Halfway To The Grave
(Sang Pemburu Vampir)
Original Story
Novel Halfway To The Grave by Jeaniene Frost
Saya bukanlah pengarang aslinya. Saya minta maaf yang sebesar-besarnya jika ada yang tidak berkenan Novel ini saya jadikan versi chanbaek.
Selamat membaca~
Muahh :)
Byun Baekhyun perempuan berdarah separuh vampir separuh manusia yang pemarah dan bermasalah dengan orangtua.
Park Chanyeol si vampir kuno seksi sekaligus pembunuh bayaran yang sudah berusia ratusan tahun. Di tengah-tengah pertarungan antara perasaan dan akal sehatnya.
Sanggupkah Phoenix meluluhkan hati Bek?
.
.
BAB 7
.
.
Phoenix jauh lebih teliti dalam membuang mayat buruan kami dibandingkan yang pernah aku lakukan selama ini. Ia membungkus Hyukjae di dalam plastik dan memasukkannya ke bagasi mobil hanya dalam hitungan menit, sambil terus bersiul. Sementara itu, aku duduk bersandar di mobil dan menekan lenganku yang berdarah. Setelah menutup pintu belakang mobil, ia berjongkok di sampingku.
"Biar aku lihat lukamu," ujarnya, mengulurkan tangan padaku.
"Tidak apa-apa." Ketegangan dan rasa sakit membuat suaraku terdengar tajam.
Phoenix mengabaikan penolakanku dan menarik tanganku dari lenganku yang terluka, lalu melepaskan perban buatanku.
"Lukanya cukup dalam, mengoyak dagingmu di sekitar pembuluh darah. Kau membutuhkan darahku untuk menyembuhkannya."
Phoenix mengeluarkan pisau lipat dari dalam sakunya dan mulai menekan ujungnya di telapak tangannya.
"Jangan. Aku bilang ini tidak apa-apa."
Phoenix hanya memberiku tatapan jengkel dan menorehkan pisau itu ke telapak tangannya. Darah langsung mengalir dari sana dan ia menekankannya ke lenganku yang terluka.
"Jangan konyol. Berapa banyak darahmu yang dihisapnya?"
Pergelangan tanganku terasa geli saat darah Phoenix bercampur dengan darahku. Seketika itu juga, lukaku sembuh. Entah kenapa tindakan itu terasa seintim seperti jika aku menjilat darah dari jarinya.
"Kurasa cukup banyak. Aku langsung menikamnya di leher secepat yang bisa kulakukan untuk mengalihkan pikirannya. Di mana kau sebenarnya? Aku tidak lihat ada mobil yang mengikuti kami."
"Itulah rencananya. Aku mengendarai motorku, tapi aku tetap menjaga jarak yang cukup jauh, agar Hyukjae tidak tahu dia sedang diikuti. Aku meninggalkan motorku sekitar satu kilometer dari sini." Phoenix mengangguk ke arah pohon di sekitar kami. "Kemudian aku berlari menyusuri hutan agar tidak menimbulkan suara yang mencurigakan."
Kepala kami hanya berjarak beberapa sentimeter dan lututnya menekan lututku. Karena merasa tidak nyaman, aku mencoba untuk bergeser, tapi pintu mobil menahanku di tempat semula. "Aku pikir mobil itu hancur. Pintu belakangnya remuk."
Itu memang benar. Hyukjae telah menghancurkannya.
"Kenapa dia mengincar pergelangan tanganmu, Luv, jika kalian berdua ada di kursi belakang? Memangnya dia tidak bisa mencapai lehermu?"
"Tidak." Dalam hati aku mengutuk kenangan itu. "Saat kami berada di kursi depan dia menjadi sangat bergairah dan mencoba untuk meraba-raba tubuhku, berkat dirimu dan ide tanpa celana dalam yang gila itu. Aku tidak membiarkannya, jadi aku pindah kebelakang dan melingkarkan lengan di lehernya dari belakang, agar dia tidak curiga. Baru sekarang aku menyadari bodohnya tindakanku itu, tapi saat itu aku sama sekali tidak terpikir tentang pergelangan tanganku. Semua vampir yang lain selalu mengincar leherku."
"Ya, termasuk aku, iya kan? Mobil itu melaju dengan sangat cepat, aku pikir kalian sudah mulai beraksi di dalam. Apa yang membuatnya mendadak berhenti?"
"Aku bilang padanya untuk datang dan terjang aku." Suaraku pelan, aku masih ngeri mendengar kata-kata itu. Hyukjae memang benar-benar menerjangku. Tiba-tiba satu pertanyaan terlintas di dalam pikiranku.
"Apa tidak masalah menaruhnya di bagasi?"
Phoenix tergelak. "Kau ingin menemaninya?"
Pelototan tajam mengiringi jawabanku. "Tidak, tapi apa dia benar-benar tidak akan hidup lagi? Aku selalu memotong kepala mereka, sekedar untuk memastikan."
"Kau meragukan hasil kerjaku? Dia tidak akan hidup lagi. Sekarang, kita harus segera pergi dari sini, sebelum ada remaja usil yang datang dan bertanya apakah kita membutuhkan bantuan." Setelah melepaskan pergelangan tanganku, ia memeriksa lukaku. Daging yang terkoyak sudah menyatu lagi, seolah dijahit oleh benang yang tidak terlihat. Tangan Phoniex yang tadi ditoreh dengan pisau lipat sudah tidak lagi berbekas. "Bangunlah. Kita harus memindahkan mobil ini."
Aku berdiri dan sekali lagi menatap mobil yang rusak. Bukan saja pintunya yang remuk, tapi ada percikan darah di bagian depannya yang berasal dari pergelangan tanganku dan leher Hyukjae.
"Bagaimana aku bisa menyetir rongsokan ini? Setiap polisi yang melihat mobil ini pasti akan memintaku menepi."
Phoenix menyeringai jahil. "Jangan mengeluh. Semua akan beres." Dari dalam jaketnya, Phoenix mengeluarkan ponsel.
