Disclaimer: Naruto belongs to Masashi Kishimoto. However, this story purely of my deepest mind and I do not take any material profit from it.
Rated: T
Genre: Romance, Family, Friendship, Tragedy.
Pair: SasuFemNaru
Warning: Gender switch, OOC, typo(s), AU, etc.
My Story Life
Chapter 5.2: Naruko or Naruto?
By: AirinaNatsu-chan
~oOo~
Ada yang beda di meja makan keluarga Uchiha, malam ini. Ruangan yang biasanya hanya diisi dentingan sendok dan garpu yang menyentuh piring setiap jam makan malam itu, kini ditambah warna keributan yang diciptakan oleh putra-putri dari kedua keluarga terpandang tersebut.
Setelah keterkejutan Sasuke dan Naruto beberapa menit yang lalu, akhirnya Fugaku memutuskan untuk langsung mengajak mereka menuju meja makan yang panjangnya mampu memuat puluhan orang.
"Isshhh, kenapa Kakak malah mengambil ayam katsu milikku?" Naruto bersedekap sambil menggembungkan kedua pipinya. Bibir merahnya mengerucut dengan mata bulat yang disipitkan untuk menatap tajam pelaku yang membuatnya kesal seluruh badan.
"Biarkan saja. Lagipula tak ada larangan aku tidak boleh mencomot ayam-mu." sahut Kurama cuek sambil menjejalkan potongan daging ayam katsu yang diambilnya dari piring adik bungsunya.
Naruto mendengkus kesal dan segera menghabiskan makanan di piringnya. Sementara itu, Kurama menyeringai lebar. Mengerjai adik bungsunya adalah pekerjaan paling menyenangkan dalam hidupnya. Bola mata rubi-nya bergulir, menatap satu buah apel merah di atas piring putih yang mengkilap. Kurama menelan ludahnya, mengunci perhatiannya pada apel tersebut. Perlahan, tangannya mendekati piring itu. Namun, sesuatu yang tak diinginkan Kurama terjadi. Sebuah tangan terulur tiba-tiba, mengambil buah apel yang diinginkannya, lalu mengambil gigitan pertama yang besar di depan mukanya.
"Itachi, kenapa kau mengambil apel bagianku?!" raung Kurama marah. Ia mendelik kepada Naruto yang terkikik.
"Eh, memangnya kenapa? Lagipula tidak ada larangan aku tidak boleh mengambil apelmu," tukas Itachi dengan wajah tak berdosa. Perkataannya sukses membuat Kurama melotot, sedangkan Naruto mengacungkan kedua ibu jari tangannya pada Itachi.
"Senjata makan tuan, eh?" sindir Naruto dengan kedua alis yang dinaik-turunkan. Hukum karma masih berlaku di dunia ini. Kita tidak tahu kapan karma akan menimpa kita, batin Naruto puas.
"Diam kamu!" desis Kurama tajam pada Naruto yang tak menghiraukannya. Kurama menatap Itachi dengan tatapan menusuk, kemudian bergulir memandang Mikoto yang mengangkat sebelah alisnya kala ia menatap lurus wanita paruh baya tersebut.
"Ada apa, Ku?" tanya Mikoto lembut.
"Bi, kenapa Bibi bisa mempunyai anak seperti Itachi, sih? Dia itu hanyalah pria tua menyebalkan yang mirip papan gilas di depan orang-orang. Kalau saja aku tidak tahu sifat aslinya, sudah aku masukkan ia ke mesin cuci agar mukanya kusut hingga aku bisa merombaknya ulang," cerocos Kurama panjang.
Itachi menyipitkan matanya, mencoba mengintimidasi sahabat sablengnya yang sedari tadi menjelek-jelekkan dirinya. "Dan lebih parahnya, aku tidak tahu kenapa aku bisa berteman baik dengan rubah buluk yang sewaktu kecilnya pernah mengompol hanya karena melihat badut. Lalu sekarang, rubah buluk itu sudah menjelma menjadi pria bermulut pedas yang emosinya mirip anak TK!" balas Itachi tak mau kalah.
Kurama tak melepaskan pandangannya dari Itachi, begitupun Itachi yang kini balik menatap Kurama tajam. Keduanya bahkan tak sadar dengan aura gelap yang menguar dari ibu mereka.
Naruto yang tadinya memperhatikan pertengkaran Itachi dan Kurama dengan antusias kini menundukkan kepalanya dalam saat Kushina memberi isyarat padanya untuk diam, tak melakukan apapun. Sara sendiri menghela napas lelah. Sejak dulu menyatukan Kurama dan Itachi dalam satu tempat bukanlah hal yang bagus, batin Sara kesal.
