Disclaimer :

Demi neptunus naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. sasuke punya saya *dibantai masashi sensei dan sakura*

.

TOLONG DI BACA APAPUN DI BAWAH INI, KEBIASAAN BEBERAPA READER MALAS BACA DAN BERAKHIR DENGAN ME-REVIEW HAL YANG TIDAK PERLU KARENA SUDAH TERCANTUM DI BAWAH INI.

.

Warning :

OOC, TYPO tingkat akut, AU, OOT, EYD berantakan, flame tidak diijinkan. DI LARANG MENG-COPY TANPA SEIJIN AUTHOR SASUKE FANS APALAGI NYOLONG!

.

Catatan :

Tolong baca ini yaa... jadi fic ini terinspirasi dari berbagai Film, komik, webtoon, anime, dan segala macam hal-hal karya yang memiliki plot alur tentang vampire/drakula, sudah lama pengen banget bikin fic bikinian, so, mungkin akan ada beberapa alur yang mirip.

.

Peringatan...!

Fic ini hanyalah cerita fiksi belaka yang tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan seseorang, sedikit mengambil sudut pandang dan selebihnya di karang-karang oleh author, tidak menyinggung suku, ras, agama dan apapun, hanya merupakan fic untuk menghibur semata, author pun tidak akan mengambil keuntungan apapun selain kepuasan membaca dari reader.

rate masih bebas, jika terjadi hal "buruk" rate akan berubah menjadi M

.

Enjoy for read

.

But

.

Don't like Don't Read

.

.

~ Sweet Blood ~

[ Chapter 6 : Pendekatan ]

.

.

"Jangan lari seperti itu, kau tahu, itu semakin membuatku penasaran padamu."

"Pergi! Jangan menggangguku!" Ucap Sakura, dia pun melempar dua kantong belanjaannya itu, tidak peduli lagi dengan barang-barang yang di belinya, saat ini nyawanya yang jauh lebih penting.

"Mau melawan? Ini menjadi menarik." Ucap pria itu.

Dia berhasil menangkap Sakura dan menariknya hingga membuat Sakua terjatuh, kaki gadis itu terluka, pria ini jadi tidak perlu buang-buang waktu hanya untuk gadis kecil di hadapannya.

Sakura tidak bisa melakukan apapun, pria itu terlalu kuat, dia di buat jatuh dan kakinya terluka, tidak bisa lari lagi, tubuhnya pun gemetaran, dia sangat takut, pria dengan pupil merah itu berjalan hingga hampir mendekatinya.

Langkah pria ini terhenti, sebuah tatapan marah di perlihatkannya setelahnya dia kabur.

"Cepat kejar dia!" Perintah pemuda bermata onyx ini pada beberapa orang dengan pakaian serba hitam mereka, dia pun berbalik dan berjongkok, menatap Sakura yang sangat-sangat ketakutan. "Maaf, aku terlambat." Ucap Sasuke, melihat kaki gadis itu yang terluka, bahkan barang-barang belanjaannya berserakan dimana-mana.

Sasuke mengulurkan tangannya ke arah Sakura, sekedar ingin menolongnya namun tangan itu di tepis kasar, Sakura terlihat menangis, tapi masih ada tatapan marah di sana.

"Aku tidak butuh bantuanmu." Ucap Sakura, berusaha berdiri walaupun kakinya sakit, memungut barang-barang belanjaannya dengan susah payah, tapi semua jatuh kembali, kantong yang di gunakannya rombek saat melempar ke arah pria tadi.

"Apa kau akan tetap marah seperti itu?" Ucap Sasuke.

"Aku jauh lebih senang saat kau tidak peduli padaku." Ucap Sakura dan menatap tidak senang pada Sasuke, kembali memungut barang-barangnya dan terjatuh lagi.

"Tuan, pria itu sepertinya menghilang, kami akan segera mencar-." Ucapan Hayate terputus, Sasuke memintanya untuk diam.

"Tolong kumpul semua barang-barang itu, aku akan membawanya pulang." Ucap Sasuke, kali ini dia akan jauh lebih tegas pada Sakura, berjalan ke arah gadis itu menarik tangannya dengan kasar, barang-barang di pegangnya kembali berjatuhan dan Sasuke segera mengangkatnya ala bridal style.

"Apa yang kau lakukan! Turunkan aku!" Ucap Sakura, dia pun mengamuk saat di gendong.

"Berisik." Ucap Sasuke, menatap tajam pada gadis itu.

Sakura terdiam, dia kembali takut, tatapan yang hampir sama dengan pria tadi, mereka terkesan sama-sama menakutkan.

"Kenapa harus menolongku? Aku pikir kau tidak akan peduli." Ucap Sakura, perasaan marah pada dirinya menjadi jauh lebih besar, dia sangat marah akan sikap Sasuke dan sebuah perkataannya yang tidak benar.

"Bagaimana pun juga, aku tidak bisa mengabaikanmu." Ucap Sasuke, dia pun mulai berjalan.

