"Aku tidak keberatan" jawab Phipps.
"Aku juga tidak keberatan, aku suka dengan tempatnya" respon Gray.
"Aku juga demikian" respon Claude.
"Aku sih dimana aja terserah" respon Alois.
"Aku tidak mau tinggal bersama-sama dengan kalian" jawab Ciel
"Heeeee?" semua orang kaget dengan jawaban Ciel
Semua pasang mata kini tertuju kepada si surai biru.
"Ke- Kenapa Ciel?" tanya Alois.
"Bukankah kemarin kamu setuju?" tanya Gray.
Ciel menatap wajah Sebastian lalu memalingkan mukanya.
'Argh! Kenapa aku seperti ini? Aku tidak boleh seperti ini!' batin Ciel.
"Kemarin aku gak bilang setuju, aku cuma bilang kalau tempatnya gak nyaman buatku aku gak mau ikut kalian" jawab Ciel.
"Kamu gak suka tempatnya Ciel?" tanya Sebastian.
"Gak juga sih, tempatnya bagus kok"
Ciel mengalihkan pandangannya, menghindari Sebastian yang menatap bola matanya.
"Terus apa alasannya?" tanya Phipps.
Ciel berpikir sejenak untuk menjawab pertanyaan teman-temannya.
"Apa karena kau membenciku?" tanya Claude.
"Ah, bukan juga"
"Kamu membenci aku sampai kamu gak sudi tinggal satu atap denganku?"
"Bukan itu, aku gak sekejam itu Claude"
"Aku pantas mendapatkannya kok Ciel, aku juga kejam terhadapmu"
"Ayolah Claude tidak perlu membahasnya, kita sudah menyelesaikannya kemarin"
"Hey hey apa yang terjadi sebenarnya?"
Alois menginterupsi Ciel dan Claude.
"Baiklah, aku akan menceritakannya kepadamu Al. Yang jelas, aku gak mau tinggal bersama dengan kalian karena aku punya alasan pribadi dan aku gak bisa menceritakannya di depan kalian. Aku harap kalian mengerti"
Suasana tiba-tiba berubah menjadi hening karena alasan Ciel barusan. Phipps kemudian mengambil inisiatif untuk menghangatkan suasana.
"Baiklah Ciel kalau itu maumu, kita tidak akan memaksamu tapi kalau kau berubah pikiran kita akan dengan senang hati akan menyambutmu. Kamu tidak perlu tergesa-gesa" kata Phipps.
"Betul, kamu gak perlu buru-buru Ciel" kata Gray.
"Baiklah minna, syukurlah kalau kalian mengerti" jawab Ciel.
Mereka berlima kemudian mendiskusikan perihal kepindahan mereka dan memutuskan untuk pindah akhir minggu ini. Walau Alois keberatan karena ia baru menempati tempat kostnya itu selama kurang dari tiga minggu, tapi tak masalah buatnya karena demi kepentingan yang lain.
Selain itu, banyak kesepakatan lainnya yang mereka buat. Seperti perihal biaya sewa rumah, akan dibayar oleh satu orang secara bergantian tiap bulannya saja. Misalnya bulan ini Phipps yang memiliki giliran untuk membayar sewa rumah, maka di bulan selanjutnya yang membayar adalah Claude, Gray, Sebastian, Alois, lalu kembali lagi kepada Phipps. Jika dibayar bersama secara patungan tiap bulan maka akan merepotkan bila salah satu dari mereka memutuskan untuk keluar. Biaya sewa tiap orang akan bertambah. Berlaku pula untuk pembayaran listrik, air dan gas. Semua dibayar penuh oleh satu orang yang berbeda di tiap bulannya. Misalnya bulan ini yang bayar sewa adalah Phipps, maka yang membayar biaya listrik, air dan gas adalah Sebastian. Jadi secara tidak langsung, tiap orang membayar iuran sewa rumah, biaya listrik, air, dan gas setiap lima bulan sekali.
Ciel walaupun tidak ikut tinggal tapi ia memberikan saran kepada mereka agar mereka tidak kerepotan. Bayangkan saja, lima orang dengan kepala yang berbeda-beda hidup bersama dalam satu atap. Seperti usul tiap orang membayar tiap lima bulan sekali, itu adalah saran dari Ciel yang kemudian didiskusikan kembali oleh mereka.
Lembayung senja telah hadir, menandakan malam akan datang. Mereka semua memutuskan untuk pulang.
"Ciel, mau aku an-" ucapan Sebastian dipotong oleh Gray.
"Ciel, ikut pulang sama kita aja. Kita 'kan satu kostan, Phipps juga mau menginap malam ini. Phipps juga gak keberatan kok" Gray mendahului Sebastian mengajak pulang Ciel.
"Gak usah, aku pulang sendiri aja" Ciel menolak ajakan Gray.
"Ah kamu orangnya pemalu, gak usah malu dan segan sama kita Ciel. Kamu jangan suka menyendiri gitu, ayo"
Gray menarik tangan Ciel padahal Ciel belum menyetujui ajakan Gray. Phipps kemudian mengikuti langkah Ciel dan Gray dari belakang.
"Sebby, kamu suka sama Ciel yah?" tanya Alois.
"Aku pikir iya, memangnya kenapa?"
"Aku juga menyukainya"
Sebastian terdiam mendengar pernyataan Alois.
"Bukankah yang kau suka itu, orang berkacamata itu?" tanya Sebastian dengan suara kecil, takut terdengar oleh Claude.
