Cinta Sejati Pangeran Iblis
Summary: Kagamine Len, seorang pangeran iblis yang mencari cinta sejatinya akibat dipaksa ortunya. Dan Kagene Rin, seorang manusia yang ingin memberantas iblis akibat sering membaca manga shounen. Keduanya bertemu akibat sama-sama otaku di toko buku. Dan butir-butir cinta tumbuh diantara mereka!
Disc: Cerita ini punya Shi! Tapi, charanya minjem (/030/)
Genre: Romance, Drama, Supranatural
Rated: Untuk saat ini T
Warning!: Alur kecepetan, OOT, OOC (mungkin?), typo(s), dll.
.
"Nee, gimana kita bisa keluar dari sini?" tanya Gumi.
"Gumi, tau gak kamu udah ngomong itu berapa kali?" tanya Rin kesal.
"Nggak."
"Udah ke-99 tahu! Sekali lagi aku kutuk kau jadi batu!" jawab Rin geregetan.
"Ja, jahat …," Gumi akhirnya menutup mulutnya pake lakban.
"Hm, ini udah jam delapan tapi kenapa mataharinya nggak terbit-terbit?" tanya Gumiya heran.
"Apa yang membuat mataharinya tertutup? Apa ada gerhana matahari? Tapi, gerhana matahari nggak mungkin sampe dua jam," kata Kaito.
"Apa mataharinya ketutupan sama Mars?" tanya Akaito.
"Itu aneh," timpal Luki.
"Aku lapar," kata Rin.
"A, aku juga," sahut Gumi.
"Kita belum sarapan dari tadi. Sebaiknya kita cari makan," kata Kaito. "Duh, mana portal nggak bisa digunain disini …."
"Hm, dihutan ini makanannya beracun gak ya?" tanya Akaito.
"Kuharap nggak," jawab Luki memperhatikan sekitar.
"Eh, itu ada jejak kaki orang!" seru Gumiya menunjuk tanah.
"Berarti, ada orang selain kita disini," kata Rin.
"Terus, Piko-san itu makhluk apa?" tanya Gumi.
"Dia mah sejenis curut atau tikus got versi androidnya," jawab Luki berniat ngelawak.
"Lucu lu! Lucu!" kata Akaito. "Gak ada waktu buat ngelucu! Mending kau pergi Everest, terus cariin kambing gunung buat dikambing gulingin!"
Luki pundung.
"Sudah sudah! Ayo kita ikuti jejak kaki ini!" kata Kaito.
Perasaan Rin tidak enak. Rasanya tidak mungkin ada orang lain dihutan ini. Tidak mungkin mereka keluar cottage dan menghadapi zombie. Tidak mungkin mereka—tunggu. Kata Len, dia pernah dikejar kanibal. Ja, jangan-jangan …!?
"AH! Itu mereka!" seru Akaito menunjuk sekumpulan orang yang sedang mengerubungi sesuatu. mereka berkulit hitam. "Hei!"
Orang-orang itu menengok. Mereka seperti suku indian. Tapi, dimulut mereka tampak darah dan segumpal daging. Dan yang sedang dikerubungi adalah seorang manusia dengan perut bolong.
"K-ka-kanibal!" jerit Rin. "Shion-san! Lari!"
Rin dkk langsung berlari menjauhi para kanibal. Para kanibal itu mengejar mereka. Dan kembali terjadi kejar-kejaran.
"LIKE A SHINOBI!" seru Rin berlari gaya shinobi.
"YEAH!" seru Luki mengikuti gaya Rin.
"WOI GAK ADA WAKTU UNTUK INI SEMUA!" seru Kaito kesal.
"Waks! Itu siapa itu?!" Gumiya menunjuk seseorang yang sedang jalan bertatih-tatih.
"Hah?! Mana-mana? Dimana?" Gumi malah nanya seperti seseorang yang suka bilang 'Bapak mana bapak? Wakwaw!' itu, sayangnya Author lupa siapa.
"Itu tuh! Yang lagi tidur dibawah pohon pisang!" tunjuk Gumiya.
Sayangnya, karena Akaito terlalu serius menghindari para kanibal menyebalkan itu, dia tersandung orang yang sedang tidur di bawah pohon pisang.
