Desclaimer: Masashi Kishimoto

Judul: Innocent Liar

Rate: T-M

Warning: OOC, crack pair, DLDR, semi-canon, Gaje, Typo(s) de-el-el.

Summary: Tim 7 generasi ini sungguh berwarna. Yui si misterius Raven, Hatake Irie yang dewasa sebelum waktunya dan Natsu Uzumaki pembuat onar wahid. Kiba rasa ini akan menarik terlebih lagi mengetahui sebuah genjutsu rahasia Yui.

Hanabi baru saja akan tidur ketika ada seekor elang pembawa pesan yang menghampirinya.

Uchiha Sasuke mengakui Yui sebagai putrinya. Kemungkinan Yui adalah anak dari Hinata-sama. Baik Yui dan Sasuke tidak ada yang membuka mulut soal ibu kandung Yui.

-Hyuuga Suta-

Hanabi meremas kertas yang dibawa oleh elang pembawa pesan itu. Elang yang tadinya berada di sana langsung pergi kemali ke Suna dengan sebuah pesan.

.

.

.

.

"Oi Teme! Apa yang baru saja kau bilang?" Naruto mengabaikan putranya yang sedang kritis dan menghampiri Sasuke.

"Kita bicarakan besok di kantor Hokage" ucap Sasuke kalem.

Kakashi dan Irie yang berada di dekat Yui yang sedang ditangani oleh tim medis saling pandang.

"Aku tidak menyangka paman Sasuke punya anak apalagi sebesar ini" bisik Irie.

"Aku juga tidak. Aku yakin tidak pernah mengajarinya hal-hal yang tidak baik. Tapi ternyata dia bisa memiliki Yui. Luar biasa..."

Irie menatap Kakashi dengan pandangan -_-

Keributan kecil yang dibuat oleh Naruto dan Sasuke membuat Yui tidak nyaman.

"Berisik!" teriaknya yang langsung membungkam Naruto dan Sasuke.

"Tolong jangan ganggu Yui yang sedang sakit" ucap Kakashi.

"Kau berhutang penjelasan padaku"

Setelah mengatakan itu Naruto pergi ke tempat Natsu dirawat. Ia sedikit penasaran dan kesal dengan Sasuke karna merahasiakan hal besar seperti ini.

Sasuke menghampiri Yui yang masih sakit. Ia bisa melihat raut kesakitan dari wajah sok tenang Yui.

"Payah" ucap Sasuke yang dihadiahi delikan dari Yui.

Irie dan Kakashi menonton interaksi dari ayah dan anak itu dengan ekspresi 'Lihat apa yang terjadi selanjutnya'.

"Kenapa kau mengatakannya?" tanya Yui. Sasuke tau apa yang dimaksud Yui.

Sasuke mengangkat kedua bahuna. "Mungkin sebelum mata-mu yang bicara bahwa kau Uchiha dan membuat keributan"

"Oh.. kukira"

Jujur saja Yui agak terkejut Sasuke mengatakan kebenaran pada semua orang pada kesempatan ini. Dan jawaban barusan agak membuatnya kecewa.

Tim medis sudah selesai mengobati luka dalam Yui dan pergi dari sana.

"Dari mana kau belajar genjutsu?"

"Orochimaru. Aku banyak belajar jutsu-justu hebat darinya. Tapi mengingat aku harus menyembunyikan kekkei genkai-ku, aku tidak bisa melakukan hal-hal hebat. Sebenarnya aku lebih hebat dari yang kau kira lho"

'Sombongnya' kata Irie dalam hati.

"Darimana kau mengenal Orochimaru?"

"Rahasia"

Yui tersenyum menang melihat raut wajah kesal Sasuke.

"Kalau urusanmu denganku sudah selesai, pintu keluarnya ada di sana"

Yui menunjuk pintu keluar dengan dagunya. Sementara itu Kakashi terkekeh pelan mengamati interaksi unik itu. Irie geleng-geleng kepala.

"Sebaiknya kita pergi" Kakashi memberi saran.

Kakashi dan Irie pergi dari tempat itu.

"Tak kusangka kecebongku yang dulunya tidak tau apa-apa sekarang sudah berani padaku ya. Kuharap kau bisa menjadi kupu-kupu cantik seperti kaa-sanmu. Tapi kau malah bermetamorfosis menjadi seekor singa"

Yui memalingkan mukanya. Sasuke yang melihatnya terkekeh dan mengacak rambut Yui.

