Seongwoo tidak ingat sejak kapan ia selalu merasa kesepian. Ia hanya akan pergi bermain dengan teman-teman seumurannya, melupakan segala permasalahannya. Menceritakan berbagai lelucon yang membuat teman-temannya tertawa. Nyatanya hal tersebut ia lakukan bukan untuk teman-temannya, melainkan untuk menghibur dirinya sendiri.
Saat upacara kelulusan sekolah dasarnya, ia hanya ditemani neneknya. Beliau lah yang selama itu selalu datang ke sekolahnya. Setidaknya ia masih merasa ada seseorang yang peduli padanya. Namun, saat ia berada di kelas 2 tingkat pertama, neneknya meninggal dunia. Sejak saat itu, tidak ada yang datang ke pertemuan wali murid. Tidak ada yang datang untuk meninjau rapornya. Dan tidak ada yang datang ke upacara kelulusannya.
Seongwoo bukanlah tipe anak yang berbuat onar di sekolah hanya untuk menarik perhatian orang tuanya. Ia adalah anak pintar yang aktif dan mudah bergaul. Bahkan saat berada di tingkat menengah atas, ia merupakan salah satu siswa populer yang mempunyai jabatan sebagai Wakil Ketua OSIS. Orang-orang di sekolahnya sangat menyukainya.
Mereka hanya tidak tahu bahwa yang Seongwoo lakukan selama itu hanyalah bagian dari sebuah pelarian. Karena ia telah menyerah dengan kebahagiaannya.
.
.
.
.
.
THE SHAPE OF LOVE
Main Cast:
Kim Jonghyun, Hwang Minhyun, Ong Seongwoo, Kim Jaehwan, Kang Daniel, Kwon Hyunbin.
Other Cast:
Lee Woojin
Pair:
MinHyunbin, OngNiel, Howons
Genre:
Friendship, Romance, Slice of Life.
This is just fanfiction
Saya hanya meminjam nama tokoh dari Justice League.
.
.
.
.
.
Chapter Seven
"Indah dari Dalam"
Hyunbin menatap datar dua orang yang duduk di ruang tengah markasnya. "Jadi, kalian tidak berusaha sama sekali?"
Daniel melotot pada lelaki yang lebih muda tersebut. "Tentu saja kami berusaha."
"Dia bilang butuh waktu." Jelas Jonghyun.
"Jadi untuk apa aku kemari?" Jaehwan bertanya tidak terima. "Aku sudah berniat untuk berbaikan, tapi dia-"
"Sudahlah. Biarkan dia berpikir dulu," potong Minhyun sambil menepuk bahu Jaehwan.
Tatapan datar Hyunbin beralih ke Jaehwan. "Lagipula kalau kau tidak kesini, kau mau kemana hyung? Ini kan tempat tinggalmu,"
Jaehwan memajukan tubuhnya, menjitak kepala Hyunbin. "Diam kau!"
Hyunbin meringis, "Tidak usah memukul juga dong! Bilang saja kau tidak tahu harus berkata apa!"
"Ey kalian ini, sudahlah jangan bertengkar!" Seru Jonghyun sambil menahan tangan Jaehwan yang sudah siap menjitak Hyunbin lagi.
"Kalian benar-benar kekanak-kanakan," ujar Daniel yang membuat Hyunbin dan Jaehwan menatap tajam dirinya.
"Sudah sudah. Jangan menambah masalah!" Kembali Jonghyun menengahi.
"Sekarang apa? Kita menunggu Seongwoo dulu?" Tanya Minhyun berhasil membuat yang lain melupakan perdebatan tadi.
"Ya, kita hanya harus menunggunya." Ucap Jonghyun.
"Sampai kapan?"
Tidak ada yang menjawab pertanyaan Jaehwan yang entah kenapa terselip nada khawatir di dalamnya. Beberapa menit terlewati dengan keheningan.
"Bukankah dia akan kesepian jika kita hanya menunggunya tanpa berada di sampingnya?" Kali ini giliran Daniel yang mengeluarkan isi pikirannya.
"Kau benar. Kita tidak mungkin membiarkan dia sendirian," balas Jonghyun.
Sejenak semuanya kembali diam. Kemudian Hyunbin dengan tiba-tiba menjentikkan jarinya.
"Kau membuatku kaget saja!" Ungkap Jaehwan sambil mengelus dadanya.
"Dengar dulu hyung, aku punya rencana."
Akhirnya semua serius mendengarkan rencana Hyunbin.
