"Hai, Dobe, masih jauh tempatnya tidak?"

"Sebentar lagi sampai kok."

"Huh... Gara-gara Itachi-Aniki, jabatan kita diturunkan menjadi Cleaning Service. Ayah juga malah melarangku memakai motor sport kesayanganku itu dan malah menyuruhku memakai vespa polkadot ini. Haaaah... Nasibku sangat sial."

"Sudah... Jangan banyak protes. Yang penting kita berusaha mencapai kantor Senju News itu. Terus diwawancara langsung oleh direkturnya hari ini. Semoga kita berdua diterima bekerja di sana."

"Tapi... Sampai kapan...," Sasuke mengeluarkan sudut perempatan di keningnya."Sampai kapan aku mendorong motor ini!? Sementara kau seenaknya duduk di atas motor ini!? Tidak akan sampai-sampai, Dobe baka!"

JREEEENG!

Ternyata Naruto sedang duduk di atas vespa polkadot warna sapi yang berjalan secara perlahan-lahan karena didorong Sasuke dari belakang. Rupanya ban belakang vespa polkadot itu bocor dan terpaksa Sasuke mendorongnya atas permintaan Naruto. Sasuke yang bodoh, mau saja menuruti permintaan Naruto yang berperan sebagai penunggang vespa polkadot tersebut.

Naruto hanya tertawa cengengesan. Dia sangat senang melihat penderitaan musuh bebuyutannya itu.

"Hehehe... Ya sudah, ayo kita dorong vespa ini sama-sama."

"Seharusnya lakukan dari tadi dong!"

"Maaf."

"Dasar, menyebalkan!"

Maka mereka berdua bersama-sama mendorong vespa polkadot itu. Mereka berjalan secara perlahan-lahan di tepi jalanan raya yang sangat ramai dan padat. Hari yang masih pagi dan berudara segar menemani perjalanan mereka menuju ke kantor "Senju News" itu.

Saatnya melamar pekerjaan sebagai wartawan di tempat baru!

.

.

.

Disc:

Naruto © Masashi Kishimoto

Love Live © Sakurako Kimino and Masaru Oda

.

.

.

Pairing: Naruto x Nozomi

Genre: romance/humor

Rating: M

Fic request untuk Okita Shinn

.

.

.

Jumat, 18 November 2016

.

.

.

PERFECT

By Hikasya

.

.

.

Chapter 7. Kabar bagus

.

.

.

Pada akhirnya, setelah menunggu sekitar dua minggu sejak mereka mengirim surat lamaran ke kantor berita Senju News, direktur kantor Senju News memanggil mereka untuk datang ke kantornya hari ini. Setiba di sana, direktur kantor Senju News yang bernama Senju Tsunade, menyambut kedatangan Naruto dan Sasuke dengan hangat di ruang kerjanya. Mereka juga diwawancara oleh Tsunade pada hari itu juga. Sehingga Naruto dan Sasuke resmi diterima untuk menjadi wartawan tetap di kantor berita "Senju News". Mereka akan mulai bekerja keesokan harinya dan diberi tugas untuk meliput berita tentang apa saja.

"Akhirnya kita berdua diterima bekerja di kantor berita Senju News ini."

"Kau benar, Dobe."

"YEAAAH, KITA MENJADI WARTAWAN LAGI! AKU SENANG SEKALI!"

"Aku juga."

"Ayo, berpelukan!"

"Ayo, kawan!"

Dengan hati yang sangat gembira, Naruto dan Sasuke keluar dari ruang kerja sang direktur. Mereka saling mengekspresikan rasa bahagia mereka dengan cara berpelukan antara satu sama lainnya. Bahkan berputar-putar. Sampai seorang gadis yang bekerja di tempat itu, lewat di lorong lantai dua itu dan terbengong melihat tingkah mereka.

"Ah, a-ada dua laki-laki yang saling berpelukan di dekat ruang direktur. Apa mereka gay?" kata gadis berambut merah hati dan bermata hijau kebiruan. Berumur sekitar 22 tahun. Namanya Kurosawa Ruby.

"Ada apa, Ruby?"

Tiba-tiba, muncul suara gadis lain yang bertanya padanya, Rubi menoleh ke arah belakangnya.

"A-Anu... I-Itu... Ada gay, Nico."

"Gay!?"

Yazawa Nico, seorang gadis berambut panjang hitam yang diikat twintail dan bermata merah. Melihat ke arah Naruto yang masih berpelukan dengan Sasuke. Seketika, wajahnya menjadi syok begitu.

"GAY!?" teriaknya sangat keras.

"Hah!?" Naruto dan Sasuke sadar karena teriakan Nico tadi."Gay!? WAAAAA!"

Secara serentak, Naruto dan Sasuke juga berteriak keras. Dengan cepat, menjauhkan diri masing-masing. Lalu melihat ke arah dua gadis yang syok, tak jauh dari mereka.

Mereka berempat membeku karena syok. Setelah itu, dua lelaki itu memutuskan untuk kabur dari sana.

DRAP! DRAP! DRAP!

Naruto dan Sasuke lari terbirit-birit seperti dikejar setan begitu. Meninggalkan efek kepulan asap sebagai adegan dramatisnya, yang membuat kedua gadis tadi terbengong-bengong melihat kepergian mereka.

"Dua laki-laki yang aneh... Siapa ya mereka?"

"Entahlah, Nico. Yang pasti aku tidak ingin bertemu dengan mereka lagi. Akukan phobia laki-laki. Aku semakin ngeri saja melihat tingkah laki-laki seperti itu."

"Iya juga sih, Ruby. Aku juga berharap tidak bertemu lagi dengan dua orang itu."

