Tuan Misterius Kim Jongin

.

.

.

.

.

Oh Jungsoo menghela nafas panjang. Ia merebahkan badanya di sandaran kursi. Hari ini ia merasa sangat lelah. Banyak sekali pasien yang harus ia tangani. Belum lagi jadwalnya untuk mengontrol pasien-pasiennya. Harusnya saat ini ia sudah berada di ruang perawatan nomor 21. Tapi ia ingin beristirahat sebentar saja.

Ia menoleh ke arah berkas pasien yang akan ia datangi itu. Tuan Kim. Ia ingat lelaki yang kemarin masuk ke rumah sakit di antar oleh anak buahnya itu. Ia terlihat kacau. Ia juga masih ingat bagaimana ekspresi stress pasiennya itu ketika bercerita tentang anaknya yang seorang gay. Meminta pendapatnya sebagai seorang dokter. Tapi ia menolak mengatakan sesuatu atas nama dokter. Ia bilang atas nama ayah, seharusnya kita bisa menghargai pilihan sang anak meskipun itu tidak sesuai kehendak. Disaat dunia memalingkan muka, seharusnya kita bisa mendukungnya. Bukan ikut menekannya. Bukankah rasa sayang itu lebih dari apapun?

Dokter Oh sering sekali menghadiri seminar tentang LGBT meskipun hanya sebatas tentang kesehatan dan juga dampaknya pada diri seseorang. Menurutnya itu tidak salah. Itu termasuk hak asasi. Meskipun begitu, ia juga paham perasaan Tuan Kim. Dia juga seorang ayah yang memiliki seorang anak laki-laki. Ia harus segera beranjak jika tidak ingin tenggelam dalam kemalasan lebih dalam. Ia masih punya tanggung jawab yang harus ia selesaikan.

Oh Jungsoo berdiri. Meregangkan tubuhnya lalu meraih stetoskop di atas meja. Ia melangkah keluar ruangannya. Menuju kamar nomor 21.

Dilihatnya kondisi didalam ruangan. Sepertinya sedikit ramai. Apa anak Tuan Kim sedang menjenguknya? Mungkin ia mempertimbangkan saran sang Dokter. Memang seharusnya begitu kan?

Oh Jungsoo membuka kenop pintu, "Annyeong Tuan Kim,"

"Bagaimana keadaan anda hari ini?" Ia tersenyum ramah.

Suasana tiba-tiba hening. Ia melihat seorang pemuda yang sangat ia kenal wajahnya. Itu, Oh Sehun. Anaknya. Apa yang ia lakukan di sini? Dan kenapa ia menggandeng tangan anak Tuan Kim? Apa mereka? Tidak, ia tidak ingin memikirkan hal semacam itu. Anaknya tidak mungkin seperti itu.

"Sehun-ah, apa yang kau lakukan disini?" Tanya Jungsoo yang membuat sang anak langsung melepaskan tautan tangannya.

"A,.. aku hanya menjenguk ayah temanku," Sehun gugup dan tampak takut. Oh Jungsoo tau itu. Dia ayahnya. Jadi benar?

Sebenarnya ia ingin bertanya lebih jauh ia disini untuk menjalankan tugasnya. Ia berjalan mendekat ke Tuan Kim. Memasang ujung stetoskop ke telinganya dan meletakan ujung yang satunya ke dada Tuan Kim. Detak jantungnya sudah normal kembali.

"Hey, Dokter Oh. Bagaimana ini, ternyata pacar anakku itu putramu? Kau sudah tahu? Apa kau masih bisa mengatakan 'menerima dan mendukungnya'? Apa yang akan kau lakukan?" Kata Ayah Jongin pelan tapi masih bisa didengar.

"Itu urusan pribadi saya yang tidak akan saya bahas di tempat seperti ini. Sepertinya kondisi anda sudah membaik Tuan Kim," Oh Jungsoo tersenyum ramah. Ia benar-benar profesional atau mungkin hanya orang yang sangat baik dalam menyembunyikan perasaan, " Mungkin besok anda sudah bisa pulang, saya permisi dulu."

