HE'S MINE
Author: Me a.k.a Jaehan Kim Yunjae - yunjaehan
Pairing: Yunjae
Length: 7/?
Rating: T
Genre: Romance / Drama / Mpreg
Cast:
Kim Jaejoong
Jung Yunho
Park Yoochun
Kim Junsu
Shim Changmin
Others
DISCLAIMER:
I don't own Yunjae. They own each other but I hope I can own them. The plot, story and poster are mine.
WARNING!
This is YAOI fanfic means boy x boy story, so if you can't take it just leaves already. I don't wanna hear bad comments. I don't care with your comments.
Happy Read ^^
Senyuman yang awalnya begitu indah menghiasi wajah cantik Jaejoong kini telah sirna, yang muncul adalah kesedihan yang dirasakannya juga kenangan buruk yang kembali muncul dalam ingatannya. Suaranya tertahan, Jaejoong merasa tak mampu mengeluarkan sepatah kata pun, namun hatinya berkata hal yang berbeda… Apakah yang dilihatnya adalah benar? Ataukah ia harus percaya pada cinta yang diberikan Yunho padanya?
Jaejoong memeluk erat bekal makan yang dibawanya untuk suaminya, pancaran kekecewaan jelas terlihat di wajahnya
"Yunnie!" ucapnya tercekat setelah mampu menyusun semua pikirannya
Dua orang yang berada di hadapannya itu dengan segera melepas pelukkan mereka, jelas terlihat ekspresi keterkejutan di wajah Yunho dan senyuman di wajah wanita yang bersamanya itu. Setelah cukup menyadari bahwa saat ini istrinya tengah berdiri di hadapannya, senyum itu mulai terkembang di wajah Yunho… entah makna apa yang terkandung dalam senyumannya itu
"Oops… Yunho, sepertinya aku harus keluar karena… sepertinya kau harus menjelaskan sesuatu" celetuk wanita itu sedikit mengejek
"Joongie bukan tipe orang yang seperti itu, dan… terima kasih" balas Yunho sedikit tertawa
"Tentu saja" jawab wanita itu berjalan keluar menuju pintu yang sama yang digunakan Jaejoong sebelumnya
"Permisi…" ucapnya setelah melewati Jaejoong sambil tersenyum dan menutup pintu itu untuk dua orang yang berada di dalamnya
Jaejoong sangat bingung, benar-benar bingung. Apa yang di lakukan wanita tadi bersama suaminya? Sedang apa mereka barusan? Kenapa harus berpelukkan? Siapa dia? Semua pertanyaan itu muncul begitu saja dalam benaknya walaupun ia tidak ingin memikirkannya, tapi tetap saja pertanyaan itu muncul
Setalah cukup banyak bertanya dan menarik napas panjang, Jaejoong mulai menyatukan perlahan seluruh pendapat yang muncul dalam dirinya dan menentukan satu sikap
"Yunnie…" manjanya berjalan perlahan menuju suaminya yang kini telah duduk di kursinya
"Mhmm…" balas Yunho tersenyum jail menatap istrinya dan menariknya dalam pangkuannya
"Siapa wanita itu?" ucapnya lagi menatap Yunho dan memajukan bibirnya
"Kenapa? Kau cemburu?" ejek Yunho
"Tentu saja, enak saja dia peluk-peluk Yunnie, cuman Joongie yang boleh peluk Yunnie…" manja jaejoong lagi menatap Yunho sekilas
"Aku suka sikap manja mu Joongie... Apalagi saat kau cemburu seperti ini, sangat lucu" senyum Yunho mencubit pelan hidung Jaejoong
"Jangan cubit-cubit Joongie. Siapa dia?" ucap Jaejoong dengan nada yang sangat manja dan tegas yang akan membuat setiap orang tidak percaya bahwa ia sedang marah
"Dia teman sekantorku Joongie, dan dia adalah teman kuliahku dulu, jika tidak percaya kau boleh menanyakannya pada Yoochun dan Junsu, kami semua sekelas saat itu" ucap Yunho menarik wajh Jaejoong menatapnya
"Benar? Yunnie tidak bohong?" Tanya Jaejoong
"Benar, aku tidak mungkin berbohong pada istriku, kan" balas Yunho mengusap perlahan pipi Jaejoong
"Lalu kenapa peluk-peluk?" Tanya Jaejoong dengan nada mengintrogasi
"Dia datang untuk mengucapkan selamat atas pernikahan kita" lanjut Yunho
"Ee..?"
