Standard WARNING applied

AU

Disclaimer

Naruto © Masashi Kishimoto


Klub malam yang sudah berdiri sejak tiga belas tahun yang lalu ini masih menjadi tempat favorit bagi pengunjung-pengunjungnya yang setia. Dari tahun ke tahun, fasilitas di klub malam ini semakin lengkap dan memuaskan. Seiring dengan banyaknya keuntungan yang diraup. Minuman yang dulu jenis-jenisnya terbatas, kini lengkap dari berbagai jenis. Dengan fasilitas yang lengkap dan baik itulah, musik yang dihasilkan dari pengeras suara tidak terdengar sumbang, dan senantiasa membius para pengunjung untuk terus menggerakkan tubuh mereka di lantai dansa.

Sasuke adalah salah satu pengunjung setia di klub malam yang telah mengenalkannya pada dunianya yang sekarang. Dia akan selalu menempati satu kursi yang cukup jauh dari lantai dansa. Memesan minuman yang hampir selalu sama pada bartender setiap kunjungannya, tidak terganggu dengan musik yang menghentak atau jiwa para wanita kesepian yang coba untuk menggoda.

"Kau sudah terlalu banyak minum."

"Tsk, sejak kapan kau memedulikanku, huh?" sesaat Sasuke membagi perhatiannya pada Gaara yang duduk di samping kiri. Sahabatnya itu hanya duduk dan memesan sebotol jager.

Sasuke mendengus saat melihat bartender meletakkan sebotol jager dan satu gelas kaca yang kosong di hadapan Gaara. "Sejak kapan kau minum minuman seperti itu?" seringai meremehkan hadir di wajah pemuda Uchiha yang mulai memerah karena mabuk.

"Sejak saat ini." Gaara tak memedulikan dan menenggak minuman di dalam gelasnya.

"Aku ragu kalau kau seorang pria sejati." Sasuke meminum beer-nya lagi. Musik masih dimainkan oleh DJ, sedikit mengganggu perbincangan sehingga Gaara maupun Sasuke harus sedikit mengeraskan suara.

Sasuke masih ingat, betapa dulu Gaara menolak berbagai minuman berkadar alkohol rendah, dan berkomentar bahwa yang meminum minuman macam itu hanya pria yang tanggung-tanggung. Sasuke terkekeh kecil mengingatnya.

"Setidaknya aku lebih modern dibandingkan kau yang hanya memesan beer," Gaara meletakkan gelasnya yang kosong, "ketinggalan jaman."

"Aku hanya melestarikan peninggalan sejarah."

Setelah itu tak ada perbincangan yang berlanjut. Sesekali kepala Sasuke terlihat lunglai. Tapi, Gaara akui bahwa sahabatnya yang satu ini cukup kuat dalam hal menenggak minuman keras. Jarang sekali Sasuke mabuk berat hanya karena satu atau dua botol beer.

Kerlap-kerlip lampu atau sinar laser masih bermain nakal di kegelapan ruangan yang disengaja.

"Hey," Sasuke bersuara, "bagaimana kabar Boss?"

Gaara mengedikkan bahu, "Pak Tua itu sedang sibuk dengan mainan barunya, kurasa."

"Jadi kau sepi job, huh?" Sasuke kini sepenuhnya menatap pada Gaara.

"Tidak juga," Gaara memainkan gelasnya dengan malas, "bagaimana denganmu?" kini pandangan keduanya bertemu.

Gaara mendengar Sasuke yang mendengus sebelum menjawab pertanyaannya. "Cukup menyenangkan."

"Cukup?"

"Hm," Sasuke mengedikkan bahu, "ada sedikit gangguan. Yah … tapi dia tidak penting." Sasuke mengisi kembali gelasnya, dan terkekeh angkuh, "aku sudah mendapatkan apa yang kumau." Dan Sasuke kembali menenggak minumannya.

Gaara tentu tahu apa yang Sasuke maksud.

"Kau brengsek."

"Memang."

.

.

.

"Kau terlihat kurang sehat,"

"Eh?"

"Kuperhatikan, seharian ini kau … berbeda."

Hinata tidak leluasa dalam gerakannya. "B-benarkah?" tawanya yang hambar menguar di udara. "A-aku baik-baik saja."

