Tittle : Boy In Luv

Author : Mr_KHC and AL_quilis

Genre : Romance, Drama, Action, Hurt, Crispy Lay's, YAOI, Slice Of Life, etc.

Main Cast :

-Kim Jongin

-Byun Baekhyun

-Park Chanyeol

Other Cast : U will find inside there

Pair : ChanKai, ChanBaek, KaiBaek, HunKai

Rate : T semi M

Disclaimer : Ide cerita adalah hasil pemikiran otak saya dan sahabat saya, no plagiarism, bila ada kesamaan tempat, jalan cerita, dll, mohon dimaafkan, karena otak manusia tak dapat ditebak. Semua cast hanya milik Tuhan, dan saya hanya meminjam...

Enjoy it!

Warning : typo menyebar dan tercecer, bagi yang tak Suka YAOI silahkan hengkang.. :D

Annyeong... /lambai-lambai

Kekeke...kali ini saya dateng bawa FF baru lagi, tapi ini kolab bareng temen saya, sebut saja AL_quilis entah apa yang ada di otak kami, tiba-tiba tercetus untuk membuat fanfict semacem ini.

Happy read all..love u all..

SUMMARY..? no summary just read... xD

P.S: untuk nama author AL itu adalah kepanjangan dari AL_quilis, cuma saya aja yg sering panggil dia AL, lebih simple..xD

.===========KHC-N-AL============

.

.

.

.

.

/Prev

*** Boy In Luv ***

Jongin berjalan lesu menuju pintu gerbang utama sekolahnya. Ia berniat pulang cepat-cepat. Sedari semalam moodnya benar-benar seperti jatuh ke jurang. Antusiasnya mengikuti pelajaran sedang berada ditingkat dasar. Sepanjang hari ia hanya diam, enggan berkomentar banyak ketika teman-teman mengajaknya ngobrol untuk sekedar bercanda. Bahkan ia tampak tak bersemangat membalas sapaan ramah dari beberapa murid perempuan yang melewatinya. Ya, Jongin cukup populer disekolah. Selain reputasinya yang seorang ketua OSIS, juga karna ia mendapat label tampan dimata para murid pengagum dirinya.

"Kau kenapa, Jong? Sikapmu sungguh aneh hari ini." Tanya Baekhyun penasaran pada teman dekatnya itu.

"Tidak..." Jongin mengelak.

"Apa karna semalam?" Baekhyun mencoba menebak. Setelahnya, dahinya mengernyit karna mendapat helaan nafas gusar dari Jongin. "Katakan, Jong. Apa yang kalian pertaruhkan." Baekhyun mencengkeram lengan Jongin pelan.

"Meminta apapun dari yang kalah." Jawab Jongin lesu.

"Lalu apa yang dia minta?" Mereka kini berhenti diambang gerbang sekolah.

"Dia meminta... aku... menjadi kekasihnya." Jawab Jongin dengan nada yang menyimpan rasa keberatan.

"Apa, Jong! Kau bercanda, heh?" Baekhyun membulatkan matanya tak percaya.

"Sudahlah, tak perlu dibahas. Ayo pulang." Jongin kembali menghela nafasnya, menggandeng tangan Baekhyun dan berjalan berdampingan. Interaksi yang sudah biasa diantara keduanya jikalau salah satunya tengah gusar. Dan Baekhyun akan diam, membiarkan Jongin. Mungkin Jongin membutuhkan waktu, jadi ia akan menahan pertanyaannya.

Demi menetralkan degup jantung yang entah mengapa menjadi semakin cepat ketika Jongin mengingat peristiwa semalam. Mengingat sesuatu dimana Sehun membawanya pergi ke suatu tempat. Mengucapkan sesuatu seperti 'aku tertarik denganmu'. Ya kata-kata sejenis itu yang membuat persepsi Jongin berkelana kemana-mana. Ahjussi itu kenapa berbuat sedemikian rupa? Padahal mereka belum mengenal lama.

Langkah mereka terhenti ketika sebuah mobil Zenvo hitam berhenti disamping mereka. Jongin sedikit tersentak kaget ketika seorang familiar yang baru saja singgah dipikirannya kini muncul dengan gaya elegan didepan matanya. Ya Tuhan! Ahjussi ini bahkan tahu sekolahnya!

"Untuk apa kemari?" Tanya Jongin dingin.

"Tentu saja menjemputmu."

"Tidak mau. Aku ingin pulang dengan Baekhyun." Tolak Jongin mutlak.

"Sayangnya, aku tidak suka penolakan." Sehun mendesis tajam. Membuat Baekhyun yang berdiri disamping Jongin bergidik ngeri.

"Masuk." Perintah Sehun terdengar mutlak ketika membukakan pintu untuk Jongin. Membuat sang bocah manis menggeram kesal.

"Baek, maafkan aku." Ujar Jongin seraya memasuki mobil sport itu.

"Aku sudah meminta E-co untuk mengantarmu pulang tuan Byun dia ada dibelakang." Ucap Sehun pada Baekhyun sebelum akhirnya melesat pergi dan membuat Baekhyun memalingkan pandangannya kepada sebuah mobil sport berwarna kuning mencolok dengan lambang banteng di kap mobilnya, oke itu lamborghini bumblebee.

*** Boy In Luv ***

"Ahjussi, kau selalu seenaknya." Sehun menggeram kesal seraya melipat tangannya didepan dada. Sehun hanya diam seraya fokus mengemudi.

"Moodku sedang buruk karna kau. Jadi, ayo lakukan sesuatu yang menyenangkan. Sesuai keinginanku. Kau bilang ingin mengenalku 'kan? Aku ijinkan kau untuk itu." Lanjut Jongin setelah terjadi keheningan sesaat.

"Baiklah."

"Pertama, tepikan mobilmu." Perintah Jongin yang dihadiahi sebuah kernyitan dahi. "Cepatlah." Jongin terdengar tidak sabaran. Dan dengan pertanyaan yang menggantung, Sehun menepikan mobilnya didepan sebuah butik. Kemudian Jongin keluar dari mobil dan memasuki butik itu diikuti Sehun.

"Aku hanya berpikir, jika aku tetap gunakan seragam ini, kau akan disebut pedofilia." Anak ini, sebenarnya bagaimana laju pikirnya. Sehun benar-benar tidak mengerti.

Setelah selesai memilih pakaian yang akan Jongin kenakan, kini keduanya sudah keluar dari toko tersebut. Dengan gaya casual dan simple sesuai style Jongin, namun tetap terlihat tampan dan manis sekaligus. Bahkan sejujurnya, Sehun mengagumi tubuh ramping itu yang cocok memakai pakaian apa saja. Bahkan mungkin pakaian wanita. Karna menurut Sehun, pinggang Jongin terlihat kecil seperti wanita.

"Ayo kita jalan-jalan. Tanpa mobil." Ujar Jongin ceria. Yang sukses membuat Sehun merasa aneh. Hei, dimana Jongin yang ngambek tadi? Secepat ini moodnya berubah? Sungguh anak kecil.

"Kenapa tanpa mobil?"

"Eum... aku lebih suka berjalan kaki. Lagipula, bukankah ini akan terlihat lebih romantis? Berjalan berdua dengan sang kekasih. Ya walau sebenarnya ini karna taruhan. Tapi, aku laki-laki. Dan aku tidak akan lari dari konsekuensi atas kekalahanku. Jadi, ayo lakukan." Ujarnya. Tangannya beringsut perlahan, menelusup pada tangan lebar Sehun. Menggenggam tangan berbeda kulit itu, kemudian mengayun-ayunkannya dengan wajah ceria. Menyusuri jalanan kota Seoul berdua.

"Begini 'kan seharusnya?"

Sehun terkesiap atas tindakan Jongin. Tangan mungil ini terasa hangat dan sangat pas dalam genggamannya. Berbeda dengan tangan Sehun yang dingin. Menghangatnya tangan Sehun bersamaan dengan menghangatnya hati kecilnya. Tingkah spontan anak ini, serasa meruntuhkan bongkahan es dalam diri Sehun. Sejenak ia terpana menatap wajah Jongin dari samping. Sungguh Jongin ini seperti anak labil, sebentar begini, sebentar begitu. Membuat Sehun semakin tidak mengerti dengan kemauan bocah ini.