Sang Dokter meninggalkan ruangan itu tanpa melihat sedikitpun ke arah anaknya. Entahlah. Ia juga tidak tahu apa yang akan dia lakukan. Menerima dan mendukung? Tak terdengar baik, tidak juga buruk. Ia masih bimbang.

.

.

.

Sehun hanya bisa menunduk. Ia sama sekali tidak berani menatap wajah sang ayah. Ayahnya pasti akan sangat marah. Ia tak pernah melihat ayahnya sediam itu. Dan jujur itu membuatnya takut.

"Jadi, kau benar-benar pacaran dengannya?" Oh Jungsoo bertanya dengan nada tenang. Ia tak bisa berteriak. Keluarga mereka tidak pernah berbicara seperti itu.

Sehun mengangguk pelan. Sebagai ganti sebuah jawaban. Lidahnya kelu.

"Sudah lama?"

"Ani,"

"Berapa lama?"

"Satu minggu, mungkin."

"Kenapa kau bisa menyukainya? Oh Sehun dia ini seorang namja, sama sepertimu."

"A,aku tidak menyukainya."

"Jinjja?" Sang Ayah sedikit lega mendengarnya.

"Aku mencintainya!" Oh Jungsoo menepuk jidatnya sendiri. Ia terlalu berharap.

Rasanya sangat sulit sekali. Ia tidak bisa menerima begitu saja seperti yang ia sarankan kepada Tuan Kim. Tapi, dia juga tidak bisa memaksaan kehendaknya terhadap Sehun. Itu sama sekali bukan gayanya. Sekarang ia jadi benar-benar tahu apa yang dirasakan ayah dari pacar anaknya meskipun ia masih menolak menyebut Jongin sebagai pacar Sehun.

"Kau masih kecil Sehun-ah. Kau belum tahu apa itu cinta. Ini bukan cinta. Lupakan saja perasaanmu itu."

"Tidak bisa Aboji. Aku sudah berjanji tidak akan meninggalkan Jongin. Bukankah Aboji bilang seorang pria sejati tidak boleh melanggar janjinya?"

Baiklah ia menyerah. Ia menarik nafas panjang. Memejamkan matanya. Melihat kepribadian Sehun, ia sudah bisa menebak di posisi mana anaknya dalam hubungan ini. Di yakin anaknya berada di bawah.

"Jangan dulu melakukan hubungan sex, kau masih belum cukup umur untuk hal itu. Lakukanlah dengan pengaman," Oh Jungsoo pergi meninggalkan Sehun.

Sudah? Begitu saja? Padahal Sehun sudah menyiapkan diri untuk kemungkinan terburuk yang mungkin ia terima. Seperti tamparan atau pukulan dari sang Ayah, juga mungkin sebuah benturan benda tumpul. Apakah ini berarti Ayahnya mengizinkannya berpacaran dengan Jongin? Hey, ini mudah bukan. Untung ayahnya bukanlah ayah Jongin.

.

.

.

"Jongin kau mau ikut ke kantin?" Tanya Sehun pelan.

Jongin hanya menggeleng dan Sehun meninggalkannya begitu saja. Sehun berjalan keluar dengan di rangkul oleh Chanyeol. Jongin jadi sedikit kesal. Ia berdiri lalu berjalan cepat menyusul Sehun. Menyeruak di antara dua sahabat karib itu sehingga membuat mereka terpisah.

"Aku ikut," katanya datar.

Suasana jadi canggung. Chanyeol yang tidak nyaman karena terus mendapat tatapan tajam dari Jongin. Sehun yang senang karena bisa makan siang dengan Jongin dan Jongdae yang nampak gembira entah dengan apa. Ia selalu terlihat begitu. Itu adalah Trend Mark nya.

"Jadi sekarang Jongin bergabung dengan kita?" Tanya Jongdae sembari mendudukan diri di bangku kantin.

"Aku tidak bergabung atau semacamnya seperti yang kau katakan."

"Arraseo, kau disini karena Sehun kan?" Kali ini Chanyeol yang bicara.

"Hey!" Sehun menimpali.