Neji tidak bertanya lebih lanjut, sadar akan waktu yang menyuruh mereka untuk segera terlelap untuk kemudian terjaga di keesokan hari. Futon telah Neji gelar, Hinata sudah duduk dan bersiap merebahkan diri di atas ranjangnya yang menyediakan kenyaman dalam tidur.

Kemudian yang terdengar hanyalah helaan setiap napas yang dihirup dan dikeluarkan.

Hinata bergerak tak nyaman di balik selimut tebalnya yang bergambar kartun. Sesekali kedua tangannya meremas selimut dengan gelisah. Keheningan malam menghantarkannya pada sunyi yang membuat kekhawatirannya mengembang. Sedikit menggerakkan tubuhnya ke sisi ranjang, Hinata menengokkan kepalanya, melihat ke bawah dan mendapati sepupunya yang sudah terlelap.

Kembali ke posisi awalnya, Hinata menatap langit-langit kamar yang sama sekali tidak pernah berubah. Di atas nakas, jam wekernya menunjukkan waktu yang terlampau larut.

Tapi matanya tak bisa terpejam.

Satu helaan napas kecil terasa merongrong di telinga. Hinata dilanda dilema.

Sejak siang tadi, Neji terus-menerus menanyakan keadaannya yang terlihat tak prima. Hinata hanya menjawab sekenanya dengan diiringi senyum lemah.

Ibunya, Tsunade, belum ia lihat dari terakhir kali ibunya berangkat kerja siang hari tadi. Hinata yakin, ibunya sedang menjerumuskan diri ke dalam lembar-lembar dokumen pekerjaan. Hanya satu pemikiran yang terlintas di kepala gadis Hyuuga itu, ibunya sedang memiliki masalah.

Sejauh yang Hinata tahu, Tsunade pada dasarnya bukan tipe wanita yang dengan suka rela menghabiskan waktunya hanya untuk menekuni lembaran kertas yang membuat kepalanya dilanda migren dadakan. Seperti yang sudah-sudah, Tsunade hanya akan melakukan hal seperti ini—menghabiskan waktu dalam pekerjaan, dan pulang larut malam, jika ia sedang memiliki masalah yang tak bisa dilupakan hanya dengan bercinta. Pekerjaan semata-mata hanya sebagai pelarian menurutnya.

Satu beban lagi hinggap di pundak Hinata. Rasa takutnya akan pemikiran bahwa ia tengah ham—ah, sudahlah.

Hinata memejamkan mata.

Ini akan sangat sulit….

.

.

.

Hinata membuka mata dan mendapati futon yang semalam digelar oleh Neji telah rapi seperti sebelumnya. Sosok Neji pun tidak ada di kamar seperti yang seharusnya. Mungkin Neji sedang mandi.

Hinata beranjak. Dia juga akan segera membersihkan diri dan bersiap untuk berangkat ke sekolah. Sembari menunggu Neji, ia menyiapkan seragamnya: kemeja, dasi, rok, dan juga blazer. Tidak lupa syal yang ia beli saat musim gugur tahun lalu juga akan menemani harinya di penghujung musim gugur.

Saat Hinata telah selesai dengan segala keperluannya, ia beranjak ke meja makan untuk sarapan atau membuat bekal sebelum ia berangkat ke sekolah. Naas, di sana sudah terlebih dulu ditempati oleh Tsunade dan Sasuke yang sedang bertukar kata. Kehadirannya menjadi begitu mencolok ketika sepasang bola mata mereka mengarah padanya.

Hinata meneguk ludah.

Tsunade menatapnya dengan pandangan tak terbaca.

Sasuke tersenyum miring.

"Hinata," gadis itu sempat terperanjat, dan mendapati Neji yang sudah berdiri di belakangnya. "Kau sudah mau berangkat? Kuantar."

Hinata mengangguk dengan canggung kemudian membalikkan badan bersama dengan Neji. Pemuda Hyuuga itu sempat melirik ke arah Tsunade dan Sasuke dari balik bahunya.

Dan apa yang ia dapat? Wajah arogan Uchiha itu menatapnya dengan pandangan tak biasa yang membuat Neji mengernyit tak senang.

