Meant To Be

.

.

By phoenixmaiden

.

.

Translate by Uchiha Kazusha

.

.

Chapter 7

Keesokan harinya, Harry mengumpulkan semangatnya dan pergi untuk menemui Dumbledore dengan Ron dan Hermione di sisinya. Dia telah begadang semalaman untuk berpikir tentang apa yang akan dia katakan pada Dumbledore ketika dia pergi besok pagi. Yang jelas bukan kebenaran yang sebenarnya, tapi dia harus memberitahukan Dumbledore sesuatu, seorang bayi tidak muncul begitu saja.

Seorang bayi. Harry tidak mempercayainya. Mungkin dia tidak percaya sepenuhnya sebelum dia mulai terlihat, yang mana dia berharap terjadi sebentar lagi. Tapi itu adalah kebenaran dan dia harus menerimanya walaupun dia suka atau tidak.

Mereka ber-apparate ke gerbang depan Hogwarts dan memulai perjalanan ke kantor Dumbledore. Rasa takutnya semakin mendalam dengan setiap langkah yang dia ambil, dan remasan tangan Hermione di tangannya tidak menenangkannya sedikitpun. Yang terjadi hanyalah semakin membuatnya gugup dan sakit perut dari yang sebelumnya. Hanya memikirkan apa yang akan dia katakan pada Dumbledore telah menganggunya dan kalau tidak, kalau begitu reaksinya. Apakah dia akan jijik? Marah? Sedih? Harry tidak tau apa yang akan dia lakukan dan kalau Kepala Sekolah menolaknya...

"Kau tidak apa-apa Harry?" tanya Hermione dengan lembut. Harry menggelengkan kepalanya, tidak mempercayai suaranya. "Ini akan menjadi baik, lihat saja." Hermione menenangkannya.

"Apakah kau siap?" tany Ron, "Karena kita sudah sampai."

Harry melihat sekeliling dan melihat bahwa mereka berdiri di depan jalan masuk ke kantor Dumbledore. Perjalanannya terlalu cepat menurut Harry, dia masih belum siap! Tapi dia harus melakukannya. Dia mengambil nafas dalam dan memberikan passwordnya "Peppermint Toads."

Harry mengetuk pintu dan masuk ketika dia di berikan izin untuk masuk.

"Ah, Harry anakku. Atas hal apa aku mendapat kesenangan dari kehadiranmu?" tanya Dumbledore dengan senyum senang dan mata yang berbinar sangat berbalik dengan apa yang Harry rasakan sekarang.

"Um...aku harus...mengatakan kepadamu sesuatu," Harry berhasil mengatakannya.

"Tentu saja," kata Kepala Sekolah tiba-tiba serius. Itu seperti bahwa dia sudah tau, "Duduklah"

Pikiran Harry menjadi kacau saat dia duduk di depan meja Dumbledore dengan Ron dan Hermione berada di masing-masing sisinya. Dia tidak tau apakah dia dapat melakukan ini, tapi dia harus melakukannya.

"Ak-aku tidak sepenuhnya jujur tentang apa yang terjadi ketika aku di tangkap." Mulai Harry.

Dumbledore duduk dan menunduk ke depan,"Oh?"

"Aku tidak bermaksud untuk menyembunyikannya darimu, aku hanya...takut, kupikir," katanya sambil melihat kaearah lain tanpa melihat ke wajah Dumbledore,"Ini bukanlah sesuatu yang penting" katanya terburu-buru. Pada pegangan Hermione yang ketat di tangannya, dia berkata, "Maksudku, ini penting, tapi...tidak..." dia selesai dengan membiarkan kata-katanya menjadi datar.

"Seperti itu, well, tidak apa-apa. Kau telah datang benar? Tidak ada yang salah. Sekarang apa yang mau kau katakan padaku?"

"Well, aku tidak berbohong tentang semuanya. Aku hanya..."

"Berhati-hati?" tawar Dumbledore dengan baik.

Harry menangguk sambil melihat tangannya, "Ya..." Ini lebih berat dari yang dia pikirkan akan terjadi. Itu tidak menolong bahwa kali ini dia benar-benar berbohong. "Ketika aku berada di ruangan itu... orang lain sempat masuk, disana tidak ada orang lain selain dia. Ku-kupikir dia datang untuk memberikanku makanan atau sesuatu aku tidak tau. Aku mencoba untuk keluar, tapi aku tidak dapat melakukan apapun tanpa tongkatku. Tapi aku mencoba... aku mencoba, tapi aku tidak dapat menggunakan sihirku. Dia membuatku terjepit..." disini dia berhenti, mencengkram tangannya menjadi sebuah tinju dan menahan air matanya yang mau keluar. "Aku mencoba untuk melawannya," Harry tersedak mengingat bagaimana rasanya di jepit, terperangkap dengan dirinya, menginginkannya dan tidak menginginkannya. "Aku mencoba...aku tidak bisa..." Hermione menutup tangannya dengan miliknya dan mencengkramnya dengan kuat memberikannya semangat, "Dia memperkosaku," akhirnya dia tersedak.

Kesunyian di ruangan tersebut terdengar setelah dia mengatakannya. Suara yang ada hanyalah suara dering di telinganya yang semakin lama semakin keras saat kesunyian berlanjut. Dia melihat ke atas ke wajah Dumbledore dan dia tidak suka apa yang dia lihat. Kepala sekolah sebenarnya terlihat seperti usianya, matanya terlihat sedih dan penuh dengan rasa kasihan. Harry melihat ke arah lain.

"Maafkan aku," dia berbisik, dan mengatakannya lagi dengan keras untuk menutupi suara dering itu, "Maafkan aku."

"Harry, anakku..." mulai Dumbledore, tapi Hermione menggengam tangannya untuk mengingatkannya tentang kenapa dia datang.