"Ini aku, kami sudah selesai. Sepertinya aku butuh tumpangan, Sobat. Kau akan suka dengan kendaraan ini, jenisnya Benz. Tapi pintunya butuh sedikit perbaikan. Kami ada di Planter's Road, sebelah selatan klub. Cepat datang, bisa kan?" Tanpa mengucapkan apa-apa lagi, Phoenix menutup telepon dan mengalihkan perhatiannya lagi padaku.
"Tenanglah, Bee. Tumpangan kita akan datang sebentar lagi. Jangan khawatir, dia tidak jauh dari sini. Aku sudah bilang padanya kita mungkin akan membutuhkan bantuannya malam ini, tentu saja, dia mungkin berpikir kita beraksi lebih malam ini." Phoenix terdiam, memberiku tatapan penuh pengertian. "Kau pergi bersamanya tidak lama setelah kalian bertemu, iya kan? Dia pasti sangat menyukaimu."
"Iya, sangat menyukaiku. Dia tidak henti-hentinya memujiku. Serius, Phoenix, sekalipun mobil ini diderek tetap saja masih ada terlalu banyak darah. Dan kau tidak mendengarkan saranku agar membawa perlengkapan untuk membersihkannya. Setidaknya kita bisa mengelapnya dulu."
Phoenix beranjak mendekat dan menarik tanganku untuk diamati saksama. Sekarang, hanya tinggal bersisa garis merah, tapi setelah puas melihat kondisinya. Phoenix masih tetap tidak melepaskan tanganku. Menghindari tatapannya tetap tidak mencegahku merasa gelisah.
"Percayalah padaku, Luv. Aku tahu kau tidak mau mempercayaiku, tapi kau harus. Omong-omong, malam ini kau menjalankan tugasmu dengan mengagumkan. Pasak di punggungnya hanya meleset sedikit dari jantungnya. Itu memperlambat gerakannya, begitu pula dengan tikamanmu di leher. Kau pasti bisa menghabisinya, sekali pun tidak ada aku. Kau kuat, Bee. Bersyukurlah karenanya."
"Bersyukur? Itu bukanlah kata yang akan kugunakan. Lega? Mungkin itu lebih tepat. Aku merasa lega karena masih bisa bertahan hidup dan berkurang satu lagi pembunuh yang mengincar gadis naïf. Tapi bersyukur? Aku baru bisa merasa bersyukur jika tidak pernah memiliki darah vampir di dalam tubuhku. Aku baru bisa merasa bersyukur jika aku memiliki orangtua yang normal dan sejumlah teman, dan satu-satunya yang pernah kubunuh hanyalah waktu. Atau, jika aku pergi ke klub hanya untuk berdansa dan bersenang-senang, bukannya menjebak seseorang untuk kubunuh, sebelum membunuhku terlebih dahulu. Baru aku akan merasa bersyukur. Ini hanya… bertahan hidup. Sampai aksi yang berikutnya."
Aku menarik tanganku dan beranjak beberapa meter, agar ada jarak di antara kami. Gelombang kesedihan menerpaku saat mengingat hal-hal yang aku sebutkan tadi, yang tidak akan pernah menjadi milikku. Rasanya sangat menakutkan saat aku merasa tua di usia dua puluh dua tahun.
"Omong kosong." Satu kata itu memecah kesunyian.
"Apa?" Dasar vampir, tidak pernah bisa bersimpati.
"Kataku, omong kosong. Kau sama seperti semua orang di dunia ini. Orang lain akan rela saling membunuh untuk bisa memiliki bakat sepertimu, tidak peduli sekalipun kau membenci bakatmu itu. Kau punya ibu yang mencintaimu dan rumah yang nyaman sebagai tempatmu pulang. Jangan pedulikan tetanggamu yang menganggapmu rendah hanya karena kau tidak memiliki ayah. Dunia ini tempat yang luas dan kau punya peranan penting di dalamnya. Kau pikir semua orang memiliki hidup yang selalu sempurna? Kau pikir semua orang punya kekuatan untuk memilih bagaimana takdir mereka? Maaf, Luv, tapi kenyataannya tidaklah seperti itu. Jaga orang yang kau cintai dan jalani pertarungan yang bisa kau menangi, itu saja, Bee."
"Dari mana kau tahu?" Kegetiran membuatku berani, dan kata-kata itu terlontar begitu saja dari mulutku.
Yang mengejutkan, Phoenix menyentakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak, lalu menarik bahuku, bergeser mendekat sampai mulutnya hampir menyentuh mulutku.
"Kau… sama… sekali… tidak… tahu… apa yang sudah kulalui, jadi jangan… katakan… padaku… apa yang kuketahui."
Ada kesan ancaman dari cara Phoenix membuat jeda pada setiap kata yang diucapkannya. Jantungku mulai berdetak lebih cepat, dan aku tahu ia bisa mendengarkannya. Cengkeraman tangannya mengendur sampai jarinya tidak lagi menancap di kulitku, tapi ia tetap memegangi tanganku. Oh Tuhan, ia begitu dekat… terlalu dekat. Tanpa sadar aku menjilat bibirku, dan sekujur tubuhku bergelenyar saat aku melihat matanya mengikuti gerakanku. Dengan perlahan lidahnya terulur keluar untuk membelai bagian bawah bibirnya. Tindakan itu begitu memikat untuk disaksikan.
Suara klakson mobil membuatku terlonjak kaget. Jantungku nyaris melompat keluar saat truk trailer delapan belas roda melambat dan berhenti di depan kami. Suara rem tangan yang ditarik membuat sakit telinga di tengah kesunyian malam.
"Phoenix...!" Dengan perasaan takut, aku baru saja hendak bicara lebih banyak ketika Phoenix berjalan ke arah truk trailer yang baru saja datang itu dan menyapa pengemudinya.
"Chen, bajingan tengik, baik sekali kau mau datang dengan cepat!"