Seongwoo diam, termenung di dalam kamarnya. Matanya sejak tadi tidak lepas dari sebuah bingkai foto yang ia ambil dari meja belajarnya. Foto dirinya bersama dengan orang tua dan neneknya. Ia ingat ini adalah foto pertama dan terakhir yang diambil bersama dengan orang tuanya. Mereka selalu sibuk bekerja dan hanya sesekali menelpon Seongwoo.
Seongwoo beranjak dari ranjangnya. Meletakkan benda yang semula di tangannya ke meja belajar. Ia melihat foto tersebut sejenak sebelum akhirnya berjalan menuju balkon.
Langit malam hari itu terlihat cerah. Bulan tampak menonjol bersinar di antara bintang-bintang yang jumlahnya terlihat sedikit. Seongwoo membuka pintu balkonnya, berjalan keluar dan merasakan angin menerpa wajahnya. Ia memandang langit untuk sesaat, hingga samar-samar telinganya mendengar suara keributan. Ia menggerakkan kepalanya mencari sumber suara. Pandangannya berhenti pada gerombolan orang di persimpangan jalan menuju rumahnya. Berterima kasihlah dengan rumahnya yang besar dan tinggi hingga mampu melihat jalan di komplek perumahannya.
Seongwoo memicingkan mata. Setelahnya ia membelalakkan matanya mengetahui siapa orang-orang itu.
"Ini jadi bagaimana? Siapa yang akan kerumahnya?" Suara Minhyun yang lembut itu terdengar sangat jelas.
"Daniel saja. Kau kan sering kerumahnya." Disusul suara Jaehwan yang unik terdengar oleh Seongwoo.
"Kenapa aku? Ayo bersama-sama saja!"
"Kalau bersama akan aneh, hyung. Aku yakin kita tidak akan dapat apa-apa kalau semuanya kesana." Dan suara bass dari Hyunbin menambah keributan itu.
Seongwoo menopang dagunya dengan satu tangan. Siku tangannya ia tumpukan di atas pagar balkonnya. Ia memandang teman-temannya itu. Perlahan bibirnya melengkung membentuk sebuah senyuman.
"Aku harus bilang apa? Waktu itu saja aku tidak berhasil. Kalian sendiri yang bilang kan?" Daniel yang masih saja dijadikan sasaran yang lain terlihat tidak terima.
"Mungkin saja kali ini berhasil. Mana mungkin aku yang masih belum berbaikan tiba-tiba datang kerumahnya!" Dan Jaehwan masih saja berseru-seru tidak jelas.
"Justru kalau kau kesana masalahnya beres!"
Seongwoo tertawa pelan. Sungguh, melihat teman-temannya berdebat hal tidak penting seperti itu sangat menyenangkan untuknya. Padahal hal kecil semacam itu dapat dengan mudah mencari jalan keluarnya. Seongwoo hanya menggeleng-geleng heran.
"Begini saja, Daniel hyung dan Jaehwan hyung saja yang kesana." Ujar Hyunbin yang kemudian mendapat delikan dari keduanya.
"Kenapa tidak kau saja? Kau kan yang memberi ide datang kerumahnya." Ucapan Jaehwan langsung membuat Hyunbin tersenyum kikuk.
Jonghyun yang sejak tadi diam melangkah mendekati ketiga orang yang terus berdebat itu. "Sudah sudah, jangan ribut! Ini sudah malam, tidak pantas kita terus berdebat disini."
Sebelumnya, Seongwoo tidak pernah menyangka bahwa Jonghyun adalah orang yang sangat baik dan bijak. Awalnya ia tidak pernah mengamati lelaki itu. Ia hanya tertarik dengan Minhyun. Namun, seiring berjalannya waktu, ia sadar bahwa Jonghyun adalah pondasi utama di persahabatannya.
"Kita kesana saja bersama-sama." Saran Jonghyun.
"Tapi hyung-"
"Aku juga setuju dengan Jonghyun. Jika nantinya tidak ada yang berani bicara, aku yang akan memulai." Ucap Minhyun, memotong alasan yang akan dilontarkan Hyunbin.
Minhyun adalah otak di kelompok persahabatannya. Ia adalah orang yang tenang dan sangat perhatian. Ketika ada masalah pada yang lain ia akan mengetahui mana yang baik dan buruk untuk dilakukan. Mungkin Minhyun tidak bisa memberi saran seperti Jonghyun, tapi ia mempunyai inisiatif dan keberanian. Dan sudah sejak lama Seongwoo mengagumi lelaki itu.
"Baiklah." Ucap Hyunbin lemas.
Kemudian Hyunbin, ia memang yang termuda di antara mereka, tapi terkadang sifatnya seperti hyung yang suka memerintah. Ia orang yang tidak terlalu peduli dengan sekitarnya. Memang pada dasarnya ia orang yang acuh, tapi sangat berisik. Namun, sejujurnya dia adalah pengamat yang sangat baik.