Sementara Hayate sibuk memungut barang-barang belanjaan yang berserakan itu, pria ini tidak melihat dengan baik gadis yang di bawa Sasuke, dia hanya merasa pernah bertemu dengan gadis itu sebelumnya.

"Kau bisa melakukannya, bahkan dengan mudah saat di sekolah." Ucap Sakura, menundukkan wajahnya dan berwajah cemberut, beberapa hari ini Sasuke terus mengabaikannya di sekolah.

"Apa kau sedang cemburu?"

"A-apa!" Sakura mengangkat wajahnya dan menatap Sasuke, wajah merona dan terlihat salah tingkah. "Aku tidak cemburu padamu, bahkan pada gadis cantik yang selalu bersamamu!" Protes Sakura.

"Kau cemburu pada Hotaru?"

"Su-sudah aku katakan jika aku tidak cemburu!" Kembali suara protes yang di dengarnya.

"Kau sama sekali tidak bisa berbohong, sekarang pegangan yang kuat jika tidak, kau akan jatuh." Ucap Sasuke, awalnya melangkah santai dan kini berlari cukup cepat hingga melompat lebih tinggi.

"Untuk apa aku memegang-huaaaa...!" Teriak keras Sakura, dia pun spontan memeluk Sasuke dengan erat, rasanya seperti tengah naik roller coaster yang begitu cepat hingga membuatnya takut.

Tiba di depan rumah, Sakura masih memeluk erat Sasuke, yang tadi itu sangat cepat, jauh lebih cepat dari sebuah kendaraan, lompatan yang cukup tinggi dan turun hingga membuatnya merinding.

"Kita sudah sampai?" Ucap Sasuke.

"Apa?" Gadis ini melepaskan rangkulannya dan melihat ke arah depan, itu pintu rumahnya, mereka tiba lebih cepat.

"Apa kau tidak bisa jalan lebih santai saja?" Ucap Sakura, dia kembali takut.

"Terlalu lama untuk jalan biasa." Ucap Sasuke.

Sakura mulai membuka pintu dan berjalan masuk, Sasuke masih senantiasa membantunya, duduk di sofa dan mengobati luka Sakura.

"Akhirnya aku bisa mengumpulkan semuanya." Ucap Hayate, dia juga sudah datang dan membawa barang belanjaan Sakura, Hayate jadi harus membeli kantong baru untuk barang-barang itu.

"Ha? Kau? Kau orang yang waktu itu 'kan?" Ucap Sakura, dia mengingat jelas pria itu.

"Kau nona yang hampir tertabrak itu." Hayate pun masih mengingatnya.

"Sekarang kembali ke rumah." Perintah Sasuke pada Hayate.

"Baik, tuan." Ucap Hayate dan bergegas pergi, sebelumnya melambaikan tangan ke arah Sakura dan tersenyum.

"Kenapa kau menyuruhnya pergi? Aku belum berterima kasih dan dia juga sudah sangat baik." Ucap Sakura.

"Kau bisa berterima kasih kapan saja, apa kakimu baik-baik saja?"

"Aku sudah tidak apa-apa, hanya luka lecet biasa, sebentar lagi akan-." Ucapan Sakura terputus, sebuah pelukan dari Sasuke.

"Kau membuatku khawatir." Ucap pemuda itu.

Wajah Sakura sudah merona. "Ja-jangan berbicara konyol, lagi pula kau tidak perlu khawatir seperti ini." Ucap Sakura.

"Kenapa aku tidak boleh khawatir?" Ucap Sasuke dan melepaskan pelukannya.

"Tentu saja, untuk apa? Tidak ada gunanya untukmu, aku mat-" Kembali ucapan gadis itu terputus, jari telunjuk Sasuke tepat pada bibirnya.

"Jangan mengucapkan kata itu."

Sakura segera menepis jari itu dari bibirnya. "Ka-kau benar-benar membuatku tidak mengerti, sikapmu beberapa hari lalu juga sangat menyebalkan, apa maksudmu dengan penanda dan lainnya? Aku bahkan kesulitan berbicara denganmu." Ucap Sakura, wajahnya terlihat kesal.

"Aku-." Sasuke terdiam, ucapannya jadi tertahan, menatap Sakura dan wajah gadis itu masih sangat marah dan kesal.

"...Mulai sekarang, abaikan gadis itu dan anggap saja kau tidak pernah menandainya..."

Kembali Sasuke mengingat akan ucapan Itachi.

"Apa? Apa yang ingin kau katakan? Aku sudah tidak ingin mendengar kebohongan apapun lagi."

"Aku memang membuat kesalahan dan jalan terbaik adalah menjauhimu."

"Lakukan saja sesukamu, aku juga tidak peduli, sekarang pulanglah, aku ingin istirahat, terima kasih atas segalanya, dan juga sampaikan terima kasih juga pada temanmu itu." Ucap Sakura, berdiri dan sofa dan berjalan tertatih-tatih ke arah kamarnya.