"Adududududuh!" seru Akaito.
"Itatatatatatatah!" seru orang itu langsung bangun.
"Eh, suara itu … Lentong!? Kenapa kau bisa ada disini?!" seru Kaito kaget.
"Emangnya aku nggak boleh tidur?" protes orang yang kita ketahui sebagai Len itu. "Eh, kalian kenapa ada disini?"
"Aku udah nanya duluan," kata Kaito kesel.
Bukannnya menjawab, Len malah tersenyum manis, membuat Rin dan Gumi deg-degan gitu.
"Congrats, ya! Kalian berhasil melewati halangan rintangan tendangan (?) pemandangan (?) disini, di Mugen Tsukuyomi (?) milikku," kata Len tertawa jahat.
"Mugen Tsukuyomi?" ulang yang lain heran.
"Iyap! Yang kayak di Naruto. Aku akan mengembalikan jiwa kalian," kata Len kemudian berkomat-kamit membaca mantra.
Dzing! Seketika, mereka semua menghilang dan kembali ke dunia nyata. Sementara Luki pindah entah kemana.
.
Rin and Gumi Side
Rin dan Gumi langsung terbangun diranjang mereka masing-masing. Lalu mereka mencubit pipi masing-masing pake tang yang Rin bawa entah untuk apa.
"E, eh, ini beneran kan? Kita nggak perlu ngeliat Teto-sensei megang piso didepan teras?" tanya Gumi.
"Yah, kita coba aja dulu," sahut Rin melangkah ke pintu depan dan membukanya.
Sinar matahari menerobos masuk. Membuat Rin kesilauan. Dia lalu menengok ke kanan dan ke kiri. Hampir semua pemilik cottage keluar dan tampak kebingungan.
"Woi! Rin! Gumi!" teriak Kaito yang sudah malas memanggil mereka dengan nama marga.
"Apaan?" tanya Rin.
"Len berubah jadi cewek!" jerit Kaito membuat Rin dan Gumi melotot.
"HAH?! Apa maksudmu, Kaito!?" seru Gumi. "Mana mungkin!"
"Beneran! Dadanya gede gila! Lebih gede dari pada punya kau, Rin!" sahut Akaito tiba-tiba nimbrung langsung dilempar sepatu bekas diinjek ta*i oleh Rin. Dia tersinggung.
Mana mungkin Len yang shota-shota itu berubah menjadi perempuan dada gede—lebih gede dariku!? Ini penghinaan! Len itu beneran cowok kan!? Batin Rin nangis kejer.
"Nih, orangnya," Gumiya menarik Len mendekati mereka.
Seorang perempuan manis, dengan rambut dikuncir dan baju kegedean, muncul.
"Aku beneran Len, lho!" kata perempuan itu ngotot. "Inget, BENERAN LEN. TITIK. GAK PAKE KOMA."
"Pffffttt!" mendadak, Rin dan Gumi menahan tawa mereka.
"Kenapa kalian tertawa? Menghina, ya?" Len menggerutu.
"Bukan! Bukan! Maaf! Ahahaha!" tawa Rin meledak. "Ah, wait. Jadi, yang kita alamin semalem itu apaan, Len?"
"Wait, wait. Kita jadinya manggil nama kecil masing-masing," potong Akaito.
"Bodo ah! Siapa peduli!" sahut Kaito.
"Oke. Jadi aku akan menjelaskan. Hm, Kaitong," Len mengangguk kepada Kaito. Kaito pun mengangguk juga.
Tiba-tiba mereka ada disebuah ruangan presentasi.
"Kenapa kita ada disini?" tanya Gumi bingung.
"Aku akan mulai menjelaskan. Aku adalah pangeran—eh, aku pangeran apa, Kai?" tanya Len menengok pada Kaito. "Karena authornya hiatus, jadi lupa skripsi nih."
"Hmm, bentar. Aku liat dulu di chapter pertama," kata Kaito membuka fanfiction-nya Shi. "Kamu itu pangeran iblis, Len."
"Ooh ya, baru ingat," kata Len.
"Daripada pangeran iblis, putri loli lebih cocok, kok," kata Akaito yang tanpa sadar sudah mimisan.