Dan Jongin sendiri juga tidak mengerti dengan dirinya saat ini. Ia masih ingat bagaimana rasa keberatan dirinya ketika menjawab pertanyaan Baekhyun mengenai apa yang dipertaruhkan dalam balapan semalam. Tapi kini, melihat wajah stoic Ahjussi Oh ini, rasanya dia tengah berada dalam dua mode, yaitu mood buruk dan baik. Bingung memilih satu diantaranya. Namun, ia tidak tega untuk mengembangkan mood buruknya didepan Ahjussi Oh ini. Jadi dia memilih mood baik sebagai pemenang. Memberanikan diri menggandeng tangan kekar Sehun. Yang sejujurnya, ini terjadi spontan, dan berhasil memicu jantungnya untuk berdetak lebih cepat. Jongin tidak mengerti mengapa menjadi seperti ini. Padahal, dia sendiri yang mulai menggenggam tangan besar Sehun.

"Jadi..kemana kita akan pergi?"

"Karena tempat ini dekat dengan taman hiburan, bagaimana kalau kita kesana, lagipula sudah lama aku tak bermain disana.." usul Jongin sembari tersenyum lebar kearah Sehun

"Lakukan sesukamu.."

Sekitar 10 menit mereka berjalan kaki sambil bergandengan tangan yang mana membuat orang-orang melihat mereka terkagum-kagum, dengan wajah dingin Sehun dan wajah imut milik Jongin yang berjalan antusias sesekali menarik tangan Sehun agar segera sampai di taman hiburan.

"Kajja, kita naik Jet coaster...dulu aku belum cukup umur untuk menaikinya, ayo..ayoo...aku ingin naaiikk.." rengek Jongin sembari menarik-narik tangan Sehun manja. Dengan berat hati akhirnya Sehun meng-iyakan keinginan Jongin untuk naik jet coaster.

"Waaaaa...!" teriak Jongin histeris saat jet coaster berjalan turun dari ketinggian sekitar 15 meter dari daratan dengan kecepatan tinggi. Dan sepertinya hanya Sehun saja yang biasa saja menikmati permainan pemacu andrenalin ini, bagaimana ia selalu menampakkan wajah dingin tanpa ekspresinya itu.

Selesai mereka menaiki jet coaster, tiba-tiba Sehun membekap mulutnya dengan sebelah tangan dan seketika ia berlari meninggalkan Jongin. Jongin yang menyadari jika Sehun berlari menjauh, seketika membuatnya mengejar Sehun yang ternyata memasuki sebuah toilet yang berada tak jauh dari arena bermain mereka. Melihat keadaan Sehun yang bisa dibilang membuat Jongin menyunggingkan senyum remeh kearah Sehun. Jujur saat ini Jongin menahan tawanya mati-matian

Jongin yang mengerti keadaan Sehun, seketika mendekatinya dan memijit tengkuk belakang Sehun yang sedang mengeluarkan isi perutnya di wastafel yang berada di toilet tersebut.

"Kalau kau memang tidak tahan jika naik jet coaster bilang saja.. jangan membuat dirimu malu karena image-mu yang dingin itu.." oceh Jongin yang masih memijat tengkuk Sehun masih mengeluarkan isi perutnya dengan telaten.

Sehun membersihkan mulutnya dengan air mengalir dan mengelapnya dengan tisu yang berada tak jauh dari jangkauannya.

"Haah.. ini karena semalam aku meminum banyak bir, dan kau tahu sendiri.." Sehun menghela nafas panjang sembari membuang tisu ke tempat sampah.

Jongin mengangguk paham, "Baiklah.." jawab Jongin seadanya.

***Boy In Luv***

Setelah puas menikmati hampir seluruh permainan yang ada di taman berman itu, Sehun dan Jongin memutuskan untuk duduk disebuah bangku panjang yang disisinya Jongin sedang membeli gula kapas yang tak jauh dari tempat mereka duduk. Dengan sesekali Sehun meminum air mineralnya.

Jongin berjalan menghampiri Sehun "Apa kau juga mau gula kapas ahjussi?" Tanya Jongin, dan dibalas gelengan dari Sehun.

"Okey.." Jongin kembali berjalan kearah penjual gula kapas itu.

"Apa dia kekasihmu anak muda..?" Tanya penjual gula kapas tersebut

"Menurut ahjussi..?" Jongin balik bertanya dan membuat ahjussi tersebut terkekeh.

"Menurutku kalian sangat cocok lihat wajah tampan namun dingin kekasihmu dan wajah imut namun hangat milikmu..kalian saling melengkapi"

"Benarkah..?"

"Ne..ah..ini pesananmu...dan gratis.." ucap penjual tersebut, memberikan sebuah gula kapas kepada Jongin.

"Uwaa...jinjja..? Terima kasih ahjussi..."

"Dengan satu syarat, berjanjilah padaku, jika kau kemari lagi bersamanya, sudah ada benda perak yang melingkar di jari manis kalian berdua.."

"Eh..? Em..baiklah ahjussi..." jawab Jongin, ia tersenyum manis kearah penjual gula kapas tersebut, membungkukkan badannya lalu kembali menemui Sehun sembari membawa sebuah gula kapas di tangannya.

Jongin duduk disamping Sehun, "Yakin tak mau memakan ini..?" Tawar Jongin, dibalas gelengan oleh Sehun.

Jongin mengangguk paham, lalu mulai mencomot bagian gula kapas tersebut lalu tanpa sepengetahuan Sehun, Jongin menjejalkan gula kapas itu kemulut Sehun. Sehun melonjak kaget dan mendeathglare Jongin yang sudah seenaknya menjejalkan makanan ke mulutnya.

"Sudah.., makan dan telan.." ucap Jongin santai sembari memakan gula kapasnya, Sehun pasrah dan akhirnya menelan gula kapas yang ada dimulutnya, melihat ada yang tertinggal, Jongin mengusap sudut bibir Sehun dengan kelingkingnya, untuk menyingkirkan gula kapas.

"Setelah ini temani aku makan ice cream..." ucap Jongin telak, sembari setia memakan gula kapas yang tinggal setengah, lalu menjejalkan kembali gula kapas kemulut Sehun.

"Yha! Berhentilah menjejaliku.."

"Wae..? Bukankah itu terasa enak..?" Jongin mencomot gula kapasnya lalu menjejalkannya ke mulut Sehun, entah yang keberapa kalinya, dan membuat Sehun diam-pasrah saja memakan gula kapas.

*** Boy In Luv ***

Hari demi hari di musim semi dilalui dengan baik oleh Sehun dan Jongin. Hanya berawal dari taruhan tidak bermutu waktu itu, hubungan keduanya menjadi lebih dekat. Sehun menjadi semakin mengerti bagaimana karakter Jongin. Ia sudah terbiasa dengan tingkah laku Jongin. Satu hal yang Sehun sadari, Jongin jika dihadapannya terasa berbeda dibanding Jongin menghadapi orang lain. Entah Sehun yang terlalu percaya diri atau apa, tapi ia merasa bahwa Jongin hanya bertingkah manja padanya. Dan Sehun, ia semakin menyukai bocah itu seiring pergantian musim yang ternyata ini sudah memasuki awal musim dingin. Hubungan mereka masih baik-baik saja.

Diselingi sesekali kecupan ringan di pipi berawal dari insiden Jongin loncat-loncat di kasur Sehun waktu itu, mereka jadi sering mencium. Meski tidak sampai bibir. Mereka hanya masih betah untuk bergandeng tangan, berpelukan, atau sekedar menyentuh pipi. Karena faktanya Sehun berpikir Jongin masih belum cukup umur untuk diajak berciuman dibibir. Mungkin ia akan berciuman panas dengan bibir Jongin nanti jika sudah saatnya.