Pemuda itu terus menatapnya, berkata jujur pun Sakura tidak pedulinya, mungkin sikapnya memang sedikit keterlaluan, bersikap aneh dan membuat gadis itu kebingungan akan sikap dan setiap ucapannya.

Langkah Sakura terhenti, berbalik dan melihat ruang tamunya yang sudah kosong, Sasuke sudah pergi lagi, menghela napas, Sakura hanya tidak ingin memikirkan yang tidak-tidak apalagi dengan perasaan aneh yang tengah di alaminya, kembali berjalan ke kamarnya.

.

.

.

.

.

Kediaman Uchiha.

"Bagaimana? Apa kakak sudah menemukannya?" Ucap Sasuke.

"Sayang sekali, pria itu kembali berhasil kabur." Ucap Itachi, dia sedikit kecewa akan penangkapan kali ini.

"Ini cukup berbahaya."

"Ah, aku tahu, beberapa kasus berhasil di tutupi oleh para dewan dari bangsa vampire, tapi hal ini tidak mungkin terus menerus kita tutupi, ada saatnya masalahnya ini akan sampai ke telinga para manusia dan bisa saja kita akan kembali terancam seperti dulu kala. Kehidupan damai ini sangat sulit untuk kita dapatkan, kita tidah boleh menyia-nyiakan bangsa kita di jaman dulu." Ucap Itachi. Menatap ke arah Sasuke dan adiknya itu melamun. "Ada apa Sasuke?" Tegur Itachi.

"Tidak." Ucap Sasuke.

"Kau tidak seperti biasanya, apa masalah tentang gadis itu belum terselesaikan?"

"Sudahlah, aku tidak ingin membahasnya."

"Aku tidak yakin padamu."

"Cik, terserahlah."

"Oh, iya, aku dan Izumi akan mengadakan acara pernikahan, karena ini permintaan Izumi, kami akan melakukannya secara publik."

"Hn, akhirnya kau bersama wanita cerewet itu."

"Kau selalu saja mengatakan seperti itu padanya, dia sempat mengatakan padaku jika kau datang ke kediaman hanya untuk meminta tanda tangan salah satu novel karyanya."

"Hanya permintaan dari teman."

"Benarkah? Kau mau melakukan permintaan temanmu? Aku jadi semakin tidak percaya padamu, kau sangat tidak peduli pada siapapun selama ini, kenapa sikapmu pada 'teman' itu sangat berbeda?"

Sasuke menatap kesal pada Itachi, merasa jika kakaknya mungkin ketularan Izumi, dia jadi tipe yang banyak bicara.

"Tidak perlu mengurus urusanku, lagi pula kau harus mengurus wanita cerewet itu."

"Hey, jangan seperti itu. Nantinya juga kau akan bersama seseorang dari bangsa kita."

"Aku tidak mau." Ucap Sasuke dan memilih untuk meninggalkan Itachi.

"Tunggu Sasuke, aku belum selesai bicara." Ucap Itachi, namun adiknya itu sudah masuk ke dalam kamarnya. "Selalu saja seperti itu." Tambah Itachi.

"Apa Sasuke sudah kembali." Ucap seorang pria, dia baru saja tiba di rumah, pria yang terlihat tua namun raut wajah masih begitu tegas.

"Sudah, ayah."

"Ayah sudah dengar dari laporan orang yang kau kirim, pria itu tidak akan lepas lagi dan seenaknya kabur." Ucap Fugaku, Uchiha Fugaku, ayah Sasuke dan Itachi, pria yang masih memegang jabatan sebagai salah satu dewan di bangsa vampire dan sebagai pengusaha sukses pada kalangan manusia, Fugaku sudah menjadi keturunan terakhir yang seharusnya memegang jabatan sebagai raja untuk bangsanya, walaupun sebagai raja, pada abad ini, kedudukan itu tidak penting lagi, keadaan sudah berubah dan pemerintahlah yang berkuasa.

"Terima kasih, ayah." Ucap Itachi, dia cukup terbantu oleh pertolongan ayahnya yang merupakan orang dengan kekuasaan lebih.

"Lain kali, cepatlah bertindak jika ada masalah seperti ini lagi, para dewan sudah memberinya cap sebagai vampire abnormal, dialah yang melawan segala peraturan yang sudah di buat di jaman dulu, jika hanya ada satu orang, mungkin nantinya mereka akan berkembang, seharusnya kau segera mencari informasi dan berantas hingga ke akarnya, ini juga merupakan masalah besar untuk kita."

"Baik, akan aku lakukan." Ucap Itachi. Pekerjaan Itachi adalah sebagai kepala bagian pada kepolisian Konoha, dia pun harus bekerja keras untuk masalah-masalah seperti itu.

Fugaku berjalan pergi, pembicaraan mereka sudah selesai, Itachi akan bekerja keras lagi untuk masalah vampire abnormal itu, sementara itu, dia masih mengawasi adiknya dan tingkahnya, Sasuke memang sedikit berubah akhir-akhir ini.

.

.

.

.

.

[ Sakura pov.]

