Hinata terbangun dengan dada yang sangat sesak, paru-parunya seolah meminta pasokan udara sebanyak-banyaknya. Ia bergerak liar di ranjangnya berkali-kali manarik nafas mencoba menenangkan dadanya sampai sesaknya benar-benar hilang dari tubuhnya barulah ia berhenti menarik nafas. Ia menoleh pada jam dinding yang ada disudut kamarnya.

'01:57AM'

Hinata menyisihkan selimut yang membalut tubuhnya, ia kemudian berdiri dari ranjangnya. Berjalan pelan menuju toilet, dan menyalakan lampu toilet kamarnya. Ia memperhatikan pantulan wajahnya di cermin yang ada di toilet itu. Surai indigo kebanggannya kusut, matanya bengap, lingkaran hitam terlihat melingkari matanya, hidungnya memerah kontras dengan kulit wajahnya yang seputih salju. Ia membuka kran air yang ada di wastafel dan mulai membasuh wajahnya. Ia sedikit meringis saat air mengenai sayatan-sayatan yang ada di pergelangan tangannya.

Setelah memastikan wajahnya lebih baik Hinata kembali ke ranjangnya. Ia mencoba kembali terlelap sayang matanya tak mengizinkannya. Ia memilih mengambil ponselnya kemudian membuka aplikasi instagram. Ia mengetikkan kata "ShionT080" pada form pencarian kemudian men-stalk akun sosial media gadis itu. Seperti dugaannya, foto-foto awal menampakan kemesraan gadis itu dan Naruto, dan beberapa keterangan foto hampir membuatnya muntah, kata-kata romantis yang disusun secara apik membuat Hinata muak. Ia memilih mengupload fotonya dengan Toneri semalam saat mereka kencan, memberi keterangan "I just wanna be with him." Hanya sekedar membalas postingan Shion, Tak perlu menunggu berjam-jam untuk mendapatkan like, jangan lupa Hinata adalah gadis popular di Tokyo. Hinata hanya menatap bosan layar ponselnya, hanya beberapa komentar dan like dari fans Toneri yang bermunculan di notifikasi ponselnya.

Ia memilih meletakkan ponselnya dan kembali berbaring dan menarik selimutnya baru beberapa detik ia memejamkan matanya ponsel yang ia taruh di pinggiran meja riasnya bergetar, membuatnya berdecak kesal.

"Naruto Calling" Tanpa menunggu lama, Hinata segera mengangkat panggilan itu.

"Tidak baik jika seorang gadis tidur tengah malam." Suara cerewet khas pemuda itu terdengar di telinga Hinata. Sungguh suara yang sangat ia rindukan.

"Kau sendiri belum tidur." Hinata mengeluarkan suaranya pelan.

"Kau selalu tak mau mengalah." Kini Naruto sedikit terkekeh pelan dari sebrang sana. Tanpa Hinata sadari kini air matanya sedikit menetes mendengar suara itu.

"Hei, hei, hei Hinata kenapa kau diam saja?" Suara itu kembali terdengar.

"Ah tak apa, kenapa kau menelpon semalam ini?" Kini Hinata berusaha menyembunyikan tangisnya ia berusaha senormal mungkin.

"Tak ada. Aku hanya melihat postinganmu di instagram jadi aku menghubungimu"

"Instagram? Bukankah kau tak menggunakan instagram?" Kini Hinata bersuara dengan suara curiga.

"Instagram, ng- instagram Shion." Naruto menyahuti dengan ragu.

"Kau bersamanya?"

"Ya, dia menginap di apartemenku malam ini. Apa foto yang kau unggah itu baru?

"Oi Naruto aku sangat mengantuk, kita bicara besok ya?"Hinata langsung mematikan smartphonenya, ia melemparkan benda itu ke sembarang arah dan menjerit pelan.

