"Lenka," Len mendekati adik perempuannya yang sedang membaca majalah di sofa. Ia menatap gadis itu sejenak. Sejujurnya Len agak ragu untuk mengatakan informasi yang baru saja ia dapatkan. Alasannya? Dia tidak suka mendengar jeritan heboh seorang cewek─terlebih lagi adiknya. Sudah cukup ia mendengarnya setiap hari di sekolah.

Tanpa mengalihkan pandangannya dari majalah yang ia baca, Lenka bertanya, "Apa?"

Len terdiam sejenak, bingung bagaimana menyampaikan informasi yang ia dapatkan. Lelaki itu menghela nafas berat dan memutuskan kalau ia akan mengatakannya langsung. Meskipun ini beresiko tinggi akan pendengarannya. "Hei, tatap aku," ujarnya dengan dingin.

"Ngg ... sudah katakan saja apa susahnya sih," ucap Lenka dengan malas. Ia tidak mengalihkan pandangannya sedikitpun dan tetap berkutat pada majalah di depannya.

"... Baiklah jika itu yang kau mau." Lenka mengangguk-angguk. Len menghela nafas berat, seakan menopang beban berpuluh-puluh ton. "Jangan menjerit ya,"

"Cepat katakan saja, Len-chan!" ucap Lenka malas. "Jangan membuang-buang waktuku,"

"Sepertinya Rinto ada urusan selama minggu ini. Ia ditugaskan oleh ayahnya untuk belajar mengurus perusahaan. Jadi yah ... liburan kita terpaksa dibatalkan,"

"Ohh ya ud─eh APA!?" Lenka langsung berbalik menghadap Len sambil melotot.

Len mundur beberapa langkah. Ia menutup kedua telinganya dan mengambil ancang-ancang untuk pergi dari ruangan itu. "Jangan menjerit plis. Gendang telingaku bisa robek kalau mendengar frekuensi tinggimu," ucapnya takut.

Lenka menduduk, poninya berjatuhan dan menutupi kedua matanya yang telah berair. Ia mengigit bibir bawahnya dan mengeratkan genggamannya pada majalah.

"Plis jangan teriak. Gendang telingaku bisa─"

Terlambat. Lenka telah melempar majalahnya sambil menggeram.

"─Oh tidak,"

Oh, Len seharusnya kau memperingatinya dari awal karena─

"HUAAAA! JADI KITA GAK JADI PERGI!? PADAHAL AKU SUDAH MENUNGGUNYA SEJAK LAMA! JAHAT! AKU TIDAK BISA BERTEMU RINTO! HUWEEEE! BAGAIMANA INI LEN!?"

─ucapanmu sama sekali tidak digubrisnya.


The Lonely

Vocalaoid © Yamaha and Crypton Production

Warning : Gaje, abal, typo (s), dsb

Chapter 7 : Undangan


Len menghela nafas panjang. Len melangkahkan kakinya ke taman dengan malas. Sesekali ia menguap lebar. Kantung mata yang terlihat jelas di wajahnya menandakan bahwa ia kurang tidur. Sejujurnya jika ini bukan perintah dari Rin, ia akan langsung menolaknya mentah-mentah dan langsung menghabiskan waktu di rumah dengan tidur. Namun apa boleh buat. Rin adalah tuannya sedangkan ia hanyalah seorang bodyguard. Ia tidak boleh membantah tuannya.

"Len~!"

Suara familiar tertangkap oleh indra pendengarannya.

Len menoleh ke belakang dan mendapati Rin berlari ke arahnya sambil melambaikan tangannya. Len mengangkat tangan kanannya sambil tersenyum.

"Ojou, tumben kau telat," ucap Len sambil tersenyum tipis. "Padahal kau yang menyuruhku datang lebih awal,"

Rin hanya cengengesan sambil menggaruk kepalanya. Pandangannya teralih ke kantung mata yang ada di wajah tampan Len. "Kau kurang tidur, huh?"

Len menguap. "Yah bisa dibilang sih seperti itu," jawabnya dengan malas. "Semua gara-gara Lenka! Dia menjerit, merengek dan berteriak di depan pintu kamarku. Aku benci kebisingan itu," ucapnya dengan geram.