"Hm, ayo kita kembali ke ruang kerja kita."

"Ah, iya. Ayo!"

Maka keduanya kembali ke ruang kerja mereka yang berada di lantai dua tersebut. Mereka masih merasa syok dengan apa yang mereka lihat barusan.

Sepertinya mereka sudah salah paham tentang Naruto dan Sasuke. Mereka mengira dua lelaki itu adalah gay. Padahal itu tidak benar. Tapi, biarlah hal ini berlalu. Suatu saat nanti, mereka akan mengetahui fakta yang sebenarnya.

.

.

.

Sesampainya di apartemen, Naruto langsung masuk setelah membuka pintu yang tidak terkunci dan berseru keras.

"AKU PULANG!"

"Ah... Selamat datang!"

"Nozomi... Aku punya berita bagus. Kamu pasti aka..."

Perkataan Naruto terputus saat menyadari bahwa ada seorang gadis berambut merah yang sedang duduk bersama Nozomi. Gadis berambut merah itu tidak asing baginya. Pasalnya, gadis itu adalah...

'Maki...!? Kenapa dia datang ke sini!?' batin Naruto yang terkejut di dalam hatinya.

Maki, yang juga menyadari kedatangan Naruto, memasang wajah yang tidak nyaman dan tersenyum pada Nozomi yang duduk di sampingnya.

"Maaf, aku harus pulang sekarang, Nozomi."

"Eh? Kenapa buru-buru begitu? Aku berpikir akan mengajakmu makan siang sama-sama lho."

"Ah, lain kali saja. Aku harus buru-buru nih. Sampai jumpa lagi, Nozomi."

"Ya, sampai jumpa juga. Hati-hati di jalan ya Maki."

Maki mengangguk sambil bangkit dari duduknya di atas sofa. Meraih tasnya yang tergeletak di sampingnya dan segera berjalan cepat untuk mendekati arah pintu - di mana Naruto berdiri di dekat pintu yang terbuka lebar.

Berpapasan dengan Naruto sebentar, Maki memandang Naruto. Naruto juga memandangnya, tapi begitu tajam dan menusuk hatinya.

Untuk membalas tatapan tajam Naruto itu, Maki tersenyum dan berkata.

"Naruto, aku pergi."

Namun, Naruto tidak menjawabnya. Dia terus memandang Maki dengan sinis sampai hilang dari pandangannya. Lalu dia menutup pintu itu dengan suara yang keras.

BLAM!

Kemudian tatapan Naruto tertuju pada Nozomi yang sudah berdiri tepat di hadapannya.

"Naruto... kamu cepat sekali pulangnya. Apa kamu sudah mendapatkan pekerjaan di kantor Senju News itu?"

Naruto menjawabnya dengan wajah datar.

"Ya, aku sudah mendapatkannya. Aku sudah diterima langsung untuk menjadi wartawan tetap di sana. Terus direktur menyuruhku dan Sasuke pulang sekarang. Kami baru masuk kerja besok harinya."

"Benarkah?" wajah Nozomi menjadi berbinar-binar dengan tawa yang mengembang dan langsung memeluk Naruto."Selamat ya karena kamu diterima kerja di sana!"

"Terima kasih... Tapi..."

"Tapi, apa?"

Nozomi melepaskan pelukannya dari Naruto. Wajah Naruto tetap datar karena sedikit kesal. Kesal pada Maki yang datang ke rumahnya. Pasti Maki memberitahukan yang tidak-tidak pada Nozomi. Dia takut Maki akan mengatakan pada Nozomi bahwa Maki mencintainya dan ingin menjadi istri keduanya. Semoga saja tidak, dan dia tidak ingin sesuatu yang buruk menimpa kehidupan rumah tangganya bersama Nozomi.

Mengerutkan keningnya, Nozomi menatap wajah Naruto lekat-lekat dalam jarak yang sangat dekat.

"Ayo, katakan... Apa yang ingin kamu katakan lagi?"

"Kenapa... Maki datang ke rumah kita?"

"Ah, Maki ingin berjumpa denganku. Terus kami mengobrol tentang apa saja."

"Mengobrol tentang apa?"

"Banyak sih... Tentang kerjanya, keluarganya, teman-temannya dan masalah pribadinya. Oh iya, dia cerita tentang hubungan cintanya dengan seseorang."

"Seseorang? Siapa?"

"Sasuke... Katanya Sasuke ingin menikah dengannya. Tapi, dia masih memikirkannya. Apakah dia harus menerima lamaran Sasuke atau tidak? Dia menanyakan pendapatku soal itu. Aku menyarankannya supaya dia menerima lamaran Sasuke itu. Ya... Begitulah kira-kira..."

Mendengar itu, Naruto terdiam dengan tampang yang bodoh. Setelah itu, dia merasa lega sekali karena Maki tidak berbicara macam-macam pada istrinya.

"Haaaah... Syukurlah..."

"Syukurlah... Memangnya kenapa?"

"Ti-Tidak... Bukan apa-apa...," Naruto tersenyum."Aku senang pada akhirnya Sasuke melamar Maki untuk menjadi istrinya. Itu benar-benar kabar yang sangat bagus."

Nozomi juga tersenyum. Kedua pipinya memerah.

"Ngomong-ngomong tentang kabar bagus, aku juga punya kabar bagus untukmu."

"Oh ya, kabar bagus apa?"

"Tunggu sebentar. Aku akan mengambilnya di kamar dulu."

"Eh?"

Nozomi berlari-lari kecil menuju ke kamar yang ada di ruang tamu. Naruto bengong sebentar seraya melepaskan sepatunya. Memegang dua tali tas yang tersandang di punggungnya dengan dua tangannya.