"Sialan. Gadis penggoda, gadis bodoh, gadis gila. Aku membencimu aku membencimu." Hinata melemparkan bantalnya ke sembarang arah dan berteriak-teriak tak jelas. Bersyukurlah, kamarnya kedap suara takkan ada yang mendengarnya. Hinata menarik surai panjangnya frustasi karena keadaan yang sangat menyiksanya, perlahan ia mengambil sebungkus rokok yang ia simpan di tumpukan pakaiannya. Ia menghisap batangan-batangan rokok itu sesekali terbatuk pelan karena menghirup asap yang dikeluarkan rokoknya. Matanya memerah entah karena air mata yang ditahan atau karena asap yang mengenai matanya.

"Ingat Hinata, kau boleh seliar apapun tapi jangan pernah coba rokok itu membuat mu kecanduan."

Hinata tertawa miris, apapun yang dilakukannya, otaknya selalu membawanya mengingat sosok Namikaze Naruto. "Berhenti memikirkan dia, Hinata."

"Sialan, gadis itu benar-benar sialan." Hinata tak henti-hentinya memaki Shion ia tak perduli sudah empat puntung rokok yang berserakan dilantai kamarnya, setiap rokoknya habis ia kembali memantikkan pemantik dengan batangan rokoknya. "Cutting sialan, rokok sialan. Kalian membuatku kecanduan." Hinata terkekeh kecil saat mengatakannya. Anggap dia gila tadi menangis meraung-raung dan menjerit-jerit sekarang ia tertawa sendirian tanpa ada hal lucu apapun yang terjadi. Hinata melirik jam dinding yang ada disudut kamarnya. "03:05"masih ada waktu untuk sekedar meluapkan kemarahannya dengan cutting sebelum ia berangkat sekolah dengan wajah berantakan. Miris, sangat miris bagaimana bisa dia meluapkan kemarahan dengan darah yang bercucuran dari pergelangan tangannya? Bagaimana bisa ia tenang dengan wajahnya yang berantakan? Oh yatuhan, Hidupnya benar-benar tak berguna. Ia membuka tasnya mengeluarkan benda tipis yang tajam yang belakangan ini menjadi benda favoritnya, -silet.

Ia melirik goresan goresan panjang yang cukup banyak menghiasi pergelangan tangannya. "Sebentar lagi, akan ada goresan baru disini." Ia tersenyum simpul kemudian mulai memejamkan matanya berfantasi kehidupannya dimasa depan bersama Naruto, ia menjadi istri Naruto dan mempunyai toko kue sedangkan Naruto menjadi direktur utama Namikaze corp memilili dua atau tiga anak yang mirip Naruto, kekacauan dirumahnya karena anaknya. Ia terkekeh pelan dan tersenyum miris fantasi yang sangat mustahil. "Tidak mungkin akan terjadi. Ayolah Hinata, sadarlah siapa kau."Ia menghela nafas pelan dan dengan cepat menggoreskan luka baru di pergelangan tangannya, tak menunggu lama sebuah goresan kembali tertampang dipergelangan tangannya. Ia memperhatikan bagaimana darah keluar dari permukaan kulitnya indah hanya itu yang dapat mendeskripsikan pemandangan yang tersaji di permukaan kulitnya. Ia tersenyum kecut menyadari bagaimana hancurnya hidupnya. Biarlah, biarlah semuanya terjadi seperti ini.

...

Hinata terbangun dengan wajah kusut, ia ingat semalam ia terbangun dan baru bisa kembali terlelap pukul empat pagi. Uh, ia butuh jam tidur yang lebih baik. Ia menyingkirkan selimut yang membungkus tubuhnya. Perlahan ia bangun dan bercermin, tak butuh dua menit ia menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Wajahnya sangat buruk, ah benar-benat buruk. Sepertinya ia butuh waktu berhias lebih lama dari biasanya.

