Love Experiment

EXO's Fanfiction

ANNOTATION

Ide cerita sepenuhnya milik ©Curloey Smurf.

Jadilah pembaca yang bijak.

This is an EXO's fanfiction, Genderswitch, Byun Baekhyun, Park Chanyeol as main cast, other EXO member, guest star (?), etc as support cast. Pairing Chanbaek, Kaisoo, Hunhan. Genre Romance, Friendship. Length: 7 of 9. Rate: M but no NC.

I'm not a writer but I love to write.

e)(o

A/N. Sejujurnya saya penasaran sekali, apa FF saya seburuk itu ya sampai readersnya tidak mau review. Saya sempat memikirkan tentang ini ketika melihat jumlah readers yang ada, ini bukan masalah saya ingin populer atau apa tapi saya jadi mengerti alasan kenapa beberapa author pada akhirnya left FFN atau ada yang ngambek. Suka sedih saya kalau itu FF yang jadi favorit saya tiba-tiba discontinued karena hal ini. T T seriusan saya sedih padahal saya nunggu FF itu. Tapi saya tetap akan melanjutkan FF saya kok jika ada waktu luang macam begini, kalau lagi ada ide saya juga bakalan post FF baru. Btw yang buat saya bertanya-tanya dan sampai ngetik ini di sini itu karena saya pribadi merasa FF ini yang menjadi favorit saya. Sejujurnya saya sangat menikmati proses pembuatan FF ini. Haha Eh sudah, kebanyakan curhat. Here we go~

"Uh, kepalaku sakit sekali." Rengek Chanyeol.

Baekhyun menatap pria itu dari sudut ruangan dengan mata berkaca-kaca. "Tentu saja pabbo! Kau minum banyak sekali." Omelnya.

"Apa Palaz sekarang berpindah tempat? Uh, kenapa Palaz jadi berwarna aneh seperti ini?" Chanyeol mengedarkan pandangannya ke sekitar, mendapati pernik berwarna pastel dimana-mana.

"Itu karena ini bukan Palaz." Baekhyun mendumal.

"Whoa, hangat sekali." Pria itu meringkuk ke dalam selimut tebal yang tadi disiapkan Baekhyun usai mengantar kepergian Sehun dan Jongin. Pria itu bahkan mengusak-usakkan wajahnya pada permukaan selimut.

Baekhyun melangkah perlahan menuju dapur. Menyiapkan segelas air putih, sebutir aspirin dan secangkir cokelat panas. Dibawanya benda-benda itu ke ruang tengah. Ia menghela nafas saat menemukan Chanyeol tengah berguling-guling di karpet.

"Park, berhentilah. Minum ini agar sakit kepalamu berkurang."

Pria Park itu menatap Baekhyun dengan tatapan sengit. "Siapa kau? Kenapa kau mirip sekali dengan Baekhyun?" tatapan itu sungguh kekanakan sekali dan Baekhyun tidak bisa menahan tawanya.

"Ya! Kenapa kau tertawa? Apa kau mentertawakanku?" Rengek pria itu.

Baekhyun menggeleng. "Apa kau begini karenaku huh?" Tatapannya berubah sendu. Chanyeol menggeleng.

"Ani, aku tidak kenal noona ini siapa. Ah, noona mirip sekali dengan Baekhyunku, apa noona mengenal Baekhyunee?"

"Baekhyunee?" Ulang Baekhyun, Chanyeol mengangguk antusias.

"Aku rindu sekali pada Baekhyunee. Apa noona bisa menyampaikannya padanya? Baekhyun sedang marah padaku jadi aku tidak berani menemuinya."

Air mata itu meluncur di belahan pipi chubby Baekhyun. "Pabbo! Kenapa kau tidak menghubungiku sama sekali?"

"Kenapa noona menangis?" Pria Park itu melarikan jarinya untuk menghapus air mata yang lebih mungil. Kedua bola mata besar itu berkaca-kaca, bibirnya mencembik seolah ikut sedih karena melihat seseorang yang dianggapnya noona itu menangis.

Saat ini Park Chanyeol mungkin terlihat seperti pria idiot yang kekanakan, mungkin ia akan malu jika mengingat apa yang terjadi saat ia mabuk. Tapi Baekhyun tak peduli, asal ia bisa melihat wajah itu lagi.

"Nado bogoshipta."

e)(o

"Eungh." Baekhyun menggeliat dalam tidurnya.

Mata sipitnya perlahan terbuka, ia mengerjapkan matanya sebelum mengedarkan tatapan ke sekeliling. Gelap. Masih cukup gelap.

"Kau terbangun?"

Suara itu berhasil membuatnya mendongak. Baekhyun mengangguk. Ia tidak bisa menyembunyikan senyumannya. "Kepalamu sudah lebih baik?" Tanya Baekhyun dengan suara serak.

"Hum, gomawo."

Teringat sesuatu, Baekhyun melarikan punggung tangannya ke dahi Chanyeol. "Kau tidak demam, syukurlah." Chanyeol terkekeh.

"Kau merawatku dengan baik semalam."