Berisik, ini terlalu berisik. Masih jauh lebih baik area street dance bagi Jongin. Kenapa Sehun bisa betah berteman dengan mereka. Jongin salah, Sehun memang salah satu dari mereka. Satu Sehun saja sudah berisik, dan sekarang ada tiga.

"Kau tidak bisa memonopoli Sehun sendirian," ujar Chanyeol dengan mimik serius.

"Hey, ngomong-omong, apa karena bocah ini, kau kemarin tanya tempat membeli kondom?" Sambungnya lagi tanpa merubah raut mukanya.

Wajah Sehun memerah. Ia bahkan sangat malu ketika mengetikan kata 'pengaman' di ponselnya. Dan sekarang Chanyeol mengatakan 'kondom' dengan gamblang di depan orang lain. Terlebih ada Jongin disini.

"Apa kau menyuruh Sehun membeli kondom?"

"Yak, Park Chanyeol bukan seperti itu. Bukankah sudah kubilang jangan bicarakan lagi tentang hal ini?" Sehun gelagapan. Berbeda dengan Jongin yang tampak memerah. Apa yang ia pikirkan sebenarnya?

"Kau mau melakukan 'itu' ya?" Kali ini Jongdae tak bisa menahan rasa penasarannya,"Mungkin kau bisa merekamnya dan menunjukannya padaku."

"Ya! Bisakah kalian diam, Jongin, jangan dengarkan mereka." Pinta Sehun. Ia benar-benar ingin me-lakban mulut teman-temannya.

Jongin hanya diam menanggapi celotehan sahabat Sehun. Image nya bisa hancur jika sampai ia hilang kendali. Ngomong-ngomong ia jadi penasaran. Benarkah Sehun bertanya tempat membeli pengaman? Sial! Ia jadi memikirkan sesuatu seperti 'ini' dan 'itu' dalam berbagai gaya. Hey Jongin apa yang ada didalam pikiranmu? Buang dulu itu, ini masih jauh dari jam pulang sekolah. Gawat! Otaknya mulai tidak beres.

"Sehun, hati-hati menurutku pacarmu itu sedikit mesum," Chanyeol mengoceh lagi.

"Annieyeo, dia tidak...," Sehun tersipu,"seperti itu."

Jongin memalingkan wajahnya. Sehun itu sangat buruk dalam berciuman. Ia sering tiba-tiba minta berhenti karena nafasnya habis. Itu sangat buruk, tapi ia jauh seratus kali lebih buruk dalam berbohong.

Jongin menahan amarahnya. Ingin sekali ia memukul wajah aneh Park Chanyeol itu. Memangnya dia siapa? Ayah Sehun? Jongin itu pacarnya. Dan ia berhak memonopli Sehun.

"Boleh aku bergabung?" Tanya seorang lelaki bermata bulat. Itu Kyungsoo.

Semuanya terkejut. Apalagi sepasang kekasih yang sedang di mabuk cinta itu. Well, mungkin tidak akan se-berlebihan itu jika mereka tidak berada di kantin sekolah saat ini. Dan, itu, mereka memakai seragam yang sama.

"Mwoya? Apa aku terlihat seaneh itu?" Tanya Kyungsoo sambil membulatkan matanya yang sudah bulat.

"Tenang saja, aku sudah menyerah dengan Jongin," lanjutnya yang kemudian duduk di samping Chanyeol.

Dan belum ada yang mengatakan sesuatu. Ini sangat canggung pikir Sehun.

"Wae? Katakan sesuatu," Kyungsoo tidak betah. Apa ia mirip alien?

Jongin pusing sekali. Kenapa ia tidak bisa menikmati masa-masa yang tenang dengan sang pacar. Ingin sekali ia menarik Sehun kabur dari sini sekarang juga. Ia hanya butuh Sehun, tidak butuh bonus yang lain. Sudah satu saja.

"Bisakah kita pergi?" Tanyanya pada Sehun.

"Wae?"

"Sudah pergi saja," Sehun menurut. Ia mengekor di belakang Jongin.