Satu menit kemudian, Nozomi keluar dari kamar dan menghampiri Naruto yang baru saja meletakkan tas di atas sofa.

"Ini..."

Tangan kanan Nozomi terulur ke arah wajah Naruto. Sesuatu tergenggam erat di tangan kanan Nozomi.

Naruto mengambilnya dan memperhatikannya dengan seksama.

"Apa ini?"

"Itu testpack."

"Testpack?"

"Ya, alat untuk menguji kehamilan."

"Oh... Alat untuk menguji kehamilan...," Naruto mengangguk lalu terkejut bukan main."Ke-Kehamilan!? Maksudnya!?"

Nozomi cuma tersenyum dengan sikap yang malu.

"Coba perhatikan baik-baik."

Diperhatikannya alat yang bernama testpack itu, Naruto berwajah serius.

"Hasilnya... Positif... Eh? Positif!?"

"Ya, positif. Aku juga terkejut saat memeriksanya tadi pagi. Terus aku juga sudah pergi memeriksanya ke dokter ahli kandungan. Hasilnya juga positif. Kata dokter, aku hamil sekitar dua minggu. Hehehe..."

Tertawa malu dengan wajah yang memerah, Nozomi menyembunyikan kedua tangannya di belakang tubuhnya. Naruto terpaku di tempat. Sedetik kemudian, dia meledak senang!

GREP!

Dipeluknya Nozomi dengan erat, diangkatnya sedikit dan berputar-putar bagaikan kincir angin. Nozomi kewalahan saat diperlakukan Naruto seperti ini. Naruto tertawa lepas dengan perasaan yang sangat bahagia.

"HAHAHA... AKU SENANG! SEBENTAR LAGI AKU AKAN MENJADI AYAH! YEAAAAAAH!"

"Ah... A-Aku tahu, Naruto. Tapi, lepaskan aku... Pusing nih..."

"Hahaha... Baiklah..."

Dia berhenti berputar dan menurunkan Nozomi. Dilepasnya Nozomi sehingga dia bisa bertatap muka dengan Nozomi. Kedua bahu Nozomi dipegangnya dengan erat. Tersenyum dengan wajah yang berseri-seri.

"Ini kabar yang sangat membahagiakan buatku. Tidak lama lagi, kita akan menjadi orang tua. Ayahmu pasti yang lebih senang jika mendengarnya."

Nozomi juga tersenyum dengan kemerahan di dua pipinya.

"Iya. Ayah pasti senang karena ayah ingin segera mempunyai cucu. Akhirnya impian ayah itu terkabulkan."

Naruto menatap wajah Nozomi lekat-lekat. Kedua matanya melembut.

"Terima kasih, Nozomi."

"Eh? Buat apa?"

"Karena kamu sudah memberikanku satu kebahagiaan besar. Rumah ini akan ramai jika ada anggota baru lagi. Kita hidup tidak hanya berdua saja, tapi bersama anak kita. Kita akan merawatnya bersama-sama. Membesarkannya dengan penuh kasih sayang. Aku akan menunggu saat itu tiba dan aku akan lebih giat bekerja di tempatku yang baru. Inilah keberuntungan dari anak kita. Aku akan membahagiakanmu dan anak kita dengan pekerjaanku sebagai wartawan."

Mendengar itu, Nozomi terpana. Setelah itu, dia mengangguk.

"Aku mengerti."

"Kamu memang istriku yang sempurna."

GREP!

Dipeluknya pundak istrinya dengan erat. Istrinya membalasnya dengan cara membelit pinggangnya. Mereka berpelukan begitu lama untuk mengekspresikan segala perasaan kasih mereka. Kemudian mereka melepaskan pelukan masing-masing dan saling menatap lagi.

"Ya, sudah. Aku akan segera memasak untuk makan siang sekarang."

"Baiklah... Biar kubantu ya. Kamu hamil, kan? Aku tidak akan membiarkanmu memasak sendirian."

"Ah, eh... Hehehe... Boleh saja."

Tertawa kecil sambil menggenggam tangan Naruto, Nozomi bersikap malu. Naruto juga ikut tertawa dibuatnya.

"Setelah ini, kita akan pergi berkunjung ke rumah ayahmu. Sekalian memberitahukan kabar bagus ini."

"Kalau begitu, aku akan membuatkan makanan juga buat ayah. Bolehkan, Naruto?"

"Boleh saja."

"Terima kasih."

"Hm... Ayo, kita memasak sekarang! Aku sudah lapar nih."

"Hehehe... Baiklah..."

Mereka berdua tertawa penuh kebahagiaan. Hari ini, dua kabar bagus menghampiri kehidupan rumah tangga mereka. Pertama, Naruto diterima bekerja sebagai wartawan di kantor berita Senju News. Kedua, Nozomi hamil dua minggu. Dua kabar bagus yang sangat membuat mereka bahagia. Sungguh, hal ini membuat kehidupan mereka berdua menjadi lebih berwarna.

Lalu keduanya sudah pergi ke dapur. Memasak bersama untuk makan siang. Sesekali Naruto menjahili Nozomi yang sedang memotong bawang merah dengan cara mencolek perutnya. Nozomi membalasnya dengan memukul kepalanya pakai lobak. Naruto menghindarinya dan tertawa senang. Nozomi tidak mengejarnya dan malah ikut tertawa. Berakhir dengan pelukan tidak terduga dari Naruto. Naruto memeluk Nozomi dari belakang. Dia meletakkan dagunya di atas bahu kiri Nozomi. Wajah Nozomi memerah dan merasa sangat berdebar-debar. Lalu...

Terjadilah adegan yang tidak dapat dilihat. Disensor.