Mungkin hanya perasaanku saja, tapi aku pikir aku merasakan kesan tidak tulus pada suara Phoenix. Sedangkan aku, aku ingin memeluk si Chen ini dan berterima kasih padanya karena menyela apa yang bisa menjadi momen membahayakan.
Seorang pria bertubuh tinggi dan kurus turun dari truk dan berkata sambil menyeringai, "Aku melewatkan acara favoritku karena kau, Sobat. Aku harap kedatanganku tidak mengganggumu dengan gadis ini. Kalian berdua terlihat sedang sangat nyaman dengan satu sama lain."
"Tidak!" kata itu terlontar begitu saja dari mulutku, dan dengan nada yang tegas. "Tidak ada yang terjadi di antara kami."
Chen tertawa dan berjalan menghampiri sisi mobil yang remuk, menjulurkan kepala ke dalam dan mengerutkan hidungnya saat melihat noda darah.
"Tentu saja… aku bisa melihatnya."
Phoenix menaikkan sebelah alisnya sambil menatapku dengan sorot menantang, dan aku hanya memalingkan wajah. Kemudian ia menepuk bahu Chen.
"Chen, temanku, mobil itu milikmu. Kami hanya perlu membuang sesuatu di dalamnya, setelah itu kami akan pergi. Antarkan saja kami ke tempat itu dan semua beres."
"Tentu saja, Sobat. Kau akan suka di belakang. Ada AC-nya. Juga ada beberapa kotak untuk kalian duduk atau kalian bisa naik ke mobil itu. Kita pergi sekarang. Aku ingin segera merapikan mobil itu."
Chen membuka bagian belakang trailernya. Trailer itu dilengkapi oleh rantai untuk mengikat mobil. Aku menggelengkan kepalaku dengan kagum. Phoenix memang selalu memikirkan segalanya.
Ketika Chen menurunkan pijakan roda di belakang trailer, Phoenix masuk ke Mercedes dan membawanya ke dalam trailer. Setelah diikat, mobil itu aman di dalam. Kemudian Phoenix pergi untuk mengambil motornya kembali beberapa menit kemudian untuk menempatkan motor itu di dalam trailer. Setelah selesai, Phoenix menyeringai padaku.
"Ayo,Bee. Taksimu sudah menunggumu."
"Kita akan naik di belakang?" sejujurnya, pikiran hanya berduaan dengan Phoenix di ruangan trailer yang tertutup membuatku takut, dan yang kukhawatirkan bukanlah leherku.
"Iya, di sini. Chen tidak mau mengambil resiko dengan terlihat bersamaku. Dia sangat menyayangi nyawanya. Pertemanan kami di lakukan secara rahasia. Bocah yang cerdas."
"Cerdas," gerutuku saat naik ke dalam trailer. Chen menutup pintu, dan dengan suara klik pintu terkunci. "Aku iri padanya."
.
.
.
Aku menolak duduk di mobil Mercedes, karena masih ada cipratan darahku dan mayat Hyukjae di sana. Aku justru berada sejauh mungkin dari Phoenix. Ada tumpukan krat di depan, dan hanya Tuhan yang tahu apa isinya, aku memilih untuk bersandar di sana. Sementara Phoenix dengan nyaman bertengger di kotak yang hampir sama, seolah ia tidak peduli dengan dunia.
"Aku tahu hal ini tidak akan membuatmu khawatir, tapi apa ada cukup banyak oksigen di sini?"
"Ada cukup banyak udara. Selama tidak ada orang yang bernapas secara berlebihan." Phoenix mengangkat alisnya saat berbicara, sementara pandangan matanya mengatakan padaku dengan tegas dan jelas bahwa ia tidak begitu saja melupakan momen kedekatan kami sebelumnya.
"Yah, kalau begitu aku aman. Benar-benar aman." Phoenix sialan, kenapa ia harus menjawabku dengan menyunggingkan senyuman jahilnya itu. Apa yang harus kulakukan jika ia mendekat? Jika ia menghilangkan jarak tipis yang memisahkan bibir kami tadi? Apakah aku harus menamparnya? Atau…
"Sial." Upss, aku mengatakannya secara lantang.
"Ada apa?"
Senyuman itu masih tampak di bibir Phoenix, tapi ekspresinya berubah serius. Jantungku mulai berdetak lebih cepat lagi. Sepertinya udara di sekitar kami terasa berat, dan aku berusaha mencari sesuatu yang bisa meredakan ketegangan.
"Jadi, siapa Cho Kyuhyun yang tadi kau tanyakan?"
Ekspresi Phoenix menjadi tegang. "Orang yang berbahaya."
"Ya, sepertinya begitu. Jelas sekali Hyukjae sangat takut padanya, jadi aku pikir dia bukan orang sembarangan. Apa dia target kita selanjutnya?"
Phoenix terdiam sebelum menjawab, sepertinya sedang memilih kata-kata yang tepat. "Iya, dia memang seseorang yang aku cari, tapi aku akan mengejarnya sendirian."
Seketika itu juga amarahku bangkit. "Kenapa? Kau pikir aku tidak bisa mengatasinya? Atau kau masih tetap tidak mempercayaiku untuk menjaga rahasia itu? Aku pikir kita sudah mengatasi masalah itu."
"Ada beberapa hal yang sebaiknya kau tidak terlibat di dalamnya." Jawab Phoenix dengan tegas.
Aku mengubah taktik. Setidaknya topik ini bisa melenyapkan ketegangan yang sebelumnya. "Kau bilang Hyukjae klien terbaik Cho Kyuhyun. Apa maksudmu dengan pernyataan itu? Memangnya apa hubungan Kyuhyun dengan orang yang mempekerjakanmu? Apa kau tahu, atau kau hanya menerima perintah darinya tanpa banyak bertanya?"