Tadinya, setelah menangis dalam pelukan Chanyeol –yang masih berada dalam mode mabuk- akhirnya Baekhyun tertidur. Tapi sepertinya pria Park itu sudah berangsur sadar dan mengkonsumsi aspirin yang ia siapkan saat Baekhyun jatuh terlelap.

"Kau mabuk dan bertingkah seperti bayi semalam."

"Itu bukan aku." Bantah Chanyeol cepat.

"Ya ya katakan itu pada bayi besar yang terus merengek semalam." Chanyeol tertawa. Ia tidak memungkiri kejadian semalam. Ia tahu betul bagaimana memalukan tingkahnya jika sedang mabuk. Tapi lebih dari pada itu, pria Park itu sedang menyusun banyak hal yang ingin ia sampaikan pada sosok di dalam dekapannya itu.

"Baek."

"Hum?"

"Aku merindukanmu." Ada jeda sejenak di sana. "Daejeon sangat sepi tanpamu. Apa kau tahu aku bahkan membuang ponselku karena terlalu sepi?"

Baekhyun menatap Chanyeol terkejut. "Mwoya?"

"Aku kesal sekali karena tidak berani menghubungimu untuk meminta maaf, lalu aku melemparnya ke sungai." Chanyeol menghela nafas. "Mianhae."

"Astaga Park! Neo-"

"Aku tahu aku sangat keterlaluan."

Baekhyun tertawa keras. Ia tak habis pikir betapa konyolnya pria Park ini. Lalu dengan gerakan cepat, gadis itu menangkup wajah Chanyeol dan memberikan sebuah kecupan di bibir tebal itu. Dan Chanyeol tidak bisa untuk tidak terkejut akan hal itu.

"Baek, teman tidak berbagi ciuman satu sama lain." Ucapnya hampir berbisik. Baekhyun menggeleng.

"Itu bukan sebuah ciuman." Lalu gadis itu kembali menempatkan bibirnya di atas permukaan si pria Park. Kali ini dengan sedikit lumatan.

Chanyeol, si pria normal tentu tidak akan melewatkan godaan dari sosok terkasihnya bukan? Meski jauh di lubuk hatinya ia mengerang, menolak keras perbuatan yang ia lakukan saat ini. Tapi nyatanya tubuhnya berkata lain, ia membalas lumatan Baekhyun dan bahkan menempatkan dirinya untuk mempermudah akses menjelajahi mulut yang lebih mungil.

"Itu baru yang namanya ciuman." Bisik Baekhyun dengan nafas terengah.

Chanyeol tersenyum. "Hum, aku tahu."

"Jadi, apa yang terjadi selama aku pergi? Mau bercerita?" Chanyeol menggeleng.

"Aku tidak ingin membicarakannya. Itu kenangan yang sangat buruk." Jawab Chanyeol. Baekhyun terkikik.

"Ah matta, kau harus pergi bekerja hari ini bukan?" Baekhyun melirik jam dinding yang menempel di sisi utara permukaan dinding apartemen, tepat di hadapan mereka. Jam empat pagi.

"Aku hanya ingin memelukmu seharian ini." Bisik Chanyeol, Baekhyun terkikik geli. Ia mengusakkan wajahnya ke dada Chanyeol.

"Aniya, kau tidak boleh mangkir dari kewajibanmu Park."

"Hanya hari ini."

"Well, setidaknya kau bisa menghubungi pihak kantor untuk membuat surat ijin atau semacamnya kan?" Chanyeol mengerang malu.

"Aku tidak punya ponsel!"

Baekhyun berdecak. "Siapa pria bodoh yang membuang ponselnya huh? Cepat bangun. Daejeon dan Seoul cukup jauh, kau harus segera bersiap Park."

"Aku berbohong Baek, kami mendapat waktu libur hari ini karena membantu memenangkan sebuah tender besar. Jadi kembali ke tempatmu dan mari berbaring sepanjang hari."

"Jinja?" Chanyeol mengangguk sebagai jawaban, matanya setengah terpejam. Dan Baekhyun tidak bisa mengabaikan wajah tampan itu.

e)(o

Chanyeol memperhatikan gadis bersurai hitam yang sedang menundukkan kepalanya itu. Dihadapannya banyak sekali tumpukan kertas. Tangan mungil itu menggenggam sebuah bolpoin berwarna peach. Sesekali terdengar erangan dari gadis itu dan Chanyeol akhirnya menyerah. Ia tidak suka diabaikan. Terkadang ia merasa sifat si mungil dihadapannya menular padanya.

"Kau mengganti warna rambutmu lagi Baek."

Baekhyun menoleh. "Kau sudah bangun?" Chanyeol mengangguk. Baekhyun mengulurkan lengannya. "Hum, apa hitam bagus untukku?"

"Neomu Yeppo." Baekhyun tersipu.

"Kau baru mengatakan itu setelah aku mengganti warnanya menjadi hitam. Apa sebelumnya aku tidak cantik? Oh, Park apa kau tahu berapa jumlah penggemarku di Yonsei?"

"Kau selalu cantik Baek, tapi ini yang terbaik."

"Benarkah? Cih, dasar perayu."

"Apa yang kau lakukan?"