Len melempar mik yang sebenarnya sudah ia pegang dari tadi. "SIALAN! AKU COWOK TULEN!"
Akaito K.O. ditempat. Rin, Gumi, dan Gumiya hanya diam sepuluh ribu bahasa.
"Nah, bisa dilanjutkan," kata Kaito melempar mik baru pada Len.
"Jadi, sudah kubilang aku ini pangeran iblis. Aku punya misi untuk menemukan cinta sejatiku dibumi karena paksaan orangtuaku. Tapi karena bosan aku bermain-main disini. Terus aku main sama kalian deh," jawab Len.
"Eh, ada email dari Rinto-sama, Len," kata Kaito membuka email itu.
Subject : Ehehehehehehehehehehehehehehehhehehhehehehehheheh
From : Rintohetdahyahoodotcome
To : Kaitototototototngentutyahooudotecom
Kaito. Bilangin Len kalo dia lagi dikutuk olehku karena dia lama banget nemuin jodohnya. Dia juga belom baca komik yang kusuruh baca. Kutukannya akan hilang dalam beberapa hari. Okeh.
"..." mereka terdiam sejenak.
"TIDAAAKKKK!" jerit Len.
.
Beberapa hari kemudian...
Location: Rumahnya Rin
"Hei hei hei! Ayo kita main kartu!" kata Rin mengajak teman-temannya itu main kartu UNO.
"Boleh!" kata Len yang masih dalam bentuk perempuannya.
Mereka pun bermain UNO sampai sore. Rin menang 38 kali, Gumi menang 1 kali, Gumiya menang 27 kali, Kaito menang 10 kali, Len menang 50 kali.
"Aah, seru banget!" kata Kaito.
"Sudah sore nih. Pulang yuk," ajak Len menengok ke jam dinding.
"Oh benar juga," kata Rin. "Aku akan mengantar kalian."
Len memegang kenop pintunya. Dia merasa setruman listrik kecil menyetrum tangannya. Tapi dia merasa biasa-biasa saja.
Namun Kaito melihatnya.
"Sampai jumpa!" kata Gumi melambaikan tangannya pada Rin diluar rumah.
"Dah!" Rin juga melambaikan tangannya.
"Um... Len," Kaito menatap Len lekat-lekat.
Len menengok. "Hn?"
"Kau itu...," Kaito mendekatkan wajahnya ke wajah Len. Efek sinar matahari yang sudah oranye, membuat Len langsung memerah dan menampar Kaito keras-keras.
"BEGO! Ngapain lu!" serunya langsung menjaga jarak pada Kaito 10 meter.
"Eeh! Bukan begitu! Aku cuma mau berbisik doang! Beneran!" kata Kaito menenangkan Len. "Suer!"
Len tidak percaya. "Yaudah! Kalau mau ngomong, lewat telepon aja!" katanya. Dia masih trauma. Enak saja dicium! Rinto dan Lenka sudah hati-hati untuk menjaga first kiss-nya Len baik dari manusia, hewan maupun benda(?)! Hanya cinta sejatinya saja yang boleh, tahu!
"Dasar repot!" dengus Kaito beneran menelpon Len. "Sst! Len."
"Aiih, beneran ditelpon!" gumam Len mengangkat telepon Kaito. "Apaan?"
"Sepertinya... yang pas kau buka kenop pintu itu...," Kaito menjeda lanjutkan katanya.
"Oh, iya. Carikan informasinya, ya, Kaito," kata Len.
"Sip. Itu mah gampang," jawab Kaito.
Len menyeringai. "Memang sih, sudah cocok. Tinggal dia-nya aja," kata Len.
.
Chapter 7: END
.
JAAANGG!
AHAHAHAHA! *ketawa ala Sakamoto (Gintama)*
Finally, Aim kom bek wit dis fic. Wel, wel, wel. /ngomong apa sih lu!
Aku minta maaf beneran! Hiatus dari Agustus sampe sekarang! Soalnya males ngelanjutin, dan lain lain!
Dah, yang penting, aku ngelanjutin meski ada niatan "Udaah, di discontinue aja!" tapi sayang juga...
Terakhir, Mplis, Ripiunya mbak, mas, om, pakde, bude, dik, yang (eyang maksudnya!), dan semua yang baca!
