Anime Zetsuen No Tempest (THE CIVILIZATION BLASTER) ditulis oleh Kyo Shirodaira dan diilustrasikan oleh Arihide Sano dan Ren Saizaki.

Zetsuen No Tempest (BTS version)

By : Han STARMY

Genre : Drama, Fantasy

Warning : Shounen-ai, BoyXBoy, Typo(s).

Note :

- Cerita ini sesuai dengan anime aslinya, hanya sedikit penyesuaan latar dan tokoh.

- [Italic] Monolog tokoh.

Don't like don't read

"Tidak salah lagi. Aku sudah melihat tubuhnya. Dia mati disebuah pulau, tepat disebelah sebuah tong." Ujar Hoseok yakin sambil menatap Taehyung dan Jimin. "Sekitar satu setengah bulan yang lalu, aku mengetahuinya dari Wonshik dan yang lain. Ketika aku kembali ke rumah keluarga Jeon..."

-Flashback-

"Ini aku, Hoseok."

"Masuklah." Ucap seseorang dari dalam kamar. Hoseok membuka pintu didepannya dan mendapati Wonshik yang duduk di kursi samping tempat tidur.

"Terima kasih sudah datang Hoseok." Ucap Wonshik. Hoseok memasuki kamar dan berdiri menatap Wonshik.

"Kenapa kau memanggilku kesini?" Tanya Hoseok akan alasan apa yang membuat pria itu memanggilnya datang kerumah.

"Aku sudah membuang pangeran." Aku Wonshik sedangkan Hoseok hanya menatap Wonshik tanpa ekspresi.

"Bagaimana kau melakukannya padahal Jungkookie mendapat perlindungan dari pohon genesis? Jika membunuhnya adalah syarat yang harus dilakukan, itu sudah sangat keterlaluan. Tidak ada yang tau apa yang akan terjadi nanti.." belum selesai Hoseok berbicara, Wonshik mengangkat sebelah tangannya menginterupsi.

"Itulah resikonya." Ucap Wonshik kemudian matanya menatap kearah tong yang ada disudut ruangan. Hoseok mengikuti arah pandang Wonshik dan mendapati apa yang ditatap pria itu. "Aku menggunakan obat untuk membuat pangeran tertidur, memasukannya kedalam tong dan membuangnya disebuah pulau. Jika mendapat bantuan, bukan tidak mungkin pangeran bisa melarikan diri, tapi pohon genesis belum tumbuh dengan sempurna." Jelas Wonshik.

"Jadi kau ingin bertaruh apakah alam akan membunuhnya. Kau mungkin tidak sepenuhnya bersalah karena kejahatan ini." Ucap Hoseok.

"Kemarin, aku menerima tong dan mayat dari pulau itu." Ujar Wonshik sambil menarik selimut yang menutupi tempat tidur. Mata Hoseok membulat sempurna melihat sesuatu ditempat tidur yang sedari tadi luput dari pandangannya. Sebuah kerangka manusia utuh, terbaring di atas tempat tidur dihadapannya. "Aku tidak yakin apakah ada binatang yang memangsanya dipulau itu, tapi dia sudah menjadi tulang belulang." Ucap Wonshik.

-Flashback End-

"Aku heran kau bisa mengenali Jungkook hanya dengan melihat tulang-tulang itu." Ucap Jimin pada Hoseok yang duduk didepannya. Saat ini mereka bertiga, Jimin Taehyung dan Hoseok sedang duduk disofa sederhana dalam apartemen Hoseok.

"Tengkorak itu memang milik Jungkookie. Aku tau karena dia memiliki bentuk kepala yang indah." Ekspresi aneh, heran dan tidak percaya jelas tergambar diwajah Jimin, sedangkan Taehyung hanya bisa blank mendengar ucapan Hoseok. "Itu memang hanya instingku saja, tapi aku tau jika itu adalah Jungkookie." Tambah Hoseok dengan ekspresi yang tidak bisa dijelaskan.

-Flashback-

Hoseok hanya bisa mengusap-usap tengkorak kepala dipangkuannya dengan tatapan sendu.

"Hoseok, klan akan mengambil langkah serius untuk membangkitkan pohon exodus." Ucap Wonshik.

"Begitu ya. Aku tidak bisa menggunakan sihir dan pemimpin klan yang sebelumnya memintaku untuk tetap netral apapun yang terjadi."