Hubungan terasa hambar tanpa pertengkaran bukan? Maka hubungan mereka pun tak luput dari pertengkaran untuk hal kecil yang sesungguhnya tidak penting. Hingga terkadang membuat pelayan dirumah Sehun menganga tidak percaya mendapati berbagai ekspresi lain dari sang majikan tatkala Jongin datang dan membuat onar. Mereka hanya tidak mengerti bagaimana anak SMP itu cepat sekali beradaptasi dilingkungan asing. Menaklukan sisi keras Sehun yang selama ini menjadi tameng. Dan sejauh ini, setidaknya Jongin belum mengetahui siapa Sehun sebenarnya, menurut Sehun.

Jongin menjalani hubungan ini dengan gembira. Meski awalnya ia terpaksa, entah mengapa seiring ia sering bersama Sehun, rasanya sekarang ia menjalani hubungan dengan suka rela. Jongin sesungguhnya tidak mengerti mengapa bisa seperti ini. Ia merasa nyaman dan bahagia ketika bersama Sehun. Perlakuan lembut Sehun. Sehun yang melindunginya, meski sebenarnya ia sendiri pria yang memang dituntut untuk bisa menjaga diri sendiri, tapi tidak ada salahnya ia merasa aman dilindungi orang lain bukan? Jongin bertambah bahagia ketika Sehun mulai akrab dengan orang tua nya. Disaat Jongin memperkenalkan Sehun pada mereka, mereka menerima kehadiran Sehun dengan baik. Bahkan sang ibu nampak menyukai Sehun. Bukankah ini awal yang bagus?

Dan hal inilah yang membuat Sehun semakin menyukai dan menyayangi Jongin. Jongin memberikan sesuatu yang sudah bertahun-tahun ia rindukan. Jongin mampu mengisi kekosongan hatinya selama ini. Sehun merasakan kehangatan keluarga lagi berkat Jongin.

Setelah orang tuanya meninggal, Sehun dididik keras oleh sang paman. Perangai dingin yang terlukis dalam dirinya adalah karna dia sudah terbiasa menerima didikan keras dari sang paman, serta didorong oleh masa kelam yang pernah ia alami ketika kecil. Tragedi memilukan dimana keluarganya dibantai oleh organisasi mafia yang kala itu berseteru dengan Yakuza. Jangan lupakan bahwa pamannya adalah wakil Yakuza sehingga orang tuanya pun ikut menjadi korban. Untunglah dia dan sang paman yang merupakan target sesungguhnya selamat dari pembantaian itu. Awalnya ia tidak terima dan sangat marah pada pamannya, namun seiring bertambahnya usia, ia menjadi berpikir bahwa itu takdir yang sudah digariskan Tuhan. Sejak saat itu Sehun kecil yang semula bercita-cita ingin menjadi presiden, mengubah haluan untuk membalas dendam atas kematian kedua orang tua yang sangat ia cintai. Membentuk organisasi keadilan serta mengumpulkan informasi mengenai Draco -organisasi yang membantai kedua orang tuanya-.

*** Boy In Luv ***

Akhir-akhir ini Sehun dibuat geram oleh kedekatan antara Kris sang ketua organisasi balap liar dengan Jongin sang kekasih. Ia sungguh tidak suka bagaimana interaksi mereka. Memang dia percaya sikap Jongin dilatar belakangi perasaan yang biasa saja pada Kris karna Jongin sendiri yang mengatakan ia tidak mencoba selingkuh dengan siapapun. Namun Kris? Bagaimana mungkin Sehun percaya karna faktanya ia tahu Kris memiliki perasaan khusus pada Jongin-nya. Dan mungkin Jongin sendiri pun tahu hal itu.

Setiap kali bertemu, mereka bahkan tak pernah menunjukan perdamaian. Seperti berperang dingin untuk menarik perhatian Jongin. Seringnya Jongin menjadi pusing dan berakhir melarikan diri bersama Baekhyun jika kedua pemuda seumuran itu sudah mulai bersitegang. Jika dibilang posesif, maka benar Sehun memang posesif pada Jongin. Ia sudah mengklaim Jongin sebagai miliknya mana mungkin ia rela diusik? Memang benar dibanding Sehun, Kris lah yang sudah mengenal Jongin lebih lama. Sehun sadar hal itu, dan ia menghargai kedekatan mereka. Namun jika Kris semakin keterlaluan mendekati Jongin, apa mungkin Sehun diam? Tentu tidak, karna faktanya Jongin pun sudah memilihnya. Sungguh Sehun berpikir bahwa Kris itu tidak tahu diri, mencoba mendekati Jongin yang sudah punya kekasih, dengan dalil 'kalian belum menikah, jadi Jongin bebas didekati siapapun'. Tentu dalil itu Jongin tidak mengetahuinya.

Dan jadilah sekarang Kris menantang Sehun balapan. Dengan taruhan, jika Sehun kalah maka harus melepaskan Jongin untuk Kris.

"Aku tidak mau." Tolak Sehun datar.

"Mengapa? Kau takut kalah?"

"Tidak pernah takut kalah darimu. Aku hanya ingin menjaga perasaan Jongin. Aku tidak mau menjadikannya bahan taruhan."

"Cih! Pengecut!"

"Aku tidak peduli apa yang kau katakan. Lagipula, mengapa kau tak menyerah saja. Jongin sudah memilihku dari awal. Kau, tak tahu malu. Jika kau benar-benar menyayanginya, seharusnya kau merelakan ia menjadi milikku. Karna faktanya, Jongin sudah jatuh cinta padaku. Dan hubungan kami sudah lebih dari sekedar pacaran."

Buagh!

Mendengar perkataan Sehun, amarah Kris tersulut. Melayangkan bogem mentah pada rahang Sehun hingga sudut bibir tipis itu terkoyak. Sehun menyeringai sambil mengusap darah pada bibirnya dengan ibu jarinya. Menatap Kris remeh.

"Kenapa? Merasa kalah kata dan meninjuku?"

Buagh!

Kris kembali melayangkan tinjunya hingga tubuh Sehun terjajar kebelakang.

"Rupanya Kris Wu lebih tempramental dariku. Disini yang pengecut adalah kau." Sehun kembali memamerkan seringai remeh. Hingga kembali mendapat hantaman kuat dari Kris untuk ketiga kalinya.

"Pukulanmu tidak ada apa-apanya bagiku, Kris. Aku bisa membalasmu lebih dari ini. Sayangnya, Jongin tidak suka aku berkelahi hanya karna masalah sepele."

"Kau pikir kau bukan pengecut? Membohongi Jongin atas identitasmu yang sebenarnya. Ketua organisasi mafia Phoenix." Ujar Kris menyeringai menang ketika Sehun menatapnya terkejut. "Kau pikir aku tidak tahu latar belakangmu?"

Buagh! Bugh! Bugh!

Kris melayangkan tinjunya bertubi-tubi menyerang Sehun. Menciptakan beberapa lebam pada wajah putih Sehun. Ia menggeram rendah dan semakin brutal menyerang Sehun ketika pemuda stoic itu tidak membalasnya sedikitpun. Sehun sesungguhnya ingin membalas perlakuan Kris jika saja ia tidak ingat perkataan Jongin yang tidak mau ia berkelahi karna hal kecil. Dan Sehun menganggap ini adalah masalah kecil. Ia tidak mau meladeni temprament sesaat dari Kris dan membuat malaikat kecilnya kecewa.

"Cukup, Kris hyung!" Teriak seseorang dengan suara parau membuat tubuh Kris mematung dan menghentikan serangannya. Suara ini, milik seseorang yang tengah mereka debatkan. Kim Jongin.

"Kau tidak apa-apa, Hun?" Tanya Jongin khawatir seraya menilik lebam diwajah Sehun.

"Tidak apa-apa."

"Tunggulah di luar. Aku ingin bicara pada Kris hyung." Perintah Jongin. Sehun pun keluar meninggalkan mereka bersama Baekhyun yang tadi muncul bersama Jongin. Baekhyun nampak khawatir, dan membantu Sehun berjalan.

Jongin menatap datar Kris yang kini duduk di sofa single ruangan itu. Kemudian menghela nafas pelan seraya duduk disamping Kris.

