yang terjadi padamu tapi mengingat kita tidak sedekat itu aku akan menyimpan rasa penasaran ku di dalam hati"

Luhan menghadap lemari es; bercermin, mengecek wajahnya dan mendesah saat luka di sudut bibirnya belum kering. Luhan acungi jempol betapa kuatnya tenaga gadis gila itu, atau jangan-jangan gadis gila itu saja yang terlalu bernafsu menamparnya?

Setelah mengecek wajahnya Luhan meletakkan pakaiannya di kursi makan, memeluk dari belakang tubuh Kyungsoo yang sedikit lebih berisi daripada tubuh sepupunya, "Maafkan aku selama ini sering mengabaikan mu", katanya menyesal telah menjadi Luhan yang angkuh, "Aku ingin bercerita dengan mu tapi aku takut jika kau akan menganggap ku hanya sedang memanfaatkan mu saja. Aku takut kau akan berfikir 'Luhan curhat padaku hanya karena dia sedang butuh tumpangan saja', makanya aku tidak memberitahu mu apa masalah yang sedang ku hadapi saat ini", ujarnya jujur, menumpuhkan dagunya di bahu sempit Kyungsoo yang sedang memasak omlet untuk sarapan mereka.

"Kau tahu aku tidak mungkin mempunyai pikiran seperti itu. Masih ingat jika sudah sejak dulu aku menganggap mu dan Baekhyun teman?"

Memang benar adanya, gadis baik hati itu memang sejak di kelas sepuluh sudah menganggap dirinya dan Baekhyun sebagai temannya, sehingga saat ini Luhan merasa bersalah karena selama ini dia sering mengabaikan dan melupakan gadis manis luar biasa mulia ini, "Ara, Do Kyungsoo memang yang terbaik. Maafkan aku ya..?"

Kyungsoo mematikan kompor, berbalik untuk menghadap Luhan yang sedang menatap menyesal padanya, "Aku akan memaafkan mu asal kau mau membagi sedikit keluh kesah mu padaku", katanya yang membuat gadis cantik di depannya mengangguk semangat, "Tapi sebelum itu ayo kita sarapan dulu. Aku lapar karena tadi malam tidak sempat makan", Kyungsoo mengambil piring di bantu Luhan yang masih menatapnya, "Aku akan mengusirmu jika kau masih menatapku seperti itu"

Luhan terkekeh, mengikuti saran Kyungsoo untuk tidak lagi menatapnya dan mulai menyantap sarapan sederhana buatan pinguin cantik itu.

.

.

.

.

.

Siang harinya setelah membagi sedikit masalahnya tanpa membocorkan rahasia besarnya dan membuat beberapa kesepakatan dengan Kyungsoo, gadis bermata rusa itu kembali lagi ke apartment lamanya untuk mengajak Baekhyun pergi ke kampus, dia ingin berangkat bersama dengan Kyungsoo juga namun selesai sarapan gadis itu sudah menghilang entah kemana. Jadilah Luhan kembali terdampar di apartemen lamanya untuk menjemput sang sepupu.

"Semalam kau tidur di mana? Apa kau pulang ke apartemen suamimu?", Baekhyun yang sedang fokus menyetir mobil Luhan melirik gadis di sampingnya yang sejak tadi sibuk memainkan phonsel.

"Ngh..", Luhan berdengung, terserah Baekhyun mau mengartikan jawabannya sebagai iya atau tidak Luhan tidak perduli. Yang jelas Baekhyun tidak boleh tahu jika ia menumpang di apartemen Kyungsoo. Luhan bukannya tidak percaya, tapi dia hanya jera saja dengan mulut Baekhyun yang sering keceplosan.

"Padahal tadi malam aku menunggu mu untuk mengobati bibirmu. Tapi kau justru tidak kembali lagi setelah mencari Kyungsoo"

Luhan terkekeh ringan saat sang sepupu merengut padanya, "Bibirku sudah ku obati", katanya.

"Tapi masih luka Lu"

"Hanya luka kecil, sudah tidak berdarah lagi"

"Hati mu? Hatimu masih berdarah tidak?"

"...", Luhan diam, tidak ingin menjawab pertanyaan Baekhyun. Gadis itu bahkan menyalakan musik dengan volume tinggi untuk menyamarkan suara Baekhyun.

Drrt...drrt...

Phonsel Luhan berdering, menarik perhatian gadis di sebelahnya untuk menoleh padanya, "Teman satu fakultas ku", kata Luhan untuk menjawab rasa penasaran Baekhyun.

"Yeoboseyo.."

Setelah menggeser tombol hijau di phonselnya Luhan langsung di sapa dengan suara halus dan lembut milik teman barunya, "Minhyun-ah..", sapa Luhan balik pada sang penelpon.

"Tas mu masih ada padaku karena kemarin kau tidak kembali lagi ke kampus. Kau ada di mana sekarang?"

Luhan tersenyum saat mendengar kekhawatiran di nada suara pria bermarga Hwang itu, "Kau sedang ada di mana sekarang?", tanyanya balik.

"Di parkiran kampus, menunggu mu"

"Ya sudah tetap di sana, sebentar lagi aku sampai"

Setelah sambungan telepon mereka berakhir Luhan langsung di sapa dengan kekehan merdu dari 'sopir pribadinya', "Kenapa tertawa?"

Baekhyun menggeleng ribut, "Tidak, aku hanya sedang senang saja", balas Baekhyun jujur.

"Senang karena Chanyeol?", Luhan menebak asal namun anehnya di angguki oleh Baekhyun, "Sejujurnya aku penasaran, kalian sudah pacaran apa belum?"

"Percayalah hubungan kami lebih romantis dari pada hubungan pasangan suami istri sekalipun", jawab Baekhyun yang menyindir rumah tangga sepupunya.

"Ku doakan kalian cepat putus", kata Luhan kesal.

"Keluarlah kita sudah sampai. Itu Minhyun mu sudah menunggu", goda Baekhyun setelah mereka tiba di parkiran, dan Baekhyun yang memang pada awalnya sempat terpesona dengan ketampanan pria itu kini berbinar senang melihat penampilan casual Minhyun yang tidak berbeda jauh dengan Sehun.

Blam

"Tenang saja, aku tidak akan mengganggu waktu berkencan kalian"

Luhan yang hendak mendekati Minhyun untuk mengambil tasnya kini kembali berbalik menghadap Baekhyun, "Siapa yang ingin berkencan?", tanyanya tidak mengerti.

Baekhyun menjawab Luhan dengan gendikan bahunya, mengerling pada Minhyun dan langsung berlari saat Luhan ingin menendang bokongnya, "Dasar centil", kata Luhan yang membuat sang sepupu tertawa bahagia.

Setidaknya dengan cara menggoda Luhan, gadis bermata sipit itu yakin Luhan akan segera melupakan luka hatinya dan kekecewaannya pada sang suami. Setidaknya pagi ini Baekhyun sudah berhasil menciptakan senyum di wajah cantik sepupunya yang sudah berjalan beriringan bersama Minhyun di sampingnya.

'Terima kasih pada gadis gila itu yang membuat misi ku dan Chanyeol semakin mudah', gumam Baekhyun masih terus memperhatikan sang sepupu bersama teman barunya yang Baekhyun harap akan membuat Luhan bahagia.

.

.

.

.

.

Dia bahkan tidak mencari ku..

