.
.
Naruto Fanfiction
Disclaimer : Naruto belongs to Masashi Kishimoto
Rated: M
Genre : Romance, Fantasy, Angst
.
.
Sasori mengasah pedangnya, wajahnya terlihat sangat dingin dan tak berekspresi. Adik yang paling ia sayangi saat ini berada di tangan suku goblin, ras Uchiha yang sangat terkenal dengan kesadisannya, Sasori tidak bisa membayangkan betapa menderitanya Sakura sekarang... setidkanya itu lah pikiran yang selalu terngiang di kepalanya. Selesai mengasah pedang, Sasori bangkit dan keluar dari tenda, beberapa anggota Akatsuki yang lain sedang merayakan kemenangan sementara mereka.
"Sasori, mau kemana kau?" sapa laki-laki berambut pirang dengan model rambut seperti ekor kuda.
Sasori menoleh ke kanan dan ke kiri, "Mana Yahiko?"
"Di tenda miliknya, sebaiknya kau jangan ke sana kalau kau tidak ingin mendengar suara menggelikan dari Konan," usul Deidara sambil meremas tanah liat.
Sasori sangat paham maksud Deidara, tradisi Yahiko ketika berhasil menjatuhkan musuh adalah bercinta dengan Konan. Tidak bisa disalahkan, pemimpin Akatsuki itu sangat tergilka-gila pada wanita berambut biru yang selalu memakai pita kertas di kepalanya. Mereka berteman sejak kecil bersama dengan Nagato, laki-laki pendiam yang selalu menatap langit dan membaca cuaca itu.
"Ngomong-ngomong, kau sangat hebat," ucap Deidara, "kau berhasil membunuh adik dari sang raja."
"Itu karena dia berucap sembarangan," jawab Sasori yang kini menatap langit, "berani-beraninya dia mengatakan bahwa Sakura menikmati kehidupannya di istana Uchiha."
"Setelah ini, apa yang akan kaulakukan? Maksudku... jika Yahiko menang, maka dialah yang akan menjadi raja." Deidara bertanya sambil meremas beberapa tanah liat yang ia kumpulkan lagi.
"Aku akan membebaskan Sakura dan membawanya pergi sejauh mungkin... dari suku Goblin... maupun ras Haruno," jawab Sasori dengan tatapan sendu.
.
.
Madara mengusap pundak Sakura yang saat ini masih memuntahkan seluruh makanan yang baru saja ia santap. Sudah tiga hari sejak kejadian pilu di desa Haruno, Sakura mengurung dirinya di kamar, tidak ada yang bisa mengunjunginya kecuali Madara, karena Madara adalah raja dan dialah yang mengatur semuanya. Sakura terus memuntahkan seluruh makanannya, Madara menggenggam rambut Sakura agar tidak terkena muntahannya, sesekali dia memijat leher Sakura dengan lembut.
Selesai muntah, Sakura masih terdiam di posisinya, air mata masih mengalir entah itu akibat muntah atau memang dia sedang menangis.
"Sakura...?"
Sakura tidak menjawab, dia menjatuhkan dirinya ke lantai, dan dengan sigap Madara menangkap tubuh Sakura lalu mengangkatnya. Madara terkejut bahwa Sakura ternyata seringan ini, Sakura memejamkan kedua matanya, sudah tiga hari dia tidak bisa menelan makanannya, kondisinya semakin melemah. Keluarga Fugaku cemas setengah mati atas kondisi Sakura, terutama Mikoto. Namun, saat ini Sakura memang tidak ingin bertemu siapa-siapa, dia akan menemui siapapun sesuai kondisi hatinya saat ini.
Madara meletakkan Sakura di tempat tidur, gadis itu tertidur lemah, sebelum pergi meninggalkan kamar Sakura... Madara membelai kepala gadis itu. Andai saja dia bisa menyembuhkan Sakura. Sang raja keluar dan melihat salah satu prajurit berlutut di hadapannya.
