Jimin semakin cepat mengayuh sepedanya. Dia melihat kucing yang berjalan di pinggir jalan. Tanpa dia sadari, dia telah menengokkan kepalanya terlalu lama hingga dia tidak menyadari bahwa dia berada di sebuah tikungan.
Sebuah mobil melaju dengan cukup kencang melihat begitu luasnya jalan yang ada. Jimin masih belum menyadari hingga
'TIN TIIN'
Mobil tersebut berusaha untuk mengerem namun
"akh!"
'BRAAK!'
"aww!"
"YA!" sang pemilik mobil (panggil saja Baekhyun) segera keluar dari mobilnya dan melihat Jimin yang teronggok begitu saja setelah terjatuh dari sepeda.
"kau seharusnya melihat jalan. Untung saja aku sempat mengerem mobilku. Jika saja aku tidak bisa mengerem mobilku, kau mungkin bisa kulindas!" Baekhyun berkata dengan tidak sabaran.
Baekhyun baru saja akan memarahi Jimin lagi kalau saja ia tidak melihat wajah Jimin yang merintih kesakitan karena luka di kakinya.
Baekhyun melebarkan matanya melihat luka yang ada di kaki Jimin, "kurasa kakimu perlu dijahit dengan luka sebesar itu. Ppali, aku akan membawamu ke rumah sakit."
Jimin yang mendengar kata-kata Baekhyun segera terperanjat, "apakah perlu dijahit? Tidak bisakah kita mengobatinya dengan obat luka?"
Baekhyun yang tengah mengangkat sepeda Jimin untuk di masukkan ke mobilnya hanya mengerutkan kening.
"luka sebesar itu? Ei… nak, bisakah kau lihat? Lukamu itu sampai kelihatan dagingnya. Kalau tidak dijahit, lukamu akan membusuk dan kakimu akan diamputasi. Paham?" jawab Baekhyun
"sini, kubantu berdiri." Kata Baekhyun sambil meraih tangan Jimin dan membantunya memasukki mobil Baekhyun.
"Ini. Tutup lukamu dengan ini." Baekhyun menyerahkan kain bersih kepada Jimin dan Jimin segera menutup lukanya dengan kain bersih tersebut.
.
.
Tidak butuh waktu lama untuk Baekhyun mengendarai mobilnya hingga sampai ke rumah sakit terdekat. Jimin segera di bawa ke UGD dan melakukan operasi lokal.
Selama operasi, tidak sekalipun Jimin berani melihat jarum yang menembus kulitnya. Bilang saja dia takut dengan jarum. Berkali-kali dia menanyakan 'apakah sudah selesai?' hingga membuat sang dokter tertawa.
"sudah selesai, Jimin ssi." Sang dokter menutup jahitan di kaki Jimin yang masih basah dengan kasa dan plester.
Jimin menghembuskan nafas lega, "akhirnya selesai juga."
"ini, saya berikan resep. Satu antibiotik, diminum setelah makan dan harus habis. Lalu yang kedua, obat penahan rasa sakit. Obat yang kedua hanya diminum jika anda merasa sakit." Jelas sang dokter
Jimin mengangguk menandakan bahwa dia paham. Baekhyun yang melihat bahwa Jimin telah selesai segera menghampiri Jimin dengan kursi roda.
"kau berhutang padaku, Jimin ssi." Kata Baekhyun
Jimin hanya menyuguhkan senyumannya kepada Baekhyun, "terima kasih, Baekhyun ssi."
Jimin memandangi wajah Baekhyun dan dia menyadari sesuatu, "Baekhyun ssi…."
"hmm?" jawab Baekhyun sambil mendorong kursi roda Jimin menuju ke apotek rumah sakit untuk menebus obat.
"kau terlihat mirip dengan seseorang yang kukenal." Jawab Jimin
"hmm? Seseorang yang kau kenal?" tanya Baekhyun
"hmm, dia orang yang tinggal denganku. Semoga suatu saat kau bisa bertemu dengannya." Jawab Jimin dengan senyuman. Memikirkan reaksi Taehyung saat bertemu dengan Baekhyun.
.
.
.