"Itu hanya alibi supaya Ciel gak tahu kalau aku menyukainya, aku gak mau kehilangan moment berada di sampingnya melakukan hal-hal konyol dan tertawa bersamanya. Kalau dia tahu, dia pasti jadi canggung sama aku, Sebby jangan kasih tau siapa-siapa lagi yah?"
"Baiklah, tapi aku memilih cara yang berbeda Al. Aku memutuskan untuk terus maju apapun yang terjadi"
"Sebastian"
Seorang gadis berambut merah ati dan berkacamata memanggil Sebastian.
"Ada apa Mey Rin?
"Kamu melihat Phipps?"
"Dia sudah pulang bersama dengan kekasihnya, ada apa Mey-Rin?"
"Tugas kuliah dia ketinggalan di ruang BLM, padahal tugas ini harus dikumpulkan besok dan dia belum memperbaiki hal-hal yang harus diperiksa saat dikoreksi oleh dosen tadi"
"Baiklah, serahkan padaku. Aku akan mengantarkannya"
"Terima kasih Sebastian, kamu memang baik. Kalau begitu aku pulang duluan ya"
Mey Rin segera pergi. Sebastian segera pergi juga, karena ingin segera berpapasan dengan Ciel.
"Aku duluan yah, oh ya Claude aku mau ke kostan Gray dulu nganter barang titipan. Mungkin aku akan pulang malam. Aku titip Kurochi ya"
Sebastian segera pergi dan meninggalkan Alois dan Claude berdua.
"Sebenarnya aku belum mau pulang dari sini, bagaimana denganmu?" tanya Claude.
"Aku juga belum mau pulang dari sini, senpai" jawab Alois.
"Oh ya santai saja, aku lihat kamu jadi diam jika hanya berdua denganku. Tidak perlu takut Alois, dan panggil aku Claude saja"
Alois masih canggung dengan Claude, sepertinya kali ini Claude yang harus lebih aktif berbicara.
"Kamu suka dance Alois?" tanya Claude.
"Aku suka. Sangat suka, apa sen- Claude juga suka dance?" jawab Alois dengan semangat.
Claude memilih topik yang tepat karena berhasil membuat Alois yang diam menjadi bersemangat.
"Tentu, ada lomba dance yang diselenggarakan fakultas teknik bulan depan. Aku ingin menampilkan tap dance tapi persyaratannya minimal dua orang, kamu mau ikut gak denganku?" tanya Claude.
"Tentu saja, aku mau ikut. Sen- Claude, sudah malam aku mau pulang dulu"
"Biar aku antar, aku gak menerima penolakan"
"Gak perlu Claude, aku udah gede gak perlu diantar pulang segala"
"Aku bilang, gak menerima penolakan"
Alois sweatdrop, ternyata Claude kalau punya keinginan harus dipenuhi walau bagaimanapun caranya. Sedikit seram juga Claude ini.
Di kostan kamar kost Gray
"Aku buatkan teh dulu buatmu" kata Gray sesampainya di kamar.
Gray menuju dapur dan Phipps langsung menuju sofa dan tidur. Ia sangat lelah hari ini.
"Dekimashita, hai kimi no tame, kore (selesai, untukmu, ini)"
Gray memberikan secangkir teh untuk Phipps. Phipps mendudukan dirinya di sofa dan menyesap tehnya.
Tiba-tiba, Phipps menepuk bahu Gray, yang ditepuk bahunya menengok, dan Phipps langsung membungkam mulut Gray dengan ciumannya. Bibir Gray yang sedikit terbuka memberikan Phipps akses yang leluasa. Phipps memberikan teh yang ada di mulutnya ke dalam rongga mulut Gray dan melepaskan ciumannya.
"Charles!" Gray protes karena tiba-tiba Phipps memberinya teh dari mulut Phipps ke mulutnya.
"Manis" Phipps menjawab protes Gray.
Mereka saling bertatapan. Iris silver Phipps bertatapan dengan iris Phipps yang sama dengan yang dimilikinya. Phipps membelai surai panjang Gray dengan lembut yang warnanya juga sama dengan surai yang dimilikinya. Mungkinkah ini takdir? Bertemu dengan orang yang memiliki nama yang sama, warna rambut yang sama, dan dengan bola mata yang sama.
Pasangan double Charles tersebut kembali berciuman, larut dalam permainan mereka. Membuat tarian indah dengan lidah mereka. Gray sang uke melingkarkan lengannya di leher jenjang kekasihnya tersebut dan sang seme meraih puncak kepala Gray sementara sebelah tangan yang lain mengelus surai panjang sang uke.
Phipps membuka bulatan-bulatan kecil yang berjajar di tengah kemeja Gray satu per satu dan ia melakukan hal yang sama pada celana jeans Gray.
Gray mendorong dada Phipps dengan perlahan dan melepaskan ciuman mereka karena kehabisan nafas. Phipps memanfaatkannya dan dengan segera ia menurunkan kemeja dan celana Gray hingga menyisakan boxer abu-abu Gray.
Kulit putih Gray yang sempurna tanpa ada noda dan bekas luka adalah yang Phipps inginkan. Ia bermain di atas leher ukenya. Menarikan lidahnya, mencumbuinya dengan kedua belah bibirnya, dan memberikan tanda bahwa Gray adalah miliknya seorang. Tanda kemerahan di leher Gray yang Phipps berikan tentu bertentangan dengan ketidaksukaan Phipps terhadap noda dan ketidak rapihan. Tentu ini adalah sebuah pengecualian terhadap Gray karena ia tetap menawan walau dalam keadaan berantakan seperti apapun. Yah, berantakan pun karena ulah Phipps sendiri.