"Lapor, kami sudah mencari goblin yang bisa melakukan pengobatan, namun mereka tidak cukup percaya diri menyembuhkan si penyembuh handal Haruno."
Madara menatap prajurit itu dengan dingin, dan sekali tebas memakai tangannya, kepala prajurit itu terlepas dari tubuhnya, "Dasar tidak berguna." Madara langsung membakar habis mayat si prajurit.
Perhatian Madara teralihkan pada sosok yang berjalan mendekat ke arahnya, sosok itu terlihat sangat tenang, namun tatapannya penuh misteri.
"Itachi."
"Madara-sama."
Seolah tahu apa maksud kedatangan Itachi di sini, Madara melirik pintu kamar Sakura yang tertutup rapat, "Dia tidur."
Itachi mengangguk, "Aku tahu semua ceritanya," ucap Itachi yang membuat Madara terkejut.
"Apa maksudmu?"
Itachi mendekati Madara dan berbicara pelan, "Aku bisa menyaksikannya, ketika Sakura dikhianati oleh ras-nya sendiri."
Madara menatap Itachi dengan tatapan tidak suka, "Bagaimana bisa itu terjadi?"
"Ketika Sakura menyembuhkanku," ucap Itachi dengan tenang, "dia memberikan darahnya padaku, sejak saat itu aku bisa mengetahui apa yang dia lakukan, dan apa yang terjadi di masa lalunya melalui sharingan milikku."
Madara menganalisa ucapan Itachi, memastikan omongan laki-laki sulung ini tidak bohong. Madara sadar, tidak heran Itachi bisa sakti, karena pada dasarnya pun kekuatan Itachi unik diantara Uchiha yang lain.
"Menurutku," ujar Itachi membuyarkan analisa Madara, "Sakura bukan membutuhkan medis, dia butuh teman bercerita."
"Omong kosong, aku bisa-"
"Teman sebaya," potong Itachi yang kali ini tidak bisa menahan jengkel pada ke egoisan Madara, "Rin," usul Itachi, "Rin cukup mengenal Sakura dan mereka pernah berbincang-bincang beberapa kali di istana ini."
Madara terlihat tidak terlalu setuju oleh usul Itachi, tapi kali ini dia harus mengesampingkan ego-nya demi Sakura. Mempertahankan harga dirinya, Madara membalikkan tubuhnya sambil berucap, "Terserah." Dan membuat Itachi tersenyum.
Tanpa berpikir panjang, Itachi segera pergi mencari Rin di tempat para pelayan. Madara masuk ke dalam kamar Sakura dan melihat gadis itu sedang duduk di kasurnya, tatapan Sakura terlihat sendu dan kosong. Madara mendekati gadis itu dan menggenggam tangannya dengan lembut, "Apa ada yang kau inginkan?" tanya Madara dengan nada pelan.
Sakura menggelengkan kepalanya pelan, senyum kecil di wajahnya terlihat dipaksakan, "Terima kasih," ucap Sakura dengan nada parau.
.
.
Nafas yang berat memenuhi ruangan kecil itu, dua insan saling berpelukan dan menikmati kegiatan mereka. Sang lelaki memaju mundurkan tubuhnya sedangkan sang wanita yang berada di bawah memeluk tubuh sang lelaki dengan erat, seolah takut ada yang memisahkan mereka.
"Obito..." deru nafas sang wanita sudah tak karuan, seolah ada sesuatu yang akan keluar dari area pribadinya.
"Rin! Akh!"
Dalam waktu bersamaan, mereka mencapai pada batasnya. Obito menjatuhkan tubuhnya di atas tubuh Rin, sedangkan Rin memeluk Obito dengan erat.
"Ini sudah ke-tiga kalinya, aku lelah," ucap Rin.
"Yah... aku juga lelah," jawab Obito.
Saat sedang menikmati, Rin mendengar suara langkah yang sangat ia kenal. Rin, selain dilatih menjadi pelayan bagi ras Uchiha, dia juga dilatih agar hapal oleh suara langkah kaki semua Uchiha yang ada di istana ini.