Saat itu, mungkin semua akan berubah.

.

.

.

Hinata berencana untuk berjalan kaki sepulang sekolah. Pada awalnya, seperti biasa, Neji akan menawarkan diri untuk menjemputnya dan ia akan pulang bersama kakak sepupunya yang memang protektif. Tapi tidak untuk kali ini, setelah sebelumnya Hinata menolak tawaran Neji karena seharusnya ia sekarang sedang mengikuti ekskul musik seperti jadwal biasanya, tapi setelah mendapat kabar bahwa Tayuya-sensei tidak bisa hadir, jadilah keadaannya seperti ini.

Hinata menggigit bibir saat ia sudah memasuki wilayah ruko. Di sana, ada apotek yang buka selama 24 jam seingat Hinata.

Haruskah? Dengan pakaian sekolah? Masuk ke apotek dan berniat membeli testpack? Rasanya itu ide gila. Hinata berhenti dari langkahnya, menggigit kuku jari telunjuk dan berpikir. Terlalu memalukan bagi gadis yang memang pada dasarnya pemalu.

Negaranya memang termasuk Negara yang memiliki tingkat pergaulan yang bebas. Adalah hal yang wajar di zaman sekarang jika mendapati gadis yang sudah tak lagi perawan ataupun gadis yang hamil di luar nikah. Tapi sayangnya, Hinata tidak dilahirkan di keluarga yang bebas, melainkan keluarga yang memegang teguh kebudayaan yang menjunjung tinggi kehormatan.

Yah meski semua itu diragukan jika ia mengingat prilaku ibunya.

Hinata harus bisa terbebas dari segala belenggu yang mencengkeram raga. Untuk kali ini, hanya untuk kali ini saja, Hinata ingin bertindak di luar kepribadiannya.

Ini semua … harus segera berakhir.

.

.

.

Hinata pulang dengan perasaan gelisah yang membuat paru-parunya terasa penuh hingga sesak. Tak jarang ia meremas jari-jemarinya sendiri demi menghilangkan rasa tegang. Seragam masih melekat, namun tas telah ia letakkan di kamar saat ia pulang. Rumahnya—seperti biasa—sepi. Hinata mengerti dengan ketidakhadiran Neji di rumah, sepupunya itu tentu saja tak akan bersedia tinggal lebih lama di rumah yang hanya menyimpan hal-hal menjijikkan—menurut Hinata. Tentu sepupunya itu lebih memilih menghabiskan waktu di luar rumah.

Di dalam genggamannya, sebuah benda asing telah tersedia. Hinata melangkah dengan ketakukan yang membayang di setiap langkah. Bibir bawahnya sering menjadi pelampiasan demi mengurangi kegugupan. Pintu kamar mandi telah ada di depan mata. Hanya tinggal melewati dapur, dan sampailah di sana.

Hinata menguatkan tekad.

Dengan satu helaan napas, ia berjalan dengan pasti menuju pintu kamar mandi.

Greb!

Gadis Hyuuga itu memekik saat tarikan kuat ia rasakan pada lengan atasnya. Selanjutnya yang dapat ia rasakan adalah punggungnya yang membentur tembok. Terasa dingin hingga membuatnya tak berdaya.

"Sekarang kau sendiri," suara yang Hinata dengar membuatnya gemetaran. Kedua tangannya ia kepalkan di depan dada sebagai pertahanan. Matanya terpejam sedemikian rapat. Memblokir sesosok wajah yang bisa tertangkap penglihatan.

Hinata sudah terlalu lelah untuk menjadi lemah. Tapi pria di hadapannya ini, mampu melumpuhkan segala ketegaran yang ia punya. Trauma itu masih belum hilang. Masih membayang dan meninggalkan luka tak kasat mata.

Titik-titik keringat muncul dari pori-pori kulit.

Hinata serasa jemari tangannya mendingin seiring kerja jantungnya yang berlebih, saat ia merasakan telapak tangan yang menyentuh kulit lengannya yang terbuka.

Hinata mendengar suara tawa Sasuke yang meremehkan.

"Aku suka tubuhmu yang gemetar," bisiknya, "seperti meminta untuk ditenangkan." Sasuke memberikan penekanan pada kata terakhirnya. Tentu, kata yang dimaksud Sasuke tidaklah mengandung makna yang sebenarnya.

