Title : Song For Unbroken Soul

Main Cast : Kim Jong Woon / Kim Yesung, Kim Ryeowook, Other cast...

Author : Oh Hani

Rate : M

Warning : Banyak Typos, Genderswitch, DLDR, NO BASH ! REVIEW yak !

Disclaimer : REMAKE Novel karya Nureesh Vhalega yang judulnya 'Song For Unbroken Soul'. Hanya mengganti cast sesuai couple favorit. Dan ini bukan FFN milik saya pribadi. Hanya numpang dan ngehidupin FFN ini karena pemilik aslinya sedang HIATUS.

.

.

*Happy Reading*

.

.

BE FANS GOOD


Ryeowook menatap Sungmin dengan pandangan kosong. Sudah dua hari sejak ia bisa beraktivitas seperti biasa, sehat seutuhnya, dan Ryeowook mendapati bahwa kini dirinya sulit untuk berkonsentrasi.

"Yak! Kim Ryeowook? Kau mendengarku?"

"Ya, tentu." Sungmin mendesah. Menutup agendanya dengan putus asa.

"Kau tidak bisa bermain-main, Wookie. Jadwalmu sangat padat. Aku membutuhkan Kim Ryeowook. Di mana ia berada saat ini?" ucap Sungmin.

"Aku di sini. Maafkan aku, eonni." sahut Ryeowook. Sungmin menarik kursi di hadapan Ryeowook, lalu menatap sahabatnya itu lekat-lekat.

"Kau harus menceritakannya padaku, Wookie." bujuk Sungmin lembut. Ryeowook tahu. Tentu saja. Enam tahun persahabatan mereka telah membuktikan segalanya. Bahkan hanya Sungmin satu-satunya orang yang mengetahui kenyataan itu. Kenyataan yang menjadi hantu berjalan dalam hidup Ryeowook.

"Aku tertarik pada Kim Yesung." aku Ryeowook.

"Terima kasih, Tuhan. Akhirnya gadis bodoh ini bersedia mengakuinya. Lalu apa yang akan kau lakukan?" balas Sungmin.

"Itu terasa menakutkan bagiku, eonni." sahut Ryeowook.

"Kim Yesung-ssi adalah pria yang baik. Aku berani bersumpah ia juga tertarik padamu, namun pada kenyataannya ia tidak mau menyentuhmu dengan cara seperti itu, bukan? Aku tahu bagian terburuknya, Wookie. Ia berbeda dengan seluruh pria itu. Ia mengingatkanmu pada seseorang yang tidak ingin kau ingat." Ucap Sungmin hati-hati. Ryeowook mematung. Tubuhnya menegang seolah kalimat Sungmin melukainya.

Sungmin menggenggam tangan Ryeowook, tersenyum penuh pengertian, "Dengar, Wookie. Kau harus memberi dirimu sendiri kesempatan. Setidaknya ucapkan terima kasih atas segala kebaikan yang dilakukannya untukmu. Ia menyelamatkan hidupmu dua kali, kau tahu? Mungkin dengan membalas sedikit kebaikannya itu kau akan merasa lebih tenang." Ryeowook membalas senyum Sungmin, berjanji dalam hatinya bahwa ia akan mengucapkan terima kasih pada Kim Yesung.

Hanya terima kasih.

.

.

.

.

.

Yesung menatap tak percaya ponselnya yang kini bergetar. Nama yang tercantum di layarnya yang membuat Yesung merasa ada masalah dengan penglihatannya. Kim Ryeowook. "Hai, Ryeowook." sapa Yesung.

"Emm, hai. Maaf mengganggu. Aku ingin mengucapkan terima kasih. Kau tahu, untuk menyelamatkanku di gedung itu juga telah merawatku ketika aku sakit. Terima kasih." ucap Ryeowook.

Yesung menegakkan bahunya, tanpa sadar tersenyum mendengar nada gugup dalam suara Ryeowook. Tiba-tiba saja dorongan untuk menggoda gadis itu terbit dalam hatinya. Tak peduli pada meeting yang kini masih berlangsung di ruang konferensi, Yesung memutuskan untuk memperlama percakapannya ini. "Kau benar-benar berterima kasih? Aku tidak merasa kau benar-benar seperti itu." sahut Yesung datar.

Terdengar helaan napas, lalu Ryeowook kembali berbicara, "Terima kasih atas segala kebaikanmu, Kim Yesung-ssi."

