naruto by masashi kishimoto

(no profit gained from this ff)

warning: possibly ooc, typo(s), etc.

ENJOY!

.x.

"Jadi, kenapa kau ada di sini? Bukannya kau bilang kau sibuk dan mengatakan akan datang terlambat?" Konan membuka suara dengan pertanyaan. Pria yang ditanya hanya melirik sebentar lalu menatap lagi ke gelas kaca berisi likuid yang katanya memabukkan.

Pria itu menenggak likuid tersebut dalam satu tarikan napas. Ah, entah mengapa tenggorokannya masih terasa kering—atau terasa seperti terbakar? Bukankah likuid itu sendiri berasa demikian? Tidak, sepertinya tenggorokannya memang terasa kering. Pria itu masih merasa haus—atau sebenarnya rakus?

"Aku merasa haus makanya datang ke sini." Itachi, pria yang ditanya oleh Konan, menjawab pertanyaan Konan dengan jawaban yang bodoh namun terdengar serius.

"Haus?" Konan bertanya lagi, memastikan.

"Ya," dijawab hanya dengan satu kata tapi sepertinya bermaksud untuk meyakinkan.

"Ppft!" Konan menahan tawa. Telapak tangan kanannya menutup bibir dan telapak tangan kirinya memegang perut. Ia merasa geli sekaligus lucu mendengar jawaban Itachi.

"Apa ada yang lucu?!"

Itachi ternyata merasa terganggu dengan tawa Konan—atau bahkan tersinggung? Mungkin keduanya. Entahlah, manapun tak ada yang baik.

"Seriously? Kau tidak mengerti maksud tawaku? Tak kusangka pria yang katanya jenius ternyata tak mengerti dengan maksud tawaku." Konan menyunggingkan senyum, sedikit miring dan terlihat seperti menyeringai. Itachi kesal melihatnya.

"Bukan hanya sekedar katanya, aku yang jenius itu adalah fakta. Dan apa maksudmu dengan aku tidak mengerti?! Kita sedari tadi tidak saling melemparkan lelucon. Kau dan otakmu lah yang perlu diragukan di sini." Itachi mendengus kemudian. Kenapa hal sepele menjadi besar begini?

"Ck! Tentu saja jawaban hausmu itu yang sungguh lucu. Apa-apaan jawabanmu itu?! Orang-orang datang ke klub itu tentu saja untuk bersenang-senang; menari sampai lelah, bersenggama sampai letih—kalau tak punya rasa malu melakukan seks di depan publik. Dan kau? Kau hanya mau minum sampai perutmu gembung? Haha!" Konan tertawa lagi, dan Itachi lagi-lagi—hanya mendengus.

"Memangnya ada yang salah dengan jawabanku? Aku memang haus dan taraf hausku itu berbeda. Kalau orang lain minimal minum air putih, maka kalau aku minimal harus minum bir. Makanya aku datang ke sini. Tsk!" Itachi menjelaskan dengan kesal sambil meminum lagi likuid yang diracik oleh bartender—rasanya seperti campuran gin dan likeur rasa jeruk. Atau lemon? Itachi tak terlalu peduli. Dan Konan masih tertawa menanggapi tapi hal itu tak berlangsung lama.

"Tapi kau tidak minum bir, Itachi." Konan menaikkan sebelah alis matanya.

"Sudah sampai di sini dan aku hanya minum bir yang sama dengan bir yang ada di rumahku? Rugi sekali aku datang ke sini kalau begitu." Itachi memutar bola matanya.

"Ya ya ya, aku mengerti." Konan menganggukkan kepala tapi senyum mengesalkannya masih terlihat.

"Sepertinya tidak." Entah sudah berapa kali Itachi mendengus. Konan tertawa terbahak-bahak setelah mendengarnya.

Konan berhenti tertawa lalu memandang meja konter dengan seksama. Ia memainkan gelas kosong yang isinya sudah dihabiskan oleh Itachi tentu saja. Ia memegang gelas kosong yang masih menapak di meja menggunakan tangan kiri. Lalu, ia menyentil gelas itu dengan tangan kanan—menimbulkan efek suara.