"Charles..."
Phipps tiba-tiba menghentikan kegiatannya dan membuat Gray bingung. Tidak biasanya Gray seperti ini.
"Ada apa, Sebastian? Apa kau tidak tahu sopan-santun dalam bertamu?"
Gray mendudukan dirinya di atas sofa.
"Kenapa kau tidak mengetuk pintu terlebih dahulu, mengganggu saja" tanya si tuan rumah, Gray.
"Maaf mengganggumu, padahal tadi aku sudah mengetuk pintu dari tadi tapi karena gak ada jawaban aku mencoba masuk dan ternyata pintunya gak dikunci. Yah setidaknya kalau gak mau diganggu kenapa gak kunci pintunya?"
Gray menyandarkan punggungnya ke sofa dan menyilangkan tangannya di depan dadanya.
"Ya ya setidaknya kau gak sepenuhnya salah juga. Kamu ada apa kemari? Mustahil 'kan kamu datang tanpa tujuan?" tanya Gray.
"Aku hanya ingin memberikan titipan dari Mey Rin untuk Phipps, tadi katanya ketinggalan di ruang BLM. Baiklah karena aku gak mau ganggu kalian aku pamit mau pulang, aku juga gak ada niat berlama-lama disini"
Sebastian memberikan file yang berisi berkas-berkas tersebut kepada Phipps dan segera keluar dari ruangan tersebut.
Gray mengambil berkas-berkas yang ada di tangan Phipps.
"Tugas matkul antropologi hukum, LPJ, proposal dana, tugas matkul kriminologi, surat-surat. Kok tugas kuliah kamu dicampur sama berkas-berkas BLM sih? Gak biasanya kamu begini?" tanya Gray.
"Aku hanya sedikit lelah, sampai gak sempat membereskannya" jawab Phipps.
Gray memeluk kekasihnya dari belakang.
"Sekarang rilekskan dulu pikiranmu sebentar, setelah itu bereskan tugas-tugas laknat itu, dan kita bisa melanjutkan kegiatan kita yang tertunda tadi. Aku mau menyiapkan air hangat untukmu"
Phipps berbalik menghadap Gray dan memberikan kecupan di pipi Gray.
"Nanti bantu aku menggosok punggungku" pinta Phipps.
"Asal kamu gak melakukan 'hal-hal aneh' saat kita di kamar mandi aku akan melakukannya" jawab Gray.
Gray menyiapkan air panas sementara Phipps pergi ke balkon untuk menenangkan pikirannya. Ia mengambil bungkus rokok dan mengambil sebatang rokok dari dalamnya. Sebenarnya ia bukan perokok aktif karena Gray tidak suka dicium dengan mulut yang berbau tembakau. Namun akhir-akhir ini otaknya butuh asupan nikotin untuk menenangkan otaknya.
Kamar kost Ciel
Sebastian menuruni anak tangga dari lantai tiga menuju ke lantai dua, ketika hendak menuruni anak tangga menuju ke lantai satu ia melihat kamar nomor empat belas, kamar yang ditempati oleh Ciel.
'Mungkin kalau mampir sebentar gak apa-apa kali yah?' pikir Sebastian.
Sebastian menghampiri pintu kamar Ciel dan mengetuk pintu.
'Iya sebentar' suara kecil Ciel yang terdengar oleh telinga Sebastian.
Tak lama pintu terbuka dan menampilkan sang penyewa kamar tersebut memakai kaos lengan pendek dan celana pendek. Ada sebuah handuk yang tergantung di leher Ciel dan tetes-tetes air yang turun dari surai birunya, menandakan bahwa ia baru saja selesai mandi.
"Oh kau Sebby, ada apa? Ayo masuk" ajak Ciel.
"Terima kasih Ciel"
Sebastian mendudukan dirinya di sofa panjang yang menghadap ke sebuah TV LED 21 inci yang sedang menampilkan berita seputar perekonomian negeri ini. Sementara Ciel pergi ke dapur untuk membuatkan minuman untuk tamu yang berkunjung ke kostannya tersebut.
"Kamu mau minum?" tanya Ciel.
"Apa saja Ciel, aku gak mau merepotkanmu aku cuma mau mampir sebentar aja kok. Tadi aku habis dari kamar kost Gray, antar titipan buat Phipps"
"Hmm begitu"
Ciel duduk di samping Sebastian dan memberikan jus jeruk kemasan yang telah ia tuangkan ke dalam gelas.
Hening melanda suasana diantara Sebastian dan Ciel. Ciel sibuk menonton televisi sedangkan Sebastian larut dalam pikirannya sendiri walau matanya menatap ke layar televisi.
"Ciel"
"Hmm?"
"Ini hanya perasaanku saja atau kamu memang menghindariku sejak tadi siang?"
"Gak juga. Kalau aku menghindarimu, tadi aku gak akan membukakan pintu"
Sebastian menghela nafas lega, syukurlah kalau Ciel tidak menghindarinya.
"Tapi gak tahu kenapa sejak kejadian kemarin aku jadi canggung sama kamu" lanjut Ciel.
"Aku minta maaf atas kejadian kemarin, sebenarnya aku terbawa suasana. Kamu membenciku, Ciel?" tanya Ciel.
Perasaan Sebastian campur aduk, ia yakin pasti setelah ini Ciel akan membencinya.