Apa dia tidak tahu jika aku tidak pulang?

Apa dia tidak menyadari jika apartmentnya kosong?

Atau jangan-jangan dia tidak pulang?

Gadis cantik bermata rusa itu sejak tadi memandangi layar phonselnya. Sengaja mengaktifkannya demi menunggu Sehun menghubunginya. Bukan menghubungi karena apa namun Luhan hanya ingin tahu saja pria itu masih ingat dengan dirinya atau tidak. Luhan ingin tahu saja Sehun mencari dirinya atau tidak. Jika pun Sehun menghubunginya Luhan tidak akan sudih mengangkatnya dan sudah menyiapkan jarinya untuk menggeser tombol berwarna merah sebagai tanda penolakan. Namun jika Sehun tidak menelponnya atau pun mengiriminya pesan itu artinya Sehun benar-benar tidak peduli padanya dan tidak pernah menganggapnya ada.

"Baiklah, sudah dari semalam dan sampai detik ini kau tidak menghubungi ku. Aku anggap kita selesai", putus Luhan final dan kembali menyimpan phonselnya di dalam tas yang baru di bawakan oleh Minhyun tadi.

"Ada apa?", tanya Minhyun pada gadis di sampingnya yang sejak tadi duduk dengan gelisah.

Luhan menggeleng dan tersenyum, "Aku menunggu seseorang menghubungi ku"

"Pacar?"

Si cantik menggeleng lagi, "Aku tidak punya pacar"

"Kau cantik dan cerdas, pasti banyak pria yang menyukai mu. Kau pasti memasang harga tinggi kan?"

Luhan terkekeh sekaligus merona mendengar pujian pria tampan di sampingnya, "Kau mengatakannya seolah-olah aku adalah jalang kelas atas yang tidak laku", ujarnya jenaka yang membuat Minhyun tertawa, 'Ya Tuhan, mata, hidung dan bibir pria ini benar-benar sempurna', Luhan membatin terpesona pada senyuman pria di sampingnya. Menggeleng ribut saat ia merasa sinting hanya karena senyuman manis Minhyun, 'Ingatlah Luhan, kau sudah mempunyai suami, ingatlah pada suami mu yang luar biasa jahat itu', ia membatin geli, ingin terkekeh saat niat yang tidak-tidak mulai merasuki otaknya.

"Maksudku kau pasti mempunyai standar yang tinggi untuk kandidat calon kekasih mu"

"Tidak juga, aku hanya ingin pria yang setia dan menganggap ku ada. Pria yang lebih mengutamakan diriku di atas segala-galanya", curhatnya tanpa sadar, namun sialannya wajah brengsek suaminya terbayang di benaknya sehingga membuat Luhan langsung membenturkan dahinya di atas meja.

Melihat wajah sedih gadis di sampingnya sebagai teman Minhyun langsung membawa tangannya untuk menepuk-nepuk pelan punggung sang gadis, "Kau baik, gadis yang baik akan mendapatkan lelaki yang baik pula", kata Minhyun yang juga di peruntukkan untuk dirinya sendiri.

"Kekasihmu pasti sangat beruntung mempunyai pasangan seperti dirimu", ujar Luhan sambil menjauhkan tangan Minhyun dari punggungnya.

"Aku single sejak satu tahun yang lalu", jawab Minhyun santai, sudah melupakan masa lalunya yang tidak penting untuk di ingat.

"Kenapa? Kau selingkuh ya?", goda Luhan kaku, ingin menggunakan nada bicaranya saat ia sedang menjahili Baekhyun namun ia urungkan saat ia merasa tidak terlalu dekat dengan pria di sampingnya.

"Begitulah..", jawab Minhyun asal. Dia juga tidak mau membagi ceritanya dengan Luhan. Itu sama sekali bukan hal yang penting untuk di bahas.

"Pria memang begitu, tidak bisa memilih", ujar Luhan yang lagi-lagi menyindir sang suami.

Ekhm

Luhan dan Minhyun langsung menghentikan obrolan mereka saat sang Dosen berwajah tampan namun sangat killer berdehem keras untuk menenangkan kelas yang akan segera di mulai. Dan untuk yang kesekian kalinya mata jeli Minhyun menangkap tatapan tak biasa dari sang dosen kepada gadis di sampingnya.

Sejujurnya sejak hari pertama dia pindah duduk di dekat Luhan dia sudah ingin bertanya, namun di rasa pertanyaannya akan terdengar lancang pria itu mengurungkan niatnya dan menyimpan pertanyaannya yang belum terjawab hingga sampai saat ini. Kris Wu, dosen mereka yang terkenal dengan ketampanannya itu kerap kali melirik bahkan terkadang memandangi Luhan yang terus menununduk, pandangannya berbeda dari pandangan sang dosen pada mahasiswi lainnya, dan Minhyun tidak bisa mengartikan apa arti di balik tatapan sendu sang dosen yang saat ini mulai membagi ilmunya pada mereka.

.

.

.

.

.

Nyatanya apa yang Luhan pikirkan saat di kelasnya tadi benar terjadi. Sehun memang tidak menyadari jika ia tidak pulang, Sehun memang tidak tahu jika ia sudah pergi dari apartemen mereka. Tadi malam Sehun memang tidak pulang ke apartment mereka dan lebih memilih menginap di apartemen kekasihnya guna meyakinkan sang kekasih bahwa semua yang di katakan Baekhyun hanyalah omong kosong belaka. Dan untungnya kekasihnya mempercayainya sehingga Sehun bisa pulang dengan tenang pagi ini tanpa khawatir jika Hayeong akan mencurigainya lagi.

Cklek

Saat membuka pintu apartemenya dan Luhan, Sehun di sambut dengan keheningan yang tidak biasa, namun karena ia yang sedang terburu-buru ingin berganti baju dan pergi ke kampus Sehun mengabaikan keganjilan itu. Mengabaikan meja makan mereka yang kosong, lampu yang masih menyala dan gorden yang tidak di buka, semuanya luput dari penglihatan Sehun karena keterbatasan waktunya.

Setelah mengganti pakaiannya Sehun langsung menuju kampus dan mengikuti kelasnya seperti biasa. Tidak terpikir sedikitpun di otaknya untuk menanyakan kabar sang istri yang sudah merasakan tamparan kekasihnya.

Sehun rasa meskipun Hayeong keterlaluan tapi itu wajar, Luhan dan mulut berbisanya memang sering kali berujar tanpa ampun dan menghina orang sesuka hatinya. Sebagai seorang suami tentu saja Sehun merasa terhina saat Luhan menyindir seleranya. Luhan mengatainya rendahan yang mana hal itu sangat tidak pantas di ucapkan seorang istri pada suaminya.

Setelah mengikuti kelas selama dua jam lebih, Sehun ingin ke fakultas manajemen bisnis, bukan untuk menemui istrinya namun untuk menemui sahabatnya yang hari ini belum ia lihat batang hidungnya, "Yeol-ah..", panggilnya dari arah pintu kelas Chanyeol.

Chanyeol yang sedang duduk sendiri sambil menulis sesuatu di bukunya dengan layar laptop yang menyala tidak menggubris panggilan Sehun. Saat ia mengingat kembali cerita Baekhyun tadi malam dia menjadi kesal pada sahabatnya yang tidak punya hati. Suami mana yang tega membiarkan istrinya di sakiti di depan matanya? Chanyeol rasa Sehun benar-benar sudah gila dan tidak punya perasaan pada istrinya yang luar biasa cantik.

