Sehun membaringkan tubuhnya di sofa lalu menghela nafas berat. Otaknya masih belum bisa berhenti memikirkan sifat Luhan yang tiba-tiba berubah itu. Ia terus mengulang-ngulang pertanyaan yang sama didalam otaknya. "Kenapa? kenapa? kenapa? dan kenapa?" tapi Sehun sendiri tak kunjung mendapatkan jawaban atas pertanyaannya itu.
Pintu apartement tiba-tiba terbuka. Tentu saja Sehun segera bangun dan menoleh ke arah pintu. Matanya membulat lebar ketika melihat siapa yang masuk. Xiumin dan Luhan. Atau lebih tepatnya, Xiumin yang sedang membopong Luhan. Luhan terlihat sangat lemas dan wajahnya pucat. Melihat hal itu, Sehun segera berlari menghampiri mereka.
"L-luhan?! Kau kenapa?" nada suara Sehun terdengar khawatir dan tangannya terulur hendak membantu Luhan, tapi tiba-tiba tangannya ditepis oleh Xiumin. "Jangan sentuh. Dia butuh istirahat. Minggir." gumam Xiumin dingin lalu segera berjalan menuju kamar Luhan.
Sehun hanya bisa terpaku di tempatnya. Memperhatikan Xiumin dan Luhan yang perlahan menjauh hingga akhirnya menghilang dibalik pintu kamar Luhan. Satu lagi pertanyaan yang menghantui otak Sehun. "Apa Luhan begitu karena ku?"
Selang lima menit kemudian, Xiumin keluar dari kamar Luhan. Ia menutup pintu perlahan dan matanya menatap Sehun tajam. "Sehun." panggilnya dengan nada datar.
Sehun yang sedang melamun segera tersadar ketika mendengar Xiumin memanggilnya. "Oh, Xiumin. Bagaimana keadaan Luhan? Kenapa dia?" tanya Sehun penuh rasa khawatir. Xiumin berjalan mendekati Sehun perlahan, "Jangan berbicara sok polos seperti itu."
"huh? Apa maksudmu?"
Xiumin berhenti tepat satu langkah di depan Sehun, matanya menatap mata Sehun dengan tajam. beberapa detik kemudian.. BUKK!
Sebuah tinjuan melayang ke pipi Sehun, membuat Sehun jatuh tersungkur kelantai, meringis kesakitan. Xiumin berjalan mendekati Sehun yang terbaring di lantai lalu berlutut di sebelahnya. "Oh Sehun. Lebih baik kau pergi jauh-jauh dari Luhan. Kau mau tau penyebab dia seperti itu?" Xiumin berhenti sebentar lalu meraih kerah Sehun. "Itu semua karena kau! Kau lah yang membuatnya menderita! Jadi lebih baik kau pergi jauh-jauh!" bentak Xiumin lalu mendorong Sehun.
Sehun hanya pasrah dengan apa yang dilakukan Xiumin padanya. Ia terlalu lemah untuk melawan, atau bahkan menghindar dari Xiumin. Yang ada difikirannya sekarang adalah Luhan. Apa maksudnya Luhan menderita karenaku? Apa yang aku lakukan? Sehun tidak mengerti, benar-benar tidak mengerti.
Saat Xiumin hendak berjalan keluar dari apartement Luhan, Sehun membuka suara. "Kenapa?" tanya Sehun lirih. Xiumin yang tangannya sudah terulur ke gagang pintu segera terhenti lalu menoleh ke arah Sehun, "Apanya?"
"Kenapa aku membuat Luhan menderita?" lanjut Sehun.
Xiumin mendengus pelan. "Bahkan kehadiranmu dihidupnya sudah membuatnya menderita. Jadi lebih baik kau pergi dan jangan pernah kembali." jawab Xiumin tajam lalu melangkah keluar dari apartement Luhan.
Sehun menghela nafas berat dan membiarkan dirinya terkulai lemas di lantai. Pergi meninggalkan Luhan? Ia tidak mau melakukan hal itu. Sehun tidak pernah mempunyai fikiran seperti itu. Karena Luhan telah menjadi bagian dari dirinya sekarang, dan sulit untuk menjauh dari Luhan. Tapi jika kehadirannya hanya membuat Luhan menderita, apa Sehun harus pergi? Demi kebaikan Luhan?