"Itachi! Itachi-sama datang!" seru Rin panik sambil mendorong Obito dan mengambil kimono tipis sebagai seragam pelayan.
Obito masih santai, bahkan dia tidak beranjak dari kasur dan hanya menutupi bagian pribadinya memakai selimut, "Obito, pakai bajumu!"
Belum sempat Obito menjawab, pintu kamar Rin diketuk oleh Itachi.
"Aku tahu ada Obito di dalam, tidak apa-apa, santai saja denganku," ucap Itachi dari balik pintu.
Rin mengutuk dirinya sendiri sebelum ia membukakan pintu untuk tuannya itu, "Itachi-sama, ada apa?" tanya Rin dengan wajah tegang dan gugup.
"Aku butuh bantuanmu- bukan, kami butuh bantuanmu," ralat Itachi.
"Ada apa?" tanya Rin yang kali ini menatap Itachi dengan serius, Itachi menatap Obito yang sedang memakai pakaiannya, seolah menunggu laki-laki itu berpakaian lengkap, Itachi melanjutkan ucapannya, "kita bicarakan di luar."
Obito menghampiri Rin dan menggenggam tangannya lalu mengikuti langkah Itachi. Sambil berjalan, Itachi mencoba menjelaskan situasi yang saat ini sedang terjadi. Obito terlihat terkejut tentang berita ras Haruno, begitu pula dengan Rin yang kini menutup mulutnya. Sejak kejadian tewasnya Izuna, suasana semakin memanas, belum lagi kabar Sasori-kakak Sakura- yang kini menjadi anggota Akatsuki, itu artinya mereka harus perang melawan kakak Sakura.
Lalu bagaimana dengan Sakura sekarang? Apa yang ada di dalam benak gadis itu? Situasi sekarang pasti sangat sulit baginya, karena selain dibuang oleh ras nya sendiri, Sakura harus memikirkan hubungannya dengan Neji-tunangannya—juga dengan posisi Sasori yang kini menjadi anggota Akatsuki. Setelah menjelaskan panjang lebar, di sini lah mereka berada, di depan kamar Sakura.
"Dia butuh teman, tolong rawat Sakura," ucap Itachi.
Rin mengangguk dan mengetuk pintu, "Sakura?"
Tidak ada jawaban. Rin menoleh pada Itachi yang juga terlihat bingung. Seharusnya ada Madara di dalam yang selalu menjaga Sakura, tapi sepertinya tidak ada orang.
"Sakura?" panggil Rin sekali lagi.
Itachi penasaran, apakah Sakura tidur? Itachi mengaktifkan sharingan dan melihat apa yang sedang terjadi pada Sakura saat ini. Ketika sharingan aktif, Itachi terbelalak karena melihat Sakura yang sedang tengkurap dan muntah yang berbusa. Tanpa ragu, Itachi mendobrak pintu dan lari ke arah Sakura diikuti oleh Rin dan Obito.
"Sakura!" Itachi memegangi rambut Sakura dan menepuk pundak gadis itu berkali-kali.
Rin terbelalak, kedua matanya berkaca-kaca, Obito membantu Itachi dengan memberikan Sakura air.
"Muntahkan semua!" perintah Itachi, "muntahkan semua racunnya!"
Seolah menuruti perkataan Itachi, Sakura memuntahkan semua racun yang ia coba telan itu. Selesai memuntahkan semua racun, Sakura bersender di tepi kasur dengan air mata yang berlinang, "Sakura..." Itachi menggenggam tangan gadis pink itu dan membelainya pelan, "apa yang bisa kami lakukan untukmu?"
Para pelayan berdatangan untuk membersihkan muntah bekas Sakura, Rin mendatangi Sakura dan membantunya untuk duduk di atas kasur, "Mulai sekarang akulah yang akan merawatmu, kau harus mendengarkan semua perkataanku, mengerti?" ucap Rin dengan nada yang sangat serius.
