Bab 7
Bab 7
Malam Hari di Ruang Rekreasi Slytherin,
Baru saja Draco memasuki ruangan dengan perasaan sedikit lega. Misinya mengalami perkembangan signifikan. Memang tidak banyak, tapi ini membuktikan kalau ada prospek yang terang suatu hari nanti. Dia hanya perlu terus mencoba dan mencoba tanpa henti. Kenyataan inilah yang membuatnya bisa sedikit tersenyum dan menghela nafas panjang berkali-kali untuk menyingkirkan rasa frustrasi yang mendera beberapa hari terakhir. Semoga saja pencapaian ini bisa sedikit berguna untuk melancarkan misi rahasianya, membebaskan kedua orangtuanya dari tangan Pangeran Kegelapan.
Meski terus disibukkan dengan berbagai keruwetan yang terjadi di dalam Kamar Kebutuhan, Draco selalu berusaha mengikuti perkembangan dunia luar, terutama menyangkut sepupunya, Madeline. Kabar terakhir yang didengarnya dari Crabbe, gadis itu baru saja dikenai detensi oleh Professor Snape. Sangat aneh, mengingat Professor Snape selalu berusaha melindungi anak-anak asuhnya dan jarang sekali memberikan detensi untuk penghuni asrama Slytherin. Detensi untuk Madeline menandakan kalau ulahnya ini memang sudah kelewatan. Bagaimanapun, melancarkan mantra pelumpuh (walau hanya tataran menengah) secara non-verbal kepada murid asrama musuh besar mereka, Griffindor, dapat dikatakan nyaris tak bisa dimaafkan.
Semula Draco tak percaya pada pendengarannya, benar-benar tak percaya. Penyebabnya adalah Draco tahu betul kalau sepupunya itu tidak bisa menyakiti siapapun, bahkan makhluk hina dina seperti jembalang misalnya. Kenangan di awal tahun lalu adalah alasan Draco tidak percaya kalau Madeline mampu menyakiti seseorang. Ketika itu dia sedang mengajari sepupunya merapal mantra Cruciatus di hutan terlarang.
"Aku tak bisa melakukannya, Draco," kata Madeline lirih, tangan pemegang tongkatnya gemetar.
"Kau bisa. Aku tahu kau bisa, Madie!" paksa Draco. "Kau hanya perlu mengucapkan mantranya. Sangat mudah, bahkan menyenangkan. Cobalah!"
Madeline menarik nafas panjang, wajahnya dibanjiri keringat dingin. Sorot mata gadis itu menunjukkan kalau dia ngeri melakukan apa saran Draco. Keragu-raguan ini membuat Draco tidak sabar lagi. Serta merta dia menarik lengan kiri Madeline dan menyeretnya masuk semakin jauh ke dalam hutan.
"Lakukan di sini!" seru Draco tegas. "Kita berada cukup jauh di dalam hutan. Kau tak perlu takut lagi karena tak akan ada yang melihatmu."
Tapi, Madeline masih saja enggan menuruti perkataan Draco. Sebaliknya, dia malah mengamati lekat-lekat pemandangan di sekeliling mereka. Suasana gelap mencekam meski hari masih siang, hawa yang lembab dan beraroma wangi dedaunan, pepohonan berbatang tebal-tebal yang memblokir sinar matahari masuk dan sesekali suara serangga mengisi ruang-ruang sunyi dalam hutan. Mereka berdua benar-benar seakan terkurung di sana.
"Kau bisa mencobanya pada binatang itu," ujar Draco sambil menuding seekor kelinci yang sedang melintas agak jauh di depan mereka.
Dahi Madeline berkerut-kerut, perasaannya bercampur aduk. Berulangkali dia mengerling Draco yang balas menatapnya dengan sorot memaksa, dan semakin bertambah ragu. Tongkat Madeline sudah setengah terangkat ketika tiba-tiba dia menurunkannya lagi.
"Aku benar-benar tidak bisa melakukannya," kata Madeline mantap setelah mengambil nafas panjang.
"Kenapa?" tukas Draco galak seraya berkacak pinggang. "Apa yang membuatmu tidak tegaan begini?"