Agak ragu, Sehun memasuki kelas Chanyeol karena Chanyeol yang mengabaikannya, "Kenapa tidak keluar?", tanya Sehun setelah ia menarik salah satu kursi untuk duduk di dekat sahabatnya. Matanya melirik keseluruhan isi kelas Chanyeol dan mendesah saat tidak ada Luhan di sana.

"Panas..", jawab Chanyeol singkat.

Menyadari keanehan pada tingkah sang sahabat Sehun di buat mengernyit, tidak biasanya Chanyeol setenang ini, biasanya pria itulah yang paling berisik di antara dia dan Kai, "Ayo ke kelas Baekhyun, kau pasti suntuk kan?", sejujurnya Sehun ingin marah pada sang mantan kekasih yang sudah membuatnya bermasalah dengan kekasihnya dan istrinya, namun di rasa masalahnya sudah selesai Sehun memilih berdamai dengan gadis incaran sahabatnya itu.

"Kau mengajakku ke kelas seni untuk menemui mantan kekasih mu atau kekasihmu?"

Benar kan? Sehun semakin yakin ada yang aneh dengan kelakukan sahabatnya, dari intonasi suaranya pun sangat berbeda jauh dengan hari biasanya, "Kau kenapa? Ada masalah?", tanyanya bingung atas perubahan sikap sang sahabat. Namun sayangnya Chanyeol menjawab pertanyaannya dengan gelengan tanpa menoleh ke arahnya sedikitpun.

"Jika ingin menemui kekasihmu pergi saja sendiri, aku sedang sibuk membuat tugas", Chanyeol menunjukkan layar laptopnya pada Sehun yang menunjukkan banyaknya tugas kuliah yang harus ia selesaikan agar pria itu mengerti dan meninggalkannya sendiri. Dia sedang tidak ingin bersama Sehun karena takut Baekhyun akan marah padanya.

"Tidak jadi, aku juga sedang malas ke sana", Ujar Sehun sambil memperhatikan jari-jari Chanyeol yang bergerak lincah mengerjakan tugasnya. Sebenarnya Sehun memang malas ke fakultas seni, selain gedungnya yang terletak cukup jauh dia juga sedang tidak ingin bertemu kekasihnya yang masih dalam mood yang buruk.

"Tidak perlu pakai alkohol, lukaku akan sakit jika terkena cairan itu"

"Biar tidak infeksi"

"Ayolah ini hanya luka kecil"

Sehun mengalihkan perhatiannya dari layar laptop Chanyeol saat samar-samar ia mendengar suara yang sangat familiar di telinganya, suara yang kemarin siang menghina harga dirinya. Dan seakan dejavu, matanya dan mata sang pemilik suara kembali beradu tatapan sengit seperti dulu. Namun tatapan itu terjadi hanya sepersekian detik karena setelahnya Luhan langsung memalingkan wajah dan berjalan cepat ke tempat duduknya yang ternyata ada di belakang dan paling pojok.

"Menghadap sini, akan ku obati"

Kali ini Sehun membawa tatapannya pada pria yang sejak tadi berada di samping Luhan. Mempertanyakan sejauh mana hubungan kedua orang itu sehingga membuat Luhan biasa saja saat pria itu menyentuh bibirnya.

"Dapat dari mana luka ini? Apa kau kemarin bolos kuliah untuk bermain tinju?", ujar Minhyun yang membuat Luhan tertawa, tidak menyangka jika pria yang hanya bicara seperlunya saja itu bisa membuatnya tertawa sejak tadi.

"Seseorang memukulku..", kata Luhan yang tidak berniat sama sekali memelankan suaranya.

"Siapa orang itu? Dia pasti punya penglihatan dan selera yang buruk sehingga berani memukul gadis cantik seperti mu"

'Kekasih suami ku yang melukai bibirku', Luhan hanya bisa menjawab dalam hati, menatap sendu pada botol antiseptik dan kapas yang ada di atas mejanya, "Sudahlah ini hanya luka kecil", gumam Luhan yang untungnya masih bisa di dengar Minhyun.

Sehun yang masih mencuri dengar dan tidak bisa untuk tidak melihat kedua orang itu karena posisi duduknya yang menghadap ke sana mengepalkan tangannya. Kesal saat Luhan dan pria itu menjadikan kejadian kemarin sebagai lelucon. Tidakkah seharusnya Luhan mengambil pelajaran dari kejadian kemarin dengan cara menjaga mulutnya dan tidak sembarang berucap.

'Marahlah, rasakan apa yang Luhan rasakan'

Jika Luhan sedang sibuk dengan Minhyun, Sehun yang sedang mengepalkan tangannya, maka berbeda dengan Chanyeol, pria yang sedang berpura-pura membuat tugas itu dalam hati berkomat-kamit membaca mantra agar Sehun setidaknya merasa kesal karena istrinya berdekatan dengan pria lain. Namun sepertinya mantra Chanyeol tidak manjur, karena dari pada cemburu melihat pemandangan di depannya Sehun justru ingin marah saat Luhan bahkan enggan menatapnya.

Apa kau merasakan apa yang ku rasa?

Apa kau sedang berpura-pura baik-baik saja saat kau melihat istrimu bersama pria lain?

Atau memang kau tidak terpengaruh sedikitpun?

Oh iya, aku lupa jika suamiku tidak punya hati

Bibir Luhan memang tersenyum saat Minhyun yang pengertian terus menghiburnya, matanya memang menatap wajah tampan Minhyun yang menyejukkan hati. Namun siapa yang tahu jika semua itu hanya tipuan belaka. Nyatanya senyuman itu adalah senyuman pedihnya, tatapan itu adalah tatapan kosongnya. Pikiran Luhan tidak sedang berada di sana. Pikirannya sedang berkelana memikirkan seorang pria jahat yang kebetulan adalah suaminya. Ingin sekali ia menoleh pada Sehun, namun bayangan sang suami yang memeluk wanita lain dan membiarkan wanita itu menang di atasnya membuat Luhan mati-matian menahan dirinya untuk tidak menoleh, "Apa kelas kita selanjutnya masih lama akan di mulai?", tanya Luhan yang masih kehilangan fokusnya.

Minhyun melihat jam tangannya dan menjawab, "Lima belas menit lagi", katanya yang di balas Luhan dengan helaan nafas lelah. Terlihat sekali jika gadis itu sedang mempunyai masalah, "Selesai, sudah ku olesi alkohol, maaf jika terasa pedih", ujar Minhyun dan menyimpan kembali botol bening antiseptik itu yang baru mereka beli beberapa menit yang lalu, "Apa itu sakit?"

Luhan menggeleng saat Minhyun menunjuk bibirnya, "Tidak sama sekali"

"Seingatku luka dan alkohol adalah perpaduan yang sangat menyeramkan. Yakin tidak pedih?", sejujurnya Minhyun cukup terkejut melihat Luhan yang tidak meringis sedikitpun saat ia mengobati luka kecil gadis itu. Setahu Minhyun, kebanyakan gadis akan menjerit manja dan berpura-pura sakit saat di perlakukan semanis itu. Tapi Luhan justru diam saja dan hanya terus memandangi wajahnya dengan tatapan kosong banyak pikiran.

