CHAPTER SEBELUMNYA:
'Tou-sama, aku telah menemukan pasanganku. Dia adalah tipe laki-laki idaman yang kucari selama ini. Aku sudah jatuh cinta padanya. Lalu aku akan membuat dia segera menjadi milikku. Aku akan memberitahukan kabar baik ini pada Tou-sama kalau aku sudah menemukan calon suamiku. Ya, aku harus segera pulang sekarang juga,' batin Shion yang kegirangan di dalam hatinya. Ia segera berbalik badan dari arah berlawanan dengan Naruto dan Koneko. Ia berlari cepat menuju arah jalan lurus terbentang. Jalan yang mengarah pada istana pagoda yang berdiri dengan megahnya di puncak bukit sana. Istana pagoda berlantai lima dengan ukiran klasik dan berwarna ungu keemasan.
Jadi, siapakah Shion yang sebenarnya?
.
.
.
"Sudah selesai, Naruto-sensei. Aku sudah membalut luka sensei dengan batang daun keladi ini. Semoga lukanya cepat kering dan ..."
Koneko menghentikan perkataannya ketika memandang ke arah Naruto. Ia sedang mengobati luka di pergelangan kiri tangan Naruto dengan pengobatan alami yang didapatkannya dari tanaman daun keladi saat berada di kaki bukit yang dipenuhi tanaman obat-obatan liar tumbuh subur di tempat itu.
Naruto duduk bersila sambil menyandarkan punggungnya pada batang pohon, sedangkan Koneko duduk bersimpuh sambil berhadapan dengan Naruto. Mereka sedang duduk di bawah pohon rindang yang sangat besar. Sehingga melindungi mereka dari terpaan sinar matahari yang sangat menyengat.
Gadis berambut putih itu terdiam saat dipandangi Naruto dengan aneh. Apalagi dia masih memegang tangan kiri Naruto dengan dua tangannya. Mereka saling memandang antara satu sama lainnya. Sepertinya terjadi suatu magnet yang menarik hati masing-masing. Entah apa yang terjadi.
Hening.
Tempat yang dipenuhi semak-semak, pohon-pohon besar dan rindang, lapangan rumput hijau yang begitu luas, banyak tanaman obat-obatan liar tumbuh subur serta tanaman bunga-bunga beranekaragam jenis warnanya, juga menghiasi pemandangan di kaki bukit itu. Di tebing bukit, tampak tanaman bunga eldeweiss tumbuh mekar. Bunga keabadian. Semua bentuk bunga bermekaran di tempat yang disinggahi oleh Naruto dan Koneko.
WHUUUSH!
Angin sepoi-sepoi berhembus pelan di tempat itu. Ikut meramaikan suasana hening itu. Mereka menyaksikan guru dan murid yang sedang beristirahat sejenak di sana.
Karena merasa heran dipandangi Naruto seperti itu, Koneko memberanikan dirinya untuk menanyakan itu pada Naruto.
"Se-Sensei ... Kenapa sensei memandangku seperti itu?" tanya Koneko keheranan.
Naruto terus memandangnya begitu lama. Sedetik kemudian, ia tersenyum kecil.
"Koneko, terima kasih."
"Te-Terima kasih untuk apa, sensei?"
"Terima kasih karena kamu sudah mengobati lukaku ini. Kamu memang muridku yang sangat baik."
Koneko terdiam mendengarnya. Wajahnya sedikit kusut. Entah mengapa hatinya menjadi tidak menentu di saat Naruto masih menganggapnya sebagai muridnya.
'Apa yang kupikirkan sekarang? Aku memang muridnya, Naruto-sensei. Aku bukan pacarnya ataupun istrinya. Tapi, entah mengapa aku ingin sekali memilikinya. Aku ingin mengelus wajahnya yang begitu menarik hatiku. Aku ingin selalu berada di dekatnya. Memegang tangannya seperti ini. Apalagi aku berusaha belajar memasak dengan Konan karena aku berpikir kalau aku bisa memasakkan makanan yang enak buat Naruto-sensei nantinya. Aku memang mencintai sensei sekarang. Tapi, apa mungkin sensei juga mencintai aku? Itu yang membuatku sangat takut jika mungkin sensei mencintai gadis lain. Sensei memang menarik. Semua gadis yang melihat pesonanya, pasti akan langsung jatuh cinta padanya. Termasuk gadis bercadar tadi,' batin Koneko panjang lebar di hatinya.
Naruto pun keheranan melihat Koneko yang melamun. Ia mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah Koneko.
"Hei, Koneko, kamu kenapa?"
"Eh?" Koneko tersadarkan dari lamunannya yang menghanyutkan. Ia langsung menatap wajah sang guru lagi.
"Kamu kenapa lagi?"
"Ah, ti-tidak ada apa-apa kok, sensei."
"Benar?"
"Benar."
"Akhir-akhir ini, kamu banyak melamun. Sepertinya kamu harus berlatih lagi, Koneko."
"Eh, ber-berlatih lagi? Waktu di hutan, aku sudah banyak berlatihkan, sensei? Aku sudah bisa menggunakan teknik pedang yang sensei ajarkan padaku. Jadi, apa yang harus aku pelajari lagi, sensei?"
Koneko mengatakannya sambil tetap memegang tangan kiri Naruto. Ia merasa sudah cukup berpengalaman karena Naruto sudah mengajarkannya tentang teknik pedang kusanagi itu. Jadi, Naruto bakal memberikannya suatu latihan yang baru.