"Itu bukan gara-gara camping yang dibatalkan, kan?"

Len tersentak kaget. "Te-tentu sa-saja bukan! Dia itu cengeng dan sangat manja. Wajar saja kalau ia merengek di depanku untuk mendapatkan sesuatu," dustanya.

Rin hanya mengangguk-angguk mengerti. Sejujurnya ia menyadari perubahan yang terjadi dalam diri Len jika bercerita menyangkut tentang adiknya, Lenka. Namun ia segera membuang pikiran itu jauh-jauh dan tetap positive thinking.

"Ah, kenapa kau memintaku ke sini?" tanya Len sambil menguap. "Kau tidak memintaku untuk menemanimu belanja, bukan?"

Rin tertawa kecil. "Tentu saja tidak, baka! Untuk apa aku mengajakmu belanja? Lagipula aku juga tidak terlalu suka belanja,"

Len mengangkat sebelah alisnya. "Lalu?"

"Lebih baik kita mampir di cafe itu dulu. Aku haus, capek dan panas," ucap Rin sambil mengipas-ngipasi dirinya dengan tangannya. Gadis itu memang tidak tahan panasnya terik matahari yang seakan membakar kulit.

Len mengangguk dan langsung mengikuti Rin yang sudah berjalan terlebih dahulu ke sebuah cafe di dekat sana. Setelah duduk dan memesan minuman, keduanya mulai berbicara ke topik sebelumnya yang tertunda.

"Jadi kau mau ngomong apa?" tanya Len penasaran.

Rin mengeluarkan sebuah surat dari tasnya lalu memberikan surat tersebut ke Len. Surat tersebut langsung dibuka dan dibaca Len dengan bingung. "Aku disuruh datang ke pertemuan itu," ucapnya dengan kesal.

"Lalu apa hubungannya denganku?"

"Tentu saja kau juga harus datang, Len! Kau kan bodyguardku dan ... disitu tertulis ... err ..."

Len membaca kembali surat tersebut dengan malas. Kedua matanya terbelalak setelah membacanya dari atas sampai akhir. Wajahnya sedikit memanas, jantungnya berdetak lebih cepat. Ia meneguk ludah. "Err ... di ... sini ... ditulis ... 'berpasangan' ... maksudmu ... aku harus berpura-pura menjadi pasanganmu ... begitu?" tanya Len dengan ragu.

"Y-ya ..." jawab Rin sambil menggaruk-garuk rambutnya yang tidak gatal. Wajahnya telah memerah bagaikan apel yang kelewat matang. Jantungnya berpacu lebih cepat dari biasanya. "Ka-ka-karena a-aku tidak punya pa-pacar ... ja-jadi Rinto me-me-mengusulkan kalau ka-kau lebih baik ber-berpura-pura men-menjadi pa-pasanganku ..." ucapnya dengan tergagap-gagap.

Sial! Kenapa aku jadi gagap seperti ini!? Batin Rin kesal. Ia berdeham sekali untuk mencairkan suasana. "Maaf. Sepertinya aku terlalu gugup membicarakannya denganmu," gumamnya dengan rona merah di kedua pipinya.

Len tidak memedulikan ucapan terakhir gadis itu. Ia meneguk ludahnya. "Ke-kenapa harus aku!? Kenapa tidak Rinto saja yang jadi pasanganmu?"

"Dia itu kakakku Len! Aku tidak mungkin pergi dengan kakakku! Lagipula dia juga pasti datang dengan ... pasangannya," jawab Rin dengan masam.

"Kenapa tidak Oliver?"

"Aku hanya pernah berbicara dengan shota itu sekali doang. Aku tidak mau."

"Kenapa tidak Rei?"

"Dia itu bandel! Selalu menjahiliku dan aku tidak suka dengan sifatnya!"

"Bagaimana dengan Gumo?"

"Aku tidak mau jadi PHO Gumi dan Gumo!"

"Kalau Gakupo?"

"Dia itu senpai-ku dan dia sudah berpacaran dengan Luka! Lagipula aku tidak mau dengan si banci kaleng itu!"