"Ne, semua teman kantorku sudah mengetahui tentang pernikahan kita, Joongie dan mereka bergantian datang untuk mengucapkan selamat, tapi untung saja dia adalah orang yang terakhir"
"Orang yang terakhir…" gumam Jaejoong
"Ne, sejak pagi pekerjaanku terganggu karena mereka semua datang bergantian, aku sempat berpikir mungkin akan lama sekali pulang hari ini karena pekerjaanku banyak tertunda, tapi… untung saja kau datang Joongie" girang Yunho memeluk pinggang istrinya
"Yunnie senang Joongie datang ke kantor Yunnie?" Tanya Jaejoong polos
"Tentu saja aku senang, mana ada suami yang tidak senang dikunjungi istrinya saat bekerja? Kau ini aneh" kembali Yunho mecubit perlahan hidung Jaejoong
"Lalu ada apa Joongie kesini?" tanya Yunho
"Ini" jawab Jaejoong menunjukkan bekal makanan yang dari tadi dipegangnya di hadapan Yunho dan saat itu juga Yunho baru tersadar bahwa istrinya datang tidak dengan tangan kosong
"Apa ini?" Tanya Yunho
"Bekal makanan, sebentar lagi kan makan siang dan makanan di kantor pasti tidak sehat, jadi Joongie membawakan bekal makan siang untuk Yunnie" balas Jaejoong tersenyum malu
"Istriku memang sangat pintar" lagi-lagi Yunho mencubit perlahan hidung Jaejoong
"Yunnie… jangan cubit-cubit terus, hidung Joongie sakit" ujar Jaejoong mengusap hidungnya yang sudah memerah karena cubitan Yunho
"Habisnya kau sangat lucu Joongie, aku benar-benar beruntung mendapatkan mu"
"Tuh kan, lagi-lagi kata-kata itu… Yunnie sudah berkali-kali mengucapkannya"
"Dan aku juga sudah berkali-kali mengatakan bahwa aku tidak akan pernah bosan untuk mangatakannya"
"Yunnie jangan gombal terus, Joongie jadi malu" wajah Jaejoong sudah sangat memerah saat ini
"Aku suka gombal padamu dan… akui saja kalau kau menyukainya juga" tawa Yunho
"Sudah jangan gombal terus, sekarang makan dulu bekalnya" balas Jaejoong akhirnya sambil memutar tubuhnya lalu meletakkan bekal makanan itu diatas meja Yunho
"Joongie buat apa?" Tanya Yunho menaruh dagunya di pundak kiri Jaejoong untuk melihat makanan yang dibuat istrinya dan melingkarkan kembali kedua tangannya di pinggang Jaejoong
"Sup pork rib kesukaan Yunnie" jawab Jaejoong membuka bekal makanan yang dibawanya
"Sekarang Yunnie makan" lanjut Jaejoong berusaha bangkit dari pangkuan Yunho agar Yunho dapat makan makanan yang dibawanya
"Kau mau kemana Joongie?" Tanya Yunho enggan melepas pelukannya di tubuh Jaejoong
"Yunnie kan harus makan, bagaimana makannya kalau Joongie ada di depan Yunnie?" balas Jaejoong kembali berusaha bangkit dari pangkuan Yunho
"Tidak boleh, Joongie disini saja suapi Yunnie" manja Yunho memeluk erat tubuh Jaejoong dan menaruh wajahnya dalam lekukkan leher Jaejoong lalu menghirup aroma menyenangkan yang keluar dari tubuh istrinya itu
"Ne, Yunnie manja sekali" tawa Jaejoong
"Biarin" manja Yunho memajukan bibirnya seperti yang baisa Jaejoong lakukan
"Yunnie lucu jika seperti itu" Jaejoong tidak mampu menahan tawanya
"Yah- kau berani menghina suamimu Joongie!" ucap Yunho pura-pura marah
"Tidak… sekarang makan ya" tenang Jaejoong
"Buka mulutmu Yunnie, aaa-" lanjut Jaejoong menyuapkan perlahan sup dalam genggamannya pada suaminya yang masih berada dibelakangnya
"Enak sekali, kalau begitu mulai hari ini kau harus membuatkan bekal makan siang untukku setiap hari, Joongie"
"Boleh seperti itu?"
