Menangis.

Baik dulu maupun sekarang, selalu itu yang kulakukan.

Aku hanya bisa duduk, terisak dalam diam di kursi panjang ruangan klub. Kutundukkan kepala dalam-dalam sementara jemariku meremas ujung rok. Entah sudah berapa lama aku berada di posisi ini, menumpahkan semua emosiku lewat tangisan. Aku tidak berani—dan sama sekali tidak berniat—keluar dari ruangan, seolah-olah disinilah tempat paling aman untuk menyembunyikan ketakutanku. Dan air mataku pun tidak menunjukkan tanda-tanda akan berhenti mengalir.

Lemah? Ya, aku memang lemah.

Itu sebabnya aku bisa dimanfaatkan dengan mudah.

Lalu selama sekejap pikiranku melayang, membawa pulang memori pahit yang sudah lama ingin kuhapus.

.

.

.

"Lihat," beberapa gadis menunjukku sembari lalu. Tawa mengejek berhambur keluar dari bibir mereka. "Kasihan sekali."

Aku duduk di tanah yang lembap, menatap kosong hamparan taman belakang sekolah yang seharusnya menjadi tempat menyenangkan untuk berkumpul menghabiskan waktu. Namun nyatanya, dalam waktu singkat lokasi ini telah berubah menjadi tempat yang mengerikan bagiku.

Seluruh tubuhku menggigil, walaupun Jepang belum memasuki musim dingin. Kurasakan helai poniku kini menggantung basah. Begitu pula dengan seluruh seragamku. Perih merambat dari luka gores di betis, luka yang kudapat saat aku jatuh tersungkur di tanah ini.

"Bagaimana rasanya, Tuan Putri?" Langkah-langkah kaki mendekati tempatku jatuh terduduk. Kuangkat wajahku dan memperhatikan salah satu dari enam gadis di hadapanku membawa botol berisi air yang sudah terpakai setengahnya. Sedangkan gadis di sebelahnya mengayun-ayunkan sebuah benda berwarna hitam yang juga basah—sepatuku. Perempuan bersurai coklat kemerahan yang membawa botol itu membungkuk, merenggut daguku secara kasar dengan satu tangannya yang bebas, kemudian membisiki sebuah kalimat yang tidak akan pernah bisa kulupakan seumur hidup.

"Ini hukuman untukmu." Air yang semula berada di dalam botol, ia tumpahkan di atas kepalaku sampai seluruh isinya habis. "Hukuman bagi seorang pengkhianat."

Merasa sudah menyelesaikan tugasnya, ia berdiri; lalu gadis lain melemparkan sepatu yang ia pegang ke arahku, kemudian berjalan pergi bersama teman-temannya.

Ya, teman-temannya.

Yang juga teman-temanku dulu.

.

.

.

"Shizuka-san?"

Suara yang sangat kukenal itu membuatku tersentak. Begitu menengok, aku menemukan Kasamatsu-senpai dan Kise sedang berdiri di ambang pintu, menatapku iba.

.

.

Tidak, jangan.

Jangan menatapku seperti itu.

Kalian tidak perlu mengasihaniku.

.

.

Buru-buru aku menyeka air mata yang masih belum mau berhenti ini, kemudian memasang senyum kecil. "Bukankah kalian seharusnya berlatih?"

Sudah berapa lama mereka berdiri disana?

"Jam latihan hampir selesai. Kami mencarimu, karena kau menghilang cukup lama-ssu. Kenapa menangis..?" Kali ini Kise yang berbicara. Perlahan-lahan, mereka berdua berjalan menuju tempatku duduk. Saat Kise mengulurkan tangannya, sontak aku berdiri dan mengambil satu langkah mundur menjauhi mereka. Dan tindakanku itu berhasil membuat rasa nyeri di lutut—yang sejak tadi kutahan—menjalar ke seluruh syaraf tubuhku. Ekspresi terkejut dan kecewa terpancar jelas dari paras rupawan Kise. Paras tampan yang digila-gilai para wanita di luar sana, sementara aku menderita di dalam sini. "Shizukacchi?"

