Belum sempat Changmin berpikir terlalu dalam, suara pintu terbuka membuatnya tersentak. Ia panik. Kakaknya biasa pulang setelah matahari lama menyingkir dari , kemungkina tetap ada dimana Yunho pulang lebih awal. Ia berdiri tiba-tiba, membuat kursi yang didudukinya terjatuh. Ia merasa harus bersembunyi sekarang, tapi pikirannya seolah terhenti.

"Wow, Changmin! Aku tidak tahu kau seterkejut ini melihatku."

Jjong muncul dengan wajah bahagia, senyum lebar, dan tangan terbuka yang siap memeluk Changmin dan ia membiarkannya. Changmin pasrah ketika Jjong merengkuh dan menciumnya.

"Hei, kau kenapa? Seperti melihat hantu saja.", tanya Jjong masih mendekap Changmin.

"Hantu yang tampan", Changmin tersadar. Jjong tertawa lalu kembali mencium Changmin. Ia baru melepaskannya setelah keduanya bernapas berat.

"Merindukanku?"

"Aku lebih merindukan oleh-oleh sebenarnya."

Ia kembali tertawa, "Jika kau begitu menginginkan oleh-oleh harusnya kau menerima tawaranku untuk ikut. Orang Tokyo benar-benar menggila akhir-akhir ini."

"Oh, ya? Itu bagus. Lalu, apa kau membeli baju pesananku?"

"Oke, oke, kau menang. Akan kuberikan, tapi setelah kita bersenang-senang."

Changmin sempat berteriak girang ketika Jjong mengangkat dan menggendongnya ke kamar tidur. Ada hal berat yang seolah mengganggu pikirannya, entah apa. Namun, itu hanya sekilas. Setelah pintu mengayun tertutup, Changmin lupa apapun selain kenikmatan yang ia rasakan.

.

Yunho pulang cepat hari ini. Ia ingin bertemu Changmin lebih dari yang ia akui. Siwon menggodanya ketika ia sedang terburu ke area parking, bilang bahwa dirinya sudah menatap liku kekasih sehingga jarang bergaul dengannya. Yunho menyangkal, tapi sepertinya ekspresinya tidak sedefensif yang ia pikir melihat Siwon berteriak sambil tertawa senang. "Kenalkan padaku, bangsat!"

Ia mampir di warung Jajamyun rekomendasi Donghae, mengingat Changmin tempo hari menggumam nama masakan itu. Membeli dua porsi beserta beberapa makanan pendamping yang Yunho tahu Changmin pasti suka, ia membayar lebih sebagai tips kepada pelayan yang mengantar pesanannya. Yunho berpikir remaja itu manis dan ia tidak sengaja mengatakannya dengan keras, membuat anak laki-laki itu tersipu. Oh, Tuhan! Yunho tidak bermaksud untuk menggoda, tapi ia tetap melayangkan senyum manisnya. Ia benar-benar tidak bermaksud membuat pelayan itu tertunduk malu dengan muka memerah. Tapi, oh, perasaannya hari ini sedang senang dan ia tidak peduli lagi.

Segera setelah pelayan manis itu pergi dari hadapannya, Yunho bergegas pergi. Ia memacu mobilnya nyaris batas maksimum. Yunho adalah pengendara yang baik, ia tetap menaati peraturan meski jantungnya berdetak tak beraturan. Entah kenapa, ia seolah merasa malam ini istimewa. Entah kenapa.

Yunho membuka pintu dan memanggil nama Changmin sambil berjalan ke arah meja makan. Ia mengeluarkan makanan dari kantung belanja dan meletakkan bermacam menu itu di atas meja. Ia hendak mengambil ketika seseorang memasuki dapur. Yunho menyambutnya dengan senyum sebelum ekspresinya berubah bingung dan terperanjat serta kepalanya penuh dengan Siapa? dan Apa-apaan? Lebih kepada cara berbusana pria itu yang mana hanya mengenakan boxer.

"Siapa kau? Dan bagaimana kau bisa masuk ke apartemenku?"

Apartemenku, dia bilang. Apartemenku. Yunho mengingat bahwa ia sedang berada di rumah orang lain, properti milik teman Changmin. Memori Yunho menyuplai sebuah nama.

"Jong Hyun"

"Baiklah, sepertinya kau mengenalku. Kau teman tidur Changmin selama aku pergi?"

Jong Hyun bersiul, memperhatikan Yunho dari atas ke bawah. Ia mengangguk lalu berkata dengan mengeluh tapi berekspresi senang.

"Man, bukankah kau pesaing yang tangguh?"

Retorika pertanyaannya diiringi tepukan di pundak Yunho setelah ia mendekat, melewatinya untuk mengambil air di lemari pendingin. Yunho terdiam, berdiri kaku tanpa mimik muka. Ia masih diam meski Jong Hyun berada di depannya, melihat makanan di atas meja.