Jongdae menunggu suara protes dari Chanyeol dalam hitungan ke satu, dua, hey? Kenapa Chanyeol diam saja. Ia melirik ke arah sahabatnya itu. Sinchayeo, apa yang terjadi dengannya? Apa otak nya jatuh di suatu tempat? Ia baru sadar tidak ada yang beres diantara mereka. Itu termasuk dirinya sendiri. Ia mengakui itu.

Ia lebih memilih melangkah pergi meninggalkan Chanyeol yang sedang menatap kagum ke arah Kyungsoo. Jangan lupakan bunga-bunga berjatuhan yang tak ia ketahui berasal dari mana itu. Drama sekali. Apa ia harus mencari pacar? Ia tidak mau di beri stempel forever alone di dahinya. Ah, jadi remaja itu sulit dijalani.

.

.

.

"Kau membeli kondom?" Wajah Sehun memerah mendengarnya, ia menggeleng pelan.

"Kenapa kau bertanya hal seperti itu pada temanmu?"

"Aboji bilang aku harus menggunakn itu kalau mau..."

"Mau apa?"

"Kau sudah tahu Kim Jongin!" Sehun berteriak. Ia tahu Jongin mengerjainya.

"Lalu kenapa kau tidak membelinya? Harusnya kau, ah tapi sebenarnya aku tidak peduli pakai atau tidak."

Jongin mendorong tubuh Sehun ke ranjang. Ia tidak perlu takut sang kakak memergoki mereka kali ini. Mereka sudah pindah rumah, jadi rumah lamanya ini kosong. Betapa beruntungnya dia, mungkin ia harus berperilaku baik kepada Ayahnya sebagai ucapan terimakasih.

"Hey, hentikan Jongin!"

"Mwoya?" Suara Jongin di buat se sexy mungkin. Ia ahli dalam hal itu. Matanya menatap intens ke arah Sehun. Sehun jadi engap. Ia kepanasan.

"Aboji bilang, aku belum cukup umur untuk ini, a,.. aku..." Sungguh demi kerang ajaib Spongebob, Jongin ingin sekali menerkam Sehun yang seperti ini. Tapi ia harus menahanya. Sebentar lagi saja, dan ia akan mendapatkan Sehun seutuhnya.

Mau bagaimana lagi? Sehun itu anak yang penurut. Jongin tahu itu. Ia anak tunggal dan merupakan kesayangan orang tuanya. Dan Sehun itu tidak bisa berbohong. Ia pasti akan mengatakan setiap detail yang Jongin lakukan jika sampai ayah Sehun mengetahui mereka berbuat mesum.

"Arra, kalau begitu cium aku."

"A, aku?" Sehun bertanya ragu. Ia menggigit bibir bawahnya. Dan Jongin menyukai itu. Sangat sexy.

"Eoh, kau tidak mau?" Lagi-lagi suara sexy itu.

Sehun menatap bibir tebal Kim Jongin, favorit nomer satunya dari sang kekasih. Matanya terpejam dan ia menyapu lembut bibir Jongin. Sangat pelan dan hati-hati. Jongin tahu Sehun memang tipe yang seperti ini. Ia mengambil alih ciuman itu. Mengulumnya, menggigit bibir bawah Sehun dan memasukan lidahnya saat Sehun membuka mulutnya. Mulut Sehun terasa penuh, ada dua lidah di dalam rongga mulutnya. Ah, ini begitu nikmat hingga di mendesah pelan. Kim Jongin membuatnya gila. Ia benar-benar mencintainya.

"Hya, sudah sering kita berciuman dan kau masih tetap saja buruk dalam hal itu."

.

.

.

~The End~

.

.

.

.

Ini sudah selesai ya, jangan tanya untuk sequel atau yang lainya karena yang akan muncul pasti sesuatu yang nista semacam adegan ranjang. Dan saya tidak terlalu baik dalam hal ini.

Saat ini, hanya ini saja. Maaf jika kurang memuaskan, pendek dan lain-lain. Dan terima kasih sudah memberikan dukungan, dan juga komentar. Maaf tidak bisa membalas satu persatu. Kalian Luar Biasa.

Sampai jumpa di lain cerita. Apa saya updatenya kecepetan?

#bow.