Hanya lecet sedikit, ini tidak masalah, semalam banyak hal aneh yang terjadi, aku bertemu kembali pria aneh itu, Sasuke datang dengan beberapa orang, pria yang hampir menabrakku adalah kenalan Sasuke dan juga Sasuke menggedongku, dia berlari sangat cepat hingga lompatannya pun sangat tinggi, aku seharusnya sadar jika itu tidak mungkin di lakukan manusia biasa, jadi Sasuke itu benar-benar seorang vampire? Aku masih sulit mempercayainya.

Menatap jendela yang gordennya belum aku buka, ada cahaya dari balik gorden itu, sudah pagi rupanya, tidurku terasa hanya sebentar, aku baru ingat jika hari ini hari minggu, hanya berbaring dan tidak juga bangun, aku lelah untuk masalah semalam dan juga Sasuke bersikap aneh, aku tidak suka akan sikapnya seperti itu, aku pikir dia akan terus mengabaikanku.

"Apa kau tidak akan bangun?" Ucap seseorang.

Menoleh dan cukup terkejut akan Sasuke yang tengah duduk di kursi-meja belajarku, panik di pagi hari, tapi aku mulai sedikit terbiasa, dia selalu saja tiba-tiba muncul seperti itu, menarik selimutku dan berpura-pura untuk tidur, aku pun bisa mengabaikannya. Beberapa menit berlalu, mencoba menoleh ke arah meja belajarku dan Sasuke masih di sana, dia duduk di santainya dan tenang, apa dia tengah menungguku?

"Sudah aku katakan padamu jika masuk tanpa ijin itu tandanya kau pencuri." Ucapku, dia sama sekali tidak peduli pada setiap ucapanku.

"Apa kakimu masih sakit?" Tanyanya, benar saja, dia mengabaikan ucapanku lagi.

"Pulanglah, aku sudah tidak apa-apa." Ucapku, aku tidak ingin dia berada di rumahku sekarang, aku butuh kesendirianku.

"Aku tidak mengerti akan sikap anehmu itu, kau marah? Marah tanpa sebab?"

"Aku tidak bersikap aneh dan aku tidak sedang marah, kau saja yang aneh, bisakah kau tidak muncul di hadapanku sehari saja?" Ucapku.

"Jika aku melakukan sesuatu untukmu, kau akan memaafkanku?" Ucap Sasuke.

"Ha? Maaf untuk apa? Kau benar-benar membuatku bingung dan semakin aneh saja, aku tidak marah, sudahlah." Ucapku, yang kemarin itu bukan sebuah rasa cemburu, aku tidak cemburu! Pokoknya tidak!

"Aku senang mendengarnya." Ucap Sasuke, hanya sebuah ucapan itu dan membuatku malu, itu hanya ucapan sederhana, aku tidak perlu malu 'kan, mungkin hanya terbawa suasana.

"Me-memangnya kau bisa berbuat apa untukku?" Ucapku, dia mengucapkan sesuatu yang akan mustahil jika aku memerintahnya.

Berikutnya...

Memandangi dengan tatapan takjub dan mungkin aku juga tengah terpesona, aku memikirkan untuk sebuah sarapan di pagi hari, aku hanya ingin menantangnya, dia itu selalu beranggapan apapun bisa di lakukannya dengan mudah, dan sekarang, aku akan tarik kata-kataku kembali, dia bisa berbuat apapun, bahkan itu sebuah sarapan.

Dia cukup lihai memegang pisau dapur dan memasak, aku jadi kepikiran lagi jika dia hanya anak manja yang tidak bisa apa-apa, Sasuke tidak seperti itu. Sepiring omurice dengan saus jamur dan teh jasmin, harum, masakannya terlihat sangat enak walaupun hanya sebuah omurice, telurnya bahkan melumer saat di belah bagian tengahnya.

"Apa segini saja permintaanmu?" Ucapnya dan tatapan menyombongkan darinya, cih, aku salah meminta sesuatu padanya, seharusnya aku memintanya membuatkan masakan dari bahan langkah yang hanya bisa di ambil dari belahan bumi lainnya, tunggu, dia itu vampire, mungkin saja akan tetap mudah baginya, apa yang sudah aku pikirkan?

"Tidak perlu, aku rasa ini sudah cukup." Ucapku, aku tidak bisa meremehkannya.

Sarapanku di pagi hari terlihat mewah, dan juga, Sasuke tengah duduk di hadapanku, dia duduk dengan tenang dan tatapan itu terus ke arahku, segera mengalihkan tatapanku, kenapa aku jadi sulit menatapnya? Bodoh, ini bukan apa-apa.

Mengambil sesendok dan memakannya, haa...~ serasa makanan restoran mewah. "Aku tidak percaya kau bisa masak, seharusnya kau tidak bisa melakukan ini 'kan?" Ucapku, dia vampire, masak tidak ada gunanya untuknya.

"Dulunya aku tinggal bersama pamanku di kota Oto, aku jadi harus hidup mandiri dan pernah bekerja di sebuah restoran terkenal di sana." Ucap Sasuke.