Bukannya menjawab, Baekhyun justru sibuk meniup-niup helaian surai yang tidak ikut tergulung asal membentuk poni acak. "Kenapa kau menggemaskan sekali sih Baek?" Chanyeol tidak bisa menahan diri untuk mengecup bibir Baekhyun.

"Apa kau baru menyadarinya Park." Chanyeol menyerah atas jawaban Baekhyun.

"Jadi apa yang sedang kau lakukan?" Tanya Chanyeol.

"Ini daftar persiapan pernikahan. Hanya detail-detail kecil." Chanyeol tertarik. Mendudukkan dirinya di samping Baekhyun, meraih asal salah satu dari lembaran-lembar kertas di atas meja secara asal.

"Siapa yang akan menikah?"

"Aku." Chanyeol merasa baru saja mendapatkan serangan jantung kecil. Ia bahkan tak sadar sedang menahan nafasnya.

"Uh, ternyata banyak sekali yang harus dipikirkan. Padahal sudah jelas menggunakan jasa wedding organizer. Kenapa hal-hal kecil seperti ini tidak diserahkan pada pemberi jasa saja sih." Gumam Baekhyun. Gadis itu masih tidak menyadari etintas lain yang berada di ruangan yang sama masih terpaku.

"Baek, kau akan menikah?" Baekhyun mengangguk. Ia tersenyum riang setelahnya, meninggalkan satu serangan jantung lain ke pria di sisinya.

"Kau yang jadi mempelai prianya ya?" Ucapnya setelahnya, dan Chanyeol merasa kepalanya berputar karena kalimat itu. "Luhan yang akan menikah. Aku tidak tahu kenapa ia bersikeras segera melangsungkan pernikahan dengan Sehun sementara Sehun saja masih kuliah."

"Lu-Luhan?"

"Hum, kau tidak lupa teman seapartemenku Luhan bukan? Yang pendek itu." Chanyeol tertawa kikuk.

"Semua temanmu pendek Baek, kau juga-"

Baekhyun mendelik tak setuju. "Aku tidak pendek!"

"Arra, kau mungil. Bukan pendek. Aku akan mengingatnya dengan baik."

"Ngomong-ngomong soal Sehun, kau mengenal Sehun dan Jongin?"

Chanyeol mengangguk. "Aku baru tahu kau juga mengenal mereka. Kami berteman sudah sejak lama, sepuluh tahun? Oh bahkan mungkin lebih. Aku sudah mengenal Sehun sejak kecil. Kalau Jongin aku baru mengenalnya saat kami bersekolah di JHS yang sama."

"Jadi kau tahu Jongin adalah mantan kekasih yang ku ceritakan waktu itu?" Chanyeol menggeleng.

"Aku baru tahu kau mengenal mereka tadi malam saat aku sadar dari mabuk." Baekhyun menghela nafas lega.

"Dengar, jika mereka menceritakan hal-hal buruk tentangku jangan dengarkan. Arraseo?" Baekhyun berbicara serius.

"Geurae." Chanyeol berusaha menahan senyumnya. Baekhyun-nya benar-benar menggemaskan.

e)(o

Baekhyun mengamati sebuah kartu undangan yang tergeletak di atas meja ruang tengah. Ada dua buah kartu di sana, satu untuknya dan satu untuk Luhan. Sepertiya itu undangan acara formal. Lalu ia membaca sebuah note kecil yang ditempelkan di atas undangan itu.

SAVE ME!

D.K.

Dahi Baekhyun berkerut. Itu jelas tulisan Kyungsoo. Gadis itu memang tidak kembali ke apartemen sejak pulang lebih dari seminggu yang lalu. Lalu ada apa dengan undangan dengan note aneh ini? Baekhyun menutup mulutnya.

"Apa Kyungsoo akan dinikahkan?" Pekiknya. Ia buru-buru berlari keluar apartemen.

Tapi kemudian kembali dalam hitungan detik. Ia lupa membawa mantel dan tas bersamanya. Setelah mendapat apa yang ia butuhkan, Baekhyun segera berlari menuju basement. Ia harus menemukan Luhan dan membicarakan hal ini.

e)(o

"Uh, bukankah satu jam yang lalu kau berpamitan akan pulang?" Luhan menatap Baekhyun aneh.

"Aku memang sudah pulang." Nafasnya masih terengah.

"Lalu kenapa kau kembali?"

Baekhyun menyerahkan dua buah kartu undangan bernuansa midnight blue dan silver itu kepada Luhan. "Apa ini?"

"Kita harus melakukan misi penyelamatan!"

"Apa Kyungsoo akan-" Baekhyun mengangguk. Keduanya saling bertukar tatapan. Dengan satu gerakan cepat Luhan meraih tasnya.

"Kajja. Kita harus temui Jongin dulu." Putus Luhan.

e)(o

"Wae? Kenapa banyak sekali orang di sini?" Tanya Jongin. Pria itu menguap.

Baekhyun dan Luhan mengernyit jijik melihat penampakan Jongin yang sangat berbeda dari imagenya. Pria berkulit tan itu hanya memakai celana pendek selutut dan kaos hitam, rambutnya berantakan dan wajahnya terlihat kuyu.