Sementara itu, Minato, Fugaku, dan Sasuke menikmati makan mereka dengan khidmat. Seolah-olah tak terganggu akan apa yang tengah terjadi di sekeliling mereka.
"Aku ingin tahu, apa yang Bibi Mikoto idamkan saat hamil dirimu dan adikmu? Apa mungkin Bibi Mikoto pernah memakan olahan daging ayam yang berkeriput?" Kurama mengangkat dagunya. Kedua tangannya bersedekap di depan dada. Sorot matanya terlihat mencemooh pada Itachi. "Karena kau memiliki keriput di wajahmu, sedangkan model rambut adikmu sejak kecil sudah mirip dengan pantat ayam!" cemooh Kurama, sukses membuat Sasuke mendelik ke arahnya.
Kenapa aku dibawa-bawa? Tanya Sasuke kesal dalam hatinya.
"Namikaze Kurama——"
"Aku yakin, Bibi Kushina pernah menghabiskan satu ton cabai merah saat tengah hamil dirimu," ujar Itachi cepat, memotong perkataan Kushina yang telah berada di ujung lidah. "Rambutmu begitu merah seperti cabai dan jangan lupakan mulutmu yang selalu mengeluarkan kata-kata pedas!" lanjut Itachi sarkastik.
"Uchiha Itachi——"
"Jangan asal bicara!" geram Kurama, membungkam mulut Mikoto yang sempat terbuka.
"Kurama——"
"Heh, bukannya kau yang harus menjaga mulutmu?!" sergah Itachi.
"Itachi——"
"Kau yang memancingku melakukannya!" balas Kurama tak terima.
"Kau yang salah duluan!" bantah Itachi keras.
"Hentikan pertengkaran kalian!" bentak Kushina dan Mikoto bersamaan. Tanpa aba-aba, kedua wanita paruh baya itu menjewer telinga putra sulung mereka nakalnya sudah berada di tingkat yang mengkhawatirkan.
"Auw... sakit, Ma!" protes Kurama kesakitan.
"Kaa-san ..." rengek Itachi.
"Sekali lagi kalian bertengkar ataupun berteriak di meja makan——" kata Mikoto menggantung, "Kalian tidak akan selamat dari tangan halus sang Red Habanero Konoha," sambung Kushina seraya tersenyum manis, namun di balik senyuman itu tersimpan jutaan ancaman tersirat untuk siapapun yang melihatnya.
Kurama dan Itachi mengangguk cepat. Ancaman ibu mereka tidak bisa diabaikan. Dunia hanya tahu kalau Kushina dan Mikoto adalah sosok wanita bangsawan yang anggun dan ramah. Namun mereka tidak pernah tahu, kedua wanita itu bisa berubah lebih menyeramkan dari Medusa ataupun Hades saat marah.
"Aku sudah selesai. Terima kasih makanannya," sahut Naruto tiba-tiba yang mengalihkan atensi semua orang di sana tertuju padanya.
"Aku juga sudah. Terima kasih makanannya," seru Sasuke datar sambil menaruh kembali gelas kaca di atas meja.
Wajah Mikoto dan Kushina yang semula merah padam karena marah berubah sumringah.
"Woah, kalian menghabiskan makanannya bersamaan? Kalian pasti berjodoh," goda Mikoto dan Kushina kompak. Sontak membuat rona merah menjalar cepat di wajah Naruto, sedangkan Sasuke memalingkan mukanya. Berusaha menyembunyikan semburat merah tipis di pipinya.
"M-mama dan Bibi jangan seperti itu. Lagipula aku menyelesaikannya sejak tadi. Mama dan Bibi saja yang sibuk mengurus Kak Kurama dan Kak Itachi sampai-sampai lupa kalau di sini masih ada orang," cerocos Naruto yang membelalakkan bola mata Sara.
Oh ayolah, berbicara seperti itu di hadapan keluarga terhormat apakah sesuatu yang lumrah? Lagipula, bukannya itu tidak sopan?
Bukannya tersinggung, Kushina dan Mikoto memasang cengiran khas mereka. Keduanya memang hampir melupakan keberadaan suami serta anak-anaknya yang lain karena terfokus pada putra sulung mereka.
"Hehehe... maafkan kami, Ruko-chan," kata Mikoto kikuk. "Ah, sebagai gantinya, apa kamu mau berkeliling taman kediaman Uchiha? Sasuke bisa menjadi pemandunya."
"Boleh?" sahut Naruto cepat dengan tatapan berbinar.