Kali ini Yesung tidak bisa menahan lagi senyumnya. Sebelum ia bisa berpikir lebih jauh, ia menyuarakan pertanyaan yang begitu ingin ditanyakannya sejak dulu. "Maukah kau makan malam denganku?" tanya Yesung.

"Aku tidak…"

"Sebagai ucapan terima kasihmu. Setidaknya aku tahu kau benar-benar berterima kasih."

Kembali terdengar helaan napas. "Baiklah." jawab Ryeowook akhirnya. "Aku akan menjemputmu pukul delapan." balas Yesung. Ryeowook menggumam.

Tepat sebelum sambungan diputuskan, Yesung melanjutkan, "Pakai sesuatu yang nyaman dan santai, ini bukan kencan. Sampai jumpa, Ryeowook."

Yesung kembali memasuki ruang konfrensi, namun fokusnya tak ada di sana. Yesung sibuk memikirkan ke mana ia harus membawa Ryeowook untuk makan malam. Yesung tidak ingin sesuatu yang biasa seperti makan malam romantis di restoran mewah. Yesung ingin sesuatu yang berbeda untuk Ryeowook. Yesung tersentak ketika menyadarinya. Rambut hitam itu. Tubuh semampai dengan tatapan teguh namun terkesan rapuh. Sang gadis bergaun putih, yang telah membuat Yesung terpesona. Ternyata selama ini berada tepat di hadapannya. Sambil menertawai kebodohannya dalam hati, Yesung memutuskan untuk membuktikannya. Ia tahu ke mana akan membawa Ryeowook malam ini.

.

.

.

.

.

"Yak! Kim Ryeowook, letakkan kaus itu! Kau tidak akan mengenakan pakaian lain selain gaun! Kau akan makan malam dengan Kim Yesung, bukan pergi ke minimarket!" omel Sungmin dari pintu kamar Ryeowook.

"Ia mengatakan ini bukan kencan dan aku harus memakai sesuatu yang nyaman. Jadi aku memilih kaus dan jins. Itu cukup bagus, bukan?" sahut Ryeowook tak peduli.

Sungmin menyipitkan mata, "Kau tidak berusaha membuatnya muak padamu, bukan?"

"Untuk apa aku melakukan hal semacam itu?"

"Kalau begitu letakkan kaus itu dan pakai gaun ini." Ryeowook melirik gaun yang diulurkan Sungmin. Gaun itu sederhana, berwarna kuning lembut dan memiliki lengan sebatas siku. Ryeowook mendesah. Tahu bahwa sekali lagi, Sungmin berhasil membuatnya mengalah. Lagi pula Ryeowook tidak tahu ke mana Yesung akan membawanya, sehingga meminimalisir 'salah kostum' tidak ada salahnya dilakukan.

"Baiklah. Sementara aku berganti pakaian, maukah kau memilihkan sepatunya?" tanya Ryeowook. Sungmin bersorak kegirangan.

Dua puluh menit kemudian, Ryeowook telah mengenakan gaun kuning itu dengan sepasang sepatu beralas datar berwarna senada. Rambutnya tergerai sempurna, sementara wajahnya bersih tanpa bahkan tidak mau memakai pelembab bibir. Ryeowook tampil sederhana, apa adanya, namun tetap cantik luar biasa.

"Kim Yesung akan jatuh cinta padamu." desah Sungmin dengan ekspresi penuh mimpi. Ryeowook memutar matanya.

Yesung menjemputnya tepat pada pukul delapan dan mereka berkendara dalam keheningan. Setelah Yesung memarkirkan mobilnya di sebuah halaman dengan pagar putih sebatas pinggang, Ryeowook tersenyum. Yesung membawa Ryeowook ke panti asuhan tempat mereka pertama kali bertemu.

Ketika melihat ekspresi wajah Ryeowook, Yesung tahu ia tidak salah. Ia telah menemukan gadis bergaun putihnya. "Ayo. Mereka sudah menunggu." Ajak Yesung bersemangat.

Ryeowook mengikuti langkah Yesung menuju halaman belakang yang kini telah disulap menjadi tempat makan malam dan dipenuhi oleh seluruh anak panti asuhan. Anak-anak itu menyambut dengan pekikan riang, lalu segera menghampiri Yesung dan Ryeowook dengan senyum tanpa beban.