"Jadi kenapa kau membawa wanita-wanita ini ke sini Hun?"

Sehun menggedikkan bahu. "Mereka memintaku mengantar ke apartemenmu." Jongin menyipitkan matanya. Menguap lagi.

"Masuklah, aku akan mandi sebentar." Ucap Jongin lalu berjalan ke kamarnya.

Baekhyun meraih ponselnya. Menggerakkan jemarinya di atas layar ponsel.

"Chanyeola!" Serunya.

"Wae Baek?"

"Apa kau sedang sibuk?"

"Ani, aku baru saja selesai penelitian di lapangan."

Baekhyun meletakkan tasnya sebelum berucap. "Bisakah kau ke Seoul nanti malam?"

"Wae? Apa terjadi sesuatu?"

"Hum, aku tidak bisa menjelaskannya sekarang tapi nanti." Bibir Baekhyun mengerucut. Ia sedang tidak sempat bicara panjang lebar meski ingin.

"Arraseo, aku akan segera kesana setelah jam kerja berakhir."

"Ne. Gomawo."

"Baek?" Baekhyun menahan nafas, ia tidak ingat sejak kapan jantungnya akan berdebar begitu keras dan bahkan melakukan kebiasaannya untuk menahan nafas setiap kali Chanyeol memanggil namanya seperti itu.

"Wae?"

"Jangan lupakan makan siangmu."

"Arraseo, neo do. Keuno."

.

.

.

"Jadi nona nona, apa yang membawa kalian ke apartemenku?" Tanya Jongin to the point. Semua mata tertuju pada pria itu.

"Kau, apa kau serius?"

Jongin mengernyitkan dahi bingung atas kalimat Luhan.

"Maaf tapi-"

"Ku bilang aku akan memenggal kepalamu jika menyakiti Kyungsoo." Baekhyun bersuara. Jongin semakin bingung dengan arah pembicaraan ini.

"Aku benar-benar tidak mengerti apa-"

"Bagaimana bisa kau membiarkan Kyungsoo dijodohkan kalau kau bilang bersungguh-sungguh?" Sinis Baekhyun. Jongin tersenyum, ia akhirnya mengerti apa arti dari kunjungan tiba-tiba ini.

Jongin menyandarkan punggungnya ke sandaran sova. "Kau lucu sekali Baek." Pria itu menggedikkan bahu. "Bukankah kau tahu sendiri siapa aku?"

"Ya! Ku pikir kau benar-benar berubah. Sialan! Kemari kau!" Baekhyun meringsek maju tapi Sehun buru-buru menahannya. Ia yakin Luhan sebentar lagi akan melakukan hal yang sama dan satu-satunya yang bisa diharapkan untuk mencegah perang dunia di apartemen ini adalah dirinya.

"Jongin!" Umpat Sehun kesal.

"Aku tidak pernah membiarkanmu mendekati Kyungsoo lagi." Ucap Luhan tegas, gadis itu memang tidak menampakkan ekspresi apapun tapi semua orang tahu Luhan yang seperti ini jauh lebih mengerikan dari pada Kyungsoo yang sedang marah sekalipun.

"Apa Kyungsoo tidak bercerita? Kami tidak benar-benar berkencan. Memang tidak ada perjanjian tertulis, tapi tidak akan ada yang melibatkan perasaan dalam hubungan ini." Jongin menggedikkan bahunya tak peduli.

Sehun mendengus. "Bisakah kalian menghentikan pembicaraan ini? Kyungsoo akan bertunangan malam ini, kau bersikeras datang ke sini dengan alasan itu bukan noona?"

Baekhyun melempar kartu undangan ke meja Jongin. "Itu kartu undangan perayaan Dousoo Financial Group. Kyungsoo tidak kembali sejak seminggu yang lalu bahkan ia sulit sekali dihubungi. Ia meninggalkan note ini pada kami. Dan lagi, pertemuan keluarga yang terakhir ku dengar darinya ia akan dijodohkan oleh keluarganya." Jongin memperhatikan surat undangan itu.

"Kau benar. Mereka akan bertunangan malam ini." Celetuk Jongin.

"Apa kau tahu siapa yang mungkin menjadi tunangan Kyungsoo noona?" Tanya Sehun pada Baekhyun. Gadis itu menggeleng, bahunya merosot.

"Kyungsoo tidak bercerita soal itu."

Luhan menatap Baekhyun. "Haruskah kita meminta tolong Joonmyeon oppa untuk mengagalkannya?"

"Mereka bahkan sudah menolak Joonmyeon oppa karena status sosialnya." Baekhyun mendesah sebal.

"Kenapa orang tua Kyungsoo kolot sekali sih." Cibir Luhan.

"Tapi ku pikir tidak ada salahnya meminta bantuan Joonmyeon oppa. Bukankah mereka masih saling mencintai?"

Jongin mendengus. "Kalian bodoh atau apa? Itu sama sekali tidak akan berguna. Kyungsoo harus bertunangan dengan pria itu apapun yang terjadi." Luhan mendelik.

"Dousoo terancam kolaps. Mereka butuh investor yang bisa membantu keuangan mereka pasca kasus tahun lalu."