"Jadi... kita kesana bersama-sama?" Tanya Jaehwan ragu.
Jaehwan, orang yang paling berisik diantara mereka, tapi hal itulah yang membuat keramaian saat mereka bersama. Seongwoo sendiri yang sering berdebat dengannya sangat menikmati hal tu. Menyenangkan saat membuat kericuhan dengan Jaehwan dan Hyunbin.
"Nah yasudah ayo kesana!"
Lalu... Daniel, orang yang paling ia kenal diantara mereka. Kesan pertamanya pada Daniel adalah orang yang selalu tertawa tiba-tiba. Meskipun tidak ada yang lucu, ia akan tertawa. Dan Seongwoo menganggap hal itu aneh. Seiring berjalannya waktu, Seongwoo mulai mengetahui pribadi lelaki itu. Seseorang yang sangat peduli dan selalu menghargai. Ia selalu mau diajak melakukan apapun olehnya. Membuat Seongwoo sangat menyukai kedekatan dirinya dengan lelaki itu. Daniel tidak pernah marah dan selalu berada di sampingnya. Dan entah kenapa Seongwoo baru menyadari hal itu.
Seongwoo menegakkan tubuhnya, menghentikan kegiatan mengamati sifat teman-temannya. Ia menarik napas dalam, bersiap membuka suara.
"HEI!" Teriaknya tiba-tiba, membuat segerombolan orang itu terlonjak kaget. Beruntung tidak ada orang lain lagi yang berada di luar pada jam tersebut.
Kelima orang yang sedang berkumpul itu langsung menoleh ke rumah Seongwoo. Mereka melongo melihat objek pembicaraan mereka sebelumnya itu tengah melambaikan tangannya antusias.
"Daniel! Buka ponselmu!" Teriak Seongwoo lagi sambil mengangkat ponselnya sendiri.
Daniel merogoh saku jaketnya, mengambil benda yang disebut Seongwoo. Ia merasakan getaran pada ponselnya. Tertera nama Seongwoo disana. Dengan cepat ia geser icon hijau di ponselnya, kemudian menekan loud speaker supaya yang lain mendengarnya.
"Apa yang sedang kalian lakukan, ha?" - Seongwoo.
"E-eh i-itu" - Daniel.
"Kalau mau membicarakanku jangan disitu. Aku mendengarnya semuanya." - Seongwoo.
Semuanya terdiam, terlalu kaget mendengarnya.
"Lalu Jaehwan. Ya! Kau kesini mau berbaikan denganku kan? Jangan plin plan dong!" - Seongwoo.
"Ya! Kau mengataiku plin plan? Kau sendiri penguping!" - Jaehwan.
"Apa?! Kemari kau!" - Seongwoo.
"Kau yang kemari!" - Jaehwan.
"Apa? Kenapa aku harus kesana! Kau kan yang mau minta maaf!" - Seongwoo.
"Enak saja! Minta maaf bersama-sama dong!" - Jaehwan.
"Mana ada!" - Seongwoo
Keempat orang lain masih diam. Mereka hanya geleng-geleng, tidak habis pikir dengan dua orang yang kembali bertengkar itu. Meskipun begitu, mereka merasa lega karena pertengkaran tersebut terdengar seperti biasanya. Yang secara tidak langsung menandakan keduanya telah berbaikan.
"Kalian kemarilah! Aku rindu berkumpul dengan kalian!" - Seongwoo.
"Kalau rindu kenapa tidak datang ke markas?" - Minhyun.
"Benar. Katanya kalau sudah siap kau akan menemui kami." - Jonghyun.
"Aku memang belum siap tadinya. Tapi melihat kalian sekarang aku sudah siap," - Seongwoo.
"Serius hyung?" - Hyunbin.
"Iyalah! Kau bisa lihat aku dengan wajah seriusku kan?" - Seongwoo.
"Tidak. Kau terlalu hitam disana," - Hyunbin.
"Sialan kau!" - Seongwoo.
Mereka tertawa karena umpatan Seongwoo. Bahkan Jaehwan sudah ikut tertawa.
"Sudah, jangan tertawa! Ayo kesini!" - Seongwoo.
"Kesini kemana maksudmu?" - Daniel.
"Kerumahku." - Seongwoo.
Semuanya diam sejenak, saling menatap satu sama lain. Kemudian mereka tersenyum.
"Kalau begitu bukakan pintunya." - Minhyun.
"Serius?! Ok, aku akan turun!"-
- Seongwoo.