Malam berlalu dengan menyenangkan. Canda tawa yang mengisi halaman belakang itu terasa tanpa akhir. Ryeowook terus tersenyum, sementara Yesung sibuk menenangkan anak-anak yang memintanya bermain piano.

Ketika Ryeowook menaikkan alisnya dengan ekspresi menantang, barulah Yesung menyanggupinya. Yesung membuka penutup tuts piano. Melemaskan jemarinya, lalu menatap Ryeowook. Dilihatnya gadis itu sibuk melerai anak-anak yang memperebutkan tempat di sisinya. Pertikaian itu berakhir dengan keputusan Ryeowook untuk meletakkan anak-anak itu di sisi kanan dan kirinya. Dengan senyum tipis, Yesung mulai melarikan jari-jarinya.

Lagu ini adalah sebuah alunan nada yang menghantui Yesung selama beberapa hari terakhir. Lagu yang Yesung yakin tercipta untuk Ryeowook. Karena gadis itulah sumber inspirasinya. Yesung membiarkan setiap nada menghanyutkannya, tak menyadari bahwa Ryeowook terpana. Begitu nada terakhir terurai oleh angin, tepuk tangan terdengar serempak. Ryeowook bahkan membiarkan senyum kagumnya terulas manis; ia menyukai lagu itu. Ryeowook menyukai Yesung yang bermain piano. Karena pada saat itu, Ryeowook dapat melihat betapa bebasnya jiwa seorang Kim Yesung.

Dan pada saat itu pula, Ryeowook memutuskan untuk mencoba. Ia akan memberi dirinya kesempatan. Karena Yesung adalah seseorang yang pantas untuk dikenal, bahkan dengan seluruh risiko yang membayanginya.

"Permainan pianomu sangat bagus." puji Ryeowook saat mereka berada dalam perjalanan hanya membalasnya dengan seulas senyum tipis.

"Kau senang makan malam denganku?" tanya Yesung kemudian.

"Mungkin." jawab Ryeowook. Yesung menatap Ryeowook selama sedetik dengan kening berkerut, membuat Ryeowook tak kuasa menahan tawanya. Untuk pertama kalinya, Ryeowook tertawa untuk Yesung.

Mereka berbincang tentang keusilan anak-anak panti asuhan, diselingi dengan tawa ringan, hingga akhirnya mobil Yesung berhenti di depan apartemen Ryeowook.

"Terima kasih untuk makan malamnya. Aku senang bisa bertemu dengan anak-anak lagi." ucap Ryeowook setelah mereka mencapai pintu apartemennya.

"Kau bisa membuktikan rasa terima kasihmu dengan menemaniku ke pesta ulang tahun adikku minggu depan." Sahut Yesung. Ryeowook mendesah, namun senyum manisnya tidak bisa disembunyikan.

"Asalkan kau bersedia untuk bermain piano setelahnya." Balas Ryeowook.

Yesung membalas senyum Ryeowook, lalu mengulurkan tangan, "Kita sepakat?"

Ryeowook menjabat tangan Yesung, "Sepakat." Tiba-tiba Yesung menarik Ryeowook ke pelukannya. Tatapannya sangat intens, seolah berusaha menyingkap rahasia dalam hati Ryeowook. Perlahan, kepalanya menunduk disertai seulas senyum, membuat Ryeowook tanpa sadar memejamkan mata. Namun bibir Ryeowook tak kunjung tersentuh. Setelah beberapa waktu berlalu, Ryeowook merasakan napas hangat Yesung di telinganya.

Pria itu berbisik lembut. "Ini bukan kencan, Kim Ryeowook. Tapi aku akan senang menganggap acara kita selanjutnya sebagai kencan. Bersabarlah hingga minggu depan." Tubuh Ryeowook bergetar mendengar kalimat sarat akan janji itu. Meski enggan untuk mengakuinya, Ryeowook merasa dirinya bisa pingsan saat ini juga jika Yesung memutuskan untuk menciumnya. Astaga, Ryeowook benar-benar bertingkah seperti gadis perawan yang baru mengenal lawan jenis! Dan hanya Yesung yang bisa melakukannya. Yesung menegakkan kembali tubuhnya. Tersenyum semakin lebar ketika melihat semburat merah mewarnai wajah cantik di hadapannya. Nampak amat menggemaskan hingga Yesung nyaris kehilangan kendali dirinya.