"Ya. Seandainya kau diminta untuk membangkitkan pohon exodus, klan ini pasti akan bersatu."

"Jadi, apa benar kau membunuh Jungkookie?" Tanya Hoseok sendu.

"Buat apa aku berbohong?" Wonshik balik bertanya sambil menatap Hoseok.

"Rasanya hal seperti ini bukan ciri khasmu. Meski bukan kau yang membunuhnya secara langsung, apa yang akan terjadi nanti masih belum jelas." Tatapan serius Wonshik tujukan pada Hoseok sebelum menggenggam pedang yang ia letakkan disampingnya dan bangkit berdiri.

"Ini bukan waktunya untuk menangisi kepergiannya." Ucap Wonshik kemudian berjalan keluar. Wonshik menghentikan langkahnya didedan pintu dan berujar tanpa berbalik. "Tulang-tulang itu akan disimpan dirumah inti, tapi untuk sekarang aku akan menitipkannya padamu."

-Flashback End-

"Aku tau Jungkookie pasti merasa terasingkan oleh klan, tapi aku tidak pernah menyangka jika akulah yang akan mengurus pemakamannya." Ucap Hoseok sambil menatap foto Jungkook yang terpajang di altar, Jimin dan Taehyung juga ikut menatap foto tersebut. "Sepertinya kalian percaya jika Jungkookie masih hidup." Ucap Hoseok kali ini mengalihkan pandangannya pada Jimin dan Taehyung didepannya.

"Apa menurutmu dia orang yang gampang mati?" Tanya Jimin sambil menopang dagunya, menatap Hoseok.

"Aku harus setuju denganmu, bukan hanya karena perlindungan dari pohon genesis. Dia juga orang yang sangat beruntung, bisa mengirim pesan lewat botol dan melakukan kontak lewat dunia luar." Ucap Hoseok.

Dia tenang sekali. Pikir Taehyung.

"Obrolannya sampai disini saja." Sambil menatap koper yang kini berada di antara Taehyung dan Jimin, Hoseok kembali berbicara. "Aku memang diminta untuk menjaga benda itu. Tapi aku yakin jika kalian berdua sudah tau apa yang harus kalian lakukan." Jimin bangkit sambil membawa koper itu.

"Apa kau sudah yakin?" Tanya Jimin yang membuat Hoseok menatapnya tidak mengerti.

"Ha?"

"Kau tau jika ada hal buruk sedang terjadi kan?" lanjut Jimin.

"Hanya ini yang bisa aku lakukan." Jawab Hoseok yakin. Jimin hanya menatap Hoseok sebelum akhirnya berbalik dan berjalan pergi.

"Ayo Taehyung." Ajaknya. Taehyung bangkit dari duduknya kemudian sedikit membungkuk pada Hoseok.

"Terima kasih atas bantuannya." Ujarnya sopan.

.

.

.

Dalam bus malam ini sangat sepi, hanya terisi beberapa orang saja, dua orang diantaranya dibangku paling belakang. Pada suduk kiri, Jimin menyandarkan punggungnya pada jendela bus dan meluruskan kakinya pada bangku panjang yang ia duduki. Sedangkan Taehyung di sudut kanan duduk normal sambil sibuk dengan ponsel ditangannya.

"Hoaamm. Dia itu siapa sih?" Tanya Jimin sambil menatap patung kayu yang masih menggantung dilehernya.

"Dia adalah anak buah pemimpin sebelumnya, dia kehilangan orang tuanya sejak masih kecill dan akhirnya diadopsi oleh klan. Ya, dia tidak bisa menggunakan sihir dia juga tidak memiliki kekuatan apapun, tapi pemimpin sebelumnya sangat mempercayainya dan semua orang di klan mengenalnya." Jelas Jungkook.

"Kau juga sudah mempercayainya kan? Kenapa bisa begitu 'Jungkookie'?" Tanya Jimin lagi sambil menekankan kata tarakhir yang ia ucapkan membuat Jungkook di pulau tak berpenghuni sedikit merona.

"Karena kedudukannya, dia tidak perlu memperlakukanku seperti seorang pangeran karena aku sudah seperti adiknya sendiri."

"Dan kau juga senang memiliki dia di keluargamu kan." Ucap Jimin.

"Aku tidak pernah bilang jika aku senang." Ucap Jungkook dengan sedikit berteriak. Taehyung tersenyum canggung pada penumpang yang menatap aneh pada mereka, setelah dirasa penumpang tersebut tidak memperhatikan mereka lagi, dengan suara pelan Taehyung bertanya pada Jungkook.