"Itu tidak semuanya," kata Harry, memotong perkataan Kepala Sekolah,"...aku hamil."

Kesunyian lagi.

"Maafkan aku," kata Harry sambil menangis, "Aku mencoba untuk melawannya, aku mencoba..."

"Aku tau Harry, aku tau," kata Dumbledore akhirnya. Dia berdiri dan berjalan mengelilingi mejanya untuk berdiri di depan Harry, "Aku tidak menyalahkanmu, Harry."

"Kau tidak menyalahkanku?" tanya Harry sambil melihat keatas.

"Tidak, aku tidak menyalahkanmu. Aku tau bahwa kau melawan sekuat yang kau bisa... aku juga tau bahwa kau menderita karena ini setiap saat." Pada ini Harry tidak mengatakan apa-apa dan menundukkan kepalanya. Dumbledore meletakkan tangannya di atas kepalanya yang menunduk dan memberikan rasa kenyamanan."Apakah kau sudah berpikir tentang apa yang akan kau lakukan?"

"Aku akan menyimpannya," kata Harry dengan lembut.

"Aku pikir kau pasti akan melakukannya," Dumbledore tersenyum dan mengusap kepalanya sebelum bergerak untuk berdiri di depan jendela, "Walaupun itu akan membuat masalah."

"Apa maksudmu?" tanya Ron.

"Voldemort," jawab Dumbledore dan Harry meringis.

"Apa hubungannya dengannya?" tanya Ron lagi.

"Dia akan mendatangi Harry, benarkan?" kata Hermione.

"Ya, Nona Granger. Dia akan datang," Dumbledore berbalik ke arah mereka lagi, "Dengan sesuatu yang berharga seperti seorang anak. Dia akan lebih melawanmu, Harry."

Harry memeluk perutnya ketat dan melihat ke arahnya, "Tapi bayi ini tidak bersalah, ini...ini..."

"Dia tidak peduli. Jika ini penting bagimu, bagian dari dirimu, dia akan menggunakannya untuk melukaimu."

Harry melihat ke arah perutnya yang rata. Dia tidak pernah berpikir tentang itu, tapi...ada sebuah bukti kecil bahwa Tom- tidak, Voldemort, adalah ayah dari bayi ini. Apa yang akan dia lakukan. Dia takut untuk berpikir. "Dia tidak boleh tau," bisik Harry.

"Itu benar," kata Dumbledore membuat Harry melompat, begitu sangat tenggelam dalam pikirannya. "Kita harus menyiapkan diri kita," kata Dumbledore bergerak kembali ke mejanya, "Ketika kau akan melahirkan."

"Bagaimana kalu dimulai saat dia mulai terlihat?" tanya Hermione. "Itu akan sangat jelas karena dia laki-laki."

"Dan juga dia adalah Harry Potter," Sambung Ron.

"Ya, benar. Kalian berdua benar."

"Kalau begitu apa yang harus kulakukan?" tanya Harry.

"Kami harus mengeluarkanmu dari sini," kata Dumbledore dan berpikir, "Untuk bersembunyi."

"T-tapi bagaimana dengan latihanku?" tanya Harry, "Aku tidak bisa hanya tinggal pergi."

"Aku takut sekarang kau harus melakukannya. Satu lagi, seperti yang Nona Granger bilang bahwa orang-orang akan tau ketika kau mulai terlihat. Dan juga yang lainnya, ini tidak aman untuk bayimu untuk bergerak terlalu banyak. Kehamilan laki-laki sangat rentan melebihi yang normal."

"Seperti itu," bisik Harry. Dia benci pemikiran bahwa dia harus bersembunyi selagi yang lain sedang bertarung, untuk menyerah terhadap mimpinya. Tapi dia punya bayinya yang harus dia pikirkan sekarang. "Tapi apa yang harus ku bilang, aku tidak bisa hanya datang dan pergi tanpa alasan yang benar."

Mereka menjadi diam saat mereka memikirkan tentang itu.

Setelah beberapa menit, Ron menjawab, "Bagaimana kalau kita bilang bahwa Harry pergi untuk latihan spesial. Maksudku, orang-orang tau bahwa dia adalah The Chosen One, jadi itu akan masuk akal baginya untuk pergi." Ketika tidak ada yang mengatakan apapun dia malu dan melihat ke bawah, "Itu hanyalah saran."

"Tidak, Tuan Weasley itu adalah ide yang sangat bagus." Kata Dumbledore.

"Benarkah?"

"Ya. Itu sangat masuk akal." Kata Hermione terlihat takjub yang membuat Ron menjadi bangga.

Harry tersenyum, kemudian melihat ke arah Dumbledore, "Apakah aku harus pergi sekarang?"

"Hm. Tidak sekarang," kata Dumbledore sambil berpikir."Sampai kau mulai terlihat kupikir. Itu akan memberikanmu banyak waktu untuk bersiap-siap."

"Okey." Kata Harry mengangguk, "Kemana aku akan pergi?"

"Aku akan membuat semuanya, anakku, jangan khawatir," kata Dumbledore dengan senyum baiknya.

"Bagaimana setelah bayi ini lahir profesor," tanya Hermione, "Harry tidak bisa bersembunyi selamanya. Mereka akan mengetahuinya."

"Benar mereka akan mengetahuinya. Aku pikir mereka akan melihat Harry dan membiarkan mereka tau bahwa dia masih ada, tapi kita masih punya waktu tentang itu."

"Jadi... aku akan pergi latihan yang spesial untuk mengalahkan Voldemort," kata Harry dengan kuat.

"Ya, itu adalah rencananya."

"Okay. Aku dapat melakukannya." Aku harap...

End Of Chapter