Kelimanya masih memandang Seongwoo yang terlihat tergesa-gesa masuk ke dalam rumahnya. Mereka kini tertawa. Tertawa bahagia karena sepertinya masalah telah usai.
Daniel tersenyum menatap Seongwoo yang tertidur di dalam perpustakaan. Ia menopang kepalanya di atas meja. Mengamati lelaki yang tampak sangat polos ketika tidur. Dan tampak seperti seseorang yang tidak mempunyai masalah.
Daniel selalu mengira satu tahun cukup untuk mengenal segalanya tentang Seongwoo. Namun, ternyata ia tidak mengetahui apapun tentangnya. Jika bukan karena Seongwoo membeberkan rahasianya, mungkin hingga sekarang Daniel tidak akan pernah tahu diri Seongwoo yang sebenarnya.
Getaran aneh itu terasa lagi. Membuat senyuman Daniel luntur bersamaan dengan munculnya perasaan lain. Matanya masih terfokus pada Seongwoo. Lelaki itu- tampak sangat manis.
Dan tiba-tiba ia merasa bodoh.
Ia sadar betul bahwa dirinya sudah jatuh dalam pesona Seongwoo. Namun, ia juga sadar dirinya bukanlah apa-apa bagi lelaki tersebut. Ia bahkan tidak tahu bahwa selama ini Seongwoo hanyalah berpura-pura ceria. Apakah dirinya berhak untuk memiliki perasaan ini? Ketika bahkan dia tidak pernah melakukan apapun untuk kebahagiaan Seongwoo.
Drrt drrt drrt
Lamunan Daniel buyar kala merasakan getaran ponsel di sakunya. Dengan sigap ia mengambil benda itu. Menatap Seongwoo yang masih terlelap, memastikan dirinya tidak menganggu tidurnya. Ia langsung membuka kotak pesan. Menampilkan pesan dari ibunya.
'Hari ini kau pulang jam berapa? Ibu akan memasak banyak sekali makanan. Cepat pulang dan ajak teman-temanmu juga.'
Bola mata Daniel membesar. Ia terkejut karena menangkap arti lain dari pesan tersebut. Ibunya adalah pemilik sekaligus koki di sebuah restoran khas korea. Melihat dari pesannya, sepertinya restorannya baru saja mendapat keuntungan besar. Mengingat ibunya hanya akan memasak banyak makanan kala restorannya sedang berjalan lancar.
Daniel melirik Seongwoo yang masih tertidur tetapi tampak bergerak-gerak tidak nyaman. Seketika sebuah ide terlintas di otaknya. Senyum yang sempat luntur itu kini kembali terpatri di wajahnya.
"Wah, ini pertama kalinya aku mengunjungi rumahmu," ucap Seongwoo takjub ketika dirinya sudah berada di depan rumah Daniel.
"Serius, hyung? Kalian sudah mengenal lama tapi kau tidak pernah kerumahnya?" Hyunbin bertanya dengan tidak percaya. "Ya ampun."
"Kau bahkan tidak peduli dengan Daniel, padahal Daniel sering kerumahmu, oh my god!" Jaehwan ikut menimpali dengan ekspresi berlebihannya.
"Memangnya kenapa? Masalah untuk kalian?" Tanya Seongwoo setengah kesal.
Dua orang di belakang hanya tertawa geli. Tidak mau ikut campur atau menengahi.
"Hei hei ayo masuk!" Ajak Daniel yang baru saja membuka pintu rumahnya yang sederhana.
Kelimanya masuk mengikuti Daniel setelah Seongwoo berhasil menjitak dua orang yang merusuh. Jaehwan dan Hyunbin pun malah balik memukuli Seongwoo membuat Jonghyun harus turun tangan.
"Aku pulang! Eomma!" Teriak Daniel ketika dirinya dan yang lain sudah berada di ruang tengah.
Seorang lelaki paruh baya -yang sepertinya ayah dari Daniel keluar dari arah dapur. "Oh kau sudah pulang. Wah kau benar-benar membawa teman-temanmu!"
Kelima orang lain yang masih berdiri langsung menyapa Ayah Daniel.
"Duduklah dulu. Makanannya hampir matang jadi kalian tunggu saja dulu." Ucap Sang Ayah yang kemudian diangguki lima orang lain.
"Oh iya baik ahjussi. Lagipula tujuan kami kesini untuk berkunjung." Ucap Jonghyun.
"Jujur sajalah, Jonghyun," Seongwoo berucap kemudian kembali menatap Ayah Daniel. "Kita disini memang diajak Daniel katanya mau ditraktir banyak makanan, ahjussi."
"Jujur sekali kau, Ong!" Jaehwan menatap Seongwoo tidak percaya.