"Tapi kita bisa mempercayainya kan?"

"Ya." Jawab Jungkook yakin. "Hoseokie hyung tidak akan berbohong ataupun berkhianat." Tambah Jungkook.

"Kalau begitu kenapa Hoseok hyung berkata jika kau sudah mati?" Jimin kembali bertanya.

"Aku tidak yakin dan aku ragu jika dia gampang percaya begitu saja. Lagipula dia bisa begitu yakin jika tulang itu adalah tulangku, kenapa?" jawaban yang diakhiri kalimat tanya oleh Jungkook.

"Jika kita berpikir secara sederhana, apa mungkin dia sudah bergabung dengan Wonshik dan mengakali kita?" Tanya Taehyung.

"Kalau begitu seharusnya dia sudah menangkap kita dari tadi. Dan juga kita punya bukti jika dia masih hidup." Jawab Jimin sambil menatap patung kayu.

"Mungkin itu karena dia tidak tau tentang patung kayu itu dan kita saling terhubung satu sama lain." Ucap Taehyung.

"Jika dia memang berbohong, tadi itu payah sekali. Hanya dia yang berkata jika Jungkook sudah mati."

"Jadi mungkin Wonshik menginginkan seluruh klan percaya jika Jungkook sudah mati?" Tanya Taehyung.

"Untuk apa? Dia tau apa yang sudah dilakukan Wonshik. Aku ragu jika Wonshik bisa menipu Hoseok hyung dengan tulang-tulang palsu." Jawab Jungkook.

"Tapi dia sangat yakin jika kau sudah mati hanya dengan melihat tengkoraknya." Ucap Jimin.

"Aku juga tidak tau. Kecuali jika itu memang tulang-tulangku." Ragu Jungkook.

"Terus kau ini apa? Hantu?" ejek Jimin.

"Di dunia ini tidak ada hantu." Yakin Jungkook.

"Eh iya sih." Jimin tersenyum sendiri menyadari pikiran bodohnya. "Hal yang tidak jelas seperti itu tidak ada didunia ini." Lanjut Jimin.

Jika kita mau pergi kesana, semuanya akan menjadi semakin tidak jelas. Pikir Taehyung sambil menatap keluar jendela. Taehyung tersentak saat menatap keluar pandangannya menangkap ratusan kupu-kupu berterbangan.

"Jimin. Kupu-kupu." Ucap Taehyung panik.

"Apa?" Jimin ikut tersentak dan melihat keluar.

Tanah berguncang. Belasan rantang muncul menghancurkan jalan maupun terotoar dan terangkat naik menggantung pada buah yang melayang diudara. Dengan cepat supir bus menghentikan laju bus yang dikendarainya, menghindari jalan yang telah rusak didepannya.

.

.

Hoseok berlari keluar begitu merasakan guncangan yang cukup kuat dan suara keras dari luar.

"Ini gawat. Jadi buah exodus seperti itu wujudnya." Gumam Hoseok sambil menatap buah yang menggantung diudara. Hoseok mengalihkan pandangannya pada seorang pria yang tidak sadarkan diri di terotoar, yang perlahan-lahan dilapisi besi.

"Sekarang wilayah ini juga terkena sindrom besi hitam." Gumam Hoseok.

"Tuan Hoseok." Panggil seseorang. Hoseok hanya menatap pria yang saat ini berdiri dibelakangnya.

.

.

Diluar bus saat ini terlihat banyak orang yang sudah menjadi patung besi. Melihat hal itu supir bus gemetar takut dan tidak mengerti dengan apa yang terjadi hingga seseorang menepuk bahunya dari belakang. Membuat supir tersebut tersentak.

"Tetap menyetir atau kita semua tidak akan bisa lari dari wilayah ini." Ucap Jimin dengan wajah serius pada supir tersebut.

"A-apa?"
"Sudahlah. Cepat injak gasnya dan pergi dari sini." Perintah Jimin. "Dan sebaiknya nanti kau berterima kasih pada kami. Jika kau tidak bersama kami, kau sudah membatu." Ucap Jimin dan dengan cepat supir kembali menjalankan bus.

"Apa kau tidak apa-apa?" Tanya Taehyung sambil membantu seorang pria yang terjatuh dari bangkunya.