Itachi pun sama—diam setelah berucap kata bernada kesal. Ia tidak memandang Konan, malah menatap lurus ke depan memerhatikan botol-botol minuman beralkohol yang tertata rapi di rak—tepat di belakang sang bartender. Sesekali ia menghembuskan asap dari mulutnya, Itachi sedang merokok omong-omong. Dan itu sudah rokok yang ketiga dalam kurun waktu satu jam. Rakus?

"Konan, aku ingin makan."

"Kalau kau mau makan, sana pergi keluar dan mencari cafe atau restoran. Memangnya aku ini ibumu?!" Konan mendelik sebentar lalu memutar bola matanya.

Itachi membalas, "aku ingin makan—memakanmu lebih tepatnya," Itachi memberi seringaian menggoda setelahnya.

"Oh ya? Kau ini kanibal? Tapi kenapa aku tidak merasa takut sama sekali, ya?"

Konan menghentikan kegiatannya lalu memandang Itachi dengan tangan kiri menopang dagu. Tangan kanannya tak ingin diam dan mengetuk meja dengan jemarinya.

"Tsk! Tentu saja kau tidak takut karena kenyataannya kau memang suka dimakan—dalam artian yang lain. Apalagi oleh pria tampan dan kaya sepertiku."

Itachi menghisap rokoknya dengan kuat, lalu asapnya ia hembuskan dengan gerakan yang lambat.

"Benar juga, sih. Tapi kurasa kau terlalu percaya diri, Itachi." Giliran Konan yang sekarang mendengus, Itachi menyeringai senang.

"Kenyataannya memang aku ini tampan dan kaya. Dan hal itu tak bisa diganggu gugat," seringai Itachi terlihat semakin lebar saja.

"Sesuka hatimu lah." Konan membuang muka kemudian tapi dagu masih ditopang oleh tangan. Itachi tertawa, mereka seri.

"Mudah sekali membuat wanita kesal, ya." Itachi menjatuhkan rokoknya ke lantai. Lalu memijaknya dan membiarkan puntung rokoknya berdiam diri di sana.

"Begitu, ya?" Lalu, decihan terdengar. Itachi hanya membalasnya dengan tawa.

Itachi berkata kemudian, "hei, aku benar-benar ingin memakanmu."

Bokong diangkat dari kursi, Itachi berdiri sambil menenteng kotak kue dan kantong plastik.

"Silahkan! Tapi aku ini sedikit tamak."

Perkataan Konan membuat Itachi mengernyit, "maksudmu?" Tanya Itachi kemudian.

"Aku tidak bersedia menjadi makananmu jika tidak ada bonus." Seringai dipasang, Itachi mendecih.

"Apa-apaan?! Aku 'kan sudah menyewa. Memangnya ketentuannya begitu—harus memberi bonus segala? Perasaan sebelumnya tidak begitu."

"Kalau kau keberatan, aku dengan senang hati akan membatalkan segalanya." Konan menyeringai, membuat Itachi tertawa miris kemudian.

"Baiklah! Kau ingin bonus, kan? Memangnya seberapa banyak? Bahkan jika kau meminta dunia, aku bisa memberikannya untukmu. Itu mudah sekali bagiku." Itachi keterlaluan dalam menyombongkan dirinya. Tapi kenyataannya dia memang kaya, sih.

"Cih! Dasar sombong," jeda diberi, "makanlah aku kalau begitu! Aku tidak peduli apa yang kau berikan, asalkan itu adalah uang."

"Dengan senang hati, Konan-san."

Lalu, mereka berjalan ke luar secara beriringan. Mereka berjalan ke luar dari klub menuju hotel sebelah, tempat di mana Itachi akan menikmati hidangannya yaitu Konan.

.x.

"Konan, tolong buka 'kan kemejaku!" Itachi memberikan perintah pertama.

"Tentu." Dan Konan dengan senang hati akan melakukannya.

Posisi Itachi sekarang sedang duduk di sofa. Dia merentangkan tangan ke atas berniat memberikan kemudahan bagi Konan untuk melepas fabrik yang tergantung di tubuhnya. Konan sendiri sedang berdiri dengan kaki kanan menapak di lantai sedangkan kaki kiri menapak pada sofa, sedikit mengangkang. Itachi susah payah menelan ludah.

"Hei, kau mencoba untuk menggodaku?" Tanya Itachi dengan wajah yang terlihat berharap sekali—berharap permainan segera dimulai.

"Menurutmu?" Konan balik bertanya tak lupa senyum menggoda ikut disunggingkan.