Lelaki bermarga Kang itu tertawa melihat teman dari anaknya ternyata mempunyai selera humor. Pantas saja anaknya selalu membanggakan teman-temannya itu. "Daniel jarang sekali membawa teman-temannya, jadi ahjussi senang sekali kalian datang. Jangan terlalu takjub dengan makanannya nanti,"
Lima orang laki-laki itu tertawa mendengar perkataan Ayah Daniel. Sepertinya Ayah Daniel adalah orang yang sangat ramah.
"Baiklah kalian ngobrol dulu saja, ahjussi ke dapur lagi membantu Ratu rumah ini." Ucapnya kemudian pergi meninggalkan teman anaknya yang tengah tertawa lagi.
"Woah, Niel, ayahmu benar-benar gaul!" Seru Jaehwan.
Daniel hanya tertawa sebagai balasan. Tiba-tiba suara pintu dibuka menarik atensi semua orang.
"Oh kau membawa teman-temanmu, hyung?" Bocah laki-laki yang sepertinya adik dari Daniel itu langsung ikut duduk bergabung. "Halo aku adiknya Daniel hyung. Namaku Woojin."
Seongwoo memicingkan matanya. Rasanya ia pernah melihat bocah ini di suatu tempat.
"Oh halo aku Jonghyun hyung. Yang ini Minhyun hyung. Lalu itu Jaehwan hyung dan Hyunbin hyung. Dan yang itu Seongwoo hyung." Jonghyun dengan senyum ramahnya memperkenalkan yang lain.
Mata Woojin mengikuti tangan Jonghyun yang memperkenalkan orang-orang disana. Dan matanya berhenti pada lelaki yang terakhir disebut. Woojin langsung melebarkan matanya terkejut.
"Oh! Hyung yang waktu itu!" Serunya sambil menunjuk Seongwoo.
Seongwoo berkedip bingung. Masih belum mengingat adik Daniel.
"Hyung tidak ingat aku? Waktu itu hyung berdiri lama sekali di depan rumah orang,"
Seongwoo mengernyitkan dahinya. Yang lain memilih diam, mendengarkan interaksi antara Woojin dan Seongwoo.
Seongwoo tampak berpikir lagi, beberapa detik kemudian dia berseru heboh. "Oh! Aku ingat! Bocah cenayang!"
Yang lain melongo mendengar Seongwoo menyebut 'bocah cenayang'. Woojin sendiri justru terkikik geli mendengarnya.
"Ah hyung jangan memanggilku bocah cenayang. Panggil aku Woojin tampan saja,"
Dan kali ini yang lain melongo karena ucapan Woojin.
"Woojin tampan apanya? Jangan menggangu teman-teman hyung," Daniel menjitak kepala Woojin membuat bocah berumur 15 tahun itu merengut sebal.
"Biarkan saja!" Woojin menjulurkan lidahnya membuat Daniel melotot kesal.
"Ey Daniel. Jangan galak-galak dengan Woojin. Biarkan dia bergabung saja." Ucap Seongwoo membuat Woojin bersorak gembira yang kemudian berlari berpindah tempat duduk di sebelahnya.
Daniel menatap adiknya tidak suka. Sedangkan keempat orang lain saling menatap penuh arti.
"Ya, makanan datang!" Seru Tuan Kang dengan membawa panci besar ke ruang tengah.
"Waaaa!" Semuanya langsung berseru heboh dan membantu Ayah Daniel. Sedangkan Minhyun dan Jonghyun beranjak ke dapur membantu Ibunya Daniel yang sejak tadi belum juga terlihat.
Beberapa menit kemudian meja penuh dengan berbagai makanan. Semuanya menatap takjub makanan yang tersaji. Bau sedap yang memenuhi ruangan tersebut membuat nafsu makan mereka meningkat seketika.
"Nah ayo makan!" Ajak Ibu Daniel yang sudah bergabung di meja makan.
Semuanya langsung menyantap makanan tersebut. Beberapa kali mereka memuji rasa dari makanan yang mereka makan.
"Wah ini benar-benar enak ahjumma!" Seru Hyunbin yang sepertinya sudah mencicipi semua hidangan.
Satu-satunya perempuan dirumah itu mengibaskan tangannya. "Jangan memanggilku ahjumma. Panggil saja eommonim,"
"Baik, eommonim!" Seru Hyunbin sambil mengangkat tangannya hormat.
Sang Ayah tertawa renyah. "Kalian benar-benar lucu. Pasti Daniel banyak sekali merepotkan kalian,"
"Appa!" Daniel langsung berseru tidak terima.
"Iya, aboeji. Daniel sering sekali merepotkan kita." Tukas Jaehwan yang langsung mendapat delikan dari Daniel.