Pagi yang sangat aneh untuk Hinata, pagi ini saat ia keluar dari kamarnya ia dikejutkan dengan pemandangan yang sangat tak biasa, adiknya menunggu didepan pintu dengan tangan menggeggam sebuah nampan berisi selembar roti dan segelas kopi yang masih mengepul uapnya. Dan adiknya itu dengan manisnya menawari sarapan untuknya dengan alasan Hinata tidak turun untuk sarapan, namun seperti biasa Hinata hanya menanggapi dengan singkat.

"Katakan apa maumu Hana?" Dengan santai Hinata melemparkan roti yang berisi selai kacang kesukaannya ke tempat sampah terdekat tanpa mencicipi sedikitpun roti itu.

"Kau harus belajar menghargai orang yang memperdulikanmu Nee-sama. Asal kau tau, aku melakukan ini karena Kaa-sama yang meminta, kami tak sejahat yang kau kira." Tanpa emosi yang tertampak diwajahnya Hanabi meninggalkan Hinata yang mematung didepan kamarnya.

Hinata berlari kecil menuruni tangga rumahnya ia berharap ibunya masih belum berangkat, ia hanya ingin mengklarifikasi kebenaran yang dikatakan Hanabi beberapa menit lalu. Dan saat melihat siluet ibunya, Hinata ragu apa yang harus dilakukannya, berterimakasih? Ah yatuhan, Hinata sangat malu melakukkannya. Namun, sedikit memberanikan diri ia memanggil ibunya pelan.

"Kaa-sama?" Hinata meremas jemari-jemarinya gugup saat melihat tatapan ibunya.

"Ya?" Hikari menatap putrinya dengan pandangan risih seperti biasanya.

"Apa Kaa-sama menyuruh Hanabi mengantarkan sarapan untukku?" Dengan suara yang seperti cicitan anak ayam Hinata bertanya dengan ragu, ia hanya takut Hanabi mempermalukkannya.

"Dengarkan aku, aku menyuruh putriku mengatar sarapan untukmu hanya agar kau sadar. Kau disini bukanlah ratu, di rumah ini ada peraturan untuk sarapan, makan siang, makan malam semuanya diatur disini. Jangan bertindak sesuka mu, kau adalah seorang Hyuuga." Hikari menekankan setiap kata dalam kalimat yang ia ucapkan dan menatap tajam Hinata yang ada di hadapannya.

Hinata menatap ibunya dengan pandangan terluka, Hikari hanya mengabaikan tatapan putrinya ia memilih mengambil tasnya dan melangkah menjauhi Hinata. Namun, baru beberapa langkah ia kembali berhenti karena panggilan atau lebih tepatnya seruan Hinata.

"Kaa-Sama, kau adalah yang paling ku hormati, karena kau yang melahirkanku. Tapi saat ini ku katakan sejujurnya, jika bisa memilih aku lebih memilih di lahirkan dari rahim seorang pelacur yang mencari sesuap nasi daripada dari wanita yang membuang anaknya seperti mu." Hinata berlari menjauhi ibunya yang masih mematung, ia membanting pintu utama dengan cukup kencang sehingga Hikari tersadar dari lamunannya.

Mood Hinata benar-benar hancur sejak pagi, ia tak banyak berbicara ataupun bergerak. Sejak datang pagi tadi ia langsung duduk dan menempelkan earphone pada telinganya dan menyetel volume sekencang-kencangnya dan mengeluarkan buku untuk menulis tak jelas. Banyak teman yang memanggilnya dan hanya direspon seadanya, baginya berbicara sama saja dengan memperburuk suasana hatinya. Dan di jam pelajaran ke lima beberapa anggota osis menghampiri kelasnya.

"Sumimasen senpai. Aku Anjou, dari kelas 11-2 aku diminta Iruka-sensai memanggil lima orang murid untuk mengikuti seminar di ruang perkumpulan." Setelah mengatakannya gadis dengan surai lurus itu menjauh dari kelas Hinata. Dan sesuai dugaan Hinata kelasnya akan ramai dengan suara-suara yang mengganggunya, ia hanya menarik nafas mencoba bertahan pada suasana yang memuakkan ini.