"He? Kau pernah bekerja di sebuah restoran? Aku pikir kau anak orang kaya, kenapa harus bekerja lagi?"

"Ini hanya permintaan dari pamanku yang pemilik restoran itu, dia ingin aku pun bisa belajar menjadi seorang koki, tapi aku hanya bisa membuat omurice." Ucap Sasuke.

Sesekali menyuapi makananku dan mendengarkannya bercerita, cuma omurice saja seenak ini, bagaimana jika dia pandai membuat hal lainnya? Aku yakin jika dia membuka restoran, dia akan sukses.

Menghentikan makanku dan menatap serius ke arah Sasuke. "Aku sungguh sulit percaya akan hal ini, kau vampire tapi terasa seperti bukan vampire." Ucapku.

"Bodoh." Ejek Sasuke.

"Apa! jangan memanggilku bodoh!" Protesku, aku tidak suka saat dia mengatakan 'bodoh' padaku dengan tatapan meremehkan itu.

"Apa yang ingin kau ketahui dariku?" Ucapnya. Sasuke pun menatap serius ke arahku.

"Se-semuanya, kau bisa ceritakan semuanya padaku dan aku janji, sampai mati pun aku tidak akan mengatakan pada siapapun." Ucapku, aku ingin Sasuke percaya padaku.

Jam sudah menunjukkan pukul 10 pagi, suasana tenang di rumahku, cahaya matahari yang mulai masuk dari jendela, hangat dan aku mendengar semua apa yang Sasuke katakan padaku, tentang vampire yang beradaptasi di jaman modern, tentang hidup mereka yang susah di jaman dulu, tentang hal-hal yang mulai tidak berdampak pada mereka dan mereka benar-benar menginginkan sebuah perdamaian antara bangsa manusia dan bangsa vampire, ini sungguh mustahil, aku jadi tengah mendengar sebuah kisah yang jauh lebih menarik lagi dari sebuah novel yang selalu aku baca, apa yaa namanya, kisah dokumenter mungkin.

Menatap wajah pemuda di hadapanku, dia sudah hidup selama 2000 tahun, itu bukan kehidupan yang sedikit, sudah berbagai hal telah di laluinya, bahkan masa di mana jauh dari kata modern seperti saat ini, jaman dimana aku pun belum lahir dan mungkin orang tuaku belum saja bertemu, wajahnya tidak menua, dia tetap seperti pemuda berumur 17 tahun, jadi apa Sasuke itu bisa di kategorikan sebagai seorang kakek? Dia sudah sangat tua.

Ibu Sasuke dulunya adalah seorang manusia, sayangnya sesama vampire tidak mungkin menghasilkan sebuah keturunan jika salah satu dari mereka bukan manusia, maka dari itu, ayah Sasuke butuh seorang pendamping, awalnya menjadikan ibu Sasuke sebagai wadah pembuat keturunan, lambat laun, cinta tumbuh di antara mereka, ayah Sasuke menyayangi wanita itu hingga dia rela menjaganya tetap menjadi seorang manusia, saat kakak Sasuke menjadi dewasa, dia pun di ubah menjadi vampire, ibu Sasuke sudah tahu akan konsekuensi ini, dia pun menerima akan keluarganya meskipun mereka vampire, tiba saat ibu Sasuke kembali mengandung, dia mengalami sedikit masalah, ibu Sasuke selalu sakit-sakitan, di umurnya mulai sulit untuk membuat keturunan lagi, saat hidupnya hampir berakhir, ayah Sasuke mengubahnya menjadi seorang vampire dan keturunannya berakhir pada Sasuke. Benar-benar kisah yang tidak akan ku lewatkan untuk aku dengar, kehidupan bangsa Sasuke seperti itu, aku cukup sedih mendengar cerita yang sedikit tragis ini, setelah Sasuke dewasa, dia pun harus menjadi vampire, bukan sebuah keharusan, tapi sudah menjadi garis takdir mereka untuk menutupi hal aneh pada mereka dan membuat status mereka jelas, anak setengah vampire dan manusia, tidak di anggap sebagai seorang vampire, melainkan mereka menjadi orang yang cacat di mata bangsanya.

"Apa kau tidak bosan sekolah terus-menerus?" Ucapku, entah sudah berapa kali dia harus lulus seumur hidupnya.

"Bosan, tapi ini sebagai formalitas saja." Ucapnya.

Sesekali tersenyum, aku rasa dia sudah tidak ingin bersekolah lagi, jadi vampire itu tidak menyenangkan, aku saja ingin cepat-cepat menyelesaikan masa pendidikan dan bekerja.

"Pantas saja kau tidak benci bawang putih." Ucapku dan kembali mengingat akan hal konyol yang di lakukan Naruto.

"Orang-orang jaman sekarang masih menggunakan pemikiran orang-orang di jaman kuno. Mereka jauh lebih bodoh dari bangsa vampire." Ucap Sasuke dan secara tidak langsung dia pun mengejekku yang seorang bangsa manusia dan masih memikirkan cara-cara kuno terhadap vampire.