.

.

.

Di sebuah taman yang indah dan sepi.

Di sore hari yang cerah, sekitar jam 4 sore, Maki berpakaian kantoran sedang duduk di sebuah bangku taman. Bangku itu terletak di tepi jalan setapak yang membentang lurus. Pepohonan Sakura menghiasi pemandangan taman sekitar. Angin berdesir dan bertiup lembut. Membuat rambut dan pakaian Maki berkibar-kibar karena dimainkan angin.

Dia menunggu seseorang yang memintanya untuk datang ke taman itu. Seseorang yang mencintainya. Siapa lagi kalau bukan Sasuke.

Diperhatikannya jam tangan yang tersemat di pergelangan tangan kirinya, Maki berwajah kesal. Karena Sasuke belum datang juga pada waktu yang dijanjikan. Dia menggerutu sendiri di dalam hatinya.

'Dasar, si rambut raven itu kemana sih? Dia memintaku datang ke taman kota sebelum jam empat, malah dia sendiri yang tidak datang... Huuuh... Dasar, payah!'

Sedang asyik-asyiknya mengutuk si Uchiha, pada akhirnya si Uchiha yang dinanti-nanti datang juga. Maki menoleh ke arahnya sambil memberinya tatapan yang tajam.

Sasuke datang dengan penampilan keren dan rapi. Memakai kemeja putih yang dimasukkan ke dalam celana jeans panjang hitamnya. Kemeja putih itu dilapisi dengan jaket berwarna hitam. Tangan kanannya disembunyikan di belakang tubuhnya, sedangkan tangan kirinya dimasukkan ke dalam saku celana panjangnya.

Begitu di dekat Maki, Sasuke berhenti berjalan dan memasang wajah datar.

"Maaf, aku terlambat. Soalnya jalanan macet."

"Huh... Kau ini! Membuatku menunggu selama sepuluh menit! Kamu tahu, aku tidak suka menunggu!"

"Kalau begitu, maaf."

"Ya... Ya... Aku maafkan."

"Sekalian terimalah ini..."

Menyodorkan sebuket bunga mawar merah pada Maki, Sasuke berwajah datar tanpa senyuman. Tapi, semburat merah samar-samar terlihat di dua pipi Sasuke.

BATS!

Dengan cepat, Maki menyambar sebuket bunga mawar itu. Wajahnya masih sewot.

"Terima kasih."

Setelah itu, Sasuke duduk di samping Maki. Maki tersentak dan langsung mendorong Sasuke sehingga Sasuke terjungkal jatuh dari bangku.

BRAK! GEDUBRAAAK!

Sasuke terkapar dalam keadaan tidak elit. Maki berwajah sangat sewot sambil berseru.

"JANGAN COBA-COBA DUDUK DI SAMPINGKU, SASUKE!"

Bangkit berdiri dari acara terkaparnya, Sasuke mengeluh kesakitan. Dia pun ikut berwajah sewot dan menatap Maki dengan tajam.

"Lagi-lagi kamu melakukannya, Maki! Kenapa sih kamu tidak bisa bersikap manis padaku sedikitpun? Kamu benar-benar tsundere akut."

"Ha-Habisnya... Kamu duduk terlalu dekat denganku, tahu!"

"Itu wajar... Aku ini pacarmu, kan? Wajar kalau kita duduk saling berdekatan. Apalagi kalau kita menikah nanti, kita akan selalu dekat karena kita akan menjadi suami-istri. Berbulan madu dan..."

"JANGAN MENGHAYAL YANG BUKAN-BUKAN! DASAR, SASUKE MESUM!"

BUK!

Wajah tampan Sasuke sukses ditimpuk dengan sebuket bunga mawar. Maki yang melemparnya dengan sekuat tenaga.

WHUUUUSH!

Angin bertiup kencang dan menerbangkan kelopak-kelopak bunga mawar yang sudah rontok. Membawanya terbang tidak beraturan entah kemana. Sebagai efek dramatis yang mendukung suasana kebekuan Sasuke.

Maki terengah-engah. Ternyata bersikap tsundere membuang banyak energi dan emosi. Dia benar-benar kesal karena harus mempunyai pacar seperti Sasuke.

Jika diputuskan, maka dia akan menjadi sendirian lagi dan tidak akan ada lagi laki-laki yang mencintainya setulus Sasuke.

Jika dijalankan, maka dia harus belajar menerima Sasuke untuk menjadi bagian dari hatinya dan harus menjawab lamaran Sasuke hari ini.

Lamaran?

Mengingat itu, Maki menjadi sedih dan bingung. Apa dia harus menerima lamaran Sasuke atau tidak? Karena Sasuke berkali-kali bertanya padanya, apa dia menerima lamaran Sasuke atau tidak. Dia terus menjawab, dia masih memikirkannya dan membuat Sasuke sabar menunggunya selama dua minggu ini.

'Aku harus bagaimana? Apa yang harus aku lakukan? Di sisi lain, aku masih mencintai Naruto. Di sisi lain, aku ingin putus dengan Sasuke. Ya Tuhan, tunjukkan aku jalan yang terbaik...'

Kemarin itu, Maki menemui Nozomi ke apartemen Naruto. Maki menceritakan semua masalah pribadinya pada Nozomi. Termasuk perasaannya pada Naruto, Nozomi sangat kaget ketika mengetahuinya. Bahkan Maki juga mengatakan ingin menjadi istri kedua Naruto, itu jika diizinkan oleh Nozomi. Itu lebih mengejutkan Nozomi. Tapi, Nozomi dengan tegas menolak keinginan Maki yang ingin menjadi istri kedua Naruto dan mengatakan bahwa Naruto adalah suaminya, hanya dia yang menjadi istri Naruto satu-satunya. Dia tidak mau menyerahkan Naruto pada Maki dan juga memberitahukan pada Maki bahwa dia sudah mengandung anak pertama Naruto. Giliran Maki yang kaget karena mendengar Nozomi yang sudah hamil dua minggu.