Kini Jimin berada di dalam mobil Baekhyun. Wajahnya menunjukkan bahwa dia kesakitan. Baekhyun yang melihatnya seakan-akan bisa merasakan sakitnya juga.
"apakah biusnya suda habis?" tanya Baekhyun. Tangannya segera terjulur ke belakang dimana dia meletakkan obat pereda nyeri.
"ini minumlah. Di sebelahmu ada air putih. Tenang saja itu masih baru." Suruh Baekhyun sambil menyerahkan obat itu.
"terima kasih, Baekhyun ssi." Kata Jimin.
"kau masih menyempatkan diri berkata terima kasih di saat kau kesakitan?" tanya Baekhyun terkagum
'anak ini benar-benar sopan.' Pikir Baekhyun
"dimana rumahmu?" tanya Baekhyun
"di dekat sini." Jawab Jimin
"di dekat sini itu di mana?" tanya Baekhyun lagi
"hmm… sebenarnya aku tidak tau alamat rumahku." Jawab Jimin dengan polos.
"apa?!" Baekhyun mengerem mobilnya dengan mendadak mendengar jawaban Jimin.
"bagaimana bisa kau tidak tau di mana rumahmu tapi kau berani keluar bersepeda? Kalau kau tidak bisa kembali bagaimana?!" tanya Baekhyun
"sebenarnya, tujuanku bersepeda itu supaya aku bisa mengenal daerah rumahku." Jawab Jimin masih dengan polosnya
Baekhyun tidak habis pikir. Bagaimana bisa anak ini dengan polosnya menjawab pertanyaan Baekhyun tanpa ada rasa bersalah? Atau setidaknya khawatir?
"ah sudahlah. Aku tidak peduli lagi." Kata Baekhyun membuat Jimin segera menolehkan wajahnya ke Baekhyun
"apa kau akan menelantarkan aku di sini, Baekhyun ssi?" tanya Jimin khawatir dan tanpa sadar mengeluarkan aegyonya
Baekhyun yang melihat Jimin menjadi semakin stress karena tidak tega menurunkan anak orang yang manis di pinggir jalan. Apalagi anak orang ini sedang terluka.
"aku tidak sekejam itu. Kau! Kau akan ikut aku ke tempat kerja." Tunjuk Baekhyun tepat di hidung Jimin
"kau tau betapa susahnya meminta izin ke bosku untuk datang terlambat dan dia dengan kejamnya memberikan waktu maksimal 2 jam dari waktu yang ditentukan. Dan kau dengan santainya mengatakan tidak tau alamat rumahmu!" Baekhyun jadi purik sendiri.
"maafkan aku, Baekhyun ssi." Kata Jimin merasa bersalah. Jimin menundukkan kepalanya dan memainkan kuku-kuku jarinya membuat Baekhyun gemas.
"sudahlah, percuma meminta maaf." Kata Baekhyun.
Setelah Baekhyun mengatakan itu, terjadi keheningan selama perjalanan. Tidak ada yang membuka suara sebelum handphone Baekhyun bergetar.
"Jimin ssi, bisa kau lihat siapa yang menelponku?" pinta Baekhyun
"ah, ne." jawab Jimin dan melihat nama sang penelpon. Dahinya mengerut saat melihat nama Kim Namjoon di sana.
"Namjoonie hyung?" beo Jimin
"kau mengenalnya? Bisa kau angkat telponnya dan aktifkan loudspeakernya?" pinta Baekhyun lagi dan Jimin mengangguk.
'hei, Baekhyun!'
"ah, Namjoon. Maafkan aku, sebentar lagi aku sampai."
'kau masih ada waktu 15 menit sebelum gajimu terpotong.'
"ya ya, kau tau sendiri aku menabrak orang dan aku harus bertanggung jawab karena orang yang kutabrak terluka"
"Namjoonie hyung? Ini Jimin." sahut Jimin tiba-tiba membuat Baekhyun mendelik
'Ji-Jimin? Jiminie? Itu benar kau?' tanya Namjoon
"ya, ini aku, hyung. Hehehehe…" jawab Jimin
'tunggu. Hei! Baekhyun! Apa orang yang kau tabrak adalah Jimin?' tanya Namjoon
"ah ah, ne. tidak sepenuhnya kutabrak sih-"
'kau berhutang penjelasan padaku, Baekhyun.'