"Tapi bukan berarti Kyungsoo harus dikorbankan! Lagi pula kenapa tidak meminta bantuan kakeknya saja sih?" Bantah Baekhyun.

"Hubungan appa dan kakek Kyungsoo tidak baik." Gumam Luhan putus asa. Jongin menghela nafas bosan.

"Pulanglah, aku sudah memiliki janji. Dan apapun yang kalian lakukan hanya akan berakhir sia-sia. Oh majja, kau juga mungkin saja akan berada di posisi Kyungsoo suatu saat nanti Baek. Jadi tinggalkan Chanyeol secara baik-baik sebelum kalian berbuat lebih jauh. Kau tahu, hubungan kalian tidak seberuntung Luhan dan Sehun yang berasal dari strata sosial keluarga yang sama."

Baekhyun mengerjapkan matanya terkejut. "Apa maksudmu?"

"Kau pikir aku tidak mencari tahu hubungan kalian? Lalu, kau pikir kenapa Chanyeol mau-mau saja kau manfaatkan tapi ia sama sekali tidak mengajakmu berkencan? Status kalian berbeda." Jongin meraih jaket kulit yang tersampir di bahu sova.

"Aku pergi, kalian segeralah keluar jika sudah selesai." Ucap Jongin sebelum benar-benar pergi.

Luhan menatap Sehun. "Apa maksud Jongin? Untuk apa ia mencari tahu hubungan Chanyeol dan Baekhyun?" Sehun mendesah lelah.

"Itu karena Jongin tidak ingin Chanyeol mengalami nasib buruk. Kajja kita pulang."

e)(o

"Hun."

"Ya, kenapa noona?"

"Apa kau bisa menceritakan tentang Chanyeol?"

Sehun menatap Baekhyun terkejut. "A-apa maksud noona?"

"Apapun itu. Jongin benar, aku bahkan tidak tahu apapun tentang Chanyeol." Baekhyun mendesak Sehun dengan tatapannya. "Kenapa Chanyeol harus bekerja sekeras itu? Dimana keluarganya?"

"Apa kau yakin ingin mendengarnya? Ini bukan cerita yang pendek."

"Hum, aku yakin."

e)(o

"Oh, kau sudah datang?"

"Ya Baek, jadi ada apa?"

Baekhyun menghela nafas, ia berusaha menyingkirkan pikirannya tentang perkataan Sehun dan Jongin. "Mandilah, kau pasti lelah sekali. Aku sudah menyiapkan pakaian ganti untukmu."

"Geundae, apa yang mendesak sampai aku harus datang hum?"

"Aku akan menjelaskannya setelah kau selesai Chan."

"Arraseo."

Chanyeol berjalan menuju kamar Baekhyun. Memang ada empat toilet di apartemen ini, tiga dilengkapi dengan bathroom –masing-masing kamar memilikinya- dan sisanya hanya toilet.

"Baek! Aku hanya melihat kemeja dan jas formal di sini!" Seru Chanyeol.

"Ya, kita harus pergi ke sebuah acara formal malam ini Yeol." Tidak ada tanggapan dari Chanyeol.

Baekhyun menahan nafasnya saat melihat sosok Chanyeol dalam balutan jas formal, ia sangat tampan dan itu mengganggunya. Tapi ada banyak hal tentang pria itu yang juga mengganggunya, membuat gadis itu tidak sanggup mengatakan pujian yang ingin ia sampaikan. Membiarkan kalimat-kalimat itu tertahan di ujung lidah. Dan akhirnya tak terucap.

"Baek? Sebenarnya kita mau kemana?"

"Kemarilah, aku akan merapikan rambutmu."

Chanyeol menuruti permintaan Baekhyun. Mendudukan diri menghadap meja rias milik Baekhyun. Gadis itu sendiri sepertinya sudah bersiap. Ia memakai gaun malam A line berwarna merah muda berbahan satin dengan aksen kristal di bagian tubuhnya. Chanyeol sebenarnya menahan tatapan kagumnya pada sosok malaikat Baekhyun dibalik gaun itu.

"Chanyeola."

"Hum?"

"Hari ini Kyungsoo akan bertunangan." Satu pertanyaan Chanyeol terjawab.

"Jadi, kita akan ke sana? Lalu apa yang membuatmu sedih?"

"Apa terlihat seperti itu?"

"Ya, sangat jelas."

"Kyungsoo dijodohkan dengan seseorang yang tidak dicintainya." Chanyeol mengangguk paham. "Tapi bukan itu yang membuatku sedih."

"Ne?"

"Bagaimana jika itu aku?"

Baekhyun menatap tepat ke mata Chanyeol.

"Bagaimana jika itu aku?" Ulangnya hampir berbisik. Chanyeol mengerjapkan matanya. Ia tidak tahu harus memberi jawaban seperti apa.

Pria itu menundukkan pandangannya, menghindari tatapan sendu Baekhyun yang selalu berhasil menyakiti hatinya. Ia menghela nafas panjang sebelum meraih jemari Baekhyun.

"Jika itu kau, maka kau akan menikah dengan pria itu." Ucap Chanyeol dengan suara serak.