"Bagaimana dengan─"

"CUKUP LEN! Berhenti mengusulkan cowok! Aku tidak suka!" seru Rin geram. "Memangnya sebegitu beratnya kalau kau ikut denganku, hah!?"

Nafas Len tercekat. "Ti-tidak tapi─"

"Tapi apa!? Sudah katakan saja! Pasti kau tidak suka kan!? Jawab!"

"Bukan begitu! Aku hanya tidak enak dengan orang tuamu! Masa bodyguard seperti ku harus berpura-pura menjadi pasanganmu!"

Rin menghela nafas panjang. Ia mengalihkan pandangannya. "Orang tuaku tidak akan datang ke sana. Urusan mereka masih sangat banyak. Itulah mengapa aku dan Rinto harus datang ke pertemuan itu ... untuk menggantikan mereka," jawab Rin dengan lesu.

"Memangnya pertemuan ini dilaksanakan kapan dan dimana?"

"Besok malam di sebuah kapal pesiar mewah. Ini juga salah satu alasan kenapa camping kita dibatalkan," Rin menghela nafas berat.

Len terdiam beberapa saat, memikirkannya matang-matang. Kemudian ia menghela nafas panjang dan tersenyum tipis. "... baiklah aku mau,"

Rin langsung menatap Len dengan berbinar-binar. "Seriusan?! Serius!?" tanyanya dengan girang.

"Ya." Singkat, padat, jelas.

Terukir senyuman bahagia di wajah gadis itu. Ia benar-benar senang.

"Lagipula ini juga merupakan tugasku bukan?" Len tersenyum lembut hingga membuat Rin merona tanpa sadar. "Tugasku adalah mengikutimu dan melindungimu. Yah sepertinya mengikuti kemauanmu juga merupakan tugasku sekarang," ucapnya tanpa melepas senyumannya.

Rin menunduk, menyembunyikan wajahnya yang memanas. Detak jantungnya berpacu lebih cepat. Kedua tangannya mengepal erat di atas meja. Ia menggigit bibir bawahnya ketika menyadari bahwa ada perasaan aneh yang mulai menyerang dirinya.

Aku ini kenapa? Perasaan apa ini? Astaga, masa hanya karena senyumannya aku bisa merona seperti ini, pikirnya dalam hati.

"Rin? Kau tidak apa-apa?" tanya Len bingung.

Rin mengangkat dagunya dan menggeleng pelan. "A-aku tidak apa-apa, kok. Memangnya aku kenapa?"

"Wajahmu memerah. Kukira kau terserang demam tiba-tiba," ucap Len sambil mengendikkan bahu.

"Aku─"

Baru saja Rin ingin berbicara, seorang pelayan datang dan membawakan pesanan mereka. Rin menghela nafas lega. Setidaknya ini bisa mengalihkan pembicaraan mereka sebentar. Setelah keduanya membayar dan mengucapkan terima kasih, pelayan tersebut langsung pergi.

"Jadi apa tadi yang mau kau bicarakan?" tanya Len sambil menyeruput milkshake rasa pisangnya.

"Lupa!" jawabnya dengan cepat.

"Hah? Lupa?" tanya Len bingung.

"Iya aku lupa mau ngomong apa. Tiap orang pasti bisa lupa kan?" ucapnya sambil menyeruput jus jeruknya.

"Iya sih ..."

Rin tidak membalas perkataan Len hingga keheningan melanda keduanya beberapa saat. Cafe yang mulai ramai menjadi melodi di tengah keheningan mereka. Keduanya sudah tidak punya topik untuk berbicara lagi. Keduanya tenggelam dalam pemikiran masing-masing hingga Len kembali bersuara.

"Hei." Suara baritone itu kembali terdengar.

"Apa?"

"Kenapa pertemuan itu diharuskan berpasangan? Bagaimana kalau misalnya yang datang itu anak TK? Masa harus pacaran dulu! Atau enggak kalau misalnya suami punya istri tapi sudah meninggal. Masa harus cari istri dulu! Kan gak mungkin!"