"Kapan aku merepotkanmu? Yang ada kau yang biasanya merepotkan."
"Hei, kau sering sekali membuat kotor apartemenku!" Jaehwan balas tidak terima.
"Yang lain juga."
Jaehwan sudah akan kembali membalas, tetapi cengkraman Jonghyun pada bahunya membuatnya mengurungkan niat.
"Jangan berbuat ulah, Jae." Ucap Jonghyun tenang tapi sangat tajam.
Kembali meja itu penuh dengan gelak tawa.
"Sering-seringlah kemari, emmonim akan sering-sering juga membuat makanan enak," ucap Ibu Daniel.
"Tidak usah repot-repot, eomma." Ucap Daniel tanpa menatap ibunya.
"Ey anak ini!"
Yang lain hanya tertawa melihat interaksi ibu dan anaknya itu. Seongwoo tersenyum memperhatikan keduanya. Kemudian matanya juga memperhatikan teman-teman dan keluarga Daniel. Suasana yang ramai karena celotehan Jaehwan atau Hyunbin membuatnya tak bisa untuk tidak tersenyum.
"Hyung benar-benar manis saat tersenyum,"
Seongwoo menoleh ke sebelah kanannya dimana Woojin tengah menatapnya takjub. "Apa?"
"Kurasa aku jatuh cinta padamu, hyung." Ucapnya sambil memegang dadanya.
Seongwoo terkekeh kemudian mengacak pelan rambut Woojin. "Aigoo, pintar sekali kau bicara. Pasti di sekolah banyak sekali yang terjebak rayuanmu,"
"Aish hyung, jangan mengacak rambutku nanti ketampananku berkurang," ucapnya sambil merapikan rambutnya yang berantakan.
"Dasar kau ini!" Seongwoo tersenyum sambil kembali mengacak rambut Woojin, membuat anak itu merengut sebal.
Daniel diam, memperhatikan keduanya. Atau mungkin hanya satu dari dua orang tersebut.
Senyuman Seongwoo tampak seperti senyuman yang pernah ia lihat saat berada di pantai. Senyuman yang membuat jantungnya berdetak tidak normal. Senyuman yang membuatnya tidak bisa mengontrol dirinya untuk tidak menatap lelaki itu. Ia sempat menjadi gila karena terus terbayang-bayang dengan senyumannya itu. Dan kali ini ia merasa gila kembali.
"Kau tidak mau memakan makananmu? Kalau begitu untukku saja!" Jaehwan sudah akan menarik mangkok Daniel, tetapi langsung ditepis oleh sang pemilik.
"Enak saja! Makan punyamu!"
"Pelit sekali." Sahut Jaehwan kemudian beralih menghasut Hyunbin. Membuat meja itu kembali ramai.
Seongwoo hanya tersenyum melihat dua temannya. Biasanya ia akan bergabung membuat kerusuhan. Namun, untuk saat ini ia ingin melihat saja, menikmati bagaimana suasana di rumah sederhana itu.
Seongwoo menyendok nasinya. Bersiap untuk memasukkan kemulutnya. Tiba-tiba sebuah daging bertenger di atas nasinya. Seongwoo menoleh cepat ke arah orang yang baru saja meletakkan daging itu dengan sumpitnya. Ia membeku melihat perempuan yang merupakan Ibu Daniel itu tengah tersenyum lembut padanya.
"Makanlah," ucapnya sangat lembut dan penuh perhatian.
Seongwoo masih membeku. Sesuatu dalam dirinya bergelojak. Rasa hangat menyeruak secara tiba-tiba ke bagian terdalam batinnya. Jantungnya berdebar halus dan itu terasa sangat nyaman.
"Eomma memasak daging itu dengan penuh cinta. Itu masakan terbaik yang eomma buat." Candanya tanpa melepas senyumannya.
Seongwoo masih tak bergeming. Ia menunduk, menatap sendoknya yang berisi nasi dan daging. Ia merasakan matanya mulai memanas.
"Oh hyung, kau menangis?" Woojin berseru heboh yang sontak membuat semua orang menatap Seongwoo.
"Ada apa? Apa makanannya tidak enak?" Tanya Tuan Kang dengan nada khawatir.
Seongwoo menggeleng, masih enggan mengangkat kepalanya.
"Mau eomma ambilkan air?" Giliran Ibu Daniel yang bertanya dengan khawatir. Ia benar-benar terkejut melihat Seongwoo yang tiba-tiba menangis.
Seongwoo menggeleng lagi. Kemudian mengusap pipinya, menghilangkan air mata yang ada. Ia menyuapkan makanannya ke dalam mulutnya. Mengabaikan sejenak orang-orang yang menatapnya khawatir.