-pip-
Baekhyun hanya membuka mulutnya tidak percaya bahwa hidupnya akan terancam.
"Jimin ssi, apapun yang terjadi nanti. Kumohon, bantu aku." Pinta Baekhyun dengan memelas
Jimin hanya tertawa melihatnya dan menganggukan kepalanya tanda mengerti.
-YO JMIN-
"Byun Baekhyun…." Panggil Namjoon saat Baekhyun menghadap ke Namjoon
"n-ne" jawab Baekhyun pelan
"bisa kau jelaskan apa yang terjadi? Kenapa istriku harus memiliki luka sebesar itu, hm?" tanya Namjoon langsung.
"ma-maafkan aku, Namjoon-ah." Baekhyun yang bingung akan menjelaskan apa tanpa sadar telah meminta maaf kepada Namjoon. Padahal kalau diingat-ingat, ini adalah kesalahan Jimin sendiri karena tidak memperhatikan jalan.
"Namjoonie hyung, biar Jimin yang menjelaskan. Kelihatannya Baekhyun ssi terlalu takut untuk menjawab." Kata Jimin.
Dalam hati, Bakehyun sudah berterima kasih sebanyak mungkin karena Jimin telah menyelamatkannya.
"jadi, ini semua berawal dari aku yang lebih memperhatikan kucing dari pada jalan." Jawab Jimin dengan singkat. Kalau saja Baekhyun menjawabnya seperti itu, riwayat kehidupannya akan berhenti saat ini juga.
"benarkah? Kau jadi meminjam sepeda?" tanya Namjoon
"hmm…. Hyung tidak percaya padaku?" tanya Jimin sambil mempoutkan bibirnya.
"ah ah, tentu saja aku percaya padamu. Mana mungkin kau berbohong." Jawab Namjoon
"Baekhyun, cepat pergi ke ruanganmu. Pacarmu sudah menunggumu dari 15 menit yang lalu." Kata Namjoon kepada Baekhyun. Park Chanyeol adalah pacar dari Byun Baekhyun ini. Bilang saja Chanyeol itu teman akrab Namjoon.
"mau kuantar pulang?" tanya Namjoon kepada Jimin
"ah, ani. Hyung tetap bekerja saja. Biar aku pulang naik taxi." Jawab Jimin
Namjoon yang melihat Jimin berdiri dengan susah payah langsung saja menggendong Jimin dan membawanya ke parkiran dimana dia memarkirkan mobilnya.
"jangan mengatakan kau akan pulang sendiri kalau hanya untuk berdiri saja kau tidak bisa." Kata Namjoon kepada Jimin membuat Jimin mengerucutkan bibirnya untuk yang kedua kalinya di hadapan Namjoon.
Namjoon yang melihat bibir Jimin yang mengerucut segera mengecup bibir Jimin dengan cepat.
'CUP'
"hentikan, Jimin atau aku akan menciummu lebih lama di tempat ini." Kata Namjoon membuat Jimin menyembunyikan bibirnya.
.
.
.
"aku akan menyuruh salah satu dari mereka pulang lebih awal." Kata Namjoon pada saat mereka sudah ada di dalam mobil
"eh, tidak perlu. Mereka semua sedang sibuk." Jawab Jimin
"lalu siapa yang akan menjagamu hmm?" tanya Namjoon gemas.
'kapan Jiminnya ini bisa lebih egois? Dia terlalu mementingkan orang lain.' Pikir Namjoon
"ada Ricky di rumah kan? Hyung bisa memintanya untuk mejagaku." Jawab Jimin
"Ricky? Hmm, bisa juga. Tapi-"
"hyung~ kau percaya padaku kan?" tanya Jimin sambil mengedipkan mata dan Namjoon mengangguk.
"jadi, biarkan mereka bekerja dan aku menjaga diriku sampai kalian pulang," kata Jimin melanjutkan
Namjoon menghembuskan nafas menyerah. Jika Jimin sudah meminta, dia bisa apa selain mengabulkannya.
"baiklah, Ricky akan kuberi tau. Berjanjilah kau akan menjaga diri dengan baik. Promise me?" tanya Namjoon
"ne, I promise." Jawab Jimin.