"Kurasa kau berniat menggodaku." Itachi menjawab dengan kepercayaan diri yang luar biasa keterlaluan—mengambil pendapat sendiri.

"Ya, sepertinya memang begitu." Masih dengan senyum sama yang terpasang, Konan menyetujui jawaban Itachi dan tak lupa memberikan kedipan mata juga.

Dasar Konan memang wanita nakal dan binal! Selain menggoda, ia juga suka bertindak seenaknya. Padahal sang pelanggan hanya meminta kemejanya saja yang dilepas dari badan. Tapi bukannya bertindak sesuai perintah, dia malah membangkang. Tak hanya kemeja, celana kain berwarna hitam dan celana boxer ikut serta dilucuti dan dicampakkan menyusul jas yang sudah tergeletak di lantai terdekat. Sentuhan-sentuhan kecil tak lupa diberikan di pipi kiri dan kanan. Tangannya menelusuri leher—memegang jakun yang bergerak naik dan turun. Kemudian membelai dada lalu menyusul perut yang tercetak bagaikan enam kotak. Konan susah payah menelan ludahnya.

"Nakal sekali!" Tamparan di pantat Konan dengan senang hati diberikan oleh Itachi. Konan mengerang namun suka akan sensasinya.

PLAK!

Tamparan diberikan lagi; tak hanya sekali, tak terlalu kuat juga. Wanita nakal memang pantas diberi hukuman. Tapi bagi Konan, tamparan yang diberikan oleh sang tuan pelanggan merupakan hadiah yang menimbulkan sensasi nikmat di tubuhnya. Itachi pun sebenarnya tak merasa keberatan. Meskipun Konan nakal, Itachi malah suka. Perlahan tanpa disadari, masing-masing dari mereka sudah mencuri garis mulai permainan.

"Tampar lah terus pantat yang beraninya menggodamu ini! Aku tak peduli meskipun rasanya perih."

Konan lupa kalau dia tak berhak memberi perintah. Ya, itu hal yang lumrah. Mana bisa manusia berpikir dengan akal sehat jika dibutakan oleh surga dunia?

"Benar-benar nakal!" Senyum mengejek diberikan Itachi untuk Konan. Tapi bukan berarti Itachi marah karena perintah semena-mena. Toh mereka tidak sedang bermain peran—seperti master dengan slave-nya.

"Tapi entah mengapa, aku suka dengan sikap nakalmu." Benar, kan?

Ditarik tangan Konan kemudian agar jatuh dalam pangkuan. Keduanya sudah sama-sama telanjang; mata saling memandang, wajah dimajukan mencoba memutus jarak, hidung dan hembusan napas saling bertabrakan.

"Makan aku, Itachi!" Perintah mutlak digaungkan kembali. Itachi tak akan pernah bisa menolak permintaan itu.

CUP!

Kecupan diberikan oleh Itachi kemudian. Sang tamu mencoba untuk menyapa sang nyonya rumah—tak ada penolakan.

CUP CUP!

Tindakan kembali diulang. Bibir mereka tidak hanya saling menempel sekarang. Itachi sedikit melumat dan menggigit tak berniat melukai. Tapi tiba-tiba saja Itachi berhenti.

"Kenapa berhenti?" Sang nyonya rumah sudah merasa tak sabaran. Tamu yang ditanya hanya memberi senyum penuh arti.

Itachi mengangkat tubuh Konan lalu membaringkannya di ranjang. Itachi tidak menyusul, ia malah berjalan menuju meja yang ada di depan sofa. Ia sibuk mencari barang yang akan menemani mereka selama permainan.

"Gotcha!"

Whipped cream atau biasa disebut dengan krim kocok dan selai cokelat sudah ada dalam genggaman tangan Itachi.

"Kau ini benar-benar rakus, ya." Pernyataan dilontarkan oleh Konan. Itachi diam saja tak menanggapi itu.

Krim kocok dan selai diletak di meja nakas, Itachi berjalan kembali ke meja di depan sofa. Ia membawa plastik yang sebelumnya telah digeledah dan kotak kue di tangan yang lain—membawanya mendekat menuju Konan.

"Sepertinya aku benar-benar akan dimakan." Konan berkata sambil melirik ke arah barang-barang yang telah diletakkan di meja nakas dan beberapa yang lain di letak di atas ranjang.