Dia tidak menyangka bahwa Naruto sudah menjalin hubungan dengan Nozomi jauh dari itu. Buktinya sekarang, Nozomi hamil. Di dalam rahim Nozomi, embrio hasil pernikahan Nozomi dan Naruto sudah mulai berkembang. Buah cinta mereka yang akan mengisi kehidupan rumah tangga mereka. Itu menandakan bahwa Naruto sangat mencintai Nozomi. Naruto tidak pura-pura mencintai Nozomi ataupun mempermainkan hati Nozomi.

Maki salah paham. Sekarang dia sudah mengetahui semuanya. Cinta Naruto hanya terpaut untuk Nozomi. Naruto pasti sangat bahagia setelah mendengar Nozomi yang sudah hamil. Naruto akan menjadi ayah dan Nozomi akan menjadi ibu. Kebahagiaan mereka sudah lengkap dengan kehadiran sang buah hati.

Berdesir darah Maki jika membayangkannya. Dia tidak bisa masuk lagi ke kehidupan Naruto. Jika dia mengganggu kehidupan rumah tangga Naruto dan Nozomi lebih jauh lagi, dia akan dianggap sebagai orang ketiga yang suka merusak hubungan rumah tangga orang lain. Keluarganya akan malu jika mengetahui dia seperti itu. Semua teman akan menjauhinya. Media massa akan meliput tentang dirinya dan...

'Tidak! Aku tidak ingin merusak hubungan siapapun! Aku hanya ingin menikah dengan suami yang menyayangiku sepenuh hati. Aku tidak akan mengganggu hubungan Naruto dan Nozomi. Mereka sudah mempunyai anak sekarang. Aku harus melupakan semua ini...'

Dia menggeleng-gelengkan kepalanya dengan kuat. Memantapkan hatinya untuk menerima apa yang ada.

"Hei, Maki! Kamu kenapa? Hei!"

Lamunannya buyar. Dia tersentak dan menyadari Sasuke sudah berdiri di depan matanya. Ditambah kedua bahunya dipegang erat oleh Sasuke.

Dilihatnya, Sasuke memasang wajah cemasnya. Sehingga Maki terpana lalu meneteskan air beningnya dari sudut mata ungunya.

"Huwaaaa, Sasuke..."

Secara langsung Maki merangkul leher Sasuke. Terheran-heran, Sasuke berwajah datar dan bertanya.

"Hei, kenapa kamu malah menangis?"

"Maaf."

"Maaf? Untuk apa?"

"Aku membuatmu menunggu karena aku menunda jawaban lamaranmu itu."

"Oh... Itu," Sasuke berwajah datar tanpa membalas pelukan Maki."Terus apa jawabanmu sekarang?"

"Jawabanku... Ya..."

"Ya, apa?"

"Iya, aku mau menikah denganmu."

"Serius?"

"Serius, baka! Huwaaaa..."

Akhirnya senyuman muncul di wajah tampan Sasuke. Sasuke membalas pelukan Maki. Dia begitu senang mendengarnya.

Di antara angin yang bertiup kencang, mereka berpelukan erat. Suasana mulai tercipta romantis dengan alunan musik biola yang sangat indah.

Aneh, darimana datangnya suara musik biola itu?

Usut punya usut, ternyata ada seseorang yang memainkan biola yaitu Itachi. Dia bersembunyi di tanaman bonsai, tak jauh dari Sasuke dan Maki berada.

Dia tidak sendirian. Melainkan bersama para anggota Akatsuki lainnya. Ada Pain, Konan, Hidan, Kakuzu, Kisame, Sasori, Deidara, Zetsu, dan Obito. Mereka saling berjongkok dan menangis terharu menyaksikan adegan ini.

"Hiks... Hiks... Akhirnya Maki menerima lamaran Sasuke...," Kisame menangis sambil menyembunyikan wajahnya di bahu Itachi yang terus memainkan biola.

"Aku juga. Huhuhu...," bahkan Itachi juga menangis karena terharu.

"Selamat ya, Itachi. Kau akan menjadi kakak iparnya Maki," kata Sasori disertai anggukan dari Deidara.

"Asyik... Sebentar lagi... Bakal ada pesta pernikahan... Terus ada makanan... Makan... Makan...," Obito kegirangan.

"Tapi, Itachi masih jomblo. Kapan kau akan menikah juga, Itachi?" tanya Hidan.

"Benar juga. Tidak mungkinkan adikmu yang menikah duluan, Itachi," Kakuzu juga penasaran.

"Tenang saja. Aku juga akan menikah. Aku sudah punya calon istriku yang dipilih oleh ayahku," jawab Itachi yang terus memainkan biola.

"Siapa?" tukas Pain dan Konan bersamaan.

"Ada deh."

"Heh...!? Siapa dia!?"

Semua anggota Akatsuki juga penasaran. Itachi cuma tersenyum simpul.

"Suatu hari nanti, kalian akan tahu sendiri kok."

"KOK GITU!?"

"JANGAN PELUK AKU!? SANA MINGGIR, SASUKE, BAKA!"

Terdengar jeritan Maki yang sangat keras, mengagetkan para Akatsuki. Mereka pun tercengang saat Sasuke dipukul seperti bola dan melayang jatuh tepat ke arah mereka.

BRAAAAK! GEDUBRAAAAK!