"Wonshik sepertinya sudah sangat tidak sabar. Jungkook, kita bahas tulang itu nanti. Apapun jawabannya, jika kita bisa menghentikan kebangkitannya kita bisa menang kan?" Ucap dan Tanya Jimin.

"Baiklah. Aku mengijinkanmu untuk langsung menuju ketempat Wonshik. Kita akan segera mengakhiri ini semua." Ucap Jungkook.

.

.

"Lama tidak bertemu." Sapa Hoseok pada pria yang saat ini ada dihadapannya.

"Syukurlah jika kau baik-baik saja." Ucap Namjoon, pria yang saat ini ada dihadapan Hoseok.

"Aku membawa jimat dari pemimpin sebelumnya." Hoseok berbicara sambil mengeluarkan sebuah gelang dari sakunya.

"Kita sudah berada di titik dimana kita tidak bisa lagi kembali. Berhentilah menjadi netral dan bergabunglah dengan kami." Ajak Namjoon.

"Sebenarnya aku ingin berada dipihak Jungkookie." Tolak Hoseok sambil tersenyum.

"Kalau begitu aku harus memaksamu." Namjoon mengarahkan tombak ditangannya pada Hoseok.

"Aku yakin jika Wonshik sudah memberitaumu untuk tidak menggangguku." Ucap Hoseok sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

"Aku akan memeriksanya nanti." Dengan cepat Namjoon melesat kearah Hoseok, tapi dalam sepersekian detik Namjoon melihat lingkungan tempatnya berada terbalik dan berakhir dengan ia yang terbaring dijalan menatap langit.

"Apa kau tau kenapa Wonshik mengakuiku meski aku tidak bisa menggunakan sihir?" Tanya Hoseok sambil memungut topi Namjoon yang terlempar. "Sayang sekali aku tidak berniat untuk membantu kalian. Oh ya, untuk hari ini, berapa yang sudah mati?" Tanya Hoseok lagi.

"Tapi, aku yakin jika kau sudah tau jika ancaman terbesar bisa lebih buruk dari ini." Ucap Namjoon sambil bangkit berdiri dan menggunakan lagi topinya.

Mungkin mereka berdua juga belum tau jika ini adalah pohon genesis yang dimaksud oleh Jungkookie dan bukan pohon exodus yang malah ingin menghancurkan dunia ini. Pikir Hoseok.

.

.

.

"Apa lagi ini?" tanya Jimin pada supir bus yang sedang memeriksa bus yang tiba-tiba saja berhenti.

"Kurasa kita harus berjalan kaki." Ucap Taehyung sambil mulai berjalan.

"Terima kasih sudah menjelaskannya." Kesal Jimin, Taehyung tersenyum paksa.

"Dengar, jangan berpikir untuk kembali ketempat tadi ya. Kecuali jika kau ingin membatu." Peringat Jimin pada si supir sebelum melanjutkan perjalanan dengan Taehyung.

"Jungkook terlihat seperti anak manis jika sudah membicarakan tentang Jeon Hoseok." Ucap Taehyung menghilangkan keheningan.

"Apa maksudnya itu?" protes Jungkook.

"Seharusnya kau mengatakannya ketika dia sudah tertidur..."

"Jangan mengatakan hal itu meski aku sudah tidur." Jungkook memotong ucapan Jimin. "Pertama-tama yang harus kuceritakan, Hoseokie hyung dan aku..." belum selesai Jungkook berbicara, Jimin memasukan patung kayu ditangannya kedalam saku jaketnya, meredam suara Jungkook. Jimin dan Taehyung saling berpandangan kemudian tertawa bersama.

.

.

Saat ini mereka memutuskan untuk beristirahat dihutan. Setelah menyalakan api, Taehyung hanya terus terpaku pada ponsel ditangannya.

"Untuk pacarmu ya?" Tanya Jimin yang melihat Taehyung serius dengan ponselnya.

"Eh, ya." Jawab Taehyung tanpa repot-repot mengalihkan pandangannya pada Jimin didepannya.

"Jika kau mengkhawatirkannya, temui dia." Ucap Jimin sambil membaringkan tubunya ketanah. Taehyung hanya bisa terdiam mendengar apa yang diucapkan Jimin. "Apa kau sudah dengar gosip jika Yoongi memiliki pacar?" Jimin kembali berbicara saat dirasa Taehyung tidak merespon ucapannya sebelumnya.

"Belum." Taehyung menjawab dengan tenang.

