aoi: ok.. untuk kali ini akan dimulai dari yuki_chanz...
yuki-chanz??
yuki: ya? knapa? *siap dandan*
aoi: haah.. sudah siap?
yuki: o-ok...
aoi: siappppp!!! action!
-----------------------part 7--------------------------
____Yukimura Seiichi___
"Jadi, kamu pernah menanyakan hal itu padanya?" tanyaku bingung kepada seorang anak perempuan yang berada disebelahku, Yuuto Aoi.
Dia mengangguk. "Ya. Dia menemaniku untuk mencoba minum bir untuk pertama kalinya. Ternyata yang mabuk untuk pertama kalinya adalah dia, bukan aku. Dan saat itu, aku menanyakan beberapa tentang dirinya. Dan saat itu, dia menceritakan padaku bahwa ada seseorang yang dia sayangi hingga saat ini... yaitu kamu, Yukimura Seiichi"
Aku tertegun dan bingung harus mengatakan apa. benarkah demikian? Tapi, itu adalah pernyataan saat 3 SMP dan saat kami bertemu setelah sekian lama. "Tapi, bukankah kalian bertunangan?"
"Ya. Itu memang benar. Kami memang sempat pacaran layaknya pasangan biasa. Tetapi setelah aku mengetahui itu semua, aku menjadi ragu pada diriku sendiri. Selain itu, waktuku sudah tidak banyak lagi. Jadi..."
Kali ini dia memegang kedua tanganku dengan erat dan menatapku, "Maukah kamu berjanji padaku untuk selalu bersamanya? Dia memang kuat dan bisa melakukan segalanya. Tapi disisi lain, dia menjadi lemah jika ada tekanan besar dalam dirinya. Kalau sudah begitu, pikiran dan perkataannya mulai kacau. Aku mohon, jaga dia dan gantikan aku untuk menepati janjiku padanya. Karena hanya kamu yang bisa melakukan itu semua. Aku mohon...".
Aku semakin bingung pada keadaan ini. Waktunya sudah tidak banyak? Apa yang terjadi padanya? Aku mengangguk, "Apa yang kamu maksud dengan 'waktumu yang sudah tidak banyak' itu?"
Dia diam saja dan tiba-tiba keseimbangannya hilang. Dengan cepat aku menahan tubuhnya dan berteriak, "Aoi! Kamu tidak apa-apa? Ada apa denganmu?"
Dia menggeleng dan berkata, "Yukimura... aku mohon. Tolong jaga Genichirou untukku..." kesadarannya pun menghilang.
Aku langsung saja berteriak untuk meminta tolong dan tidak lama petugaspun datang. Dia membawa kami kerumah sakit terdekat dan aku langsung menghubungi Sanada dengan telepon genggamku. Terdengar rasa khawatirnya yang begitu besar ketika aku memberitahu tentang keadan Aoi. Diapun memintaku untuk tetap menunggu disana hingga dia datang.
Saat Aoi dibawa kedalam ICU, aku merasa bahwa kejadian ini mirip dengan kejadian yang aku alami. Saat tinggal beberapa minggu lagi menghadapi pertandingan, aku pingsan dan dibawa kerumah sakit. Saat itu, Sanada yang terus menunggku hingga ibuku datang. Itu yang aku dengar.
Sekitar 30 menit lebih Sanada akhirnya datang, tepat saat dokter keluar dari ruangan. "Dokter, bagaimana keadaannya?" tanya Sanada panik.
"Bisakah saya bertemu dengan orang tuanya?" tanya dokter tersebut dengan terburu-buru.
"Maaf, dok. Orang tuanya sedang tidak ada ditempat. Tetapi, bisakah anda memberitahukan bagaimana kondisinya? Ah, ya. Saya adalah tunangannya. Jadi anda, bisa mempercayai saya" mendengar kata tunangan saja sudah membuat jantungku berdetak lebih cepat.
Dokter yang memeriksanya sempat merasa bingung. Tapi Sanada dengan terus menerus meyakinkan tentang statusnya kepada dokter tersebut, akhirnya beliau angkat bicara, "Keadaannya semakin kritis. Dia sudah dibawa kesini dalam kondisi yang tidak stabil. Selain itu..."
"Selain itu?" tanyaku dan Sanada bersamaan.
"Selain itu, penyakitnya sudah semakin parah. Saya takut kalau..."
"Dok!" tiba-tiba saja Sanada langsung menarik kerah seragam dokter tersebut. "Tolong usahakan sebisa mungkin. Jangan biarkan dia menderita seperti ini terus. Saya mohon..." sang Dokter kebingungan sendiri dan segera berpamitan untuk kembali kedalam ruangan.
Dari sekian lama aku mengenalnya, baru kali ini Sanada bisa mengucapkan bahkan bersikap seperti itu kepada orang lain. Memang benar jika dulu dia seperti itu padaku. Tapi untuk hari ini, aku baru menemukan sisi lain yang sudah lama tidak aku lihat, atau mungkin tidak aku ketahui sama sekali. Sanada yang dingin dan kaku bisa terlihat lemah dan tidak berdaya. Bahkan ada satu hal lagi yang membuatku terkejut.