"Tentu saja, malah aku akan sangat senang"
"Baiklah, Joongie akan membuatkan bekal makan siang untuk Yunnie"
"Istriku memang hebat"
"Sekarang makan dagingnya" ucap Jaejoong memberikan potongan daging dalam sumpitnya lalu berbalik menatap Yunho
"Kau juga harus makan Joongie, kau juga belum makan siang kan" ucap Yunho mengambil sumpit dalam genggaman Jaejoong dan mengambil potongan daging yang sama
"ini, bilang aaaa…" lanjut Yunho dan Jaejoong tersenyum mengunyah makanan yang ada di mulutnya hingga ia tersadar akan suatu hal dan senyumnya sirna
"…" Jaejoong terdiam sejenak
"Joongie ada apa? Kenapa tba-tiba diam?"
"Mhmm… Yunnie"
"Nde… Ada apa Joongie? Kau sakit?" takut Yunho yang langung menaruh pergelangan tangannya di dahi Jaejoong
"Bukan, bukan itu… Joongie tidak sakit, hanya saja…" ragu Jaejoong
"Hanya saja apa, Joongie? Joongie mau pulang"
"Bukan… Mhmm... Yunnie, apa Yunnie suka anak kecil?" mulai Jaejoong
"Anak kecil? Kenapa kau tiba-tiba bertanya tentang anak kecil?"
"Tidak apa-apa, jawab saja dulu Yunnie" pinta Jaejoong
"Mhmm… Ne, aku suka anak kecil, bahkan aku sangat menyukai mereka. Memang kenapa Joongie-ah, jangan membuat aku takut, atau jangan-jangan…." pinta Yunho kali ini
"Ne Yunnie… Bagaimana menurut Yunnie kalau kita punya anak?"
"Kau yakin Joongie? Joongie sudah siap untuk punya anak?" Tanya Yunho memastikan
"Joongie sangat yakin, Joongie ingin menjadi Umma dari anak-anak yang lucu, lagi pula… dengan begitu kekuatan hukum kita akan semakin kuat kan Yunnie"
"Eumm…" angguk Yunho membenarkan ucapan istrinya
"Mereka tidak boleh memisahkan Joongie dari Yunnie juga anak-anak Joongie, kan?" Tanya Jaejoong memastikan
"Ne, kau benar Joongie… dan jika memang kau sudah siap aku tidak mungkin menolaknya kan"
"Yunnie setuju?"
"Tentu saja, aku sudah lama menantikanmu mengatakan hal ini, Yunnie tidak mau memaksa Joogie... Jadi Yunnie menunggu sampai Joongie benar-benar siap"
"Joongie sudah siap" yakin Jaejoong
"Baiklah, mulai besok kita akan rajin buat anak, Ne…" ucap Yunho tersenyum jail
"Yunnie… Kenapa Joongie merasa ada maksud lain dari perkataan Yunnie barusan" takut Jaejoong
"Maksud lain apa? Tidak ada maksud lain Joongie, Yunnie benar-benar tulus mengatakannya" jawab Yunho memeluk erat tubuh Jaejoong
"Tapi Yunnie, Joongie kan laki-laki… Apa bisa punya anak?" sedih Jaejoong
"Eumm... Kita coba saja, Yunnie pernah baca dalam sebuah artikel, katanya ada sebagian pria yang memang bisa hamil dan mempunyai anak" ucap Yunho sedikit tidak yakin
"Benarkah?!" kaget Jaejoong
"Yunnie juga kurang yakin, bagaimana jika kita tanyakan langsung pada dokter, Yunnie akan membuat jadwal dengan dokter yang biasa Appa temui, kebetulan beliau juga membuka praktek disini"
"Eumm..." angguk Jaejoong
"Jangan sedih seperti itu, kau percaya padaku kan?" Yunho berusaha meyakinkan istrinya
"Ne" angguk Jaejoong lagi kali ini dengan senyuman diwajahnya
"Na Joongie… kalau memang sudah punya anak, kau ingin memberinya nama apa, Joongie?"