Phoenix mengeluarkan suara pelan, "Alasan aku tidak mau mengatakan lebih banyak padamu adalah untuk menghindari pertanyaan semacam itu. Cukup kukatakan ada alasan kenapa belakangan ini kota ini menjadi tempat yang sangat berbahaya untuk gadis-gadis muda. Itu sebabnya aku tidak mau kau mengejar vampir tanpa aku. Cho Kyuhyun lebih dari sekedar bajingan yang menghisap darah orang karena membutuhkannya. Lebih dari itu, jangan tanya."
"Setidaknya, bisakah kau mengatakan padaku sudah berapa lama kau mengejarnya? Itu bukanlah rahasia yang super penting."
Phoenix menangkap kesinisan dalam nada suaraku dan mengerutkan kening. Aku tidak keberatan. Lebih baik kami saling berdebat daripada, yah, melakukan sesuatu yang lain.
"Sekitar sebelas tahun."
Aku hampir saja terjatuh dari atas kratku. "Astaga! Harga kepalanya pasti mahal sekali! Ayolah, apa sebenarnya yang dia lakukan? Jelas sekali, dia telah membuat marah orang yang kaya raya."
Phoenix memberiku tatapan yang tidak bisa kumengerti. "Tidak semua hal berkaitan dengan uang."
Dari nada suaranya, aku tahu bahwa aku tidak akan bisa mengorek keterangan lebih lanjut dari Phoenix. Baiklah. Jika ia memang ingin seperti itu, baiklah. Aku akan mencoba mengoreknya lagi nanti.
"Bagaimana kau bisa menjadi vampir?" tanyaku kemudian, bahkan aku sendiri terkejut dengan pertanyaan itu.
Sebelah alis Phoenix terangkat.
"Kau ingin Interview with the Vampir, Luv? Dalam filmnya, nasib si reporter tidak berakhir dengan menyenangkan."
Saat aku bergumam, "Aku tidak pernah menonton film itu. Menurut ibuku filmnya terlalu sadis," pernyataan ironis itu membuatku tertawa. Phoenix juga menyeringai, dan menatap serius ke arah mobil.
"Aku bisa mengerti. Kalau begitu, untung saja kau tidak menontonya. Hanya Tuhan yang tahu apa yang mungkin terjadi."
Tawa memudar, aku menyadari bahwa aku memang benar-benar ingin tahu, jadi aku menatap langsung Phoenix sampai ia mengeluarkan suara jengkel.
"Baiklah, aku akan mengatakannya padamu, tapi setelahnya kau harus menjawab satu pertanyaanku. Butuh waktu lama untuk menceritakan semuanya."
"Pertukaran informasi, Dr. Lecter?" ejekku. "Baiklah tapi aku tidak melihat ada gunanya. Kau sudah tahu semuanya tentang diriku."
Phoenix menatapku dengan sorot panas dan suaranya berubah menjadi bisikan, "Tidak semuanya."
Dalam sekejap kecanggungan itu kembali. Sambil berdehem karena secara tiba-tiba tenggorokanku kering, aku gelisah tak karuan.
"Kapan kejadiannya? Kapan kau berubah menjadi vampir?" kumohon, teruslah berbicara. Kumohon, berhentilah menatapku seperti itu.
"Coba kuingat, sekitar tahun 1790 dan aku ada di Australia. Aku membantu seorang vampir dan dia pikir dia bisa membalas budi padaku dengan mengubahku menjadi vampir juga."
"Apa?" Aku tercengang. "Kau orang Australia? Aku pikir kau orang Inggris!"
Phoenix tersenyum, namun sedikit getir.
"Sebenarnya sedikit dari keduanya. Aku lahir di Inggris. Di sanalah aku menghabiskan masa remajaku, tapi aku sedang berada di Australia saat berubah menjadi vampir. Itu membuatku bisa dikatakan sebagai orang Australia juga."
Sekarang, aku benar-benar terkesima, sehingga aku melupakan keterkejutanku sebelumnya. "Kau harus menjelaskan secara lebih detail."
Phoenix bersandar di sisi trailer, kakinya di rentangkan dengan santai ke depan. "Aku berusia dua puluh empat tahun. Hal itu terjadi persis sebulan setelah ulang tahunku."
"Ya Tuhan, usia kita hampir sama!" Segera setelah kata-kata itu terlontar, aku menyadari kekonyolan perkataanku sendiri.
Phoenix mendengus "Iya. Hanya terpaut sekitar dua ratus tujuh belas tahun."
"Emm. Kau tahu apa maksudku. Kau terlihat lebih tua dari dua puluh empat tahun."
"Terima kasih." Phoenix tertawa melihat penyesalanku, tapi berusaha membuatku tenang. "Tiap zaman berbeda. Dulu orang lebih cepat menua. Kalian, orang zaman sekarang, tidak tahu betapa beruntungnya kalian."
"Ceritakan padaku lebih lanjut," ujarku. Phoenix terlihat ragu-ragu dan aku berseru, "Kumohon."
Phoenix mencondongkan tubuh ke depan, sekarang terlihat serius. "Bukan cerita yang indah, Bee. Tidak romantis seperti film atau buku. Kau ingat kau pernah menceritakan padaku tentang bocah yang kau hajar saat kau remaja karena dia mengatai ibumu pelacur? Yah, ibuku adalah pelacur. Dia berusia lima belas tahun saat melahirkan aku. Untung saja dia dan mucikarinya punya hubungan baik, jika tidak aku pasti tidak akan pernah diizinkan tinggal di rumah bordil, karena alasan yang jelas. Ketika aku kecil, aku tidak tahu bahwa tempat tinggalku tidak biasa. Semua wanita di sana memanjakan aku, dan aku melakukan tugas rumah tangga dan semacamnya sampai remaja. Mucikari di sana, namanya Hyuna, suatu saat bertanya padaku apakah aku ingin menggeluti bisnis keluarga. Beberapa orang pelanggan pria, yang memiliki kelainan seksual, sering memperhatikan aku, karena aku tumbuh menjadi remaja yang tampan. Tapi, pada saat mucikari itu mendatangiku dengan tawaran tersebut, aku sudah tahu aku tidak ingin melakukan pekerjaan semacam itu. Pada saat itu, mengemis adalah pekerjaan yang umum dilakukan oleh anak-anak dan remaja. Begitu pula dengan mencuri, jadi untuk bertahan hidup aku mulai mencuri. Kemudian, saat berusia tujuh belas tahun, ibuku meninggal karena sifilis. Saat itu usia ibuku baru tiga puluh tahun."