Anggukkan dari Mikoto membuat Naruto bersemangat dan menyeret Sasuke tanpa tahu malu. Menimbulkan decakan pelan dari dua kepala keluarga yang sedari tadi diam menyimak.
.
oOo
.
Untuk pertama kalinya, Naruto merasa sangat canggung di dekat seseorang. Gadis itu melirik sosok Sasuke yang berjalan di samping kanannya dengan wajah datar lewat ekor matanya. Bahkan taman yang terlihat indah di sekelilingnya tak mampu membuat Naruto mengalihkan perhatiannya.
Naruto berdeham pelan, mencoba menarik perhatian Sasuke. "Jadi, apa kau suka berkebun? Bibi Mikoto pasti tidak akan memilihmu begitu saja sebagai pemandu kalau kau tidak tahu apa-apa tentang taman ini, kan?
Sasuke melirik ke arah gadis pirang di sampingnya sekilas. Sosok bernama Naruko ini sangat cerewet, berkebalikan dengan dirinya. Tapi kecerewetan itu menjadi alasan senyum tipis di bibirnya karena teringat sosok dia.
"Hn," jawab Sasuke atau lebih tepatnya hanya gumaman andalannya.
Dahi Naruto berkedut kesal. Oh ayolah, dia sudah panjang-panjang bicara dan hanya direspon dua huruf saja dengan pengucapan yang tidak jelas? Seketika itu juga Naruto ingin membotaki kepala Sasuke.
"Ah, sudahlah. Susah sekali bicara dengan kulkas berjalan sepertimu!" tukas Naruto kesal.
Perkataannya berhasil menghentikan langkah Sasuke. Pemuda itu menatap Naruto intens, membuat yang ditatap berdiri kaku dan gugup. "Apa katamu tadi? Kulkas berjalan?" ujar Sasuke dengan mata menyipit, tengah mengintimidasi.
Naruto gelagapan. Mulutnya mencoba mengatakan sesuatu tapi yang terjadi malah mengap-mengap tidak jelas seperti ikan mas. Naruto merutuki mulutnya yang tidak bisa direm dalam hatinya. Padahal ini adalah pertemuan kedua mereka, dan mulutnya malah membuat pertemuannya kali ini hancur berantakan. "A-ah, ha-habisnya kamu dingin sekali seperti kulkas. Terus berjalan lagi, 'kan jadi mirip kulkas berjalan." Naruto menutup mulutnya setelah mengatakan itu kala melihat wajah Sasuke yang menggelap. Benar 'kan, mulutnya tidak bisa direm? Pengontrolnya mungkin sudah rusak sejak ia dilahirkan. Itupun... masih kemungkinannya?
Sasuke mencatat dalam hati, selain penjilat, ada beberapa hal yang tidak Sasuke sukai; seperti polusi suara. Setiap pagi hingga siang, dia harus rela telinganya mendengar rentetan keluhan yang dikeluarkan oleh Kiba yang entah kenapa selalu ada saja hal yang dikeluhkan. Dan kini malamnya, ia harus mendengar kalimat yang tidak mengenakkan yang dialamatkan padanya. Hancurlah gendang telinganya.
"Kamu menyebalkan!" tukas Sasuke sambil melenggang pergi.
"A-apa?" Naruto menatap linglung Sasuke. Telinganya tidak salah dengar, kan? Telinganya masih berfungsi dengan baik, kan? Tapi barusan telinganya menangkap dua kata dalam satu kalimat yang tidak disukai olehnya. Aku... menyebalkan? Batin Naruto syok. Baru kali ini ada yang mengatainya secara terang-terangan. Itu berarti genderang perang akan segera ditabuh!
"Woy, anak ayam! Asal kamu tahu, ya! Aku ini adalah gadis paling menyenangkan di dunia ini!" teriak Naruto seraya mengejar Sasuke yang jauh berada di depannya.
Urat kesabaran Sasuke hampir terputus. Pemuda itu berbalik dengan cepat, bertepatan dengan Naruto yang baru saja tiba di depannya hingga tak sengaja menubruk badannya.
Naruto mengaduh cukup keras. Gadis itu mengusap-usap keningnya dan terkejut saat melihat pemandangan di depannya. Dengan ragu ia mendongak, dan saat itulah Naruto merasa sangat kecil.
"Anak ayam, huh?!" Air muka Sasuke terlihat begitu tenang namun menghanyutkan. Dan Naruto dapat bersumpah kalau dirinya kali ini melihat sepasang tanduk berwarna merah di kepala Sasuke dan ekor yang panjang di belakang tubuh pemuda itu. Oh, jangan lupakan trisula di tangan kanan pemuda itu.