"Tidak-" Kalimatku terpotong oleh ringisan, disertai usaha untuk menjaga keseimbangan agar tidak terjatuh untuk kedua kalinya. "Tidak bolehkah aku menangis?"

"Tidak ada yang melarangmu. Tapi kami hanya ingin tahu kenapa, Shizuka-san."

Aku hanya memandang sendu kedua laki-laki itu. Sekalipun aku ingin, aku tidak bisa menyalahkan atau membenci mereka berdua. Mereka memang orang-orang yang pertama memintaku bergabung dalam tim. Tapi akulah yang membuat keputusan akhirnya. Akulah yang menyetujuinya.

Merasa penat untuk memulai perdebatan, kuputuskan untuk melanjutkan dalihku. "Lutut dan pergelangan tanganku. Rasanya sakit sekali."

Mendengarnya, Kasamatsu-senpai lalu menyuruhku untuk duduk. Kise yang berada paling dekat denganku, menggamit pelan bahu serta lenganku dan memapahku kembali ke kursi. Tanpa membuang waktu, senpai segera memeriksa lutut dan pergelangan tangan kiriku.

"Lututmu memar, dan pergelangan tanganmu terkilir cukup parah karena didiamkan terlalu lama. Kenapa tidak mengatakannya pada kami daritadi?" katanya sambil bangkit berdiri dari posisi berlututnya. "Jadilah anak baik dan tunggu disini. Aku akan mengambil perban dan obat di ruang loker. Melihat kondisimu sekarang, kelihatannya berjalan pun akan sulit. Kise, kau awasi dia."

Setelah memberi instruksi panjang lebar, pria beralis tebal itu bergegas keluar ruangan dan menghilang dibalik pintu, meninggalkanku dan Kise dalam keheningan canggung. Bagaimana caranya aku mengobrol santai dengan idola yang fans-fansnya baru saja menjegal kakiku?

Sadar bahwa aku tidak berniat membuka mulut, Kise mengambil inisiatif untuk mencairkan suasana. Dia mengambil tempat di sebelahku, seperti yang dilakukannya saat pertama kali kami mengobrol. "Jadi, hanya itu-ssu?"

"Apa maksudmu?" Bola mataku melirik manik madunya.

"Alasanmu."

"Alasan apa, Kise-kun?" jawabku, pura-pura tidak mengerti.

"Ekspresimu saat berakting bagus, Shizukacchi," ujung bibir Kise sedikit tertarik, membentuk sebuah seringai. "Tapi jangan remehkan pengalamanku menjadi model selama bertahun-tahun-ssu."

Aku mengalihkan pandanganku ke lantai dan memilih untuk bungkam. Tidak ada lagi dari kami yang bersuara selama beberapa saat sebelum akhirnya Kise kembali memecah kesunyian.

"Apa itu ada hubungannya dengan mereka? Maksudku, fans-fansku?"

Lagi-lagi, aku memilih diam. Sejujurnya aku bingung harus berkata apa. Sudah jelas tidak mudah menipu Kise dalam keadaan seperti ini. Tapi seandainya aku jujur, apa yang akan Kise katakan nanti?

Lebih tepatnya, apa yang akan ia lakukan?

Meski samar-samar, ada segelintir rasa cemas yang menyusup masuk.

Sudah tentu dia akan membela penggemarnya. Dia tidak akan sebodoh itu menyia-nyiakan reputasi dan kariernya yang cemerlang dengan cara mengecewakan mereka—membelaku, misalnya.

Semuanya akan berakhir sama seperti saat itu. Akulah yang akan dikecewakan. Akulah yang akan ditinggalkan.

Selalu aku.

.

.

Kise terlihat ingin melanjutkan percakapan, tapi suara langkah kaki yang mendekat membuatnya mengurungkan niat itu. Dari arah pintu, Kasamatsu-senpai datang dengan perban dan obat di kedua tangannya. Tepat ketika ia memasuki ruangan, kapten tim berambut hitam itu menatap kami heran.

"Atmosfer macam apa ini?"

Ah, separah itukah?