Naruto berwajah datar. Pandangannya juga datar saat menatap Koneko.
"Jangan membantah. Aku sudah bilang kalau kamu harus mematuhi semua yang kuperintah, kan? Kamu adalah muridku. Jadi, sebagai gurumu, aku harus memberimu pelajaran tambahan agar kamu semakin berani dalam menghadapi musuh yang sangat kuat nantinya. Latihannya sangat sederhana saja, Koneko. Kamu mengerti?"
Koneko terperanjat. Lalu melepaskan genggaman tangannya dari tangan kiri Naruto. Ia menundukkan kepalanya dengan raut wajah takut karena Naruto mulai kelihatan marah padanya. Tubuhnya sedikit gemetar. Kedua tangannya diletakkannya pada dua pahanya.
"Ma-Maaf, sensei. A-Aku tidak bermaksud membantahmu. A-Aku mohon sensei tidak marah padaku."
Pandangan datar Naruto melembut. Ia tersenyum sambil memegang puncak rambut Koneko.
"Tentu saja, aku tidak marah padamu, Koneko," kata Naruto dengan nada yang lembut."Jangan menunduk seperti itu. Ayo, kita latihan sekarang. Angkat wajahmu dan tatap aku."
Atas perintah sang guru, Koneko mengangkatkan kepalanya. Ia menatap wajah sang guru.
"Iya, sensei. Jadi, kita latihan sekarang, sensei?"
Naruto mengangguk cepat. Ia menjauhkan tangannya dari puncak rambut Koneko. Senyumannya pun menghilang. Wajahnya berubah menjadi serius.
"Kalau begitu ... Latihannya dimulai sekarang ...," kedua mata Naruto menajam."KONEKO, AYO LAWAN AKU SEKARANG JUGA!"
.
.
.
Disclaimer:
Naruto © Masashi Kishimoto
High School DxD © Ichiei Ishibumi
.
.
.
Pairing: Naruto x Koneko
Genre: romance/adventure/fantasy
Rating: M
Setting: AU (zaman samurai. Desa-desa ninja dijadikan desa biasa.)
Jumat, 1 Januari 2016
.
.
.
Fic request dari Bima Ootsutsuki
.
.
.
THE WANDERERS
By Hikasya
.
.
.
Chapter 7. Naruto dilamar?!
.
.
.
"KONAN! TUNGGU AKU!"
Terdengar suara teriakan yang sangat keras dan mengagetkan semua orang di jalanan desa tersebut. Suara teriakan itu berasal dari mulut seorang pria berambut orange yang sedang mengejar seorang gadis berambut biru. Gadis itu berjalan bersama pria berambut merah.
Siapa lagi kalau bukan tiga serangkai yaitu Akatsuki. Yahiko, Konan dan Nagato.
Tampak Yahiko bersusah payah mengejar Konan dan Nagato yang terus berjalan tidak tentu arah. Mereka hanya sekedar berjalan-jalan mengelilingi desa Hana itu. Tidak ada niat untuk singgah di tempat manapun.
"KONAN, NAGATO! TUNGGU!"
Sekali lagi Yahiko berteriak sangat keras melebihi sebelumnya. Ia sangat kesal karena Konan malah membawa Nagato pergi. Padahal ia ingin pergi berdua bersama Konan. Tentunya pergi berkencan.
Konan tidak menggubrisnya. Sementara Nagato juga mempedulikan Yahiko. Tapi, dia terus diseret oleh langkah Konan. Tidak mampu berbuat apa-apa sekarang.
Pada akhirnya, Yahiko berhasil mengejar mereka. Ia berjalan pelan di samping Nagato. Napasnya tersengal-sengal. Keringat dingin pun mengucur di sela-sela rambut orange-nya.
"A-Akhirnya, aku bisa mengejar kalian. Hosh ... Hosh ... Hosh ...," tukas Yahiko yang sangat kelelahan.
Nagato melirik ke arah Yahiko.
"Kau capek, Yahiko?" tanya Nagato.
"Ten-Tentu saja, a-aku capek, tahu!" jawab Yahiko ketus.
"Kalau kamu capek, gimana kalau kita singgah di kedai makan sekarang, Yahiko?" tawar Konan tiba-tiba.
"Hahaha, itu ide bagus, Konan," Yahiko tertawa lebar."Jadi, kamu yang traktir ya, Konan? Apa kita bisa berkencan sekarang?"
Konan menatap ke arah Yahiko dengan intens. Ia sedikit tersenyum.
"Aku anggap ini kencan. Tapi, ada syaratnya."
"Apa? Apa syaratnya, Konan?"
Yahiko tampak penasaran. Ia tidak sabar ingin mendengarkan jawabannya dari Konan.
"Syaratnya adalah Nagato harus ikut juga dalam kencan ini. Bagaimana?"
"Boleh. Aku setuju."
"Ada lagi syaratnya."
"Eh, ada lagi?"
"Iya. Keberatan?"
Konan berwajah sewot. Yahiko tersenyum kikuk.
"A-Aku tidak keberatan sama sekali. Jadi, apa syaratnya?"
"Syaratnya ... Gampang. Kamu harus traktir aku dan Nagato. Kamu yang bayar semuanya."
"Boleh. Aku setuju."