Pria itu menarik nafas panjang. Berdiri tegak dihadapan Baekhyun. Tangan kirinya diselipkan di pinggang Baekhyun sedangkan tangan kanannya bergerak meraih dagu gadis itu. Tanpa kata, pria itu beralih menyesap bibir tipis gadis dihadapannya dengan hati-hati.

.

.

.

"Jongin tidak sepenuhnya benar." Sehun berkata setengah menerawang. "Chanyeol berasal dari keluarga miskin di pinggiran kota Busan. Ibunya bekerja sebagai buruh cuci di sana. Mereka hanya hidup berdua. Tapi beliau meninggal saat kami berada di JHS, tepatnya ditahun ketiga Chanyeol dan tahun pertamaku. Aku pernah tinggal di Busan sebelumnya dan di tempat keluargakulah mereka bekerja. Ibunya sebagai buruh cuci dan Chanyeol sebagai asisten gardener."

Baekhyun mengeratkan pegangannya pada cup coffee di tangannya.

"Aku tidak tahu dimana keberadaan ayah Chanyeol sampai sebuah surat itu tiba di sekolah kami. Aku tidak sengaja menemukannya di ruang penerimaan pengiriman, itu surat untuk Chanyeol tapi dikirim ke sekolah kami. Kau tahu kan Chanyeol adalah pria yang cerdas, jadi ku pikir ia sekolah di sana karena beasiswa. Tapi ternyata itu bukan beasiswa."

"Huh?"

"Pengirim surat itu adalah orang yang menanggung seluruh biaya pendidikan Chanyeol. Ia bahkan membuat sebuah klaim asuransi pendidikan atas nama Chanyeol sampai perguruan tinggi. Tidak hanya itu, banyak sekali klaim asuransi yang terdaftar atas nama Chanyeol. Kami tidak benar-benar tahu itu siapa sampai tidak sengaja mendengar Ibu Chanyeol berkata bahwa itu adalah appanya."

"Kau yakin akan siap mendengarnya Baek? Ini tidak akan mudah. Bagiku sekalipun." Baekhyun menunduk, ia sendiri ragu.

"Ya, lanjutkanlah. Aku sudah bersiap apapun yang akan ku dengar." Sehun menggumam untuk beberapa saat.

"Surat itu berasal dari Jepang."

"Apa maksudmu?"

"Ayahnya adalah seorang mafia Jepang."

"H-huh?" Baekhyun mengerjapkan matanya, apakah cerita ini akan berganti menjadi romance action? Baekhyun dengan segala imajinasinya yang liar.

"Namanya cukup terkenal. Ah, kau akan lebih terkejut setelah ini. Ibu Chanyeol merupakan anggota keluarga Park, ia putri tunggal anggota dewan Park. Tidak banyak yang tahu karena memang hal ini tidak di ekspos ke publik."

"Maksudmu dewan Park yang itu? Perdana Menteri Park, kandidat calon Presiden Korea selanjutnya? Park Tae Joon?" Sehun mengangguk.

"Ibu Chanyeol dijodohkan dengan seorang pengusaha kaya tapi kemudian pria itu dibunuh oleh seorang mafia Jepang. Park Chan Mi ibu Chanyeol berselingkuh dengan mafia itu dibelakang suaminya. Karena itulah Ibu Chanyeol diusir dari kediaman Park. Dan itulah kenapa mereka berakhir menjadi keluarga miskin di pinggiran Busan."

"M-mwo? Lalu kenapa Ibu Chanyeol tidak bersama dengan mafia itu? Maksudku appa Chanyeol?"

Sehun menghela nafas. "Appa Chanyeol saat itu mendapat masalah sehingga di deportasi dan dicekal di Korea Selatan selama beberapa tahun. Dan sangat tidak mungkin jika mereka bersama, keluarga Park adalah keluarga terpandang. Sekalipun Ibunya sudah di depak, ia tetap memiliki darah Park. Jika sampai media menangkap isu yang sudah di simpan rapat oleh Dewan Park maka karir pria itu sudah pasti akan hancur tak bersisa."

"Lalu kenapa pria itu tiba-tiba saja muncul?"

"Seorang appa tidak akan meninggalkan putranya sendirian Baek. Tapi tidak dengan Chanyeol, ia membenci kedua orang tuanya. Ia sama sekali tidak menyentuh klaim asuransi miliknya. Memilih untuk bekerja keras demi keberlangsungan hidupnya."

"Dimana appa Chanyeol sekarang?"

"Pria itu masih berada di Jepang. Tapi aku tidak pernah mendengar kabar apapun tentangnya. Chanyeol juga tidak peduli. Berita terakhir yang ku dengar beberapa tahun lalu adalah pria itu sakit-sakitan dan akan terjadi regenerasi pemimpin kelompok mafia itu. Chanyeol salah satu kandidatnya tapi ia mengabaikannya. Jadi Baek, Jongin sedikit salah tentang perbedaan strata sosial kalian karena secara harfiah ia jauh lebih kaya dan berkuasa dari keluargamu Baek. Hanya saja, ia adalah pria dengan latar belakang berbahaya."

Baekhyun mengangguk.

