Disclaimer : Naruto punya Masashi Kishimoto

Rated : T

Genre : Horror, Romance

Warning! : AU, OOC, typo, gaje, dll.

Based on a horror movie, Posession.

Not really similar :)

Happy Reading!

.

Naruto dan Sai tengah bercengkarama dengan santai sambil berjalan melewati koridor rumah sakit yang tidak terlalu ramai. Sekali-sekali onyx milik Sai melirik ke sebuah bekal berwarna merah salmon yang ia bawa. Namun, percakapan mereka terpaksa terhenti akibat teriakan cempreng yang mereka kenal.

"Naruto-nii! Sai-san!"

Sai dan Naruto serentak tertegun. Lalu, menatap heran raut wajah gadis kuning itu.

"Ada apa Naruko?" tanya Naruto dengan tenang. Meskipun begitu, dalam hatinya ia kembali merasakan sesuatu yang tidak mengenakkan. Tak hanya Naruto, Sai merasakan hal yang sama.

"Ino-nee–" Naruko menjeda sejenak perkataannya, jari telunjukknya sibuk menunjuk kearah belakangnya.

Sai melirikkan pandangannya menuju arah yang ditujukan Naruko. "Katakan yang jelas Naruko," ucap Sai.

"Ino-nee... Ino-nee tidak ada di kamarnya!" teriak Naruko.

Mendengar itu Naruto dan Sai bergegas menuju ruang rawat inap Ino, diikuti Naruko di belakangnya. Dengan suara langkah seribu mereka yang menggema di sepanjang koridor, membuat mereka tak memperdulikan tatapan heran dari setiap pasien yang mereka lewati.

TAP!

BRAK!

Dan kini, 2 pasang blue ocean dan onyx itu hanya bisa menatap ruangan ini dengan tatapan tak percaya. Mereka terdiam sejenak tak bergerak, mencoba merasakan kebenaran situasi ini.

"Cari dia sekarang!" komando Sai.

Naruto, Naruko, dan dirinya mencari gadis pirang itu di setiap sudut ruangan yang tidak terlalu luas itu. Meskipun sudah berjam-jam mereka mencari, beribu-ribu peluh yang menetes, usaha mereka sia-sia juga.

"Ino! Keluarlah! Jangan bercanda!" Sai teriak tertahan. Dirinya lelah. Ia sejenak mendudukkan dirinya di pinggir kasur pasien itu. Menatap lesu Naruto dan Naruto yang sudah tertidur pulas akibat energi mereka yang terkuras.

"Gomen ne, karena aku tak becus memegang kepercayaanmu semuanya menjadi seperti ini," ucap Sai pelan.

Sai menurunkan dirinya dari pinggiran kasur pasien itu. Dengan langkah gontai ia memasuki kamar mandi yang tersedia di kamar itu. Ia membuka keran wastafel lalu mencuci wajahnya. Namun, ketika ia bercermin, sesuatu yang aneh terjadi.

Tiba-tiba titik-titik cairan berwarna violet itu muncul di permukaan cermin. Lalu, berkumpul menjadi sebuah huruf. Kemudian berkumpul lagi menggabungkan huruf-huruf itu menjadi sebuah kata. Akhirnya, membentuk menjadi sebuah kalimat.

Sai yang melihatnya sejenak terbengong heran. Ia tak mengerti apa yang terjadi. Lambat laun ia mulai menyadari, bahwa ini adalah sebuah petunjuk.

'Dango Area. Temukan diriku dalam kemerahan.'

Membaca pesan itu, lagi-lagi Sai memeras otaknya untuk berfikir. Ia semakin tak mengerti apa yang terjadi. Sibuk memikirkan makna pesan tersebut, tiba-tiba cairan itu menghilang. Seolah membiarkan Sai berusaha untuk menemukan solusinya.

'Dango Area. Temukan aku dalam kemerahan? Apa maksudnya?' batin Sai.

Sai segera keluar dari kamar mandi tersebut lalu berjalan mendekati Naruto yang tengah mengistirahatkan diri. Sai memanggil pelan Naruto, lalu mengguncangkan tubuh tegapnya. Membuat pemuda satu angkatannya ini terbangun juga dari alam mimpinya.