Luhan membuka matanya perlahan. Sinar matahari pagi menembus kelopak matanya, membuatnya segera tersadar bahwa hari baru telah dimulai. Ia mengerjap beberapa kali, berusaha menyesuaikan cahaya dengan matanya. Saat sudah sadar sepenuhnya, Luhan merubah posisi menjadi duduk dan bersandar di kasurnya. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri, kamarnya sangat sunyi dan rapih.
kling kling.
Bunyi pesan masuk dari ponsel Luhan memecahkan keheningan di kamarnya. Ia meraih ponsel yang ia letakan di sebelahnya lalu membuka pesan tersebut yang ternyata dari Xiumin.
Lulu sudah bangun? jangan lupa sarapan dan istirahatlah yang banyak. Hari ini sepertinya aku sibuk, tapi aku akan mengunjungimu jika aku ada waktu. :)
Luhan menghela nafas membaca pesan tersebut, tidak tau harus menjawab apa, akhirnya ia hanya mengabaikan pesan itu dan pergi mandi.
Sepuluh menit kemudian, Luhan keluar dari kamarnya mengenakan kaos putih dan celana pendek. Ia berjalan perlahan menuju dapur sambil melihat ke sekeliling, mencari keberadaan Sehun. Tapi anak itu tidak terlihat dimanapun. Kemana dia?
Luhan mengambil sebuah gelas kecil dan menuangkan air putih kedalamnya. Suasana apartementnya yang sepi membuat suara percikan air yang dituangnya terdengar jelas. Luhan meminum air putihnya sambil menatap ke arah pintu bercat putih yang tidak terlalu jauh darinya. Kamar Sehun. Apa Sehun sudah bangun? Kemana dia? Entah kenapa, Luhan masih saja memikirkan Sehun. Meskipun hal itu membuatnya sakit, tapi ia tetap melakukan hal itu. Apa mungkin Sehun sudah menetap difikirannya? entahlah. Tapi yang jelas Luhan harus segera menghilangkan hal itu.
Ketika Luhan berbalik dan tangannya terulur ke pintu kulkas, matanya menangkap sebuah note yang di tempelkan di pintu kulkas dengan magnet. Sebuah Note dari Sehun.
Luhan. Aku ada urusan sebentar, tapi aku akan segera kembali. Aku sudah membuatkan sarapan, ada di tundung saji. Makanlah yang banyak, kau terlihat kurang sehat kemarin.
–Sehun.
Luhan menoleh ke arah tundung saji yang dimaksud Sehun lalu membukanya. Sepiring roti panggang dan segelas susu putih terletak disana. Luhan senang, tapi sekaligus bingung. Ia senang karena Sehun perhatian padanya, tapi ia juga bingung apa tujuan Sehun sebenarnya. Apa Sehun menyukai Luhan? Kalau iya, lalu kenapa ia masih memikirkan Krystal? Luhan benar-benar bingung harus bagaimana menyikapi Sehun.
Ia memakan rotinya sambil berfikir keras. Sehun dan Krystal sudah berpacaran selama bertahun-tahun, pasti sulit bagi Sehun untuk melupakan Krystal dan semua kenangan-kenangannya. Sementara Luhan dan Sehun baru saling mengenal beberapa bulan terakhir, tidak mungkin Sehun bisa jatuh cinta dengan Luhan begitu cepat. Lagipula Sehun pernah bilang bahwa ia tidak Gay. Jadi tidak mungkin kan ia bisa jatuh cinta pada Luhan yang seorang namja. Luhan meletakan rotinya dipiring lalu tersenyum masam.
Benar juga. Kenapa semua ini tidak pernah terfikirkan oleh Luhan? Sekarang Luhan yakin bahwa dirinya benar-benar bodoh. Ia menaruh harapan terlalu tinggi pada Sehun. Hingga sekarang saat harapan-harapan itu berubah menjadi suatu hal yang ternyata tidak akan pernah terjadi, Luhan jatuh ke tanah dengan keras. Mungkin ini saatnya untuk mencari kebaikan demi dirinya dan Sehun masing-masing. Jika mereka tidak bisa bersama, setidaknya masing-masing dari mereka harus bersama orang yang membuat mereka bahagia.