"Aku tidak tahu cinta sesulit ini." Gumam gadis itu. Sehun terkekeh.

"Ya Baek, kau hanya belum tahu jika cinta sesulit itu."

Tiba-tiba Baekhyun menatap tajam ke arah Sehun. "Ya! Siapa yang mengijinkanmu menggunakan banmal padaku huh? Panggil aku noona!" Sehun meneguk ludahnya kasar.

"Y-ya, mianhae Baekhyun noona."

"Aku titip Luhan padamu, aku akan menemui Chanyeolku."

Baekhyun pergi begitu saja.

e)(o

Luhan melirik jam tangan yang melingkari pergelangan tangannya. Setelah itu ia menatap tajam ke arah Baekhyun dan Chanyeol yang baru saja tiba. "Kalian terlambat lebih dari 30 menit." Ucapnya tajam. "Dan make up mu berantakan Baek." Mata Luhan memincing. Baekhyun tersenyum gugup.

"Sudahlah Lu. Acara sudah dimulai."

"Kapan rencana pertunangan akan diumumkan?" Gumam Luhan gelisah. Sedari tadi ia tidak menemukan sosok Kyungsoo dimanapun. Ia bahkan sudah menyelinap ke sisi-sisi hallroom.

"Apa itu Kyungsoo?" Baekhyun mengerjapkan matanya sebelum memincingkannya.

"Eoddi?" Luhan bertanya, gadis itu mengedarkan pandangannya.

"Di sana. Dekat panggung utama, gaun putih tulang."

"Majja! Itu Kyungsoo. Haruskah kita ke sana?" Luhan menatap Baekhyun.

"Andwe Lu. Jangan gegabah." Cegah Sehun cepat, bahunya merosot lesu.

"Kita bahkan tidak bisa menolongnya." Desah Luhan.

Lalu tatapan Baekhyun dan Kyungsoo bertemu. "Kita kesana sekarang. Aku berjanji hanya akan bicara dengannya." Chanyeol mengeratkan tangannya dipinggang Baekhyun, mencegah wanita itu melangkah.

"Chan-"

"Tidak Baek, ini mungkin yang terbaik."

"Acara selanjutnya, malam ini adalah pertunangan putri keluarga Do..."

Luhan dan Baekhyun refleks melihat ke arah panggung utama. Ucapan pembawa acara barusan membuat keduanya terkejut. Terlebih sosok yang bersama Kyungsoo di panggung utama adalah seseorang yang mereka kenal baik.

e)(o

"Aku sungguh tidak ingin bertunangan dengan pria jahat sepertinya!" Pekik Kyungsoo. Gadis itu bertingkah out of character sekali malam itu.

Baekhyun menghela nafas melihat betapa berantakannya ruang tengah apartemen mereka. Tissu penuh air mata dan ingus bertebaran dimana-mana. Luhan masih duduk di samping Kyungsoo berusaha menenangkan teman karibnya itu. "Soo, kau akan menyesal setelah ini." Gumam Baekhyun.

"Aku memang sedang menyesal saat ini!" Pekik Kyungsoo, yang dimaksud Baekhyun adalah sampah yang bertebaran dimana-mana. Pada akhirnya yang akan membersihkan semua itu adalah Kyungsoo sendiri.

"Jadi bagaimana bisa Jongin yang bertunangan denganmu huh?" Tanya Baekhyun setelah menyingkirkan beberapa lembar tisu di sisi Kyungsoo. Ia mendudukkan diri di sana setelahnya.

"Jangan sebut nama itu lagi!"

"Arraseo arraseo."

"Ternyata pria yang dimaksud appa adalah Jongin, huwee," Luhan dan Baekhyun berusaha menabahkan diri menghadapi Kyungsoo yang seperti ini.

Dalam hati Baekhyun dan Luhan mempertanyakan sikap Jongin tempo hari. Pria itu memang benar-benar aneh.

e)(o

Love Experiment

"Apa yang kau tulis di sana?"

"Geunyang mwo. Apa kau sudah selesai?"

Pria bertubuh jangkung itu tersenyum. "Ya. Kita pergi sekarang?"

"Kajja."

"Chanyeola."

"Wae?"

"Apa masih jauh?"

"Aniya."

Gadis bertubuh mungil itu mengeratkan pelukannya pada pinggang si jangkung. Kedua kelopak matanya terpejam menikmati hembusan angin di permukaan wajahnya. Surainya berhamburan tapi ia hiraukan, meskipun jika pada kondisi biasanya ia bahkan akan mengumpati angin yang merusak tatanan rambutnya yang kini berwarna hitam itu.

Keduanya baru saja memarkirkan sepeda Chanyeol tepat di depan sebuah bangunan berlantai tiga. Bangunan itu tampak sedikit menyeramkan dengan lumut dan tanaman menjalar di sisi depan dinding bangunan.

"Kau yakin ini tempatnya?" Baekhyun mengeratkan pelukannya pada lengan Chanyeol.

Chanyeol menatap Baekhyun, menahan senyum melihat wajah ngeri gadis mungil itu. "Ya. Aku bahkan sudah bertahun-tahun ke sini."