"Dia beli coklat hadiah valentine untuk seseorang tahun lalu." Kali ini Taehyung benar-benar terdiam tanpa ada pergerakan sama sekali. Menyadari hal itu, Jimin mengalihkan pandangannya dari pepohonan pada Taehyung.

"Ada apa?" tanyanya.

"Tidak. Aku hanya terkejut karena dia sepertinya bukan orang yang mau membelikan cokelat untuk orang lain." Jawab Taehyung. Meski Taehyung sudah menjawab, Jimin kelihatannya sama sekali tidak berniat mengalihkan pandangannya dari Taehyung.

Gawat. Apa dia sedang mencurigaiku. Pikir Taehyung.

Setelah terdiam beberapa saat Jimin bangun dan meraih koper disampingnya.

"Kau ini memang tidak pernah akur dengan dia ya? Maksudku, Yoongi." Ucap Jimin sambil tersenyum maklum.

Jadi dia mempercayaiku. Pikir Taehyung kemudian mendekat dan duduk disamping Jimin, melihat apa isi dari koper yang dibuka Jimin.

Tanpa mereka sadari beberapa orang bersembunyi dibalik pohon, mengamati mereka berdua.

"Rantai ini untuk apa?" bingung Taehyung begitu melihat sebuah pistol dengan tipe Beretta 92 yang dirantai dialam koper.

"Mungkin karena itu spesial?" jawaban bernada Tanya dari Jimin. "Oi Jungkook, kenapa jimat spesialnya berbentuk senjata api?" Tanya Jimin.

"Itu karena Jeon mempersembahkan senjata itu pada pohon genesis agar mudah digunakan sebagai sihir yang kuat." Jawab Jungkook.

"Kenapa aneh ya? Kenapa pohon yang seharusnya melindungi dunia ini meminta senjata penghancur?" Tanya Jimin lagi.

"Menurutmu begitu ya? Jika pohon genesis menyerap senjata itu dan menghancurkannya bukankah itu akan mengurangi konflik? Itu adalah langkah yang tepat untuk menjaga keseimbangan dunia kan?" jawab dan Tanya Jungkook.

Jimin menutup kopernya sebelum merespon ucapan Jungkook.

"Keseimbangan dunia ya? Itu semua memang tidak penting buatku."

Memang benar jika bagi Jimin dunia ini sudah hancur jauh sebelum ini. Sejak hari itu. Pikir Taehyung.

"Taehyung." Panggil Jimin. "Kita terkepung." Lanjut Jimin yang membuat Taehyung tersentak.

"Kau membawa jimat itu kan?" Tanya Jimin sambil menjulurkan tangan mengambil sepotong kayu yang telah terbakar di salah satu sisinya. Belum sempat Jimin mengangkat kayu itu sebuah balon air telah memadamkan api, menimbulkan asap disekeliling Jimin dan Taehyung.

"Gawat." Panik Taehyung.

"Jika begini sihir saja tidak akan mempan." Ucap Jimin kemudian seseorang memukulkan bagian belakang dari senapan laras panjang keperut Jimin hingga Jimin jatuh berlutut.

"Lepaskan. Lepaskan aku." Berontak Taehyung pada dua orang yang memegangi tangan kiri dan kanannya.

"Tae..." seseorang kembali memukul bagian belakang leher Jimin hingga tidak sadarkan diri.

.

.

.

"Apa kau merasa bersalah?" Tanya Seokjin pada seseorang yang duduk disampingnya dengan tetap berkonsentrasi mengemudi. "Karena kita sudah membuat perjanjian dibelakangnya?" tambahnya sambil melirik sebentar anak muda disampingnya.

"Tidak." Jawab Taehyung tenang. "Aku sudah menyimpan rahasia yang lebih besar lagi dari Jimin." Lanjutnya.

"Benar. Kau tepat sekali. Tetapi apa menurutmu ini tidak sedikit berlebihan? Seberapa kuat perasaannya pada adiknya?" taehyung mengalihkan pandangannya keluar jendela meski tetap mendengarkan Jin.

"Begitu ya?"

"Meskipun mereka itu bersaudara, mereka bukan saudara kandung kan?" Taehyung tersentak, dengan cepat mengalihkan pandangannya pada Jin yang serius mengemudi.

"Kau sudah tau?" Tanya Taehyung.

.

.