Dan Luhan tau, siapa orang yang bisa membuat Sehun bahagia.
"Kau bodoh. Kenapa kau tidak melawan, huh?!"
Sehun mendecakan lidahnya mendengar tanggapan Hyungnya soal kejadian yang menimpanya kemarin, saat Xiumin menghajarnya. Kris yang memang sejak dulu selalu mengajari Sehun untuk menjadi namja yang tangguh, tentu saja marah mendengar cerita Sehun. Menurutnya adiknya itu sangat payah.
"Apa karena kau jadi Gay sekarang, kau jadi lembek begitu?" cibir Kris. "Ya! Jangan asal bicara." gumam Sehun membela diri.
Kris hanya mendengus lalu meminum kopinya. Sehun dan Kris sedang berada di sebuah cafe yang terletak tidak terlalu jauh dari apartement Luhan. Sehun terlalu pusing dengan apa yang di alaminya sekarang ini, jadi mungkin mengobrol sedikit dengan hyungnya itu bisa membuatnya sedikit lega karena setidaknya ia tidak menyimpan semuanya sendirian.
"Jadi, Luhan masih terus bersikap aneh padamu?" tanya Kris.
Sehun melirik Hyungnya sebentar lalu menghela nafas pelan dan mengangguk, "Begitulah."
"Sudah tanya langsung padanya?"
"Sudah. Dia selalu bilang kalau dia tidak apa-apa." Sehun berhenti sebentar lalu mendecakan lidahnya kesal. "Ah damn. Apa sulitnya jujur, sih?! Kenapa dia tidak bicara saja padaku apa yang membuatnya seperti itu daripada membuatku penasaran dan frustasi seperti ini?!"
Kris menaikan alisnya menatap adiknya yang mengomel sendiri seperti itu. "Cobalah paksa dia."
"Sudah."
"Lalu?"
"Dia... menangis." gumam Sehun pelan.
Kris jadi ikut bingung dengan apa yang menimpa adiknya itu. Karena hubungannya sendiri tidak pernah serumit ini, jadi Kris tidak tau harus bagaimana memberi nasihat pada adiknya itu. Kris menyesap kopinya pelan sambil berfikir, tiba-tiba otaknya teringat saat pertemuannya dengan Luhan. Kalau tidak salah saat itu mereka membicarakan soal batalnya pernikahan Krystal.
"Ah."
Sehun menatap hyungnya yang tiba-tiba seperti orang di toel setan itu. "Kenapa?"
Kris mengabaikan pertanyaan Sehun, masih sibuk dengan fikirannya. Atau jangan-jangan, Luhan mengira Sehun akan kembali dengan Krystal sehingga dia menjauh dari Sehun? Kris mulai berekspektasi sendirian.
"HYUNG!"
"Y-ya? ya? apa?"
"Kau ini kenapa sih. Daritadi diam saja. Apa yang kau fikirkan, huh?"
"Sehun. Sejak kapan ia jadi seperti itu?"
"Luhan?"
"Ya."
"Sejak hari ulang tahunnya."
Kris bergidik ngeri. Ekspektasinya semakin terasa nyata. Mungkinkah perkiraannya benar? Apa Luhan benar-benar menjauh dari Sehun karena ia takut Sehun akan kembali dengan Krystal?
Sehun mengerutkan keningnya, bingung dengan tingkah aneh hyungnya itu. "Ah kau ini. Aku itu bertemu denganmu agar aku bisa sedikit lega dan meminta pendapat. Tapi kau malah diam seperti itu." keluh Sehun.
"e-eh? Maaf, Hun." gumam Kris singkat lalu mulai berfikir lagi.
Sehun menghela nafas, "Yasudahlah. Aku kembali saja." Sehun berdiri lalu membungkuk pada hyungnya. "Eh tunggu! kau mau kemana? Hey Oh Sehun!"
Sehun berjalan keluar tanpa menghiraukan panggilan Hyungnya itu.
Lima belas menit kemudian, Sehun sudah berdiri di depan pintu apartement Luhan. Ia lupa membawa kunci cadangan sehingga ia harus memencet bel, menunggu Luhan membukakan pintu. Semoga saja Luhan sudah bangun dan tidak kemana-mana.