"Maafkan aku ya, hyung." Kris menunduk. Ia tak berani menatap Jongin saat ini. Sesungguhnya ia terlampau malu berhadapan dengan Jongin. Jongin pasti sudah melihat bagaimana tempramentalnya ia tadi. Mengapa malah Jongin yang meminta maaf?

"Sejujurnya, aku sudah tahu sejak lama mengenai perasaanmu padaku."

Hening,.. Kris enggan menjawab apapun.

"Mungkin kau akan sakit hati setelah ini. Tapi, selama ini aku hanya menganggapmu sudah seperti hyungku sendiri. Memang aku menyukaimu, tapi hanya sebatas teman. Tidak lebih." Lagi-lagi Kris hanya diam. Hatinya seperti tengah dihujam sesuatu yang sangat tajam hingga membuatnya bungkam.

"Hubungan ini memang berawal dari sebuah taruhan, tapi semakin lama aku menyadari bahwa aku telah terjerat dalam permainannya. Aku... jatuh cinta pada Oh Sehun. Dan memutuskan untuk melanjutkan hubungan ini. Bukan lagi didasari oleh main-main." Setelah mengatakan itu, Jongin memeluk hangat tubuh Kris yang lebih besar darinya itu.

"Kuharap kita masih bisa seperti biasa. Maafkan aku, Yifan hyung. Aku telah menjadi egois dan menyakitimu."

*** Boy In Luv ***

Kini Sehun dan Jongin tengah berada di ruang kamar Sehun. Terjadi keheningan panjang pada keduanya. Entahlah, seusai perkelahian antara Kris dengannya tadi, Jongin tak mengajak Sehun untuk bicara.

Jongin dengan telaten mengobati luka memar pada wajah Sehun dan menghapus darah di sudut bibirnya dengan hati-hati. Ia hanya takut menggores luka Sehun dan membuatnya merintih sakit. Namun sejujurnya, Sehun sedari tadi hanya diam meski lukanya tersentuh jemari lentik Jongin. Luka-luka ini sebenarnya bukan apa-apa bagi Sehun. Ia sudah terbiasa terluka fisik.

"Maaf..." Sehun berujar lirih. Jongin menatap Sehun bingung seraya memasukkan peralatan P3K pada kotaknya. Kemudian menyingkirkannya kesamping.

"Hm?" Ia menggumam.

"Apa kau mendengar semuanya?" Tanya Sehun hati-hati.

"Hampir..." Jongin mengerling berpikir.

"Maaf, Jongin." Sehun terdengar menyesal.

"Tidak apa-apa..." Jongin berujar pelan dengan senyum simpulnya. Seolah tidak terjadi apa-apa. Membuat Sehun semakin diliputi rasa bersalah karna Sehun sudah membohongi anak ini. Tapi, tidak bisa dibilang membohongi juga. Karna faktanya Sehun tidak pernah berbicara apapun tentang profesinya atau menutup-nutupi, dan Jongin sendiri tidak pernah bertanya. Yang ia tahu hanya sering datang ketika Sehun menemui para tamu berpangkat.

"Kau tidak marah?" Sehun bertanya hati-hati.

"Marah untuk apa? Bukan salahmu. Lagipula-" Hening. Jongin menggantung kalimatnya. "-aku sudah tahu latar belakangmu. Aku memang anak kecil. Tapi jangan remehkan otakku dalam menganalisis keadaan."

Perkataan Jongin barusan, sukses membuat Sehun terkesiap dan memandang Jongin terkejut.

"Kau... tidak berusaha menghindariku?" Sehun menatap Jongin intens sekarang.

"Untuk apa?" Jongin beringsut lebih dekat pada tubuh Sehun. Tangannya bergerak menelusup dipinggang Sehun. Memeluk Sehun hangat dan menyandarkan kepalanya pada dada bidang itu. Membuat tubuh Sehun mematung seketika.

"Apakah aku belum pernah berkata... aku... jatuh cinta pada Paman Oh Sehun? Mulai sekarang aku tidak akan memanggilmu paman lagi." Ujar Jongin dengan senyum manisnya.

Hening... Sehun diam tetap dengan posisinya. Merasakan kehangatan pelukan Jongin. Dan menikmati wangi Jongin yang menguar remang.

"Yang aku pikirkan adalah, bagaimana untuk menyembunyikan latar belakangmu dari ayah, atau menjelaskannya pelan-pelan. Ini akan sulit, Hun." Jongin berujar lirih masih dengan posisi memeluk Sehun.

Sehun menggerakkan tangannya ragu untuk membalas pelukan Jongin. Ia hanya tidak habis pikir dengan jalan pemikiran Jongin yang memang sulit ditebak. Ia bingung harus bereaksi seperti apa. Jongin menerima latar belakangnya yang seorang ketua mafia. Ia senang tentu saja. Ia mengira, selesai masalah Kris, Jongin juga akan marah. Namun di luar dugaan, Jongin malah tidak marah sama sekali. Justru Jongin mengutarakan cinta yang memang belum pernah Sehun dengar. Ia tahu Jongin masih belia yang mungkin masih bisa dibilang labil. Tapi, Sehun hanya mencoba percaya. Karna faktanya Sehun juga jatuh cinta pada anak ini. Dasar dari hubungan adalah saling percaya dan kesetiaan, tentu dengan cinta yang menjadi pondasi utama. Yang menjadi pikiran Sehun adalah, apakah ayah Jongin akan tetap menerimanya jika tahu diri Sehun sesungguhnya? Selama ini Sehun hanya mengaku sebagai pengusaha. Jika tiba-tiba ia berbicara tentang 'pemimpin organisasi mafia' maka reaksi seperti apa yang akan ayah Jongin berikan padanya. Sungguh Sehun bukan peramal masa depan.

Balasan pelukan Sehun yang semula ragu, kini dengan mantap mengerat. Mendekap tubuh kecil itu erat, dan mengecupi puncak kepala Jongin sayang. Jongin sudah mengakui cintanya, yang artinya ia sudah merelakan dirinya untuk digenggam oleh Sehun. Maka tanggung jawab Sehun akan menjadi lebih besar. Ia harus menjaga Jongin dengan sungguh-sungguh. Jangan sampai musuh tahu tentang keberadaan Jongin yang hubungannya sudah jauh dengan sang ketua. Sehun tidak mau Jongin menjadi korban. Dan Sehun berpikir, suatu hari nanti akan terjadi sesuatu. Seperti menggunakan Jongin untuk mengancam Sehun. Sehun telah berjanji untuk menjaga anak ini sebelum hal itu benar-benar terjadi. Serapi mungkin ia akan menyembunyikan identitas Jongin yang adalah kekasihnya -untuk saat ini- dari musuh.

*** Boy In Luv ***

Hari ini adalah hari dipertengahan musim dingin dimana salju meningkatkan intensitasnya berguguran. Hawa dingin serasa menusuk tulang. Jongin semakin mengeratkan mantelnya seraya berlari cepat-cepat memasuki kediaman bergaya yunani yang adalah rumahnya. Sesekali terdengar desisan kedinginan keluar dari bibirnya. Ia sedikit menyesal menolak diantar Supir Hyun untuk kesekolah. Ia tidak mengira kalau akan terjadi rintik hujan salju. Ramalan cuaca yang salah.

"Dingin sekali..." Jongin menggerutu seraya mengusap-usap lengannya ketika ia sudah memasuki rumahnya. Ia berjalan cepat-cepat menuju tangga untuk ke lantai 2 dimana kamarnya berada. Ia ingin bergelung dalam selimut tebal. Menghangatkan tubuhnya.

"Kim Jongin!" Suara baritone seseorang terdengar menginterupsinya tegas. Membuat langkah Jongin terhenti dan berbalik.

"Ya, Ayah?" Jongin menatap ayahnya bingung.

"Berikan ponsel dan credit card-mu." Perintah sang ayah tanpa basa-basi membuat Jongin semakin bingung apalagi ayahnya sedikit memberikan penekanan pada nada bicaranya. Tuan Kim menatap tajam tepat pada manik hitam Jongin mengisyaratkan agar Jongin cepat melakukan perintahnya. Pandangan menusuk yang belum pernah Jongin terima. Artinya, Jongin sedang bersalah. Tapi, apa salahnya?