"Baguslah."
"Eh, tu-tunggu dulu!"
"Apalagi?"
"Kenapa aku lagi yang mentraktir kalian?"
"Lho, itu sudah syarat mutlaknya. Kalau kamu tidak mau, kita batalkan saja kencan ini."
"Eh? Eh? Eh? JANGAN DIBATALKAN KONAN!"
"Kalau begitu, jangan banyak protes lagi," Konan langsung menjewer telinga Yahiko."Ayo, jalan dan cari tempat makannya!"
Yahiko pun kesakitan saat telinganya dijewer oleh Konan. Konan tidak menarik tangan Nagato. Justru ia dan teman-temannya memutuskan berhenti berjalan sejenak.
"Ma-Maaf, Konan. Ma-Maafkan aku," sahut Yahiko serius. Ia benar-benar kewalahan ketika dijewer oleh Konan.
Tingkah mereka yang terlalu heboh, membuat perhatian orang-orang tertuju padanya. Semua orang yang lewat, memasang wajah penuh keheranan ketika melihat mereka. Mereka menjadi pusat perhatian dan bahan pertanyaan di benak semua orang. Semua orang bertanya-tanya dalam hatinya masing-masing.
Siapakah tiga serangkai itu? Mereka adalah orang asing yang baru saja tiba di desa Hana itu. Sungguh membuat penasaran sekali. Begitulah yang dipikirkan semua orang sekarang.
.
.
.
Di kaki bukit sekarang, di tengah lapangan rumput hijau yang begitu luas. Tampak Naruto dan Koneko yang saling berhadapan. Mereka berjarak agak jauh. Mereka saling menatap serius.
"Nah, Koneko. Hari ini latihannya adalah kamu harus melawanku dengan menggunakan pedang kusanagi itu. Jangan takut untuk melawanku. Anggap aku sebagai musuhmu yang terkuat. Aku harap kamu serius melawanku. Jangan main-main," sahut Naruto menjelaskan terlebih dahulu sebelum memulai latihan."Aku sudah mulai tahu tipe kekuatanmu yang sesungguhnya. Kamu memiliki kekuatan elemen api yang berwarna merah, tapi terkadang berwarna biru. Kekuatanmu ini bisa bersinkronisasikan pada pedang kusanagi itu. Jadi, salurkan kekuatan elemen apimu pada pedang itu. Lalu langsung serang aku dengan serangan pedang itu. Kamu mengerti?"
Koneko mengangguk dengan instruksi yang dijelaskan oleh Naruto.
"Iya, aku mengerti, sensei!"
"Kalau begitu, coba sekarang juga."
"Baik!"
SRET!
Koneko menyabet pedang kusanagi itu dari sarungnya yang disandang di belakang tubuhnya. Ia pun mengacungkan pedang itu ke depan, tepat ke arah Naruto.
"Aku sudah siap, sensei."
"Bagus, coba salurkan kekuatan elemen apimu yang berwarna biru ke pedang itu."
"Baik, sensei!"
Koneko pun berusaha mengeluarkan elemen api birunya dari dalam tubuhnya.
SRIIING!
Aura kebiruan menguar dari dalam tubuh Koneko. Koneko berusaha lagi untuk memusatkan aura kebiruan itu ke pedang kusanagi yang dipegangnya itu. Benar, pedang kusanagi pun dipenuhi api biru yang berkobar-kobar.
Naruto tersenyum penuh arti. Ia pun berseru lagi.
"AYO, SERANG AKU DENGAN PEDANG BERAPI ITU SEKARANG JUGA, KONEKO!"
Koneko tersentak. Ia segera mengangguk cepat.
"Baik, sensei!"
Koneko mengayunkan pedangnya dengan gerakan horizontal.
BWOOOSH!
Api biru berkobar dan meluncur secara horizontal ke arah Naruto. Naruto menyadari serangan itu. Ia melompat tinggi di udara.
WHUUUSH!
Serangan api biru tadi menghilang di udara. Naruto mencoba menyerang Koneko dengan serangan elemen anginnya.
Dalam sekali gerakan tangannya, Naruto mampu membuat tebasan angin berbentuk horizontal. Serangan itu tidak terlihat. Tapi, Koneko mampu merasakannya.
DASH!
Aura kebiruan pada tubuh Koneko membentuk sebuah perisai seperti tangan kucing raksasa. Tangan kucing itu menahan serangan tebasan angin Naruto itu.
HUP!
Naruto mendarat di sisi lain, tak jauh dari Koneko sekarang. Ia agak kaget melihat kekuatan tangan kucing raksasa yang terbentuk dari aura kebiruan di tubuh Koneko. Ternyata Koneko menyimpan suatu rahasia kekuatan yang belum sepenuhnya diketahui oleh Naruto sendiri.
Tapi, Naruto malah menyeringai senang. Ia pun bersemangat untuk melawan muridnya itu.
"Menarik! Koneko, kamu memang unik!"
Lalu kedua mata Naruto menyipit tajam ke arah Koneko sekarang. Ia pun mengeluarkan serangan yaitu rasen shuriken. Jurus bola biru yang berputar-putar seperti shuriken ketika Naruto mengangkat tangan kanannya menghadap langit.
Dengan cepat, ia melemparkan serangan rasen shuriken itu ke arah Koneko. Koneko menyadari serangan Naruto itu.
SYAAAAT!