"Karena Yunnie suaminya berarti anaknya harus memakai marga Yunnie, kan?" Tanya Jaejoong memastikan
"Eumm…" angguk Yunho
"berarti Jung… Mhmm… Jung- Yunjae saja, diambil dari nama Joongie dan Yunnie" usul Jaejoong
"Jung Yunjae ya, itu kalau anak kita laki-laki, kalau anak kita perempuan, Joongie?"
"Mhmm… Jung- apa Yunnie? Joongie bingung"
"Sebenarnya Yunnie sudah menyiapakan nama untuk anak perempuan, Joongie"
"Benarkah, apa? apa?" Tanya Jaejoong ingin tahu
"Umm… Jung Jiyool" jawab Yunho
"Jung Jiyool?"
"Kau suka?" ragu Yunho
"Ne, nama yang bagus utuk anak perempuan, Yunnie hebat" jawab Jaejoong memeluk Yunho
"Berarti namanya sudah ditentukan, Jung Yunjae dan Jung Jiyool" tambah Yunho
"Oh ya, Yunnie ingin punya anak berapa?" Tanya Jaejoong melonggarkan pelukkannya
"Mhmm… berapapun tidak masalah, asal mereka menjadi anak yang baik dan manis seperti mu" balas Yunho
"Dan kuat seperti Yunnie" tambah Jaejoong
"Ne, anak kita akan jadi orang yang sangat sempurna" senyum Yunho memeluk tubuh istrinya yang segera dibalas oleh Jaejoong
"Aku mencintaimu…" ucap Yunho tiba-tiba dan mengecup bibir Jaejoong perlahan
"Joongie juga" balas Jaejoong tersenyum dan menenggelamkan kepalanya di dada Yunho mendengarkan detak jantung Yunho yang selalu menenangkannya
Sepertinya tidak akan ada gelombang atau badai sekalipun yang akan membuat dua pasangan ini terpisahakan. Ya… hanya satu hal yang membuat sebuah hubungan tetap bertahan, yaitu sebuah kepercayaan, walaupun rasa sedih itu akan tetap muncul namun kepercayaan membuatnya kembali tersenyum
Jaejoong dan Yunho melandasi hubungan mereka dengan kepercayaan ini, apapun yang dilihatnya, mereka akan tetap mempercayai pasangannya masing-masing, Jaejoong tidak akan pernah mengambil kesimpulan apapun sebelum mendengarnya dari sudut pandangn Yunho. Dan Yunho dengan mudahnya membuat Jaejoong yang awalnya kesal, sedih atau pun kecewa kembali tersenyum dan mempercayainya, karena ia mempercayai istrinya dan sangat memahami istrinya dari segala sisi
Tanpa disadari oleh dua pasangan yang sedang bermesraan di dalam ruangan itu, semua mata dan telinga tertuju pada pintu coklat yang sedang tertutup itu. Mereka semua berbahagia dengan kebahagiaan dua orang yang ada di dalamnya dan… tentu saja bangga dengan kepercayaan yang mereka berdua berikan untuk pasangan masing-masing, kepercayaan yang belum tentu semua orang memilikinya
"Ewww… Chunnie, kenapa kau tidak bisa mesra seperti Yunho?" ketus Junsu setelah menguping semua percakapan di dalam ruangan itu dan memajukan bibirnya dengan kesal
"Su-ie, jangan seperti itu… aku juga bisa mesra seperti itu" balas Yoochun
"Aku tidak percaya" kesal Junsu semakin memajukan bibirnya dan melipat kedua tangannya di depan dadanya lalu berpaling dari pandangan Yoochun
"Kau ingin bukti? Bukankah aku sudah sering membuktikannya padamu Su" seringai Yoochun
"Memang bukti apa?" bingung Junsu berbalik kembali menatap Yoochun
"Kau tidak ingat? Atau ingin aku tunjukkan lagi buktinya"
"Chunnie… sepertinya aku tahu maksud bukti mu itu" ragu Junsu mulai mundur kebelakang untuk menjauhi kekasihnya yang masih menyeringai itu
"Ummm…" Yoochun tersenyum jail
"Sepertinya aku tahu maksud bukti mu itu dan… hal terbaik yang harus aku lakukan saat ini adalah… LARI!" teriak Junsu berlari menjauhi kerumunan itu