Pintu terbuka saat Sehun menekan bel untuk kedua kalinya. Sehun hampir mati karena terkejut ketika melihat orang yang membukakan pintunya bukan Luhan. Melainkan seorang yeoja yang sudah sangat dikenalnya.
"K-krystal?" gumam Sehun tergagap. Yeoja yang berdiri di depan pintu itu tersenyum lebar ke arah Sehun. "Annyeong, oppa." sapanya lalu memeluk Sehun dengan erat. "Aku merindukanmu oppaa."
Sehun hanya terdiam. Ia tidak bisa mempercayai apa yang sedang dialaminya saat ini. Kenapa Krystal bisa berada di dalam apartement Luhan? Apa ini mimpi?
Tiba-tiba Luhan muncul, agak jauh di belakang Krystal. Matanya agak berkaca-kaca, menatap Sehun yang tertegun di depan pintu dengan Krystal memeluknya. Luhan tersenyum tipis ke arah Sehun. Sementara Sehun menatapnya dengan tatapan yang seolah-olah berkata "Apa-apaan ini?"
Krystal melepaskan pelukannnya lalu menatap Sehun, "Sehun, oppa!"
Pandangan Sehun segera teralih kepada Krystal yang ada di hadapannya. "K-krystal.. kenapa kau ada disini?"
"Oppa.. Kita harus bicara, ada banyak hal penting yang harus kubicarakan denganmu."
"T-tapi.."
"Sehun, pergilah." sahut Luhan yang tiba-tiba sudah berada di dekatnya. Sehun menoleh ke arah Luhan, "Luhan.."
"Kurasa ini saatnya kalian memperbaiki hubungan kalian." lanjut Luhan sambil tersenyum ke arah Sehun. Entah kenapa, Senyuman Luhan yang biasanya bisa membuat Sehun ikut tersenyum justru kini terasa menyakitkan di hati Sehun.
"Luhan oppa. Terima kasih banyak." gumam Krystal, membuat Sehun mengerutkan keningnya semakin tidak mengerti dengan apa yang sebenarnya sedang terjadi dihadapannya sekarang. "Apa-apaan ini.. Krystal, Luhan.. Kalian–"
"Kita bisa bicarakan ini semua nanti Sehun. Sekarang, ikutlah denganku." Kata Krystal sambil menggenggam erat tangan Sehun. "T-tapi.."
"Sehun, pergilah.." gumam Luhan lagi, kali ini suaranya agak gemetar. Seperti menahan tangis.
"L-luhan..."
Sehun hendak meraih tangan Luhan ketika tiba-tiba Krystal menariknya menjauh. "Ayo, oppa." Sehun berjalan secara terpaksa karena tangannya ditarik oleh Krystal. Beberapa kali ia menoleh ke belakang ke arah Luhan, hingga akhirnya ia melihat Luhan masuk ke dalam apartementnya.
Luhan menutup pintu apartementnya dengan punggungnya. Ia bersandar di pintu dengan air mata yang deras mengalir dari matanya. Luhan kira ia sudah kuat untuk melihat Sehun dengan orang lain, tapi ternyata tidak. Sama sekali tidak. Terutama saat ia melihat Krystal memeluk Sehun, tidak ada perlawanan dari Sehun. Meskipun Sehun terlihat diam tanpa membalas pelukan Krystal, tapi tetap saja hal itu membuat Luhan sakit.
Kenapa aku seperti ini? tidak, aku tidak boleh seperti ini. Bukankah aku sendiri yang menginginkan ini semua terjadi? Lalu kenapa sekarang aku menangis? Luhan menghapus air mata dipipinya, tapi tidak berhasil. Air mata itu terus-terusan mengalir dan tubuhnya justru terasa lemas. Perlahan Luhan terperosot kebawah sehingga ia duduk dengan posisi lutut didepannya. Ia memeluk lututnya lalu membenamkan wajahnya disana. Ia terisak. Sangat terisak.
Seharusnya Luhan tidak seperti ini. Ini saatnya ia untuk mengiklaskan Sehun. Ini saatnya ia mulai mencintai orang lain yang sudah jelas mencintainya.