"Ya, karena aku sungguh lapar." Itachi menyeringai kemudian.

Mereka melanjutkan permainan yang sempat terhenti. Itachi tak lupa mengoleskan selai cokelat di kedua pipi Konan terlebih dahulu.

SLURP!

"Manis sekali," pujian dibisikkan Itachi ke telinga Konan. Konan hanya tersenyum dengan sudut bibir sedikit terangkat—bukan berkedut tapi niatnya ingin menggoda.

Itachi menjilat lagi kedua pipi Konan sampai selainya tak bersisa. Buang-buang makanan itu merupakan tindakan berdosa, bukan?

"Dasar rakus! Ingatlah, kerakusanmu akan menghancurkanmu!"

Konan benar. Sifat rakus sendiri adalah salah satu dari tujuh dosa mematikan!

"Setidaknya jika memang iya, maka aku akan hancur dalam dosa yang membuatku kenyang hingga aku rasanya ingin meledak."

"Maka meledaklah kalau begitu. Meledaklah dalam liangku. Meledaklah!"

"As your wish, bitch!" Itachi masih menyeringai, "but first of all, let me tease you."

"Hngh!"

Desahan tiba-tiba terdengar. Terlontar dari siapa? Tentu saja Konan. Bagaimana dia bisa mendesah? Jawabannya adalah krim kocok yang menghiasi kedua putingnya dan tentu saja lidah yang bergerak menjilati putingnya.

"Hngggh!"

"Mendesahlah terus! Aku suka desahanmu." Itachi tak pernah bosan memuji makanannya.

Ia menjilat puting kanan Konan. Ia mengemut dan menggigitnya juga. Ia merasakan puting Konan menegang. Ah, dan jangan lupakan kenyalnya buah dada Konan—tempat puting menumpang untuk bergelantungan!

"Kenyal sekali," buah dada Konan diremas oleh Itachi.

Tangan bekerja, lidah pun juga. Puting kiri Konan mendapat giliran; dijilat, diemut, digigit. Ketiga aksi bergantian diberikan. Akibatnya, akan memunculkan reaksi yang terdengar seperti—

"Aaahhh!"

—ini.

"Moans just for I licking your naughty nipples," Itachi menjilat dan menggigit dengan kuat, "such a bitch!"

"AAAHHH!"

"Naturally a bitch!" Itachi memasang wajah datar dengan senyum mengejek setelahnya.

"Tsk! Just shut your fucking tongue and fuck me now!"

"Hahaha. Sure, I will ride you roughly!"

Seringai dipasang Itachi kembali. Konan pun memasang ekpresi yang sama. Permainan antar setan, mungkin kita bisa menyebutnya demikian.

Itachi pun memulai lagi permainan yang sempat tertunda. Diambil krim kocok yang menganggur lalu dia menekan kedua pipi Konan ke arah dalam, membuka mulut Konan secara paksa. Konan pun mau tak mau membuka mulutnya kemudian. Itachi tak membuang kesempatan itu, dia menyemprotkan krim kocok tersebut ke dalam mulut Konan dengan segera.

"Hngh..."

Lenguhan terdengar, desahan juga. Itachi mencium Konan dengan membabi-buta. Dia menghabiskan krim kocok tersebut tanpa sisa sambil bermain lidah dengan Konan.

Tak ingin diam, tangannya pun bekerja. Itachi mengambil selai cokelat lagi lalu dengan cekatan mengolesinya ke bibir Konan. Diolesinya juga selai cokelat itu ke lima jari tangan kanannya.

Mereka masih berciuman dengan panas. Itachi meraup bibir yang terasa kenyal itu dan menjilati selai yang ada di sana, tak ingin menyia-nyiakan makanan yang tersaji dan tak berniat menyisakannya barang sedikit.

"Hisap!" Perintah diberikan oleh Itachi.

Mereka telah selesai beradu lidah. Itachi menyodorkan lima jarinya kemudian. Konan pun dengan tak sabar langsung membuka mulutnya dan menghisap semua jari yang teroleskan oleh selai cokelat tersebut.

"Mmm!"

Sama rakusnya, Konan tak hanya menghisap kelima jari tersebut. Ia mengemut kelima jari itu juga dengan sedemikian rupa. Tak lupa juga, ia menjilat serta menggigit. Tadaaa! Kelima jari Itachi bersih lagi.

