A/N: Akhirnya selesai juga...
Maaf kalau isinya agak-agak ngaco atau gimana...
.
.
People Can Change In 10 Years
Chapter 7
By: Miharu Midorikawa
Beta'ed by: Furiez
.
.
"Saya. Mochida Kensuke, akan berjanji untuk mematuhi omerta dan menerimamu – Sawada Tsunayoshi, sebagai boss-ku."
Tsuna memberikan senyuman yang sehangat mungkin kepada Mochida.
Mochida merasakan pipinya memanas.
"Selamat datang di Vongola Family."
...
Saat itu Mochida tak mengetahui bahwa dia baru saja bergabung dengan oraganisasi mafia yang penuh dengan kegilaan – disebabkan oleh para Guardian sang Decimo.
...
Sudah sekitar dua minggu Mochida bekerja di Vongola Family ini, yap, bukan lagi di Vongola Corp. Jujur saja, ia lebih menyukai bekerja di sini dibandingkan di tempat kerjanya dulu.
Kenapa?
Simpel saja.
Karena di sini lebih nyaman dan bayarannya juga lebih tinggi.
Sekarang ia ditempatkan di bagian absensi (?), dengan kata lain- dia bertugas mencatat nama-nama, data orang-orang yang baru saja selesai menyelesaikan misi, dan siap kembali pulang ke markas Vongola Family. Baik orang-orang yang hendak izin mengambil sebuah misi atau cuti dan lain-lain.
Setelah data itu terkumpul, baru ia melaporkannya kepada sang Decimo- Sawada Tsunayoshi. Tentu saja hal itu harus dilakukan, apalagi untuk orang yang ingin cuti karena sebuah alasan, pasti butuh izin dari sang Decimo. Mana mungkin Tsuna membiarkan anak buahnya masuk-keluar seperti itu? Apalagi cuti dengan alasan yang tak jelas apa itu.
Mochida sudah mulai terbiasa bekerja di sini.
Ya.
Mulai terbiasa.
Kecuali dengan satu hal.
Keributan yang sangat menjengkelkan yang kadang-kadang terjadi disekitarnya- mulai dari suara ledakan yang entah berasal dari mana, suara tangisan yang begitu melengking, suara teriakan 'EXTREMEEE!' di pagi hari, suara tertawa yang mengerikan, dan lain-lain.
Dan,
Hari itu Mochida sedang istirahat siang setelah berjam-jam duduk di ruangan kerjanya. Menikmati pemandangan yang indah dihiasi oleh bunga warna warni di depannya, dia meregangkan tangannya keatas lalu menatap langit yang terbentang luas diatasnya itu.
"Langit...ya?"
Ditengah-tengah lamunannya, ada suatu suara yang mengganggunya.
"eeeEEXXXTREEMEEE!"
Suara itu pun seketika langsung berhenti di depan Mochida, "Mochida! Ikut aku lari mengelilingi kantor ini!" Teriak sang boxing maniak bersemangat kepada Mochida yang sedang cengo melihat sosok yang sekarang berdiri di depannya itu.
"HA?"
"Ayo sini!" Mochida pun ditarik paksa oleh Ryohei, "E-Eh? WOI TUNGGU!" Mochida pun akhirnya pasrah di arik oleh Ryohei dari belakang dan mencobauntuk mengikuti pace si mantan ketua klub Boxing Nami-chuu.
...
Beberapa menit kemudian
Di sebuah tempat (?)
Sekarang nafas Mochida sudah terengah-engah karena sudah sangat capek karena berlari Tuhan-tahu-berapa lama. "Kenapa Mochida?! Ayo kita lari lagi to the extreme!"
"G-Gak bisa lagi...udah capek...banget..." Mochida pun terkapar ke tanah karena sudah tak tahan mengikuti pace yang sangat ekstrim dari Ryohei. "Ya udah, aku tinggal ya! Bye bye~!" Ryohei pun melanjutkan kegiatan berlari GaJe nya keliling kantor sambil sesekali berteriak 'Extreme!'.