Alhasil, mereka dihantam oleh Sasuke yang jatuh. Mereka terkapar semuanya dalam keadaan tidak elit dengan efek kepulan asap dan debu.

Bahkan Sasuke pun pingsan setelah mendapatkan pukulan manis dari Maki!

Setelah menghajar Sasuke, Maki meraih tasnya yang tergeletak di bangku kayu dan segera melangkah besar-besar seperti langkah monster. Wajahnya menyeramkan. Kedua matanya menajam seperti setan. Seakan-akan ada dua tanduk setan di dua sisi kepalanya.

Dia pergi meninggalkan taman itu dengan perasaan yang dongkol dan senang. Hatinya lega karena sudah menyelesaikan masalah pribadinya ini.

Dia benar-benar tsundere akut. Apa jadinya dia sudah menikah dengan Sasuke? Pasti setiap hari, rumah tangga mereka diwarnai dengan pertandingan sasana tinju.

Membayangkan itu, Maki tersenyum. Langkahnya menjadi ringan. Seakan-akan terbang lepas ke langit.

'Aku akan berusaha mencintaimu, Sasuke. Aku berjanji akan menjadi istri yang baik untukmu. Seperti Nozomi, aku akan menjadi istri yang sempurna dan akan menerimamu apa adanya.'

Perasaannya menghangat seperti sinar mentari sore. Dia tidak sabar untuk menanti kehidupan barunya bersama Sasuke di masa mendatang lagi.

Sebaliknya di tempat Akatsuki.

Mereka masih terkapar dan tidak bergerak sama sekali. Beberapa di antaranya, malah pingsan. Biola yang dimainkan Itachi, juga ikut terkapar dan rusak parah akibat Sasuke jatuh barusan.

Keadaan menjadi hening. Angin terus bertiup. Menemani kebersamaan Akatsuki yang sudah kalah dalam medan perang.

Seperti itulah kiasannya.

.

.

.

Lima bulan sejak saat itu.

"AKU AKAN LEMPAR BUNGANYA SEKARANG YA!"

Seorang gadis berambut merah yang mengenakan gaun pengantin berwarna putih, sedang melemparkan sebuket bunga mawar putih ke arah belakang. Sementara dia membelakangi para tamu yang datang ke tempat pernikahannya yang diadakan di mansion keluarga Uchiha. Dia begitu senang karena sudah menikah dengan anak kedua dari direktur perusahaan media massa Konoha Express.

WHUUUSH!

Sebuket bunga mawar putih terlempar dan jatuh ke tangan seorang gadis berambut biru. Semua mata tertuju padanya dan bersorak gembira.

"WAAAAH, KONAN YANG MENDAPATKAN BUNGANYA!"

"BERARTI GILIRAN KONAN YANG AKAN MENIKAH NANTI!"

"MASA SIH!?"

"CIYEEE, KONAN AKAN MENIKAH DENGAN PAIN!"

"SUIT!"

"SELAMAT YA, KONAN!"

Semua tamu yang terdiri dari semua penghuni Konoha Express dan berbagai perusahaan yang kenal dengan keluarga Uchiha, turut hadir untuk menyemarakkan pesta pernikahan Sasuke dan Maki. Beberapa di antara mereka, menyoraki dan menggoda Konan yang mendapatkan sebuket bunga mawar putih yang dilemparkan Maki. Konan hanya tersenyum dengan wajah malu yang memerah. Bahkan Pain yang berdiri tak jauh darinya, mendapatkan sambaran sorakan dan godaan dari para anggota Akatsuki. Pain hanya tertawa malu sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

Antara Pain dan Konan. Diketahui, mereka menyambung lagi. Dengan kata lain, mereka berpacaran lagi.

Jadi, semua orang di kantor Konoha Express, sudah mengetahui mereka berpacaran lagi. Karena itu, mereka menjadi sasaran godaan dari teman-teman mereka itu.

Di halaman luas mansion keluarga Uchiha, pesta pernikahan berjalan dengan sukses. Para tamu sangat terhibur dengan sajian acara yang dibawakan oleh Itachi, selaku kakak mempelai laki-laki.

Di sana, juga ada Naruto dan Nozomi yang duduk dalam satu meja bersama Sasuke. Naruto mengenakan pakaian pesta seperti setelan jas hitam, kemeja putih, dasi hitam, dan sepatu hitam. Penampilan Naruto sangat berbeda dari biasanya karena rambut pirangnya sudah dipotong pendek. Tidak jabrik acak-acakan lagi. Kesannya sekarang, dia lebih dewasa karena disuruh mertuanya untuk memotong rambutnya lebih rapi lagi agar terlihat seperti seorang suami dan calon ayah yang kini menanti sang buah hati lahir.

Nozomi sekarang hamil lima bulan. Perutnya sudah membesar. Dia tampak cantik dengan balutan dress ungu selutut khusus wanita hamil. Rambut ungunya yang panjang dikepang di samping kirinya dan dijuntaikan di bahu kirinya. Kesan keibuannya terlihat jelas. Senyuman manis terus terukir di wajahnya yang cerah.

Sasuke juga kelihatan gagah dalam balutan setelan jas putih, kemeja putih, dasi putih, dan sepatu putih. Rambutnya ditata rapi. Dia terus berwajah datar tanpa ekspresi. Tidak tampak kesan bahagia dari matanya.

Di atas meja yang mereka tempati, sudah terhidang segala jenis makanan dan minuman. Naruto tampak menikmati segelas soda dinginnya, sedangkan Nozomi memilih meminum secangkir teh hijau. Lalu Naruto menjauhkan gelas dari mulutnya dan bertanya pada Sasuke.