Itachi menuang madu ke tubuh Konan kemudian secara tiba-tiba. Itachi tanpa menunggu, langsung menjilat madu tersebut tanpa sisa. Ia memberikan gigitan dan kecupan juga di sana. Noda-noda merah terhias indah di tubuh Konan.

"Manis," gumamnya memuji. Konan hanya membalasnya dengan erangan saja.

"Sampai kapan kita foreplaying begini?"

"Ternyata kau sudah tak sabar, ya?"

Gigitan di telinga diberikan oleh Itachi. Napas pun berani-beraninya ikut serta menghembus salah satu titik sensitif milik sang nyonya rumah.

"Menurutmu? Apa aku—aaah! Terlihat sabar?" Dengusan terdengar lolos dari bibir Konan kemudian. Itachi terkikik setelahnya.

"Berbaliklah kalau begitu."

Konan pun menuruti. Dia membalikkan badan lalu menunggingkan pantatnya.

"Aku hanya menyuruhmu untuk membalikkan badan tapi kenapa kau menunggingkan pantatmu juga? Dasar anjing nakal!"

PLAAAKKK! PLAAAKKK!

Tamparan kuat diberikan di kedua pipi pantat Konan.

"Aaargh!" Rintihan digumamkan oleh Konan. Terasa nyeri tapi entah mengapa membuat ketagihan.

"Kau suka saat aku menampar pantatmu seperti itu, kan?"

"Kau tahu benar jawabannya seperti apa," kepala berbalik ke belakang dan tangan kiri bergerak menuju bibir sang tuan pelanggan, "omong-omong, sedari awal aku sungguh terkejut ternyata bibir dan mulut ini mampu berbicara kotor selain mengecap dan melahap rakus makanan tentu saja," bibir Itachi diusap kemudian.

"Oh, kau terkejut? Bibir, lidah, dan mulutku bahkan mampu membuat vaginamu muntah berkali-kali." Sambil berbicara, dengan cekatan, Itachi memasukkan marshmallow ke dalam lubang anus Konan.

"Argh!"

"Tapi izinkan aku menyicipi anusmu terlebih dahulu."

"Fuck! Aku benar-benar benci dengan segala macam fetish-mu ini!"

"Hahaha. Bersabarlah! Inilah resiko melayani pria yang rakus ditambah tak pernah puas."

"Cepatlah selesaikan ini, sialan!"

Lalu, Itachi memasukkan marshmallow lagi ke dalam lubang anus Konan.

Satu, dua, tiga…

"Kurasa cukup. Sekarang mari menghabiskannya!"

Lubang anus Konan dijilat dengan lidah lapar milik Itachi. Tak hanya menjilat, lidahnya juga mengecap perpaduan rasa anus yang panas serta marshmallow yang lembut. Lapar, lapar, dan lapar; Itachi tak dapat berhenti. Sesekali ia menggigit pipi pantat milik Konan dan meninggalkan bercak merah di sana.

Konan hanya mendesah tanda memberikan reaksi atas aksi yang diberikan oleh Itachi. Semakin dalam Itachi menjilat, semakin tinggi juga ia menunggingkan pantatnya. Tentu saja hal yang dilakukannya benar-benar memudahkan Itachi dalam mengecap serta melahap pantatnya.

Tak hanya melahap pantat, Itachi juga melahap marshmallow yang tertanam di sana. Ditarik marshmallow yang tertanam menggunakan lidah yang sialannya sungguh cekatan.

Satu, dua, dan tiga—Itachi mengunyah dan menelan semua marshmallow yang tertanam, tak bersisa. Sungguh rakus sang tamu yang satu ini.

"Sekarang, mari kita menuju menu utamanya!" Itachi berujar sambil mengambil kotak kue yang tergeletak manis di sana.

Konan berbalik lagi menjadi telentang sekarang. Itachi sendiri sedang sibuk membuka kotak kue dan memotong kue sesuai ukuran yang ingin dia makan.

"Selesai!"

Kue yang telah Itachi potong, seenak udelnya ia letak di antara selangkangan milik Konan—tepatnya di depan liang vagina milik Konan. Konan yang mendapatkan perlakuan tersebut tentu saja langsung menggelinjang merasakan sensasi kue berlapiskan krim yang mengotori vaginanya. Tolong jangan lupakan, Konan dan Itachi sudah melakukan foreplay dalam waktu yang cukup lama. Vaginanya tentu saja sangat sensitif sekarang.