"Kalau kau sudah sembuh, aku ingin lihat berapa kuatnya dirimu"

Sasuke keluar dari ruangan itu dengan langkah pelan. Yui hanya memandangnya. Tangan kanannya meremas selimut yang ia pakai.

.

.

.

.

Irie mendapat lawan yang setimpal dengannya. Lawannya adalah seorang shinobi yang tiga tahun lebih tua darinya.

Mereka sama-sama pengguna elemen tanah. Pertarungan sengit itu berlangsung hampir satu jam dengan kemenangan Irie yang menggunakan raikiri untuk serangan akhir.

Irie langsung melompat ke pelukan Kakashi setelah memenangkan pertarungan itu. Kakashi terkekeh. Ia merasa sifat Irie sangat berbeda dengannya dan mirip Naruto. Muridnya yang ia juluki ninja mengejutkan nomor satu.

"Aku akan menjadi chunnin, tou-san!"

"Masih ada pertandingan lagi setelah ini, tau!"

Irie langsung loyo. Kakashi tertawa melihatnya. Dimatanya Irie sangat mirip Naruto. Mungkin saat Yuugao hamil Irie, ia sangat membenci Naruto.

Pertarungan setelahnya adalah Mitsuki melawan shinobi dari Kiri Gakure. Irie sangat ingin melihat Mitsuki kalah. Ia sangat tidak suka dengan anak Orochimaru itu. Rivalnya dalam segala hal.

Flashback...

Dalam sebuah kontes jutsu pemuda yang diadakan setiap musim semi, Irie mengikutinya bersama Natsu dan yang lainnya.

Irie hampir saja memenangkannya tapi Mitsuki yang mengalahkannya.

Lalu saat promosi kenaikan kelas menjadi gennin, Irie di kalahkan oleh Mitsuki. Akibatnya Mitsuki lulus dari akademi setahun lebih awal dari teman seangkatannya.

Meski dengan perginya Mitsuki dari akademi membuat Irie menjadi yang tercerdas, Irie tetap tidak ingin kalah dari Mitsuki dalam hal apa pun. Ditambah lagi Mitsuki yang mempunyai hobi meledek itu. Membuat Irie ingin menghajarnya. Itu pun kalau bisa.

Lalu tidak sengaja Irie melihat Yui, kunoichi populer itu berada di gendongan Mitsuki di suatu sore. Setelah itu Irie juga ingin mendapatkan Yui.

Kali ini ia tidak akan kalah dari Mitsuki. Ia akan mendapatkan perhatian Yui. Sejak saat itu juga ia sering menggoda Yui agar mendapat perrhatian. Ia juga berlatih siang malam agar bisa mengalahkan dan melampaui Mitsuki.

Flashback End...

"Tou-san, apa di matamu aku ini hebat?"

Kakashi mengerutkan kening mendengarnya. Setelah beberapa saat ia mengangguk.

"Kau penuh semangat dan agak tidak tau malu. Tapi itu bagus untuk perkembanganmu"

Irie mendelik mendengar kalimat 'agak tidak tau malu' dari tou-sannya.

"Tapi kenapa Yui tidak memperhatikanku?"

Kakashi terlihat berpikir.

"Dengar. Di tim-7 selalu ada cerita yang serupa denganmu. Dulu ada Jiraiya yang menyukai Tsunade tapi Tsunade menyukai orang lain. Lalu ada Obito yang menyukai Rin tapi Rin menyukaiku. Yang paling berhasil adalah Naruto yang menyukai Sakura yang menyukai Sasuke. Itu pun Naruto menggunakan cara licik"

Irie menunduk. Ia yakin akan memenangkan Yui. Ia akan mengalahkan Mitsuki yang sombong itu.

"Kudengar ada yang menguntitmu belakangan ini" bisik Kakashi yang membuat Irie merona.

"Dia hanya kagum padaku" ucapnya malu-malu.

"Kau juga hanya kagum pada Yui. Ingin dapat perhatian, ya. Aku jadi ingat sebuah cerita"

"Cerita apa?"

"Si penguntit yang menyukai si bodoh yang mengejar seorang si pintar yang kagum pada si brengsek"

"Dari judulnya saja sudah panjang"

Irie memfokuskan pandangannya saat melihat Mitsuki kewalahan. Ia tersenyum menang melihat Mitsuki yang hampir terkena kunai.

"Ini kisah antar Hinata, Naruto, Sakura dan Sasuke"

"Bagaimana ceritanya?"