Setelah memastikan keadaan sudah aman, – memangnya kamu sedang perang, hah, Mochida? – dia lalu menyandarkan punggungnya di sebuah pohon, lalu membuka dasi dan blazernya. "Gila... capek banget..." Dengan lemas dia melirik ke arah jam tangannya dan dia pun mengeluh.
"Padahal tadi niatnya mau istirahat, napa sekarang malah capek-capekan begini? Bisa-bisa waktu istirahatku abis nih- eh?"
Mochida baru sadar, ternyata dia sedang berada di tepian danau yang indah- ukurannya tak terlalu besar, air danau berkilauan diterangi oleh sinar matahari, membuatnya terlihat seperti permata. "Whoaa..." Mochida kagum melihat danau yang begitu indah seperti ini.
Ada beberapa angsa berenang di danau itu dan ada dua buat sekoci sedang di ujung tepian danau yang lain.
"Ternyata ada danau segala..." Suasana terasa nyaman dan damai, benar-benar tak terlihat seperti-.
-Markas anggota Mafia.
"Ternyata Vongola Family tak terlalu buruk juga..." gumamnya pelan sambil terus melihat ke arah danau yang indah terletak di sampingnya itu. "Coba ada ada lagu yang enak didengar, sempurna sudah..."
"Midori tanabiku~ Namimori no~"
"Eh?"
"Daigaku shounaku~ Nami ga ii~"
'Permintaan gue terkabul?!'
"Herbivore?"
Seketika Mochida langsung menoleh ke arah suara yang tepat dibelakangnya itu, "Hi-Hibari?!" Pekik Mochida terkejut- mau apa coba dia tiba-tiba muncul dibelakang Mochida?
"Kamu ngapain di sini?" Tanya nya dengan datar- bukan. Bukan mukanya yang datar seperti si 'Chibi-Heichou / Chibi-Seme' di fandom sebelah. Bukan. Muka Hibari tak serata tembok atau teflon macam itu-
...
Mohon tunggu sebentar.
Author sedang ada 'urusan' dengan si Heichou yang tiba-tiba muncul dari fandom lain dan langsung menendang 'fabulous' Author.
...
"Thor? Author?" Panggil Mochida ke entah-kemana-itu, "Hn. Biarin aja author itu. Mau di bunuh kek, mau di rape kek, gua gak peduli." Dengus Hibari dengan bosan.
"WOI! Jangan gitu dong! Nasib gue gimana?!"
"Mana gua urusin."
"Lo itu ya-"
"Mema-" Kata-kata Hibari terputus karena Author baru balik dari fandom sebelah dengan penampilan yang ngenes sambil memukul Hibari dengan sebuah nanas. "Kenapa harus nanas juga sih?!" Dan Hibari pun jadi OOC karena dipukul sama nanas.
"Udah, lo diem aja!" Perintah Author. Lalu, Hibari dan Mochida pun menutup mulutnya.
...
Mari kita lanjutkan lagi.
Selamat menikmati.
...
Mochida menatap Hibari dengan muka cengo, sebelum akhirnya, "Harusnya aku yang bilang gitu!" Tanpa sadar Mochida berteriak kepada sang Hibari Kyoya yang sekarang berdiri tepat di depannya itu. Hibari pun memicingkan matanya lalu mengeluarkan kedua tonfa-nya yang entah dia simpan di mana.
"Kau berani berteriak padaku, herbivore?"
"E-Eh...Itu.. Ke-keceplosan..." Mochida mengangkat kedua tangannya- tanda bahwa ia menyerah. Sebenarnya dia sangat ingin langsung kabur dari tempat itu secepat yang ia bisa, tapi tenaganya sudah terkuras karena berlari dengan Ryohei tadi.
Perlahan...