"Hey, jangan mengatakan seperti itu." Protesku.

"Mungkin pengecualian padamu." Ucapnya dan aku bisa melihat sebuah senyum tipis di wajahnya, walaupun hanya sedetik saja, kenapa dia tidak tersenyum saja terus? Dia jauh lebih enak dipandang saat tersenyum.

"Jangan membuatku besar kepala, aku hanya tidak perlu melakukan apa yang Naruto lakukan padamu, itu sungguh terlihat bodoh." Ucapku, aku tidak ingin seperti Naruto, apalagi jika Tenten dan Ino melihatku seperti itu, mereka mungkin akan mengabadikannya dan tertawa sampai mereka puas, benar-benar konyol.

Ada banyak hal yang masih membuatku penasaran dari Sasuke, tunggu! Aku melupakan sesuatu.

"Sasuke." Panggilku perlahan.

"Hn?"

"I-itu-" Aku sedikit malu menanyakan hal ini, tidak berani menatap Sasuke dan hanya melirik ke arah lain, apapun selain wajah pemuda itu.

"Apa? katakan saja." Ucapnya.

"Kau sudah menggigitku 'kan? Kau tahu, a-aku bisa saja menjadi vampire." Ucapku.

Hening.

Sasuke terdiam.

Kali ini aku berani menatap ke arahnya.

Kenapa Sasuke hanya diam saja.

Cepatlah! Katakan sesuatu, aku sudah sangat takut beberapa hari ini, tapi aku tidak merasakan jika aku haus darah.

Haa..! Apapun itu, aku sangat ingin tahu, apa benar aku akan jadi vampire.

Pffff...

Menatap bingung ke arah Sasuke, dia menutup mulutnya, mengalihkan tatapannya dariku, tapi bahasa tubuh yang terlihat tengah cekikan itu tidak mungkin membuatku tidak sadar, Sasuke tertawa dan menahannya.

"Sasukeeee!" Kesalku dan memukul bahunya. Wajahku semakin merona, aku benar-benar malu, kenapa dia tertawa mendengar pertanyaanku?

"Tenanglah, kau tidak akan menjadi vampire." Ucapnya.

Deg.

Pe-perasaan macam apa ini? Sasuke tersenyum lebar, dia benar-benar tertawa dan menahannya, lihatlah wajah cerianya itu, aku harap wajah yang terasa damai itu akan tetap bertahan.

Sayangnya.

"Bodoh, kau ini benar-benar bodoh, kau tidak akan menjadi vampire, jangan harap, aku sudah katakan padamu untuk berhenti membaca novel sampah itu." Ucapnya, tatapan menyebalkan yang sedang di pasangnya, dimana wajah Sasuke yang terlihat damai itu, dia cepat sekali memasang wajah temboknya.

"Tapi kau sudah menggigitku." Ucapku, aku kesal akan wajah dan nada bicaranya itu.

"Tidak akan, aku tidak akan melakukannya padamu-" Raut wajah Sasuke sempat terlihat cemas, ada apa? "-Aku ingin kau tetap menjadi seorang manusia, secara tidak langsung aku memang menggigitmu, tapi itu bukan sebuah kebutuhan untukku dan bukan seperti untuk mengubah seseorang menjadi vampire, aku sudah menjelaskan padamu tadi, bangsa kami tidak mengkonsumsi darah manusia dan aku tidak memberimu racun, itu hanya sebuah penanda." Ucapnya, lagi-lagi dia mengucapkan 'penanda', seakan aku memang sudah di beri tanda, tanda sebagai pemilik, tapi dia mengabaikanku dan... oh tidak ! Kenapa aku kembali memikirkan itu! Pembicaraan ini memang harus lebih jelas, aku tidak ingin seperti memiliki perasaan sepihak saja.

Terdiam, tidak ada yang perlu aku bicarakan lagi dengannya, aku merasa semuanya sudah jelas, aku jadi tidak perlu memastikan apapun lagi, Sasuke memang seorang vampire, vampire yang telah beradaptasi di jaman modern, meskipun aku tidak ingin mengakuinya, tapi aku salut akan kegigihan mereka untuk terus hidup damai berdampingan dengan manusia.

Lalu, apa gunakanya dia menandaiku? Apa ada hal yang istimewa dari itu?

Ha! Tidak perlu membahasnya lagi, meskipun aku masih penasaran.

Triingg...~

Sasuke tengah menatap ponselnya. "Aku harus pergi." Ucapnya, berjalan melewatiku dan sebuah usapan lembut pada puncuk kepalaku. "Jaga dirimu." Tambahnya dan pergi begitu saja.

Suasana di meja makan kembali sunyi, kembali sendirian, sarapanku yang telah habis dan sedikit menyeruput teh jasminku yang kini telah dingin, melirik jam dinding, sudah jam 11, hanya sebentar saja bersama Sasuke, tapi aku merasa sedikit lega, aneh, tapi itulah yang aku rasakan saat ini.

[ Ending Sakura pov.]

.

.