Sakura tidak menjawab, satu hisakan lagi membuat Sakura menghelakan napasnya, lalu dengan keberanian dia berbicara, "Aku... tidak punya tujuan lagi..."
Depresi.
Sakura terlihat sangat depresi, wajahnya tersenyum, namun senyum yang mengerikan, bahkan Rin pun bisa merasakan aura Sakura yang redup. Itachi dan Obito saling tatap sedangkan Rin mendekati Sakura dan membelai rambut gadis itu yang mulai kusam, "Kubersihkan rambutmu ya?" ucap Rin dengan sangat lembut.
Rin memberi kode pada dua Uchiha itu untuk keluar, kemudian menuntun Sakura pelan menuju kamar mandi. Walaupun Sakura sedang terpuruk, bagusnya dia bukan tipe yang manja, Sakura tidak mogok makan, hanya saja dia tidak bisa makan, dia bahkan tidak protes ketika Rin menawarkan bantuan untuk mencuci rambutnya yang ia lupakan itu. Ketika Rin sedang membersihkan rambut Sakura, aroma segar tercium dari situ, aroma alami dari rambut Sakura yang membuat Rin merasa tenang. Apakah ini kekuatan Elf?
Selesai mencuci rambut Sakura, Rin mengeringkannya dengan handuk kemudian menyisir rambut yang panjangnya sepinggang itu. Sakura hanya terdiam dari tadi, namun setiap sentuhan yang Rin ciptakan pada Sakura membuatnya tenang, sentuhan lembut seolah Rin menyayanginya dengan tulus... sentuhan yang sudah lama tidak Sakura rasakan sejak Sasori mengusap kepalanya.
"Terima kasih, Rin..."
Rin terkejut mendengar Sakura yang berucap tiba-tiba, tidak menjawab... Rin hanya tersenyum dan meletakkan sisir di depan meja, "Sudah malam, cobalah untuk tidur."
Sakura mengangguk dan menuruti kata-kata Rin.
Sakura merasakan kembali bagaimana rasanya mempunyai saudara perempuan yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya dengan Shion.
.
.
Rin keluar dari kamar Sakura, terlihat Obito dan Itachi masih berada di luar karena sekarang kedua laki-laki itu menghampiri Rin.
"Dia sudah tidur," ucap Rin, "sebaiknya ada yang berjaga di sini, biasanya kalau sedang depresi kemungkinan mimpi buruk itu sangat besar."
Itachi mengangguk, "Biar aku yang menjaganya."
"Tapi kau harus istirahat, pasca operasi kau harus benar-benar banyak istirahat, jika kau tumbang, itu akan menyusahkan Sakura lagi," jawab Rin.
"Dia benar," ucap Obito, "bagaimana kalau aku saja?"
"Aku saja." Suara tegas yang tiba-tiba muncul di belakang mereka.
"Sasuke..." gumam Itachi pelan.
"Biar aku saja yang menjaganya, kebetulan aku tidak bisa tidur," ucapnya sambil melipat kedua tangannya di dada.
"Kau yakin? Kupikir kau bukan tipe yang mau direpotkan dalam masalah seperti-"
"Kalau aku yang menawarkan diri, itu artinya aku mau, nii-san," sela Sasuke dengan raut wajah yang sedikit merona.
Obito menatap geli pada reaksi Sasuke saat ini, "Kau mabuk?" ledek Obito.
"Jangan mulai," tegur Rin yang menjewer telinga kekasihnya.
"Aw! Aku hanya bercanda."
"Pelankan suara kalian," tegur Itachi pelan yang membuat Rin dan Obito menutup mulutnya dengan reflek.
Rin menarik Obito paksa agar pergi dari temat itu, karena jika Obito berada di satu tempat yang sama dengan Sasuke lebih dari sepuluh menit, mereka pasti adu mulut dan berisik. Ketika mereka sudah pergi, Itachi menoleh pada Sasuke dan menatapnya dengan tatapan cemas, "Kau yakin?"