"Selesaikan ini secepat mungkin, Itachi. Aku sudah tidak tahan lagi!"

"Tentu," Itachi mempertemukan kedua telapak tangannya lalu menggosokkan telapak tangannya secara bergantian dan berulang-ulang, "bon appétit!"

Lalu, Itachi menjilat kue tersebut sebagai permulaan. Ia menjilat dan mengecap rasa vanila dari krim yang menghiasi bagian atas kue tersebut. Ia juga tak lupa menggigit buah ceri merah yang diletakkan tepat di atas krim yang disemprotkan sesuai ukuran buah merah itu; berniat menjadikan krim tersebut sebagai alas si ceri.

Itachi mengunyah ceri yang telah ia gigit. Ia memejamkan matanya sambil menyelami perpaduan rasa antara krim vanila dan buah ceri itu. Sungguh enak!

Tak hanya berhenti di situ, ia pun mulai menggigit kue berwarna cokelat hitam pekat tersebut. Kau bisa menyebutnya dengan nama black forest. Hutan kakao! Bukankah perpaduan antara Konan dengan black forest sungguh manis? Mereka bahkan mampu membuatmu diabetes. Dan Itachi saat ini, ia sangat rela dan ikhlas jika harus terkena diabetes demi mencicipi rasa manis yang tidak ada duanya ini. Benar-benar rakus sekaligus gila!

Ia gigit, kunyah, dan telan kue tersebut. Ia terus mengulangi ketiga aksi yang sedang ia lakukan tersebut hingga kue itu tak bersisa. Konan sendiri hanya mampu mendesah; terkadang terdengar seperti mendesis, terkadang terdengar mengerang sangat kencang sekali. Sudah pasti permainan yang mereka mainkan sekarang sangat panas bagaikan angin di musim panas.

"Sekarang, izinkan aku memakan dessert milikku."

Lalu, Itachi memasukkan penisnya ke dalam liang vagina milik Konan. Awalnya, ia memasukkan penisnya secara perlahan. Akan tetapi, ia yang sudah tak sabar langsung saja memasukkan penisnya dalam sekali hentakan kemudian.

"AAAHHH!" Mendesahlah Konan setelahnya.

Itachi membiarkan penisnya beradaptasi terlebih dahulu. Hening melanda dalam momen itu. Tak berlangsung lama, Itachi bergerak kemudian—menggempur liang Konan dengan gagahnya.

Konan pun tak ingin diam saja, ia ikut memaju mundurkan pinggulnya. Mereka bergerak dengan sangat cepat; desahan yang lolos dari bibir Konan, keringat yang bercucuran membasahi tubuh mereka, napas keduanya yang memburu. Tangan Konan menggantung di leher Itachi, sesekali mencakar punggung seksi milik pria tersebut. Tangan Itachi memegang dagu Konan dan bibirnya yang tak mau diam menjelajahi isi mulut wanita binal itu. Mereka bagaikan kutub magnet yang berseberangan; kutub utara dan kutub selatan. Berbeda tapi saling tarik-menarik—tarik-menarik dengan sangat panasnya.

"Aku ingin keluar—aaah!"

"Aku juga—uh, Konan!"

Lalu, splurt! Menyatulah cairan mereka berdua kemudian. Helaan napas lega keluar dari bibir keduanya. Tidak, sudah pasti jawabannya tidak! Mereka sedang tidak bercinta—meskipun mereka melakukan seks tentu saja. Mereka melakukan seks; antara penjual dengan pelanggan, sang nyonya rumah dan tamunya, budak dan majikan. Begitulah hubungan mereka, tidak kurang dan juga tidak lebih.

"Sialan! Tubuhku lengket sekali karena kue dan air liur sialanmu itu. Sial!" Konan mendudukkan dirinya kemudian.

"Hahaha. Kau akan merindukannya nanti. Jadi terlalu cepat bagimu untuk mengutuk mereka." Itachi sendiri sudah mendudukkan dirinya duluan dan sekarang sedang menghisap rokok yang ada di tangannya.

"Sungguh menggelikan—sekaligus menjijikkan! Aku bukannya rindu tapi akan selalu mengingat sifat rakusmu yang luar biasa keterlaluannya."