"Kalau begitu, kita masuk sekarang?" Chanyeol mengangguk, menepuk pelan tangan Baekhyun yang melingkari lengannya.

.

.

.

"Eomma annyeong." Sapa Chanyeol, mereka saat ini berada di sebuah funeral house dipinggiran kota Busan.

Beberapa waktu lalu setelah mengetahui fakta tentang keluarga Chanyeol dari Sehun, Baekhyun memutuskan untuk menyimpan fakta itu sendiri. Akan tetapi ia tidak bisa menahan keingintahuannya tentang alasan Chanyeol tidak menceritakan tentang kehidupan pribadi pria itu.

Maka di suatu malam selepas mereka berbincang panjang, Baekhyun mengutarakannya. Ia bertanya tentang keluarga Chanyeol. Saat itu Chanyeol hanya mengatakan bahwa ia memiliki seorang ibu, akan tetapi sudah meninggal. Tanpa menyinggung sedikitpun perihal ayah kandungnya, tapi Baekhyun cukup mengerti. Lalu di sini lah mereka sekarang, mengambil waktu liburan Chanyeol untuk berkunjung ke tempat penyimpanan abu mendiang ibu kandungnya.

"Ah, ini Baekhyun."

"Annyeonghaseyo eommonim, Byun Baekhyun imnida." Baekhyun membungkuk canggung.

Lalu keduanya berbincang sebentar sebelum berpamitan.

"Kau pasti sulit mencari waktu untuk mengunjungi eommamu." Gumam Baekhyun. Chanyeol tersenyum tipis.

"Ya. Bagaimana denganmu huh? Kau mau bercerita tentang keluargamu padaku?" Baekhyun menggigit bibirnya. Sebenarnya ia juga sudah memikirkan kemungkinan hal ini.

Chanyeol menepuk pucuk kepala Baekhyun pelan. "Aku tidak akan memaksa. Tapi, kenapa kau tiba-tiba bertanya soal keluargaku? Kau masih mencurigaiku berbuat yang tidak-tidak malam itu ya?" Kedua alis Chanyeol bertemu. Baekhyun terkikik.

"Aniya, geunyang geumgeumhae."

"Kajja, kita kembali sekarang. Aku harus segera mengembalikan sepeda milik paman Yoo ini lalu kita kembali ke Seoul."

Baekhyun mengangguk, segera menempatkan diri di boncengan Chanyeol. "Chanyeola." Panggil Baekhyun saat sepeda itu mulai berjalan perlahan menjauhi gedung itu.

"Hum?"

"Kau mau bertemu dengan eommaku juga?"

"Huh?"

"Eommaku juga sudah tenang di sana sejak aku lahir. Aku tidak tahu wajahnya tapi appaku memperlihatkan foto pernikahan mereka kepadaku sepanjang waktu." Baekhyun menghela nafas panjang. "Aku juga sudah lama tidak mengunjungi eomma."

"Kapan?"

"Huh?"

"Kapan kau ingin pergi? Aku akan ikut denganmu saat itu tiba."

Baekhyun tersenyum lebar. "Liburanmu minggu depan?"

"Kajja uri."

.

.

To Be Continue.

e)(o

[Interaction Corner]

Btw sebelum saya menulis fanfiksi atau apapun saya sudah pasti memikirkan kelangsungan FF itu dari awal sampai akhir, plot, bagaimana cerita mengalir semua sudah saya pertimbangkan sematang mungkin, terlebih saya tipikal orang yang konsisten jadi walaupun ada request dll (maaf sekali) tidak saya ambil kecuali jika memang saya merasa ada bagian yang hilang. Percaya atau tidak saya juga melakukan mini riset untuk setiap FF saya, jadi seimajinatif apapun FF itu pasti masih ada jawaban ilmiahnya wkwk saya tidak main-main jika sudah memutuskan untuk membuat detail sebuah cerita.

Semoga hal ini tidak mengurangi kenyamanan kalian membaca FF saya. haha

Kazuma B'tomat : Haha benar sekali! Kyungsoo kan emang terkenal dengan emak style. Semoga pertanyaan kamu terjawab di chapter ini hehe.

babybaekchan :Ala ala friendzone gitu kan ya. Kenapa cemburu kalau bukan apa-apa heu~ sakit tapi without blood.

Anithiasariy : Jangan banyak berharap, nanti kecewa. Jangan sedih doakan saja saya banyak ide. Wkwk Btw sejujurnya saya kesulitan dengan FF yang memuat banyak tokoh, agak ribet membagi part mereka, semoga saya mendapat mood untuk membuat FF friendship sejenis. Saya sepertinya harus banyak mengecewakan kamu, bocoran sedikit interaksi BaekLuSoo nanti akan semakin sedikit karena sudah mau end jadi saya sengaja fokuskan ke Chanbaek.

parkobyunxo : Surprise! Wkwk Ada saatnya mereka akan bersatu. (Semoga). haha

Guest : Emmm ada apa ya. Wkwkwk

kepala jamur : Emmm, mesra tidak ya, mesra tidak ya.

Thank you and Love ya all, really really really~

Enjoy!

Sincerely,

Curloey Smurf