"Waah, bung! Changmin benar-benar mendapatkan penjaga, bukan? Si brengsek itu!"

Jong Hyun mengambil sepotong daging lalu memakannya, ia mengangguk sambil menjilati ibu jarinya. Ia mengambil sepotong lagi sambil bertanya.

"Jadi, bagaimana dia? Hebat, bukan?"

Yunho menatap Jong Hyun.

"Apa maksudmu?"

"Oh, ayolah! Seks, kau pasti ketagihan, kan? Dia tidak kehilangan sentuhannya." Jong Hyun menghadap Yunho, memasang ekspresi 'aku tahu kau tahu' dan nyengir, "Malah, dia lebih baik."

Yunho menatap tajam pada pria di depannya dan setelah kata-kata "Yep, aku baru saja merasakannya" dia melihat merah. Cengkeraman kuat di pergelangan tangannya membuatnya tersadar beberapa detik kemudian. Yunho mengamati posisi mereka, kedua tangannya di leher Jong Hyun dengan tubuhnya yang mendorong tubuh pria itu pada tembok. Ia melepaskan cekikannya, mundur selangkah sebelum sebuah tinju melayang ke wajahnya.

"Apa yang salah denganmu? Brengsek!"

Yunho berdiri tegak, matanya beringas. Ia tidak bermaksud untuk menyerang lagi, tapi ia murka pada pria di hadapannya. Jong Hyun di depan dinding, bersandar dalam posisi siaga. Air mukanya menyalak tidak terima. Ada tekanan khayal yang terasa nyata diantara keduanya. Dalam ketegangan ini Changmin muncul di ambang pintu dalam keadaan telanjang menyeret selimut. Ia tertahan disana, menatap terkejut pada dua orang yang bersitegang dalam ruangan itu.

Changmin membatin semua umpatan yang ia tahu dalam setiap bahasa yang ia kuasai. Ia baru ingat tentang Yunho dan hubungan canggung kakak-beradik mereka yang makin akrab. Yunho mungkin tahu bagaimana menyebalkannya dia, tapi kakaknya belum tahu betul seberapa bejat dirinya. Dan melihat Jong Hyun dan Yunho dalam satu latar adalah skenario terburuk, apalagi melihat situasi sekarang. Changmin merasa bulu kuduknya meremang.

"Changmin, atur lelakimu! Dia barusan mencekikku!"

Suara Jjong menyadarkan Changmin untuk mengumpat dengan suara tertahan. Ia tersentak melihat tatapan membunuh Yunho kini ditujukan kepadanya. Ia merinding, benar-benar merinding. Changmin teringat nasehat 'jangan membangunkan naga tidur' dan ia baru saja melakukannya. Ada cakar imajiner menyentuh urat lehernya, siap menyayat.

Tubuhnya terasa dingin ketika Yunho mendekat padanya lalu meraih tangannya, menggenggam erat pada pergelangan tangan. Yunho menyeretnya pergi sebelum ia punya waktu berpikir atau berontak.

"Y-Yunho.."

Changmin mengeluh sakit, tapi sepertinya Yunho tuli saat ini. Sebelum pinyu tertutup, Changmin sempat mendengar teriakan "Apa-apaan?!" dari Jjong dan berbagai sumpah serapah.

.

Changmin dilempar di atas ranjangnya. Ia melenguh saat tubuhnya tersentak keras. Ia bahkan hampir jatuh dari ranjang karena kekasaran Yunho dalam menanganinya. Tapi, kakaknya tidak peduli. Ia langsung berbalik arah dan menutup pintu dengan kuat.

Changmin merengkuh tubuhnya, ia sama sekali tidak menyangka Yunho bisa sebrutal ini. Sepanjang perjalanan kemari ia memeluk selimutnya erat karena Yunho ngebut di jalan yang ramai, membuat Changmin deg-degan, lalu akhirnya memasang sabuk pengaman. Proses pemaksaan Changmin di dalam rumah juga sama parahnya, Yunho mengulangi cengkeramannya pada pergelangan tangannya yang sudah merah meski Changmin tidak melakukan perlawanan. Ia tahu dirinya akan menjadi perbincangan para pelayan yang menyaksikan adegan sekali seumur hidup mereka.

Ia sesak. Seolah ada beban berat dalam batinnya, membuatnya ingin berterian kencang. Tapi, ia lelah. Pikirannya juga terasa payah dan buntu. Ia ingin istirahat, tidur sejenak.

Baru beberapa detik memejamkan mata, Changmin mendengar metal beradu di depan pintunya. Tidak mungkin. Ia melompat dari ranjang lalu berlari ke pintu, mencoba membukanya. Nihil. Dua daun pintu besar itu hanya goyah setengah senti, tidak lebih. Yunho menguncinya di dalam kamar. Bagus. Benar-benar bagus, Yunho.