"Tsk! Apa yang salah dengan menjadi seorang yang rakus? Apa ada yang salah dengan itu?" Itachi mematikan rokoknya lalu membuang puntungnya ke dalam asbak.

"Tentu saja salah! Hei, rakus itu bukanlah sifat yang baik. Awalnya, orang yang rakus terlihat seperti orang yang tidak suka membuang makanan karena mubazir. Tapi kenyataannya mereka merupakan orang yang boros; memakan makanan secara berlebihan, minum-minum seperti dirimu dengan sangat berlebihan. Bahkan saat mereka sudah merasa kenyang, mereka tetap saja makan dan minum secara berlebihan. Tidak hanya itu, mereka yang rakus juga suka lapar mata. Membeli makanan dan minuman secara berlebihan hanya untuk memuaskan hasrat lapar matanya. Lalu setelah dibeli bukan dimakan atau diminum, hanya dicicip sedikit lalu dibuang begitu saja. Sifat rakusmu itu perlahan-lahan akan membunuhmu. Lihat saja!"

"Cih! Kau berkata seperti itu membuatku ingin menertawakanmu. Memangnya tahu apa kau tentang hidupku? Kau tidak tahu masa laluku. Kau hanya mampu mengkritikku atas apa yang telah aku lakukan di masa yang sekarang. Memangnya kenapa jika aku rakus? Kenapa jika aku membuang makanan? Kenapa jika aku bersikap boros? Aku membeli itu semua juga dengan uangku. Hasil jerih payahku! Kau tidak tahu betapa menderitanya aku di masa lalu. Kau tidak tahu itu!"

"Memangnya kau menderita seperti apa? Kau tidak tahu begitu banyak anak-anak di luar sana yang kelaparan. Mereka rela bekerja dan meninggalkan bangku pendidikan mereka. Mereka rela melakukan itu demi makanan yang nyatanya tidak dapat membuat mereka kenyang bahkan jika itu sekedar untuk makan siang saja. Hanya untuk sekali makan! Apa kau pernah memikirkan hal itu?"

"AKU TENTU SAJA MEMIKIRKANNYA! AKU MEMIKIRKAN ITU SEMUA! KARENA DULU AKU MENGALAMI NASIB YANG SAMA SEPERTI MEREKA!"

Hening.

Itachi melepaskan kedua tangannya dari bahu Konan yang sebelumnya ia guncang dengan kasar. Napasnya memburu, tampak sekali ia sedang menahan emosinya.

"Maaf," Itachi memegang dahinya dan menutup matanya kemudian, "aku terbawa emosi."

"Ternyata kau ini pemarah, ya?" Konan memandang ke arah Itachi sambil terkekeh. Itachi hanya diam saja.

"Aku hanya tidak suka orang-orang mengkritikku tanpa tahu alasan sebenarnya dibalik segala hal yang kulakukan. Huh! Aku lelah karena akhir-akhir ini semua orang merecoki hidupku."

Itachi usap wajahnya dengan kasar. Dia ambil sebatang rokok lagi dan menghidupkannya. Tapi ia tak terlihat menikmati hisapan rokoknya. Ia hanya menghisap dengan cepat lalu menghembuskannya secara kasar dan tergesa-gesa. Sesekali batuk terdengar karena hal yang ia lakukan.

"Nyatanya aku juga tidak mau hidup seperti ini. Mungkin terkesan norak. Atau aku ingin balas dendam kepada dunia dan Tuhan? Entahlah. Aku tidak paham dengan diriku sendiri."

Itachi memandang Konan yang menatap gelas berisi vodka di dalam genggaman tangannya. Likuid itu masih berdiam diri di dalam gelas. Tapi tak berlangsung lama karena kemudian, Konan langsung menghabiskannya dalam satu tegukan. Konan memandang balik Itachi dan mereka pun bertukar ciuman. Rasa rokok yang manis-manis pahit dan vodka yang panas namun dingin tercecap di lidah mereka—semakin memanaskan suasana. Lidah saling membelit dan menggelitiki lalu mereka berhenti, tapi lensa mata milik keduanya tetap bertahan untuk merefleksi wajah mereka masing-masing.

"Apa untungnya bagimu melakukan balas dendam kepada dunia dan Tuhan?"