Serangan rasen shuriken itu lewat begitu saja dan tidak mengenai Koneko. Sebagai gantinya, serangan itu mengenai pohon.
BLAAAAR!
Batang pohon terbakar hebat. Tapi, Naruto tidak lengah sedikitpun.
Tanpa diduga, Koneko sudah tiba di belakang Naruto. Naruto menyadarinya dan menoleh ke arah belakang.
"KUSANAGI SLASH!"
Pedang kusanagi berapi biru melayang cepat ke arah Naruto. Terlambat, Naruto tidak sempat menghindar dan membiarkan dirinya terkena serangan pedang kusanagi itu.
BLAAAAR!
Membuat Naruto terlempar begitu saja ke belakang.
BRUAAAAK!
Naruto mendarat dan terseret beberapa meter di rerumputan hijau itu. Perutnya yang terkena serangan Koneko tadi, melepuh dan berasap.
Melihat gurunya terkapar begitu, membuat Koneko menjadi panik sekali. Aura kebiruan menghilang dari tubuhnya. Ia pun berlari cepat menghampiri sang guru.
"NARUTO-SENSEI!"' teriak Koneko menggelegar.
Begitu dekat, ia menancapkan pedang kusanaginya di tanah. Ia berlutut di samping Naruto. Ia berwajah panik karena melihat Naruto yang tampak kesakitan sambil memegangi perutnya. Perutnya sudah tercetak luka bakar yang melepuh.
"Ukh, sakit!" keluh Naruto yang mengeluh kesakitan.
Koneko semakin panik saja dibuatnya. Ia pun kebingungan harus melakukan apa sekarang.
"Naruto-sensei, bertahanlah! Aduh, aku harus bagaimana sekarang?"
Gadis berambut putih itu celingak-celinguk. Ia sangat panik. Sang guru merasa sakit pada perutnya yang sudah terluka cukup parah.
Tanpa diduga, tiba-tiba muncul seseorang yang membekap mulut Koneko dari arah belakang. Koneko kaget setengah mati.
"Hm ... Hm ... Hm ...," Koneko membelalakkan kedua matanya saat bersamaan Naruto yang terkapar di depannya itu, menghilang dan meninggalkan kepulan asap.
POF!
Rupanya itu jebakan. Ternyata Naruto yang terkena serangan Koneko tadi adalah kloning Naruto. Naruto yang asli sekarang berdiri di belakang Koneko. Dia membekap mulut Koneko dengan tangannya.
"Kena kamu, Koneko," kata Naruto yang berwajah sangat datar."Aku sudah bilang jangan takut menghadapiku. Anggap aku adalah musuh terkuatmu. Tapi, kamu lengah juga, Koneko. Kamu terlalu lembek dan tidak tega melawan musuhmu ini."
Koneko ingin menjawabnya, tapi mulutnya masih dibekap oleh Naruto. Ia masih terdiam hingga Naruto pun melepaskan bekapannya dari mulutnya sehingga ia bisa menjawab perkataan Naruto tadi.
"Ma-Maaf, sensei. A-Aku tidak serius melawan sensei. Ka-Karena aku tidak ingin menyakiti sensei."
"Kenapa kamu tidak mau menyakitiku, Koneko?"
Koneko tersentak. Buru-buru ia bangkit berdiri.
"Ah, i-itu karena sensei adalah sensei-ku. Tidak mungkin aku bisa menyerang sensei. Aku tidak berani. Aku tidak ingin menyakiti sensei lagi. Itu sama saja membuatku sangat panik. Aku tidak tega melihat sensei harus terluka. Maafkan aku, sensei. Aku tidak bisa berlatih seperti ini lagi."
Koneko menundukkan kepalanya. Saat bersamaan, Naruto bangkit berdiri, tepat di belakang Koneko. Ia tersenyum dan memegang puncak kepala Koneko.
"Baiklah, sesuai apa yang kamu mau. Kita akhiri latihan hari ini. Bagaimana kita pulang ke penginapan sekarang?"
Wajah Koneko memerah. Ia masih menundukkan kepalanya. Mengangguk pelan dengan patuh.
"Iya, sensei. Lebih baik pulang ke penginapan sekarang."
Tangan Naruto menjauh dari puncak kepala Koneko. Ia langsung mencabut pedang kusanagi yang menancap di tanah sedari tadi. Lalu diberikannya pedang kusanagi itu pada Koneko. Koneko menerimanya dengan kepala yang masih menunduk.
"Ini pedangmu."
"Iya, sensei. Terima kasih."
"Tapi, jangan menundukkan kepalamu seperti itu," Naruto memegang dagu Koneko sehingga terangkat dan mengarah pada wajahnya."Kamu harus menatapku ketika aku berbicara padamu. Kamu mengerti, Koneko?"
Wajah Koneko sedikit memerah. Ia mengangguk cepat saat melihat Naruto yang tersenyum padanya. Membuat hatinya berbunga-bunga sekarang.
'Sensei ... Senyumanmu memang manis. Aku semakin cinta padamu,' batin Koneko yang kasmaran di dalam hatinya.
Lantas Naruto menjauhkan tangannya dari dagu Koneko. Ia langsung menarik tangan Koneko begitu saja.
"Ayo, kita pulang!"
"Ba-Baiklah, sensei!"