"Dulu ada seorang gadis bangsawan yang menyukai Naruto secara diam-diam. Tapi Naruto menyukai Sakura dan Sakura menyukai Sasuke. Sebenarnya Naruto hanya mencari perhatian dari Sakura dan Sakura hanya mengidolakan Sasuke. Lalu seiring bertambahnya usia mereka, mereka mengerti perasaan masing-masing. Sasuke lah yang terlihat tidak memiliki perasaan. Dia terlalu buta oleh dendam. Sakura lalu menikah dengan Naruto karna hamil duluan. Dan itu membuat Naruto senang. Sakura juga mulai membuka hatinya pada Naruto"

Kakashi melirik kearah Irie yang mulai mencerna perkataannya. Putranya itu terlihat berpikir.

"Tapi semenjak pengumuman bahwa Naruto dan Sakura menikah, Hinata menghilang. Banyak orang yang mengira Hinata sedang menenangkan diri. Tapi selama beberapa bulan, Hinata belum ditemukan. Para klan di Konoha mulai membantunya. Tapi Hinata bak ditelan bumi"

Kakashi menghembuskan nafas dalam.

"Setelahnya Naruto terus mulai merasa kehilangan dan baru menyadari bahwa ia mencintai Hinata. Hubungan Naruto dan Sakura mulai merenggang. Sampai Natsu lahir, Naruto lebih memilih urusannya sebagai hokage dari pada keluarganya. Tiga tahun terakhir ini hubungan Naruto-Sakura mulai membaik berkat Natsu"

Irie menatap Kakashi.

"Lalu apa yang terjadi pada Sasuke? Kenapa dia bisa mempunyai Yui?" tanya Irie.

"Aku juga tidak tau. Sasuke menjadi ninja pengelana yang pergi ke berbagai desa ninja. Bisa jadi Yui adalah hasil hubungan terlarang" bisik Kakashi.

Irie mengangguk mengerti. Ia memang masih bocah, tapi tau maksud Kakashi menceritakan cerita barusan. Mungkin saat ini ia adalag Jiraiya, Obito dan Naruto. Tapi walau Naruto berakhir dengan Sakura, Irie yakin kalau di dalam hati Naruto pasti tersimpan nama Hinata.

Ia tidak ingin seperti itu sebenarnya. Tapi ia akan mengalahkan Mitsuki di segala hal. Ia sudah bertekad akan menjadi hebat agar mengalahkan Mitsuki.

"Jangan sampai menyesal ya" Kakshi berkata sambil tersenyum dibalik topengnya.

Irie berpikir sejenak kemudian mengangguk. Ia melirik Shan-Shan yang sedang menyemangati Mitsuki.

'Cih! Orang seperti itu masih ada saja yang menyemangati. Katanya dia menyukaiku, kenapa malah mendukung musuhku?' batin Irie.

Mitsuki keluar sebagai pemenang. Suta dan Shan-Shan memeberinya selamat. Dari tim-7 Konohamaru, hanya Mitsuki dan Suta yang lolos ke babak selanjutnya. Shan-Shan yang merupakan ninja medis dan pengguna senjata seperti Tenten kalah oleh seorang pengguna genjutsu dari Kiri Gakure. Sementara itu Suta lolos berkat Byakuugan-nya.

"Oi Irie! Kau tau dimana Yui dirawat?" tanya Mitsuki kepada Irie.

"Yui sedang tidak ingin diganggu" jawab Irie kesal.

Walau Mitsuki sering bersikap kasar dan selalu mengejek Yui, Irie tau kalau Mitsuki menyukai Yui. Mitsuki itu tsundere parah. Karna itulah Irie harus mendapatkan Yui di masa depan. Dan dengan senang hati ia akan tertawa mengejek ke Mitsuki karna Yui sudah menjadi miliknya.

"Sayang sekali. Mungkin nanti kita bisa menjenguknya Suta, Shan-chan"

'Shan-chan katanya?! Cih'

Mitsuki, Shan-Shan dan Suta pergi saat mereka dipanggil oleh Konohamaru.

Irie menatap Kakashi. Di dalam hati ia bertanya apa Yui sudah tau kalau Sasuke adalah ayahnya. Mengingat interaksi unik mereka tadi, sepertinya iya.

"Kenapa?" tanya Kakashi saat melihat wajah putranya.

"Nanti saja"

.

.

.

.

Yui memperhatikan tangan kirinya yang terdapat bekas luka seperti luka bakar. Wajahnya murung. Segera ia melilitkan perban di sana. Memang lukanya sudah sembuh, tapi ia tidak ingin orang lain melihat bekas luka itu.