Wajahku memucat saat mendengar cerita Phoenix, tapi aku masih ingin mendengar sisanya. "Lanjutkan."
"Dua minggu setelahnya, Hyuna mengatakan padaku bahwa aku harus pergi dari sana. Aku tidak memberikan keuntungan padanya, sehingga aku tidak berhak tinggal di sana. Dia bukan bermaksud kejam, hanya berpikir praktis. Gadis lain bisa mendapatkan kamarku dan menghasilkan uang tiga kali lipat lebih banyak dariku. Sekali lagi, dia memberikan pilihan padaku… pergi dan menjalani hidupku di jalanan, atau tinggal dan melayani pelanggan. Tapi, tawarannya sedikit berbeda. Aku tidak harus melayani pelanggan pria. Ada beberapa orang wanita kaya yang dikenalnya, dan ketika ia bercerita tentangku, mereka tertarik. Aku bisa memilih ingin menjual diriku pada pria atau wanita. Dan itulah yang kulakukan. Tentu saja, para gadis di rumah bordil melatihku terlebih dahulu, dan ternyata aku memiliki bakat dalam pekerjaan itu. Hyuna menjadikanku gigolo yang populer dan dalam waktu singkat aku sudah memiliki pelanggan tetap… wanita dari kalangan bangsawan. Salah satu dari merekalah yang akhirnya menyelamatkan hidupku.
Saat itu, aku masih mencuri. Pada suatu hari, aku mencuri dompet tepat di depan polisi. Hal berikutnya yang aku tahu, aku sudah dirantai dan diadili oleh salah satu hakim yang paling kejam. Salah satu pelangganku mendengar kasusku dan merasa kasihan padaku. Wanita itu merayu hakim agar tidak menjatuhkan hukuman gantung padaku, dan sebagai gantinya aku akan dibuang ke salah satu koloni baru. Tiga minggu kemudian, mereka mengirimku ke tempat pembuangan bersama dengan enam puluh dua orang pencuri lain ke South Wales di Australia."
Mata Phoenix berkabut, dan ia menyusurkan tangan ke rambutnya.
"Aku tidak akan bercerita banyak tentang perjalanan itu, selain disana aku mengalami penderitaan yang tidak sepantasnya dialami manusia. Begitu kami sampai di tempat pembuangan, kami harus menjalani kerja paksa sampai mati. Aku berteman dengan tiga orang pemuda di sana… Xiumin, Jongin dan Kris. Setelah beberapa bulan, Kris berhasil melarikan diri. Kemudian, setahun kemudian, ia kembali."
"Kenapa ia kembali?" tanyaku. "Bukankah dia akan dihukum karena telah melarikan diri?"
Phoenix mengangguk. "Kris tahu akan hal itu, tapi dia sudah tidak takut lagi. Kami sedang berada ditempat penyembelihan ternak saat kami dikepung oleh penduduk asli. Mereka membunuh semua penjaga dan tahanan lain, kecuali aku, Xiumin, dan Jongin. Pada saat itulah Kris muncul diantara mereka, tapi dia sudah berbeda. Kau tentu sudah bisa menebak. Dia sudah menjadi vampir dan dia mengubahku malam itu juga. Jongin dan Xiumin juga diubah oleh dua vampir lain. Meskipun kami bertiga diubah menjadi vampir, tapi hanya salah satu dari kami yang memintanya. Xiumin menginginkan apa yang ditawarkan Kris. Sementara aku dan Jongin tidak. Tapi Kris tetap mengubah kami, karena dia berpikir nanti kami akan berterima kasih padanya. Kami tinggal bersama dengan penduduk asli selama beberapa tahun dan bersumpah untuk kembali ke Inggris. Butuh waktu hampir dua puluh tahun untuk kembali ke Inggris."
Phoenix terdiam dan memejamkan matanya. Di tengah cerita Phoenix, aku menggelung tubuhku menyerupai bola dan duduk menatap Phoenix dengan ekspresi tercengang. Phoenix memang benar, itu bukanlah cerita yang indah, dan aku sama sekali tidak tahuapa yang sudah dilaluinya.
"Giliranmu." Mata Phoenix terbuka dan langsung menatapku. "Katakan padaku apa yang terjadi dengan bajingan yang menyakitimu."
"Astaga, Phoenix, aku tidak mau membicarakannya." Aku berubah menjadi defensif terhadap kenangan itu. "Itu sangat memalukan."
Mata gelap Phoenix tidak sekalipun berkedip. "Aku baru saja menceritakan padamu bahwa dulunya aku adalah pencuri, pengemis, dan gigolo. Apakah adil jika sekarang kau menolak menjawab pertanyaanku?"
Disampaikan seperti itu, Phoenix memang ada benarnya. Sambil mengangkat bahu untuk menyembunyikan rasa sakitku, aku menceritakannya secara singkat.
"Kisah biasa. Seorang pemuda bertemu dengan seorang gadis. Si gadis naïf dan bodoh, si pemuda memanfaatkan."
Phoenix hanya mengangkat sebelah alisnya dan menunggu.