Sasuke mengangguk. Itachi tersenyum dan menepuk pundak Sasuke kemudian pergi. Sasuke bersender di depan pintu kamar Sakura, dia berpikir kenapa ras Haruno tega melakukan ini semua pada Sakura? Terakhir yang dia ingat ketika memaksa Sakura ikut dengannya... ras Haruno begitu protektif dan terlihat sayang padanya...
Tunggu...
Apakah memang seperti itu?
Ketika Sasuke membawa Sakura, tidak ada yang benar-benar mencegahnya.
Ya, tidak ada yang benar-benar mencegah Sakura agar tidak pergi meninggalkan mereka.
Kenapa?
Sasuke terus mengingat ekspresi dari setiap penduduk desa saat itu. Ah! Andaikan saja Izuna yang mempunyai kekuatan membuka memori Goblin masih hidup, Sasuke pasti akan langsung meminta bantuannya. Saat Sasuke sedang berpikir, Shisui datang membawa secangkir minuman untuknya.
"Kau berjaga di sini?" tanya Shisui.
Sasuke mengangguk dan menerima cangkir tersebut, "Bagaimana dengan lukamu?"
Shisui mengangkat kedua bahu-nya, "Bukan masalah besar," jawabnya santai.
Melihat Shisui duduk di tembok kecil yang tingginya setengah meter, Sasuke mengikutinya, "Apa yang kaulakukan di sini?"
Shisui tersenyum kecil, "Kau menjaga Sakura, aku menjaga kalian berdua."
Sasuke tersenyum dan mengangkat cangkirnya, "Terima kasih."
"AAAAAAKKKHHHH! Tidaaak! Aku mohooon jangaaaaan!"
Mendengar jeritan Sakura, mereka berdua menoleh dan cekatan langsung mendobrak pintu kamar, karena membukanya pelan-pelan hanya membuang-buang waktu. Terlihat Sakura sedang menjerit dengan mata tertutup, tubuhnya tidak tenang menggeliat.
"Sakura! Sakura!" panggil Sasuke.
Sakura tidak juga membuka kedua matanya, namun tubuhnya mulai melemah, "Tidak~ aku mohon... jangan buang aku..."
Sasuke mengernyitkan alisnya, segitu pilu nya kah perasaan Sakura saat ini? Di sisi lain Itachi yang sedang berada di kamarnya mencengkram dada dan meringis, seolah bisa merasakan perasaan Sakura saat ini.
"SAKURA!" Sasuke membentak dan menggoyangkan tubuh Sakura sehingga kedua mata emerald itu terbuka.
"Kau mimpi..." ucap Sasuke pelan.
Sakura tidak bergerak, ekspresinya semakin pilu dan air mata mengalir dari matanya, "Aku tidak tahu lagi... kemana tujuank hidupku..."
Shisui mendekati mereka dan melihat kondisi Sakura yang sangat rapuh, diusap pelan kepala Sakura oleh Shisui, Sakura memejamkan kedua matanya dan itu membuat air matanya semakin deras mengalir.
"Aku... aku tidak punya tujuan lagi~ apa... yang harus kulakukan...~"
Sakura mulai menangis terhisak. Tanpa ragu, Sasuke memeluknya, memeluk tubuh Sakura dengan sangat erat seolah tidak akan melepaskan gadis itu kembali pada ras-nya.
"Kau bisa tinggal di sini," ucap Shisui dan Sasuke bersamaan.
Mereka saling tatap beberapa saat kemudian tersenyum, Sasuke melepaskan pelukannya dan menatap Sakura, "Kau bisa tinggal di sini, jadi bagian dari kami."
"Kami akan membicarakannya pada Madara," ujar Shisui.
Sakura menggelengkan kepalanya, "Sangat tabu... jika Elf dan Goblin..."
"Persetan dengan latar belakang suku," ucap Shisui dengan tegas, "aku tidak peduli kau Elf atau Goblin, kau menolong keluargaku, aku akan menolongmu, melindungimu."