"Ini benar-benar enak, eommonim!"
Minhyun, Jonghyun, Hyunbin, Jaehwan, dan Daniel tersenyum melihat Seongwoo. Mereka tahu apa yang tengah sahabatnya itu rasakan. Kekhawatiran yang sebelumnya mereka rasakan hilang tergantikan oleh rasa bahagia.
"Ya ampun, Ong, segitu enaknya ya sampai kau terharu," ucap Jaehwan mencoba membuat orang tua Daniel berhenti merasa khawatir.
"Kau pasti tidak pernah makan daging sampai menangis begitu ya hyung," ejek Hyunbin.
Seongwoo mendelik tidak suka pada Hyunbin. "Enak saja! Aku sering makan daging tapi tidak ada yang seenak ini!"
Ayah Daniel tertawa, sedangkan Sang Ibu menggeleng heran. Woojin sendiri masih menatap Seongwoo dengan tatapan khawatirnya.
Suasana di rumah itu kembali ramai. Dan Seongwoo merasakan sesuatu yang berbeda dengan rumah itu. Sesuatu yang ingin ia rasakan sejak lama. Sesuatu yang hanya selalu menjadi mimpi belaka. Sesuatu yang mampu membuat semua topengnya lepas.
Sesuatu yang disebut rasa hangat.
Dan Seongwoo merasa ia akhirnya mengerti arti rumah yang sebenarnya.
Senyuman tak pernah lepas dari wajah tampan lelaki bermarga Ong itu sejak pulang dari rumah Daniel kemarin. Ia merasa sangat senang setelah hari itu. Dengan langkah ringan ia menuruni tangga menuju meja makan. Dilihatnya Sang Kepala Pelayan tengah menata meja makannya.
"Pelayan yang lain sudah pulang, ahjumma?" Tanyanya sambil mendekati meja makan itu.
"Sudah, Tuan Muda." Jawabnya sopan.
Seongwoo mengangguk, kemudian menarik kursinya. Ia tidak langsung duduk, tetapi menatap Kepala Pelayan yang sudah bekerja untuk keluarganya sejak ia lahir.
"Kim ahjumma, bisakah kau menambah satu piring lagi?"
Perempuan berumur hampir setengah abad itu menatap Seongwoo bingung. "Apa ada tamu yang akan datang?"
Seongwoo tersenyum -membuat perempuan didepannya menatapnya takjub, kemudian mengangguk. "Iya, akan ada tamu penting."
Kepala Pelayan itu mengangguk kemudian menyiapkan satu piring lagi. Setelah dirasa beres, ia membungkuk sedikit, kemudian berniat pergi, tetapi suara Tuan Mudanya membuatnya berhenti.
"Ahjumma, ayo duduk!" Ajak Seongwoo pelan.
Kim ahjumma menatap penuh tanya pada majikannya itu.
"Makanlah bersamaku,"
Perempuan itu melebarkan matanya. Tidak percaya dengan apa yang dikatakan Seongwoo.
"Aku tidak ingin makan sendirian." Ucapnya lagi.
Mau tidak mau akhirnya Kim ahjumma menuruti kemauan Seongwoo. Ia duduk di seberang lelaki itu dengan berbagai makanan berada didepannya.
"Besok dan seterusnya jangan hanya mengintipku dibalik pintu," Kim ahjumma langsung menatap kaget Seongwoo. "Aku ingin mulai dari sekarang dan seterusnya ahjumma menjadi keluargaku. Dan menemaniku saat makan."
Perempuan di depan Seongwoo menatapnya tidak berkedip. Matanya tampak berkaca-kaca dengan senyuman lembut menghiasi wajahnya. "Baik, Tuan Muda Seongwoo."
"Apa harus memanggilku Tuan Muda? Kita kan sekarang keluarga." Tanya Seongwoo sambil mengerucutkan bibirnya membuat Kim ahjumma tertawa pelan.
"Tidak bisa, Tuan Muda Seongwoo. Lagipula yang terpenting bukan panggilannya tapi bagaimana kita nantinya bersama." Jelas Kim ahjumma.
Seongwoo menatap takjub perempuan didepannya. Ia kemudian tersenyum sangat lebar membuat Kim ahjumma merasa bahagia karena bisa melihat senyuman itu kembali.
"Baiklah aku juga akan tetap memanggil ahjumma. Janji padaku ya jangan meninggalkanku sendirian."
Kim ahjumma kembali menyunggingkan senyumannya. "Tentu saja. Ahjumma tidak akan pernah meninggalkan Tuan Muda sendirian."