Luhan tidak pernah merasa sesakit ini sebelumnya. Ini pertama kalinya Luhan jatuh cinta, tapi kenapa semuanya seperti ini? Seperti ini kah rasanya jatuh cinta? Manis di awal dan pahit di akhir. Sakit dan menyiksa. Jatuh cinta, ya, jatuh. Luhan benar-benar jatuh.. dan hancur.
"Jadi, pernikahanmu dibatalkan?"
Krystal mengangguk pelan. "Ya, begitulah."
"Lalu? Bagaimana kau bisa bertemu dengan Luhan?"
"Aku bertemu dengannya secara tidak sengaja di bar, beberapa waktu yang lalu. Singkat cerita, aku memberikan kartu namaku padanya."
Sehun mengerutkan keningnya, ia mulai berfikir. Apa Luhan berubah karena ini? Ia menjauh dariku saat ia tahu pernikahan Krystal dibatalkan? Sehun berdehem. "Kapan tepatnya kau bertemu dengannya?"
"Tanggal, 17 April. Hari itu perusahaanku mengadakan party anniversary di bar tempat Luhan bekerja."
Sehun menggeleng pelan. Berarti bukan. Luhan masih baik-baik saja saat itu.
"Oh Sehun," Sehun menoleh kea rah Krystal yang memanggilnya. "Apa?"
"Kenapa kau terus-terusan bicara soal Luhan? Bukankah ada hal lain yang harus kita bicarakan sekarang?"
"Hal lain? Apa?"
"Soal hubungan kita, Sehun."
Sehun mendengus pelan. "Hubungan, huh? Hubungan yang mana?"
Krystal membulatkan matanya, terkejut dengan kata-kata yang keluar dari mulut Sehun. "Hubungan kita, Sehun."
"Kukira kita sudah resmi putus sejak beberapa bulan yang lalu?"
Krystal menunduk merasa bersalah, "Ya, aku tau.. Maafkan aku. Aku benar-benar merasa bersalah."
"Tidak perlu meminta maaf." Gumam Sehun. Krystal mendongak menatap Sehun. "Karena aku tidak akan pernah memaafkanmu."
Krystal menelan ludah. Kata-kata Sehun benar-benar sukses menusuk jantungnya. Terlalu tajam. Sehun tidak pernah berkata seperti itu padanya sebelumnya. "S-sehun…."
"Kau tau, aku senang pernikahanmu dibatalkan." Sehun berhenti sebentar untuk menyesap minumannya lalu melanjutkan, "Bukan karena aku ingin kembali padamu. Tapi karena akhirnya karma menyerangmu."
Krystal membeku. Satu lagi kalimat dari Sehun, sukses membuatnya bungkam.
"Sehun, aku tidak bertemu denganmu untuk mendengar semua kalimat itu!"
"Oh, aku bahkan tidak ingin bertemu denganmu, Krystal."
"Oh sehun!"
"Krystal, dengar. Semuanya sudah berubah. Aku sudah tidak mencintaimu lagi. Kau harus bisa mencari penggantiku."
"Apa? Apa kau bilang? Secepat itukah kau berubah? Setelah bertahun-tahun bersamaku, kau bisa melupakan semuanya secepat itu?! Kau jahat sehun!" nada bicara Krystal mulai meninggi, membuat Sehun kesal.
"Kau bilang aku jahat? Setelah semua yang kau lakukan padaku, kau bilang aku jahat?! Kau yang meninggalkanku begitu saja untuk menikah dengan orang yang baru kau temui beberapa minggu! Kau lebih memilihnya dibanding aku yang sudah bersamamu bertahun-tahun! Sekarang siapa yang lebih jahat, huh?! Siapa?!" Sehun berdiri dari bangkunya lalu menatap Krystal tajam, "Mulai sekarang, jangan cari-cari aku lagi. Jangan hubungi aku lagi apalagi bertemu denganku. Selamat tinggal, Krystal."
Tanpa bicara apa-apa lagi, Sehun berjalan meninggalkan Krystal yang berkali-kali memanggil namanya itu.
Luhan membasuh wajahnya di wastafel kamar mandinya lalu menatap wajahnya di cermin. Hidungnya merah dan matanya agak sembap, tapi semoga saja tidak ada satupun orang yang menyadari bahwa ia habis menangis.