"Yah- Su, jangan lari, bukankah kau ingingkan bukti dari ku" tawa Yoochun mengejar kekasih imutnya itu
Tingkah dua pasangan ini justru selalu memberi canda tawa bagi mereka yang mengenalnya, setiap hari mereka berdua selalu memberikan hiburan bagi kepenatan yang dirasakan orang-orang di kantor itu. Sama halnya seperti pasangan dalam ruangan itu, dua pasangan ini pun selalu menjadikan rasa percaya sebagai landasan hubungan mereka, hanya saja… bagaimana cara menunjukkan kepercayaan itu saja yang berbeda. Ya, setiap orang memiliki caranya sendiri untuk menunjukkannya
Setiap hari terus berganti, namun berubahnya hari sama sekali tidak merubah perasaan yang terus dan semakin tumbuh dalam hati dan perasaan Yunho dan Jaejoong. Kasih sayang yang diberikan Yunho bagaikan tetesan air penyubur dalam hati Jaejoong dan ketulusan cinta juga kepolosan yang diberikan Jaejoong menjadikan Yunho begitu ingin mencintai dan melindunginya.
Tidak pernah terbersit dalam hati mereka perasaan bosan dan keinginan untuk berpisah, walau apa pun yang dihadapi… yakinlah, setiap masalah pasti akan ada penyelesaiannya dengan atau tanpa kita sadari, jangan pernah berpikir untuk tidak percaya, karena kepercayaan yang membuka jalan penyelesaian
"Yunnie, hari ini berangkat lebih pagi?" Tanya Jaejoong pada suaminya yang sudah siap di meja makan menunggu hidangan disajikan
"Ne Joongie, ada rapat yang hanya bisa dilakukan pagi ini" jawab Yunho menyuapkan makanan di hadapannya ke dalam mulutnya
"Eumm… Hari ini Yunnie pulang jam berapa?" Tanya Jaejoong lagi
"Tidak terlalu sore, mungkin sekitar jam tiga"
"Eumm…" angguk Jaejoong
"Kenapa Joongie? Kau sudah kangen padaku, hmm?" goda Yunho
"Itu… Yunnie" balas Jaejoong malu-malu
"Tenang saja, nanti setelah kembali aku akan memanjakan mu" seringai Yunho menatap istrinya sambil mengusap-ngusapkan tangan kirinya ke paha mulus Jaejoong yang sedikit terbuka karena Jaejoong kembali hanya menggunakan kemeja kebesaran milik Yunho
"Joongie… Kenapa kau suka sekali memakai kemejaku?" goda Yunho menelan ludah melihat dada putih Jaejoong yang sedikit terbuka karena dua kancing kemeja teratas Jaejoong yang terbuka
"Lebih nyaman memakai kemeja milik Yunnie, karena ukurannya yang kebesaran jadi lebih leluasa. Lagi pula, setiap kali bangun di pagi hari, Joongie tidak pernah menemukan dimana piyama Joongie dan yang terlihat hanya kemeja milik Yunnie" jawab Jaejoong polos
"Kau sangat lucu…" balas Yunho membawa Jaejoong dalam dekapannya
"Tapi… Joongie, sepetinya wajah mu sedikit pucat. Apa kau demam?" Tanya Yunho setelah memperhatikan wajah isttrinya dengan seksama dan meletakkan bagian belakang telapak tangan kanannya di kening Jaejoong
"Tidak, Joongie baik-baik saja, hanya tidak napsu makan saja"
"Kenapa?" bingung Yunho
"Joongie juga tidak tahu, sepertinya makanannya tidak enak" jawab Jaejoong memajukan bibirnya
"Kau harus makan Joongie, ini makanlah" balas Yunho menyodorkan sayuran hijau kepada Jaejoong
"Engga mau, Yunnie" Jaejoong menutup mulutnya dengan kedua tangannya dan menggelengkan kepalanya
"Tidak boleh… Kau harus makan, buka mulut mu" paksa Yunho
"Engga…" Jaejoong tetap menggelengkan kepalanya
"Makan atau kau mau aku suapi… dengan mulutku" Yunho tersenyum jail
"Menyuapi dengan mulut? Bagaimana?" Tanya Jaejoong bingung dan membuka mulutnya