Koneko pun terseret lagi oleh tarikan tangan Naruto. Naruto sudah membuatnya semakin cinta saja. Dia tidak sabar ingin memiliki hatinya Naruto. Entah kapan kiranya dia bisa menjadi milik Naruto seutuhnya.
'Ya, kami-sama, satukan aku dengan Naruto-senpai dalam ikatan suci. Aku sangat mencintainya. Aku tidak sanggup berpisah dengannya. Jangan jauhkan aku darinya. Aku ingin selalu dekat dengannya untuk selamanya. Kabulkanlah, kami-sama,' itulah doa yang menjelma di hati Koneko sekarang.
Semoga saja doanya itu dikabulkan oleh sang Kami-sama. Semoga impiannya menjadi kenyataan. Naruto menjadi miliknya untuk selamanya.
.
.
.
GREK!
Pintu kamar bergeser ke arah samping, tampak pria berambut orange memasuki kamar dengan tergesa-gesa. Menghampiri seorang pria berambut pirang yang masih tidur di balik selimutnya yang tebal.
"GAWAT! GAWAT! NARUTO! NARUTO!"
Suaranya yang begitu berisik sukses membangunkan dua temannya yang masih tertidur. Naruto dan Nagato pun terbangun secara bersamaan.
"Hei, Yahiko. Ada apa, hah? Kenapa kau berisik begitu?" sembur Naruto menggerutu kesal dengan muka yang sangat sewot.
SET!
Yahiko berlutut di samping Naruto dan menyerahkan sesuatu pada Naruto. Naruto memperhatikannya. Sesuatu itu adalah sebuah gulungan yang diikat dengan tali berwarna ungu di tengahnya.
"Naruto, ini."
"Ini apa?"
Naruto mengerutkan keningnya sambil bangkit dan terduduk di kasurnya. Ia memandangi Yahiko dengan heran.
"Ini adalah surat kiriman dari istana kerajaan yang memerintah desa ini. Aku mendapatkannya dari Kanon-nee. Kanon-nee bilang, utusan kerajaan memberikan surat ini untukmu saja. Aku tidak tahu isinya apa. Tapi, coba kau baca saja. Mungkin saja penting."
Tanpa berpikir panjang lagi, Naruto menyambar gulungan yang ternyata sebuah surat. Lalu membukanya dengan cepat. Segera saja ia membaca isi surat itu, dengan tulisan kanji jepang kuno yang sangat indah.
Isi surat itu tertulis seperti ini:
Untuk Uzumaki Naruto.
Melalui surat ini, aku berniat untuk mengundangmu datang ke istana kerajaan Hana dalam rangka acara makan siang sebagai rasa terima kasihku karena kamu sudah menolongku sewaktu di kedai makanan kemarin. Aku ingin kamu datang sendirian saja karena sang kaisar yang memintanya. Kamu harus menemui sang kaisar pada siang hari ini, saat matahari sudah berada di atas kepala. Sang kaisar ingin membicarakan sesuatu hal penting padamu secara empat mata. Aku harap kamu memenuhi undanganku ini. Dengan begitu, aku sangat senang jika kamu datang juga untuk memenuhi undangan ini.
Cukup di sini, semuanya kusampaikan padamu. Atas perhatianmu, aku mengucapkan terima kasih.
Tertanda
Hanamoto Shion
Setelah membaca surat itu, Naruto pun terpaku dan terdiam. Ia memandangi gulungan surat itu dengan wajah yang kusut. Yahiko dan Nagato sampai heran melihatnya.
"Ada apa, Naruto?" tanya Yahiko penasaran.
Naruto menutup kembali gulungan surat itu.
"Aku diundang makan siang ke istana kerajaan Hana ini. Kaisar yang memintaku datang, siang ini juga," jawab Naruto sambil melihat ke arah Yahiko.
Yahiko pun senang mendengarnya. Wajahnya berbinar-binar begitu.
"Wah, asyik dong! Diundang makan siang oleh kaisar. Aku dan semuanya juga diundang, tidak?"
"Tidak. Cuma aku sendiri saja yang diundang."
DOOONG!
Wajah Yahiko menggelap. Aura kesuraman hinggap di atas kepalanya. Ia pun menunduk lesu.
"Kenapa begitu? Kenapa hanya kau saja yang diundang? Ini sangat aneh. Kenapa kaisar itu bisa tahu tentangmu dan bisa menemukanmu berada di penginapan ini?"
"Aku tidak tahu, Yahiko. Aku saja tidak mempunyai kenalan yang berasal dari istana kerajaan Hana ini ...," Naruto menggeleng-gelengkan kepalanya dengan cepat."Tapi, kecuali Hanamoto Shion."
"Hanamoto Shion? Siapa dia, Naruto?" Nagato ikut bertanya. Dia sudah duduk dan bangun dari tidurnya.
Pandangan Naruto tertuju pada Nagato.
"Hanamoto Shion itu, orang yang kukenal saat menolongnya dari serangan samurai di kedai makanan. Kemarin, aku berkenalan dengannya. Waktu itu, Koneko juga ikut bersamaku. Jadi, dia juga tahu soal Hanamoto Shion itu."
"Oh, begitu."
Nagato manggut-manggut mengerti. Lantas perhatian Naruto beralih pada gulungan itu. Ia pun berpikir keras tentang maksud sang kaisar mengundangnya makan siang. Apalagi orang yang menulis surat ini adalah Hanamoto Shion. Jadi, sesuatu yang mencurigakan dan membuat penasaran itu adalah ...