"Hatiku yang pedih", ujar Luhan sambil terkekeh masam, kembali menangkupkan kepalanya di atas meja guna menunggu kelas selanjutnya. Dia tidak mau menatap Sehun, dadanya bergemelutuk panas melihat pria jahat itu yang tidak mengkhawatirkan dirinya sedikitpun.

.

.

.

.

.

Setelah jam kuliahnya hari ini yang terasa lebih berat dari hari sebelumnya berakhir, gadis kewarganegaraan China itu langsung berjalan dengan langkah lebarnya untuk ke parkiran, mendesah saat ia mengingat jika sepupunya sedang menunggunya di cafetaria.

Gadis yang hari ini kembali menggunakan mini dress nya itu kembali berjalan cepat bahkan sedikit berlari dengan heels lima belas sentinya untuk ke cafetaria, dan langsung saja ia merengut saat melihat Baekhyun yang sedang asik berduaan dengan Chanyeol, padahal tebakannya Baekhyun pasti sedang menggerutuinya seperti biasa, "Baek..", panggilnya malas yang untungnya masih bisa di dengar oleh gadis centil namun sering bertingkah sok jual mahal itu.

"Mau pulang sekarang?", tanya Baekhyun, mengangkat kepalanya dari bahu lebar Chanyeol yang menjadi tempat ia bersandar sejak sepuluh menit yang lalu.

"Kau pulang dengan Chanyeol saja, aku ada urusan", kata Luhan terburu-buru.

"Urusan apa?"

"Sudahlah kau tidak perlu tahu", mata rusa Luhan melirik pria tinggi di samping Baekhyun yang terlihat sangat kecil saat berdampingan dengan pria bermarga park itu, "Chanyeol-ah nanti antarkan sepupuku pulang ya, jangan pulang malam, ingat!", setelah mengacungkan telunjuknya di depan wajah Baekhyun dan Chanyeol agar pasangan itu tidak pulang malam, Luhan kembali berlari menuju parkiran, semakin mempercepat larinya tanpa menoleh sedikitpun saat ia berpapasan dengan Sehun dan Kai yang sepertinya ingin bergabung dengan Chanyeol.

Melihat Luhan yang bertingkah aneh dan bermain rahasia dengannya Baekhyun mengernyit heran, berfikir keras apa yang akan Luhan lakukan sehingga gadis itu tidak ingin memberitahunya.

Merasa tidak bisa menahan rasa penasarannya gadis bermata sipit itu menoleh pada pria di sampingnya, memberikan pria tampan itu tatapan memelasnya, "Yeol-ah, boleh aku lihat kunci mobilmu?", pintanya lembut.

Chanyeol mengerutkan alisnya, bingung, "Untuk apa?", tanyanya yang membuat Baekhyun mendesah malas, "Lihat saja, aku hanya ingin memastikan jika kau benar-benar membawa mobil dan bisa mengantarku pulang", kata Baekhyun cepat, dia sudah tidak sabar ingin menyusul Luhan.

Chanyeol yang lugu langsung mengeluarkan kunci mobilnya dari dalam tas, tidak menyadari sama sekali senyum tertahan dari wajah gadisnya, "ini..", katanya sambil menunjukkan kunci itu di depan wajah berseri Baekhyun.

Sret

Dalam sekejap mata besar Chanyeol terbelalak saat Baekhyun merampas kunci mobilnya dan berlari meninggalkannya, "AKU PINJAM, NANTI KU KEMBALIKAN", teriak Baekhyun yang kembali berlari untuk mencari mobil Chanyeol, dan berbeda dengan Luhan. Jika gadis China itu tidak ingin melihat wajah Sehun, Baekhyun tentu saja tidak melewatkan kesempatan untuk mengerjai pria berkulit pucat itu dengan cara mentackle kakinya sehingga pria itu nyaris saja terjatuh jika tidak berpegangan di meja kantin, "YA! BYUN BAEKHYUN", teriak Sehun murka. Namun si gila Baekhyun mengabaikan teriakannya dan terus berlari terburu sama seperti yang Luhan lakukan tadi.

Setelah menemukan mobil Chanyeol, Baekhyun yang masih tertawa puas karena berhasil membuat Sehun kesal langsung melajukan mobil Chanyeol dengan kecepatan tinggi, mengejar mobil Luhan yang sudah cukup jauh dari area kampus dan membuntuti mobil gadis itu yang sedang berjalan lambat, "Apa yang sedang coba kau lakukan Luhan-ie..?", gumamnya, masih membuntuti mobil Luhan yang berjalan seperti kura-kura, sangat lambat dan Baekhyun tidak suka itu.

Ingin sekali rasanya Baekhyun menyalip mobil Luhan, sangat penasaran dengan apa yang akan gadis China itu lakukan. Namun niatnya langsung dia urungkan saat merasa Luhan akan memarahinya jika gadis itu tahu kelakuannya yang membuntutinya.

Setelah sekitar lima belas menit berlalu, Baekhyun ikut menghentikan mobilnya saat ia melihat Luhan menghentikan mobilnya di depan pusat perbelanjaan yang cukup terkenal di Seoul, ia mengernyit melihat Luhan keluar dari mobilnya dengan sangat terburu-buru seperti sedang ingin mengejar seseo... HAYEONG..!

Untuk yang kesekain kalinya Baekhyun terbelalak kaget saat ia melihat Luhan yang ternyata sejak tadi membuntuti mobil Hayeong dan mengejar gadis itu hingga ke parkiran mall, "Astaga..", merasa kekhawatirannya memuncak Baekhyun ikut keluar dari mobil, berjalan mengendap dan tetap menjaga jarak dari kedua gadis itu, "Demi Tuhan apa yang akan kau lakukan Xi Luhan?", gumamnya pelan, ia menghentikan langkahnya di jarak sepuluh meter dari Luhan dan Hayeong sehingga ia masih bisa mendengar dan melihat dengan jelas apa yang sedang kedua gadis itu lakukan.

Sret

Hayeong membalikkan tubuhnya saat merasakan cekalan di tangan kanannya, menatap kaget saat mendapati gadis yang kemarin ia tampar kini sedang berdiri di hadapannya dan tersenyum miring ke arahnya, "Apa yang kau lakukan? Lepaskan tangan ku!", katanya sambil menarik tangannya dari cengkeraman wanita yang kemarin ia cemburui.

Dengan santainya Luhan mengabaikan protesan Hayeong, menyeret gadis gila itu untuk sedikit bersembunyi di antara deretan mobil yang sedang terparkir rapi, "Aku ada urusan penting dengan mu", kata Luhan yang masih mencoba menahan emosinya, bahkan tanpa sadar ia menguatkan cekalan tangannya sebelum ia menghempas tangan gadis itu setelah menemukan tempat yang sepi.

"YA! tangan ku sakit bodoh", Hayeong mengusap pergelangan tangannya yang merah, mendelik marah pada gadis di depannya yang sedang menatapnya tajam.

"Sakit, kau pikir aku tidak sakit saat kau menamparku di tempat umum huh?", Luhan mendesis marah, menatap tajam kekasih dari suaminya.

Plak

Tidak ingin berlama-lama Luhan dan segala kemarahannya langsung membalas tamparan Hayeong dengan sekuat tenaga yang ia bisa, "Kau tahu, mata di balas mata. Kau pikir aku terima saja saat kau menyakiti ku?", nyatanya setelah satu tamparan ia layangkan Luhan belum juga merasa puas. Dadanya masih bergemelutuk panas di penuhi emosi menatap gadis gila itu.