"Ada apa Sai?"

"Apakah ada sesuatu yang berwarna merah di Dango Area?"

Pertanyaan yang terlontar dari mulut pemuda klimis itu membuat Naruto menaikkan sebelah alis pirangnya. Merasa aneh dengan pertanyaan yang menyankut dengan daerah bazaar Dango itu.

"Aneh sekali pertanyaamu Sai! Mana ku tau," ujar Naruto seraya bangkit dari tidurnya.

"Memangnya kenapa? Tanya Naruto. Ia berjalan pelan mendekati kulkas mini yang berada di sudut kamar pasien itu. Mengeluarkan sebotol air mineral dingin lalu meneguknya.

"Aku baru saja mendapat pencerahan. And, I need your help," ucap Sai dengan senyuman andalannya.

.

.

.

Seorang pria berambut coklat panjang itu tengah duduk bersila diatas lantai marmer yang bersih mengkilap itu. Wajah dingin nan religiusnya itu memancarkan aura ketenangan. Manik seindah mutiara miliknya sibuk membaca sebuah buku tebal yang berisikan sebuah tulisan yang hanya bisa dibaca oleh orang-orang tertentu. Namun, ketenangannya itu tak berlangsung lama ketika suara ketukan pintu menginterupsi dirinya.

Ia melangkahkan kakinya pelan mendekati pintu itu. Saat di depan pintu, sejenak ia merapikan pakaian putih bersihnya, lalu membukakan pintu rumahnya itu.

"Apakah Anda yang bernama Hyuuga Neji?" Tanya seorang pemuda kepadanya.

Sang Pemilik Nama–Hyuuga Neji–mengangguk pelan.

"Ada yang bisa saya bantu?" Ia berjalan kembali menuju posisinya semula. Tangan kanannya menepuk pelan bantalan duduk yang berada di hadapannya.

Pemuda itu menuruti isyarat yang diberikan oleh pria bermarga Hyuuga ini. Ia terdiam sejenak, sampai akhirnya ia mengeluarkan suara baritone-nya.

"Saya ingin meminta bantuan Anda," ucapnya.

Pria berkucir satu itu diam. Tangan kanannya membuka lembaran demi lembarann buku kuno itu. Diam seakan mempersilahkan pemuda itu berbicara.

"Seorang gadis telah dirasuki oleh sebuah arwah yang begitu mengerikan. Tolong, bantu saya. Saya ingin dia sembuh," pinta pemuda itu.

"Sebelum itu, siapa nama Anda?" tanya Neji.

"Sai. Shimura Sai."

"Kenapa bisa terjadi hal seperti itu? Coba jelaskan dengan detail," kata Neji.

Akhirnya, Sai menjelaskan semuanya. Dari keganjilan yang terjadi pada Ino sampai masalahnya merumit seperti sekarang. Setelah menceritakan itu semua, Sai menatap Neji dengan tatapan putus asa karena Sang Penakluk Arwah memasang raut wajah terkaget.

"Baiklah, saya akan membantumu."

Mendengarkan itu, Sai tersenyum bahagia.

.

.

.

"Huh, dimana sih dia?!" keluh pemuda pirang ini. manik secerah lautan samudera itu sibuk meirik sana-sini seakan mencari sesuatu. Sesekali ia melemparkan lirikannya kearah kaca spion di atasnya. Melihat keadaan Sang Adik yang tengah risau dan khawatir sama sepertinya.

DRRT…

DRRT…

DRRT…

Kedua tangan kekarnya yang sibuk memutar-mutar stir mobil itu terhenti, tentu saja ia sudah memarkirkan mobilnya di pinggir jalan. Lalu meraih ponselnya yang ia buat dalam model getar. Sejenak ia melihat siapa memanggilnya. Mengetahui caller yang ia kenal itu, ia langsung menekan tombol hijau yang ada di layar ponselnya.

"Moshi-moshi?" sapanya.

"Naruto! Apa kalian sudah menemukannya?" tanya seseorang di seberang sana.

"Belum, Sai. Apa kau sudah menemui Sang Penakluk Arwah yang pernah kau ceritakan itu, hm?"

"Tentu saja. Tunggu aku disana! Akan kita cari bersama-sama, Naruto!" perintah Sai.