Madeline mengamati gerak-gerik kelinci tersebut, kelinci berbulu coklat gelap yang menyelinap di antara rerumputan dan sesekali mengendus-endus biji-bijian yang berserakan di tanah. Pemandangan ini membuat Madeline merasakan sesuatu yang damai dalam hatinya. Dia sedang menyaksikan suatu kehidupan yang berharga dan dia merasa tak ada yang berhak merenggut kehidupan tersebut, termasuk dirinya sendiri.
"Kelinci itu tidak bersalah padaku, Draco. Mana bisa aku menyakitinya?"
"Dia hanya binatang lemah dan tak berguna," seloroh Draco, semakin kesal dengan tingkah Madeline. "Kau tak akan rugi kalau dia mati."
"Biar begitu, siapa tahu kelinci itu punya keluarga. Aku akan sangat berdosa kalau memisahkan dia dari keluarganya."
"Kau benar-benar polos, Madie," keluh Draco sambil mengacungkan tongkat sihirnya sendiri. "Lihat! Biar kutunjukkan caranya! Cru…"
"Expelliarmus!"
Seketika tongkat sihir Draco terlempar dan berputar-putar di udara. Madeline telah bertindak lebih dulu sebelum kutukan tak termaafkan itu selesai dirapal Draco. Saat Draco berpaling, sangat gusar dan hendak menghardik Madeline, dia menemukan ekspresi ketakutan di wajah sepupunya itu.
"Kumohon jangan lakukan itu, Draco!" pinta Madeline memelas.
Draco menyipitkan matanya, sama sekali tidak senang.
"Kenapa kau ini?! Kau tidak akan bisa menjadi seorang Pelahap Maut hebat kalau begini caranya!" bentak Draco.
"Aku tahu…"
"Pangeran Kegelapan tak akan bersedia menerima calon Pelahap Maut yang tidak bisa melukai seekor makhluk tak berharga walau hanya menggores kulitnya sedikit saja. Kau tahu itu!"
Madeline tertunduk lesu dan berkata terpatah-patah, "Aku hanya merasa kalau ini bukanlah diriku. Menyakiti seseorang tidak akan membuatku merasa hebat, sama sekali tidak. Maafkan aku! Aku ini seorang pecundang."
"Madie?"
Mau tak mau, Draco merasa bersalah sudah berlaku kasar. Melihat wajah Madeline yang lesu membuatnya jadi sangat menyesal. Dengan ujung-ujung jarinya, Draco mengangkat perlahan dagu Madeline dan menatap sepasang mata yang mamancarkan sinar redup itu.
Sekian tahun lama kebersamaan mereka telah menumbuhkan perasaan sayang di hati Draco. Dan, mengingat Madeline tinggal bersama keluarga Malfoy sejak ibunya ditahan, membuat Draco merasa gadis itu telah menjadi bagian dari keluarganya. Dia merasa Madeline sudah seperti adiknya sendiri, adik perempuan yang harus dilindungi dan dijaga betul dari tangan-tangan jahil. Apabila Madeline sedang bersedih, Draco selalu bisa berempati. Begitupula jika gadis itu sedang gembira, maka Draco selalu bisa tertawa bahagia bersamanya. Karena itulah dia merasa apa yang terbaik bagi dia adalah yang terbaik bagi Madeline. Pemikiran ini menyebabkan Draco jadi overprotektif dan suka mengatur segala sesuatu tentang Madeline, ibaratnya seperti seorang kakak laki-laki yang bertangan besi.
"Masa kejayaan Pangeran Kegelapan akan segera tiba. Karena itulah kita harus mempersiapkan segala sesuatunya. Kita berdua tidak tahu harus jadi apa setelah lulus dari sekolah ini nanti. Dan, yang terbaik bagi kita adalah menjadi pengikutnya…"
Sambil menasihati Madeline, Draco membelai rambutnya yang panjang lurus tergerai. Nada bicara Draco pun berubah menjadi jauh lebih lembut dari semula. Dia tidak ingin Madeline menjauhinya karena perbedaan keyakinan ini.