Aku mengangkat tanganku. "Baiklah! Kau ingin cerita yang mendetail? Aku pikir dia benar-benar peduli padaku. Dia bilang dia peduli padaku, dan aku jatuh ke dalam perangkapnya. Kami berkencan dua kali, dan pada kencan ketiga dia bilang dia harus mampir ke apartemennya untuk mengambil sesuatu, sebelum kami pergi ke klub. Saat tiba di sana, dia mulai menciumku, mengatakan semua omong kosong betapa spesialnya aku untuknya…" Tanganku mengepal. "Aku bilang padanya masih terlalu dini untuk melakukannya. Bahwa kami harus menunggu sampai kami saling mengenal dengan lebih baik, bahwa itu pertama kalinya untukku. Dia tidak sependapat. Aku… seharusnya memukulnya, atau mendorongnya menjauh dariku. Aku bisa saja melakukannya, aku lebih kuat darinya. Tapi…" Aku menundukan kepalaku. "Aku ingin membuatnya senang. Aku benar-benar menyukainya. Jadi, saat dia tidak berhenti, aku hanya berbaring diam, dan mencoba untuk tidak bergerak. Rasanya tidak terlalu sakit jika aku tidak bergerak…"
Oh Tuhan, sebentar lagi aku pasti menangis. Aku mengerjapkan mataku dengan cepat dan menarik napas tercekat, mengenyahkan kenangan itu. "Begitu ceritanya. Satu kenangan yang menyedihkan, dan setelah itu dia tidak pernah meneleponku lagi. Pada awalnya aku sangat khawatir… aku pikir ada hal buruk yang terjadi padanya." Aku tertawa getir. "Pada akhir minggu berikutnya, aku menemukan ia sedang berkencan dengan gadis lain di klub yang sama dengan yang hendak kami datangi malam itu. Pada saat itu, dia mengatakan padaku bahwa dia tidak pernah benar-benar menyukaiku dan bahwa aku harus pergi karena saat itu sudah lewat jam tidurku. Di malam yang sama, aku membunuh vampir pertamaku. Aku menganggapnya sebagai pelampiasan setelah aku dicampakkan. Aku sangat marah sehingga aku ingin membunuh diriku sendiri atau membunuh orang lain. Kemudian ada makhluk yang mencoba mengoyak leherku dan membantuku membuat pilihan."
Phoenix tidak melontarkan ejekannya yang biasa. Saat aku berani menatap matanya lagi, ia sedang menatapku, tanpa ada kesan mencemooh atau menghakimi di wajahnya. Kesunyian berlanjut, dari detik ke menit. Kesunyian itu diisi oleh sesuatu tidak bisa dijelaskan, saat kami terus menatap satu sama lain.
Tiba-tiba saja kami tersentak saat truk trailer mendadak berhenti. Sambil menggelengkan kepalanya sedikit, Phoenix melompat turun dari tempatnya bertengger dan menuju kebagian belakang trailer.
"Kita hampir sampai, dan masih ada tugas yang harus dilakukan. Pegangi kantong itu untukku, Bee."
Nada suara Phoenix yang jahil kembali lagi. Masih bingung oleh kejadian tadi, aku menghampirinya di bagian belakang trailer.
Phoenix membuka plastik pembungkus mayat Hyukjae dengan sikap seriang anak kecil yang membuka bungkus kado natal. Aku memegangi kantong sampah dan bertanya-tanya apa yang hendak dilakukan oleh Phoenix.
Tidak butuh waktu lama untuk mengetahui. Dengan tangannya sendiri, Phoenix memelintir kepala Hyukjae hingga lepas sepenuhnya, seperti tutup botol soda. Pemandangan yang sangat menjijikan, kemudian potongan kepala itu dimasukan ke kantong plastik yang kupegang.
"Argh." Aku mendorong kantong itu ke tangan Phoenix. "Ambil ini."
"Mual? Potongan kepala itu berharga lima puluh ribu dolar. Kau yakin kau tidak mau menimangnya barang sebentar?" Phoenix menyunggingkan senyuman khasnya, menjadi Phoenix yang biasa lagi.
"Tidak, terima kasih." Ada hal yang tidak bisa dibeli dengan uang, dan salah satunya adalah memintaku menghabiskan waktu dengan kepala itu.
Bagian belakang trailer terbuka dengan suara berderak keras dan Chen muncul di depan kami.
"Kita sampai, Sobat. Aku harap kalian berdua mengalami perjalanan yang indah." Mata Chen berkilat jahil saat menatap aku dan Phoenix secara bergantian.
Seketika itu juga aku berubah defensif. "Kami hanya mengobrol."
Chen menyeringai, dan aku melihat Phoenix berusaha untuk menyembunyikan senyumannya, saat berbalik untuk menghadap temannya.
"Ayolah, Sobat. Kita hanya berkendara selama… lima puluh menit? Waktunya tidak cukup."
Mereka berdua tertawa. Aku tidak, menurutku tidak ada yang lucu.
"Sudah selesai?"
Setelah menenangkan diri, Phoenix menggelengkan kepalanya. "Tunggulah di dalam trailer sebentar. Ada sesuatu yang harus kuurus."
"Apa?" Aku sangat penasaran; aku harap kali ini Phoenix mau menjawabnya.
"Bisnis. Kepala ini harus dikirimkan, dan aku ingin kau tidak terlihat. Semakin sedikit orang yang mengenalmu, akan semakin baik."
Masuk akal. Aku duduk di pinggir trailer dengan kaki menggantung dan menarik lengan bajuku untuk memeriksa lukaku lagi. Sudah sembuh sepenuhnya, kulitnya sudah menyatu dan tidak berbekas. Ada perbedaan besar antara vampir dan manusia, bahkan yang berdarah campuran sepertiku. Kami bahkan tidak berasal dari spesies yang sama. Jadi, kenapa aku menceritakan pada Phoenix hal-hal yang tidak pernah kukatakan pada orang lain? Ibuku bahkan tidak tahu kejadian yang kualami dengan Daehyun. Ibuku tidak mungkin bisa mengerti. Bahkan, ada banyak sekali hal yang tidak dimengerti ibuku tentang diriku. Jika aku mau jujur, ada lebih banyak hal yang kusembunyikan daripada yang kuceritakan pada ibuku, tapi aku justru menceritakan pada Phoenix hal-hal yang seharusnya kusembunyikan.