Pandangannya menjelajah ke seluruh isi ruang medis. Warna coklat dan bukan putih. Ada jendela bulat dengan kaca tebal. Ada juga saluran udara yang dilapisi oleh semacam filter agar pasir tidak masuk bersama angin.

"Hai Yui-chan!"

"Mitsuki-kun"

Mitsuki tersenyum mengejek melihat kondisi Yui. Ia menghampiri ranjang tempat Yui tiduran dan duduk di sisi ranjang yang kosong.

"Aku terkejut melihat apa yang dilakukan oleh tou-sanmu"

"Aku juga. Kukira harus melihat mereka menikah dulu" Yui menyenderkan punggungnya di sandaran ranjang.

"Babak ketiga akan dilaksanakan sebulan lagi. Kau akan melawan Shinki Sabaku, anak Kazekage Gaara"

Yui menoleh dengan cepat. Gadis manis itu mendesah pelan.

"Ini tidak baik"

Mitsuki memgangguk.

"Lawanmu adalah pengguna boneka, ia bisa mengendalikan pasir besi dan juga pengguna elemen magnet. Kau harus berhati-hati dengannya"

"Aku tau. Aku tidak bisa membunuhnya kan?"

"Tapi kau tidak boleh kalah"

Yui mendengus. Ia sial sekali belakangan ini.

"Sebulan ini kau harus berlatih dan menguatkan jutsu-mu!"

"Aku tau!" Yui menutup kepalanya dengan bantal. Ia sudah cukup tertekan dan malah diceramahi.

"Kau ini"

Mitsuki menarik bantal yang Yui gunakan dan mengacak poni rata Yui.

"Aish! Kau bisa membuat tandanya kelihatan, baka!"

Yui memukul pelan tangan pria yang sudah ia anggap kakak itu.

"Seorang gadis tidak seharusnya mengumpat"

"Ya... ya... ya... dasar tukang ceramah"

"Yui-chan!" Shan-Shan dan Suta terlihat ngos-ngosan saat masuk.

"Hai kalian" sapa Yui dengan tangan kanan melambai, muka datar dan nada yang agak ramah.

"Ini pertama kalinya kau terluka. Biar ku periksa,ya"

Suta menggunakan byakuugannya untuk memeriksa aliran cakra Yui.

"Aliran cakramu baik-baik saja"

"Memang. Ninja medis yang menanganiku tadi kuakui hebat. Padahal tadi rasanya tanganku mau putus"

"Syukurlah kau baik-baik saja"

Yui teringat sesuatu dan tersenyum misterius.

"Mitsuki-kun, Suta-san, bisa kalian tinggalkan kami? Aku ingin bicara sesuatu dengan Shan-chan"

Shan-Shan menunjuk dirinya sendiri dengan pandangan bertanya.

Setelah kedua pria tadi pergi, Shan-Shan langsung menatap Yui penasaran.

"Aku tau apa yang kau lakukan pada Irie sore kemarin"

Kedua mata Shan-Shan melebar. Pipinya merona dan membuat Yui menahan tawa. Jaga image, Yui!

Yui berdehem pelan.

"Aku tidak sengaja melihatnya bersama Natsu. Ya ampun! Kau berani sekali. Lain kali kau harus lebih berani agar dia peka"

Yui sekarang benar-benar tertawa melihat ekspresi Shan-Shan.

.

.

.

.

Setelah diintrogasi oleh Kakashi dan Naruto, akhirnya Sasuke bisa bernafas lega. Ia tetap bungkam perihal Ibu kandung Yui.

Apa pun yang akan dikatakan orang desa nanti, Sasuke tidak perduli. Ini adalah awal dari rencananya untuk mendapat Hinata.

Karna menurut pepatah, jika ingin memenangkan hati ibunya, dapatan dulu hati anaknya.

Berlahan Sasuke menuju ruang rawat Yui. Ia ingin melihat putri imut namun judesnya. Sebenarnya Sasuke masih belum percaya bahwa ia sekarang adalah seorang ayah. Ia tidak bisa membayangkan apa yang Hinata lalui sembilan tahun ini.

Untuk itu Sasuke berjanji akan menjadi ayah yang baik bagi Yui.

Ketika membuka pintu, Sasuke tersenyum kecil melihat Yui yang dikerumuni oleh Mitsuki, Irie dan Natsu.

"Sudah malam dan kalian masih di sini?" tanya Sasuke membuat empat kepala itu menoleh kearahnya.

"Paman Sasuke!" Natsu-lah yang paling bahagia melihat Sasuke.

"Sebaiknya kalian cepat pergi ke penginapan"

Irie dan Natsu saling pandang.