"Aku tidak percaya ini! Kau menganggapku apa? Ha? Sakura? Ayo jawab." Ucap Ino, saat ini dia sangat kesal, sekedar mendatangi rumah Sakura dan melihat kondisi sahabatnya itu, Sakura sudah menceritakan jika ada orang yang mengganggunya, melewatkan beberapa bagian yang jika orang itu juga vampire seperti yang di katakan Sasuke.

"Ma-maaf." Ucap Sakura, dia terus di nasehati.

"Jika kak Serra melihatmu seperti ini, dia akan sangat kecewa padaku, bagaimana jika pada akhirnya dia pun benci padaku?" Ucap Ino.

Sakura memandang malas akan sahabatnya itu, semua hal yang terjadi akan selalu di hubungkan dengan kakaknya.

"Dengarkan aku baik-baik, mulai sekarang jika kau ingin keluar, kau harus mengajakku." Tegas Ino, dia tidak ingin hal buruk seperti ini terjadi lagi.

"Iya, baiklah." Pasrah Sakura.

"Jadi benar, Sasuke yang membantumu saat itu? Dia ternyata baik juga." Ucap Ino, Sakura tak lupa menceritakan bagian jika Sasuke yang menyelamatkannya, itu memang benar, tapi tidak pada bagian cerita jika Sasuke vampire.

"Sudah aku katakan padamu, Sasuke itu baik, hanya saja wajahnya terlihat menyebalkan." Ucap Sakura.

"Aku juga berterima kasih padanya, calon adik iparku tidak apa-apa." Ucap Ino dengan pe-de-nya.

"Apa maksudmu dengan calon adik ipar, kau tidak tahu reaksi kak Serra bagaimana nantinya." Ucap Sakura.

"Iya-iya, aku lapar, ayo ke rumah aku akan membantumu, kau jadi membuat dirimu susah seperti ini." Ucap Ino, kembali menceramahi Sahabatnya itu.

.

.

.

.

.

SMU K

"Dia cemburu padamu." Ucap Sasuke, menunjuk Sakura dan melihat ke arah Hotaru. Sontak saja gadis berambut softpink ini malu setengah mati, Sasuke tiba-tiba mengajaknya saat jam istirahat, dia pun tidak tahu jika pemuda ini malah akan bertemu dengan Hotaru dan mengatakannya secara terang-terangan.

"Apa maksudmu! Aku tidak cemburu pada siapapun!" Kesal Sakura, wajahnya merona dan memukul-mukul lengan Sasuke, dia tengah di permalukan.

"Sasuke, kau itu sangat kejam, jangan mengatakan masalah ini secara langsung, kau akan membuat Sakura malu. Tenang saja Sakura, aku dan Sasuke tidak memiliki hubungan apa-apa, lagi pula dia bukan tipeku." Ucap Hotaru dan tersenyum manis.

"A-apa? Tu-tunggu, Kau pun salah paham, aku dan Sasuke tidak seperti yang kau bayangkan!" Sakura semakin di buat malu.

"Ah, maaf, aku harus segera kembali, sampai juga lagi Sasuke, Sakura." Ucap Hotaru dan kembali ke kelasnya.

Sakura memasang wajah marahnya pada Sasuke, dia amat sangat marah.

"Kami sudah berteman sejak dulu, aku rasa Hotaru jauh lebih tua dariku, dia sudah hidup hampir 5000 tahun." Ucap Sasuke.

Sakura menjadi tenang, dia penasaran akan arah pembicaraan Sasuke.

"Heee...! Ho-Hotaru sudah hidup jauh lebih lama darimu!" Ucap Sakura, dia benar-benar sulit mempercayai hal ini.

"Hn, kekasihnya adalah seorang manusia dan di tuduh seorang vampire, tapi saat itu Hotaru mencoba membelanya, dialah yang hampir di musnahkan saat pembelaan itu, jika saja Utakata tidak menolongnya, Hotaru sudah tidak hidup lagi, Utakata mengobarkan dirinya dan sekarang mereka hidup bersama, Utakata menjadi vampire setelah di gigit oleh Hotaru, pria itu rela mengubah dirinya demi gadis yang di cintainya."

"Kenapa kau menceritakannya padaku?" Ucap Sakura, tidak biasanya Sasuke berbicara sepanjang itu dan menceritakan drama tragis nan sedikit bumbu cinta itu. "Kau sendiri sudah menggigitku, tapi tidak mengubahku menjadi vampire." Pikir Sakura.

"Aku hanya ingin melihat reaksimu terhadap kisah mereka, itu tidak akan kau temukan dalam karya manapun." Ucap Sasuke dan mendorong pelan jidat gadis itu dengan telunjuknya.

Sakura memasang wajah cemberutnya, dia tidak suka di perlakukan seperti itu.

"Oh iya, bagaimana dengan kabar teman sekelas Hotaru yang di skors itu?"

"Aku tidak peduli, itu adalah kesalahannya."

"Kau memang sangat tidak peduli pada apapun, dia juga bangsamu 'kan?"