"T-tolong," Hinata mendorong ringan dada Sasuke dengan sisa kekuatan yang belum sepenuhnya tertelan ketakutan.

"Hm?" Sasuke menangkap pergelangan tangannya. Tak mengindahkan kondisi gadis di hadapannya yang bisa kehilangan kesadaran kapan saja.

Hinata semakin menundukkan kepala sedangkan matanya tak kunjung terbuka justru semakin mengerat. Ini musim gugur, tapi udara terasa panas saat tubuhnya dibakar kekhawatiran saat Sasuke menghirup aromanya dalam-dalam dan menelusuri garis rahangnya dengan hidung.

Satu kaki Sasuke menyusup di antara kaki Hinata yang tak lebih tegar. Sasuke memang tidak sepenuhnya berbohong saat mengatakan bahwa ia menyukai tubuh Hinata yang gemetar ketakutan, baginya hal ini langka, dan … menggairahkan.

Sasuke kembali mengeratkan cengkeramannya pada pergelangan tangan Hinata saat gadis itu mulai memberontak kecil memohon untuk dilepaskan. Sasuke menyeringai saat dilihatnya wajah Hinata memucat dan berkeringat. Gadis itu sama sekali tak kuasa memandangnya. Dan saat Sasuke mendekatkan wajahnya, Hinata menahan dada Sasuke hingga secara otomatis Sasuke dapat melihat benda yang ada dalam genggaman tangan Hinata.

Ia perhatikan dulu benda berwarna putih dan berbentuk persegi panjang tersebut. Setelahnya, Sasuke justru tersenyum dan mengelus tangan Hinata yang menggenggam testpack.

Tanpa berbicara apa pun, Sasuke menarik pergelangan tangan Hinata untuk mengikutinya masuk ke dalam kamar mandi.

"L-lepaskan, t-tolong, S-Sasuke-san!" Hinata, tentu saja dengan segala kerisauannya memberontak sebisanya. Kejadian ini seperti membawanya pada malam di mana semua penderitaan bermula.

Ia sudah tidak ingin menjadi gadis lemah. Tapi kenapa keadaan selalu memaksanya untuk meneteskan air mata?

"S-Sasuke-san, kumohon…." Hinata menyeka lelehan yang keluar dari matanya saat Sasuke justru menutup pintu kamar mandi.

Setelah itu, Hinata kembali merasakan punggungnya yang menempel di dinding keramik kamar mandi. Isakannya yang kecil menggema di ruangan yang memang tak luas. Kurungan tangan Sasuke kembali ia rasakan di sisi tubuhnya seperti penjara.

"Kau mau mengeceknya, 'kan?" Sasuke berkata tepat di depan wajah Hinata yang memerah. "Mau kubantu?"

Hinata tersentak saat dengan santainya tangan Sasuke menyusup di balik roknya, dan bermain-main dengan pakaian dalamnya.

Pria ini benar-benar gila!

Tanpa ragu Hinata mendorong dada Sasuke yang kian mencondong. Namun, seperti waktu itu, Sasuke selalu saja bisa mengatasi rontaannya meski kesulitan. Rasa takutnya menjelma menjadi kemarahan yang akhirnya bisa ia lampiaskan.

"K-kenapa kau menyiksaku begini?!" Hinata marah, tapi ia terisak. "Kau … k-kau mengambil semuanya yang kupunya." Suaranya merendah, "A-apa masih belum cukup?!"

Air matanya berlomba untuk keluar dari pelupuk mata seperti bendungan air yang roboh.

Dan semua itu tak bertahan lama saat Hinata merasakan bibir Sasuke yang menyentuh bibirnya secara tak terduga. Cukup sekali saja tubuhnya disentuh oleh pria ini. Hinata tidak ingin merasakan kotor yang seakan melekat erat ditubuhnya.

Pukulan lemah menerjang bahu Sasuke yang masih enggan menjauh dari tubuh gadis yang tengah ia kecup bibirnya. Rasa asin dikecapnya dari sela bibir mereka yang bertautan. Rasa asin dari air mata Hinata yang begitu putus asa.

Semuanya terjadi di luar kendali diri.