Naruto bergumam pelan, lalu memutuskan sambungan teleponnya dengan Sai. Tangan kirinya membesarkan volume radio yang menyala di mobilnya.

Sambil menunggu, Naruto menyanyikan sebuah lagu yang terputar di radio tersebut. Sekali-sekali ia menggerakkan kepalanya, hingga akhirnya gerakannya terhenti ketika iris blue sapphire itu menangkap sesuatu yang membuatnya teringat akan sesuatu.

Sebuah rumah kosong dan tampak angker bercat dinding warna merah.

Kepala kuning itu sejenak memperkerjakan otaknya. Mengingat sesuatu yang begitu penting baginya, adiknya, dan temannya.

"Apakah ada sesuatu yang berwarna merah di Dango Area?"

Bingo!

Menyadari itu, ia segera meraih ponselnya dan menekan beberapa tombol nomor. Lalu, menekan yombol hijau dan menunggu tanda-tanda panggilannya diangkat oleh Sai.

"Moshi-moshi. Ada apa Naruto?"

"Sai! Sepertinya aku tahu dimana tempatnya!" jawab Naruto dengan suara sedikit besar. Mengagetkan Naruko yang tengah melamun memandangi sesuatu di luar jendela mobil.

"Benarkah? Baiklah, aku dan Neji-san akan sampai disana." Setelah itu, telepon mereka terputus. Naruto mematikan mesin mobilnya lalu keluar dari mobilnya. Mengerti akan gerakan Sang Kakak, Naruko pun melakukan hal yang sama.

.

.

.

Pemuda berambut hitam klimis itu mengendarai mobilnya dalam diam. Sama seperti dirinya, pria berambut coklat panjang yang di kucir satu itu sibuk membaca buku yang ia baca tadi. Sesekali ia menggumamkan kata-kata yang aneh bagi Sai.

"Apa yang Anda ucapkan, Neji-san?" tanya Sai.

"Saya sedang membaca mantra untuk mengetahui identitas Sang Arwah," ucapnya, lalu memejamkan sejenak kedua matanya.

Suasana sejenak hening. Hanya ditemani suara mesin mobil yang bekerja dan gumaman tak jelas yang keluar dari mulut Neji.

"Sai," panggilnya.

Sang pemilik nama sekilas menoleh kearah Si Pemanggil, lalu memfokuskan pandangannya lagi kearah jalan yang terbentang di depannya.

"Sepertinya, ini akan susah disembuhkan."

Sai mendengar itu membelalakkan matanya. Dalam hatinya ia berharap semuanya akan baik-baik saja.

.

.

.

"Huh, lama sekali mereka," keluhnya. Sekali-sekali manik biru muda itu melihat jarum jam yang terus berjalan di jam tangan berwarna senada dengan iris-nya. Lalu, gerakan tangannya berpindah mengacak-acak rambut yellow spikey-nya.

Sama seperti pemuda tadi, seorang gadis yang mirip dengannya tengah memainkan smartphone-nya dengan tatapan bosan. Sekali-sekali ia berdecak sebal. Berkali-kali ia menendang kerikil-kerikil kecil guna meminimalisir rasa bosannya. Namun, sayangnya itu tak berhasil.

TIN!

TIN!

TIN!

Suara klakson mobil menghancurkan keheningan yang tercipta diantara mereka. Langsung saja mereka mengalihkan pandangan ke mobil hitam yang ia mereka kenal itu. Tak lama, dua orang pria keluar dari mobil itu. Melihat itu, senyuman kebahagiaan terpatri di wajah coklat yellow spikey ini.

"Naruto! Kau sudah menemukan tempat berwarna merah itu?" tanya pemuda yang diketahui namanya Sai.

Naruto tak menjawabnya dengan verbal, dia hanya menaikkan dagunya dan menghadap ke sebuah rumah yang menjadi tujuan mereka berempat.

"Ayo kita masuk! Neji-san, Anda siap?" tanya Sai.

Neji mengangguk mantap, lalu berjalan mengikuti Sai, Naruto, dan Naruko yang sudah mendahuluinya.

CLKEK!