"…mungkin kau akan merasa sedikit terpaksa. Tapi kita memang sudah ditakdirkan di jalan ini. Semua ini adalah sifat alamiah kita, dan kita tidak bisa memungkirinya, Madie. Kuharap kau mengerti," kata Draco sambil memegangi puncak kepala Madeline dan tersenyum manis.
"Tidak ada seseorang yang dilahirkan menjadi penjahat, Draco. Setiap orang berhak memilih jalannya sendiri," kilah Madeline. "Aku juga berhak menentukan pilihanku sendiri. Dan, aku memilih untuk tidak mengikuti jalan yang telah menjerumuskan ayah-ibuku, paman dan bibi, atau lebih tepatnya keluarga kita."
Serta merta, Draco menjauhkan diri dari Madeline. Dia tersentak kaget bukan main mendengar penuturan gadis itu.
"Tapi… kau akan dikucilkan, Madie. Kau akan sangat menderita nanti."
Madeline tersenyum samar, "Aku akan jauh lebih menderita jika tidak menuruti apa kata nuraniku sendiri."
Kemudian Madeline berlalu, meninggalkan Draco yang termenung sendirian, memikirkan perkataan ini. Saat itu Draco bisa membesarkan hati dengan berpikiran kalau Madie hanyalah gadis abg yang belum matang dalam mengambil keputusan. Suatu hari nanti dia akan berubah pikiran, pikir Draco dulu. Namun, hari demi hari yang dilaluinya dengan mengamati perkembangan Madeline (Draco merasa wajib melakukan ini sebagai seorang kakak), dia harus kecewa dengan kenyataan bahwa Madeline masih menjaga kemurniannya di tengah-tengah murid Slytherin lain. Bahkan, gadis itu semakin menjauh dari pergaulan antar sesama penghuni asrama Slytherin dan rela tidak punya seorangpun teman. Anehnya, dia tetap terlihat ceria di muka semua orang.
Sekarang Draco boleh merasa sedikit berbangga. Madeline sudah mulai berubah. Menyadari bahwa sepupunya itu sudah bisa mengutuk orang lain, menandakan kalau Madeline mulai menemukan jati dirinya. Ya, itu memang sudah seharusnya terjadi. Sebentar lagi mereka akan akhil baliq dan tentu Madeline akan menjadi semakin dewasa. Madie telah menemukan sifat-sifat yang menurun dalam dirinya, pikir Draco senang. Dan, tak lama lagi dia akan menjadi seorang Slytherin sejati seperti juga ayah-ibunya dan mayoritas keluarga besar kami.
Sambil bersiul-siul, Draco menyusuri ruang rekreasi Slytherin yang remang diterangi nyala api dari perapian. Sudah tengah malam dan tidak ada seorangpun di sana. Sofa-sofa berbantal empuk tampak menganggur, menunggu siapa saja untuk datang menduduki. Begitupula meja-meja belajar yang biasanya dipenuhi tumpukan buku dan perkamen berserakan, kini terlihat rapi. Langkah Draco terasa ringan ketika hendak menuju ke kamar anak laki-laki. Tapi, tak lama kemudian, dia menghentikan langkahnya. Dia menyadari ada orang lain di dalam ruangan itu.
"Madie?"
Sapaannya tidak disahuti. Tetapi dia yakin benar sudah melihat seseorang yang mirip Madeline sedang duduk di lantai sambil memeluk lutut dan menghadap ke perapian, membelakanginya. Siapa lagi gadis berambut coklat emas di asrama ini kecuali Madeline. Draco yakin dia tidak salah mengenali orang.
"Kau sedang apa di sini, Madie?" tegur Draco hati-hati, sekarang dia berdiri tepat di belakang Madeline yang masih saja betah menatap lidah api yang menari-nari diantara tumpukan kayu bakar dan abu.
Madeline memalingkan kepala, menyorot Draco dengan tatapan Jangan-Ganggu-Aku yang menerbitkan rasa iba. Ada hentakan kuat yang menyebabkan Draco enggan meninggalkan gadis itu sendiri. Panggilan hati sebagai seorang kakak menyeret kaki Draco untuk datang mendekat dan duduk bersila di samping Madeline.