Naruto bergidik ngeri karena imajinasi liarnya. Ia mengambil satu langkah ke belakang untuk membuat jarak antara dirinya dan Sasuke.
Sasuke yakin kalau di dunia ini, Naruko adalah salah satu spesies paling menyebalkan yang pernah hidup. Entah dari 'kingdom' apa, yang jelas Naruko bukanlah manusia normal! Tegas Sasuke dalam hati.
Naruto menggembungkan kedua pipinya sembari mengerutkan bibirnya saat Sasuke memandangnya seolah ia makhluk asing. "Jangan menatapku seperti itu, Teme!"
"Jangan menatapku seperti itu, Teme!"
Sasuke terbelalak. Jantungnya berdegup kencang. Dirinya seolah melihat kenangan-kenangan ia dan sahabat kecilnya dalam diri Naruko. Tidak, yang ada di depanku adalah Naruko! Bukan dia! Sanggah Sasuke dalam hati.
Tanpa disadarinya, Sasuke melangkah mundur secara perlahan yang menimbulkan kernyitan bingung dari Naruto.
"Kamu ... kenapa, Sasuke?" tanya Naruto dengan suara pelan.
Sasuke menggelengkan kepalanya. "Kenapa begitu mirip?" bisik Sasuke pada dirinya sendiri yang masih bisa didengar oleh Naruto.
"Hm? Mirip?" beo Naruto, "apa yang mirip?" tanyanya lagi polos.
"Kamu dan dia," jawab Sasuke tanpa sadar.
"Dia?" ulang Naruto.
Sasuke tersentak. Dia berdeham dan memalingkan muka. Raut wajahnya kembali datar seperti biasa. Namun matanya nenyiratkan kepedihan yang terasa mengoyak hati Naruto ketika mencoba menatap kedua matanya.
"Lupakan apapun yang aku katakan!"
"Enak saja. Ini otakku. Terserah aku mau lakukan apa saja terhadap kalimat yang sudah menempel di otakku ini!" protes Naruto. Sejujurnya dia bisa saja melupakannya tanpa menanyakan alasannya, namun Naruto penasaran dengan sesuatu—ah, lebih tepatnya sesorang yang dibicarakan Sasuke tanpa sadar oleh pemuda itu sendiri.
"Yang aku butuhkan adalah penjelasanmu. Bukan sebuah perintah abstrak yang bahkan tak kumengerti maksudnya." Naruto mengatakannya dalam satu tarikan napas.
"Orang yang berharga," ujar Sasuke tiba-tiba. Tanpa menatap langsung lawan bicaranya Sasuke kembali melanjutkan perkataannya. "Apa yang akan kamu lakukan saat seseorang yang berharga bagimu pergi meninggalkanmu sendirian di jurang yang gelap dan tak berdasar?" tanya Sasuke panjang. Bahkan terlalu panjang untuk dia yang seorang manusia bertipikal irit kata.
"Ah, aku mengerti," sahut Naruto lirih. Kepala pirangnya mengangguk-angguk beberapa kali. Gadis itu memasang pose berpikir khas-nya. "Setiap pertemuan pasti ada perpisahan. Karena perpisahan ada untuk membuat pertemuan itu berkesan. Itu sudah menjadi hukum alam, Sasuke." Naruto memperhatikan tirai malam bertabur bintang di atasnya. Senyum kecil menghiasi wajah cantiknya.
"Kalau begitu untuk apa dia datang jika hanya untuk kembali pergi?"
.
oOo
.
Seusai kepergian Sasuke dan Naruto yang bersamaan dengan selesainya makan malam bersama, Fugaku dan Minato serta putra sulung mereka memasuki ruang kerja utama di Mansion Uchiha yang dibuat khusus untuk ketiga pria Uchiha yang mengolah perusahaan keluarga ataupun masing-masing. Walau pada kenyataannya, salah satu dari ketiga Uchiha itu masih mengenyam bangku sekolah. Keempatnya memasuki ruangan itu untuk membicarakan bisnis yang nyaris membuat Kushina dan Mikoto tidak bisa menahan diri untuk tidak memarahi pria-pria kesayangan mereka yang terlalu keras bekerja.
Berbeda dengan para suami serta putra sulung yang membicarakan bisnis, Mikoto dan Kushina juga Sara mengobrol hangat di ruang keluarga kediaman Uchiha.
"Kedengar Sara akan mengikuti kontes pemilihan diva. Apa itu benar, Kushi-chan?" tanya Mikoto setelah duduk nyaman di sofa empuk di kediamannya. Wanita kesayangan Fugaku itu mengusir halus pelayan yang membawakan beberapa cangkir teh hangat.