"Ssshhh, sialan kau"

"Jangan mengatai orang sembarangan jika tidak ingin ku tampar lagi", kata Luhan yang tidak kasihan sama sekali saat gadis gila itu mendesis sakit sama seperti apa yang dia rasakan kemarin, "Pipi mu sakit?", ujar Luhan dengan senyum remehnya, "Itulah yang aku rasakan kemarin" -dan apa yang ku rasakan jauh lebih sakit karena kau melakukannya di depan suamiku-, lanjut Luhan dalam hati, masih menatap tajam Hayeong yang juga sedang menatapnya.

"Jika kau sakit tapi kenapa kemarin kau tidak membalas ku?", tanya Hayeong yang di balas Luhan dengan kekehannya.

"Apa kau pernah mendengar istilah 'menjaga image'?"

Hayeong mendecih, membenarkan rumor di SHS dulu yang mengatakan betapa kejamnya seorang Xi Luhan, "Kemarin kau menjaga image di depan Sehun sehingga kau diam saja dan bertingkah seperti gadis lemah lembut saat aku menampar mu, begitu?", tuduhnya tepat sasaran.

"Bukan hanya menjaga image di depan Sehun, tapi semua orang", koreksi Luhan, dan rasanya Luhan ingin terkekeh saat ia mencium parfum menyengat milik Baekhyun yang memasuki indra penciumannya. Luhan yakin jika sepupunya pasti mengikutinya, dia sudah menduganya sejak tadi. Byun Baekhyun dan tingkat penasarannya yang tinggi terkadang memang tidak bisa di pisahkan.

"Baiklah aku rasa kita impas, kemarin aku menyakitimu karena aku cemburu padamu, salahkan bebek cerewet itu yang mengatakan jika kau sudah menikah dengan Sehun", ujar Hayeong yang membuat seorang gadis yang sedang mengintip itu mengepalkan tangannya kesal saat mendengar julukan menggelikan itu.

"Kau tahu jika itu tidak benar kan? Kau sendiri tahu jika aku dan kekasihmu tidak pernah akur"

"Aku tahu, maafkan aku. Sehun juga sudah mengatakan kalau itu semua tidak benar. Baekhyun hanya sedang ingin memancing kemarahan ku saja agar aku putus dengan Sehun"

"Sehun mengatakan itu?", tanya Luhan geli, dia ingin tertawa sebenarnya atas kelihaian mulut Sehun sesuai seperti apa yang Baekhyun katakan padanya kemarin sore.

"Aku rasa urusan kita sudah selesai, maafkan aku", kata Hayeong lagi. Dia akan mengingat pesan kekasihnya untuk tidak berkelahi dengan Luhan. Luhan bukan lawan yang sepadan untukmu, begitu kata Sehun yang Hayeong salah artikan jika dia tidak perlu mencemburui Luhan karena gadis China itu bukanlah selera Sehun. Sehun tidak menyukai gadis angkuh seperti Luhan, standar wanita idaman Sehun adalah wanita bertutur kata lembut seperti dirinya, bukan wanita bermulut pedas seperti seorang Xi Luhan.

"Sekali lagi kau melabrak ku tanpa sebab, ingatlah! aku tidak akan diam saja saat orang lain menyakitiku", Setelah menunjuk wajah memerah Hayeong, dengan langkah pongahnya Luhan segera pergi dari sana. Cukup puas karena sudah menuntaskan rasa gatal di tangannya yang sejak kemarin ingin membalas kelakuan gadis gila itu.

"Seharusnya aku tidak pernah mengkhawatirkan mu wahai kau nenek lampirku", Baekhyun menggeleng dramatis, menyandarkan tubuhnya di badan mobil sambil memperhatikan langkah tegap Luhan yang menunjukkan betapa tangguhnya gadis itu, Luhan menunjukkan padanya bahwa ia tidak perlu mencemaskan wanita tangguh seperti dia dan menunjukkan pada Hayeong untuk tidak membuat ulah dengan wanita kejam seperti dirinya, "Luhan-ie aku rasa aku akan semakin segan padamu", gumamnya lagi, kembali memasuki mobil untuk menemui Chanyeol yang pastinya sedang mengkhawatirkan mobilnya.

.

.

.

.

.

Setelah mengirimi Baekhyun pesan singkat untuk tidak mencari dirinya yang sedang marah karena di buntuti, Luhan kembali ke apartmen Kyungsoo dan menghempaskan tubuhnya di atas ranjang. Hari ini dia benar-benar lelah. Di kelas pun tidak ada satu materipun yang di serap otaknya karena memikirkan masalahnya dengan Sehun. Apa lagi saat ia melihat wajah Sehun yang sama sekali tidak merasa bersalah dan tidak mengkhawatirkannya, Luhan jadi semakin merasa lelah, lelah dengan rumah tangganya dengan Sehun yang sepertinya tidak akan bertahan lama. Di tambah lagi Sehun dan gadis gila itu sepertinya sudah berbaikan. Membuat Luhan benar-benar merasa hanya menjadi orang ketiga di antara hubungan pasangan kekasih itu.

Drrttt

Luhanie ku mohon jangan marah, jangan marah yaaa? Pleaseee..!

Luhan yang sedang lelah terkekeh saat membaca pesan kesekian dari Baekhyun yang memohon maaf padanya. Gadis centil itu pasti sedang merasa bersalah padanya.

'Aku tidak benar-benar marah bodoh, aku hanya sedang butuh waktu untuk sendiri', gumam Luhan sambil meletakkan phonselnya di atas nakas, tidak berniat sama sekali membalas puluhan pesan yang di kirim Baekhyun padanya.

.

.

.

.

.

Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan, sudah dari jam tujuh tadi anak bungsu Oh Kyuhyun itu duduk sendiri di apartemennya untuk menunggu kepulangan istrinya. Itu artinya sudah dua jam lebih dia duduk sendirian di sofa apartemen guna menunggu sang istri yang tidak kunjung pulang. Tidak biasanya Luhan pulang telat, biasanya sebelum dia pulang Luhan pasti sudah sibuk di dapur atau setidaknya sibuk merapikan isi apartemen mereka yang tidak pernah berantakan.

Bosan menunggu, Sehun menuju dapur untuk memenuhi keinginan cacing-cacing di perutnya yang sejak tadi meraung lapar. Menatap sedih pada berbagai macam bahan makanan di lemari es yang tidak bisa ia olah sedikitpun. Seumur hidupnya ia tidak pernah memasuki dapur untuk memasak di karenakan ibunya yang luar biasa bertanggung jawab dan tidak pernah melalaikan tugasnya sebagai ibu rumah tangga. Jadi wajar jika saat ini Sehun mendesah lemas melihat berbagai bahan makanan yang terusan rapi di lemari esnya.

"Kemana kau Luhan?", desahnya yang belum menyadari jika sang istri sudah tidak sudih lagi tinggal serumah dengannya.

Menyerah pada berbagai macam bahan makanan yang tidak bisa ia oleh, Sehun memasuki kamar, mengambil phonsel berniat untuk menelpon Luhan. Namun entah karena alasan apa Sehun membatalkan niatnya untuk menghubungi Luhan. Dia ragu, dia pikir saat ini mungkin Luhan masih berada di luar bersenang-senang dengan Baekhyun sehingga ia tidak perlu menghubungi wanita itu.