Bel apartementnya tiba-tiba berbunyi. Dengan langkah yang gontai, Luhan berjalan ke arah pintu dan membukanya. Belum sempat Luhan melihat dengan jelas orang yang berdiri disana, Orang itu sudah memeluk tubuh Luhan dengan erat, membuat Luhan terkejut.
"Hey hey!" Luhan akhirnya menyadari bahwa orang yang memeluknya ternyata adalah Sehun. "Sehun…?"
"Luhan. Aku mencintaimu."
Mata Luhan melebar mendengar kalimat singkat dari Sehun. Apa maksudnya ini? Luhan segera mendorong Sehun sehingga Sehun melepaskan pelukannya.
"Jangan asal bicara Sehun!" bentak Luhan lalu berjalan cepat ke ruang tengah. Tentu saja Sehun segera mengejar Luhan dan menarik tangan Luhan. "Luhan, dengar. Aku serius! Aku benar-benar mencintaimu!"
Luhan berusaha melepaskan tangan Sehun yang menggengam erat tangannya tapi tenaga Sehun yang lebih kuat membuat usaha Luhan sia-sia. "Lepaskan, Sehun. Hentikan!"
"Luhan, aku serius. Kumohon, jangan menjauh dariku lagi. Kumohon.. aku, aku, aku tidak bisa tanpamu!"
Luhan terpaku mendengar kata-kata Sehun. Apa maksud semua ini? Bukankah Sehun masih mencintai Krystal? Kenapa Sehun seperti ini? Apa ini mimpi?
Sehun menatap mata Luhan dalam-dalam, "Luhan, Kau lah orang yang tepat untukku. Sejak awal, aku sudah jatuh cinta denganmu. Senyummu, caramu berbicara, tawamu, semuanya Luhan. I love everything about you!"
Luhan menggeleng, tidak. Seharusnya ini tidak seperti ini. Kenapa semuanya seperti ini? Kenapa Sehun jatuh cinta padaku? "Tapi, Sehun.."
"Apa kau tau betapa aku tersiksa ketika kau menjauh dariku akhir-akhir ini? Aku tidak tau apa yang terjadi dank au menjauh dariku. Kenapa, Luhan? Kenapa?!"
"Karena kau masih mencintai Krystal!" teriak Luhan sambil menarik tangannya secara paksa dari genggaman tangan Sehun. "Malam itu, di hari ulang tahunku. Saat kau mabuk, kau menyebut-nyebut nama Krystal! Apa kau tau betapa sakitnya aku, huh?!"
Sehun terdiam. Mengigau nama Krystal? Sehun tidak sadar, benar-benar tidak sadar. Jadi karena itu Luhan menjauhinya selama ini?
"Tapi, Luhan.. Demi tuhan, aku benar-benar tidak sadar." Jelas Sehun, berusaha meyakinkan Luhan. Tapi Luhan menggelengkan kepalanya, "Kau masih mencintainya, Sehun. Akui saja!"
"Aku mencintaimu Luhan! Sungguh! Aku akan melakukan apapun agar kau percaya! Kalau aku masih mencintai Krystal, Aku pasti masih bersamanya sekarang. Tapi kau lihat sendiri kan? Aku ada disini. Didepanmu." Sehun meraih tangan Luhan dengan lembut lalu menggenggamnya erat. "Aku mencintaimu, Luhan.."
Air mata Luhan kembali mengalir. Kenapa semuanya jadi seperti ini? Luhan tidak tau, entah ia harus senang atau sedih. Sehun akhirnya menyatakan perasaannya pada Luhan. Tapi… kenapa baru sekarang?
"Aku tidak bisa, Sehun.."
Pancaran kekecewaan seketika terlihat jelas di mata Sehun ketika mendengar sebuah kalimat singkat dari Luhan.
"Tapi… kenapa?"
"Karena seharusnya kau tidak jatuh cinta denganku! Seharusnya kau kembali dengan Krystal!"
"Tapi aku mencintaimu, Luhan!"
"Tapi aku tidak bisa menerima cintamu, Sehun!"
"Kenapa?"