"Gak kok, aku gak membencimu. Sungguh"
Kini perasaan Sebastian seperti bak mandi yang dicabut sumbat airnya, lega bisa mengalir setelah sekian lama tertampung di dalam wadah.
CUP
Sebastian membelalakan matanya karena si surai biru tersebut mencium kedua belah bibirnya. Meraih puncak kepala Sebastian guna mendapatkan ciuman yang lebih dalam. Lidah Ciel meminta izin untuk masuk ke dalam rongga mulut Sebastian dan diizinkan oleh si iris ruby yang terpejam. Lidah mereka menari bersama dan Sebastian membiarkan Ciel mendominasi ciuman mereka.
Ciel melepaskan ciuman mereka. Menjalin segaris benang saliva yang terhubung diantara kedua rongga mulut mereka dan benang tersebut putus karena sifat benda cair yang selalu mengalir ke bawah.
"Kenapa Ciel?"
Yang ditanya tidak menjawab karena sibuk dengan pemikirannya dan si penanya yang bingung karena apa yang dilakukan Ciel terbilang berani dan juga ekspresi sendu yang terpampang di wajah manis Ciel setelah apa yang dilakukannya.
"Kenapa kamu gak melawannya? Malah sebaliknya, membalasnya" tanya si surai biru.
"Karena aku menyukaimu"
Getar ponsel Ciel menandakan ada sebuah e-mail masuk ke ponselnya. Ia segera membalas e-mail tersebut tanpa mengubah ekspresi sendunya.
"Dari siapa?"
"Bukan urusanmu"
Masih dengan ekspresi sendunya, ia menatap wajah Sebastian. Iris heterokrom blue ocean-violet bertatapan dengan iris ruby Sebastian. Ciel memeluk tubuh Sebastian dan Sebastian membalas pelukan Ciel. Tubuh di pelukan Sebastian itu sedikit bergetar.
"Aku gak akan menyakitimu seperti Claude"
Ciel langsung melepaskan pelukan Sebastian dengan paksa.
"Kamu tahu kalau-"
"Claude sendiri yang bercerita, dan aku mengerti rasanya ditindih oleh sesama laki-laki itu bagaimana"
"Karena aku juga pernah ditindih oleh Claude"
Ciel membulatkan kedua bola matanya.
"Kapan itu terjadi?"
"Sejak semester tiga, awalnya aku satu tempat kost sama Phipps dan suatu hari Claude pindah ke kostanku. Claude sering pulang larut malam dalam keadaan mabuk, dan kadang bawa perempuan. Awalnya sih aku gak peduli tapi suatu malam dia mengetuk pintu kamarku dalam keadaan mabuk. Dia tumbang dihadapanku sambil mengigaukan namamu"
Ciel masih tidak percaya dengan apa yang ia dengar.
"Setelah itu aku membawanya masuk ke kamarku, membiarkan ia tidur di kasurku sedangkan aku tidur di kasur lipat. Sekitar jam empat subuh ia membangunkanku dan terjadilah hal tersebut. Bokongku terasa sakit sekali sampai hari itu aku bolos kuliah"
Ternyata Ciel masih jauh lebih beruntung jika dibandingkan dengan Sebastian. Ciel belum disetubuhi sampai sejauh itu.
"Setelah itu aku pindah kost ke tempat kostku yang sekarang, tapi tiga bulan kemudian Claude pindah juga ke tempat itu. Padahal di tempatku yang sekarang, pagar rumah kost di kunci jam sembilan malam. Selain itu, gak boleh bawa tamu perempuan. Dia mematuhi aturan tersebut"
"Bukankah itu bagus?"
"Ya, tapi hampir setiap malam ia mengetuk pintu kamarku. Aku tidak pernah membukakan pintu dan selalu mengunci pintu kamarku tapi aku juga terganggu dan suatu hari aku membukakan pintu untuknya. Ternyata ia hanya mengajakku untuk jadi partner sex"
Ciel sangat terkejut mendengarnya.
"Aku yang saat itu terpuruk karena kehilangan Varona. Dia emang sudah tua sih, sudah waktunya untuk mati tapi tetap saja dia adalah belahan jiwaku. Lagipula gak ada salahnya juga makanya aku menerimanya tawarannya dan aku juga gak terus-terusan jadi uke, aku kadang jadi seme. Walau aku lebih sering jadi uke makanya aku sering bolos kuliah karena sakit"
"Kamu masih jadi partner sex dia?"
"Salah satu dari kita gak ada yang bilang berhenti untuk jadi partner sex, tapi kita sudah gak melakukannya lagi sejak tiga bulan terakhir"
Setelah Sebastian menceritakan ceritanya dengan Claude, entah mengapa tidak timbul perasaan jijik, takut atau apa. Sebastian jujur kepada Ciel, tidak ada yang dilebih-lebihkan atau ditutup-tutupi. Ciel menyukai hal tersebut karena Ciel sendiri ingin bersikap seperti itu walau Ciel selalu menutup-tutupi perasaannya sendiri.
Sebastian kembali memeluk tubuh Ciel, namun Ciel tidak membalas pelukan Sebastian.
"omae no koto ga sukida, shieru (aku menyukaimu Ciel)"
Ciel mendorong dada Sebastian dengan perlahan, meminta agar Sebastian melepaskan pelukannya.
"Gomennasai (maaf)"
Itulah jawaban yang diberikan oleh Ciel kepada Sebastian.
"Aku gak peduli jawabanmu, aku ingin kamu tahu perasaanku yang sebenarnya saja"
"Kita gak bisa bersatu seperti halnya Phipps dan Gray, walaupun perasaan kita saling berbalas. Sebastian"
Sebastian membulatkan kedua ruby di matanya.