Siapakah Hanamoto Shion itu sebenarnya?
'Hm ... Apa maksudnya sang kaisar dari kerajaan Hana ini, mengundangku makan siang ke istananya? Lalu gadis yang bernama Hanamoto Shion itu. Siapa dia sebenarnya? Hubungannya dengan sang kaisar itu. Aku harus mencari tahu dengan cara pergi memenuhi undangannya. Aku penasaran apa yang ingin kaisar bicarakan padaku. Ya, aku harus datang ke istana itu sekarang,' batin Naruto yang mulai bertekad di dalam hatinya.
Akhirnya ditetapkan, Naruto akan datang dan memenuhi undangan makan siang dari Shion itu. Entah apa maksudnya. Karena itu, Naruto akan mencari tahu. Dengan begitu, dia bisa tahu maksud sang kaisar yang sangat ingin berjumpa dengannya.
Inilah awalnya. Perasaan cinta akan menemukan jalannya.
.
.
.
Sebelum tengah hari tiba, Naruto pun bergegas untuk segera pergi keluar dari penginapan. Dengan mengenakan pakaian yang sama seperti kemarin itu, Naruto sudah memantapkan hatinya untuk memenuhi undangan itu. Sementara teman-temannya yang lain, tidak menghambatnya untuk pergi ke istana yang berada di puncak bukit itu. Kecuali satu orang yaitu Koneko sendiri.
Ketika Naruto sudah tiba di depan penginapan, di antara keramaian orang-orang yang lewat di jalanan. Koneko mengejar dan memanggil Naruto dengan suara yang keras.
"NARUTO-SENSEI! TUNGGU! AKU IKUT, NARUTO-SENSEI!"
Naruto menghentikan langkahnya. Ia menoleh ke arah Koneko yang sedang berlari-lari kecil menghampirinya. Ia pun terheran-heran.
"Koneko?"
"Sensei ... Sensei mau kemana?" tanya Koneko yang tampak sedikit terengah-engah."Sensei meninggalkan aku begitu saja. Kemana pun sensei pergi, aku akan selalu mengikuti sensei. Aku sudah memberitahukan semuanya pada sensei, kan?"
Koneko berwajah kusut. Naruto memandang Koneko dengan wajah yang sangat datar.
"Aku mau pergi ke istana kerajaan Hana ini, untuk memenuhi undangan kaisar. Ada sesuatu yang penting dibicarakannya padaku," jawab Naruto langsung.
Koneko mengangguk mengerti.
"Tapi, aku boleh ikutkan, sensei?"
"Tidak boleh. Cuma aku saja yang disuruh datang ke istana."
"Tapi sensei. Aku tidak ingin ditinggalkan oleh sensei karena aku ..."
Koneko memutuskan perkataannya, ia tidak sanggup meneruskannya. Ia masih berwajah kusut.
"Karena apa, hah?"
Naruto tampak penasaran. Ia menatap Koneko dengan teliti.
"Ti-Tidak. Tidak ada apa-apa. Kalau sensei tidak mengizinkan aku ikut bersama sensei, aku tidak akan ikut. Lebih baik aku tinggal bersama Konan dan yang lainnya di penginapan."
"Itu yang lebih baik. Syukurlah kamu mengerti, Koneko," kata Naruto dengan nada yang tegas."Untuk kali ini, jangan ikuti aku. Kamu tetap tinggal saja di penginapan. Jangan kemana-mana sebelum aku kembali. Apa kamu mengerti?"
Koneko mengangguk pelan seiring Naruto membalikkan badannya untuk mulai melangkah lagi. Ia merasa kecewa karena sang guru tidak memperbolehkan dirinya ikut bersama sang guru. Ia takut sang guru akan menemukan masalah yang sangat besar. Ia tidak ingin Naruto bertemu dengan sang putri kaisar yang memerintah desa Hana ini karena ia mengetahui dari pemilik penginapan bahwa putri kaisar sangat cantik dan bertubuh indah. Sang putri sedang mencari calon suaminya yang ideal untuk dijadikan pengganti kaisar yang sekarang. Sang kaisar menginginkan putrinya cepat menikah. Apalagi tahta kerajaan Hana akan jatuh pada tangan calon suami sang putri ketika sudah menikah nanti. Karena itu juga, banyak pria yang meminang sang putri, tapi ditolak mentah-mentah oleh sang kaisar. Sang kaisar ingin menikahkan sang putri dengan seorang pria yang tangguh, berani, baik dan tulus. Itulah yang didengar oleh Koneko saat pemilik penginapan bercerita dengan Konan di ruang tamu penginapan, lima belas menit yang lalu.
Koneko pun hanya memilih terdiam dan terpaku memandangi kepergian Naruto. Ia sangat sedih jika Naruto meninggalkannya begitu saja. Padahal Naruto sudah berjanji untuk tidak pernah meninggalkannya. Tapi, kini janji itu tinggallah janji. Naruto hanya mengumbar perkataan yang kosong, tapi isinya tidak tampak dilakukan. Begitulah kenyataan yang dirasakan oleh Koneko.
GYUT!
Koneko mengepalkan dua tangannya kuat-kuat. Wajahnya berubah menjadi sangat serius. Kedua matanya menyipit tajam.