"Seperti ini" Yunho memasukan sayuran hijau itu kedalam mulutnya lalu memasukan sayuran itu kedalam mulut Jaejoong, mata Jaejoong membesar
"Yunnie!" kaget Jaejoong sambil terpaksa mengunyah sayuran yang berada di dalam multnya
"Akhirnya kau makan juga, kan" senyum Yunho
"Yunnie curang" marah Jaejoong melipat kedua tangannya di depan dadanya
"Jika tidak seperti itu kau tidak akan makan. Mau lagi?" Tawa Yunho
"Biar Joongie sendiri saja" dengan cepat Jaejoong mengambil makanan yang disodorkan Yunho padanya
"Itu baru istriku yang baik" senyum Yunho mengusap perlahan rambut hitam Jaejoong
"Aku berangkat ya" lanjutnya mengambil tas hitam disisinya dan berjalan menuju pintu depan
"Ne, hati-hati Yunnie" Jaejoong berjalan mengikuti Yunho
"Jaga rumah ya, aku akan usahakan pulang lebih awal" Yunho mengecup perlahan puncak kepala Jaejoong
"Ne…" angguk Jaejoong lalu mengecup perlahan bibir Yunho
"Aku mencintaimu" senyum Yunho sebelum berbalik dan berjalan menuju mobil kesayangannya yang sudah setia menunggunya
"Joongie juga, Yunnie hati-hati" teriak Jaejoong melihat tubuh suaminya yang menghilang masuk kedalam mobil
"Ne!" teriak Yunho balik
Yunho menjalankan mobil hitamnya di jalanan kota yang cukup lenggang pagi ini, karena memang ini masih terlalu pagi bagi orang-orang untuk memulai aktifitas mereka. Senyuman tidak pernah lepas dari bibir tipisnya, mengingat semua kebahagiaan yang didapatkannya sejak kehadiran malaikat manis yang setia menunggunya di rumah dengan kemanjaannya
Jika memang cinta terasa begitu manis, mungkin sejak lama Yunho ingin merasakannya. Namun, ia tidak pernah berpikir bahwa perasaan mencintai dan dicintai itu terasa sangat nyaman dan menyenangkan. Jangan salahkan dirinya, tapi salahkan begitu banyak perkerjaan yang didapatnya setelah bergabung dengan perusaan besar itu dan keinginannya untuk melupakan masa lalunya, saat kesedihan yang dirasakannya ketika sang Umma yang sangat dicintainya meninggalkannya
Sejak itu Yunho melupakan apa arti cinta dan kebahagiaan, Yunho melupakan kebutuhannya akan perhatian dan kasih sayang, dia menutup pintu hatinya dan melupakan kata cinta dalam hidupnya
Dering ponselnya menyadarkan Yunho dari lamuannya, dengan tangan kanannya Yunho mengambil ponselnya yang berada di saku celananya dan mengangkat panggilan itu tanpa melihat siapa yang memanggilnya
"Halo" sapanya
"Hei Yunho, kau dimana?" Tanya orang itu
"Oh kau Yoochun, aku masih dijalan, sebentar lagi aku akan segera sampai"
"Cepatlah sedikiit" balas Yoochun dari seberang sana dengan nada sedikit kesal
"Memang ada apa? Kenapa kau terdengar kesal seperti itu?" Tanya Yunho memandang ponselnya sejenak dan kembali menaruhnya di telingan kanannya
"Cepatlah, orang itu marah-marah terus sejak tadi, aku tidak mengerti maunya apa" kesal Yoochun
"Ada apa dengan orang itu? Bukankah rapatnya masih 30 menit lagi"
"Makanya itu aku menghubungimu, hanya kau yang bisa membuatnya tenang"
"Kenapa harus aku?" bingung Yunho
"Jangan belagak bodoh, dia akan menuruti semua saran yang kau berikan karena kau adalah pegawai terbaik menurutnya" balas Yoochun mengucapkannya perlahan dan sedikit memberi penekanan pada kata-katanya
"Jangan memujiku seperti itu Yoochun-ah" tawa Yunho
"Aku tidak memujimu, cepatlah kemari, aku lelah mengurus semuanya sendirian"
"Mana Junsu?"