"Kau juga menyukaiku, Ciel?"
"Mungkin... Aku juga gak yakin"
Ciel pergi ke balkon, ia menyukai dinginnya udara malam yang membuat pikirannya terasa segar dan jernih. Ia menutup kedua iris heterokromnya, merasakan tiupan angin malam yang berhembus. Rambutnya yang sepanjang bahu berkibar mengikuti arah angin yang berhembus. Sebuah jaket yang berukuran lebih besar dari badannya tiba-tiba tersampir di bahunya dan kalungan tangan Sebastian di lehernya.
"Kenapa kita gak bisa bersatu?"
"Aku sudah punya kekasih, Sebastian"
Sebastian membeku mendengar yang diucapkan dari bibir Ciel.
"Aku gak ngerti kenapa kamu bisa mengambil hatiku dalam waktu yang singkat" kalimat tersebut tiba-tiba saja terucap oleh Ciel.
"Tak perlu dimengerti, cukup dirasakan saja. Aku gak akan mengembalikan hatimu tapi aku gak akan merebutmu dari kekasihmu" bibir Sebastian menyuarakannya dengan lembut di telinga Ciel. Cukup dekat sehingga ujung bibirnya menyentuh ujung daun telinganya. Hanya menyentuh.
Ciel melepaskan diri dari balutan lengan Sebastian dan melepaskan jaket Sebastian dari pundaknya. Dengan sedikit berjinjit, ia memakaikan jaket Sebastian ke tubuh telanjang pemiliknya dan merapatkan resleting jaketnya. Rona merah muda mengiasi pipi Ciel, beruntung ia belum sempat memberikan penerangan disana sehingga Sebastian tidak dapat melihat rona merah tersebut.
Sebastian masih terpaku di sana dan tanpa sadar si surai biru telah kembali ke dalam. Ia mengikuti Ciel yang sudah ada di dalam untuk membuat makan malam.
"Kamu buat apa?"
"Menghangatkan sisa kare untuk makan malam. Sebelum kamu pulang mau makan malam disini? Walau masakanku gak terlalu enak, tapi layak untuk dimakan kok (?)"
"Boleh"
Sebastian duduk di meja makan, Ciel memberikan sepiring nasi hangat dan menuangkan kare ke atasnya.
"itadakimasu (selamat makan)"
Mereka mengucapkannya secara bersamaan dan mulai memakan nasi kare tersebut. Kare tersebut berwarna merah dan terlihat kental dengan potongan wortel, kentang dan daging yang dipotong dadu di dalamnya. Sebastian menyuapkan makan malamnya itu ke dalam mulutnya.
"Kenapa? Masakanku gak enak yah?"
"Gak juga kok, lumayan. Aku belum pernah makan nasi kare yang rasanya manis seperti ini"
"Aku gak suka pedas makanya aku mengganti dengan saus cabai dengan saus spageti dan rasanya gak begitu buruk untuk lidahku"
Sebastian tersenyum. Sepertinya akhir-akhir ini Sebastian lebih sering tersenyum. Biasanya juga dingin dan sombong.
Kedua piring yang berisi kare tersebut telah habis secara bersama-sama walau dengan porsi berbeda. Porsi makan Ciel lebih sedikit tentunya.
"Ciel-bocchan, anda di dalam? Tolong buka pintunya"
Ciel langsung menuju pintu dan membukakannya. Terlihat seorang shota berambut pirang berdiri di depan pintu sambil memegang dua belas piring berisi gateu chocolate yang dibungkus oleh plastik pembungkus makanan.
"Ada apa Finny?"
"Tadi saya membuatnya bersama Bard, ternyata resepnya akan jadi sebanyak ini. Hehe, hitung saja sebagai pajak jadian dari saya dan Bard"
'Bahkan calon butler pribadiku pun maho, kenapa hidupku dikelilingi makhluk-makhluk homo?' batin Ciel.
Finnian adalah anak dari kepala pelayan Phantomhive, Tanaka. Ia diajarkan bermacam-macam hal oleh ayahnya agar menjadi penerus kepala pelayan Phantomhive. Finny seperti fotocopy Tanaka, namun dengan tambahan kekuatan super dan kemampuan berkebun.
Sebenarnya ia tidak tertarik menjadi seorang butler, ia lebih menyukai berkebun. Oleh karena itu ia memilih jurusan biologi di Weston University Japan. Biaya hidup dan pendidikan Finnian dibiayai oleh ayah Ciel namun dengan syarat ia harus menjadi butler pribadi Ciel dan kepala pelayan Phantomhive selanjutnya menggantikan ayahnya. Tentu Finnian tidak ingin melewatkan kesempatan tersebut, belajar sesuatu yang ia sukai.
"Masuk Finny, taruh saja semua itu di meja makan"
Membawa dua belas piring dengan kedua tangannya tanpa terjatuh adalah salah satu yang diajarkan ayahnya.
"Kau hebat sekali bisa membawa semua itu tanpa terjatuh" puji Sebastian kepada Finnian.