Changmin berteriak dari dasar paru-parunya. Ia terbatuk kemudian dengan suara parau. Ia juga menendang dan memukul papan mahogani itu hingga tanggannya sakit. Tapi, tidak ada hasil apapun. Ia tetap terkurung sendiri di dalam satu-satunya ruang miliknya di rumah ini. Lalu, Changmin tertawa. Ia tertawa terbahak-bahak dan keras hingga kembali terbatuk. Pikirnya melayang pada cerita anak Rapunzel, dimana menurut situasi saat ini, dialah sang putri terkurung yang dijahati oleh penyihir. Hah! Sang putri harusnya berhati dan bersikap baik, bukan biadab sepertinya.

"Yunho, Yunho, Yunho.."

Changmin merapal nama itu mengingat kesalahannya pada sang kakak. Mulai dari mengabaikannya hingga menyerangnya secara seksual. Tapi, Yunho melakukan apapun kecuali bersikap buruk padanya. Sampai saat ini. Jika Yunho akhirnya murka dan memutuskan untuk membunuh Changmin sekarang, ia yakin tidak ada siapapun yang merasa kehilangan. Tidak ada, tidak ayahnya, tidak teman-temannya, tidak siapapun. Dan tidak akan ada orang yang mencurigai atau bahkan menyebut nama Yunho dalam penyelidikan kasus ini.

Ia tertawa tanpa napas. Membayangkan hidupnya yang bakal berakhir menyedihkan. Ia kembali tertawa, akhir yang pantas untuk hidup yang juga menyedihkan. Changmin terisak, berteriak.

"Yunho! Yunho! Yunho!"

.

Yunho mendengar teriakan itu, mendemgar, ratapan itu, dan mendengar isak tangis yang kesemuanya menyebut namanya bagai do'a. Hatinya tersayat. Betapa tidak? Ia telah berlaku kasar pada adiknya sendiri, bahkan mengurungnya. Entah pikiran apa yang merasukinya. Ia selalu gelisah di rumah, di kantor pun ia sama sekali tak bisa fokus. Pikirannya dipenuhi kabut Changmin.

Setelah tiga hari Yunho berdiri di depan pintu kamar Changmin. Menurut para pelayan, adiknya menolak segala makanan yang diberikan secara rutin padanya. Yunho tentu saja khawatir. Untuk itu ia membuka kunci dan menaruh tangannya pada dingin kenob pintu. Ia ragu, tapi melangkah maju.

"Changmin", panggilnya pelan.

Kamar itu gelap. Yunho berjalan tanpa mempedulikan saklar. Tujuannya adalah gundukan di bawah selimut itu. Selimut Jong Hyun, batin Yunho tidak karuan. Ia berdiri di samping ranjang dan memanggil nama adiknya sekali lagi. Tetap tidak ada tanggapan, ia duduk dekat tubuh yang tergulung selimut itu. Yunho menyentuhnya pelan.

"Hei, kau baik?"

"..."

"Changmin"

"Pergilah. Pergi dan jangan pernah kembali lagi."

Suara parau itu seolah menggerus hati Yunho. Oh, apa yang sudah ia lakukan pada adiknya? Yunho berusaha mengangkat bagian yang menutupi wajah Changmin.

"Maafkan aku, Changmin."

"Maaf, karena sudah berbuat kasar padamu."

"Maaf, meski aku kakakmu, aku tidak pernah bisa membuatmu bahagia."

"Maaf, kau harus melewati semua ini karena aku ada."

"Changmin"

-tbc-

an: Yep, sampai disini dulu :) Langsung nulis dan update gegara ditagih seseorang (lirik ajib4ff, yang bukannya review malah nodong tunggakan) padahal udah ganti nama lho.. Apa karena belum selametan, ya? σ( ̄、 ̄〃) Ya udah, fic ini sebagai berkat (bahasa Indonesianya apa sih?) untuk kalian para pembaca yang masih setia menunggu, dan bagi yang lupa, semoga fic ini dapat menjadi pengingat bahwa cerita ini pernah eksis dan masih berkelanjutan. Entah sampai kapan.

Untuk masalah gaya penulisan, mungkin agak berbeda dari bab-bab sebelumnya. Haru sudah membaca dari awal lagi tentu saja dan adanya perubahan adalah langkah untuk menjadi lebih baik. Mohon dimaklumi, ini juga dikarenakan lamanya jarak waktu dari bab sebelumnya. Maaf (シ_ _)シ

Akhirnya, semoga kalian menikmati fanfiksi ini, terima kasih banyak. ╰(*´︶`*)╯ -haru784