'Apa yang harus aku lakukan?', monolognya, dia bingung harus melakukan apa. Dia tidak terbiasa tinggal sendiri seperti ini. Sebelum menikah pun biasanya ada Junmyeon yang menjadi korban kejahilannya dan merecoki sang hyung yang kerap kali berteriak kesal karena dirinya.

Merasa tidak ada yang bisa dia lakukan Sehun memilih memejamkan mata, berharap besok pagi dia sudah menemukan Luhan yang sedang meringkuk nyaman di pelukannya seperti hari-hari sebelumnya.

.

.

.

.

.

Nyatanya harapan Sehun belum terwujud, karena saat ia membuka mata di jam tujuh pagi dia tidak menemukan Luhan di sampingnya. Tempat tidur yang terasa dingin, lampu yang masih menyala dan gorden yang masih tertutup menyadarkan Sehun jika sang istri memang tidak pulang.

Suasana pagi yang biasanya di temani suara renyah Luhan yang memasak sambil bersenandung pun pagi ini tidak Sehun dengar, pagi harinya yang biasanya di temani celotehan merdu sang istri kini menjadi sunyi, senyap, seakan Luhan sudah sangat lama menghilang dari apartment mereka.

Setelah membersihkan tubuhnya dengan gerakan cepat Sehun ke apartemen Luhan, dia yakin jika Luhan sedang bersama Baekhyun dan bermalam di sana, "LUHAN..", teriaknya setelah ia memencet brutal tombol kecil berwarna putih yang terpasang di setiap sisi kanan unit apartemen.

"LUHAN-AH...", teriaknya lagi karena tidak ada yang menyahuti panggilannya.

Cklek

Byun Baekhyun yang masih menggunakan piama tidur, rambut acak-acakan, berjalan sempoyongan dan menguap lebar tepat di hadapan Sehun setelah gadis itu membuka pintu, "Siapa?", tanyanya parau, mengucek kasar mata kantuknya untuk mengetahui siapa gerangan yang mengunjunginya di pagi buta seperti ini, "Ooh kau..", gumam Baekhyun setelah matanya terbuka, dan mata sipit itu benar-benar terbuka lebar saat menyadari penampilan berantakannnya. Dengan secepat kilat Baekhyun berlari kembali memasuki kamar dan merapikan penampilannya agar terlihat sedikit lebih layak di depan sang mantan kekasih . Dia tidak mau Sehun mengucap syukur karena sudah memutuskan gadis malas seperti dirinya.

"Ada apa..?", tanyanya setelah ia selesai merapikan wajah dan rambutnya.

"Aku mencari Luhan", kata Sehun yang mengingatkan Baekhyun tentang kekhilafan mulutnya dua hari yang lalu.

"Kenapa mencarinya di sini? Bukankah dia istrimu dan tinggal dengan mu?", Baekhyun memasang wajah sepolos mungkin, memilih untuk berpura-pura lupa dengan kesalahannya. Demi Tuhan dia masih mengantuk karena baru tidur di jam tiga pagi setelah menyelesaikan membaca komik hentai terbarunya dan dia tidak mau merusak paginya dengan cara bertengkar dengan sang mantan kekasih yang kerap kali membuat darahnya mendidih.

"Tidak usah berpura-pura tidak tahu, tadi malam dia tidak pulang", Sehun yang sepertinya masih marah pada Baekhyun tidak bisa untuk tidak meluapkan emosinya saat Baekhyun bertingkah pura-pura tidak tahu seperti itu.

"Aku benar-benar tidak tahu, kemarin Luhan bilang jika ia pulang ke apartmen kalian", ujarnya lagi yang membuat Sehun mendesah lelah, "Kau serius?"

"Dua rius", kata Baekhyun sambil mengangkat dua jarinya di depan wajah Sehun, "Lagi pula kenapa kau mencarinya? Kalian sedang bertengkar?", Baekhyun menyandarkan tubuhnya di kusen pintu, masih berpura-pura tidak mengetahui masalah yang sedang menimpa rumah tangga sang mantan kekasih.

Tidak menjawab pertanyaan Baekhyun, Sehun dengan lancangnya menerobos masuk ke dalam apartemen Luhan, "Luhan-ah..", panggilnya sambil menelusuri isi apartemen sang istri.

"Sudah ku bilang jika Luhan tidak ada"

"Kau pikir aku percaya dengan mu?"

Baekhyun mendengus masam, sampai kapan pun Sehun tidak akan pernah percaya dengan perkataannya.

Masih bersandar di dekat pintu, Baekhyun sengaja membiarkan Sehun menelusuri apartemen istrinya untuk mencari Luhan karena pada kenyataannya gadis bermata rusa itu memang tidak ada di sana, "Sudah menemukan istirmu?", tanya Baekhyun sarkas saat Sehun mengacak kasar rambutnya, "Sudah ku katakan jika Luhan tidak ada di sini, aku tidak berbohong. Sumpah..", ujarnya yang lagi-lagi sambil mengacungkan dua jarinya pada Sehun, "Aku pikir dia menginap di rumah orang tua mu, kau tahu kan jika ia tidak punya tempat lain untuk kabur? Tidak mungkin pula ia kabur ke China kan?"

Sehun terdiam mendengarkan ocehan Baekhyun, jika benar Luhan bermalam di rumah orang tuanya apa yang akan dia katakan pada ibunya yang pasti akan mencercanya karena sudah membiarkan Luhan tidur sendiri di sana, "Aku tidak yakin jika dia ada di sana", ujarnya yang di balas Baekhyun dengan gendikan bahu.

"Sudahlah aku mau mandi karena aku ada kelas pagi, cari saja istrimu di tempat lain"

Baru kali ini rasanya Sehun tidak melawan saat Baekhyun mendorong kasar tubuhnya untuk keluar dari apartemen istrinya, dia pasrah saja ketika sang mantan kekasih mengusirnya dan menutup pintu berwarna putih itu dengan cukup kuat. Pikirannya sedang kacau, dia berfikir keras antara harus menemui Luhan di rumah orang tuanya atau justru membiarkan Luhan di sana dan pulang dengan sendirinya jika kemarahan wanita itu sudah mereda.

Sehun tahu jika Luhan tidak pulang pastilah di sebabkan oleh kejadian dua hari yang lalu. Wanita itu pasti sedang marah padanya. Tapi jika di pikir lagi bukankah seharusnya ia yang marah pada Luhan. Luhan yang lebih dulu menyakitinya dengan kata-katanya lalu kenapa Luhan harus kabur dari apartemen mereka, "Kau sangat rumit Luhan-ah", gumamnya sambil berjalan gontai meninggalkan apartmen sang istri.

Selepas kepergian Sehun, Luhan yang sejak tadi bisa mendengar teriakan sang suami yang sedang mencarinya kini terdiam membisu dan bersandar lemah di dinding apartmen Kyungsoo. Satu sisi dia senang Sehun mencarinya namun di sisi lain dia menyesali sikap Sehun yang baru menyadari ketidakpulangannya di apartemen mereka. Jika saja Sehun lebih cepat mencarinya Luhan akan dengan senang hati menemui pria itu. Namun Sehun sudah terlambat, dua hari dua malam sudah berlalu dan pria itu baru mencarinya saat ia membutuhkan dirinya, "Jangan mencariku, ada kekasihmu yang bisa mengurus semua kebutuhan mu", kata Luhan lemah, tidak pernah menyadari sejak kapan kecemburuan yang ia rasakan pada gadis berambut pendek itu.