Setelah tiga puluh menit memikirkan hal itu, sambil mengelupasi cat kukuku, Phoenix kembali. Ia melompat masuk ke trailer, membuka ikatan motornya, dan membawanya turun hanya dengan menggunakan satu tangan.
"Naiklah, Sayang. Kita sudah selesai."
"Bagaimana dengan mobilnya? Atau sisa mayat Hyukjae?" tanyaku.
Aku naik ke belakang Phoenix, melingkarkan lenganku di seputar pinggangnya untuk pegangan. Sangat menggelisahkan saat harus menempelkan tubuhku ke tubuhnya setelah apa yang terjadi tadi, tapi aku tidak mau melemparkan tubuhku sendiri ke aspal yang keras. Setidaknya, Phoenix memberiku helm, meskipun ia sendiri tidak mengenakannya. Itu salah satu keuntungan menjadi makhluk yang sudah mati.
"Chen mengambil mobil itu. Dia punya bengkel bongkar pasang mobil rusak. Itulah pekerjaanya sehari-hari, memangnya aku tidak pernah mengatakannya padamu?"
Tidak, tidak pernah, bukan berarti itu penting. "Dan sisa mayatnya?"
Phoenix melaju dengan sangat cepat, membuatku harus berpegangan lebih erat padanya saat motornya membelah malam dan menyusuri jalan.
"Itu bagian dari kesepakatan. Chen akan menguburkan mayat itu untukku. Mengurangi tugas kita. Chen orang yang cerdas, selalu menutup mulutnya dan mengurusi urusannya sendiri. Jangan khawatirkan dia."
"Aku tidak mengkhawatirkan dia," teriakku, di tengah angin yang berhembus kencang. Sebenarnya, aku lelah. Malam ini sangat panjang.
.
.
.
Butuh waktu dua jam untuk kembali ke gua, dan kami tiba hampir pukul tiga pagi. Seperti biasa, trukku diparkir sekitar empat ratus meter dari pintu masuk gua, karena tidak ada kendaraan yang bisa masuk lebih jauh lagi. Phoenix berhenti di samping trukku, dan aku langsung melompat turun begitu motor berhenti. Naik motor membuatku gugup. Sepertinya motor adalah kendaraan yang tidak aman. Tentu saja, vampir tidak akan mengalami resiko kecelakaan seperti patah leher, patah tulang, atau kulit sobek karena hantaman trotoar. Alasan lain dari keterburu-buruanku turun sangat sederhana-agar bisa menjauh dari Phoenix secepat mungkin. Sebelum aku melakukan tindakan bodoh lainnya.
"Pulang secepat itu, Sayang? Malam masih belum larut."
Phoenix menatapku dengan mata yang berkilat jahil dan senyuman menawan. Aku hanya mengambil kunci trukku dari tempat persembunyiannya di balik batu dan berjalan ke truk.
"Mungkin bagimu, tapi aku tetap akan pulang. Sana pergi dan cari leher yang bisa kau hisap."
Tanpa terpengaruh, Phoenix turun dari motornya.
"Pulang ke rumah dengan mengenakan gaun yang ternoda darah seperti itu? Ibumu pasti akan khawatir melihat penampilanmu. Kau masuk saja dulu dan berganti pakaian. Aku janji tidak akan mengintip." Kalimat yang terakhir itu dikatakan Phoenix sambil mengedipkan mata padaku, sehingga membuatku tersenyum meskipun aku sangat gugup.
"Tidak, aku akan berganti pakaian di pom bensin saja. Omong-omong, karena tugas sudah selesai, kapan aku harus kembali ke sini? Apa aku dapat waktu libur?"
Aku harap bisa libur, bukan saja dari latihan, tapi juga dari kebersamaan dengan Phoenix. Mungkin kepalaku perlu diperiksa, dan waktu sendirian bisa membantuku untuk berpikir jernih.
"Maaf, Bee. Besok kau bertugas lagi. Setelah itu aku akan terbang ke Chicago untuk bertemu dengan teman lamaku Cho Kyuhyun. Jika beruntung, aku akan kembali pada hari Kamis, karena hari Jumat ada tugas baru untuk kita…"
"Iya, aku mengerti," kataku dengan menggerutu. "Yah, kau harus ingat aku akan mulai kuliah minggu depan, jadi kau harus memberiku kelonggaran. Kita mungkin punya kesepakatan, tapi aku sudah menunggu terlalu lama untuk bisa meraih gelar sarjana."
"Tentu saja, Sayang. Isi kepalamu dengan sebanyak mungkin pengetahuan yang tidak akan pernah bisa kau terapkan dalam kehidupan nyata. Tapi ingatlah… kalau kau mati, kau tidak bisa ikut ujian, jadi jangan berpikir kau bisa melupakan latihanmu. Tapi jangan khawatir. Kita akan mengaturnya. Omong-omong, ini untukmu."
Phoenix mengeluarkan kantong plastik besar dari dalam jaketnya, yang memang sejak tadi terlihat penuh daripada biasanya. Setelah merogohkan tangan ke dalam selama beberapa saat, Phoenix mengeluarkan setumpuk kertas berwarna hijau dan menyerahkannya padaku.
"Bagianmu."
Hah? Aku melongo menatap tumpukan uang ratusan ribu dolar di tangan Phoenix, ketidakpercayaanku langsung berubah kecurigaan.
"Apa ini?"
Phoenix menggelengkan kepalanya. "Astaga, kau memang gadis yang menyulitkan! Orang bahkan tidak bisa memberimu uang tanpa berdebat dulu denganmu. Ini adalah dua puluh persen dari bayaran atas kepala Hyukjae. Ini bayaran atas kerjamu menghilangkan kepalanya. Aku rasa, karena aku tidak harus membayar apapun ke kantor pajak, aku mungkin bisa memberikannya padamu."