"Baiklah perwakilan kelas kita. Naruto-kun sebagai ketua kelas diwajibkan ikut, Sara-san, Shikamaru-kun, Haru-chan, dan Tenten-san." Amaru gadis dengan penampilan nerd itu membacakan keputusan final dan nama-nama yang disebutkan itu hanya melangkahkan kaki menuju ruangan perkumpulan, Hinata tak berkomentar apapun ia bahkan tak melirik lima orang yang disebut itu menjauh dari kelas, ia kembali menambah volume smartphonenya dan mengabaikan tatapan aneh orang-orang kelas padanya. Hinata kembali menghela nafas jenuh ia manaruh kepalanya diatas meja mencoba terlelap, sayang baru ingin memejamkan matanya bunyi pintu kelas yang berderit sedikit menarik perhatiannya.

"Haru-chan, Shikamaru-kun? Kenapa kembali?" Suara si nerd amaru terdengar dikelas ini.

"Um, Iruka-sensai menyuruh kami kembali. Dan Hyuuga-san juga Inuzuka-san disuruh mengantikan kami di seminar itu." Haru gadis dengan surai coklat pekat itu mendudukan dirinya di kursinya dan menyampaikan berita yang ia bawa.

"Kau harus ikut Hinata, barang kali kau bisa sadar setelah seminar itu." Daidara pria berkuncir itu menyeletuk membuat beberapa murid lain ikut menyeletuk.

"Dei-kun benar Hinata-san, kau harus ikut karena ini sudah tahun ke tiga dan kau masih saja berulah mungkin seminar ini dapat merubah mu." Shizuka gadis dengan poni rata itu pun menyeletuk cukup pedas.

Hinata hanya mengabaikan itu semua, ia mengambil smartphone nya dan berjalan keluar kelas

Hinata sangat terkejut melihat Naruto masih duduk di depan ruangan pertemuan dan belum mengikuti acara seminar itu. Hinata berusaha mengabaikan perasaan senangnya yang meluap luap dan memilih berjalan tanpa mengatakan apapun pada Naruto.

"Kau belum masuk?"

Jangan harap Hinata yang mengatakannya, ia bahkan tak ingin menghentikan langkahnya jika kiba tak menahan lengannya.

"Aku menunggu kalian, ayo masuk." Naruto langsung melangkahkan kakinya disusul Kiba dan Hinata.

Sepertinya dewa fortuna memang tak berpihak pada Hinata, bangku peserta hanya tersisah dua untuknya dan Naruto dan itu berdampingan, Kiba? Pria itu entah bagaimana caranya mendekati gadis dari kelas sebelah bernama tamaki.

"Duduklah. Kenapa hanya berdiri?" Naruto manatap Hinata yang masih berdiri tanpa melirik bangku yang kosong sama sekali.

"Ya." Hinata hanya menjawab singkat dan tersenyum canggung lalu duduk.

"Kau menghindariku belakangan ini."

Hinata bergidik ngeri merasakan nafas panas Naruto di tengkuknya, ia menoleh dan mendapati jarak antaranya dan Naruto sangat tipis bahkan jika salah satu diantara mereka bergerak hidung mereka dapat bersentuhan Hinata lebih memilih diam mendengar apa yang dikatakan Naruto. Tak dipungkiri, seminar ini seperti bioskop lampu-lampu ruangan sengaja dimatikan agar fokus hanya pada layar proyektor. Strategi yang salah, bagaimana bisa orang fokus di keadaan gelap?

"Kau tak perlu menjauh, aku tau caranya menyakinkan Shion jika aku hanya mencintai dia." Naruto menatap wajah Hinata dan merasakan aroma yang menguar dari tubuh Hinata. "Kau tau? Ada seseorang yang tak pernah berhenti mencintaimu, dia hanya berhenti menunjukan itu." Naruto kembali berbicara ia menggeram saat Hinata tak kunjung meresponnya.