Ketertarikan di antara mereka terlalu kuat. Yesung melepaskan pelukannya, lalu membalikkan tubuh. Meninggalkan Ryeowook yang berdiri terpaku hingga tubuhnya menghilang dalam lift.

.

.

.

.

.

"Apa kau berniat meledakkan pesta ulang tahun adikku?" Tanya Yesung. Ryeowook mengerjap bingung, lalu Yesung menunjuk kotak berbungkus kertas kado magenta yang berada di tangan Ryeowook.

Kotak itu berukuran sangat besar, hampir menutupi wajah Ryeowook. Ryeowook tertawa pelan, "Aku pikir tidak ada bom di dalamnya."

Yesung segera mengambil alih kotak kado itu dan terpana ketika melihat Ryeowook secara keseluruhan. Seperti biasa, gadis itu tampil sederhana dan cantik. Yesung kehilangan kata untuk menggambarkan betapa memesona gadis di hadapannya yang malam ini bersedia menjadi pasangannya. Dan mereka benar-benar berkencan.

Sepanjang perjalanan menuju tempat pesta berlangsung, Ryeowook sibuk menanyakan peraturan yang berlaku dalam keluarga Kim. Sudah menjadi rahasia umum bahwa keluarga Kim merupakan salah satu keluarga paling berpengaruh di dunia ekonomi. Keluarga Kim memiliki buku peraturan sendiri yang nyaris menjadi hukum tak terelakkan bagi setiap anggota yang marganya terdaftar sebagai Kim.

"Jadi, pesta ulang tahun adikmu ini tidak resmi?" tanya Ryeowook bingung.

"Tidak. Keluarga Kim hanya merayakan ulang tahun dengan pesta di usia delapan belas tahun. Sisanya merupakan pesta tidak resmi, jika kau ingin menyebutnya begitu. Namun menyelenggarakan pesta tidak termasuk pelanggaran, asalkan tidak terjadi masalah dan semacamnya." Jawab Yesung.

"Lalu apa yang kau dapatkan di ulang tahunmu yang ke delapan belas? Selain pesta khas keluarga Kim, maksudku." Tanya Ryeowook lagi.

"Seharusnya aku mendapat saham, karena aku anak pertama. Namun saat itu aku telah memutuskan untuk masuk Julliard dan menjadi pianis, sehingga Haraboji murka. Jadi aku tidak mendapat apa pun." jawab Yesung ringan.

"Kau tidak masalah dengan hal itu?"

"Tidak. Melakukan hal yang aku sukai merupakan suatu kebahagiaan. Aku bahkan tidak menyesal sama sekali."

"Apa saat ini kau menyesal, karena pada akhirnya harus tetap mengikuti peraturan keluargamu setelah semua kesuksesan yang kau raih?" Yesung menghentikan mobilnya di pintu utama hotel, kemudian turun dan membukakan pintu untuk Ryeowook. Setelah meminta petugas untuk membawakan kotak hadiah, Yesung dan Ryeowook melangkah memasuki ballroom hotel. Mereka melangkah dengan langkah yang beriringan, dengan tangan yang bertaut. Setiap pasang mata menatap mereka dengan pandangan penuh tanya juga kekaguman, namun Yesung dan Ryeowook tetap hanya memerhatikan satu sama lain.

"Jika kau bertanya saat ini, maka jawabku adalah tidak. Aku tidak pernah menyesal, bahkan tidak untuk satu detik pun. Karena peraturan itu membawaku untuk mengenalmu, juga membuatku mampu menggenggam tangan gadis paling cantik yang pernah kutemui." bisik Yesung tanpa ragu. Ryeowook mendongak menatap Yesung, lalu memberikan senyumnya yang paling manis.

Tepat ketika Ryeowook mulai merasa bahwa malam ini adalah malam yang menyenangkan, masalah itu muncul di permukaan. Masalah yang sama sekali tidak Ryeowook perkiraan. Masalah yang memaksa Ryeowook untuk kembali membangun dinding pertahanannya.

"Menjauh dari kakakku, gadis jalang!" Hanya berselang satu detik dari jeritan itu, tubuh Ryeowook ditarik paksa hingga genggaman tangannya pada tangan Yesung terlepas. Ryeowook kehilangan keseimbangannya sesaat, namun ia beruntung tidak jatuh terjerembap karenanya.