"Ibu sudah menyukaimu, bahkan Madara juga mulai lembut padamu." Sasuke melanjutkan, tematmu di sini, Sakura."
Sakura tidak bisa menahan tangisnya lagi, di saat terpuruk seperti ini, ingin rasanya dia mengutuk dirinya karena masih mangharapkan kebaikan hati ras Haruno dengan membawanya pulang. Kenangan bahagia bersama penduduk-penduduk desa perlahan muncul dalam benaknya, membuat Sakura semakin menangis. Sakura menangis tidak berhenti, dia mencengkram lengan Sasuke dengan sangat kencang, hisakannya membuat kedua Uchiha ini miris.
Sasuke memeluk Sakura dan membelai kepalanya, selagi Shisui memundurkan langkahnya, seolah ingin membiarkan mereka berdua, sebelum Shisui keluar, dia tersenyum pada perubahan sifat Sasuke dari yang sangat cuek dan arogan kini menjadi lembut dan perhatian. Shisui menyayangi Sasuke seperti adiknya sendiri, mungkin karena faktor sejak kecil mereka selalu bersama-sama.
Ketika Sasuke sedang menemani Sakura, beda hal dengan Shisui yang kini berjalan menuju lokasi dimana Madara sedang mengadakan pertemuan Uchiha dengan beberapa pasukan elitnya. Shisui, Itachi dan Sasuke termasuk pasukan elit, namun karena mereka baru saja terluka maka Madara meliburkan mereka dari perang. Sedangkan Obito? Dia menolak untuk berperang. Walaupun Obito adalah salah satu calon raja yang akan menggantikan Madara, namun pemuda itu cinta damai, dia tidak ingin berperang.
Shisui sampai di ruang Madara yang baru saja membubarkan pasukan elit, sepertinya mereka berhasil menyusun strategi baru untuk perang, terlihat dari beberapa raut wajah mereka yang terlihat sangat optimis. Melihat kedatangan Shisui, Madara memberi kode agar Shisui mendekat pada dirinya.
"Madara-sama," sapa Shisui.
"Ada apa?"
"Saya ingin membicarakan tentang Sakura," ucap Shisui yang berlutut satu kaki.
Mendengar nama Sakura membuat Madara menghentikan gerakannya yang akan meletakkan kertas besar di atas meja, Madara menoleh pada Shisui dan mendekati pemuda itu, "Ada apa dengan Sakura?"
Shisui menelan ludahnya, aura mengintimidasi yang Madara berikan benar-benar membuatnya merasa tertekan. Entah apa yang membuat raja ini tidak senang, apakah karena Shisui menyebut nama Sakura? Atau karena Shisui datang di saat raja ingin istirahat? Entahlah...
"Sakura mengalami mimpi buruk," ucap Shisui, dan Madara terlihat kaget mendengar kabar tersebut, "sampai tadi saya pergi meninggalkannya dengan Sasuke, Sakura masih menangis, tangisan yang sangat pilu..."
"Siapa yang tidak menangis, dia dibuang begitu saja oleh ras sampah itu," ucap Madara sambil melempar ke sembarang arah kertas besar yang sudah digulung itu, "ditambah lagi kakaknya bergabung oleh Akatsuki, brengsek!"
Kedua mata Shisui terbelalak, dia baru mendengar kabar ini.
"Sakura merasa... dirinya kehilangan arah, dia tidak tahu lagi harus apa yang dia lakukan sekarang, Sakura-"
"Langsung saja pada intinya," potong Madara sambil merebahkan tubuhnya di kasur.
Shisui menelan ludahnya lagi, kali ini sangat gugup, dengan keberanian yang berhasil ia kumpulkan, Shisui berucap, "Saya ingin Sakura menjadi salah satu bagian dari Uchiha."
Madara melirik Shisui, lirikan yang sangat tajam, Shisui bisa merasakan hal itu. Lirikan seolah bisa membunuh siapapun yang melihatnya, "Maksudmu, kau menginginkan Sakura?" tanya Madara dengan suara beratnya.