CKIITT…

Perlahan pintu terbuka. Menunjukkan kegelapan disana. Ya, hanya seberkas cahaya matahari memasuki rumah ini, seberkas cahaya kecil. Melihat situasi dan aura yang dikeluarkan, Naruko tiba-tiba mengeratkan pegangannya pada lengan kakaknya. Sedangkan Sai, onyx itu tengah liar mengamati keadaan di sekitarnya.

'Ino, dimanakah kau?' batin Sai.

Neji, ia memusatkan pandangannya, lalu mengucapkan sebuah mantra untuk membuka indera keenamnya. Sibuk mengamati situasi, tiba-tiba langkahnya mendadak berhenti.

Sai yang menyadari pergerakan itu ikut terhenti. "Ada apa, Neji-san?"

"Aku merasakan sesuatu," lirihnya.

Naruto dan Naruko yang mendengarnya membalikkan badan mereka menghadap Si Penakluk Arwah itu. Kemudian, melirik sana-sini memastikan kebenaran apa yang diucapkan Neji.

"Apa itu?" tanya Naruto.

"Ikut aku!" perintah Neji.

Mereka pun langsung mengikuti Neji yang berjalan di depan mereka. Sekali-sekali mereka terhenti akibat memilih jalan yang salah. Ya, rumah itu besar dan berlorong banyak. Cukup membingungkan si pemilik indera keenam itu.

TAP!

"Saya merasakan sesuatu yang menunjukkan bahwa dia berada di dalam sana."

Neji menunjukkan sebuah pintu bercat merah kusam yang mulai mengelupas. Memang benar apa yang dikatakan Neji, sepertinya tiga manusia yang mengikutinya juga merasakan hal yang sama.

"Sepertinya, kita semua tidak bisa memasuki ruangan tersebut. Aku merasakan aura yang sangat negatif dari sana. Aku ingin, salah satu diantara kalian menemaniku memasuki ruangan itu. Yah, aku akan mengobatinya. Dan salah satu diantara kalian, haruslah bisa menetralkan emosinya nanti," kata Neji panjang lebar.

Sai, Naruto, dan Naruko saling berpandangan. Hingga akhirnya kakak beradik yang bagaikan saudara kembar itu memusatkan pandangan mereka kepada pemuda fake smile ini.

"Sepertinya, lebih baik kau dan Neji-san yang mengatasi ini. Karena, selama ini hanya kau yang tahu kronologi kejadiannya, dan juga dekat dengan Ino-chan. Kau siap?" tanya Naruto seraya tersenyum, diikuti oleh anggukan Naruko.

Sai terdiam sejenak, ia memikirkan resiko yang akan terjadi padanya sebelum memutuskan ia menerimanya atau tidak. Hingga akhirnya, raut wajah berpikir itu berubah mejadi penuh tekad dan keberanian.

"Baiklah. Aku siap memasuki ruangan itu."

Neji dan Sai perlahan melangkahkan kaki mereka mendekati pintu itu. Dengan agak gemetaran Sai menggenggam pegangan pintu itu. Dengan pelan ia membuka pintu itu.

KRIEETT…

Sai sejenak menatap Neji. Neji memberikan isyarat untuk memberitahukan pemuda ini memasuki ruangan itu terdahulu, ia akan menyusulnya nanti. Mengetahui itu, Sai mengangguk pelan lalu perlahan ia memasuki ruangan yang gelap itu.

Mengerikan dan mengenaskan. Itulah yang bisa Sai deskripsikan tentang tempat ini. Berkat bantuan senternya itu, ia melihat banyak bercak-bercak darah di lantai yang sudah mengering. Sebuah tempat tidur dan lemari yang berdebu dan menjadi rumah bagi serangga berjaring. Ya, Sai bisa menyimpulkan bahwa ini adalah sebuah kamar.

Sai terus melangkah, hingga akhirnya ia memijak sesuatu yang tidak ia ketahui. Sai mengarahkan cahaya senternya menuju lantai yang ia pijak. Ia mendapati sebuah ikat rambut yang putus berwarna ungu pucat yang ia kenali.

Ya, itu milik Ino. Calon gadisnya.