"Sanada..." panggilku dan mendekatinya. "Tenanglah. Aku yakin dia akan baik-baik saja" kataku dan membantunya untuk duduk dibangu panjang. Dia diam saja dan terus saja menyalahkan dirinya sendiri. Mungkin inilah yang dimaksud Aoi bahwa 'waktuku sudah tidak banyak lagi'. "Aoi, jika tadi kamu mengatakan bahwa Sanada masih menyukaiku, sepertinya itu salah besar. Dia sangat membutuhkanmu dibandingkan denganku. Aku berharap bahwa kamu bisa segera sembuh" doaku dalam hati.
"Sanada, sudahlah. Janganlah kamu menyalahkan dirimu sendiri seperti ini" pintaku dengan lembut. Ini kedua kalinya dia menyalahkan dirinya, saat mengalami kekalahan di SMP dan pada saat ini. Dia menatapku dan menyandarkan kepalanya pada bahuku sambil memegang bahuku pada tangan satunya. Terasa bahwa tubuhnya bergetar dan bahuku mulai basah. "Sanada...?" panggilku lagi.
Dia diam sejenak dan ditengah isakannya, dia berkata, "Yukimura... inikah hukuman bagiku? hukuman atas segala kesalahan yang pernah aku perbuat?"
Perkataannya mulai kacau, sesuai yang pernah diceritakan oleh Aoi. "Hentikan Sanada. Perkataanmu mulai kacau..."
Dia menggeleng. "Tidak! Ini memang kenyataan! Mungkin ini memang takdirku harus menghadapi ini semua sendiri! Tapi mengapa ini semua selalu terjadi kepada orang-orang yang aku sayangi! Mengapa ini sem-" aku menghentikan perkataannya dengan menciumnya. Raut wajahnya terlihat terkejut sekaligus lemah.
Dengan jariku, aku menghapus air matanya dan mengusap kepalanya. "Sanada, dengarkan aku. Ini semua bukan salahmu dan bukan maumu. Ini semua cobaan yang harus kita hadapi. Jangan salahkan dirimu terus menerus. Bukankah Aoi pernah mengatakan untuk tidak menyalahkan dirimu lagi?"
Mendengar pernyataanku, dia terlihat terkejut dan memalingkan mukanya. "Da-dari mana kamu tahu?"
Aku tersenyum dan mengelus pundaknya. "Dia... Aoi yang berpesan padaku untuk mengingatkanmu setiap kali kamu mulai menyalahkan dirimu sendiri"
Dia diam sejenak dan menatapku. "Apakah dia banyak cerita padamu"
"Tidak" sangkalku untuk tidak membuatnya lebih cemas. "Tapi ada satu hal yang bisa aku tangkap darinya" Sanada memiringkan kepalanya. "Dia sangat mengkhawatirkanmu dan menyayangimu. Tapi disisi lain dia merasa sedih"
"Sedih?" tanyanya mengulang perkataanku.
Untuk sesaat aku terdiam. Pantaskah aku bertanya sekarang disaat seperti ini? Tapi aku ingin mengetahui dengan pasti perasaannya. "Sanada... jika aku didalam keadaan yang sama seperti Aoi, siapakah yang akan kamu pilih. Aku? Ataukah dia?"
Matanya terbuka lebar dan mulutnya terbuka seakan-akan ingin berbicara tetapi tidak bisa. Dia memalingkan mukanya dan memunggungiku. "Mengapa kamu bertanya seperti itu, Yukimura?"
Aku memeluknya dari belakang dan tidak disadari aku mulai terisak. "Sanada, aku mau kepastianmu. Bagaimanakah perasaanmu padaku. Apakah kamu masih menyukaiku, ataukah kamu lebih menyayanginya? "
Terasa dari gestur tubuhnya yang menegang dan terdengar detak jantungnya yang berdetak kencang. "A-aku tidak bisa menjawab itu..."
"Mengapa?!" tanyaku histeris dan menariknya sehingga aku bisa menatap wajahnya. "Mengapa kamu tidak bisa menjawabnya?"
Dia menundukan kepalanya. "Maaf. Aku tidak bisa. Karena.... karena bagiku... kamu dan dia sama-sama berarti untukku. Aku tidak bisa memilih. Maafkan aku... " dia berhenti sejenak dan memelukku. "Jikalau memang bisa aku mengulang waktu, yang aku inginkan adalah bahwa segala penyakit yang ada padamu dan dia bisa teralihkan olehku. Sejak awal aku merasa hidupku kosong dan tidak berarti. Tapi berkat kalian, kehidupanku mulai berubah. Tapi... mengapa selalu saja berakhir seperti ini..."
Dia mulai terisak kembali dan memendamkan wajahnya pada bahuku. Aku mengelus kepalanya seperti anak kecil. "Maafkan aku, Sanada... Maafkan aku sudah berkata seperti itu. Maaf. Lupakan segala perkataanku tadi. Dan kamu tidak sendirian karena masih ada aku." kataku terus menerus hingga dia bisa mulai tenang dari rasa bersalahnya. "kamu tidak sendirian. Masih ada aku disini"
yuki: aoi?
aoi: ....
yuki: aoi_chanz??
aoi:....
sana: seperti na dia tidak bisa menjawab untuk sementara..
yuki: ok..
please review n ur comment ya ^^