.

.

.

.

.

"Kenapa kau tidak pulang?"

Saat ini posisinya adalah Sehun yang sedang menemui Luhan. Setelah membatalkan niatnya untuk mencari Luhan di rumah orang tuanya Sehun memilih untuk pergi ke kampus dan menunggu wanita itu di sana. Awalnya Sehun sempat kesal karena wanita itu yang terus menghindarinya, namun saat di rasa ia tidak boleh membiarkan masalahnya berlarut-larut Sehun dengan sabarnya menunggu Luhan di kantin kampus selama lebih dari satu jam. Dia tidak ada kelas hari ini, jadi waktu freenya hari ini hanya dia khususkan untuk menyelesaikan masalahnya dengan sang istri.

Luhan yang untungnya sedang sendiri mendengus saat Sehun menyeretnya untuk duduk di kursi paling pojok, kursi yang biasa menjadi tempat duduk Sehun dan kedua sahabat super tingginya, "Bisa kau lepaskan tangan ku?! aku ingin membeli minum", kenapa Luhan sendirian? karena niat awalnya dia tidak ingin makan, dia hanya sedang ingin membeli minum dan kembali lagi ke kelas untuk mengerjakan tugasnya bersama Minhyun dan Chanyeol yang sedang menunggunya di kelas.

"Tunggu di sini, akan ku belikan untuk mu"

Luhan langsung menahan Sehun yang hendak memesan minumannya, menatap jengah pada sikap sang suami yang membuatnya pusing, "Apa mau mu? Kenapa kau menyeretku kemari?", sudah kepalang tanggung, Luhan rasa tidak apa-apa jika ia menyelesaikan masalahnya saat ini juga.

"Duduklah dulu..!", kata Sehun yang membuat Luhan langsung duduk di depannya. Ia meneliti wajah masam sang istri yang terlihat jelas tidak suka bertemu dengannya, "Kenapa kau tidak pulang?", tanyanya lagi, masih mencoba bersabar menghadapi sang istri yang sedang merajuk.

"Apa itu penting?"

"Tidur di mana kau tadi malam?", mengabaikan jawaban ketus sang istri Sehun kembali bertanya, dia benar-benar sudah mengumpulkan kesabarannya sebelum menemui Luhan. Jadi sebisa mungkin Sehun akan berujar lembut dan tidak terpancing emosi seperti beberapa hari yang lalu.

"Bukan urusanmu. Lagi pula kenapa kau perduli? Masih mau hidup dengan wanita bermulut kejam ini?"

Sehun menyandarkan tubuhnya, membalas tatapan tajam sang istri dengan tatapan lembut untuk meredakan emosi sang istri, "Kau masih marah karena kejadian di parkiran dua hari yang lalu?"

"Menurutmu?"

"Kenapa kau marah? Bukankah seharusnya akulah yang marah karena penghinaan mu?"

Luhan diam, dia yang sempat menatap tajam Sehun kini mulai menundukkan kepalanya. Sejujurnya dia pun menyadari betapa kelewatannya mulutnya dua hari yang lalu, dia pun sadar jika ia tidak pantas menghina Sehun seperti itu. Namun saat mengingat kembali bagaimana Sehun memeluk Hayeong di depannya dan membiarkan gadis itu menamparnya Luhan tidak bisa untuk tidak marah pada pria di depannya, "Sudahlah, lupakan semuanya aku ingin kembali ke kelas", Luhan sudah ingin berdiri, namun lagi-lagi Sehun menahan tangannya dan menariknya kuat sehingga ia kembali duduk di hadapan pria itu.

"Tunggu dulu Luhan, kita harus menyelesaikan masalah kita"

"Masalah apa huh? Urus saja kekasihmu karena aku benar-benar lelah. Tidak usah mencariku dan abaikan saja aku seperti yang kau lakukan beberapa hari lalu"

"Katakan padaku apa kau cemburu?"

Luhan terdiam kaku saat Sehun meloloskan pertanyaan laknat itu, mana mungkin dia mengaku jika ia mulai cemburu melihat hubungan Sehun dan gadis gila itu.

"Jika kau tidak cemburu kenapa harus marah? Bukankah sebelum kita menikah kau sudah mengetahui jika aku sudah mempunyai kekasih, lalu kenapa sekarang kau marah padaku dan tidak pulang karena melihatku yang lebih membela Hayeong dari pada dirimu? Jika kau tidak cemburu seharusnya kau tidak perlu mempermasalahkan semuanya, seharusnya kau bersikap santai saja seperti apa yang kau lakukan saat kita baru menikah tiga bulan yang lalu?"

Ucapan Baekhyun yang sempat memuji mulut lihai Sehun memang tidak bisa dia anggap angin lalu. Pria itu dengan mudahnya membuat Luhan merasa terpojok dan menjadi serba salah seperti ini. Jika dia tidak mengakui kecemburuannya habislah dia, Sehun dan mulut terlatihnya akan semakin memojokkannya. Haruskah Luhan memaafkan Sehun dan berdamai dengan pria itu? Lalu jika ia berdamai dengan Sehun akankah pria itu menghargai dirinya sebagai istrinya?.

"Baiklah, aku kelewatan karena tidak mencegah Hayeong ketika ia ingin menamparmu. Maafkan aku, kita sudahi pertengkaran kita sampai di sini hm?"

Luhan semakin bimbang saat Sehun meminta maaf padanya, bagaimana ini? Dia masih belum puas mendiami pria itu namun dia tidak mau Sehun membenarkan segala asumsinya jika ia sedang cemburu, "Baiklah kita berdamai", ujarnya, demi harga dirinya yang setinggi langit dia tidak mau membahagiakan Sehun dengan cara mengakui kecemburuannya, "Jelaskan padaku kenapa kau ingin berdamai denganku?", tanyanya menuntut.

"Aku merindukan mu"

"Jawab yang jujur"

"Aku memang merindukan mu"

"Merindukan aku sebagai teman hidupmu atau merindukan ku sebagai pelayan yang bisa memenuhi semua kebutuhan mu?"

Sehun berdiri, duduk di samping istrinya dan memeluk wanita yang sedang di penuhi emosi itu, "Aku merindukan Oh Luhan, istri sah ku, teman hidupku, teman bertengkar ku dan teman yang selalu memenuhi segala kebutuhan ku. Aku merindukan mu"

Awalnya Luhan emosi, namun saat Sehun berujar lembut sambil mengecupi pipinya dan memeluknya erat dadanya berdebar tentu saja, ia pun cukup was-was takut-takut ada yang melihat mereka, "Benar merindukan ku? Bukan tubuhku?"

"Demi Tuhan aku tidak semesum itu Luhan", kata Sehun malas, masih mencoba bersabar menghadapi kemarahan istrinya.

Benar juga, lagi pula jika Sehun ingin menuntaskan nafsunya bukankah ada Hayeong dan tidak perlu repot-repot membujuknya seperti ini. Apa itu artinya Sehun benar-benar merindukan dirinya?, "Baru dua malam tidak tinggal serumah masa iya kau sudah rindu?", tanya Luhan gugup, mengutuk wajahnya yang terasa luar biasa panas. Di tambah lagi saat di hadapkan dengan senyuman luar biasa mempesona milik suaminya.