-Flashback-

Disuatu senja yang berwarna senada dengan surainya, Jimin hanya duduk disofa sambil memandangi vas berisikan bunga yang dia sendiri bahkan tidak tau jenisnya. Berusaha mengabaikan seseorang yang berdiri dihadapannya.

"Kau ingin memiliki hubungan yang seperti apa denganku Jimin?"

-Flashback End-

"Jimin. Jimin. Jimin." Dengan pandangan yang masih belum jelas, Jimin bisa menangkap gambaran sebuah patung kayu didepan wajahnya.

"Diam." Ujarnya lemah pada suara seseorang yang terus menyebutkan namanya. Jimin tersentak begitu kesadarannya kembali, dengan cepat ia bangun-

"Tae.. ahh." –dan mengeluh ketika merasakan pusing dikepalanya.

Jimin menatap sekeliling dan menyadari jika saat ini dirinya masih berada dihutan tapi tinggal seorang diri.

"Sial." Umpatnya karena tidak menemukan Taehyung dalam jarak pandangnya.

"Jimin." Panggil Jungkook tapi diabaikan Jimin yang sudah berlari keluar dari hutan.

.

.

"Menurutku Jimin juga tidak tau. Perasaan apa yang sesungguhnya dia rasakan pada Yoongi atau apa yang sesungguhnya mereka rasakan." Ucap Taehyung tenang. Jin mendengarkan sambil sesekali melirik Taehyung dan fokus dalam mengemudi. "Bagi orang lain itu sudah jelas kan." lanjutnya.

Jin hanya terus mendengarkan sambil mengikuti tank didepannya. Mobil yang dikendarainya dikawal oleh tank didepan dan dibelakangnya.

"Mudah saja jika dia ingin mengikuti kita. Dilihat dari besarnya rombongan yang kita bawa." Ucap Taehyung.

"Apa menurutmu dia akan mengikuti kita?" Tanya Jin.

"Siapa yang tau."

"Ada orang yang ingin aku pertemukan denganmu." Ucap Jin kemudian menghentikan mobilnya. Jin keluar dari mobil dan masuk kedalam truk didepannya di ikuti Taehyung.

"Oi, aku senang kau selamat." Sambut seorang pria manis begitu melihat Jin dan Taehyung.

"Enak sekali kau mengatakannya, padahal tempat itu sangat berbahaya." Keluh Jin meski senyuman tidak lepas dari wajahnya.

"Aku percaya padamu." Ucap pria itu lagi.

"Aku sampai menahan air mataku. Ini dia orangnya." Jin mengakhiri obrolan ringan mereka dan menunjuk Taehyung.

"Terima kasih atas semua informasi yang sudah kau berikan pada kami." Ucap pria itu sambil mengulurkan tangan pada Taehyung. Taehyung menyambut uluran tangan pria itu, menjabat tangannya.

"Aku akan memperkenalkanmu. Dia adalah Cha Hakyeon, asisten direktur dari pasukan pencegah sindrom besi hitam. Dia juga teman lamaku." Ucap Jin.

"Karena kami sudah saling mengenal cukup lama. Aku memintanya bekerja dijalur yang sulit dilewati secara normal." Ucap seorang bernama Cha Hakyeon itu.

"Pada dasarnya aku ini hanya relawan. Tapi aku sudah punya ijin untuk menggunakan senjata." Jelas Jin.

"Jadi kau adalah pimpinan pasukan ini?" Taehyung mengalihkan pandangannya dari Jin disampingnya pada Hakyeon didepannya.

Hakyeon mengangguk sebelum menjawab.

"Itu karena kakekku adalah teman dari pimpinan klan Jeon yang sebelumnya, membuat organisasi pemerintah yang rahasia sangat dibutuhkan untuk merespon setiap kasus yang berhubungan dengan sihir dan dampaknya pada masyarakat." Ucap Hakyeon.

"Tetapi kita sebenarnya tidak bisa menangani hal ini." Tambah Jin.

"Sebenarnya kami sedang dipusingkan oleh kejadian-kejadian yang diluar akal manusia. Tapi kita tidak bisa hanya diam dan menontonnya. Kita akan berperang melawan penyihir-penyihir itu." Ucap Hakyeon membuat Taehyung tersentak.

"Perang?" ulang Taehyung.

"Kejadian-kejadian yang terjadi belakangan ini telah berdampak pada pola pikir orang-orang yang mencoba menghancurkannya kapan saja, kita tidak punya pilihan lain selain menyerang balik." Jelas Hakyeon.