"Teme? Mana istrimu? Dari tadi, aku tidak melihatnya. Katamu, kita akan makan siang sama-sama di sini."

Sasuke menatap Naruto dengan wajah lesu.

"Haaaah... Paling-paling dia masih asyik mengobrol dengan teman-teman perempuannya. Kau sendiri tahukan mereka itu suka menggosip kalau sudah berkumpul begitu. Tidak kenal waktu, pasti mengobrolnya lama."

"Ah, benar juga sih."

"Kau beruntung karena mendapatkan istri yang tidak suka bergaul ataupun menggosip. Sementara aku... Ya sudahlah..."

"Lho... Kenapa kau malah mengeluh begitu setelah menikah dengan Maki? Kau mencintai Maki, kan?"

"Aku memang cinta dia. Tapi, sifatnya itu... Tsundere akut. Sedikit saja aku menyentuhnya ataupun berdekatan dengannya, pasti ujung-ujungnya aku kena pukul. Ingat pas upacara pernikahan tadi, tidak?"

"Eh? Ingat kok. Pas kau akan mencium Maki, tapi Maki malah menamparmu sampai kau jatuh pingsan. Para tamu sampai syok melihat kalian seperti itu. Aku juga syok, tahu."

"Itulah... Kenapa aku merasa tidak semangat untuk menjalani semua ini. Rasanya aku salah mengambil keputusan untuk menjadikan Maki istriku. Tapi, karena cinta, aku akan menerima semuanya dengan ikhlas. Aku rela dihajar oleh Maki setiap hari. Asal aku bisa hidup bahagia bersamanya untuk selamanya..."

Sambil mengatakan itu, Sasuke berwajah serius plus miris. Naruto tertegun setelah mendengarkannya. Begitu juga dengan Nozomi.

Mereka berdua terdiam sebentar dan terus menatap Sasuke. Lalu Maki datang dan menghampiri mereka.

"Hai, semuanya. Maaf, aku terlambat datang soalnya harus mengobrol sama teman-temanku itu."

"Hai juga, Maki. Tidak apa-apa kok," Nozomi yang menjawab.

"Ayo, silakan, Naruto, Nozomi. Kita makan siang sama-sama yuk...," Maki duduk di kursi yang agak berjauhan dari Sasuke dan melirik Sasuke yang lesu."Sasuke-kun juga, ayo kita makan!"

Sasuke tersenyum simpul. Terpaksa, walaupun di hatinya sedang merasa kecewa. Kecewa karena Maki yang tidak mau bermesraan dengannya.

Maki juga tersenyum. Lantas dia mulai mengambil garpu dan menggunakan garpu untuk mencomot salah satu makanan yang ada di piring. Tapi, niatnya batal ketika melihat Naruto yang menyuapi Nozomi. Nozomi kewalahan dan malu saat mulutnya disumbat dengan makanan oleh Naruto.

Karena jahil, Naruto malah tertawa saat Nozomi terdiam dan Nozomi terpaksa mengunyah makanan itu dengan gerakan cepat. Perasaan kesal muncul di hati Nozomi.

DUAAAK!

Kaki Naruto diinjak dengan sepatu datar milik Nozomi. Naruto terdiam dan menghentikan aksinya. Menahan rasa sakit karena kakinya diinjak kuat oleh Nozomi yang mengisyaratkan Nozomi kesal padanya karena ulah konyolnya.

Sasuke dan Maki bengong melihat mereka berdua.

"Ada apa?"

Naruto segera menjawab pertanyaan Maki dengan senyuman kikuk.

"Ti-Tidak ada apa-apa."

"Oh... Ya sudah, teruskan saja makan kalian."

"Ya..."

Sekali lagi, Naruto tersenyum sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Kembali Sasuke dan Maki melanjutkan aktifitas makan masing-masing.

Naruto melirik Nozomi yang juga asyik makan. Lalu dia berbisik pelan pada Nozomi.

"Kenapa kamu menginjak kakiku?"

Melirik ke arah Naruto, Nozomi juga berbisik pelan.

"Karena kamu menyuapiku di depan umum begini. Aku malu..."

"Oh, aku kira kamu menjadi tsundere seperti Maki. Ternyata tidak."

"Tidak mungkin. Aku tidak akan menyakiti suamiku sendiri."

"Tapi, kamu menyakitiku. Buktinya kamu menginjak kakiku. Sakit, tahu."

"Maaf."

"Tidak apa-apa."

Mereka saling tersenyum dan saling berpegangan tangan erat. Menatap mesra dengan perasaan cinta.

Melihat adegan itu, Sasuke dan Maki terpaku. Wajah mereka memerah lalu saling menatap antara satu sama lainnya.

GYUT!

Tangan Sasuke juga menggenggam tangan Maki. Maki agak terkejut dan mendengar Sasuke mengatakan sesuatu padanya.

"Maki... Aku harap kita bisa seperti Naruto dan Nozomi. Kita berbulan madu dan segera mempunyai anak. Itu pasti akan menyenangkan ya?"

Senyuman yang menawan, tercetak di wajah Sasuke. Sanggup menyisipkan sedikit pesona ke dalam mata Maki.

Tapi, Maki tidak bisa menghilangkan sikapnya yang satu ini.

Tsundere akut bangkit lagi!

BUAAAAK!

Pipi kanan Sasuke sukses ditonjok keras oleh Maki. Sehingga Sasuke terjungkal jatuh dari kursinya.

BRUAAAK!

Dia terkapar dalam keadaan tidak elit dengan pipi kanan yang membiru. Lagi-lagi dia menerima bogem mentah dari istrinya yang tersayang.

Hening.

Semua orang sweatdrop dan ternganga habis menyaksikan adegan konyol ini.