Di saat aku sedang memutar otak untuk mencari jawaban yang masuk akal, Kise justru tertawa ringan menanggapi pertanyaan Kasamatsu-senpai. "Bukan apa-apa, senpai," jawabnya ceria. "Kami hanya mengobrol biasa-ssu."

"Benarkah?" Kasamatsu-senpai melemparkan tatapan tidak percaya padaku, yang hanya kubalas dengan anggukan. Melihat reaksi singkatku, kedua alis tebalnya bertaut. Tapi setelah itu dia hanya mengangkat bahu. "Terserah kalian sajalah."

Kemudian dengan bantuan Kise, sang kapten mengobati lutut dan pergelangan tanganku. Sesekali Kise mengeluarkan canda dan tawa khasnya untuk menggoda si senior dan hal itu selalu disambut dengan omelan—atau lebih parah tendangan—Kasamatsu-senpai. Aku memang pernah mencuri dengar dari anggota tim lainnya, bahwa semua adu mulut itu justru merupakan tanda pertemanan baik mereka. Kasamatsu-senpai yang ketat dan tegas untuk masalah senioritas-junioritas; dan Kise yang mencolok, bebas, tidak ingin terikat dalam aturan atau tradisi apapun. Aku bertanya-tanya bagaimana dua orang yang berbeda paham seperti itu dapat berteman.

Kukerjap-kerjapkan mata sembabku yang mulai memanas, berharap tidak ada yang menyadari air mataku yang hampir menetes. Melihat kedua orang ini membuatku iri. Sangat, sangat iri.

Karena aku hanya bisa menonton.

Sampai kapan pun, aku hanya akan menjadi penonton. Aku tidak akan bisa seperti mereka.

.

Usai cederaku dibalut, aku berdiri dengan hati-hati dan membungkukkan badan. Lututku masih sedikit sakit, tapi tidak separah sebelumnya. "Terima kasih, senpai, Kise-kun. Maaf merepotkan kalian berdua."

"Sama-sama, Shizukacchi." Dilihat dari nada bicara dan cengiran lebar itu, kuperkirakan mood Kise sudah lama kembali cerah.

"Tidak masalah, Shizuka-san. Lain kali, berhati-hatilah." Kasamatsu-senpai menggaruk lehernya, berjalan menuju pintu, dan berbalik. "Nee, kalian ikut atau tidak? Saat aku mengambil perban tadi, sebagian dari anak-anak yang berlatih sudah berganti baju dan pulang."

Ragu dan waswas membanjiri perasaanku. "Anu—" Apakah gadis-gadis itu sudah pergi?

Aku ingin memastikannya, namun kehadiran Kise disini memaksaku untuk menelan kembali kalimat tanya itu.

"Eeh, tidak.. tidak jadi."

Walau terlihat bingung, Kasamatsu-senpai hanya mengiyakan dan berjalan keluar, diikuti aku dan Kise.

Sebelum melewati aula, berkali-kali kuyakinkan diriku sendiri bahwa penglihatanku tidak salah; lapangan indoor itu sudah bersih dari penggemar si model pirang. Kendati begitu, aku tetap mengambil jarak aman dan mengekor di belakang mereka.

Ekor mataku melirik tempat aku yang tengah membawa dua kantong besar dijegal, dan menghantam lantai. Melihat saja sudah membuatku bergidik.

Mengingatnya? Membuatku sesak.

Aku tahu ini hampir mustahil, tapi hati kecilku tetap berharap besok semuanya bisa berjalan normal seperti biasa.

.

.

Ya.

Saat ini, tidak ada yang bisa kulakukan selain diam dan berharap.


Akhirnya. Saya udah gabisa mikir apa-apa waktu nulis ini. Maaf kalau mengecewakan.

HARI SENIN MASUK SEKOLAH WOI. MALAH BEGADANG. *ieu teh mau gahar ceritanya

Oke. Lupakan curcolan saya yang ga penting.

Makasih banyak buat kalian yang udah ngikutin cerita ini, review, dll. Saya seneng bacanya ^^

I hope kalian nggak bosen denger ini, but would you mind speaking your mind out? Through some reviews ofc. XD