Hibari pun berjalan mendekati Mochida.
"A-Ah, etto... Hibari?"
"Kamikorosu."
"GYAAAAAAA!"
Teriakan tersebut bisa terdengar sampai ke dalam kantor Vongola Family. Tapi tak ada seorang pun yang panik karena mendengar suara teriakan itu- mau bagaimana lagi, mereka sudah terbiasa. Pegawai yang sedang bekerja di dalam gedung pun sebagian pasti berpikir seperti ini, 'Sekarang siapa yang menjadi korban Guardiannya Decimo?'
Tentu saja.
Teriakan itu pun sampai ke pendengaran sang Decimo yang sedang bekerja di dalam ruangannya.
...
Di ruang kerja sang Decimo,
Sawada Tsunayoshi.
...
"Ara? Teriakan siapa itu?" Tanya Tsuna heran dan menghentikan pekerjaannya untuk sesaat. "Entahlah. Mungkin teriakan korban Hibari." Ucap seorang pria tinggi dan tampan, matanya yang tajam tersembunyi di balik bawah fedora yang ia pakai.
Tsuna menghela nafas panjang dan mengusap-usap bagian belakang kepalanya, "Padahal sudah kubilang agar tidak meng-kamikorosu orang-orang disekitarnya... harus pakai cara apa lagi agar bisa membujuknya...?"
"Aku punya cara."
"Eh?" Tsuna menatap mantan guru privatnya itu dengan pandangan terkejut, "Apa? Apa caranya?" Mata dan muka Tsuna sekarang penuh dengan cahaya harapan (?) yang dipancarkan ke arah pria yang memakai fedora itu.
"Cium Hibari. Dengan begitu dia pasti patuh kepadamu."
"Ok!- tte, MANA MUNGKIN AKU BISA!" Gugat Tsuna sambil menggebrak meja, si penanya diam sejenak, lalu dia mengangkat sedikit ujung fedoranya- membuat Tsuna menatap langsung ke mata hitam yang tajam itu.
"Kenapa gak bisa?"
"Oh ayolah Reborn! Aku ini masih normal, aku straight!" Jelas Tsuna.
"Meskipun berkata begitu, kedekatanmu dan para Guardianmu – terutama yang cowok – itu sudah di ambang batas sekedar 'dekat' atau 'akrab'."
Tsuna cengo.
"Sampai-sampai banyak anak buahmu yang membikin sebuah grup- dimana anggotanya semua adalah 'Fujoshi'-" Dan Tsuna tahu apa arti 'fujoshi' itu, "Grup- ah, mungkin bisa dibilang fanbase itu, sudah memiliki lebih dari 1000 orang anggota. Mereka sampai membuat website, grup FB, official account twitter, blog-"
"Stop! Stop! Itu 'kan mereka yang seenaknya menentukan!"
"Kalau begitu bisa kau jelaskan kenapa kamu memeluk Gokudera dengan erat di UKS hari itu?" Tsuna tersentak dan mulai duduk kembali dengan nyaman ke kursi. Tsuna melirik kesana kemari dan berusaha menghindar dari topik yang diajukan Reborn.
"I-itu... karena kurasa dia sedang butuh seseorang disampingnya..."
"Kalau beberapa hari kemarin kau mandi bersama Yamamoto, bisa jelaskan?" Seringaian Reborn semakin lama semakin lebar seperti Chesire Cat.
"Bukannya itu sudah wajar- berhubung kita ini sesama lelaki dan dia ini sahabatku."
"Hoo? Kalau dengan Mukuro-"
"STOP! KENAPA JADI OOT GINI?" Bentak Tsuna, "Biarlah, aku suka melihat reaksimu yang panik seperti itu."
'Lagipula mukamu tadi itu sangat imut dimataku.' Lanjut Reborn dalam hati karena mementingkan harga dirinya sebagai 'The World's Greatest Hitman'.