Luhan tidak menjawab, ia hanya menunduk sambil terisak. Ia tidak kuat untuk mengatakan alasan yang sebenarnya kepada Sehun.
"Luhan, kumohon, jawab aku.." nada suara Sehun mulai bergetar, menahan tangisnya. Luhan hanya menggeleng, "Maafkan aku Sehun."
"Luhan, kumohon…."
Kling kling.
Layar ponsel Luhan yang di letakan di meja dekat Sehun menyala menampilkan sebuah pesan masuk. Mata Sehun melebar ketika membaca nama pengirim pesan tersebut. Xiumin. Tidak, bukan nama itu yang membuat Sehun terkejut, tapi di samping nama tersebut terdapat emoticon love berwarna merah.
Sehun menoleh kearah Luhan yang juga memperhatikan ponselnya sendiri itu degan tatapan terkejut.
"Luhan?"
Luhan hanya terdiam, masih menunduk, tidak berani menatap kea rah Sehun yang menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
"Luhan, jelaskan padaku apa maksud dari itu. Kau, dan xiumin?"
Luhan masih menunduk dan terisak, "Maafkan aku Sehun. Maafkan aku.."
Sebulir air mata akhirnya jatuh dari sudut mata Oh Sehun. Kini semuanya sudah jelas. Sekarang Sehun mengerti alasan Luhan yang tidak bisa menerima cintanya. Karena Luhan sudah bersama Xiumin, jadi tidak mungkin ia menerima cinta Sehun.
"Aku tidak tau ternyata kau bisa berpacaran dengan sahabatmu." Gumam Sehun dengan genggaman tangannya yang perlahan melemah.
"Maafkan aku Sehun.. Sungguh, maaf.."
Sehun melepaskan genggaman tangannya lalu berusaha sebisa mungkin untuk tersenyum "Selamat ya.. semoga kau bahagia dengannya, kau tau, dia orang yang tepat untukmu."
"Tidak, Sehun, jangan bicara seperti itu.." Isakan tangis Luhan semakin menjadi-jadi saat Sehun mengelus kepalanya sambil berkata lembut. "Walau aku tidak bisa bersamamu, setidaknya aku tau, kau bersama orang yang tepat."
"Sehun.."
"Sampai jumpa, Luhan." Sehun mengecup bibir Luhan singkat lalu berjalan keluar dari apartement.
Luhan tidak bisa berkata apa-apa lagi, saat ia mendengar pintu apartmentnya ditutup. Itu berarti Sehun sudah pergi dari apartementnya. Luhan jatuh berlutut lemas di lantainya, "Sehun…. Maafkan aku.. jangan pergi, maafkan aku."
Suara isakan tangis Luhan memenuhi setiap sudut apartement Luhan yang hampa dan sunyi.
Kini Sehun berdiri di sebuah persimpangan yang ramai dengan pejalan kaki. Matahari sudah mulai terbenar disudut barat, sejak tadi Sehun hanya berjalan tanpa arah di tengah keramaian kota incheon. Entah kemana dan harus apa, hal ini terjadi lagi pada Sehun.
Kadang Sehun berfikir, Apa dosa yang telah ia buat sehingga tuhan menghukumnya seperti ini? Pertama dihianati oleh seseorang yang sudah bersamanya selama bertahun-tahun. Dan sekarang, ketika Sehun kira Luhan adalah malaikat yang dikirimkan Tuhan untuknya, ternyata Luhan juga mematahkan hatinya.
Sehun benar-benar tidak menyangka hatinya akan hancur untuk yang kedua kalinya. Kenapa ini semua harus terjadi pada Sehun? Apa Tuhan membencinya? Entahlah.
Sehun menatap mobil-mobil yang berlalu lalang dengan kecepatan cukup tinggi dijalan. Dan otak Sehun mulai berfikir, apa yang akan terjadi padanya jika ia berjalan ke tengah jalan yang penuh kendaraan berlalu lalang itu.
AKHIRNYA UPDAAATEEEE OEMJEH AKU BENER BENER GANYANGKA AKHIRNYA INI FF BISA TERUPDATE :'''D
Semoga updatenya gak mengecewakan yaa. Dan makasih juga buat kalian yang masih setia sama FF ini. Muuaaaahh