Sai segera mengedarkan senternya ke segala penjuru ruangan. Sepasang onyx itu liar mencari gadis pirang yang membuat benih cinta di hatinya tumbuh. Hingga akhirnya gerakannya terhenti ketika ia melihat Ino sedang duduk terdiam di pojokan kamar.

"Ino?" lirih Sai.

Yang dipanggil hanya diam. Sai perlahan mendekati Ino. Pemuda ini diam-diam menatap Ino prihatin. Ya, baju rumah sakitnya kotor, berlumuran darah. Rambut pirangnya yang tergerai telah terkontaminasi dengan beberapa bercak darah. Sayang, ia tak bisa melihat wajah cantik gadis itu. Tertutup oleh poninya yang panjang.

"I-Ino?" Sai memanggilnya lagi. Berharap gadis itu mengenalinya. Meskipun ia tahu kini sepenuhnya raga dan jiwanya dikuasai arwah.

"Fufufu…" akhirnya, sebuah suara keluar dari bibir mungil Ino.

Sontak ia mengadahkan kepalanya yang sempat tertunduk. Tidak ada lagi manik secerah aquamarine, kini telah berganti dengan hitam segelap auranya. Bibirnya membentur seringaian yang mampu membuat bulu kuduk berdiri tegak. Namun, tidak untuk Sai.

Ya, pemuda itu tidak takut akan arwah yang menggerogoti jiwa dan raga Ino. Ia tak takut dengan tatapan dingin nan tajam yang terpancar dari iris yang sewarna dengannya. Yang ia inginkan, the real Ino-nya kembali.

"Ahya, kau bukanlah Ino," ucap Sai dingin. Evil smirk yang tercetak diwajah Barbie Ino semakin melebar.

"Cukup sudah, aku ingin kau pergi, Mishima-san."

Sai menatap 'Ino' tak kalah tajam. Tangan kanannya yang memegang senter itu menguatkan pegangannya. Berusaha melampiaskan emosinya.

Suasana sempat hening. Namun, keheningan itu sempat terpecahkan akibat suara yang 'Ino' timbulkan. Ia bangkit dari duduknya, melangkah mendekati Sai. Suara gesekan yang ditimbulkan antara baju rumah sakitnya dengan lantai itu menambah aura menakutkan yang terpancar dari 'Ino'.

"Akhirnya, kau mengenali 'diriku' juga," ucapnya dengan suara berat khas makhluk gaib. Dirinya memberhentikan langkahnya tepat satu meter di depan Sai.

"Aku tidak membutuhkan basa-basi. Aku ingin kau keluar dari tubuhnya sekarang! Kau sudah membuatnya menderita!" bentak Sai.

"Cih, dasar. Aku sudah nyaman dengan tubuh ini. Tubuh dengan hati penyayang. Kau tidak bisa merasakan apa yang kurasakan. Tubuh ini, membantuku membangun mentalku kembali," katanya. Perkataannya, mampu membuat pemuda berkulit pucat ini lagi-lagi mengepalkan tangannya dengan penuh emosi.

"Apakah aku harus melakukannya dengan cara paksa, hn?" Sai menyeringai tipis.

Sai melangkah maju mendekati tubuh yang berbeda jiwa. Membuat jarak mereka semakin menipis. Namun, belum lagi ia melancarkan aksinya, sekilas ia melihat perempuan dihadapannya kini mendorongnya hingga terjatuh diatas lantai.

"Arghh!"

Sai membuka matanya yang sejenak terpejam. Alangkah terkejutnya dia, arwah itu mencekiknya dan menampar-nampar pipinya hingga setetes darah mengalir dari sudut bibirnya. Sai memberontak dengan mendorong kuat kedua bahu milik Ino. Namun, sekarang kekuatannya kalah dengan kekuatan arwah itu.

"Hen-hentikan…" lirih Sai.

"Kau, hanya bisa menghalangiku untuk mendapatkan tubuh ini. Sudah kubilang aku nyaman dengan tubuh ini!" bentaknya.

BRUK!

Kini, Sai berhasil melepaskan dirinya dari ancaman membahayakan yang terjadi. Dengan nafas yang terengah-engah itu, ia bangkit dari lantai. Lalu, menatap tajam Si Arwah, sambil mengambil oksigen semampu dirinya. Guna menetralkan pernafasannya yang terganggu tadi.