Tsuna sekali lagi menghela nafas dan me-rileks-kan tubuhnya yang sudah sangat lelah akibat berdebat dengan Reborn tadi. "Jadi... Tadi kau ke sini mau apa?" Tanya Tsuna dengan lemas.
"Kau gak tau?"
"Ya gak lah, orang kamunya OOT (Out Of Topic) terus!" Tapi Reborn tak bergeming atas gertakannya tadi. Karena lelah, Tsuna tak ingin melanjutkannya. "Ada seseorang yang ingin kumasukkan ke Vongola Family."
"Oh? Siapa dia?"
"Dia-"
TOK TOK TOK
Dengan timing yang pas dan hebat, pintu ruangan kerja Tsuna pun diketuk. "Permisi." Terdengar suara wanita di balik pintu itu, suaranya terdengar lembut. Tsuna mengangkat alisnya dan menatap kearah mata hitam gelap Reborn.
"Wanita?"
"Dia berguna kok untuk Family." Tsuna hanya memberi 'Hmm' sebagai jawaban kepada Reborn. Tsuna menarik nafas yang dalam dan berubah menjadi 'Boss Mode'-nya.
"Masuk." Ucap Tsuna. Tak lama kemudian, dua pintu mahogani megah nan kokoh itu terbuka dengan pelan. Menampilkan seseorang dengan rambut cokelat kemerahan dengan warna mata yang senada dengan rambutnya. Iris cokelat karamel itu terbelalak saat melihat sosok wanita yang berada di depan pintu itu.
"K-Kau, Miharu 'kan?! Yang waktu itu ada di reunian?!"
Wanita itu hanya tersenyum kalem dan berjalan mendekati meja Tsuna, "Iya, perkenalkan, nama saya Midorikawa Miharu- mulai hari ini saya bekerja di divisi bahasa Inggris Vongola Family."
"B-bahasa?" Ucap Tsuna tak percaya.
"Hn, dia pandai dalam bahasa Inggris- tapi sayangnya dia hanya mencurahkan bakatnya itu lewat fanfiction." Ujar Reborn.
"F-Fanfiction? Kok bisa dia sampai masuk ke Vongola Family?"
"Soal itu, saat aku sedang mengetik fanfiction-ku, ada review dari seorang guest bernama 'Reborn'. Di sana tercantum sebuah alamat website, dan di sana aku diajak untuk masuk Vongola Family- tentu saja aku terkejut saat mengetahui bahwa Boss nya itu adalah kamu, Tsuna."
"Be-Begitu ya..."
"Iya."
"Terus-" Kata-kata Reborn terputus saat pintu ruangan Tsuna terbuka dengan keras, 'Pintu-ku...' Batin Tsuna merengek.
Di sana terdapat seekor (?) Mochida berdiri dengan nafas yang ngos-ngosan – ditambah lagi dengan penampilan yang babak belur, beberapa bagian pipinya ada yang lebam, luka sayatan bisa tampak di bagian tangan, ditambah lagi bajunya yang sekarang sudah compang-camping.
"M-Mochida?!" Tsuna pun kaget dan berdiri dari kursinya. Reborn hanya menatap sosok Mochida dengan mata yang penuh dengan ketertarikan dan Miharu hanya menatap Mochida dengan pandangan yang biasa-biasa saja sambil menutupi mulutnya dengan tangannya yang memakai sarung tangan hitam itu.
"T-Tsuna..."
"A-apa?" Entah kenapa, sekarang Tsuna merasa gugup.
"BISA KAU BILANG KEPADA CLOUD GUARDIANMU ITU AGAR TIDAK SEENAKNYA MENG-KAMIKOROSU ORANG-ORANG?!" Teriak Mochida dengan frustasi.
"Sudah aku bilang beberapa kali... tapi tetap saja..." Tsuna pun duduk kembali ke kursinya yang nyaman itu dan mulai memijit-mijit kepalanya yang pening karena masalah dan kejutan yang baru saja ia dapat tadi. Tsuna tak menyadari bahwa Reborn sudah menyeringai-ria.