Dengan tercengang aku menatap uang itu. Ini lebih besar daripada yang bisa kudapatkan dengan bekerja sebagai pelayan selama enam bulan atau bekerja di perkebunan buah. Padahal sebelumnya aku khawatir harus menguras tabunganku untuk membeli bensin! Sebelum Phoenix berubah pikiran, aku memasukan uang ke itu ke dasbor mobilku.
"Hmm, terima kasih." Apa yang biasanya dikatakan orang dalam situasi seperti ini? Saat ini aku tidak tahu harus berkata apa.
Phoenix menyeringai "Kau berhak mendapatkannya, Sayang."
"Kau sendiri juga mendapatkan bagian yang besar, Apa akhirnya kau akan pindah dari gua?"
Phoenix tergelak "Kau pikir itu alasanku tinggal di sana? Karena aku tidak punya uang?"
Sikap Phoenix yang riang membuatku berubah defensif. "Memangnya karena apa lagi? Gua itu bukan Hilton. Kau harus membajak aliran listrik dan kau mandi di sungai yang dingin. Aku yakin kau melakukannya bukan karena ingin melihat bagian tubuhmu menciut."
Perkataanku membuat Phoenix tertawa terbahak-bahak. "Kau mengkhawatirkan keadaanku, ya? Biar aku meyakinkanmu, semua bagian tubuhku baik-baik saja. Tentu saja, jika kau tidak percaya, kau selalu bisa…"
"Jangan pernah memikirkannya."
Phoenix berhenti tertawa, tapi masih ada kilat di matanya. "Terlambat untuk itu, tapi kembali ke pertanyaanmu. Aku tinggal di gua karena tempat itu lebih aman. Aku bisa mendengarmu atau siapa pun dari jarak berkilo-kilometer, dan aku mengenal tempat itu seperti telapak tanganku sendiri. Sulit bagi orang lain untuk menyerangku tanpa aku menyerang mereka terlebih dulu. Terlebih lagi, tempat itu sangat sunyi. Aku yakin kau sering sekali terbangun dari tidur nyenyakmu akibat keributan di sekitar rumahmu. Lagi pula, gua itu diberikan oleh seorang temanku, jadi aku selalu tinggal di sana setiap kali berada di Ohio dan memastikan kondisinya selalu baik, seperti janjiku padanya."
"Seorang teman memberimu gua? Bagaimana mungkin kau memberikan gua kepada seseorang?"
"Anak buahnya menemukan gua itu ratusan tahun yang lalu, jadi mereka menganggapnya sebagai milik mereka, seperti yang biasa dilakukan oleh semua orang yang memiliki tempat baru. Gua itu menjadi tempat tinggal selama musim dingin untuk para Indian Mingo. Mereka adalah suku kecil dari bangsa Iroquois, dan mereka juga merupakan salah satu bangsa Iroquois yang terakhir yang masih ada di negara ini setelah berlakunya Undang-Undang Pemindahan Indian pada tahun 1831. Tanacharisson adalah teman baikku, dan dia memilih untuk tidak pindah ke tempat reservasi Indian. Dia bersembunyi di gua saat semua anggota sukunya di paksa pindah. Seiring waktu berlalu, dia melihat suku dan adat istiadatnya dihancurkan, dan dia memutuskan dia tidak bisa lagi berdiam diri. Dia melukiskan tubuhnya sebagai tanda perang dan pergi untuk menjalankan aksi bunuh diri melawan Fort Meigs (benteng di sepanjang Sungai Maumee di Ohio) . Tapi, sebelum pergi, dia memintaku untuk menjaga rumahnya. Memastikan tidak ada seorang pun yang mengusik tempat itu. Di salah satu bagian gua, terdapat sisa-sisa tulang-belulang leluhurnya. Dia tidak mau orang kulit putih menodai tempat itu."
"Menyedihkan sekali," ujarku dengan suara pelan, memikirkan Indian kesepian yang rela mengorbankan nyawanya setelah melihat semua yang dicintainya dihancurkan.
Phoenix mengamati wajahku. "Itu pilihannya. Dia tidak bisa mengendalikan takdir, kecuali memilih bagaimana dia mati, dan orang Mingo terkenal memiliki harga diri tinggi. Baginya, itu adalah kematian yang terhormat. Kematian yang bisa mempertahankan peninggalan sukunya."
"Mungkin. Tapi, jika pilihan yang tersisa untukmu hanyalah kematian, tetap saja akan terasa menyedihkan. Sudah larut, Phoenix. Aku harus pulang."
Kemudian Phoenix menyentuh lenganku, ekspresi wajahnya sangat serius.
"Tentang apa yang kau ceritakan padaku tadi, aku ingin kau tahu bahwa semua itu bukan kesalahanmu. Bajingan semacam itu akan melakukan hal yang sama pada semua gadis yang dijeratnya, dan tidak diragukan lagi dia melakukannya pada gadis sebelum dan sesudahmu."
"Apa kau bicara berdasarkan pengalaman?" kata-kata itu terlontar begitu saja, tanpa bisa kuhentikan. Phoenix melepaskan tanganku dan melangkah mundur, memberiku tatapan yang tak terbaca.
"Tidak, aku tidak pernah seperti itu. Aku tidak pernah memperlakukan wanita sekejam, dan terlebih lagi wanita yang masih perawan. Seperti yang pernah kukatakan sebelumnya… kau tidak harus menjadi manusia untuk bersikap manusiawi."
Aku tidak tahu harus berkata apa, jadi aku hanya menginjak pedal gas dan pergi dari sana.
tbc...
makasih buat follow, favoritenya.
zenbaek/khspark/baeqtpie/yousee/pepepe/chankyoung/rly/Byun/SusuPisang/choi96/ChanBMine/gisaniya/ChanNhye/phantom.d'esprit/katsumi99/rizypau16/Delightfull61/Namenifbaek/ByunJaehyunee/nifbaek/Park Beichan/abcbcbcd/Latifanh
^terutama yang udah review, bikin semangat!:)