Jongin terkejut tentu saja. Baru saja pulang, sudah disambut mood buruk sang ayah. Maka dengan keraguan, Jongin menyerahkan apa yang Tuan Kim minta.

"Ayah akan menyita ponsel dan kartu creditmu. Mulai besok kau akan diikuti dua bodyguard kemanapun kau pergi termasuk ke sekolah." Ucap Tuan Kim penuh penekanan. "Jangan mencoba untuk melawan atau ayah akan menurunkan bodyguard lebih banyak." Kemudian melangkah pergi meninggalkan Jongin yang mematung.

Tap...

Belum jauh Tuan Kim melangkah, ia berhenti tanpa berbalik.

"Satu lagi. Jangan pernah lagi temui Oh Sehun! Jika kau tetap menemuinya, ayah tidak segan-segan mencoret namamu dari daftar keluarga!"

*** Boy In Luv ***

Jongin termenung dengan pandangan tak berarti ditepi ranjangnya. Sedari tadi pikirannya hanya berputar-putar pada satu titik. Ia terlalu fokus memikirkan perkataan ayahnya beberapa saat lalu hingga lupa mengganti pakaian sekolahnya. Tangannya mengerat menggenggam sprai bermotif club bola favoritenya, Chelsea.

Ponsel dan credit cardnya tiba-tiba disita. Mulai besok dijaga ketat 2 bodyguard. Dan... tidak boleh bertemu lagi dengan Sehun? Dicoret dari daftar keluarga? Astaga!

Sungguh pikirannya mulai berkecamuk. Berbagai pertanyaan mulai bermunculan menggerayangi otaknya. Jongin benar-benar tidak tahu apa-apa atas perubahan sikap sang ayah padanya. Pasalnya, ayahnya tak pernah seperti ini.

Apa yang terjadi dengan ayah? Apa maksud ayah sebenarnya? Mengapa tiba-tiba aneh begini? Sungguh Jongin menjadi frustasi mendapati perubahan ayahnya yang terlalu signifikan dalam sekejap. Padahal kemarin ayahnya masih seperti biasanya. Apakah Jongin berbuat salah? Lantas, apa salahnya? Seingatnya ia tak melakukan hal fatal apapun.

"Jonginnie sayang..." Suara lembut seseorang mengalun menyapa gendang telinga Jongin. Membuyarkan lamunannya kemudian mendongak menatap sang ibu yang kini duduk disampingnya, dan menggenggam tanggannya hangat. Menenangkannya seolah tahu bahwa Jongin sedang gusar diliputi kebingungan.

"Kau pasti terkejut." Ujar Nyonya Kim lirih.

"Sebenarnya ada apa, Bu?" Jongin bertanya dengan nada pelan.

Jemari lentik sang ibu perlahan bergerak membelai surai hitam Jongin lembut. Menyalurkan kasih sayangnya pada sang putra tercinta.

"Jongin, apa kau tergabung dalam organisasi balap liar?" Tanya Nyonya Kim hati-hati.

"I-ibu, dari mana ibu tahu?" Jongin terkesiap hingga membuatnya tergagap.

"Akhir-akhir ini ayahmu menyuruh seseorang menyelidiki kegiatanmu diluar rumah. Kau yang tidak biasanya keluar rumah dimalam hari, menjadi sering menyelinap malam-malam. Ayahmu menjadi curiga."

Hening... Jongin terdiam menatap ibunya dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Dulu ayahmu juga sama sepertimu, Sayang. Suka balap liar. Ayahmu dulu adalah brandalan. Tapi semua menjadi berubah ketika adik perempuannya meninggal dalam sebuah balap liar. Ayahmu ikut dalam balap liar itu. Dan waktu itu almarhum bibimu berusaha menghentikan ayahmu. Setelah itu ayahmu dimaki, dipukuli, dan dihujat habis-habisan oleh orang tuanya. Ia di coret dari daftar keluarga, dan diusir dari rumah. Sejak saat itu hubungannya dengan nenek dan kakekmu serta saudaranya yang lain menjadi renggang. Ia dikucilkan. Namun ia berhasil tercantum kembali dalam silsilah keluarga Kim ketika kau dilahirkan. Karna kau adalah syarat untuk ayahmu. Kau satu-satunya cucu laki-laki yang akan mewarisi perusahaan."

Jongin tetap hening mendengar cerita panjang dari ibunya. Rasanya dada Jongin bergemuruh sesak. Ia tak pernah tahu masa lalu ayahnya yang ini. Selama ini ia dekat dengan kakek, nenek, paman, dan bibinya dari pihak ayah.

"Ayah sangat menyayangimu, Jongin. Ia tidak mau hal serupa terjadi padamu. Meski ia orang yang keras, semata-mata untuk kebaikanmu. Ayah menaruh harapan besar padamu." Nyonya Kim kembali mengusap surai Jongin lembut. Jongin mengerti sekarang. Ia menunduk, menatap genggaman tangan ibunya dengar rasa bersalah.

"Lalu, apa yang salah dengan Sehun, Bu?" Nyonya Kim menghela nafas berat.

"Kau... mencintai Sehun?" Tanya Nyonya Kim serius.

"Aku mencintainya." Jawab Jongin mantap. Membuat Nyonya Kim menghela nafas berat dan menatap putranya kasihan. Putranya ini masih tingkat 3 JHS, tapi sudah mengalami perasaan jatuh cinta. Kemudian dihadapkan dengan 2 pilihan sulit, keluarga... atau cinta pertamanya.

Nyonya Kim mengerti bagaimana perasaan dan posisi Jongin saat ini. Sejujurnya ia pun terkejut mengetahui latar belakang Sehun. Ia pun merasa telah dibohongi disaat ia percaya pada pemuda putih itu. Ia pun kalut. Putranya tengah kebingungan dan terjebak dalam situasi sulit. Dalam hati ia menyampaikan maaf dengan setulus nuraninya pada putra tercinta karna tak dapat berbuat apa-apa. Ia tak bisa melawan keputusan suaminya, karna apapun keputusan Tuan Kim adalah mutlak dan harus dipatuhi setiap penghuni rumah ini.

Tuan Kim memang orang dengan watak keras sama seperti anaknya, Kim Jongin.

"Ayahmu... sudah tahu siapa Sehun sebenarnya."

*** Boy In Luv ***

Jongin merenung menatap jalanan Seoul dari balik kaca jendela mobil yang tengah melaju menuju sekolahnya. Menatap kosong tanpa minat. Sesekali terdengar helaan nafas berat.

2 minggu ini senyum Jongin tidak terukir. Yang muncul hanyalah ekspresi datar, dingin, dan murung. Kenyataannya sang ayah tidak main-main dengan ucapannya waktu itu. Jongin benar-benar dijaga ketat. Ia selalu diikuti 2 bodyguard terbaik pilihan ayahnya kemanapun ia pergi. Bahkan hanya jalan-jalan ketaman bersama Monggu pun Jongin tetap diikuti bodyguard. Sungguh Jongin merasa dikekang, tidak bisa lari kemana-mana.

Jongin kembali menghela nafasnya berat. Jujur saja ia gelisah. Memikirkan satu nama, Sehun. Sedang apa dia? Apa yang ia lakukan? Apa ia juga sedang memikirkan Jongin?

Sesungguhnya Jongin tahu bahwa Sehun mencarinya kesekolah, sungguh ia ingin menemui Sehun, namun sebelum ia sempat melihat Sehun, tubuhnya sudah lebih dulu diseret 2 bodyguardnya melalui pintu belakang.

Tak bisa dipungkiri bahwa Jongin merindukannya. Jongin ingin mengadu bahwa ia tengah terjebak dalam dua pilihan. Berbagi masalah dengan Sehun. Mencari jalan keluar bersama-sama. Bukankah sepasang kekasih memang harus begitu? Bersama-sama melewati rintangan. Namun faktanya Jongin tidak bisa menghubungi Sehun sama sekali. Tentu kendalanya adalah 2 bodyguard yang tengah mengantarnya ini, dan ponselnya yang tak juga dikembalikan. Ia tidak peduli dengan kartu kreditnya, ia hanya perlu ponsel!