"O-oi, tidak perlu membahas secepat ini kan. Oh ini. Benda yang kau minta." Jin memberikan sebuah kantung kertas berwarna coklat pada Taehyung.

"Terima kasih ini akan membantu." Ucap Taehyung sambil tersenyum. "Dan sebagai balasannya aku akan memberimu ini." Taehyung memberikan beberapa jimat pada Jin.

"Jadi sekarang aku bisa menjadi penyihir juga." Senang Jin sambil mengedipkan sebelah matanya pada Taehyung.

"Tapi ada batas penggunaannya." Peringat Taehyung sambil memeriksa isi kantung yang diberikan Jin.

"Itu untuk apa?" Tanya Jin saat melihat Taehyung mengeluarkan flash bang(1) dari dalam kantung yang ia berikan.

"Akan kugunakan untuk berjaga-jaga karena mereka sulit sekali diketahui rencananya." Jelas Taehyung.

"Jadi itu alasannya kau ingin datang sendirian?" Jin tersenyum saat berbicara.

"Seperti itulah. Boleh aku memintanya juga?" Tanya Taehyung dengan arah pandang pada pistol dipinggang Jin.

"Apa? Kau ini sebenarnya orang yang berbahaya juga ya. Kau bisa menembak orang lain dengan sangat tenang." Ucap Jin sambil mengambil pistolnya.

"Bagaimana kalau nanti aku panik ketika membutuhkannya?" Jin hanya menghela nafas sebelum menyerahkan pistolnya pada Taehyung.

"Berhati-hatilah membawanya." Peringat Jin.

"Maukah kalian memasukkanku kedalam rencana kalian?" Tanya Taehyung lagi kali ini sambil menatap Hakyeon yang dari tadi hanya diam memperhatikan.

"Tentu saja. Bukannya itu alasan mengapa kau setuju? Sejujurnya kami juga sangat mengharapkan untuk bisa bekerja sama dengan kalian berdua, orang yang dekat dengan dunia sihir." Ucap Hakyeon.

Hakyeon mengeluarkan sebuah peta yang telah ditandai diamana saja buah yang telah muncul. Membukanya diatas meja kecil ditengah mereka agar Jin dan Taehyung dapat melihatnya.

"Para tentara berencana menyerang dua hari dari sekarang." Jelas Hakyeon.

Taehyung memegangi dagunya, pose berpikir sambil menatap serius peta didepannya.

"Kalian harus memecah setiap pergerakan musuh. Kita akan masuk lewat sisi lain." Ucap Taehyung.

"Ada penyusup." Ucap seorang dari luar mobil.

"Ada apa?" Tanya Jin.

"Sepertinya ada orang yang menerobos masuk." Jawab salah satu tentara yang sibuk dengan komputer bersama mereka.

"Bisa diperlihatkan di monitor?" pinta Hakyeon yang langsung dituruti.

"Jimin." Kaget Taehyung begitu melihat wajah Jimin dimonitor.

"Kau tidak boleh mendekati tempat ini. Pergilah." Usir tentara yang sedang berjaga pada Jimin.

"Diam kalian. Aku tau kau ada disana Taehyung." Ucap Jimin lantang. Beberapa tentara berada pada posisi siaga, mengarahkan senapan mereka pada Jimin. "Apa kalian berani menembakku? Aku tidak membawa senjata." Remeh Jimin kemudian menghilang dan muncul dihadapan salah satu tentara, memukul tentara itu hingga terlempar.

"Kalian bisa menembaknya." Ucap Jin.

"Dia hanya anak-anak." Cegah Hakyeon.

"Kau akan segera mengetahuinya kita harus memperlakukannya seperti anak-anak atau tidak."

Para tentara mulai menghujani Jimin dengan peluru tetapi dengan mudah Jimin menghindar dan melumpuhkan para tentara didepannya.

"Dia sudah berlebihan." Ekspresi khawatir jelas tergambar diwajah Taehyung. Taehyung dibuat kaget dengan mobil tempat ia berada saat ini tiba-tiba saja bergerak. "Kita akan kemana?" Tanya Taehyung

"Kita mundur. Kita sedang menculikmu, iya kan?" Jin balik Tanya, memastikan.

Beberapa jimat berupa cincin dan gelang ditangannya telah hancur. Jimin mengejar truk yang mencoba meninggalkan tempatnya saat ini. Dalam sekejap Jimin menghilang dan muncul diatas atap truk.