Maki yang tidak merasa bersalah, dengan santai menyelesaikan makanannya yang tertunda.

Naruto memasang wajah syoknya yang memutih.

Nozomi berwajah cemas dan memegang perutnya yang membesar. Di mana janinnya bergerak-gerak di dalam perutnya.

Ada Ruby, Nico dan seorang gadis berambut jingga pendek bernama Hoshizora Rin. Mereka bertiga adalah teman kerja Naruto dan Sasuke di kantor Senju News. Mereka juga diundang oleh Sasuke beserta penghuni kantor Senju News di acara pesta pernikahan ini.

"Eh? Lagi-lagi Sasuke ditinju oleh istrinya?" kata Nico yang sedang menikmati minuman es lemonnya.

"Kasihan sekali Sasuke ya?" Ruby merasa kasihan sambil memegang gelas yang berisikan es lemon. Dia berdiri di tengah di antara Nico dan Rin.

"Iya, tampan sekali," ujar Rin yang memandang ke arah pria berambut merah.

"Eh?" Nico dan Ruby ternganga ketika menyadari Rin malah memperhatikan Sasori.

Semua orang saling berbisik-bisik antara satu sama lainnya. Fugaku dan istrinya yang bernama Uchiha Mikoto, hanya tersenyum maklum melihat adegan yang terjadi di antara Sasuke dan Maki. Ayah Maki memohon maaf pada mereka di antara para kerumunan.

"Maaf, atas nama anak saya. Saya benar-benar tidak menduga hal ini terjadi. Maaf, Fugaku-san, Mikoto-san."

"Hahaha... Tidak apa-apa... Nishikino-san."

Fugaku tertawa dengan wajah yang cerah. Mikoto juga menyahut.

"Kami senang mendapatkan menantu seperti Maki. Itu akan membuat rumah kami menjadi semakin ramai."

"Benarkah, Mikoto-san?"

"Benar."

"Huhuhu... Terima kasih."

Ayah Maki yang merupakan pengusaha besar yang bergerak di bidang percetakan dan penerbitan buku, membungkukkan badannya berkali-kali pada orang tua Sasuke. Sementara Itachi yang membawa acara pesta pernikahan ini, malah tertawa melihat penderitaan adiknya.

"Hehehe... Rasakan itu, Otouto..."

Sungguh, acara pesta pernikahan ini diwarnai dengan sasana tinju, kekonyolan, dan kekacauan. Apalagi ditambah dengan para Akatsuki yang saling bertengkar karena merebutkan makanan yang tersaji di atas meja. Pain dan Konan yang asyik pacaran di pojok halaman, saling membicarakan tentang kehidupan mereka di masa depan. Pokoknya semuanya kacau sampai berakhir dengan acara foto-foto bersama.

JEPRET!

Sebuah foto berhasil diabadikan oleh sang fotografer dadakan yaitu Sai. Sai yang memfoto semua orang yang hadir di pesta itu. Termasuk mengambil foto Nozomi yang merangkul lengan kanan Naruto dan Naruto tertawa malu. Mengambil foto Maki yang sedang menginjak kaki Sasuke saat Sasuke hendak merangkul Maki dari samping. Terakhir adalah mengambil foto Naruto, Nozomi, Sasuke dan Maki secara bersamaan. Mereka berempat berpose dengan ekspresi yang berbeda.

Semua foto sukses didapatkan dari kamera yang dibawa oleh Sai. Rencananya semua foto itu akan dicuci dan dicetak serta dibagi-bagikan pada semua orang yang hadir di tempat itu. Menjadi bukti dan kenangan yang sangat berharga bagi orang-orang yang hadir di tempat itu.

Setelah itu, semuanya berlalu hingga Nozomi melahirkan dan Naruto sukses meningkatkan karirnya sebagai wartawan di Senju News. Mereka hidup bahagia bersama anak perempuan mereka yang lahir dengan selamat.

Nama anak mereka adalah Uzumaki Neptune.

.

.

.

BERSAMBUNG

.

.

.

BALASAN REVIEW:

Clydiust: cara review, cukup beri saran, kritik dan pendapat serta kesanmu pada cerita ini.

Sato kishi: maaf, nggak bisa ceritain adegan bulan madunya. Hehehe...

kambing hitam: oke, lanjut nih.

ahmadbima27: yup, update kilat nih. Terima kasih atas reviewmu.

saputraluc000: terima kasih. Panjang amat ya reviewmu.

arifkarate: oke, lanjut.

Okita Shinn: oke, shinn. Chapter 8 akan segera menyusul. Mohon bantuannya sekali lagi.

.

.

.

A/N:

CHAPTER 7 UP!

Yup, kita jumpa lagi nih. Satu chapter lagi, cerita ini akan tamat. Jadi, untuk chapter depan, saya akan menceritakan tentang kehidupan Nozomi, Naruto dan anak mereka, Neptune.

Neptune adalah karakter dari anime yang berjudul Hyperdimension Neptunia. Kalian bisa lihat gambarnya di google.

Kenapa saya memilih Neptune menjadi anak Naruto dan Nozomi di fic ini? Karena sudah menjadi kesepakatan saya dengan Shinn. Jadi, keputusannya adalah Neptune yang menjadi anak Naruto dan Nozomi.

Mau tahu kelanjutan kisah ini? Saksikan saja di chapter 8. Edisi spesial untuk mengakhiri fic ini. Juga tentang perkembangan hubungan Sasuke dan Maki. Apakah Sasuke dan Maki juga akan punya anak? Lihat saja nanti.

Sekian... Sampai di sini.

Sampai jumpa lagi di chapter 8.

Sabtu, 19 November 2016