*** Boy In Luv ***

Sehun menatap kosong layar ponselnya yang menyala menunjukkan sebuah background berupa foto Jongin yang tengah menggembungkan pipinya lucu. Sehun sedang gusar, ia menunggu, menunggu seseorang untuk menghubunginya. Siapa lagi kalau bukan Kim Jongin. Ia sudah meminta penjelasan pada Baekhyun, namun Baekhyun hanya mengatakan bahwa Jongin tidak bercerita apa-apa. Ia hanya tahu Jongin di kawal bodyguard. Ini yang membuat Sehun tidak mengerti. Bodyguard?

Beberapa hari ini ia dibuat kelimpungan. Pasalnya, ia tidak menemukan Jongin dimanapun. Jongin tidak pernah lagi menampakkan batang hidungnya di rumahnya. Biasanya Jongin akan muncul secara tak terduga dan berbuat macam-macam dirumah ini seperti berjalan-jalan diatas sofa maupun meja makan, mengobrak-abrik lemari es Sehun untuk menemukan es krim, atau menjejalkan berbagai makanan murahan ke mulut Sehun dengan tidak sopan, atau juga tiba-tiba menyeret Sehun untuk menemaninya bermain diluar bersama Monggu hanya untuk sekedar jalan-jalan.

Namun sudah 2 minggu ini kediaman Phoenix terasa hampa tanpa Jongin. Terlebih Sehun. Terkadang ia menjadi tidak fokus ketika rapat anggota ataupun rapat mengenai perusahaan yang dikelolanya, atau tiba-tiba mengacak rambutnya frustasi. Membuat penghuni Phoenix dan para klien dibuat heran melihat Sehun yang seperti orang gila. Dan tak segan-segan membatalkan rapat yang bahkan bersifat penting.

Jangan tanyakan seberapa rindu Sehun pada Jongin!

Ia sudah mendatangi tempat-tempat yang kemungkinan Jongin berada. Disekolah, bahkan Sehun selalu saja tak menjumpainya. Baekhyun bilang Jongin sudah pulang duluan. Di markas balap liar juga tidak ada, bahkan Kris pun tidak tahu dimana Jongin. Sosok Jongin seperti ditelan bumi. Menghilang begitu saja. Sehun sudah berusaha menghubungi Jongin namun ponsel bocah itu tak pernah aktif. Ia juga sudah berusaha menghubungi ayah Jongin namun panggilannya selalu ditolak. Jika mendatangi kantor Pegasus hanya untuk menanyakan keberadaan Jongin, akan menjadi tidak sopan. Biarpun Sehun seorang ketua, dia juga tetap memiliki kesopanan. Apalagi pada ayah Jongin.

*** Boy In Luv ***

Jongin berjalan gontai dengan wajah murung menghampiri Baekhyun yang tengah sibuk membaca buku paket sastra. Mata pelajaran pertama yang akan dimulai 20 menit lagi. Jongin mendudukkan dirinya asal, menumpukan berat badannya pada tubuh Baekhyun tanpa aba-aba, memeluk pinggang ramping Baekhyun dan menyandarkan kepalanya malas pada sebelah bahu Baekhyun. Membuat Baekhyun terhenyak dan menatap Jongin bingung. Bahkan beberapa murid pun terfokus pada Jongin. Mereka tidak heran dengan kedekatan sepasang sahabat itu karna pemandangan seperti ini sudah biasa. Skinsip mereka, interaksi mereka, sudah dianggap biasa oleh para murid. Beberapa ada yang menjuluki mereka romantis dan mendukung mereka pacaran. Namun kedua orang yang menjadi pusat perhatian itu hanyalah sepasang sahabat, tidak lebih.

"Hei, ada apa denganmu?" Baekhyun bertanya pelan.

"..."

"Jongin..." Baekhyun mengguncang tubuh Jongin sedikit ketika pertanyaannya tak mendapati jawaban dari sahabatnya.

"Ketua OSIS, kau kenapa? Terlihat lesu akhir-akhir ini." Ujar seorang siswi wanita yang melintas dengan penuh perhatian. Baekhyun melempar pandangan pada siswi itu dan memberi kode agar jangan mengganggu Jongin yang sedang aneh. Siswi itu pun pergi.

"Bisa katakan padaku ada apa? Tidak perlu terburu-buru, pelan-pelan saja aku akan mendengarkanmu sebaik mungkin." Ujar Baekhyun sambil menepuk bahu Jongin pelan. Ia tahu, jika Jongin aneh seperti ini, berarti hatinya sedang terganggu dan bingung.

Jongin bergerak, menjauhkan kepalanya dan melepas pelukan Baekhyun.

"Memang hanya kau yang mengerti aku, Baek. Aku curiga, kau punya indera ke enam ya?"

"Memangnya sudah berapa lama kita saling mengenal? Jangan meremehkanku, Jongin, dari sorot matamu pun aku tahu kau sedang gelisah." Baekhyun menatap Jongin dengan dahi berkerut ketika sahabatnya itu menghela nafas berat.

"Aku merindukan Sehun..." Ujar Jongin lirih dengan pandangan kebawah.

"Kenapa tak menemuinya? Menghubunginya mungkin?"

"Aku... tidak bisa, Baek." Jongin menunduk. Pancaran mata Jongin meredup. Dari sanalah Baekhyun menyadari ada yang tidak beres dengan hubungan Jongin dan si dingin itu.

"Mau bercerita?" Tawar Baekhyun tulus.

** Boy In Luv ***

'Jongin benar-benar tidak bisa menghubungimu ataupun menemuimu. Seharusnya aku tidak boleh mengatakan ini padamu karna Jongin melarangku. Tapi kupikir kau berhak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Paman Kim menjaga ketat Jongin. Ia dilarang keras untuk menemuimu. Sehun, paman Kim sudah mengetahui siapa kau sebenarnya, dan mengetahui kegiatan balap liar Jongin. Satu yang perlu kau tahu, Jongin sangat merindukanmu. Ia terlihat murung. Aku tidak tega. Kuharap kau dapat melakukan sesuatu, Jongin tidak suka dikekang.'

Pesan panjang dari Baekhyun lah yang membuat Sehun kini mondar-mandir gelisah didepan gerbang kediaman Kim malam-malam begini. Satu yang ia inginkan, bertemu dengan Kim Jongin. Namun sayang, ia dilarang masuk oleh bodyguard penjaga gerbang. Sehun hampir gila rasanya.

Sial! Bisa saja Sehun melakukan hal gila seperti lompat pagar dari belakang, atau bahkan mendobrak paksa gerbang silver ini. Dengan jmlah anak buah Sehun yang banyak.

Sayang sekali ini rumah orang yang ia hormati. Ingat, Sehun masih memiliki sopan santun.

Sehun menatap sendu pada jendela kamar yang tirainya sudah tertutup dan gelap, pertanda bahwa sang pemilik kamar sudah terlelap.

Tanpa tahu bahwa Jongin pun sedang berdiri di dekat jendela mengamatinya juga. Dengan tatapan sendu pula.

"Sudahlah, dia sudah tidur." Ucap E-co dari dalam mobil. Memperhatikan Sehun sedari tadi.

Sehun mendengus. E-co memang tidak bisa diandalkan untuk menyemangatinya sebagai seorang sahabat seperjuangan. Dengan langkah tidak rela, ia memasuki mobil sport hitamnya kemudian melesat.

"Bisa kau atur pertemuanku dengan Jongin? Aku ingin bertemu dengannya meski sebentar." Ujar Sehun nyaris berbisik pada E-co yang fokus mengemudi.

"Kau seperti orang gila hanya karna seorang bocah." E-co mencibir.

"Aku memang sudah gila jika kau belum tahu." Jawab Sehun sinis tanpa menatap E-co. "Lakukan saja."

"Ya... ya... akan aku usahan demi dirimu. Aku tidak mau kau lebih gila dari ini. Beberapa misi Phoenix berantakan karna ulahmu!"

"Manis sekali kau." Sehun mencebik sinis.