"Dia diatas?" Kaget Jin saat merasakan sentakan dari atap diatasnya.

"Sial." Umpat Taehyung kemudian membuka pintu dibelakangnya dan melompat keluar.

"Taehyung." Panggil Jimin begitu ia melihat Taehyung keluar dari mobil dibawahnya.

Taehyung menggunakan sihir sebagai landasannya saat melompat tapi tetap saja tubuhnya terlempar kejalan. Jimin muncul tidak lama setelah Taehyung terbaring dijalan.

"Taehyung kau baik-baik saja?" Tanya Jimin khawatir sambil mendekati Taehyung.

"Apa yang mau kau lakukan?" marah Taehyung.

"Berdirilah. Ikut aku." Ajak Jimin. Taehyung yang sempat bingung dengan cepat mengikuti Jimin.

.

.

"Tarik mundur semua orang." Perintah Hakyeon yang langsung dituruti.

"Bagaimana menurutmu?" Tanya Jin.

"meski tujuan kita sama, tapi jalan yang kita ambil berbeda." Jawab Hakyeon.

"Kau benar. Ini seperti pertaruhan apakan bantuan mereka akan berdampak baik atau buruk."

.

.

Deru nafas yang saling bersahutan jelas terdengar didalam hutan. Jimin dan Taehyung saat ini terbaring kelelahan setelah berlari cukup jauh.

"Kenapa kau datang?" Tanya Taehyung sambil memalingkan wajahnya menatap Jimin disampingnya.

"Apa maksudmu?" Jimin balik bertanya.

"Ya maksudku..."

"Apa aku harus memilikinya?"

"Ha?"

"Apa aku harus memiliki alasan untuk melakukannya?" Tanya Jimin sambil menatap Taehyung tepat dimatanya.

"Ya, tidak sih.." Taehyung menghindari tatapan Jimin.

"Aku akan menyelamatkanmu." Ucap Jimin yakin sambil mendudukkan tubuhnya. Taehyung menatap Jimin sambil tetap berbaring.

Sama seperti ketia dia berkata 'aku akan menyelamatkan dunia' kata-katanya penuh dengan semangat. Pikir Taehyung.

Hari sudah terang, mereka kembali melanjutkan perjalanan. Kembali ketempat mereka sebelumnya berada, tempat sebelum mereka diserang. Taehyung berlari lebih dulu menghampiri koper yang Jimin tinggalkan.

"Kau ini bagaimana sih, meninggalkan benda sepenting ini disini." Omel Taehyung.

"hoamm. Maaf." Ucap Jimin sambil tersenyum tipis.

"Eh iya."

Kenapa Jimin tidak mencurigaiku ya? Atau...

"Seenaknya saja kau ini." Suara Jungkook terdengar. Jimin memungut patung kayu yang tergeletak begitu saja ditanah.

"Kau tidak perlu khawatir. Sampai kau memenuhi janjimu aku tidak akan membuangmu." Ucap Jimin sambil menatap patung kayu ditangannya.

"Hahh kau ini hanya memikirkan tentang balas dendam ya?" keluh Jungkook.

"Ya, Cuma itu." Jawab Jimin. "Ayo kita jalan." Ajak Jimin pada Taehyung.

Atau dia hanya tidak ingin mengakuinya? Sama seperti ketika dia tidak mau mengakui perasaannya yang sesungguhnya. Pikir Taehyung.

-Flashback-

"Kalau begitu...bolehkah aku menjadi orang yang penting untukmu?" Tanya Jimin pada Yoongi didepannya.

"Jadi, apa yang kau minta..." Yoongi meletakkan tangan kanannya pada sandaran sofa dibelakang Jimin dan mencondongkan tubuhnya pada Jimin. "Adalah jika aku mau jadi pacarmu?" Jimin hanya terdiam dan tetap menatap wajah Yoongi yang berjarak sangat dekat darinya.

-Flashback End-

-TBC-

NEXT:

"Seorang kekasih bukan sesuatu yang bisa kau dapatkan hanya karena kau menginginkannya."

.

"Aku tidak tau jika kau ini sangat sensitif."

.

"Sebuah ciuman. Tetapi tidak disini."

.

.


-NEXT?-

a/n: flash bang : Granat yang menghasilkan cahaya. Biasanya dipakai sama pasukan khusus (SWAT) untuk mengganggu sementara indera penglihatan.

.