"Hahaha!" Tawa digemakan.

"Tidak ada—Tidak akan pernah ada untungnya. Tapi setidaknya aku puas. Karena aku berhasil menunjukkan kalau aku mampu mengubah nasibku kepada dunia yang kejam—kejam kepadaku di masa lalu. Kepada dunia; yang selalu merubuhkan gubuk kecilku, yang selalu membuatku kocar-kacir mencari pekerjaan yang bahkan tak bisa mencukupi kebutuhan hidupku, yang selalu memandang rendah diriku. Aku berhasil menunjukkan kepada Tuhan yang jahilnya mengobrak-abrik hidupku dan mengambil kedua napas orangtuaku saat aku bernapas untuk pertama kalinya. Hahaha! Ya, aku berhasil!"

Tapi kalimat sombong tersebut tak berjalan selaras dengan air muka—airmata mengalir dari kedua mata Itachi bagai kran yang terbuka. Perih yang ia rasa terlukis jelas di wajahnya. Bibir yang terbuka lebar, tawa yang menggema, serta mata yang tertutup dan tertarik pipi yang berucap bahagia; nyatanya itu semua adalah kamuflase belaka. Airmatanya tak pernah berhenti. Pipa krannya seakan-akan bocor dan rusak secara tiba-tiba. Atau sebenarnya pipa kran itu memang sudah bocor dan rusak di awal? Hanya dibungkus oleh lakban tahan air untuk menutupi segala kerusakannya?

Konan mengusap pipi yang banjir. Konan merengkuh tubuh tegap yang membalut tubuh ringkih itu dengan hati-hati. Konan mengusap punggungnya naik-turun dengan perlahan.

"Jika kau telah berhasil maka berhentilah. Berhentilah menjadi rakus dan jadilah orang yang dermawan mulai sekarang! Kau mengatakan bahwa kau memikirkan mereka tapi kau bahkan tak pernah memulai untuk memberikan aksi yang nyata. Kau ingin disamakan dengan dunia dan Tuhan yang telah mengacaukan hidupmu? Tidak, kan? Kau bukan rakus! Kau bukan boros! Kau hanya takut masa lalumu akan kembali dan memporak-porandakan hidupmu lagi. Berhentilah! Lalu hiduplah dengan sehat dan juga bahagia!"

Lalu, bertemulah kedua bibir mereka lagi. Belahannya terbuka, lidah tanpa diberi perintah langsung saling bersalaman. Permainan yang sama dimulai lagi dengan babak yang baru.

Chapter 6 FIN

OMAKE

Itachi pulang dengan keadaan yang sungguh berantakan. Kepalanya pusing efek mabuk yang ia dera. Badannya letih efek menunggang terlalu lama. Ia lihat refleksinya dibalik cermin lemari. Ia perhatikan dari folikel rambut sampai kutikula kaki. Menyedihkan, memalukan, menjijikkan; ia terlihat sangat kacau.

Ia tertawa kemudian, terbahak-bahak. Ia buka lemari bajunya lalu ia genggam benda yang terasa dingin tersebut. Dia tak pernah menggunakan benda itu, omong-omong.

Dia kemudian terduduk di balik pintu lemari yang terbuka. Ia terduduk di alas lemari dan bersembunyi dari cahaya rembulan yang memerhatikannya. Ia tersenyum dengan airmata yang berkilau di pipi, ia gerakkan benda tadi dari arah kiri ke kanan di atas perut. Lalu, terbelah lah surga berisi dosanya dengan pancuran likuid berwarna merah kental yang ikut menghiasi.

Mentari pagi masih lama muncul. Dingin dan sunyinya dinihari bagai sedang membisikkan keadaan Itachi sekarang kepada dunia serta Tuhan yang diam-diam sudah tahu sedari tadi.

.x.

p.s: moshi-moshi, minna-san! apa kabar? semoga selalu dalam keadaan yang sehat, ya. n.n masih adakah yang menunggu ff ini? tidak ada, ya? yasudahlah! TTwTT toh ff ini akan trus author lanjutkan kok meskipun mungkin gak ada yang membacanya lagi. itu sudah menjadi janjinya author. meskipun ngelanjutinnya lama banget sampe ngaret dua bulan. hehe. maafkan! uwu selamat membaca dan menunggu lanjutannya, minna-san. Big Love, Nara Y.