Rin mengendikkan bahunya. "Sepertinya itu pengecualian."

Len menjentikkan jarinya dengan cepat. "Nah, bukankah kau termasuk pengecualian! Kau tidak punya pacar kan? Berarti kau juga boleh tidak membawa pasanganmu!"

Rin tersentak mendengarnya. "Kau ... benar-benar ... tidak mau berpasangan denganku, ya?" tanya Rin pelan.

"Aku tidak pernah berkata seperti itu,"

"Tapi dari sifatmu itu udah terlihat!"

Len menghela nafas panjang kemudian tersenyum tipis. "Menjadi pasanganmu atau tidak ... itu tidak menjadi masalah. Karena meski bagaimanapun aku akan tetap ikut denganmu bukan? Aku adalah bodyguardmu yang harus melindungimu setiap saat. Sudah kewajibanku mengikutimu kemana kau pergi,"

Rin terbelalak, tidak percaya bahwa Len akan berkata seperti itu. Wajahnya mulai memerah bagaikan tomat kelewat matang. Jantungnya kembali berpacu abnormal. "Te-terima kasih,"

"Kenapa kau harus berterima kasih?" tanya Len bingung.

"E-entahlah. A-aku hanya ingin mengucapkan te-te-terima kasih," jawab Rin kikuk.

Len mengerjap-ngerjap melihat perubahan sikap Rin yang menjadi kikuk.

Dia kenapa?

.

.


.

.

Lenka menghela nafas panjang. Rasa bosan menghampirinya dalam beberapa jam ini. Ia mendesah bosan dan menggurutu berulang kali. Semua buku yang tersimpan di rak buku Len telah dibacanya hingga Akhirnya ia memutuskan untuk pergi keluar rumah meskipun ia tahu bahwa ia tidak akan betah di luar sana.

"Kupikir hanya berjalan-jalan saja tidak akan apa-apa," gumamnya pelan.

Ia segera mengganti bajunya dengan kaos berwarna orange, celana jins pendek di atas lutus, serta topi hitam milik Len. Setelah semuanya siap, ia meninggalkan apartement itu dan tidak lupa menguncinya.

Terik cahaya matahari sangat menyengat kulit. Ini lebih panas dari sebelumnya. Gadis berponytail itu menghela nafas berat. Kerongkongannya telah kering dalam beberapa menit. Peluh membanjiri tubuhnya. Ia bolak balik mengipasi dirinya dengan tangannya. Salahkan Lenka yang keluar rumah tepat jam dua belas siang, dimana matahari tepat berada di atas kepala kita.

"Ini lebih buruk dari yang kukira ..." ia duduk di salah satu bangku taman dan mengelap peluh yang mengalir dari pelipisnya. "Huah ... sekarang apa yang harus kulakukan?"

Ia mengedarkan pandangannya. Tidak banyak orang yang berlalu lalang di sekitar sini, mungkin karena ini sudah jam dua belas siang. Tapi kesempatan sepi ini banyak dimanfaatkan oleh pasangan-pasangan yang sedang kasmaran.

"APA!? KAU TIDAK BISA MENEMANIKU!?"

Lenka mengalihkan pandangannya ke sang sumber suara dengan penasaran. Seorang lelaki bersurai kuning sedang berbicara dengan seseorang lewat handphone sambil marah-marah. Mungkin ia tidak menyadari kalau suaranya yang kencang menarik perhatian orang sehingga ia tetap sibuk memarahi orang di handphone.

Lenka mengernyit ketika menyadari bahwa lelaki itu terasa familiar baginya. Ia memutar otak, mencoba menerka-nerka siapa lelaki tersebut.

"Huh aku tidak akan bicara denganmu lagi!" Lelaki itu mematikan handphonenya dengan kesal dan berjalan ke arah Lenka. Ah, ternyata lelaki itu hanya ingin duduk di sebelah Lenka dan kembali berkutat dengan handphone-nya.

Lenka melirik lelaki itu dari atas hingga bawah. Wajahnya mengingatkannya pada teman barunya, Rin Kagamine. Lenka terbelalak menyadari sesuatu.