"Kau pasti ingin hidup kembali dengan, hah, tubuhnya kan?!" bentak Sai lagi. Sementara lawan berbicaranya telah tercetak evil smirk diwajah pucatnya.

"Akhirnya, kau menemukan maksudku yang terselubungi." Kekehan pelan keluar dari mulutnya itu.

GREP!

"Argghh!"

"Maafkan aku Ino, aku telah menyakiti tubuhmu. Ini adalah cara terbaik menurutku untuk membebaskanmu. Keluarlah, Mishima-san!"

Arwah itu semakin meronta dirinya dib alas cekik oleh Sai. Ia berusaha membebaskan dirinya, namun, entah kenapa kini Sai semakin kuat. Tidak seperti tadi.

"Kenapa harus dirinya?! Kenapa tidak aku?! Kau sudah menyakitinya dan aku tidak suka itu! SEKARANG ENYAHLAH!"

BRUK!

Ino telah tergeletak lemas di depan Sai.

Sai melihat pemandangan di depannya itu dengan perasaan campur aduk. Perasaan sedih dan senang bercampur di relung hatinya. Senang akan Ino yang mungkin sudah kembali dari tempatnya, dan sedih akibat ia menyakiti tubuh Sang Calon Gadisnya.

"Syukurlah, Ino–"

–BRUK!

Dirinya tergeletal lemas disebelah gadis pirang yang kumuh itu. Pandangannya seketika menggelap.

.

.

TOK TOK TOK

Pria ini sudah berkali-kali mengetuk pintu, namun tiada respon yang muncul. Manik lavender-nya sejenak menatap kakak beradik yang berada jauh darinya, terpancar tatapn kekhawatiran disana.

"Apa yang terjadi di dalam sana?" tanya pria itu–Neji.

Sedari tadi ia menunggu isyarat dari Sai untuk mempersilahkan dirinya masuk dan membantunya. Namun, isyarat itu tidak kunjung datang. Dirinya semakin khawatir saat ia mendengar raungan dan teriakan dari suara mereka berdua. Tetapi, kini dia mulai memeriksa keadaan setelah ia tak mendengar itu lagi.

KRIETT…

Betapa terkejutnya dirinya, kini yang ia lihat ada pemandanghan heroik disana. Ia melihat gadis pirang itu memeluk kliennya. Memeluknya dalam tangisan dan sesekali ia memanggil nama pemuda itu.

"Sai, hiks…"

"Apa yang terjadi?" tanya Neji. Ia meletakkan tas kulitnya di sampingnya.

"Sa-saya tidak tau, hiks. Seharusnya saya yang bertanya seperti itu kepada Anda, hiks."

"Ceritanya sangatlah panjang. Sekarang kita tinggal menunggu dirinya bangun dari pingsannya," ucap Neji.

Ino terus menangis dan memeluk Sai tiada henti. Juga tak capek sedikitpun untuk terus menyebut namanya. Dengan sabar ia menunggu kesadaran pemuda ini muncul. Akhirnya, kesabarannya berbuah manis.

Reaksi kecil timbul dari gerakan jarinya, matanya yang sedari tadi terpejam kini mengerjap. Berusaha menyesuaikan diri dari pandangannya. Ino yang mengetahui itu langsung memeluk Sai dengan erat.

"Sai!" pekik Ino.

"U-ugh~ Ino?"

Ino langsung memeluknya lagi. Namun, dirinya tak menyadari sesuatu telah terjadi…

.

.

.

BRUK!

Suara pintu di dobrak terdengar. Menampilkan sepasang kakak beradik yang mereka kenal. Mereka menatap bahagia pemandangan di depannya. Ya, kini, adik dan kakak mereka sudah bangun dari 'tidur'nya.

"Ino-nee!" teriak Naruko. Ia berlari mendekati Sang Kakak lalu memeluknya dengan erat. Disusul Naruto yang menatap Sai dengan tatapan heran.

'Ada apa dengan Sai?' Naruto membatin.

Sai melepaskan pelukan Ino dengan lembut. Perlahan ia menjauh dari mereka. Menjauh dengan jarak beberapa meter dari mereka.