"Hehe, terima kasih atas pujiannya"
"Bocchan, anda baru selesai makan malam? Biar saya bereskan sisanya"
"Tidak perlu, biar aku yang membereskannya sendiri. Aku sudah bisa mencuci piring tanpa membunuh piring tersebut Finny"
"Baiklah kalau begitu, saya mohon pamit"
Finnian pamit dengan sopan dan kembali ke kamarnya. Ciel mengambil empat piring gateu chocolate dan menaruhnya di atas meja belajarnya. Kemudian ia membuka laptop, menyalakan, dan memasukan password. Ia mulai mengerjakan tugas kuliahnya dengan bantuan buku refrensi yang ia pinjam di perpustakaan dan sedikit browsing di internet, ia dapat mengerjakannya dengan lancar dan baik. Tidak perlu memerlukan waktu yang banyak untuk Ciel menyelesaikan tugasnya karena otaknya pintar.
Ciel telah menghabiskan empat piring gateu chocolate dan mengambil lima piring lagi. Wajar saja karena itu adalah makanan favoritnya. Ia melirik jam dinding.
10.20
Sebaiknya ia mengganti pakaiannya dengan baju tidur. Ciel mengambil baju tidurnya, menggenakannya, dan kembali ke meja belajarnya.
"Ciel, sudah jam segini aku boleh menginap disini?"
"Ya"
Belum mengantuk, Ciel memutuskan untuk bermain game sebentar. Di atas mejanya ada PSP, nintendo DS, PS Vita, dan nintendo 3DS. Kemudian di televisinya terhubung konsol game XBOX 360. Ciel merupakan seorang gamer garis keras.
Ciel akhirnya memilih untuk bermain game online di Pc-nya. Mengklik icon DN, memasukan id dan password, dan memilih karakter yang akan ia mainkan. Ia sudah punya karakter Warrior, dan Sorceres yang sudah berada di level maximum. Bosan dengan karakter yang levelnya sudah tinggi, ia memutuskan untuk mulai dengan level satu dan memakai karakter baru yakni Archer. Hanya butuh waktu satu jam untuk naik ke level dua puluh. Padahal ia tadi memainkannya dari level satu.
Tak lama Ciel merasa tubuhnya panas, ada yang salah dengan tubuhnya. Ia segera meng-logout gamenya dan mematikan laptopnya.
Ciel mengambil ponselnya dan mendapat sebuah e-mail yang dikirim dua jam yang lalu.
xxxxxx
From: finnian-chibby-finny .jp
Subject: Gateu Chocolate
Bocchan gomennasai. Hontou ni gomennasai. Tadi Bard keliru mencampurkan rum dengan aphrosidiac. Jangan makan kuenya, buang saja. Nanti akan aku buatkan kue yang bocchan inginkan sebanyak apapun sebagai gantinya. Gomennasai. Hontou ni gomennasai.
xxxxxx
"Kusso!" Ciel mengumpat karena terlambat membaca e-mail tersebut.
"Ada apa Ciel?"
Ciel menghampiri Sebastian yang sedang duduk di depan sofa sambil menonton film yang diputar di televisi. Badan Ciel terasa lemas, dan ambruk di atas badan Sebastian. Ciel berusaha bangkit dari atas tubuh Sebastian, menahan berat tubuhnya dengan kedua tangannya.
Sebastian meneguk ludahnya. Dosa apa ia sampai harus ditindih dengan orang yang ia cintai yang memakai kemeja untuk tidur dengan dua kancing atasnya terbuka, muka yang memerah, dan terlebih perutnya terasa ditindih oleh 'sesuatu' yang keras.
"Ciel, apakah kamu jangan-ja-"
BRUK
Ciel ambruk di atas badan Sebastian, tidak kuat menopang badannya sendiri karena badannya terasa lemas. Sebastian pun berusaha membuat jarak dengan Ciel, namun Ciel segera memeluk Sebastian.
"Sebastian, tasukete"
'Ya tuhan, kenapa ini bisa terjadi. Kenapa orang yg aku sukai ini uke banget? Terlebih dia lagi... ah aku gak kuat Tuhan. Maafkan diriku jika aku jadi iblis (?)' batin Sebastian.
Sebastian mendorong badan Ciel, menggendongnya ke kasur ala karung beras (?) dan menjatuhkannya di atas kasur.
"Aku bukan tipe orang yang lembut Ciel"
Keadaan berbalik. Kini giliran Sebastian yang berada di atas tubuh Ciel.
"Aku gak peduli"
"Kamu akan menyesal Ciel. Aku gak mau kamu menyesal"
Sebastian tidak ingin menyakiti Ciel baik secara fisik ataupun psikisnya. Oleh karena itu ia bingung. Jika melakukannya ia akan menyakiti Ciel, namun jika tidak melakukannya kasihan Ciel.
Sementara di ruangan Finnian
"Kamu ngapain sih liatin monitor melulu? Mata-matain siapa?" tanya Bard sambil memeluk makhluk shota yang duduk di depan monitor.
"Aku memasang kamera di kamar bocchan atas perintah Vincent-sama, disuruh mengawasi bocchan dari kejauhan karena bocchan tidak suka dikawal. Aku jadi keliatan kayak stalker"
"Setidaknya aku tahu kalau kekasihku ini stalking orang bukan karena ia menyukainya"
"Kamu cemburu? Dia itu bisa dibilang majikanku loh"
"Karena itu, aku cemburu pun gak ada gunanya 'kan?"
Di layar monitor, terlihat bocchannya itu sedang ditindih oleh seorang pria. Terdengar suara desahan-desahan dari headphone yang dikenakan Finnian. Saat Finnian mengawasi mereka memang terlihat dekat, namun ia tidak menyangka bahwa ternyata hubungan mereka ternyata seperti ini.
"Bocchanku ternyatasudah dewasa" ujar Finnian.