YO_JMIN
"Ricky, kau jaga Jimin baik-baik. Jangan sampai aku pulang dan melihat lukanya bertambah." Perintah Namjoon kepada Ricky saat dia dengan selamat mengantar Jimin pulang.
"ne, saya mengerti." Jawab Ricky.
"baiklah, aku tinggal dulu. Jimin, ingat janjimu." Kata Namjoon kepada Jimin yang duduk di kursi roda
"ne, hyungie~" jawab Jimin. Namjoon memberikan kecupan terakhir di kening Jimin sebelum akhirnya meninggalkan rumahnya untuk kembali bekerja.
"mari, tuan. Saya antarkan ke kamar anda." Kata Ricky
"panggil saja aku Jimin. kau terlihat lebih tua dariku." Kata Jimin.
Jujur saja, dia tidak pernah merasa nyaman dengan keformalan di tempat ini.
"ta-tap-"
"juseyoo~~" Jimin menolehkan kepalanya dan menatap tepat ke mata Ricky membuat Ricky mau tidak mau menganggukkan kepalanya.
'KRIIING KRRING'
Saat Jimin akan dituntun menaiki tangga telepon rumah berbunyi, "ah, tunggu tunggu."
Dengan di tuntun oleh Ricky, Jimin berhasil mengangkat teleponnya, "yeoboseyo."
'yeoboseyo, Jimin.'
"Hoseok hyung?"
'kau baik-baik saja? Bagaimana dengan kakimu? Apa masih sakit? Apa kau benar-benar bisa sendirian di rumah? Kau mau aku pulang sekarang?'
"bertanyalah satu-satu, hyungie. Pertama, sekarang aku baik-baik saja. Kedua, kakiku perlu dijahit. Ketiga, aku sudah meminum obat pereda nyeri jadi sekarang aku tidak kesakitan. Keempat, ada Ricky yang menjagaku. Dan yang terakhir, hyung tidak perlu pulang lebih awal. Aku tau kau sangat sibuk, hyung."
'sungguh?'
"sungguh. Ya kan, Ricky?"
"ah, ne ne." jawab Ricky dengan spontan.
"kau mendengarnya, hyung? Aku baik-baik saja dan ada Ricky di sini yang menjagaku."
'baiklah. Segera telpon aku jika kau menginginkan sesuatu.'
"ya~ oh ya, jangan lupa makan bekalnya. Kalian tidak boleh sakit, arraseo?"
'ne ne, arrayo.'
"baiklah, pai pai, hyungie."
'bye, Jiminie.'
Dan sambungan terputus
Jimin mekanjutkan perjalanannya menuju ke kamar, "baru kali ini aku merasa untuk berjalan ke kamar segini susahnya."
Ricky yang mendengar itu tertawa sehingga membuat Jimin juga ikut tertawa, "tidak ada yang lucu, Rick hyung~~"
"anda sangat lucu. Tidak heran tuan-tuan di sini sangat menyayangi anda." Kata Ricky membuat Jimin mengembangkan senyumnya.
"aku tau… tapi apa yang bisa kuberikan pada mereka? Mereka terlalu baik." Kata Jimin tiba-tiba
"anda tidak tau betapa suramnya rumah ini saat anda tidak ada. Saat anda hadir, rumah ini terlihat jauh lebih hidup. Itu tandanya, kehadiran anda sendiri merupakan hadiah terbaik bagi mereka." Jawab Ricky
"woah~ Rick hyung~~~~~ kau so sweet sekali. Pasanganmu pasti sangan senang memiliki orang-orang sepertimu di samping mereka." Kata Jimin dengan kagum
"dan orang pasti juga akan sangat bahagia jika mereka mengenal orang seperti anda." Ricky membalas perkataan Jimin dengan pujian membuat Jimin jadi merona.
.
"baiklah, silahkan beristirahat, Jimin." Ricky membungkukkan badannya sebelum meninggalkan ruangan.
"terima kasih, hyung." Jawab Jimin sedikit berteriak.
"ah~ nyamannya." Jimin menghela nafas lelah.