'Baiklah, untuk kali ini saja, aku menentang perintah sensei. Aku akan tetap mengikuti sensei. Aku tidak peduli sensei akan marah lagi padaku. Yang penting, aku selalu mengikuti kemanapun sensei pergi. Karena aku sangat mencintaimu, sensei,' batin Koneko yang bertekad di dalam hatinya.
Lalu ia pun mulai berlari-lari kecil menembus keramaian orang-orang yang lewat di jalan itu. Ia pergi menyusul Naruto yang telah berjalan jauh lurus ke arah perbukitan. Di mana istana pagoda berdiri di atas perbukitan itu. Di mana sang kaisar menunggu Naruto sekarang juga.
.
.
.
Di istana pagoda sekarang, tepatnya di ruang pertemuan antara Naruto dan Kaisar.
Kaisar adalah seorang pria berambut putih pendek. Berwajah masih muda padahal umurnya sudah tua. Mengenakan pakaian kebesarannya sebagai kaisar yang memimpin kerajaan Hana ini. Namanya Hanamoto Kaoru.
Ia sedang duduk bersimpuh berhadapan dengan Naruto. Mereka duduk di atas tatami dengan dibatasi meja kayu yang panjang. Begitu juga dengan Naruto. Dia duduk bersimpuh dengan penuh tanda tanya. Mengapa sang kaisar mengundangnya makan siang bersama secara mendadak begini?
Apalagi di depan mereka sekarang, sudah terhidang beberapa makanan yang lezat dan mewah serta minuman yang menyegarkan di atas meja. Sepertinya mereka belum memulai acara makan siang mereka karena terlebih dahulu berbicara empat mata yang sangat penting.
Setelah menemui sang Kaisar dalam proses yang panjang, Naruto pun mendengarkan maksud Kaisar yang mengundangnya untuk datang ke istana. Tanpa basa-basi lagi, sang Kaisar menyampaikan sesuatu yang penting pada Naruto secara langsung.
"Jadi, kau yang bernama Uzumaki Naruto itu?" tanya sang Kaisar berwajah datar.
"Ya, akulah orangnya, Yang Mulia," jawab Naruto menundukkan kepala dengan hormat.
Sang Kaisar tersenyum simpul. Ia memegang dagunya dengan tangannya. Lalu Naruto mengangkat kepalanya dan memandang ke arah sang Kaisar lagi.
"Hm ... Kau memang kelihatan seperti pria yang baik-baik. Bisa ceritakan tentang latar belakang dirimu yang sebenarnya, anak muda?"
"Bisa, Baginda," Naruto mengangguk cepat."Aku hanyalah seorang pengembara yang tidak mempunyai tujuan yang tetap. Aku anak yatim piatu yang hidup sedari kecil di panti asuhan. Aku tidak mengenal orang tuaku. Asal usulku yang sebenarnya, aku tidak mengetahuinya secara pasti. Saat umurku menginjak tiga belas tahun, aku sudah menempuh hidup berkelana ke seluruh negeri untuk mencari tahu tentang siapa aku yang sebenarnya. Hingga kini jawaban itu belum aku ketahui. Aku ingin mencari tahu siapa diriku yang sebenarnya. Itulah tujuan hidupku yang kucari saat ini."
Naruto mengatakannya dengan wajah yang sedikit kusut. Sang Kaisar mendengarkannya dengan baik. Ia hanya menampilkan senyumnya yang simpul.
"Begitukah? Ternyata kau seorang pengembara. Jadi, umurmu berapa, Uzumaki-san?"
"Ya, aku seorang pengembara, Yang Mulia. Umurku 18 tahun."
"Hm ...," sang Kaisar manggut-manggut."Umurmu sebaya dengan putri semata wayangku."
"Anda mempunyai seorang putri, Baginda?"
"Ya, namanya Hanamoto Shion."
"Eh, Hanamoto Shion?"
Naruto sangat kaget mendengarnya. Kedua matanya membulat sempurna. Mulutnya ternganga lebar.
Sang Kaisar pun keheranan melihatnya.
"Kenapa reaksimu seperti itu?"
"Ma-Maaf, baginda. Jadi, putri anda bernama Hanamoto Shion?"
"Ya, itu benar. Hanamoto Shion adalah putriku. Putri sematawayangku yang memiliki impian menjadi samurai yang ingin melindungi desanya. Dia adalah gadis yang keras kepala dan tidak bisa diatur. Padahal aku menginginkannya menikah secepatnya. Apalagi umurnya sudah menginjak delapan belas tahun sekarang, dia belum juga mau menikah. Padahal sudah banyak pria dari keluarga bangsawan dan keluarga kaya raya, meminangnya. Tapi, sang Hime menolak semua pinangan itu hanya untuk satu alasan yaitu ingin menjadi samurai yang hebat dan melindungi semua rakyatnya. Itulah impiannya. Aku sangat menghargai keputusan dan impiannya itu. Tapi, aku selalu menuntutnya agar cepat menikah agar dia bisa mendapatkan pendamping yang bisa menuntunnya ke arah impiannya yang begitu besar. Aku akan memberikan tahta kerajaan dan posisi Kaisar pada suami putriku nanti. Jadi, aku ingin putriku mendapatkan seorang pria yang kuat, wibawa, tangguh, baik hati dan tulus. Lalu putriku sudah menemukan tipe pria yang sangat disukainya. Dia sudah memberitahukan aku kalau dia sedang jatuh cinta pada pria yang telah menolongnya sewaktu diserang oleh kepala samurai di kedai makanan kemarin itu. Dia ingin menikah dengan pria yang telah menolongnya. Jadi, pria yang dimaksud oleh putriku adalah kau. Aku ingin kau mau menikahi putriku. Apakah kau mau menerima lamaranku ini atas nama putriku, Uzumaki-san?"