Kini, Sai menyeringai lebar layaknya psikopat. Perlahan ia mengeluarkan sebilah pisau yang tersimpan dbalik jaketnya. Lalu menyembunyikannya dibalik jaket kuning yang ia kenakan. Perlahan ia mendekati mereka yang masih bersuka cita lalu–

–SYUUT!

GREP!

Sebilah pisau yang ia pegang melesat kearah Ino. Namun, sayang Ino diselamatkan oleh kakaknya dan adiknya, Naruto dan Naruko.

"SAI! Apa-apaan kau ini?!" bentak Naruto.

"Fufufu…" Hanya itu respon Sai.

Seringai itu mendatar, terganti dengan senyuman sinis dan tatapan mata yang tajam nan membunuh. Neji sejenak terdiam, namun ketika ia mendengar respon dari Sai, ia menyadari sesuatu. Dengan segera ia berlari mendekati Naruto lalu membisikkan sesuatu kepadanya.

Naruto seakan mengerti apa yang pria itu bisikkan, ia segera membawa Ino dan Naruko keluar dari rumah itu. Sai yang mengetahui gerakan mereka mencoba mengejar. Namun, sayang pintu itu sudah tertutup rapat dan dihalangi oleh Neji.

"Ini puncaknya. Kau harus kembali ke alammu!" Neji memejamkan matanya. Bibirnya menggumamkan mantra suci. Menggumamkannya dengan penuh konsentrasi dan khusyu, tak perduli kini 'Sai' sudah menyiapkan sebilah pisaunya untuk melukai pria religius ini.

Tetapi, 'Sai' tiba-tiba menghentikan langkahnya. Pisau yang ia pegang untuk ditancapkan di tubuh Neji kini sudah tergeletak dilantai. Seketika tubuhnya menggeliat di sertai dengan teriakannya yang penuh dengan siksaan.

Melihat reaksi dari mantranya itu, Neji langsung mengeluarkan sebuah kotak kayu berwarna hijau muda. Memejamkankan lagi matanya dan mengucapkan mantra lagi. Dengan penuh konsentrasi ia melawan arwah berbeda wujud yang ada di depannya.

SIINGGG…

Sebuah arwah melayang diatas tubuh Sai yang sudah tergeletak tak sadarkan diri. Arwah itu lagi-lagi tersenyum licik dan langsung menyerang Neji. Namun sayang, kini dirinya telah terperangkap dalam kotak kayu itu.

"Selesai sudah…" ucap Neji sembari menyeka peluhnya.

Neji memasukkan kotak kayu itu kedalam tas yang ia bawa tadi, lalu merangkul Sai. Membawanya keluar dari ruangan yang seram dan mengerikan itu.

"Sai!" Naruto menghampiri Neji diikuti Naruko dan Ino di belakangnya. Dengan sigap Naruto membantu Neji, mereka membaringkan Sai di sebuah sofa yang warnanya sudah mengkusam. Mereka mengerubungi Sai, menunggu pemuda itu kembali dalam sadarnya.

"Ugh~"

Pemuda ini sejenak mengerjapkan matanya, mencoba membiasakan pandangannya. Ketika ia hendak bangkit dari tidurnya, seseorang menghantamnya dengan sebuah pelukan hangat.

"Sai! Akhirnya kau sadar juga!" seru seorang gadis yang memeluknya. Seorang gadis yang ia kenal. Seorang gadis yang diam-diam ia taksir.

Sai sejenak diam terpaku dan membisu. Mencoba mempercayai keadaan ini kalau ini bukanlah mimpi. Tangannya kaku digerakkan untuk membalas pelukan Ino, hingga akhirnya ia membalas pelukan itu. Ia mengelus punggung gadis itu dengan lembut, disertai dengan senyuman tulusnya. Senyuman tulus pertamanya untuk Ino.

"Aku khawatir tahu, hiks…" isak Ino pelan.

"Sudahlah, aku tidak apa-apa, Ino-chan," kata Sai pelan.

"Hei, sejak kapan kau memanggil adikku dengan embel-embel itu, huh?" tanya Naruto dengan tatapan penuh selidik.