Untuk pertama kalinya Seongwoo merasa sangat lega dan nyaman. Mungkin ia tidak bisa merasakan kasih sayang orang tua kandungnya, akan tetapi baginya satu orang saja disampingnya sudah cukup membuatnya senang. Dan ia merasa kebahagiaan yang sebenarnya telah datang padanya.
Kebahagiaan tidak hanya dari cinta orang tua, tetapi bisa dari orang-orang terdekat.
-Ong Seongwoo-
Daniel tidak bisa berhenti tersenyum melihat foto yang dikirimkan Seongwoo di group chatnya. Foto Seongwoo tersenyum lebar bersama Kim ahjumma -yang sering ia lihat di rumah lelaki itu.
"Sehat, hyung?" Tanya Hyunbin dengan nada mengejek yang kentara.
"Tentu saja. Senang saja melihat Seongwoo sekarang lebih banyak tersenyum dan tertawa." Jawab Daniel tanpa melepas pandangan pada ponselnya.
"Tadinya juga sering seperti itu. Kau saja yang dibutakan oleh cinta." Ejek Hyunbin dengan ekspresi menggodanya.
Daniel akhirnya memandang Hyunbin yang duduk didepannya. "Apa-apaan kau ini. Dia kan tidak benar-benar tertawa sebelumnya,"
"Lalu kapan kau akan menyatakan perasaanmu padanya?" Tanya Hyunbin lagi tanpa merubah ekspresinya.
Daniel membelalakkan matanya kaget. Bagaimana bisa Hyunbin tahu dia menyukai Seongwoo? Dan sejak kapan? Ia saja baru-baru ini menyadari perasaan itu.
"Terlihat jelas sekali, hyung. Aku yakin semuanya juga tahu. Seongwoo hyung saja yang sepertinya tidak peka." Balas Hyunbin yang mengetahui dengan mudah pertanyaan Daniel dari ekspresi wajahnya.
Daniel kini melongo. Ia terlalu terkejut mendengar ucapan Hyunbin.
Tiba-tiba tiga orang datang mengisi tempat duduk di dekat Hyunbin dan Daniel. Membuat Hyunbin mengalihkan atensinya pada ketiga orang tersebut.
"Sedang membicarakan apa?" Tanya Minhyun yang duduk disebelah Hyunbin. Tidak menyadari bahwa lelaki itu tengah berusaha mati-matian untuk tidak menatapnya.
"Pasti membicarakanku, ya?" Ucap Jaehwan percaya diri menbuat Hyunbin menatapnya jijik.
"Ey yang benar saja membicarakanmu. Kami bicara tentang Seongwoo hyung." Jawab Hyunbin.
"Ah benar dia mengirim foto ke grup kan? Aku benar-benar senang melihatnya." Jonghyun tersenyum dan yang lain ikut menyunggingkan senyumannya.
"Aku tidak pernah menyangka dia akan tersentuh karena ibuku." Ujar Daniel menerawang mengingat kejadian dua hari yang lalu.
"Padahal waktu itu rencana kita supaya dia tidak makan malam sendirian saja," Minhyun tertawa renyah membuat yang lain ikut tertawa.
"Yah baguslah setidaknya dia merasa bahagia." Ucap Jaehwan.
Yang lain mengangguk setuju. Mereka mungkin hanyalah sahabat Seongwoo, bukan keluarga yang merupakan bagian terpenting dalam dirinya. Mereka juga tidak bisa menggantikan peran orang tuanya karena kasih sayang orang tua berbeda dengan kasih sayang sahabat. Mereka memang tidak bisa membantu menyelesaikan masalah Seongwoo mendapat kebahagiaan bersama orang tuanya. Namun-
-mereka bisa menciptakan kebahagiaan yang lain untuk Seongwoo. Kebahagiaan yang berbeda tetapi memberikan tempat tersendiri di dalam hati.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
To be continued...
Haloha i am back wkwkwk
Masih adakah yang menunggu kelanjutan ff ini? Kalo masih ada saya lanjutin. Kalo tidak ya sudah saya hentikan sampai disini.
Terima kasih buat yang sudah review fol fav. Butuh review lagi biar saya tergugah buat lanjutin ff abal-abal ini wkwk
Waa seneng nih Wanna One udah menang 3x. Terus saya ambyar ngeliat 95L yang visualnya mantap sekali di Mcount /pingsan
Menantikan CEO Kang dan CEO Yoon wkwk. Terus turut sedih nih Daniel tangannya cidera. Jihoon juga dicakar fans gitu. Serius kok anarkis gitu sih...
Sudah. Sekian. Terima kasih.
[2017/19/8]