DEG!
Sekali lagi, kedua mata Naruto membulat sempurna. Mulutnya ternganga lebar. Dia sangat kaget dan sekagetnya.
"A-APA?!" Naruto sangat syok."Ma-Maksud anda mengundangku makan siang adalah memintaku menikahi putri anda?"
"Ya, itu benar. Putriku sangat mencintaimu. Dia ingin sekali menikah denganmu, Uzumaki-san."
Naruto masih kelihatan syok. Dia benar-benar tidak menyangka bakal dilamar oleh putri seorang Kaisar. Ini sungguh aneh. Seorang perempuan melamar seorang pria untuk menikah? Sungguh terbalik arah tujuan hidupnya.
Tapi, apa yang harus Naruto lakukan sekarang? Sepertinya sang Kaisar ingin mendengar jawabannya sekarang.
"Aku ulang permintaanku. Apakah kau mau menikahi putriku, Uzumaki-san? Aku membutuhkan jawabanmu sekarang. Tidak boleh ditunda. Putriku ingin segera meminta jawabanmu sekarang juga. Jadi, apa jawabanmu, Uzumaki-san?"
Sang Kaisar menatap Naruto dengan serius. Naruto juga begitu. Naruto memilih diam dan segera berpikir keras. Dia harus menjawab permintaan sang Kaisar yang sangat mendadak begini. Sungguh membuatnya bingung setengah mati sekarang. Dia sungguh-sungguh bingung dan kalut.
'Gawat. Apa yang harus aku jawab? Apa yang harus kukatakan? Sungguh, permintaan Kaisar ini membuatku bingung. Menikah dengan sang putri? Lalu aku menjadi seorang Kaisar di kerajaan Hana ini? Itu tidak kupikirkan sebelumnya. Aku belum mempunyai rencana untuk menikah sekarang. Apalagi menikah dengan gadis yang tidak kucintai,' batin Naruto kacau di dalam hatinya.'Ya, kami-sama, apa yang harus kulakukan sekarang? Bantu aku. Aku tidak ingin mengambil keputusan yang salah. Apalagi aku belum mengenal Hanamoto Shion lebih dekat. Aku tidak mau menikah dengan gadis yang tidak terlalu aku kenal. Aku hanya mau menikah dengan gadis yang kucintai dan aku kenal dengan baik. Gadis yang sangat dekat denganku. Ia yang ingin aku jadikan sebagai istriku nanti. Aku memang mencintainya sekarang. Aku sangat mencintai Koneko, muridku sendiri.'
Ini benar-benar memberatkan bagi Naruto sekarang. Dia benar-benar dilanda suatu keraguan yang besar. Jangan sampai dia salah memilih dan menjebaknya ke dalam posisi yang sulit. Dia harus memikirkan ini matang-matang. Jangan sampai menyinggung hati sang Kaisar ataupun menyakiti hati Koneko. Dia harus menetapkan pilihan yang tepat. Apalagi dia tidak bisa meninggalkan Koneko sendirian. Koneko adalah orang yang terpenting baginya sekarang. Dia mengakui bahwa dirinya mencintai Koneko. Bukan cinta seorang guru untuk muridnya. Tapi, cinta seorang kekasih antara pria dan wanita.
Jadi, apakah Naruto menerima lamaran ini atau tidak? Jadi, jawaban Naruto adalah ...
"Tidak!" Naruto menjawabnya dengan wajah yang sangat tegas."Maaf, Baginda. Aku tidak bisa menikahi putri anda karena aku sudah mempunyai istri sekarang. Aku harap anda memakluminya dan menerima jawabanku ini dengan lapang dada. Sekali lagi, aku minta maaf pada anda."
.
.
.
BERSAMBUNG
.
.
.
SAATNYA MEMBALAS REVIEW:
ahmad s syafii 9: terima kasih ahmad.
Yukari Clarisha-chan: salam kenal buat yukari. Terima kasih.
suhendi: belum tahu fic shinobi and date mission diupdate. Tunggu konfirmasi sama teman dulu.
Mang Dadank: terima kasih atas review-mu ya.
Meirad Tako: oke. Ini dilanjut nih, otoutosan.
orimura ichika: gak ganggu kok. Ceritamu bagus juga sih. Tapi, ceritanya udah mainstream. Mungkin bisa diganti sama yang lain. Gimana? Jawab ya direview.
.
.
.
A/N:
Chapter 7 update nih!
Oke, jadi beginilah kelanjutan cerita ini. Chapter kali ini konflik tentang perasaan cinta Naruto dan Koneko yang mulai bersemi. Apalagi adanya kehadiran Shion, menambah konflik cinta akan memanas. Lihat saja kelanjutannya gimana di chapter akan datang.
Jadi, segini saja yang bisa saya sampaikan. Sampai jumpa di chapter 8!
Sayonara!
Sankyuu!
Salam dari saya.
HIKASYA ^^
Selasa, 5 Januari 2016
PLEASE REVIEW LAGI!