"Malam sudah larut. Tidurlah!" saran Draco, mengamati wajah Madeline yang lesu tanpa gairah.
"Kita sudah tidak berhubungan lagi, kan?" tanya Madeline lirih. "Apa yang membuatmu harus peduli padaku?"
Draco nyengir jahil dan menyahut tanpa rasa bersalah, "Tidak tahu. Sepertinya ada yang kurang kalau sehari saja tidak mencampuri urusanmu."
"Kau jahat, Draco! Kau munafik! Bagaimana bisa aku menuruti kata-katamu kemarin kalau kau saja tidak mengikuti perkataanmu sendiri."
"Aku kan sudah minta maaf. Kau tahu kalau aku sudah menganggapmu seperti adikku sendiri…"
"Pembual!" tukas Madeline, sebal. "Kalau kau benar-benar menganggapku adik, mana mungkin kau tega menghadiahkanku kepada Harper dan Urquhart."
Draco mengangkat bahu dan nyengir lebar.
"Sebagai kakak yang baik, sudah sewajarnya aku khawatir melihatmu yang belum juga punya pacar. Tidak salah kan kalau aku ingin menjodohkanmu. Malahan, aku mengajukan dua calon sekaligus."
"Omong kosong!"
Sekarang Draco terkekeh.
"Lagipula Harper dan Urquhart adalah cowo-cowo yang baik. Aku yakin mereka benar-benar menyukaimu, Madie. Dan, mereka tidak akan berani kurang ajar padamu karena kau adalah sepupuku. Tidak ada yang salah dengan mereka berdua, kan?"
"Memang," sahut Madeline ketus. "Tidak ada yang salah kecuali penampilan mereka yang mirip sepasang Troll dan Goblin!"
Draco tergelak. Madeline meninju bahunya, kesal.
"Seleraku tidak separah itu, Draco!"
"Yeah. Aku tahu. Aku hanya bercanda."
"Tidak lucu!"
"Maaf!" Draco mengangkat kedua tangannya, setengah menyesal-setengah geli. "Aku tahu cowo yang kau sukai pastilah sangat istimewa."
Mendadak, Madie tercenung untuk sesaat. Dia teringat sosok Harry beserta semua kehebatan yang pernah didengarnya. Julukan Anak Yang Selamat, Sang Terpilih dan lain-lain, membuat hati Madeline pedih. Semua julukan itu memperjelas posisi mereka berdua. Dia ada di pihak lawan, pikir Madeline pahit.
"Kau benar. Dia memang sangat istimewa," ujar Madeline sendu. "Benar-benar sangat istimewa sampai-sampai tanganku tak bisa meraihnya, seolah dia berada sangat jauh dariku padahal dia selalu ada di depan mataku. Bahkan, aku tidak yakin dia menyukaiku."
"Cowo idiot mana yang bisa menolakmu?" tanya Draco, agak kesal. "Otaknya pasti sudah rusak parah."
Madeline justru mempelototi Draco dan berkata, "Percayalah, dia jenius kalau menolakku."
"Tidak…"
"Itu karena aku bukan orang cocok untuknya."
"Salah kalau kau menghakimi dirimu sendiri," balas Draco bijak. "Mungkin dia belum terlalu mengenalmu, Madie. Begitu dia mengenalmu lebih jauh, dia pasti akan sulit berpisah darimu. Kau tidak hanya menarik dari luar, kau punya kecantikan dari dalam yang sulit diungkapkan. Aku yakin tak ada gadis yang seistimewa dirimu."
"Masa?" desak Madeline riang. "Kau tidak bohong?"
Draco nyengir menyesal, "Tentu saja bohong."