"Hinata!"

Rintihan Hinata yang sepi mengundang Neji.

Hinata berusaha bersuara meski bibirnya masih terkunci oleh Sasuke yang tak memedulikan siapa yang berada di luar sana.

"Nii-s—umh!"

"Sial!"

Neji kemudian menggulung kemejanya sampai siku, mengambil langkah mundur. Dan menerjang pintu yang tak terbuka setelah sebelumnya ia gedor.

"Ck." Sasuke berdecak saat pintu kamar mandi terbuka dengan paksa. Sasuke melirik Neji yang geram dari balik bahunya. Kurungannya pada tubuh Hinata masih belum melemah.

"Apa yang kaulakukan padanya, Brengsek!"

Neji yang dikuasai amarah bukanlah sosok pemuda Hyuuga yang menjaga lisan. Neji menarik kaus bagian belakang Sasuke dan menyeretnya keluar dari kamar mandi.

Hinata tak berdaya menerima apa yang terjadi. Tubuhnya merosot dengan kedua tangannya yang saling menggenggam. Akhirnya ia memeluk lutut sebagai pegangan kala guncangan mental kembali menghadang.

Neji menghempaskan Sasuke ke lantai, kemudian tanpa basa-basi menduduki pria Uchiha itu, dan mendaratkan pukulan yang telak mengenai wajah tampan Sasuke.

"Dasar biadab!" satu pukulan dilayangkan Neji sekali lagi hingga membuat sudut bibir Sasuke pecah dan berdarah. "Kau benar-benar makhluk menjijikkan yang pernah kutemui!"

Buagh!

Lagi, pukulan itu menghantam wajah Sasuke.

Neji mencengkeram kaus bagian depan Sasuke dengan kemarahan yang sulit terkendali.

"Jangan pernah menyentuh Hinata lagi." Desis Neji tepat di hadapan wajah Sasuke.

"Aku tidak janji."

Bukh!

"Brengsek!" Neji kembali menekan tubuh Sasuke ke lantai dan menghantam tulang pipi Sasuke hingga memar. Setelahnya, Neji diam karena Sasuke sama sekali tak membalas serangannya. Dada Neji bergerak cepat seiring ia menghirup udara untuk menenangkan emosinya yang meluap tak terbendung.

Sasuke menyeka darah di sudut bibirnya dengan punggung tangan, kemudian menggerakkan kepalanya hingga menatap ke arah Neji. Sasuke bangun perlahan, meski Neji masih menduduki tubuhnya. Jarak wajahnya dengan Neji sangat dekat. Setelah itu Sasuke mengeluarkan seringai yang membuat Neji harus mengendalikan diri agar tidak membunuh Sasuke saat itu juga.

"Asal kautahu," Sasuke berbisik, "Si Brengsek ini, telah menikmati tubuh sepupumu," Sasuke tersenyum saat melihat rahang Neji yang mengeras, "mendengar desahan yang keluar dari bibir sepupumu," senyumnya semakin mengembang ketika gemelutuk gigi Neji terdengar, "dan, Si Brengsek ini, telah menitipkan benihnya pada sepupumu." Sasuke memundurkan wajahnya dengan seringai puas yang terpampang jelas.

"C-cukup." Suara Hinata tertelan emosi yang menguasai Neji.

"Sial!"

Berikutnya, Neji tak segan-segan untuk menerjang Sasuke dengan pukulan yang sudah terlatih sedari kecil dari ilmu bela diri yang telah dipelajari. Serangan bertubi-tubi Neji berikan tanpa jeda setelah mengetahui fakta yang membuatnya merasa gagal untuk menjaga Hinata.

"Kau tak perlu takut, aku akan bertanggungjawab."

Andai saja Sasuke mengatakannya dengan sungguh-sungguh, mungkin Neji akan sedikit luluh. Sayangnya, kesediaan Sasuke itu diiringi nada ketidakseriusan. Main-main.

"Mengerti apa kau tentang tanggung jawab?!"

Bugh!

Sasuke meludahkan darah yang terasa asin dalam rongga mulutnya. "Setelah anak itu lahir, kuceraikan. Beres, 'kan?"

Bugh!

"Brengsek! Kaupikir Hinata serendah kau, hah?!"