Finnian langsung mematikan layar monitor yang menampilkan rekaman kamera yang ia pasang di kamar tuan mudanya dan melepaskan headphonenya. Walau Earl Phantomhive menyuruhnya untuk mengawasi Ciel, namun bukan berarti ia harus melewati batas privasi bocchannya juga.
"Bard-san dohsiyou? Apa aku gak mau dibunuh oleh bocchan, Earl Phantomhive, atau oleh ayah. Huuuaaaa" Finnian menangis meraung-raung seperti anak kecil karena memberikan kue tersebut kepada bocchan tanpa mencicipinya terlebih dahulu. Suatu kesalahan fatal bagi seorang calon butler.
Kembali ke kamar Ciel
"Lakukan saja, Sebby. Aku gak keberatan"
"Baiklah kalau begitu. Aku sudah memperingatkanmu Ciel, kau pasti akan menyesal"
Bagaimana pun juga, Sebastian masih normal. Ia juga tidak ingin menghilangkan kesempatan ini. Lagipula Ciel yang meminta, bukan dirinya.
Sebastian langsung mencium Ciel dengan ganas. Ciel memejamkan matanya, menikmati setiap sentuhan yang diberikan kepadanya. Ciel agak sedikit kewalahan mengikuti irama permainan Sebastian. Lidah Sebastian menyapu setiap rongga mulut Ciel dan mulutnya menghisap lidah Ciel. Membuat Ciel sedikit terkejut. Lidah Ciel berdansa dengan lidah Sebastian karena terus-terusan mengajaknya untuk berdansa. Pasukan oksigen Ciel hampir habis, ia menepuk-nepuk dada Sebastian. Sebastian mengerti akan kode tersebut dan melepaskan tautan lidahnya. Meninggalkan segaris benang saliva yang menghubungkan kedua mulut mereka.
Belum puas menggoda Ciel dengan bibir, Sebastian menjilati dagu dan bekas saliva di sekitar bibir Ciel. Lidahnya turun ke leher putih tirus Ciel. Menjilati lehernya tanpa meninggalkan jejak kemerahan di lehernya. Dirinya tidak berhak karena tidak memiliki Ciel. Ciel sudah punya kekasih.
Ternyata ini rasanya disentuh oleh orang yang kita sukai. Membuat akal mati dan hati terasa dibawa terbang menuju surga. Ciel baru pertama kali disentuh oleh orang yang ia sukai. Berbeda rasanya dengan di sentuh Claude yang terasa menjijikan.
Setelah puas bermain dengan leher Ciel, Sebastian melepaskan satu per satu kancing kemeja Ciel dan melemparkannya ke sembarang arah. Melucuti semua yang dikenakan oleh Ciel hingga tidak tersisa satu helai benang pun menutupi tubuh mulus Ciel.
Sebastian mengelus kedua nipple merah muda Ciel. Memberikan sensasi menggelitik namun menyenangkan bagi Ciel. Kedua nipple Ciel mengeras, Sebastian langsung melumatnya sambil mengelus-elus perut Ciel yang rata.
Ciel adalah makhluk terindah dengan sejuta pesona. Tidak bisa dibandingkan dengan bidadari atau makhluk lainnya karena hanya satu kata untuk mendeskripsikan tubuh indah Ciel. Sempurna.
Sekilas rambutnya berwarna hitam, namun jika diperhatikan lebih jelas warna rambut Ciel adalah dark blue. Lihatlah matanya. Iris mata sebelah kanan yang berwarna violet dan iris mata sebelah kiri yang berwarna dark blue. Hanya orang tidak mengerti arti keindahan yang menyebut kedua bola mata Ciel menyeramkan.
Kedua belah bibirnya yang merah muda nampak menggirukan untuk dilahap. Tubuhnya berkulit putih pucat bagai warna boneka porselen antik dengan dihiasi dua buah nipple merah muda di atasnya.
"Aaakh~ Se- Se- Sebastian"
Sebastian menjilati dua buah nipple merah muda di depannya. Ciel itu manis, berbau seperti cokelat. Hidung Sebastian bisa mencium feromon yang terpancar dari tubuh Ciel. Aromanya kuat dan begitu memabukkan.
Sebastian memasukkan tiga jarinya ke dalam mulut Ciel guna memulai penetrasi. Ciel mengemut ketiga jari Sebastian, merasa jarinya sudah cukup basah Sebastian mengeluarkan jari-jarinya dan memulai penetrasi.
Satu jari ia masukkan ke dalam anal Ciel. Dua jari, kemudian tiga jari.
"Aa- Argh- Ku- Kurushii-"
Merasa sudah cukup lebar untuk dimasuki sesuatu yang lebih besar dari sekedar ketiga jarinya, Sebastian mulai memposisikan miliknya di depan anal Ciel dan mulai memasukkannya.
"Aah~ I- Ittai"
"Sakit?"
Ciel sedikit berteriak kesakitan karena sesuatu yang besar telah memasuki lubang analnya. Namun Sebastian tetap melanjutkannya.
"Aaakh~"
"Ii ka?"
Walau Sebastian belum memasukkan seluruhnya, namun Ciel sudah merasa kesakitan. Ia berhenti sejenak agar Ciel terbiasa dengan miliknya yang berada di dalam analnya.
"Aaakh~ Se- Se- Sebastian..."
Dengan perlahan Sebastian memasukkannya kembali. Ciel yang masih teriak kesakitan tidak dihiraukan oleh Sebastian hingga akhirnya milik Sebastian telah masuk seluruhnya.
Sebastian mulai bergerak di dalam tubuh Ciel. Namun karena mendengar Ciel yang merasa kesakitan ia melambatkan gerakannya.