Madeline memukuli bahu Draco, gemas sekali. Tapi Draco malah terkikik senang. Dia memang suka mengerjai Madeline. Seperti menemukan kenikmatan yang berbeda melihat gadis itu jadi serba salah karena ulah sepupunya sendiri. Tapi, bagaimanapun juga Madeline tidak pernah ngamuk berlebihan pada Draco. Bahkan, saat dia tahu kalau Draco telah mengumpankan dirinya kepada Harper dan Urquhart kemarin. Madeline memang menenteng dua pemukul beater ke dalam ruang rekreasi Slytherin. Tapi alih-alih membuat Draco babak belur, dia justru membekukan pemuda itu dengan mantra Petrificus Totalus dan mengomelinya panjang lebar seharian penuh (tentu Draco tidak bisa kabur dalam keadaan beku begitu). Madeline sempat mogok bicara sampai Draco membujuknya dengan sekotak coklat kodok berisi mead aroma ek agar mau memaafkannya.
"Oke! Oke!" kata Draco setelah berhasil menangkap kedua tangan Madeline, bahunya mulai terasa sakit. "Sekarang ada masalah apa?"
"Masalah?" Madeline balik bertanya. "Masalah apa?"
Draco mengangkat sebelah alisnya, menuntut penjelasan.
"Detensi dengan professor Snape. Apa itu bukan masalah?"
Sontak, Madeline terdiam.
"Tapi kau hebat, Madie!" seru Draco sambil menepuk pundak Madeline, antusias. "Akhirnya kau bisa juga mengutuk seseorang. Mantra Immobilo memang pilihan yang tepat. Sedikit lagi kau menaikkan tingkatannya, korbanmu bisa mengalami mati otak."
Mendengar perkataan Draco ini sungguh membuat perasaan Madeline tak kunjung membaik, sebaliknya dia malah sangat menyesal. Sejak tadi dia merenung seorang diri, menyesali kecerobohannya yang tidak mampu mengendalikan diri. Mengesampingkan semua kebenciannya pada Ginny Weasley, bukan berarti dia pantas menyakiti gadis itu.
"Itu hanya ketidaksengajaan," kilah Madeline. "Aku lepas kontrol. Aku mengupingnya sedang menjelek-jelekkanku di depan Granger. Dia sungguh seorang pengecut menyebalkan yang cuma berani besar mulut di belakangku. Hatiku panas sekali sampai tanpa sadar aku begitu menginginkan dia…"
"Apa?" desak Draco tak sabar saat Madeline tiba-tiba terdiam, tidak melanjutkan perkataannya. "Kau menginginkan dia apa?"
"Aku ingin dia mati," sahut Madeline, ragu-ragu. "Aku tahu ini salah. Dan, untunglah kekuatan sihirku belum sehebat itu. Aku akan jadi seorang pembunuh, seandainya mantra itu berhasil mencapai tingkat tertinggi. Syukurlah professor Snape datang di saat yang tepat. Dia sangat membantuku. Dia memulihkan Ginny dengan mantra kontra-kutukan yang tepat dan bahkan menghapus memori Granger dan gadis Weasley itu untuk melindungiku. Professor Snape memang tidak marah, tapi aku minta dia memberiku detensi atas perbuatanku ini."
"Kau gila!" tukas Draco tak percaya. "Kau mengutuk seseorang dengan kutukan hebat, lalu memanggil orang lain untuk memulihkan korbanmu. Bahkan, kau sendiri yang meminta detensi. Kau benar-benar bodoh, Madie!"
"Aku bodoh karena sudah mengutuk Ginny Weasley," balas Madeline. "Seharusnya aku tidak melakukan itu. Aku sangat menyesal, sungguh-sungguh menyesal, Draco. Detensi berapapun tidak bisa menebus kesalahanku ini."
"Gadis Weasley itu pantas mati," sambar Draco, tak sabar. "Dia memang sudah seharusnya mati saat Kamar Rahasia terbuka. Kenekatan, atau lebih pantas kusebut sebagai kebodohan Potterlah yang membuat gadis itu masih bisa bernafas sampai sekarang. Kalau saja dia tidak menyelamatkan gadis itu dengan mempertaruhkan nyawanya sendiri maka…"
"Cukup!" sentak Madeline tiba-tiba.