Ryeowook mendongak dan menemukan seorang gadis dengan wajah dipenuhi amarah. Ryeowook mengenal gadis itu. Tentu saja, karena gadis itu adalah gadis yang ia rusak hubungannya dengan pria yang Ryeowook temui di bar.

"Demi Tuhan! Bagaimana mungkin kau datang ke pestaku? Bersama dengan kakakku? Betapa memalukan dirimu!" seru Henry berapi-api.

"Kim Henry, hentikan. Apa yang terjadi?" tanya Yesung tak mengerti. Henry tetap menatap Ryeowook dengan kebencian nyata, sementara bibirnya menjawab pertanyaan Yesung. "Ia adalah gadis yang bermesraan dengan Taecyeon oppa. Ia yang menghancurkan hubunganku." Ryeowook berusaha mengendalikan ekspresinya. Mata-mata penasaran yang menyaksikan mulai berbisik dengan nada menghakimi. Tentu saja, karena kebanyakan tamu pesta itu adalah teman Henry. Lagi pula, Ryeowook memang bersalah. Tak ada pembelaan untuknya dan sebutan yang Henry berikan benar adanya. Seharusnya Ryeowook bisa menata kembali ekspresinya, jika saja ia tidak melihat Yesung. Ryeowook merasa seperti ditampar keras-keras.

Untuk pertama kalinya, Ryeowook merasa sangat sakit. Bukan karena perkataan kasar yang terus dilontarkan Henry atau pun tatapan bermusuhan dari seluruh penghuni ballroom, namun karena Ryeowook tahu ia akan kehilangan Yesung. Yesung pasti membencinya. Tanpa menunggu air matanya mengalir, Ryeowook segera membalikkan tubuh dan melangkah menjauh.

.

.

.

.

.

Yesung berjalan cepat menyusul Ryeowook, namun belum sempat kakinya melewati pintu, sepasang tangan menahannya. "Oppa, ia bukan gadis baik. Ia menghancurkan hubunganku dengan mengumpankan tubuhnya! Astaga, apa yang kau lihat darinya? Kau bisa mendapatkan ribuan gadis yang jauh lebih baik dan tentunya, lebih terhormat dari gadis jalang itu." ucap Henry.

"Kim Henry, berhenti memanggilnya seperti itu. Ryeowook adalah gadis pilihanku. Aku tidak tahu alasannya melakukan semua yang kau katakan ia lakukan, namun ia pasti memiliki alasan." sahut Yesung.

Yesung menyentuh bahu adiknya, memberikan senyum menenangkan. "Kembali pada pestamu. Ini hari spesialmu. Jangan biarkan aku mengacaukannya. Lagi pula teman-temanmu sudah datang dari seluruh penjuru dunia untuk merayakannya denganmu di sini. Kau tahu, patah hati hanya akan tersembuhkan dengan mencari pengganti. Siapa tahu akhirnya kau akan menemukan seorang pria yang pantas untuk kau perjuangkan?" lanjut Yesung lembut.

"Kau akan menyusulnya, bukan? Kau akan meninggalkanku. Kau lebih memilih dirinya dibanding diriku." balas Henry terluka.

"Kau tahu aku menyayangimu lebih dari apa pun, Henry-ya. Aku akan menemuimu besok. Mengerti?" sahut Yesung. Henry mulai menangis, namun ia mengangguk. Henry tahu bahwa kakaknya yang tampan itu sangat menyayanginya. Henry sudah mendapat pembuktiannya seumur hidup. Tak ada alasan untuk meragukan Yesung, karena Yesung bahkan rela mengorbankan segalanya demi Henry. Maka Henry hanya membiarkan tangannya melepaskan tangan Yesung.

.

.

.

.

.

Ryeowook menghapus air matanya ketika mendengar bel berbunyi. Tanpa prasangka, Ryeowook membuka pintunya. Dan betapa terkejutnya Ryeowook ketika menemukan Yesung yang berdiri di balik pintunya.

"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Ryeowook. Yesung mengulurkan kotak tisu, menjawab pertanyaan Ryeowook dengan seulas senyum.

Air mata Ryeowook kembali mengalir. Ketulusan yang terpancar dari senyum Yesung lebih dari yang mampu ditanggungnya. Rasa bersalah menggerogoti setiap sisi hatinya, membuat Ryeowook menyadari bahwa sejak awal, batasnya sungguh tidak berlaku bagi Yesung.