Sehun memeluk tubuh kecil istrinya lagi, mengecup pipi merona itu lagi dan berujar, "Aku sudah terbiasa ada kau di sampingku, jadi aku benar-benar merindukan mu walaupun satu detik kita tidak bertemu"

Luhan mendecih mendengar gombalan suaminya, "Kau tahu, gombalan mu sekelas dengan jajanan kaki lima; Recehan"

"Mulut ini bisa tidak mengeluarkan kalimat yang lebih manis dan tidak menyakiti orang", ujar Sehun sambil menjepit bibir istrinya dengan kedua jarinya.

Melepaskan jepitan Sehun, gadis cantik itu mencebikkan bibirnya, "Baiklah, aku lupa jika suamiku tidak menyukai wanita bermulut pedas seperti ku. Aku lupa jika suamiku sangat menyukai gadis lemah lembut seperti Hayeong"

"Sekarang aku tahu jika kau benar-benar cemburu", kata Sehun senang yang mengundang dengusan masam sang istri, lucu saja mendapati fakta bahwa Luhan tidak sungkan lagi menutupi kecemburuannya, "Luhan-ie?"

"Hm? Apa?"

"Tidur di mana kau dua malam kemarin?"

"Rahasia"

"Apa kau tidur di rumah eomma dan appa?"

Tidak menjawab, Luhan mengalihkan pembicaraan dengan cara memainkan phonselnya, terserah Sehun menebaknya tidur di mana Luhan tidak akan perduli, dia tidak mau Sehun mengetahui jika ia tidur di apartemen Kyungsoo. Sama seperti apa yang dia lakukan pada Baekhyun, dia tetap akan merahasiakan tempatnya kabur jika ia bertengkar dengan Sehun lagi.

"Berjanji setelah kelasmu berakhir kau akan pulang ya?", kata Sehun memilih mengalah dan tidak memaksa istrinya untuk memberitahunya, "Jika kau tidak pulang aku akan menganggap mu benar-benar cemburu pada Hayeong"

"Hm, aku pulang"-tidak janji tapi-, lanjutnya dalam hati, wajahnya kontras dengan wajah bahagia Sehun, gadis cantik itu justru sedang memasang wajah masamnya, ia benar-benar mengutuk kemampuan bicara Sehun yang membuatnya kalah telak.

"Luhanie.."

"Apa Oh Sehun?"

"Cium aku..!", katanya sambil menunjuk bibir Luhan.

"Kau ingin bibirku berdarah lagi karena mendapat tamparan kekasihmu?", katanya bersungut-sungut yang membuat Sehun terkekeh, "Kan ada Minhyun yang akan mengobati mu"

Refleks Luhan mengulum bibirnya guna menyembunyikan senyuman tertahannya, ia tidak pernah menduga jika Sehun akan menyindirnya dengan nada kesal seperti itu, apa Sehun cemburu?.

Luhan memalingkan wajahnya yang kembali terasa panas, sedikit berdehem untuk kembali memandang wajah tampan suaminya yang sesungguhnya sangat ia rindukan, "Jangan cemburu, aku tidak berkencan dengannya", kata Luhan yang membuat tawa Sehun pecah. Sehun benar-benar gemas dengan tingkah istrinya yang pernah melarangnya untuk terlalu percaya diri tapi kini justru wanita itulah yang menunjukkan kepercayaan dirinya, "Percaya diri sekali", cibirnya yang membuat si cantik mendengus, "Ayo cium aku, aku merindukan istriku", kata Sehun untuk menggoda istrinya yang sudah merona parah.

"Tidak mau, aku masih sayang dengan pipiku"

"Tenang saja dia masih ada kelas, lihatlah kantin sangat sepi saat ini"

Luhan tetap menggeleng, belum mau berciuman dengan sang suami. Kemudian gadis cantik itu melirik jam mungil yang melingkar manis di tangannya, "Aku harus kembali ke kelas", di rasa sudah terlalu lama ia meninggalkan kelas, Luhan khawatir jika Minhyun akan menyusulnya karena mengkhawatirkannya.

"Tidak perlu terlalu giat belajar, kau sudah menjadi istri orang saat ini"

"Menurutmu aku sudih menjadi pengangguran dan hanya menghabiskan umurku dengan melayani dan mengurusmu? Maaf saja ak-,"

"Jangan di lanjutkan, kendalikan mulut pedasmu itu"

Luhan mencebik, kembali menelan ocehannya saat Sehun memperingatinya, "Arasseo aku diam", katanya lemah, "Ngomong-ngomong berada di level berapa pedasnya mulutku?", tanyanya penasaran.

"Tidak akan terasa pedas jika kau mengunyah marshmallow atau sweet wine di dalam mulutmu"

Plak

Tidak perduli jika Sehun akan memarahinya Luhan langsung menggeplak kepala berisi otak mesum suaminya. Bisa-bisanya Sehun mengingatkannya dengan marshmallow dan sweet wine. Makanan dan minuman manis itu pernah mereka gunakan saat mereka sedang melakukan seks di meja makan. Jadi wajar jika Luhan luar biasa kesal dengan mulut sialan suaminya.

"Kau benar-benar kasar Luhan, aku bisa melaporkan mu atas tuduhan kekerasan dalam rumah tangga"

"Terserah aku tidak peduli", katanya ketus, tidak kasihan sama sekali melihat sang suami yang sedang mengusap kepalanya, "Sudahlah aku akan kembali ke kelas", kata Luhan yang sudah bersiap meninggalkan suaminya.

"Janji dulu jika kau akan pulang ke apartment kita?!"

"Aku tidak janji", kata Luhan jujur, dia ingin berdamai bukan berarti dia mau kembali hidup berdua dengan suaminya.

"Janji Luhan...!"

"Tidak bisa..", saat mengingat pinguin cantik yang membuatnya betah menumpang itu Luhan semakin keras menolak keinginan Sehun.

"Baiklah aku akan membuntuti mu kalau begitu dan menemukan di mana tempat kau bersembunyi beberapa hari ini"

Plak

"Aku membenci mu Oh Sehun"

"Aku mencin-,", refleks Sehun menggigit lidahnya, matanya dan mata Luhan kembali bertatapan seperti dulu, dulu sekali. Sehun tidak tahu kenapa lidahnya ingin mengatakan kalimat yang seharusnya tidak dia katakan itu, Sehun tidak tahu bagaimana lidahnya bisa lebih dulu bekerja tanpa memprosesnya terlebih dahulu.

"Sehun-ah.."

"Kembalilah ke kelas mu, aku akan menunggumu di parkiran kampus", Sehun ikut berdiri, mengecup lama bibir dan kening istrinya sebelum berlalu dari sana, meninggalkan Luhan yang terdiam mematung memikirkan ucapannya tadi, meninggalkan Luhan dengan jantungnya yang semakin berdebar tidak karuan.

"Kenapa jantungku berdetak kencang?" -Oh Luhan

"Kenapa mulut ku mengkhianatiku?" -Oh Sehun

.

.

.

.

.

Tbc

Baby!

Anyway gw hanya bilang minhyun itu cowok cerdas dan pendiam, bukan culun dan bergaya norak. Kkkkkk baca yang teliti ya sayang.

9K

Review juseyo