Jangan-jangan lelaki ini─

"Apa lihat-lihat!?" seru lelaki itu galak.

Lenka bergidik. Lenka menoleh dengan takut pada lelaki itu. "Hah? Kamu bicara sama aku?" tanya Lenka sambil menunjuk dirinya.

"Menurut lo?" tanyanya ketus. "Ya iyalah! Emang di sini ada siapa lagi selain mereka yang hanya berlalu lalang, hah!?"

Lenka diam. Ini pertama kalinya ia dibentak oleh lelaki yang baru saja di kenalnya. Lenka tidak membalas perkataan ketusnya dan justru tersenyum kecil. "Wajahmu mirip seperti temanku, yaitu Rin Kagamine,"

Lelaki itu meliriknya. "Oh, tentu saja. Dia adikku,"

"Jadi kau Rinto Kagamine?" tanya Lenka dengan berbinar-binar. "Rin pernah menceritakan tentang kau!"

Lelaki bersurai kuning itu –Rinto Kagamine menghela nafas panjang. "Pasti. Ah wajahmu juga mirip seperti Len Kamine, bodyguard adikku,"

Lenka tersenyum cerah. "Dia kakakku!"

Rinto mengerjap-ngerjap beberapa saat. Ia menatap Lenka dengan pandangan tidak percaya. "Kau adiknya? Len sama sekali tidak pernah menceritakan tentang adiknya─meskipun dia pernah bilang kalau punya satu adik,"

Lenka tersenyum paksa. "Y-ya, di-dia memang selalu dingin terhadapku,"

Rinto menghela nafas berat. Ia tidak berniat untuk membalas perkataan Lenka. Dia kembali berkutat dengan handphone-nya.

"Err ... apa kau punya masalah?" tanya Lenka pelan. Rinto mengangkat wajahnya dan kembali menatap Lenka. "Wajahmu sungguh terlihat frsutasi," lanjut gadis itu.

"Ya ... aku punya sebuah masalah ..."

Lenka tersenyum lembut. "Jika kau mau ... mungkin aku bisa membantu masalahmu," ucap Lenka yakin.

Rinto menatapnya beberapa saat kemudian menghela nafas. "Ya ... sepertinya kau bisa dipercaya,"

Lenka mengembangkan senyumnya lebih lebar lagi. "Ceritakan! Aku akan menjaga ceritamu! Percayalah!"

"Baiklah ..."

Lenka tersenyum puas. Ini akan menjadi menarik, pikirnya dalam hati.

.

.

To Be Continued

.

.

Author's Note :

Halo minna~! Masih ingat dengan cerita ini?

Oke seriusan saya minta maaf karena telat update. Gomenasai. Salahkan pada lembaran pr yang menumpuk segunung dan ulangan yang membuat otak saya lelah.

Mumpung sudah terbebas dari ulangan, mungkin saya akan update kilat untuk chapter selanjutnya. Doakan saja ya!

Saatnya balas review~

Kurotori Rei : Lenka sukanya itu si Rinto ... dia hanya gemes (?) ngeliat Len yang udah lama gak bertemu jadi yaa seperti itu deh / Thanks for review~

Kiriko Alicia : Makasih udah dibilang bagus Alice~ / Pastinya ada dong! Len bakal saya buat cemburu di chapter ke depan! / Gapapa kok. Udah kumaafin ^^ / Thanks for review~

Guest [1] : Ini udah lanjut / Makasih udah dibilang keren / Thanks for review~

Guest [2] : Baguslah kalo anda menyukai fic saya / Thanks for review~

Arrow-chan3 : Tau nih si Lenka gimanee! Membunuh itu gak baik! #plakk (Lenka : lu yang nyuruh gue kayak gitu thor!) / Maunya sih saya buat kayak gitu *smirk* tapi ga tau deh ke depannya gimana~ #jduak / Thanks for review~

Mucchiseryo : Mucchii! Ga yangka kau akan mereview fic abalku ini *terharu* #plak / Makasih udah disemangatin / Ini udah update / Thanks for review~

Terima kasih udah mereview semua~! Sekarang silahkan komentar sesuka hati kalian di kotak review~

Jaa ne~!