"Hn. Sudah kubilang juga kamu tinggal cium-"
"NGGAK! Aku masih straight! Masih normal!" Gugat tsuna sekali lagi sambil menggebrak meja- Mochida dan Miharu hanya bisa sweatdropped melihat tingkah laku Boss mereka.
"Ah, sudahlah. Oh ya, Miharu."
"Ada apa, Tsuna?" Tanya Miharu heran.
"Bisa kau antar Mochida ke UKS?- Ah, apa kamu tau letaknya?"
"Aku tau dan bisa mengantarnya ke sana kok." Jawab Miharu dengan senyuman, Tsuna hanya bisa menghela nafas dengan lega. "Baguslah begitu, soalnya jika aku minta ke Reborn pasti dia gak akan mau nganterin Mochida." Tsuna melirik kearah Reborn- yang dibalas oleh tatapan sinis darinya.
"Siip! Aku pergi dulu ya~ Bye bye, Tsuna~" Dan Miharu pun mendorong punggung Mochida dengan paksa. "O-Oi! Pelan-pelan dong, sakit nih!"
"Udah lu diem aja!" Perintah Miharu yang membuat Mochida menutup mulutnya. Tsuna hanya bisa melihat scene itu dengan ekspresi muka yang terkejut dan Reborn mengangkat alisnya.
"Whoa..." Itulah satu kata yang Tsuna ucapkan setelah beberapa menit yang canggung bersama Reborn tadi.
"Tak kusangka dia punya sifat yang seperti itu." Ucap Reborn.
"A-aku juga... oh ya, Reborn. Tadi apa yang ingin kau bicarakan sebelum si Mochida datang?" Tsuna menegakkan punggungnya dan menempatkan kedua tangannya di dagunya, Reborn berbalik lalu berdiri tepat di depan Tsuna- sekarang ekspresinya berubah menjadi sangat serius.
"Hm?"
"Miharu akan menjadi sekretaris pribadimu."
"Ok- Eh, APA?!"
To Be Continued
.
OMAKE;
"Ow ow! Hati-hati dikit bisa gak sih?!" Rintih Mochida yang sedang ditarik oleh Miharu menuju UKS. "Udah jangan banyak rewel." Dan Mochida pun sekali lagi menutup mulutnya dengan rapat. Setelah mereka sampai UKS, Miharu heran karena tak ada siapa pun di dalam ruangan itu.
"Umm... Lukamu cukup dibersihkan alkohol, di beri obat merah, lalu diperban cukup 'kan?" Ucap Miharu sambil melihat-lihat isi kabinet yang berisi obat-obatan dan peralatan yang lainnya.
"Mochi-"
"OI! AHO-USHI! CEPET KESINI!" Teriak seorang bomber yang sedang berlari mengejar cowok yang terlihat sangat panik. "G-GAK MAU!" Rengek si cowok sapi itu. Tak lama kemudian bomber itu- Gokudera mengeluarkan beberapa dinamitnya dan siap melemparkannya kepada Lambo.
"Hiiiii!" Lambo pun masuk ke UKS- yang di depannya terdapat Miharu dan Mochida, "OI!-" Sialnya, saat Gokudera ingin memasuki UKS, dia bertubrukan dengan Miharu yang sekarang sedang berdiri di dekat pintu masuk UKS.
DAN ITU..
Menyebabkan bom yang tadinya ingin dilemparkan kepada Lambo- malah sekarang berserakan di lantai... …..DAN Apinya sudah menyala.
"GYAAAAAAAA!"
Dan Tsuna bisa mendengar suara teriakan lagi di kantornya.
END OF OMAKE.
A/N:
Chapter debut kerja Miharu dan Mochida sudah...
Chapter berikutnya apa ya?
Review? :)