"lebih baik aku tidur saja." Gumam Jimin. Karena dasarnya Jimin sudah lelah, jadi tidak perlu waktu lama untuk Jimin terlelap dalam tidurnya.
YO_JMIN
'Chaeryong~~'
'hobie hobie… kkkkkkk'
'kau dimana?'
'cari aku, hobie hyung!'
'ketemu… kalau ingin bersembunyi. Lebih baik tetaplah diam.'
'ei, hyungie~~'
'ya! Jangan lari.'
'ani… tangkap aku.'
'jangan ke sana, Chaeryong!'
'wae?!'
'jangan! Ya! Awas!'
'mw- akh!'
'Chaeryong ah!'
'andwae! Ireona, Chaeryong ah!'
'hyungie…'
'Ch-chaeryong… kau- kau kenapa? Ya! Ya!'
'Jung Hoseok! Awas!'
BRAKK
'akh-'
.
.
"Jimin… JIMIN!"
"Andwae!" teriak Jimin saat sebuah ingatan menyerangnya.
"Ho-hoseok hyung?" Jimin memanggil nama Hoseok
"Wae? Wae? Aku di sini. Gwaenchana?" tanya Hoseok
"Hyu-hyung… hyung.." Jimin memeluk Hoseok saat itu juga. Hoseok yang kebingungan hanya menyimpan pertanyaannya dan memutuskan untuk menanyakannya setelah Jimin selesai menangis.
"Apa yang membuatmu menangis, eoh?" tanya Hoseok
"Hyung…" Jimin mengeratkan pelukannya. Tangan Hoseok membelai rambut Jimin dengan lembut. Dia masih bisa merasakan detak jantung Jimin yang cepat.
"Tenaglah, lalu ceritakan padaku apa yang terjadi." Kata Hoseok sambil tetap mengelus punggung Jimin
Jimin menarik nafas dalam-dalam lalu mengeluarkannya perlahan. Dia menatap mata Hoseok dengan serius.
"hyung, apa aku di kehidupanmu…. Bernama Chaeryong?" tanya Jimin dengan pelan
Hoseok menatap Jimin dengan kaget, "ka- bagaimana bisa?"
"apakah kau… meninggal karena aku pergi ke gua itu?" tanya Jimin hampir meneteskan air mata.
"Jimin, dengarkan aku. Jika memang aku meninggal dan itu semua hanya untuk bertemu dengan dirimu yang asli… aku tidak masalah untuk mati berulang kali." Jawab Hoseok
"tapi kau kesakitan, hyung. Jika saja aku tidak pergi ke sana. Jika saja aku mendengarkan ucapanmu. Kau tidak akan berada di sini. Kau akan bahagia di sana." Kata Jimin dengan kalut
"Park Jimin! Jika memang aku akan bahagia bersamamu di sana…. Tuhan tidak akan mengirimku ke sini. Ani- Tuhan tidak akan mengirim kami SEMUA ke sini… hanya untuk bertemu denganmu. Kau paham?" jelas Hoseok
"lihat aku, Jiminie. Lihat mataku. Apa aku terlihat kesakitan sekarang? Tidak kan? Aku bahagia denganmu sekarang, Jimin. Bahkan detak jantungku berkali-kali lipat lebih cepat dari pada dulu." sambung Hoseok
Hoseok memeluk Jimin dengan erat, "jadi kumohon… jangan menyalahkan dirimu. Kami mencintaimu, Jimin. Sangat."
"hyung…" Jimin balas memeluk Hoseok. Ia letakkan kepalanya di dada Hoseok dan senyumnya mengembang saat ia bisa mendengar detak jantung Hoseok.
"kau tau, Jimin. Setidaknya, aku lega. Kau mengingat bahwa kau adalah istriku." Kata Hoseok tiba-tiba membuat Jimin merona
"aku memang istrimu, hyung. Dan istri Namjoonie hyung, Jin hyung, Yoongi hyung, Taetae, dan Jungkookie juga." Jawab Jimin
"siapa lagi yang kau ingat, Jimin?" tanya Hoseok
"Taetae." Jawab Jimin dengan pelan
"Jiminie? Kau masih mengantuk?" tanya Hoseok
Jimin mengangguk mengiyakan, "tidurlah."