"Tapi aku peduli padamu."

Blusshh!

"Ha! Sudahlah, kau terus-terus mempermainkan perasaanku, tenanglah Sakura, tenanglah." Batin Sakura.

"Kasus seperti itu akan cepat di tangani di sekolah ini, lagi pula ada beberapa orang yang memang memiliki tanggung jawab untuk melakukan." Ucap Sasuke.

"Ternyata jadi kalian itu tidak mudah dan juga tidak enak, kalian seakan sulit untuk hidup berdampingan, seakan di cap buruk, padahal kalian baik-baik saja." Ucap Sakura, dia pun mulai berpandangan luas terhadap bangsa vampire.

"Kau memikirkan kami?"

"Aku tidak memikirkan kalian, hanya mengutarakan pendapatku saja. Neh, Sasuke-" Ucapan gadis itu terhenti, sedikit semburat merah di wajahnya.

"Hn?"

"Bukan apa-apa, aku hanya ingin kau hati-hati saja." Ucap Sakura, memikirkan jika mungkin Sasuke akan mendapat kasus yang sama dengan gadis vampire itu.

"Kau khawatir padaku?"

"Aku tidak khawatir, hanya memberi saran."

"Oh, saran yang baik, kau tidak perlu sebaik itu." Ucap Sasuke dan memasang wajah meremehkannya.

"Ishh, aku menyesal untuk ikut peduli padamu."

Tatapan Sasuke sempat melebar, detik berikutnya, sebuah senyum tipis di wajahnya, mengusap lembut puncuk kepala gadis yang hanya setinggi dadanya.

"Lakukan saja yang kau suka, nona." Ucap Sasuke.

Sakura mengalihkan tatapannya, namun tangan pada puncuk kepalanya itu di biarkannya, dia merasa sedikit nyaman akan perlakuan manis itu dari Sasuke.

"Ponselmu." Ucap Sasuke, meminta ponsel Sakura.

"Untuk apa?"

"Berikan saja."

Sakura mengambil ponselnya dan memberikannya pada Sasuke. Menatap pemuda itu, dia hanya menekan sebuah nomer dan menghubunginya.

Dreeettt... Dreeetttt...

"Apa yang sedang kau lakukan?" Ucap Sakura.

"Kau harus menyimpan nomer ponselku." Ucap Sasuke dan mengambalikan ponsel Sakura. "Aku juga akan menyimpan nomer ponselmu." Tambah Sasuke.

"Apa kau akan menerorku setiap harinya?" Ucap Sakura dan memincing mata ke arah Sasuke.

"Apa? Dasar bodoh, aku tidak melakukan hal yang konyol seperti itu."

"Kau sudah seenaknya mengambil nomer ponselku, uhk, dasar!"

"Sudah terlambat untuk marah, nona." Ucap Sasuke.

Sakura menenangkan dirinya untuk tidak marah, melihat nomer ponsel Sasuke dan menyimpannya dengan nama kontak 'Bodoh', tertawa dalam hati, dia sudah senang dengan mencantumkan nama 'bodoh' pada nomer Sasuke.

Sementara keduanya kembali ke kelas, tatapan kedua gadis ini merasa memang ada yang aneh antara keduanya, mereka tidak pernah terlihat menyatakan perasaan masing-masing, namun sikap yang terlalu dekat itu hingga saling menyentuh tidak biasanya.

"Aku yakin 1000% jika mereka sudah jadian." Ucap Tenten.

"Sakura bahkan tidak pernah menceritakan apapun padaku." Ucap Ino, wajahnya terlihat murung, sikap Sakura mulai berubah setelah dekat Sasuke.

"Berpikir positiflah, mungkin ada baiknya jika Sakura mendapat pasangan."

"Aku agak kurang setuju jika orangnya itu si Uchiha, walaupun Sakura selalu mengatakan dia orang yang baik."

"Jika Sakura mengatakan hal itu, tidak ada salahnya, lagi pula mereka cocok."

Tatapan Ino tidak berubah sedikit pun, dia hanya ingin Sakura bersama laki-laki lain selain si Uchiha Itu, menurutnya Sasuke terkesan sebagai pemuda yang aneh atau pemuda yang apapun diinginkannya akan terjadi, merasa Sasuke tipe orang yang ingin semuanya tunduk padanya.

"Sudahlah, kita kembali ke kelas juga, sebentar lagi jam istirahat berakhir." Ucap Tenten dan berjalan menuju kelasnya, tak lupa menarik Ino untuk bergegas dan menegurnya untuk berhenti berwajah suram.

.

.

TBC

.

.


update lagi...,

author jadi sibuk pakai banget dan mulai jarang up fanfic, padahal ada banyak ide baru dan ide dari reader yang request, sorry, ficnya masih belum di realisasikan.

dan untuk 'gadis kuil dan para pengikutnya', akan di update, semoga cepat, masih tahap pengerjaan XD, sorry lagi kalau updatenya lama dan malah ngegantung, hehehehhe...

so,

see you nex chapter lagi...