Bugh!

"C-cukup!"

Dari dalam kamar mandi, Hinata setengah menjerit. Gadis itu menutup kedua telinganya dengan erat, kemudian menjambak rambutnya sendiri, dan akhirnya menangis.

Neji hampir melupakan sepupunya yang lebih membutuhkan pertolongannya ketimbang mengurusui tikus busuk yang merusak masa depan sepupunya.

Neji beranjak dari tubuh Sasuke, kemudian menghampiri Hinata yang jauh dari keadaan baik-baik saja.

"Hinata," Neji mencoba meraih bahu gadis yang masih tergugu, Hinata tak merespon. Ini membuat Neji terpukul telak. Ia menatap Hinata dengan nanar. Keprihatinan menyeruak dalam hatinya yang biasa tegar.

Akhirnya Neji membantu Hinata berdiri. Ia bukan pria penuh keromantisan dengan menggendong Hinata. Neji hanya memeluk bahu Hinata dan membimbingnya berjalan. Dapat Neji rasakan ketakutan yang tak pernah ia lihat dari Hinata.

Saat keluar melawati Sasuke, Neji memandang tajam pemuda yang menyeka aliran darah dari sudut bibirnya. Neji tak ambil peduli, dan mengantarkan Hinata ke kamarnya.

Sasuke berdiri, menatap kepergian Neji dan Hinata dalam keheningan yang tak terbaca.

Sasuke menyentuh sudut bibirnya yang luka dengan ibu jari, "Aku yang akan mendapatkannya."

.

.

.

Neji memberikan Hinata segelas air mineral. Hinata masih belum pulih benar dari rasa takutnya yang mencerca. Tangannya masih terlihat begitu bergetar saat menerima gelas yang ia berikan. Saat Hinata meminum airnya, Neji duduk di samping Hinata dan menerima gelas itu kembali ketika Hinata menyerahkannya, kemudian meletakkan gelas tersebut di atas nakas.

Dengan segenap kasih sayangnya, Neji meraih bahu Hinata dan menariknya dalam sebuah pelukan penuh rasa ingin melindungi. Perlahan Neji bisa merasakan pergerakan tangan Hinata yang mencengkeram bagian depan kemejanya. Lama-kelamaan, cengkeraman itu menguat hingga membuat Neji mengeratkan pelukannya.

Neji mengelus rambut Hinata pelan, saat merasakan tubuh gadis itu bergetar kembali. Rasa sakit menghantam di ulu hati. Neji merasa sosok Hinata kini tak ubahnya benda yang tak tersentuh rasa bahagia. Semakin lama, isakannya menguat. Seakan Neji bisa merasakan sayatan luka dari tangis pedih yang coba diuraikan Hinata.

Hinata membenamkan wajahnya pada dada Neji saat suaranya nyaris pecah oleh duka. Cengkeramannya berubah menjadi hal yang menyakiti raga Neji. Ketegaran itu terhempas.

"A-aku…."

Neji senantiasa mendengarkan.

"A-aku … akan ikut denganmu, Nii-san."


TO BE CONTINUED


A/N: tadaaa~ apdetnya lebih cepet, kaannn~ XD hehe. Makin ngegaje banget deh ya nih fic =_=a tapi yasudahlah. Oh, saya benar-benar minta maaf atas keplin-planan saya kemarin. Maaf atas keabalan saya, membuat readers bingung dan kecewa. Saya ini emang menyusahkan ya =_="

Haha padahal Hinata belom dites, tapi udah ngeklaim aja nih si sasu XD nah, kalau yg nangkep maksud saya pasti sudah mulai merasakan 'perkembangan' si sasuke di chap ini :3 hehe.