"Dia menghindariku" ucap Yoochun memelas
"Hah- Kenapa?" Yunho mengaitkan kedua alisnya, tidak pernah Junsu menghindari Yoochun seperti itu
"Semua berkat kau" kesal Yoochun
"Eh- Apa hubungannya denganku?" Tanya Yunho
"Hal itu bisa kita urus nanti, sekarang cepatlah datang"
"Baiklah, aku akan tiba sebentar lagi"
"Baguslah"
Yunho melepaskan sambungan teleponnya dan menatap lurus ke jalan dengan pandangan bingung, Junsu menghindari Yoochun adalah hal yang sangat jarang terjadi. Ada apa dengan mereka berdua? Ini sangat aneh, dan… kalau soal bosnya yang tukang marah-marah itu, itu memang hal yang sudah biasa
Setelah tiba di halaman gedung brlantai 50 itu, Yunho segera memarkirkan mobilnya dan berlari perlahan menuju lift dan bergerak menuju lantai sepuluh dimana rapat yang memang sudah direncanakan akan diselenggarakan. Setelah keluar dari pintu besi itu, Yoochun yang memang sudah menunggunya di depan lift langsung menariknya
"Hei! Yoochun, jangan tarik tanganku seperti itu" ucap Yunho mencoba melepaskan tangannya
"Kita harus cepat" jelas Yoochun cepat
"Kenapa buru-buru sekali? Lalu, kenapa harus menarikku seperti ini?" Yunho berhasil melepas tangannya dan berjalan disisi Yoochun
"Karena rapatnya di percepat dan sudah sejak tadi dimulai, kau terlambat Yunho-ah"
"Benarkah?! Kenapa tidak ada yang memberitahuku" ucap Yunho
"Kita semua tidak tahu tentang hal itu, tiba-tiba saja dia datang dan meminta rapatnya untuk segera dimulai, karena dia harus berangkat ke Jepang siang nanti" Yoochun menjelaskan dengan cepat
"Memang orang itu kerjanya hanya merepotkan saja"
"Tapi anehnya, dia sangat baik padamu Yun"
"Mungkin karena aku pegawai teladan"
"Yah… memang begitu" sesal Yoochun
"Aku sedikit menyesal agak malas-malasan saat pertama kali masuk kantor ini" lanjutnya
"Lalu ada apa denganmu dan Junsu?"
"Nanti saja aku ceritakan, sekarang kita selesaikan dulu masalah ini"
"Baiklah, tapi jangan lupa ceritakan padaku, aku tidak percaya Junsu menghindarimu"
"Kau saja tidak percaya, apalagi aku Yunho… Dia sedikit aneh memang sejak kemarin" gumam Yoochun diakhir
"Lalu apa hubungannya denganku. Kenapa kau menyalahkanku atas itu?" Yunho bertanya sambil menatap Yoochun
"Sudah kubilang nanti saja"
"Ya… Baiklah" angguk Yunho dan mereka berdua masuk kedalam ruangan besar yang cukup untuk sekitar seratus orang lebih
Yunho duduk disisi Yoochun di depan mereka terdapat meja bundar yang sangat besar dengan kursi-kursi yang diduduki oleh pemiliknya masing-masing. Dengan kehadiran mereka akhirnya secara resmi rapat itu dimulai
Memang hal yang wajar dilakukan oleh sebuah perusahaan besar untuk melakukan rapat mendadak dan melihat keberlangsungan perusahaan juga kemungkinan untuk maju atau mundur. Dan seperti rapat-rapat sebelumnya, rapat kali ini pun hanya membahas hal yang sama, yaitu bagaimana kemampuan finasial perusahaan juga perusahaan saingan, tidak ada yang berbeda, yang berhasil membuat hampir seluruh orang yang hadir sedikit merasa kesal pada bos yang seenaknya itu