"Kami baru ingin menjemput Yui" sahut Irie.

"Dan kedua kunyuk ini berdebat seperti biasa" Yui menunjuk Irie dan Mitsuki dengan dagunya.

"Kalau begitu kenapa kita tidak bersama kesana sekarang?" usul Sasuke.

"Paman Sasuke benar. Biar aku yang menggendongmu, Yui-chan"

"Yui, Aku dan Natsu itu sekamar, lebih baik aku yang menggendongnya!"

Yui memandang keduanya dengan pandangan datar.

"Aku akan jalan sendiri!" akhirnya Yui berkata.

"Tapi penyakitmu?" tanya Mitsuki.

Iya. Yui punya 'penyakit' aneh yang Mitsuki namai dengan 'kemalasan'. Kaki Yui tidak apa-apa jika dipakai berlari, tapi Yui akan cepat lelah jika berjalan biasa.

"Biar aku saja" Sasuke langsung menerobos dan memberi isyarat agar Yui naik ke punggungnya.

Yui menurut karna tidak ada pilihan lain. Ingat! Karna dia tidak punya pilihan lain. Bukan karna ia ingin.

"Kalian bertiga cepatlah!" perintah Yui.

.

.

.

Hinata tidak tau kenapa ia ada di sini. Mungkin karna hati nuraninya memang menginginkan tempat ini. Atau kakinya melangkah dengan sendirinya di tempat ini?

Yang jelas ia sudah berada di sini. Teringat akan mimpinya semalam. Ia bermimpi Neji menegurnya seperti biasa. Pria yang sudah Hinata anggap sebagai kakak itu memandangnya rindu.

"Kau tidak bisa lari dari masalah, Hinata-sama. Apa pun yang kau lakukan ini sudah salah sedari awal. Berhenti lari sebelum masalah ini semakin besar"

Hinata hanya menatap Neji dengan air mata berlinang.

"Pulanglah. Pulanglah ke rumahmu. Rumah yang sebenarnya. Kau sudah dewasa dan kurasa bisa mengatasi masalah ini"

Hinata sendiri hanya mengangguk kecil dalam dekapan Neji.

Sekarang Hinata melihat-lihat sekelilingnya yang banyak berubah. Ia menatap patung Hokage dan tersenyum saat melihat wajah cinta pertamanya terukir di sana.

Tangannya menutupi tudung jubahnya agar wajahnya tetap tersembunyi.

Beberapa menit kemudian ia sudah sampai di tujuan.

Hinata meneguk ludah kasar. Dengan byakuugannya ia melihat orang-orang yang ada di tempat itu.

Tou-san.

Hanabi.

"Aku pulang!"

Hinata membuka gerbang dan tidak terkejut saat menemukan Hiashi yang terlihat kaget. Hanabi yang sejak kapan ada di sana langsung memeluknya erat.

"Nee-sama!"

Hiashi menghampirinya dan memeluk kedua anaknya erat.

"Kemana saja kau selama ini?"

Hinata bisa mendengar suara bergetar ayahnya. Baru saja ingin bersuara, tiba-tiba ia sudah terisak.

"Maafkan aku, tou-san"

.

.

.

.

TBC Dulu...

Haloo semua~~Huh... setelah dua hari dilibatkan dengan tes-tes, soal kebahasaa-an dan matematika akhirnya pemantapannya tinggal dua hari...

Disela-sela belajar Bahasa Inggris aku ngetik Innocent Liar karna terus kepikiran.

Pas mandi inget Yui, pas orak-orek inget Sasuke, pas makan inget Hinata.Aku bener-bener dihantui!Dan untuk hubungan asmara para OC disini aku ngga terlalu pengen ada romansa-romansa gitu. Mereka kan masih usia 8-10 tahunan(?).

Aku ngga mau karakterku dicap bocah alay(?). Jadi hubungan ShanShan-Irie-Yui-Mr X kaya hubungan Hinata-Naruto-Sakura-Sasuke yang ada di ANIMENYA!

Nanti akan ada karakter baru yang bakal jadi Mr X. Sifatnya Yui itu kaya Sasuke ya. Dingin terus mulut pedes gitu.Yaudah lah ya.Maaf kalau ini agak mengecewakan. Karna apa? Karna aku masih abal. Jadi tolong dimaklumi.

Makasi yang udah review dan fav fanfic abal ini.

Makasi buat sasuhina69, clareon, yulia, dhantieee, Alyelsasals, haeri elfishy, keeta dan icatisa.

Tanpa kalian aku butiran pasirnya Gaara~~