Special thanks to:

Dewi Natalia(hehe tapi kan segalanya masih bisa berubah XD), Moku-chan(Oke, kita lihat nanti XD), Lily Purple Lily(Neji emang top T^Tb suatu saat Sasu pasti mendapat balasan #eh XD), himetarou ai(hallo, :) ini sudah lanjut dan yap, ini tetep SH XD), Hyou Hyouichiffer(hehe, gimana yah, tapi tetep SH kok The :)), Namikazevi(tada~ini lanjutannya XD), aam tempe(oke ini tetep SH XD maaf kemaren saya ababil banget TTwTTb bener tuh matiin aja semua charanya T^T #digetok), [6x](hehe ini dia kelanjutannyaaa XD), astia morichan(oke, um, hamil enggaknya belum dites nih :)), jump-an(yah, maaf yah gara2 kelabilan saya, jadi kacau gini, ending tetep SH T^T ini lanjutannya XD), soee intana(oke ini tetep SH XD hehe semuanya akan dikupas secara tajam setajam silet! #eh), Ms. Lana(dan Neji beneran matiii~ T^T hamil ngganya belum dites :) dan iyap ini SH), Suzu Aizawa Kim(ini lanjutannya XD hm, kemungkinan hamil itu emang besar, tapi yah kita liat nanti deng XD #plak), mugiwara eimi(haduh maaf banget yah :" chara fav saya juga mereka T^T terima kasih yah XD), AA Jebug DEPAPEPE Partners(terima kasih kalau suka :) sulit dipercaya memang T^T), payung biru(ini lama ngga? XD hehe terima kasih sudah mau menunggu :)), Bee Hachi(aduh, jangan panggil senpai XD oke ini SH kok, hehe untuk urusan Sasu-Hina-Neji nya kita liat nanti oke?), Hime no Rika(hehe gak jadi ganti pair Rika-chan XD ini ga lama kan? Yg axe itu juga udah diapdet kok XD), Reverie Metherlence(hehe ini termasuk ngaret ga? XD semoga ch ini masih gregetan), Mamoka(ini ngga lama kan? XD hehe kita liat nanti ya?), Briesies(Oke tetep SH XD ok juga bikin sasu kapok), K(pelan-pelan juga sasu akan bersikap manis kok ma Hime :)), LadyRuru(bener banget! T^T nah, sudah bisa melihatkah bagaimana sikap sasu terhadap NejiHina di chap ini? :)), Q(oke, saya gak jadi ganti pairnya kok Say, XD makasih yah), Aden L kazt(Oke karena banyak yg protes ini tetep SH gomen yah :")), SSasuke 23(maaf sekali membuatmu kecewa atas ketidakprofesionalan saya :") saya benar2 merenungkan apa yang kamu bilang lho, dan saya gak tahu nih fic masih tetep mengecewakan atau udah lebih baik), Sugar Princess71(Supri-chaaannn, akhirnya diriku memutuskan ini tetep SH :") hayoo, kan Hinatanya belom dites. Disini sasu udah terlihat 'gimanaaa' gitu kan? XD), pervywoonie(huwaaaa arigatou XD semoga menikmati lanjutannya), Fumiko Yamazaki(oke ini tetep SH ko XD terima kasiiiiiih yaaa), Hanazono Suzumiya(hehe setidaknya disini udah ada gambaran kan tentang perasaan si sasu meski ga jelas(?) XD dan yaaa nanti bikin kali ya NejiHina hehe), Lavendervioletta(hee? Jangan panggil senpai OwO terima kasih ya :)), Tsuky Hime(okeeee ini SH kok XD wkwk kamu ada-ada aja!), Kazuko Nozomi(Hello, iya saya juga kangen sama Neji T^T ini apdetannya semoga suka :)), BakaBaka LittleFox(ripyu dulu baru ada namanya di special thanks! ==" paman tukang ngaku-ngaku dasar! #plak), InachisIO(oke ini apdetannya, smeoga pertanyaannya terjawab :) tapi soal Hinata kita masih belom tau XD #plak), Hyuuga Aki(hehe disini NejiSasu(?) nya udah cukup 'rival' kan? XD semoga ini apdetannya termasuk cepet #plak), Lin Hekmatyar(saya juga sedih T^T ini ga lama kan? Dan yah seperti yg kita lihat si sasu mulai 'berkembang(?)' di chap ini), Tatsu Hashiru Katsu(Hinatanya belom dites :) hehe oke deh kita liat nanti ya? XD)


Dan dengan berat hati saya menyampaikan mulai sekarang saya hiatus :)

Oia, mari berpartisipasi untuk event 100 fic SH yg akan dipublish 14 Feb nanti ^^b

Thanks for reading….

REVIEW?^^v