"Tidak apa-apa, Wookie. Aku tidak datang untuk memarahimu. Mengapa kau kembali menangis?" ucap Yesung seraya membawa Ryeowook ke sofa. Ryeowook mengambil tisu dari tangan Yesung, menghapus air mata juga membersit hidungnya dengan cara yang jauh dari kata anggun.

Ketika akhirnya Ryeowook berhenti menangis, Yesung mencubit pipinya lembut. Mengembalikan warna pada wajahnya yang pucat. "Tidakkah kau marah? Aku telah menghancurkan hubungan adikmu. Dan semua yang kau dengar dari adikmu itu benar. Aku murahan." bisik Ryeowook dengan kepala menunduk.

Yesung menyentuh dagu Ryeowook, membawa gadis itu untuk menatapnya. "Jangan pernah mengatakan itu lagi." tegas Yesung tak terbantahkan. Ryeowook terdiam.

"Aku berterima kasih padamu. Karena berkat kau, Henry akhirnya sadar bahwa pria itu brengsek. Aku tidak pernah menyukai pria itu. Kau tahu, perbedaan umur mereka lebih dari sepuluh tahun. Pria itu gila kontrol. Ia menjadikan Henry seperti yang ia inginkan. Ia bahkan mengikuti ke mana pun Henry pergi. Namun melihat Henry begitu bahagia, aku tidak tahu bagaimana caranya mengatakan pada Henry bahwa kekasihnya itu tidak baik." Ujar Yesung dengan nada ringan.

"Dan aku minta maaf atas segala hal yang diucapkan adikku. Tidak seharusnya ia memperlakukanmu seperti itu. Aku yakin suatu hari nanti, saat ia menyadari bahwa kau telah menyelamatkannya dari pria brengsek itu, ia akan meminta maaf sekaligus berterima kasih padamu. Untuk saat ini, biar aku yang melakukannya. Maukah kau memaafkannya?" lanjut Yesung.

Ryeowook menarik napas demi menelan tangisnya, lalu mengangguk. Kedua tangannya terulur memeluk Yesung dan Yesung membalasnya dengan pelukan hangat. Segalanya terasa benar. Harum yang menguar dari tubuh Yesung terasa menghanyutkan bagi Ryeowook, hingga tanpa pikir panjang, Ryeowook menanamkan kecupan manis di lekuk rahang kokoh itu.

Yesung membeku, ia mengurai pelukannya dan menatap Ryeowook. Mata cokelat terang yang balas menatapnya tak lagi diselimuti kesedihan, murni dipenuhi keinginan. Yesung membelai pipi Ryeowook, lalu menunduk. Bibir mereka bersentuhan dengan ringan. Tanpa tekanan.

Namun sengatan yang dihasilkan sentuhan itu membakar mereka. Yesung menangkup bibir bawah Ryeowook yang terasa lembut, menyesapnya. Mengapresiasi desahan yang diberikan Ryeowook dengan memperdalam ciumannya. Ryeowook membiarkan Yesung mengambil alih. Bibir pria itu amat memabukkan. Setiap kecupan hanya membawa mereka lebih dekat. Memagut penuh hasrat. Ryeowook melarikan tangannya untuk menyusuri rambut Yesung, kembali mendesah merasakan teksturnya yang pas di antara jemarinya. Yesung melepas bibir Ryeowook sesaat.

"Mulai saat ini panggil aku Oppa, Wookie. Sama seperti gadis Korea memanggil kekasihnya" pinta Yesung yang disanggupi Ryeowook dengan anggukan.

Kemudian bibirnya didaratkan pada leher manis gadis itu. Menghirup aromanya dalam-dalam seraya membelai punggungnya. Yesung merasakan pergerakan Ryeowook yang naik ke pangkuannya, namun suara robek yang panjang menyentak perhatian mereka. Ryeowook yang pertama kali tertawa, diikuti oleh Yesung.

Gaun hitam Ryeowook yang mengetat di bagian atas lutut tentu saja tidak dapat mengakomodasi pergerakan kakinya. Gaun yang baru satu kali dipakainya itu kini terkoyak hingga lekuk paha, memperlihatkan kemulusan kaki Ryeowook yang sempurna. Tangan kokoh Yesung menyentuhnya pelan, lalu mengubah posisi mereka hingga lebih dekat, meski tetap tidak cukup dekat.

"Aku rasa sofa ini tidak mendukung kita." bisik Ryeowook seraya membuka lehernya, memberi Yesung akses yang lebih baik.