Setelah rapat itu selesai, dengan perasaan lega semua orang keluar dari ruangan besar itu, termasuk sang bos yang sudah berjalan keluar dengan angkuhnya menuju limosin hitamnya yang sudah menunggu dibawah. Yoochun terus mengedarkan pandangannya mencari sang kekasih yang sudah tak terlihat sejak mereka keluar dan hal itu membuat Yunho khawatir
"Sebenarnya apa yang terjadi?" Tanya Yunho mengajak Yoochun ke ruangannya
"Aku juga tidak tahu Yun-" ucapan Yoochun terpotong dengan suara dering ponsel yang berasal dari posel Yunho
"Sebentar Chun, aku angkat ini dulu" ucap Yunho mengambil ponselnya dan melihat panggilan dari istrinya
"Joongie…" sapanya dengan nada senang
"Yunnie…" suara Jaejoong diseberang sana sama sekali tidak menunjukkan kebahagiaan
"Joongie… Ada apa denganmu? Kenapa kau menangis?" Yunho semakin khawatir mendengar suara istrinya yang seperti menahan tangis
"Yun-nie…" ucap Jaejoong tertahan
"Maaf Tuan Jung, saya dokter dari Sejong General Hospital, bisa kah Anda datang ke rumah sakit kami sekarang?" Tanya suara yang tidak Yunho kenal
"Rumah sakit? Lalu Joongie?" Tanya Yunho
"Ya, ini tentang istri Anda" balas orang itu
"Ada apa dengan Joongie?" Tanya Yunho tentu saja dengan nada yang sangat khawatir dan takut
"Maaf Tuan kami tidak bisa mengatakannya melalui telepon, bisakah Anda ke rumah sakit kami sekarang"
"Aku akan kesana sekarang" ucap Yunho dan langsung menutup ponselnya
"Ada apa Yun?' Tanya Yoochun memegang pundak sahabatnya
"Joongie" balas Yunho menatap Yoochun
"Ada apa dengan istrimu?" Yoochun sedikit terkejut melihat bulir air mata di wajah sahabatnya itu
"Aku harus pergi, Chun" Yunho langsung berlari meninggalkan Yoochun yang masih kebingungan
"Joongie…"
To be Continued
*bows
Sankyuu… Arigatou na
Buat yang udah mampir n baca fic ini
Jaehan sangat menantikan comments dan like dari para reader sekalian, biar Jaehan tau berapa orang yang udah baca fic ini
Sampai ketemu di fic selanjutnya ^^
bales-bales^^
desi2121:: untuk saat ini Jaejoong bebas dari keluarga Kim, tapi siapa yang tahu gimana nanti. Hehee-
Imcherlonntan :: iya, disini m-preg… disini jawabannya
jung hana cassie :: iya, Jaehan gap inter bikin NC, ini aja udah susah banget buatnya, huhuhuuu… orang ketiga, ga akan selamat Lol
KimShippo :: iya, tapi Shippo tetap ada^^ jadi Jaehan kenal. iya, tinggal hamil hohohohoo- Yunho ga akan selingkuh ko, tenang aja
Nara-chan :: hamil-nya menyusul.. lol
HANA :: salam kenal juga^^ kalo GS ceritanya ga bakal YAOI kan, dan Jaehan ini ff Yunjae ^^
Dongdonghae :: salam kenal juga^^ itu dia yang sulit, detail itu rasanya... geli. ff yang 'We Are' dihapus sama admin ffn, jadi kayaknya ga bakal Jaehan post lagi
honey park :: iya, sudah pernah di publish di f b untuk versi Indo juga di LJ, AFF sama winglin untuk versi English. They're meant to be ^^
lee minji elf :: makasih udah mau baca^^ iya, ini m-preg
ZheyraSky :: gomen lama banget update-nya, tiap mau post selalu aja ffn-nya bermasalah..
KitsuKitsune :: eumm.. untuk versi Indo Jaehan post disini^^
dededeepeo :: salah tebakannya, ga mungkin Jaehan mau masukin tiga makhluk itu lol
Kyumin 13, Ryani, yunjaeshipper, Aoi Ko Mamoru, Zuyyin, irengiovanny, NN Guest, okoyunjae thanks for reading minna-san^^