Hoseok sudah membaringkan Jimin dan akan beranjak pergi. Sesuatu menahan lengan kemejanya.
"jangan pergi, hyung. Temani aku…" bisik Jimin pelan
"kau ingin aku temani?" tanya Hoseok dan Jimin mengangguk lagi.
"peluk…" Jimin merentangkan kedua tangannya dan Hoseok dengan suka rela memeluk istrinya yang tiba-tiba manja (sebelumnya dia sudah membuka 3 kancing teratas kemejanya).
Mereka berdua berpelukkan. Saling mengeratkan dan Hoseok tidak lupa untuk memberikan ruang bagi Jimin mengingat jahitan di kakinya yang masih basah.
Tangan Hoseok mengelus punggung Jimin dengan pelan. Seakan-akan, Hoseok telah meninabobokkan seorang bayi. Mata Jimin perlahan-lahan menutup.
Hoseok tersenyum melihat Jimin yang kini telah tertidur. Dengan perlahan dia mendekatkan wajahnya ke wajah Jimin dan mencium bibirnya dengan lembut dan pelan.
"engg~" Jimin melenguh dalam tidurnya dan entah kenapa membuat Hoseok semakin melebarkan senyumnya.
Perlahan tapi pasti, Hoseok mulai menutup matanya. Dia juga lelah karena harus mengerjakan pekerjaannya dengan lebih cepat. Dia berpikir untuk menyelesaikan semua pekerjaannya selama 2 hari lalu mengambil cuti untuk menemani Jiminnya.
Deru nafas terdengar saling bersahutan dengan harmoni yang indah. Menandakan sang pemilik nafas telah tertidur. Membiarkan dunia mereka untuk menjadi gelap sementara.
.
.
.
"aku pulang!" teriak Taehyung. Dia bingung karena tidak ada jawaban dari Jimin.
"jika tuan mencari Tuan Jimin, dia sedang ada di kamarnya." Kata Ricky tiba-tiba mengagetkan Taehyung
"ai! Ey! Bilang kalau mau bicara. Kau mengagetkanku, kau tau?" kata Taehyung kaget
"saya meminta ijin atau tidak, anda juga akan sama kagetnya. Benar begitu, Tuan Namjoon?" tanya Ricky pada Namjoon yang baru saja sampai di depan pintu.
"eh?" Namjoon tidak paham dan Ricky tersenyum. Namjoon tambah tidak paham
Ricky meninggalkan kedua tuannya untuk kembali ke posnya, "oh iya, Tuan Hoseok ada di kamar bersama Jimin."
Ricky segera meninggalkan Namjoon dan Taehyung di depan pintu.
Namjoon segera menangkap sesuatu yang aneh. Ricky tadi bilang Jimin kan? bukan 'Tuan'? Atau pakai embel-embel 'ssi'?
"ya! RICKY!" teriak Namjoon dan Ricky segera berlari dan mengunci pintu posnya.
"ah! Ya! Kau mengagetkanku!" teriak Taehyung tepat di wajah Namjoon. Dia sudah kaget dengan sangat elegan sebanyak 2 kali hari ini. Di saat yang hampir bersamaan dan di tempat yang sama.
"ya, kau itu detektif. Kau tidak peka? Barusan si Ricky memanggil Jimin kita dengan Jimin!." jelas Namjoon
"bukannya itu memang namanya Jimin?" tanya Taehyung tidak paham. Oh, Namjoon ingin mencakar beruang.
"dia tidak menggunakan embel-embel apapun, Kim Taehyung. Itu tandanya, mereka sudah bukan lagi atasan dan bawahan! Mereka sudah lebih dekat dari itu, bodoh!" teriak Namjoon
"o- HAH?!" Taehyung baru sadar (lemot tenan to mas…)
"ya! RICKY!" Taehyung berlalri menuju ke pos milik Ricky dan Namjoon hanya bisa menggaruk tembok karena kelemotan seorang Taehyung. Apa otaknya hanya bisa dipakai di kantor?
Meskipun begitu, mari kita semua berdoa untuk keselamatan Ricky yang dengan cerobohnya memanggil nama Jimin dengan sangat kasual.
.
.
.
.
TBC/END