Kushina mengangguk pelan seraya menerima secangkir teh hangat dari Mikoto. Menyeruputnya nikmat kemudian meletakkannya kembali ke atas meja di depannya. "Ya, dan aku sangat bangga pada putriku ini," kata Kushina sambil merangkul Sara yang tersipu malu. "Aku juga tidak menyangka kalau dia akan mengikuti jejakku dengan menjadi seorang diva," lanjut Kushina bangga.
"Calon diva, Ma," ralat Sara cepat.
"Mama yakin kamu yang akan menjadi diva selanjutnya, Sara-chan!" seru Kushina berapi-api.
Mikoto terkekeh pelan. Tidak menyangka kalau tingkah sahabatnya masih sama seperti saat mereka menjadi seorang remaja.
"Ah, lalu bagaimana dengan Nariko?" Mikoto meringis kala Kushina melotot padanya.
"Naruko, Mikoto. Bukan Nariko!" ralat Kushina gemas. Sedangkan yang ditegur malah cengengesan, keluar dari karakternya.
"Asal Bibi tahu, Naruko memiliki suara yang lebih bagus dariku," sahut Sara tersenyum kecil. "Kalau saja dia tidak—" Sara tidak melanjutkan kalimatnya. Gadis itu menunduk dalam.
Mikoto menautkan kedua alisnya. Terlihat bingung dan penasaran akan sikap Sara dan juga Kushina yang kini tersenyum miris. "Kenapa? Ada apa dengan Naruko?"
Kushina melepas napas panjang dan menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa. Tatapannya menerawang saat ia kembali bicara. "Apa kamu tahu alasan keluargaku tiba-tiba menghilang dari publik, Mikoto?" lirih Kushina.
"Tidak. Kamu 'kan tidak memberitahuku," jawab Mikoto polos yang semakin membuat Kushina gemas.
Kushina menghela napas. Mencoba bersabar dalam menghadapi sifat Mikoto yang kadang tidak peka terhadap keadaan. "Menghilangnya keluargaku bukan tanpa alasan. Kami semua pergi ke Amerika untuk menemani putri bungsuku yang harus menjalani serangkaian pengobatan karena penyakit yang diidapnya," jelas Kushina panjang.
Mikoto mengernyit dalam, "Penyakit apa yang diidapnya?"
"Kelainan jantung."
Jawaban Kushina berhasil membuat Mikoto terkesiap. Wanita paruh baya itu menutup mulutnya dengan kedua tangannya dan menatap Kushina penuh simpati.
"Naruko memang selalu terlihat hiperaktif. Tapi di balik itu semua dia harus menahan rasa sakit yang terkadang menyerangnya secara tiba-tiba," Kushina menerawang jauh. Bola mata violet miliknya diselimuti kabut saat mengenang masa kecil Naruto yang begitu hangat namun juga terasa menyesakkan di saat bersamaan.
"Sejujurnya aku tidak menyangka kalau putri bungsumu mengidap penyakit mematikan seperti itu, karena sejak pertama melihatnya tadi dia terlihat sangat sehat seperti anak-anak sebayanya," Mikoto menghela napas. Sejenak ia terdiam hingga akhirnya sebuah pemikiran terlintas di kepalanya.
Mikoto menatap Kushina berbinar yang membuat alis Kushina bertaut. "Ne Kushi-chan, bagaimana kalau kita jodohkan Naruko dan Sasuke? Mereka tampak serasi."
"Apa?!"
.
oOo
TO BE CONTINUED
Hello!
Masih adakah yang menunggu cerita ini?
#ngarep
Akhirnya setelah perjuangan melawan PAS, Airi bisa up fic ini XD
Untuk Winter Love akan diupdate segera. Naskah sudah mencapai 70%. Airi hanya perlu menambah beberapa bagian ataupun menghapus bagian yang tidak diperlukan.
Airi juga ingin mengucapkan Selamat Ulang Tahun untuk fanfic My Story Life. Seharusnya kemarin ngucapinnya, tapi Airi baru bisa update hari ini karena kemarin sakit T_T ... Fanfic ini dipublish satu tahun yang lalu di Wattpad pada tanggal 12 Desember 2017 dan menjadi karya Airi yang pertama di dunia tulis-menulis. Maaf karena sudah satu tahun tapi Airi belum bisa menamatkannya...
Semoga semua karya yang Airi buat bisa menghibur kalian semua ...
Sincerely,
AirinaNatsu-chan