Ino melepas pelukannya, mengalihkan wajahnya guna menyembunyikan rona merah yang sudah muncul di kedua pipinya. Sedangkan Sai, seperti biasa ia hanya bisa fake smile.

"Arigatou, Neji-san. Ini bayaran untuk Anda." Naruto mengeluarkan beberapa lembar uang lalu memberikannya kepada pria itu.

"Ayo, kita keluar dari sini," ajak Naruko.

.

.

.

"Sai-kun! Tangkap ini!"

HUP!

"I got it, Ino-chan!" kata Sai sambil tertawa renyah, "Hei, Naruto!" Lalu melemparkan fresbee kearah Naruto yang sedang asik berjemur dibawah sinar matahari yang terik.

"Aww! Sai, sakit tahu!" gerutu Naruto kesal, lalu melempar asal fresbee berwarna biru cerah itu. Sedangkan Sai dan Ino hanya bisa tertawa melihat reaksinya.

"Capek nih! Mau berjalan-jalan?" ajak Sai. Ia mengulurkan tangannya kepada Ino. Langsung saja, Ino membalas uluran tangan pucat itu.

Deburan ombak menyambut mereka yang tengah berjalan santai di bibir pantai. Sekali-sekali mereka mempercikkan air laut itu satu sama lain, yang ujung-ujungnya menimbulkan gelak tawa. Tangan mereka sedari tadi berpegangan, saling menyatu, seakan tak bisa lepas.

"Sai-kun," panggil Ino.

Yang dipanggil menoleh kearah sumber suara. Sejenak ia menghentikan langkahnya. "Ada apa, Ino-chan?"

CUP!

Ino mendaratkan kecupan singkat di pipi pucat Sai. Kemudian kepala pirangnya tertunduk malu menyembunyikan rona merahnya. Sedangkan Sai, ia mengalihkan wajahnya. Menyembunyikan rona merah yang mulai menjalar di pipinya.

"A-ano, Ino-chan," panggil Sai. Ino mengadahkan kepalanya, menatap pemuda berkulit pucat itu.

"Aishiteiru, Ino-chan…" ucap Sai lirih. Ia terlalu gugup, memelankan suaranya berharap pemuda yang ia taksir itu tak mendengar isi hatinya.

"A-aishiteiru mou, Sai-kun."

Sai membelalakkan matanya, terkejut akan respon yang dimunculkan gadis pirang ini. Ia bisa melihat senyuman tulus nan hangat yang tercetak di wajah cantiknya. Di lengkapi dengan helaian-helaian pirangnya yang menari-nari terbawa angin. Lagi, Sai pun merona.

GREP!

"Arigatou, Ino-chan." Sai mendekap erat tubuh mungil di depannya. Mendekap penuh dengan kasih sayang dan cinta. Sejenak ia memejamkan matanya, merasakan rasa hangat itu lebih dalam lagi.

"Douita, Sai-kun," balas Ino seraya membalas pelukannya. Kepala pirangnya ia benamkan di dada bidang milik Sai.

Setelah agak lama mereka berpelukan, akhirnya mereka melepaskannya. Namun, jarak yang mereka buat bukalah semakin merenggang. Tetapi, semakin dekat, hingga mereka bisa mendengar deru nafas masing-masing.

CUP!

Bibir mereka akhirnya saling bertautan. Membagi rasa cinta yang begitu dalam. Deru ombak dan matahari terbenam kini menjadi saksi pernyataan cinta kedua insan ini.

The End

A/N:

HaiiI! *peluk readers satu-satu*

Lama tak berjumpa ya^^ Akhirnya fic ini selesai juga *yeah* Kepanjangan ya? Gomen, belakangan ini memang aku kalau ngetik fic ntah kenapa bisa sampai 3000-an.-. Ohya, disini romance-nya kerasa tak? Kalau nggak gomen lagi *ojigi*

Review?

.

Review Zone! :

Fujishuki Charlottie : Iyaa, nggak apa-apa *peluk Fuji-san* Arigatou atas pujiannya^^ Mungkin pertanyaanmu sudah terjawab di chap ini~ Arigatou for review^^

Chen : Ah, arigatou sudah menunggu fic saya yang abal ini :3 Ini sudah panjang dang omen nggak bisa update kilat *ojigi* Thanks for review!^^