"Apa yang kau sarankan?" balas Yesung.

Mata Ryeowook perlahan tertutup saat Yesung menghisap kulitnya, lalu dengan suara bergetar ia menyahut, "Sesuatu yang lebih luas?" Yesung tertawa pelan seraya menurunkan tali gaun Ryeowook. Bibirnya tetap tak beranjak sedikit pun. Seolah menyentuh Ryeowook adalah kebutuhan dasarnya, lebih daripada udara.

"Untuk saat ini sofa sudah cukup bagus." ucap Yesung memutuskan. Protes Ryeowook tertelan kembali karena tangan Yesung menemukan payudaranya. Yesung meremas dengan hati-hati, lalu sebelah tangannya yang lain melepas kait bra di punggung Ryeowook. Begitu melihat keindahan payudara Ryeowook, tatapan mata Yesung murni dipenuhi gairah. Puting pink pucat yang menegak di hadapannya begitu menantang. Tanpa membuang waktu bibir Yesung menangkup puting itu. Setelah menjilatnya dengan satu kibasan kilat, Yesung memutarinya dengan perlahan, membuat kewanitaan Ryeowook mengerut dengan menyakitkan.

"Op...paahhh," desah Ryeowook. Yesung menggumam, masih tetap melumat payudara Ryeowook. Ia melepaskan dengan bunyi yang nyaring, lalu beralih pada payudara yang lain. Ryeowook kini tak bisa menahan erangannya. Tubuhnya semakin dekat dengan tepi kenikmatan dan ketika Yesung menggigit putingnya, Ryeowook menjerit.

Belum selesai gelombang itu menghantam Ryeowook, Yesung melarikan ibu jarinya menuju pusat kenikmatan Ryeowook. Jeritan Ryeowook berubah menjadi teriakan, sementara tangannya mencengkram bahu Yesung kuat-kuat. Ibu jari yang membelai kewanitaannya melalui celana dalam sutranya membuat Ryeowook menggila. Ryeowook membawa bibirnya pada bibir Yesung, larut dalam ciuman panjang. Sementara tangan Yesung yang berada di antara kakinya menemukan celah menuju klitorisnya. Dengan tekanan ringan, Yesung kembali membuat Ryeowook mengerang. Jemarinya yang lain menjelajahi pintu masuk itu dengan lembut. Mengenalinya. Perlahan, dengan amat pelan, Yesung menyelipkan satu jarinya. Terasa amat basah, ketat, dan hangat. Yesung tak bisa menahannya, ia menambahkan satu jari lainnya dan mendapat penghargaan berupa erangan penuh kenikmatan dari Ryeowook.

"Yesung! Oh, astaga. Oppa...aahhh." erang Ryeowook. Yesung menusuk celah manis itu beberapa kali, lalu menarik jemarinya hingga hampir keluar. Ryeowook merengek dan mengikuti jemari Yesung dengan menurunkan tubuhnya.

Ryeowook tak memberi Yesung kesempatan, karena detik berikutnya Ryeowook menaik-turunkan tubuhnya dengan jemari Yesung berada di dalamnya. Gerakan Ryeowook memberi gambaran bagi Yesung dengan yang mungkin dilakukan gadis itu pada kejantanannya yang kini mengeras. Ryeowook menaiki jemari Yesung diiringi dengan jeritannya. Tak membutuhkan waktu lama hingga akhirnya Ryeowook kembali mencapai puncak kepuasan.

Setelah tubuhnya berhenti bergetar, Ryeowook menyandar sepenuhnya pada Yesung. Napasnya masih berkejaran. Ryeowook mengernyit ketika Yesung menarik keluar jemarinya. Namun usapan lembut di punggungnya yang terbuka membuai Ryeowook pada tidur lelap yang nyenyak.

Penuh dengan mimpi indah.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC


Lanjut / Delete

Review juseyooo ^^

#Oh Hani#

.

.

Mian ada kesalahan cast di chapter 5, cast siwon yang seharusnya adalah donghae. Mian, Hani lupa sama cast kakak Ryeowook sendiri...hehe... Soalnya mau menjelang siwon oppa wamil jadi kepikiran terus. Karena eunhyuk+donghae oppa udah duluan si...bikin hati nyesek seribu nyesek sampe nangis seharian. Lebih nyesek daripada waktu diputusin sama pacar.