Draco terbelalak. Madeline tampak tidak senang diingatkan kembali pada kejadian empat tahun lalu. Untuk apa dia marah? Aku hanya berusaha menghiburnya saja, pikir Draco bingung.
Sayang, Draco tak tahu kalau Madeline benar-benar muak jika mengingat peristiwa mengerikan itu. Seandainya dulu ada seseorang yang mengusulkan kalau seharusnya Harry tidak pergi menjemput Ginny di Kamar Rahasia, maka dialah orang pertama yang akan tunjuk jari, setuju seratus persen. Andai Harry tidak masuk ke dalam Kamar Rahasia, sainganku akan berkurang, pikir Madeline masuk akal. Dan, aku tak perlu meluncurkan kutukan apapun untuk menyingkirkan gadis itu, karena aku tidak sanggup menyakiti siapapun. Aku terlalu lemah dalam hal ini.
"Yang jelas, aku sudah berjanji tidak akan pernah mengulanginya lagi," kata Madeline setelah terdiam beberapa saat. "Aku tidak akan melakukannya kecuali untuk membela diri jika terpaksa."
"Sampai kapan kau akan bertahan?" cibir Draco. "Kujamin kau tidak akan bisa. Kau sedang dalam penyangkalan, Madie. Kau berusaha membohongi dirimu sendiri. Sekalipun kau mati-matian mencoba, sifat yang telah menurun dalam dirimu tetap akan muncul suatu saat nanti. Dan, kau tak akan bisa mencegahnya, tidak siapapun."
"Aku akan tetap mencobanya, Draco," kata Madeline tegas. "Aku tahu aku punya sisi baik dalam diriku. Meskipun aku seorang Slytherin, bukan berarti aku dilahirkan sebagai orang jahat. Benar, kan?"
Draco menyeringai, "Kau benar, sepupuku. Memang tidak ada orang yang dilahirkan sebagai penjahat. Tapi kau juga perlu tahu kalau tidak ada orang yang terlahir sebagai orang yang benar-benar baik. Semua akan mengalami perubahan seiring dengan mengalirnya waktu. Perubahan yang akan mengikis salah satu sisi dan menonjolkan sisi sebaliknya. Mungkin saat ini kau bisa berbaik hati, tapi kita tidak tahu bagaimana ke depannya nanti. Kau punya sisi gelap. Akuilah itu! Dalam pikiranmu pernah terbersit untuk membunuh seseorang. Apakah kau bisa menjamin kalau kau benar-benar bisa meredam keinginanmu itu? Kupikir sekarang kau sedang bertransformasi, Madie."
Kerongkongan Madeline serasa tercekat. Semua ucapan Draco ini menonjoknya telak.
"Kukira kau tahu, sepupuku sayang. Kitalah penjahat dalam cerita ini," desis Draco, wajahnya menyeringai sinis. "Cepatlah bangun dari mimpimu! Dan, berperanlah sebagaimana dirimu yang seharusnya!"
"Tidak, aku tidak ingin…"
"Itu sudah terjadi," tukas Draco, lugas. "Kau tak akan mampu meredamnya. Renungkan ini baik-baik! Selamat malam, Madie!"
Setelah mengatakan penuturan mengerikan ini, Draco bangkit dari lantai dan berjalan meninggalkan Madeline seorang diri. Madeline sungguh merasa gundah. Dia memang mengenali apa yang dimaksud Draco sebagai sisi gelapnya. Akhir-akhir ini dia memang sedikit berubah. Entah apa yang membuatnya bisa nyengir geli alih-alih prihatin melihat Neville Longbottom, anak Griffindor, sukses terkena kutukan kaki-jeli dari Zabini. Dia bahkan bisa tergelak saat menyaksikan Luna Lovegood dikerjai geng Draco hingga membuat rambut pirang lusuhnya berdiri tegak mirip duri landak super. Yang paling mengkhawatirkan, tentu saja adalah ketika dia bisa tersenyum sangat puas saat melihat tubuh Ginny terkapar tak sadarkan diri usai terkena kutukan darinya tadi siang. Apakah Draco benar, aku sedang bertransformasi? pikir Madeline sangat cemas.