"Aku belajar satu hal Naruto, saat sesuatu telah berakhir aku harus meninggalkannya. Bodoh bukan jika seseorang terus menyiram bunga yang sudah layu?" Hinata memejamkan matanya menahan tangis, udara musim dingin selalu pandai membuatnya bersedih.

"Tapi Hinata, apakah kau tau bagaimana perasaan bunga yang layu itu? Dia berharap air tetap menyiraminya dan memberikan sedikit harapan."

"Cukup. Kau harus tau Naruto rasanya mencintai tapi bertahan untuk tidak memiliki, itu jauh lebih buruk dari sekedar patah hati." Kali ini Hinata tak dapat membendung semuanya, ia meluapkannya dalam tangis juga air mata. Salahkan saja semua orang membuat moodnya hancur seharian ini.

"Aku tau rasanya Hinata, karena aku mengalaminya." Naruto merengkuh Hinata dalam pelukannya ia dapat merasakan kemejanya basah oleh air mata Hinata.

"Bohong. Kau pembohong, kau memiliki Shion dia mencintaimu kau juga mencintainya. Tapi kau tau? Aku, aku mencintaimu." Hinata memukul dada bidang Naruto dengan pelan namun penuh emosi. Tanpa sadar kata-kata itu keluar dari mulutnya sendiri tanpa bisa disembumyikan lagi.

"Aku, aku juga mencintaimu Hyuuga Hinata." Naruto memejamkan matanya meresapi setiap kata yang keluar dari mulutnya ia dapat merasakan perubahan nafas Hinata di dadanya Naruto mengusap kepala Hinata pelan dan menikmati momen ini.

"Ini adalah saat mendebarkan dalam Hidupku." Naruto menatap Hinata yang masih berada dalam rengkuhannya.

"Ini adalah saat terindah dalam hidupku." Pipi hinata merona mendengar semua itu dari mulut Naruto ia tidak tau harus bersikap seperti apa sekarang, ia semakin memendamkan kepalanya kedalam dada Naruto.

"A-aku, aku, aku ingin selalu seperti ini. Ku mohon waktu berhentilah." Hinata akhirnya membuka suaranya dan mulai menatap Naruto dengan wajah sembabnya.

"Tapi Hinata, semua itu dulu. Dan sekarang, kita tidak bisa kembali kemasa itu." Naruto menunduk dan perlahan mengambil jarak dari Hinata.

Hinata tersentak atas ucapan Naruto ia menatap Naruto tak percaya, dan kini air mata kembali membendung di matanya.

"Semuanya sudah berbeda, semua sudah tidak seperti dulu. Aku berbeda kau juga, aku memiliki Shion kau memiliki Toneri. Artinya semua sudah masa lalu." Kini Naruto memberanikan diri menatap wajah Hinata dan sedikit tersenyum tipis.

Hinata mengepalkan tangannya geram, entah untuk mendramatisasi suasana atau memang takdir tiba-tiba jendela ruangan ini terbuka dan menyebabkan beberapa salju terbawa angin membuat suasana sekitar Naruto dan Hinata menjadi seperti difilm.

"Ini isyarat, isyarat yang Naruto berikan agar aku semakin menjauh darinya." Hinata meremas roknya menahan tangis, matanya berkaca-kaca dan memilih menghindari kontak mata dengan Naruto.

"Kita masih bisa bersahabat kan?" Naruto mengenggam tangan Hinata yang dingin. Namun hinata mengibaskannya sehingga tangan Naruto terhempas. Hinata memilih berdiri dan meninggalkan ruangan ini, Naruto hanya menatap semuanya tanpa berniat mencegahnya.

Hinata berlari kencang syal yang ia gunakan entah terjatuh dimana ia tak tau arah tujuannya ia bahkan tak menyadari kini ia sudah ada di atap sekolah, berhenti sejenak mengatur nafas dan berteriak histeris. "Perasaan apa ini, aku benar-benar frustasi."