"Akkh- Aaakkh- Aaaakkh-"
"Mada ittai no?"
"Ii no, tsuzukete"
Sesuai dengan permintaan Ciel, Sebastian melanjutkan pergerakannya dengan tempo perlahan agar Ciel merasa terbiasa dengan dirinya. Anal Ciel sempit sekali, hal tersebut wajar mengingat badan Ciel yang kecil dan ini adalah kali pertamanya Ciel melakukan hubungan seks dengan pria.
"Se- Sebastian. Motto hayaku"
Sebuah senyuman tergaris di wajah Sebastian, ukenya ini mulai menikmati pergerakannya.
"Yes, my lord"
Sebastian mempercepat pergerakannya. Maju mundur di dalam tubuh Ciel. Kedua lengan Sebastian memegang kedua pergelangan tangan Ciel. Seolah tidak ingin melepaskan Ciel dari genggamannya.
Jejak airmata terlihat jelas di wajah Ciel. Sebastian mencoba menghapusnya dari wajah Ciel. Ia mengecup kelopak matanya dan menyesap airmata Ciel.
'Ini manis. Aku ingin menelan semua'
Semuanya. Semua yang ada di tubuh Ciel itu manis. Bukan hanya dari penampilannya, tapi rasa yang sesungguhnya pun benar-benar manis.
"Ha- hayaku"
Izinkanlah Sebastian untuk berterima kasih kepada Finnian. Jika Finnian tidak keliru mencampurnya, Sebastian yang dapat 'menyantap' Ciel mungkin hanya akan berada dalam dunia mimpi Sebastian saja.
Sebastian mempercepat gerakannya. Ciel yang berada di bawah tubuh Sebastian mendesah dengan hebat. Di telinga Sebastian, suara tersebut terdengar semerdu lagu soundless voice yang dinyanyikan Maaya Sakamoto. Bahkan lebih merdu.
"Ah~ Sebastian. Motto hayaku"
"Hai', bocchan"
Ciel mulai menikmati pergerakan Sebastian yang berada di dalam tubuhnya. Bukan hanya Ciel, Sebastian juga tampak menikmatinya. Mereka berdua menikmatinya bersama, bukankah itu awal yang bagus untuk hubungan mereka ke depannya?
"Se- Sebastian, aku mau keluar"
Sebastian mencengkram milik Ciel dengan genggaman tangan Sebastian. Kedua bola mata Ciel terbelalak. Ini menyesakkan.
"Kita keluar bersama"
"Hey! Ini tidak adil!"
Sebastian lebih mempercepat gerakannya. Ia ingin menyelesaikan ini secepatnya. Karena Sebastian sendiri merasa sebentar lagi keluar.
"Sebastian, yamerou!"
"Okotowaru sashimasu"
Ciel tidak tahan lagi. Ini terlalu berlebihan. Yah, kenikmatan yang ia dapatkan terlalu nikmat. Ia tidak tahan lagi. Ciel memejamkan matanya. Perutnya terasa penuh, dan miliknya dimanjakan oleh Sebastian. Ia sudah keluar jika tidak ditahan oleh Sebastian.
Tak lama, terasa benda cair tersemprot di dalam badan Ciel. Rupanya Sebastian telah mencapai klimaksnya. Sebastian mempercepat kembali gerakannya dan berhenti ketika sperma terasa tidak keluar lagi dari dalam milik Sebastian.
Sebastian melepaskan miliknya dari dalam lubang anal Ciel, dan melepaskan genggamannya dari milik Ciel. Sperma menetes keluar dari dalam lubang anal Ciel, dan menyemprot keluar dari milik Ciel. Sebastian menghisap milik Ciel dan meminum cairan sperma yang masih keluar dari milik Ciel.
"Manis"
SLURP
Sebastian meminum cairan sperma Ciel hingga tak ada setetes sperma Ciel yang tersisa. Cairan yang menempel di perut Ciel pun tak luput dari 'santapan' Sebastian.
"Hosh hosh hosh"
Walau malam ini Ciel merupakan seorang submisif, namun entah mengapa Ciel merasa lelah. Tetes-tetes keringat mengalir di wajah Ciel dan seluruh badannya, begitu juga halnya dengan Sebastian. Ciel ingin segera tidur, menenggalamkan pikirannya dengan tenang di alam mimpi.
Sepasang lengan mendekap erat tubuh mungil Ciel. Sebastian tidak ingin melepaskan Ciel, ia begitu menyayangi Cielnya ini. Sebastian melirik jam dinding di kamar Ciel. Jarum jam menunjuk ke angka dua belas dan jarum yang panjang menunjuk ke angka tiga. Pintu gerbang kostannya pasti sudah ditutup. Lagipula tak ada salahnya juga menemani Ciel di ranjangnya untuk malam ini.
Jika dibandingkan dengan Claude, tentu Sebastian lebih memilih Ciel dibandingkan Claude. Ciel lebih menyenangkan untuk 'disantap' dibandingkan dengan Claude. Sebastian lebih menikmati menjadi seme Ciel daripada menjadi uke Claude walau terkadang ia menjadi seme untuk Claude.
Sebastian bersyukur atas apa yang terjadi hari ini. Bukannya Sebastian merasa bersyukur atas kekeliruan yang dibuat oleh pelayannya, namun ia bersyukur bisa memiliki Ciel seutuhnya. Cinta dan juga tubuhnya.
Walau ini hanya akan terjadi dalam malam ini saja.
TBC