"Aku memang manis asal kau tahu."

"Lebih manis Jongin."

"Ya, aku akui dia memang manis."

"Awas kau macam-macam padanya!" Sehun mendesis tajam.

"Astaga! Posesif sekali, Sir. Aku bahkan belum melakukan apa-apa!" E-co mencebik. "Tenang saja, aku menyukai orang lain."

"Aku tahu siapa yang kau maksud." Sehun berseringai.

"Diam kau!"

*** Boy In Luv ***

"Jongin, sepulang sekolah, temui aku di toilet kedai bubble tea biasanya."

"Untuk apa, Baek?"

"Mempertemukanmu dengan Sehun."

"Mwo? Serius?"

"Tentu, bodoh!"

Disinilah Jongin berada. Berdasarkan instruksi Baekhyun disekolah tadi, Jongin berpura-pura ingin membeli bubble tea dan ijin ke toilet. Kemudian bertemu Baekhyun.

"Sial! Bodyguard-ku menunggu di depan toilet!" Jongin mendesis lirih pada Baekhyun.

"Cepat kau pakai ini, bersikaplah bukan sebagai Kim Jongin ketika kau keluar." Perintah Baekhyun sembari menyerahkan paper bag berisi perlengkapan menyamar untuk Jongin.

"Kau yakin ini berhasil?"

"Aku tidak tahu, tapi semoga mereka tidak menyadarinya. Cepat, E-co-sshi sudah menunggu dibelakang kedai."

.

.

.

Setelah mengganti seragam sekolahnya dengan pakaian yang Baekhyun bawakan, Jongin membenarkan tudung jaket yang ia kenakan kemudian berjalan tenang dengan menunduk keluar dari toilet. Jantungnya berdebar ketika melewati bodyguardnya yang menatapnya tanpa minat.

Jongin lega ketika ia berhasil lolos. Ia berlari menuju pintu belakang kedai. Mencari-cari dimana E-co berada.

"Disini!" Mendengar sebuah teriakan familiar, Jongin segera berlari menghampiri E-co.

"Cepat masuk!" Perintah E-co yang langsung dipatuhi Jongin. Dan melesat kilat.

Sementara itu, Baekhyun nampak melakukan hal sama seperti Jongin tadi. Ia berusaha menutupi wajahnya dengan topi yang sempat ia bawa tadi. Mencangking paper bag berisi pakaian seragam Jongin. Berjalan cepat menuju mobil pribadinya yang salah satu pintu belakangnya telah dibukakan oleh sopir.

Jangan tanyakan bagaimana kelabakannya bodyguard Jongin ketika dirasa sang tuan muda tak kunjung keluar hingga menggeledah toilet dengan brutal.

*** Boy In Luv ***

Begitu Jongin turun dari mobil E-co dan berterima kasih, ia langsung berjalan tergesa memasuki sebuah restaurant yang para pegawainya tengah beristirahat. Syukurlah Sehun diijinkan tetap disana untuk menunggu Jongin.

Sehun terlihat duduk dengan tatapan kosong pada cangkir caffee lattenya yang bahkan sudah mendingin belum ia minum sama sekali. Ia menunggu keberhasilan kerja E-co dan Baekhyun. Ia hanya berharap Jongin berhasil diculik keduanya.

"Sehun..." Sehun langsung mendongak begitu namanya disuarakan lirih oleh orang yang sudah dinantinya. Sehun segera berdiri. Tanpa kata apapun, ia berjalan dengan langkah lebar menghampiri anak itu, secepat kilat menarik Jongin kedalam pelukan hangat nan erat. Menyalurkan betapa ia rindu pada sosok tan ini.

Jongin bergeming, mengapa rasanya seperti adegan drama yang ibunya sering tonton?! Oke otak Jongin memang konyol. Disaat begini malah memikirkan hal tidak penting.

"Aku merindukanmu..." Ujar Jongin lirih, membalas pelukan Sehun tak kalah erat, sembari membenamkan wajahnya pada dada bidang Sehun

.

.

E-co menarik senyum simpul ketika melihat kedua orang itu tetap berpelukan untuk beberapa lama. Terlihat sekali bagaimana mereka merindukan satu sama lain.

"Tak kusangka si sinting itu bisa segila ini hanya karna seorang bocah SMP. Dasar pedofilia." E-co bermonolog mencebik.

"Tunggu- bukankah aku juga menyukai anak seumuran bocah itu. Itu berarti aku juga pedofilia dan gila? ASTAGA!" E-co membenturkan keningnya pada kemudi dengan raut konyolnya ketika menyadari sesuatu yang konyol pula.

*** Boy In Luv ***

"Kalian ini sepasang kekasih ya?" Tanya seorang wanita recepsionis sebuah hotel pada Sehun dan Jongin dengan raut penasaran. "Wah, kalian belum pantas tidur satu ranjang."

"Kami bukan kekasih." Jawab Sehun datar, jemarinya masih menggenggam erat jemari Jongin sedari tadi. "Kami sudah menikah."

"Hah?!" Jongin yang sedari tadi hanya diam, sepontan membulatkan matanya terkejut pada Sehun.

"Benarkah? Tapi dia seperti masih kecil." Wanita itu mencebik sembari mengamati Jongin intens.

"Berikan saja kuncinya dan jangan campuri urusan tamu. Kau melanggar privasi." Sehun berujar dingin.

"Heh, tapi-" Belum selesai wanita seumuran Sehun itu berbicara, ia dibuat kaget karena Sehun yang tiba-tiba merebut kunci kamar dari genggamannya.

"Kami sudah menikah sejak lahir." Ucapan terakhir Sehun yang terdengar konyol sebelum akhirnya menarik Jongin pergi. Meninggalkan wanita itu menganga tidak percaya.

"Jangan berbuat macam-macam dengan anak kecil itu atau aku mengadu pada Je Won appa!" Teriak wanita itu yang ternyata adalah sepupunya, putri dari paman Sehun yang telah merawatnya. Wanita itu tentu bukan bekerja di bagian recepsionis, melainkan orang yang Sehun percayai untuk menjalankan hotel bintang 5 ini. Jangan salah, hotel berkelas ini milik Sehun.

.

.

.

.

.

"K-kau yakin menginap di hotel?" Jongin bertanya gugup ketika memasuki sebuah kamar kelas menengah, dengan tangan yang masih digenggam oleh Sehun.

"Mau bagaimana lagi, kau bilang takut pulang. Jika ku bawa kau pulang ke rumahku, ayahmu akan menemukan kita."

"T-tapi 'kan-"

"Tidak apa-apa." Sehun menarik lembut tubuh Jongin dan memeluknya hangat. Menyesapi harum rambut Jongin yang serasa memabukkan. "Aku masih rindu padamu. Biarkan hari ini tetap begini. Besok aku antar kau pulang. Kita hadapi bersama, oke?"

Jongin mengangguk pelan. Menerima perlakuan Sehun ketika pemuda tinggi ini mengusap-usap kepalanya sayang.

"S-sehun,"

"Hm?"

"Apa harus satu kamar?"

"Supaya aku terus bersamamu."

"T-tapi-"

"Kenapa, hm? Kau takut aku melakukan hal buruk?" Jongin mengangguk samar. "Tidak akan. Percayalah padaku." Hening, Jongin tidak lagi membuka suara. Yang Sehun rasakan hanyalah lengan Jongin yang melingkar dipinggangnya membalas pelukan secara perlahan.

Sehun tahu Jongin tengah berpikir yang tidak seharusnya. Ia pun jujur jika jantungnya tengah berdebar tidak karuan. Umurnya 20 tahun, ingat. Ia bisa saja khilaf dan memperkosa Jongin. Dan malam ini pun bisa dijadikan kesempatan.

Tidak.. Sehun tidak akan melakukan hal seperti itu diluar hubungan resmi pernikahan. Meski faktanya mereka sejenis dan Jongin tidak bisa hamil, bagi Sehun sama saja, Jongin pun memiliki kehormatan yang harus dijaga. Sehun tidak mungkin merusaknya tanpa status paten. Karna ia menyayangi anak ini dengan sungguh-sungguh. Jadi ia pun akan menjaga kehormatan anak dalam dekapannya ini.