"Tidak, bukan seperti itu, Madara-sama." Shisui langsung mengoreksi, "karena Sakura sudah berjasa menyembuhkan Itachi, bukankah akan lebih bagus jika kita menerimanya di ras Uchiha, Sakura juga bisa berguna sebagai medis utama-mu di sini."
Madara terdiam.
Habislah Shisui, dia benar-benar bermulut singa, berani-beraninya mengucapkan hal seperti itu pada Madara, tentu saja Madara akan-
"Ide bagus."
-menerimanya?
"Eh?"
Shisui mengangkat kepalanya untuk melihat Madara yang kini beranjak dari kasur dan mengambil mantelnya, mantel panjang yang terlihat mewah menutupi tubuhnya yang tadi tak terbungkus kain, kini hanya memperlihatkan dadanya yang bidang.
"Antar aku pada Sakura."
Shisui tersenyum lebar, "Baik!"
.
.
Karin memainkan cangkir di kamarnya, entah apa yang ia lakukan saat ini, memutar cangkir hingga terjatuh, hanya itu yang ia lakukan sampai Naruto menegurnya, "Karin, apa kau merasa ada yang aneh?"
"Kau aneh," jawab Karin pada saudara kembarnya.
"Ini tentang Itachi," kata Naruto yang mengabaikan ledekan dari saudara perempuannya, "sejak Itachi memiliki kekuatan barunya, dia terasa jauh, tidak seperti dulu."
Karin beranjak dari duduknya dan mendekati kotak yang terletak di atas meja makan, "Hanya perasaanmu saja, Itachi baik-baik saja kok," ujarnya sambil mengambil selembaran yang terbungkus rapi.
Karin membuka lembaran tersebut, "Undangan?"
Ketika lembaran itu terbuka, Karin membacanya, "Gencatan senjata dengan ras Hyuuga," gumam Karin.
Karin berpikir sejenak. Hyuuga, kenapa tiba-tiba mereka ingin melakukan gencatan senjata? Ada yang tidak beres di sini, Karin sangat tahu bahwa Hyuuga adalah suku Elf yang sangat ekslusif, kenapa ingin melakukan gencatan senjata dengan ras Uzumaki dari suku Goblin?
"Naruto, kau tahu hal ini?" tanya Karin sambil menunjukkan undangan pada Naruto.
Naruto menggelengkan kepalanya, belum sempat terjawab, Kushina datang dan memeluk Karin.
"Ibu?"
"Karin, ada kabar gembira!" ujar Kushina, "pemimpin ras Hyuuga ingin menikahimu, apa kau bersedia bertemu dengannya?"
.
.
Madara memasuki kamar Sakura dan melihat Sasuke masih memeluk gadis itu. Menyadari keberadaan Madara, Sasuke melepaskan pelukannya dan berlutut satu kaki, "Madara-sama."
Madara hanya mengangguk namun tujuannya saat ini adalah Sakura.
"Sakura," panggil Madara yang langsung duduk di samping Sakura.
Sakura terdiam melihat Madara yang tiba-tiba datang dan menggenggam tangannya, Sasuke dan Shisui saling tatap seolah saling melempar pertanyaan apa yang terjadi di sini.
"Madara-sama..." ucap Sakura parau, mendengar suara Sakura yang begitu rapuh membuat Madara miris, sang raja menggenggam lembut tangan Sakura dan mencium punggung tangannya.
"Menikah denganku."
TBC
A/N : oh iya, kalau ada yang baca fict aku judulnya SIN, itu sudah tamat ya, baru aja aku update kemarin. aku pindah ke wattpad, id wattpad aku Lady707
ngga sepenuhnya pindah ke wattpad, cuma ada beberapa fict yang ku publish di wattpad tapi ngga di ffn. sekuel SIN akan aku publish di wattpad, kalau memungkinkan akan aku publish juga di sini.
makasih.
XoXo
V3 Yagami