"Mandilah..." Ucap Sehun sembari melepas pelukan mereka. Jongin mengangguk patuh seraya berjalan ke kamar mandi.

*** Boy In Luv ***

Suasana hening menggantung di langit-langit kamar hotel yang Sehun dan Jongin tempati. Jujur saja, setelah usai makan malam mereka enggan membuka percakapan. Keduanya sama-sama dilanda kegugupan berada dalam satu kamar. Sedari tadi hanya diam dengan pikiran masing-masing. Yang terdengar hanyalah deru nafas lirih beradu. Jongin menunduk sembari memainkan ujung kaosnya, symbol kegugupannya. Sedangkan Sehun hanya diam. Bola matanya bergerak-gerak tak terarah. Detak jantungnya semakin terasa brutal setiap kali matanya menatap Jongin dari samping. Sungguh saat ini Jongin terlihat manis.

Sehun hanya berusaha mengontrol dirinya agar tak melakukan gerakan yang mengarah untuk memuncul statement negatif dibenak Jongin, atau parahnya anak muda disampingnya akan ketakutan. Mereka memang sering berdua di kamar Sehun, namun dibandingkan sekarang, suasananya berbeda. Di kediaman Phoenix banyak pengawal dan sudah pasti Jongin kenal. Jika saja Sehun berbuat macam-macam Jongin hanya perlu berteriak meminta bantuan. Atau Jongin akan berteriak sekencang-kencangnya sampai E-co mendengar, karena hanya orang itu yang paling berani pada Sehun.

Namun faktanya, tempat ini bukan kediaman Phoenix, ini hotel yang asing bagi Jongin.

"Se-sehun..." Jongin memanggil lirih masih menunduk.

"Y-ya?"

"A-aku mau tidur..."

"Eh? B-baiklah. Aku akan tidur sofa." Sehun beranjak hendak menghampiri sofa di dekat pintu. Namun baru selangkah, ujung baju Sehun sudah ditarik dari belakang. Membuatnya menoleh bingung. "Ada apa?" Tanyanya halus.

"K-kita tidur bersama." Ujar Jongin sangat pelan.

"Apa katamu?" Sehun mengernyit bingung.

"Kau tidur seranjang bersamaku." Jongin menatap Sehun sayu. Mana mungkin Jongin tega membiarkan Sehun tidur di sofa?

"Kau yakin? Bagaimana jika aku-"

"Aku percaya padamu. Kau akan menjagaku." Potong Jongin cepat.

"Baiklah. Mari tidur."

.

.

.

Hening kembali menyergap. Tak ada percakapan yang kembali terlantun setelah kedua pemuda beda usia itu membaringkan diri diatas ranjang dan berselimut yang sama. Jongin masih dengan posisi telentangnya menatap langit-langit kamar. Otaknya berputar memikirkan hal yang akan terjadi esok hari. Ayahnya pasti akan sangat murka karna ia telah melanggar peraturan sang ayah untuk tidak bertemu Sehun. Kemungkinan yang sangat fatal adalah namanya dicoret dari daftar keluarga. Jongin tak sanggup membayangkannya. Itu terlalu menyakitkan.

Sementara Sehun juga diam dengan posisi miringnya menatap Jongin lekat-lekat. Jongin masih terlihat manis seperti tadi. Meski tak dipungkiri Sehun mendapati raut khawatir pada wajah manis itu. Sehun tahu apa yang tengah Jongin pikirkan.

Perlahan tangan besarnya bergerak melingkari perut rata Jongin. Beringsut mendekat dan memeluknya hangat. Tak pelak membuat tubuh Jongin menegang. Dengan segera ia menolehkan kepalanya menghadap Sehun, dan betapa ia kaget ketika jarak wajah mereka terlalu dekat. Apalagi bibir mereka yang hanya terpisah jarak beberapa centi. Sungguh disaat itu juga dua manusia itu merasakan debaran jantung yang begitu cepat.

Hembusan nafas saling menerpa. Pandangan mata saling mengunci, menghipnotis mereka untuk tidak berpaling.

Pandangan Sehun turun. Menatap bibir merah merona milik Jongin intens. Memunculkan hasrat bergejolak untuk semakin mendekat demi mengecup bibir indah menggoda itu. Selama ini mereka tak pernah melakukan ciuman dibibir, hanya ciuman ringan di dahi atau pipi. Bisa dibilang bibir keduanya masih virgin.

Jongin diam. Menahan napasnya ketika wajah Sehun semakin mendekat. Seakan terhanyut dalam pandangan telak itu, mata Jongin terpejam. Perlahan ia merasakan sesuatu menekan bibir tebalnya. Tak ada pergerakan untuk 2 detik berikutnya hingga perlahan bibir tipis diatasnya itu melumat lembut, seakan tidak mau menyakiti Jongin. Ini adalah pengalaman pertama mereka berciuman dibibir. Untuk Jongin, bibir yang belum pernah dijamah siapapun kini sudah terenggut. Bibir plumnya telah ternoda. Noda yang tidak akan ia sesali. First kiss-nya telah diambil oleh lelaki yang ia cinta, diumur yang masih belia, yakni 15 tahun.

Terdiam beberapa saat tanpa pergerakan, Jongin mulai berani membalas lumatan-lumatan Sehun. Bergerak sesuai irama lembut yang Sehun ciptakan. Sama-sama menyalurkan kenyamanan untuk satu sama lain dengan tangan lebar Sehun yang menggenggam erat tangan kecil Jongin. Berusaha meyakinkan cintanya yang tidak main-main.

Pergulatan bibir itu berakhir dengan Sehun yang mundur terlebih dahulu. Sesungguhnya Sehun tidak rela meninggalkan manisnya bibir Jongin yang baru saja dikecapnya, sungguh bibir Jongin ini nikmat. Namun ia menyadari wajah Jongin memerah butuh nafas. Terbukti ketika ia mundur, Jongin langsung meraup oksigen banyak-banyak.

Sehun mengamati setiap mimik Jongin sebelum akhirnya ibu jarinya mengusap saliva dibibir plum itu dengan gerakan perlahan. Membuat Jongin sedikit terkesiap dan menatap Sehun.

Sehun tersenyum tulus seraya membelai sebelah pipi Jongin lembut dan berucap "Terima kasih." Dengan sangat pelan. Dapat Sehun lihat pipi Jongin semakin merona, malu karna dipandangi Sehun seperti itu.

Jongin beringsut cepat, menubruk dada Sehun. Memeluknya erat dan menenggelamkan wajahnya dalam-dalam. Ia hanya tidak mau Sehun melihat rona diwajahnya dan rasa malunya setelah dicium sebegitu lembut oleh pemuda dewasa ini.

Tubuh Sehun sempat tersentak mendapat pelukan tiba-tiba dari Jongin, namun detik berikutnya ia tersenyum senang dengan tingkah alami anak manis ini. Seperti yeoja. Mengabaikan sifat brandalan yang melekat. Sehunpun membalas pelukan Jongin, menyelimuti mereka berdua. Sedang Jongin masih betah tenggelam pada dada Sehun. Fakta baru, Jongin suka dada bidang Sehun.

"I-itu ciuman pertamaku, Sehun." Jongin bercicit pelan seraya mengusakkan wajahnya pada dada Sehun.

"Itulah mengapa aku berterima kasih. Untuk selanjutnya, akan kupastikan bibir itu hanya akan menciumku dan menjadi milikku." Jawab Sehun halus.

"A-aku... cinta kau." Jongin berujar lirih. Menenggelamkan wajahnya semakin dalam pertanda ia sangat malu.

"Akupun sangat mencintaimu, Kim Jongin." Jawab Sehun tulus dengan senyum mengembang. "Esok akan sangat sulit."

"Aku-.. siap, menerima keputusan ayah." Jongin memeluk semakin erat.

"Aku akan mempertahanmu, Jongin." Sehun pun mengeratkan pelukannya. Menciumi puncak kepala Jongin sayang. "Bagaimanapun caranya."

.

.

.

.

.TBC

See ya at bonus part...xD /slap